PART 2
Clarissa berjalan tanpa suara menyusuri pagar samping rumah keluarga Montalbán.
Malam itu udara dingin, tetapi langkah kakinya tetap stabil.
Dia mendekati jendela dapur yang sedikit terbuka sesuai petunjuk di reverso kertas.
Dari balik tirai tipis, suara dari dalam ruang keluarga terdengar sangat jelas.
Pak Hendra berdiri di dekat meja kaca, melemparkan seberkas dokumen ke hadapan Nita.
“Tanda tangani surat kuasa ini sekarang,” kata Pak Hendra dengan nada menekan.
“Papah perlu mengelola seluruh portofolio investasi dan sertifikat apartemen warisan nenekmu.”
Nita menggelengkan kepala.
tangannya gemetaran saat menolak dokumen tersebut.
“Tidak, Pah. Itu peninggalan Nenek Utami untuk masa depanku.”
Ibu Maya melangkah mendekat dan menunjuk wajah Nita.
“Kamu anak tidak tahu diri! Kami merawatmu bertahun-tahun, dan ini balasanmu?”
Lalu, suara lain terdengar.
Suara pria yang membuat Clarissa menahan napas di luar jendela.
Dimas melangkah mendekati adiknya.

“Tanda tangani saja, Nita. Jangan bikin susah semua orang. Papah tahu apa yang terbaik untuk uang itu.”
Clarissa segera merogoh saku mantelnya.
Dia mengaktifkan aplikasi perekam suara di HP pertamanya.
Sistem pencadangan otomatis langsung bekerja, mengirimkan setiap detik audio ke server aman milik Sinta.
Pak Hendra mengebrak meja.
“Perusahaan properti Papah butuh suntikan dana segar minggu ini!” bentak Pak Hendra tanpa ragu.
“Uang di rekening investasimu itu cuma mendiam di bank. Papah cuma memakai sebagian untuk menutup kerugian operasional!”
Ibu Maya menyahut dari samping.
“Lagipula, semua keluarga besar sudah percaya kalau kamu sedang tidak stabil secara mental.”
“HP kamu sudah kami pegang kendalinya. Kamu tidak punya siapa-siapa untuk mengadu.”
Nita menangis tanpa suara.
Dimas kemudian mengeluarkan laptop kerjanya dari dalam tas.
“Tenang saja, Pah,” kata Dimas santai.
“Besok pagi saya bisa masuk lagi ke akun perbankan Nita menggunakan jaringan komputer kantor saya.”
“Verifikasi dua langkahnya bisa disetujui dari HP Nita yang ada di tangan Mamah.”
Clarissa mencatat setiap kata dalam ingatannya.
Ini bukan sekadar konflik keluarga.
Ini adalah tindak pidana penggelapan dana, pemaksaan, dan akses ilegal terhadap aset keuangan.
Clarissa mundur perlahan dari jendela dapur.
Dia kembali ke mobilnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Selama 5 hari berikutnya, Clarissa menjalankan perannya dengan sangat rapi.
Dia tetap menjadi calon pengantin yang penurut di hadapan Dimas.
Dia tersenyum saat membicarakan dekorasi pernikahan, warna gaun, dan daftar undangan.
Namun di belakang Dimas, Clarissa bekerja tanpa henti.
Pada hari Selasa, Clarissa mengatur pertemuan rahasia antara Nita dan Pengacara Rina, seorang pengacara spesialis hukum keluarga dan kejahatan finansial.
Clarissa juga memanfaatkan wewenang legalnya untuk membantu Nita meminta cetakan rekening koran resmi dari bank utama.
Hasil pemeriksaan forensik keuangan sangat mengejutkan.
Dalam kurun waktu 8 bulan terakhir, telah terjadi transfer dana secara berkala.
Total uang yang dipindahkan mencapai lebih dari Rp7.500.000.000.
Seluruh dana tersebut masuk ke rekening cangkang milik perusahaan properti Pak Hendra.
Yang lebih krusial, bukti log digital bank menunjukkan hal penting.
Sebanyak 4 kali transaksi otorisasi dilakukan menggunakan alamat IP yang terdaftar pada laptop inventaris kantor tempat Dimas bekerja.
Dimas tidak hanya tahu.
Dimas adalah eksekutor teknis dalam pengurasan rekening adiknya sendiri.
Hari Jumat malam, Dimas mengajak Clarissa makan di sebuah kafe.
“Bagaimana kalau kita majukan tanggal pernikahan kita bulan depan?” tanya Dimas sambil memegang tangan Clarissa.
Clarissa menatap wajah pria di hadapannya.
Tidak ada rasa cemas atau bersalah di mata Dimas.
Clarissa tersenyum manis.
“Sebelum kita memajukan pernikahan, aku ingin satu hal,” jawab Clarissa lembut.
“Aku ingin makan malam bersama seluruh keluargamu di restoran VIP.”
Dimas tersenyum lebar.
Dia mengira Clarissa sudah sepenuhnya tunduk dan siap menjadi bagian dari keluarganya.
Dimas tidak tahu.
Makan malam itu bukan untuk merayakan pernikahan.
Makan malam itu dirancang untuk menghancurkan seluruh kebohongan mereka.
Dua hari kemudian, makan malam digelar di sebuah ruang reservasi khusus di restoran mewah daerah Senopati, Jakarta Selatan.
Dimas memilih tempat itu karena tempat tersebut terkenal eksklusif dan tenang.
Dimas datang mengenakan setelan jas biru gelap yang disesuaikan dengan tubuhnya.
Wajahnya tampak sangat puas.
Pak Hendra langsung memesan botol minuman termahal sebelum makanan dipesan.
Ibu Maya duduk anggun dengan perhiasan berlian di leher dan pergelangan tangannya.
Nita datang paling akhir.
Malam itu, Nita tidak memakai kardigan tebal.
Dia mengenakan blus putih murni berlengan pendek.
Meskipun wajahnya masih tampak lelah, Nita berjalan dengan posisi tubuh yang tegak.
Bekas memar di pergelangan tangannya terlihat jelas oleh semua orang di ruangan itu.
Ibu Maya langsung menatap lengan Nita dengan wajah tegang.
“Kenapa kamu pakai baju seperti itu? Mending kamu tutup lenganmu,” bisik Ibu Maya tajam.
Nita duduk di sebelah Clarissa.
“Tidak,” jawab Nita singkat.
Satu kata pendek itu membuat suasana di dalam ruangan VIP mendadak berubah.
Pak Hendra meletakkan gelasnya dengan kasar.
“Jangan mulai bikin drama di sini, Nita.”
“Tidak ada yang memulai drama,” sahut Clarissa tenang.
“Malam ini, kita justru akan menyelesaikan beberapa hal yang sudah berlangsung terlalu lama.”
Dimas menatap Clarissa dengan dahi berkerut.
“Clarissa, kamu bicara apa?”
Clarissa merogoh tas tangannya.
Dia mengeluarkan cincin pertunangan emas putih milik Dimas.
Namun, Clarissa tidak langsung meletakkannya di atas meja.
Dia terlebih dahulu mengeluarkan sebuah folder dokumen tebal dan meletakkannya tepat di hadapan Nita.
Di dalam folder itu terdapat lembaran cetakan rekening koran, bukt-bukti otorisasi digital, daftar log alamat IP, dan surat permohonan resmi blokir rekening.
Pagi harinya, Pengacara Rina telah menyerahkan dokumen pembekuan aset ke bank pusat.
Pihak bank telah menerapkan protokol keamanan tingkat tinggi.
Tidak ada satu pun transaksi yang bisa dilakukan tanpa verifikasi fisik dan kehadiran Nita secara langsung di kantor cabang.
Pak Hendra menarik folder itu, membuka 2 halaman pertama, lalu menutupnya kembali dengan keras.
“Ini cuma kertas biasa! Tidak ada artinya di sini!” gertak Pak Hendra.
“Kertas itu membuktikan ada alur dana lebih dari Rp7.500.000.000 yang keluar dari rekening Nita tanpa izinnya,” kata Clarissa dengan suara jernih.
Ibu Maya menatap Nita dengan tatapan marah.
“Kamu membiarkan orang luar mengacak-acak urusan internal keluarga kita?!”
Nita menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Saya membiarkan seorang profesional membantu saya menyelamatkan hak saya.”
“Uang itu ada karena keluarga ini yang menghidupimu!” sergah Pak Hendra.
“Tidak,” potong Nita tegas.
“Uang itu ada karena Nenek Utami mewariskannya khusus untuk saya.”
Kalimat Nita menghantam titik paling sensitif yang selama ini disembunyikan Pak Hendra.
Nenek Utami adalah satu-satunya anggota keluarga yang tahu tabiat buruk anak dan menuntunya.
Sebelum meninggal dunia, Nenek Utami mewariskan sebuah apartemen di kawasan Kuningan dan dana investasi khusus atas nama Nita.
Tujuannya agar Nita memiliki kemandirian finansial dan tidak bergantung pada siapa pun.
Pak Hendra memang menerima bagian warisan lain, tetapi bisnis propertinya ambruk akibat skema investasi yang gagal.
Selama bertahun-tahun, Pak Hendra mencoba merayu Nita agar menyerahkan kendali atas dana tersebut.
Nita menolak.
Sejak penolakan itu, aksi penekanan dimulai.
Awalnya berupa doktrin tentang rasa bakti kepada orang tua.
Kemudian berlanjut pada penguasaan kata sandi dengan alasan “keamanan keluarga”.
Telepon genggam Nita dipantau setiap hari.
Ibu Maya selalu memaksa mendampingi ke mana pun Nita pergi.
Mereka menyebarkan cerita kepada kerabat bahwa Nita mengalami gangguan kecemasan parah dan tidak mampuk mengelola hidupnya sendiri.
Jika Nita melawan, mereka menuduhnya anak durhaka.
Jika Nita diam, mereka menggunakan diamnya Nita sebagai bukti bahwa dia butuh dikendalikan.
Clarissa sudah membaca pola itu sejak makan malam pertama di Menteng.
Bukan karena dia paranormal.
Tetapi karena pekerjaan Clarissa sebagai auditor forensik terbiasa melihat bagaimana kejahatan selalu ditutupi dengan narasi keterpaksaan.
Dimas membuka folder di meja dan melihat namanya tercantum dalam rincian log digital.
“Ini cuma salah paham! Nama saya ada di situ karena saya pernah membantu Nita!” kata Dimas membela diri.
Clarissa menatap Dimas tanpa emosi.
“Otorisasi transaksi itu dilakukan dari laptop kantor yang terdaftar atas nama kamu, Dimas.”
“Saya sering bekerja dari rumah atau luar kantor!”
“Otorisasi itu terjadi pada jam 14:00 dan jam 23:00, terhubung langsung ke jaringan server perusahaanmu saat 4 transaksi besar itu disetujui.”
Dimas berhenti membalik halaman.
Wajahnya mulai memucat.
Pak Hendra mencoba mengambil alih pembicaraan.
“Kalau Dimas membantu, itu atas permintaan adiknya sendiri!”
Nita menggelengkan kepala dengan mantap.
“Saya tidak pernah meminta hal itu.”
“Kamu bahkan tidak tahu apa yang kamu tanda tangani selama ini!” bentak Ibu Maya.
Nita menatap ibunya tanpa rasa takut.
“Karena itulah saya meminta auditor dan pengacara memeriksa setiap lembar dokumen yang pernah kalian paksa saya tanda tangani.”
Pak Hendra menatap Clarissa dengan mata melebar.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”
Clarissa merogoh tasnya sekali lagi, mengeluarkan HP keduanya, dan meletakkannya di tengah meja makan.
Dia menekan tombol putar.
Suara dari rekaman malam itu memenuhi seluruh ruangan VIP restoran.
Suara Pak Hendra terdengar jelas mengakui penggunaan dana Nita untuk menutup utang perusahaan propertinya.
Suara Ibu Maya terdengar membicarakan penyitaan HP Nita.
Dan suara Dimas terdengar sangat jernih, menawarkan bantuan untuk mengakses akun bank adiknya melalui sistem komputer kantornya.
Restoran VIP yang mewah itu mendadak menjadi sangat dingin.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menyentuh makanan di meja.
Dimas menatap Clarissa dengan wajah tanpa warna.
“Kamu… kamu datang lagi malam itu?”
Clarissa tidak menjawab pertanyaan Dimas.
“Rekaman audio ini sudah berada di tangan pengacara Nita sejak 3 hari yang lalu. Pencadangan data juga sudah tersimpan aman di server luar.”
Pak Hendra berdiri dari kursinya.
“Matikan HP itu sekarang!”
“Duduk, Pah,” kata Nita.
Pak Hendra menoleh ke arah anak perempuannya dengan tidak percaya.
Nita membalas tatapan ayahnya tanpa berkedip.
“Selama bertahun-tahun, Papa dan Mama membuat saya percaya bahwa setiap kali saya berkata ‘tidak’, saya sedang menjadi anak yang jahat.”
“Hari ini, saya katakan sekali lagi.”
“Papa tidak akan pernah lagi menyentuh warisan saya.”
“Papa tidak akan pernah lagi masuk ke akun bank saya.”
“Dan saya tidak akan pernah kembali ke rumah itu lagi.”
Ibu Maya memegang dadanya dengan tangan gemetar.
“Setelah semua yang kami lakukan untuk membesarkanmu… begini balasanmu?”
Nita tertawa kecil.
Tawa singkat yang dingin.
“Itu kalimat yang selalu Mama ucapkan setiap kali Mama ingin mengambil sesuatu dari saya.”
Dimas beralih menatap Clarissa dengan raut wajah memohon.
“Clarissa, kita bisa bicarakan ini secara baik-baik di rumah kita.”
“Kita tidak punya rumah,” jawab Clarissa dingin.
“Clarissa, tolong! Jangan hancurkan hubungan kita cuma karena masalah internal keluarga!”
Clarissa mengambil cincin pertunangan di meja, lalu menggesernya perlahan ke arah Dimas.
“Hubungan kita tidak hancur karena masalah ini, Dimas.”
“Hubungan kita hancur karena aku melihat siapa dirimu yang sebenarnya saat kamu berpikir tidak ada orang yang sedang melihatmu.”
Dimas merendahkan suaranya.
“Aku cuma mencoba membantu Papah menyelesaiakan masalah perusahaan…”
“Dengan memanfaatkan akses kantor untuk mencuri uang adikmu sendiri?” potong Clarissa tajam.
“Kamu tidak tahu seberapa krisis kondisi perusahaan Papah saat itu!”
Pak Hendra memukul meja dengan telapak tangannya hingga piring-piring berdenting.
“Cukup! Jangan penceramahi keluarga saya!”
Pintu ruang VIP mendadak terbuka.
Pengacara Rina melangkah masuk.
Dia membawa map dokumen hukum resmi dan berdiri di samping Nita.
Rina meletakkan berkas laporan di atas meja.
“Laporan kepolisian atas dugaan tindak pidana penggelapan dalam keluarga, pemaksaan, dan akses ilegal terhadap data keuangan telah resmi didaftarkan pagi ini.”
“Kami juga telah mengajukan penetapan perlindungan hukum untuk Klien kami, Nita.”
Pak Hendra terduduk lemas di kursinya.
“Ini gila… kalian semua gila…”
“Tidak,” jawab Nita tenang.
“Yang gila adalah membayangkan saya akan terus diam selamanya.”
Ibu Maya mulai menangis histeris.
“Kamu menghancurkan keluarga ini, Nita!”
Nita menatap ibunya untuk terakhir kali.
Suaranya tidak lagi gemetar, melainkan sangat mantap.
“Keluarga yang sehat tidak membutuhkan penderitaan satu orang agar orang lain bisa hidup nyaman.”
Clarissa melihat momen itu dengan jelas.
Kalimat Nita jauh lebih kuat dibanding seluruh berkas hukum yang ada di atas meja.
Bulan-bulan berikutnya berjalan tanpa drama besar, namun membawa perubahan permanen.
Pihak bank membekukan seluruh akses lama dan menyerahkan riwayat transaksi lengkap kepada penyidik.
Perusahaan tempat Dimas bekerja melakukan investigasi internal atas penyalahgunaan aset teknologi kantor.
Dimas resmi dinonaktifkan dari jabatannya dan menghadapi ancaman pemutusan hubungan kerja secara tidak hormat.
Auditor independen memeriksa laporan keuangan perusahaan properti Pak Hendra.
Mereka menemukan bukti penipuan dokumen dan aliran dana gelap dari akun Nita.
Perusahaan properti itu kehilangan seluruh pendanaan dari investor dan dinyatakan bangkrut.
Selama periode tersebut, HP Clarissa terus menerima pesan dari Dimas.
Pada minggu pertama, isinya adalah permohonan maaf.
Minggu berikutnya, berlanjut menjadi alasan dan pembenaran.
Pada bulan kedua, isinya berubah menjadi tuduhan.
Dimas menulis bahwa Clarissa terlalu berlebihan, bahwa ayahnya hanya panik, dan bahwa Nita sebenarnya tidak mampu mengurus uang sebanyak itu sendirian.
Clarissa tidak pernah membalas satu pun pesan tersebut.
Dia langsung menghapus setiap obrolan tanpa membacanya sampai selesai.
Clarissa tidak perlu membuktikan apa pun lagi kepada pria itu.
Nita tidak pernah menginjakkan kaki lagi di rumah Menteng.
Beberapa minggu setelah malam itu, Nita resmi pindah dan menetap di apartemen kawasan Kuningan yang diwariskan oleh neneknya.
Pada awalnya, kesunyian di apartemen itu terasa asing bagi Nita.
Namun perlahan, Nita belajar menikmati keputusan-keputusan kecil dalam hidupnya.
Dia bebas memilih jam berapa ingin makan malam.
Dia bebas membeli pakaian tanpa perlu meminta persetujuan siapa pun.
Dia bebas mematikan HP selama 1 jam tanpa takut dimarahi.
Nita juga memulai sesi terapi dengan psikolog profesional pilihannya sendiri.
Kesehatannya membaik secara signifikan.
Makanan tidak lagi menjadi alat kontrol, melainkan kebutuhan hidup yang menyenangkan.
Suatu pagi di hari Minggu, sekitar 8 bulan setelah kejadian di Menteng, Clarissa bertemu dengan Nita di sebuah kafe dekat kawasan GBK Senayan.
Matahari pagi bersinar cerah.
Nita datang mengenakan gaun santai berwarna kuning terang dengan rambut terikat rapi.
Clarissa tersenyum saat melihatnya.
“Warna kuning cocok untukmu, Nita.”
Nita duduk di hadapannya, lalu menatap lembaran menu kafe dengan serius.
“Saya butuh waktu 10 menit hanya untuk memilih menu sarapan,” kata Nita sambil tertawa pelan.
“Itu waktu yang sangat lama untuk memilih sarapan,” sahut Clarissa.
“Tapi rasanya luar biasa, karena tidak ada orang lain yang memilihkan untuk saya lagi.”
Nita memesan pancake manis dengan saus cokelat, buah segar, dan segelas kopi latte.
Ketika pelayan pergi, Nita menatap meja di hadapannya.
“Ada hari-hari di mana saya masih merasa Mama akan muncul dan bilang saya melakukan kesalahan besar.”
“Setelah bertahun-tahun dikendalikan, wajar kalau suara-suara itu butuh waktu untuk hilang,” kata Clarissa lembut.
Nita mengangguk.
“Tapi sekarang saya tahu, suara itu bukan milik saya lagi.”
HP Clarissa yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor Dimas tercantum di layar:
“Tolong beri aku waktu 5 menit. Kamu harus dengar penjelasan dari sisiku.”
Clarissa menggeser layar dan menghapus pesan itu tanpa membukanya.
Nita menaikkan satu alisnya.
“Dari Dimas?”
“Ya.”
“Apakah terasa berat untukmu?” tanya Nita pelan.
Clarissa membayangkan pria yang dulu pernah dipihnya untuk menjadi pendamping hidup.
Pria yang dulu bersamanya memilih dekorasi gedung, membicarakan masa depan, dan merencanakan banyak hal.
Namun Clarissa juga mengingat malam saat dia berdiri di balik jendela dapur.
Mendengar pria itu meminta adiknya menyerahkan hidupnya hanya agar ayahnya bisa keluar dari kesulitan finansial.
“Dulu terasa berat untuk menerima bahwa pria yang aku cintai ternyata tidak pernah ada saat diuji,” kata Clarissa.
“Tapi sekarang, sangat mudah bagiku untuk melangkah pergi.”
Nita menunduk menatap jemarinya.
“Kalau kamu tidak kembali ke rumah malam itu…”
Clarissa memotong kalimatnya.
“Kamu yang menulis kertas itu, Nita.”
“Karena saya pikir kamu tidak akan percaya kalau saya cuma bercerita.”
“Aku akan tetap percayaimu,” tegas Clarissa.
Nita menarik napas dalam-dalam.
“Waktu itu… saya bahkan tidak percaya pada diri saya sendiri.”
Kalimat itu adalah hal yang paling menyakitkan bagi Clarissa sejak awal.
Uang yang hilang bisa dilacak kembali.
Rekening yang dibekukan bisa dipulihkan.
Dokumen palsu bisa dibatalkan di depan hukum.
Tetapi mengembalikan keyakinan seseorang atas jalannya sendiri adalah proses yang membutuhkan waktu panjang.
Pesanan sarapan datang.
Nita memotong sepotong pancake, memakannya, lalu tersenyum kecil.
“Ini agak terlalu manis buat saya.”
“Kamu bisa minta ganti menu lain kalau mau,” kata Clarissa.
Nita menggelengkan kepala, senyumnya semakin lebar.
“Tidak perlu. Ini pilihan saya sendiri, dan saya menikmati proses memilihnya.”
Clarissa mengangkat cangkir kopinya.
Nita menyentuhkan cangkirnya ke cangkir Clarissa.
Dua cangkir keramik itu berdenting pelan.
Selama beberapa saat, mereka tidak berbicara.
Di sekitar mereka, suasana Jakarta di hari Minggu berjalan seperti biasa.
Orang-orang bersepeda, keluarga berjalan santai, pelayan menata meja, dan suara tawa terdengar di sudut-sudut kafe.
Tidak ada hal luar biasa yang tampak dari luar.
Namun bagi Nita, momen sederhana itu adalah sebuah kemenangan besar.
Beberapa bulan sebelumnya, Nita duduk tertekan memakan semangkuk bubur encer di meja makan yang penuh makanan mewah.
Dia menundukkan kepala setiap kali orang lain melontarkan tuduhan.
Dia belajar menyembunyikan keinginannya agar tidak memicu pertengkaran.
Kini, dia bisa duduk di bawah sinar matahari, memilih makanan yang terlalu manis, dan tertawa atas pilihannya sendiri.
Clarissa menyadari satu hal penting pagi itu.
Membongkar kejahatan keluarga Dimas bukan sekadar aksi balas dendam atau pembalasan hukum.
Itu adalah tindakan membawa cahaya ke dalam kegelapan.
Pak Hendra, Ibu Maya, dan Dimas telah bertahun-tahun mengandalkan mekanisme yang sama.
Mengubah setiap fakta menjadi keraguan.
Mengubah setiap protes Nita menjadi tuduhan emosional.
Dan menggunakan setiap ketakutan Nita sebagai bukti bahwa dia tidak berdaya.
Kertas kecil dari Nita telah mengubah segala hal.
Karena untuk pertama kalinya, seseorang keluar dari rumah mewah di Menteng itu membawa kebenaran yang tidak bisa lagi mereka manipulasi.
“Kembali jam 22:00. Kamu akan lihat apa yang perlu kamu lihat.”
Clarissa dulu mengira Nita ingin menunjukkan sebuah rahasia.
Padahal sesungguhnya, Nita hanya ingin memanggil pulang seorang saksi.
Dan 8 bulan kemudian, di hadapan dua cangkir kopi dan sepotong pancake yang terlalu manis, Nita tidak lagi membutuhkan siapa pun untuk berbicara mewakilinya.
Hal terpenting bukan hanya karena semua orang akhirnya melihat kebenaran.
Tetapi karena pada akhirnya, Nita sendiri telah mampu melihat kebenaran hidupnya secara utuh.
