Di pojok atas amplop itu, tertera nama sebuah perusahaan cangkang yang sangat saya kenal.

PART 2

Nuria menyerahkan dokumen di dalam amplop cokelat itu kepada saya.

Dimas mencoba merebutnya, tetapi Budi dengan sigap menghalangi pergerakannya.

“Kita bicara di dalam, Dimas,” kata Nuria dingin.

Di dalam rumah, dokter dari hospital memberi kabar via telepon bahwa kondisi Ibu Sumi sudah stabil.

Luka bakarnya membutuhkan perawatan rutin dan terapi fisik, tetapi nyawanya selamat.

Sertifikat tanah, perjanjian pisah harta, dan surat revocasi kuasa bertanda tangan notaris diletakkan di meja.

Secara hukum, Dimas tidak lagi memiliki hak sedikit pun atas rumah Serpong ini.

Bu Ratna mulai panik dan mengubah nada bicaranya.

“Saya tadi cuma mau membangunkan ibumu,” cicit Bu Ratna.

“Saya kira dia cuma pingsan buatan.”

“Biar kepolisian dan hukum yang menentukan apa nama tindakan Anda itu, Bu,” sahut saya datar.

Dimas memegang lengan saya.

“Maya, tolonglah. Ini masalah keluarga, kita selesaikan baik-baik.”

“Apakah kamu sudah menjenguk Ibu di rumah sakit?” tanya saya.

Dimas bungkam.

“Kamu bahkan tidak menanyakan kondisinya sejak kamu melangkah masuk ke rumah ini,” sambung saya.

Sore itu juga, seluruh akses fasilitas perusahaan untuk Dimas diputus.

Kartu kredit korporat diblokir.

Mobil dinas yang digunakannya ditarik oleh tim operasional.

Semua inventaris kantor diambil dari kamar kerja Dimas.

Keesokan paginya, Dimas muncul di kantor saya di kawasan BSD dengan membawa sebuket bunga.

Dia mencoba masuk ke ruangan saya.

“Maya, buka semua pemblokiran itu,” bujuk Dimas.

“Ayo kita pulang dan bicarakan ini secara dewasa.”

Saya menatapnya dari balik meja kerja.

“Kamu datang ke sini bukan untuk menyelamatkan pernikahan kita, Dimas.”

“Kamu datang karena keran uangmu sudah mati.”

Nuria masuk ke ruangan saya membawa berkas laporan audit internal darurat.

Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan hal yang mengejutkan.

Selama 18 bulan terakhir, anak perusahaan yang dikelola Dimas telah menyalurkan dana berkedok biaya konsultasi.

Total faktur yang dibayarkan mencapai Rp 2,4 miliar kepada PT Liria Mandiri Utama.

Direktur utama perusahaan itu adalah seorang wanita berumur 29 tahun bernama Irene.

Audit juga menemukan sebuah unit apartemen di kawasan Alam Sutera yang dibeli atas nama PT Liria Mandiri Utama.

Di dalam berkas auditor, ada pula salinan akta kelahiran seorang anak laki-laki berusia 2 tahun.

Saya mengangkat kepala dan menatap Dimas.

“Siapa anak berumur 2 tahun ini?” tanya saya pelan.

Dimas gemetar. Suaranya tercekat.

Nuria mewakilinya menjawab.

“Anak ini adalah anak kandung Dimas dari hubungan gelapnya dengan Irene.”

Ruangan menjadi sangat hening.

Saya tidak berteriak.

Saya tidak membanting barang.

Saya hanya merasakan sensasi dingin yang menjalar dari ujung kaki.

Selama ini saya menyadari ada yang tidak beres dengan pengeluaran Dimas.

Alasan rapat luar kota, kuintansi makan malam yang tidak masuk akal, dan akhir pekan yang selalu diisi acara bisnis.

Saya terlalu percaya padanya.

Saya membiarkannya karena ingin menjaga keharmonisan rumah tangga.

Saya bahkan mengabaikan bagaimana ibunya selalu merendahkan ibu saya selama 6 tahun ini.

Saya membiarkan Dimas membanggakan hasil kerja keras saya seolah-olah itu milik pribadinya.

Ternyata kebaikan saya dimanfaatkan untuk membiayai kehidupan wanitanya yang lain.

Nuria menunjukkan lembaran bukti transfer.

PT Liria Mandiri Utama tidak memiliki kegiatan bisnis nyata.

Semua pengeluaran didasarkan pada dokumen fiktif yang ditandatangani oleh Dimas.

“Apakah Irene tahu dari mana asal uang ini?” tanya saya pada Nuria.

“Berdasarkan penelusuran tim hukum, belum ada indikasi wanita itu tahu bahwa dana tersebut adalah hasil penggelapan dari perusahaan Anda,” jawab Nuria.

Saya mengambil napas panjang.

Saya adalah pimpinan perusahaan.

Saya harus berpikir jernih dan rasional.

“Kunci semua server,” perintah saya kepada tim IT dan tim hukum.

“Amankan seluruh bukti fisik dan digital.”

“Pastikan tidak ada dokumen yang dimusnahkan.”

“Dan satu hal lagi, jangan libatkan anak berumur 2 tahun itu dalam proses hukum.”

“Anak itu tidak bersalah.”

Dimas menelepon saya berkali-kali sepanjang siang itu.

Ketika saya mengangkatnya, suaranya terdengar panik.

“Maya, kamu berlebihan! Ini cuma perselisihan kecil antara ibu kita!”

“Ibu saya dirawat di rumah sakit akibat tindakan ibumu,” jawab saya.

“Ibu saya cuma panik! Jangan campur adukkan urusan rumah tangga dengan bisnis!”

“Kamu yang mencampuradukkannya sejak kamu menggunakan uang perusahaan untuk menghidupi keluarga keduamu,” balas saya.

“Maya, aku bisa jelaskan semuanya!”

“Jelaskan saja kepada auditor dan penyidik,” kata saya sebelum menutup telepon.

Dua hari berikutnya, fokus saya terbagi antara mendampingi Ibu di rumah sakit dan mengawasi proses audit.

Ibu melihat wajah saya yang lelah saat duduk di samping ranjangnya.

“Jangan nekat, Maya,” bisik Ibu pelan.

“Ibu tidak apa-apa.”

“Saya tidak sedang balas dendam, Bu,” ujar saya lembut.

“Lalu apa yang mau kamu lakukan?”

“Saya cuma ingin setiap orang bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka perbuat. Tidak kurang, tidak lebih.”

Rekaman CCTV dari dapur rumah Serpong menjadi bukti kunci.

Kamera merekam jelas saat Ibu jatuh pingsan, makian dari Bu Ratna, hingga detik-detik teko air panas itu disiramkan.

Video asli beserta visum dari dokter langsung diserahkan kepada pihak kepolisian.

Di sisi lain, audit forensik keuangan menemukan fakta baru yang lebih mengejutkan.

Dimas tidak hanya menggelapkan dana Rp 2,4 miliar.

Dia juga menggunakan kop surat dan stempel palsu perusahaan saya untuk menerbitkan surat jaminan finansial.

Surat jaminan itu digunakan Dimas untuk mendapatkan pinjaman bank sebesar Rp 5 miliar.

Uang pinjaman itu dipakai untuk membiayai proyek perumahan di Bintaro yang dia kelola bersama temannya.

Nuria menunjukkan salinan dokumen jaminan tersebut.

Tanda tangan saya di atas materai dalam dokumen itu adalah hasil pemalsuan.

“Jika kita memberitahu pihak bank hari ini, fasilitas kredit mereka akan langsung dibekukan,” kata Nuria.

“Proyek perumahan itu bisa mangkrak.”

Saya memikirkan ratusan pekerja dan pembeli rumah yang tidak tahu apa-apa.

“Saya tidak akan menghancurkan proyeknya,” tegas saya.

“Tapi saya tidak akan membiarkan nama saya dijadikan jaminan atas kebohongannya.”

Saya menandatangani surat pemberitahuan resmi ke bank penyedia kredit.

Surat itu menyatakan bahwa perusahaan saya tidak pernah mengeluarkan jaminan atas proyek perumahan tersebut.

Satu jam kemudian, Dimas mendatangi kantor saya lagi.

Dia ditahan oleh petugas keamanan di loby utama karena hak aksesnya sudah dicabut total.

Saya turun ke loby bersama Nuria.

“Maya! Ada 20 unit rumah yang sedang dibangun!” teriak Dimas di depan banyak orang.

“Kalau bank mencabut kredit itu, aku bisa bangkrut!”

Saya berdiri tiga langkah di depannya.

“Kalau begitu, jelaskan kepada bank aset apa yang benar-benar milikmu, bukan milikku.”

“Kamu mau melihat aku hancur?” tanya Dimas dengan mata memerah.

“Saya hanya ingin kamu berhenti memakai nama dan aset saya untuk berpura-pura menjadi pengusaha sukses.”

Dimas tidak bisa menjawab lagi.

Tiga hari kemudian, seorang wanita muda mendatangi kantor saya.

Itu adalah Irene.

Dia datang sendiri tanpa didampingi pengacara.

Wajahnya pucat dan dia membawa sebuah tas dokumen besar.

“Mbak Maya,” kata Irene dengan suara gemetar saat duduk di ruang rapat.

“Dimas bilang ke saya kalau kalian sudah bercerai sejak 3 tahun lalu.”

“Dia bilang rumah di Serpong itu miliknya, dan PT Liria adalah anak perusahaan yang dia dirikan sendiri.”

Irene meletakkan telepon genggam dan cetakan pesan singkat di atas meja.

“Saya tidak akan membela diri atas hubungan saya dengan pria beristri.”

“Saya salah karena tidak mengecek lebih teliti.”

“Tapi saya tidak mau anak saya makan dari uang hasil kejahatan.”

Irene menyerahkan semua bukti percakapan dan aliran dana yang diterimanya dari Dimas.

Di antara tumpukan pesan itu, ada satu pesan singkat dari Dimas kepada temannya:

“Tenang saja, begitu Maya menandatangani surat perluasan kuasa bulan depan, seluruh aset proyek bisa kita alihkan tanpa perlu persetujuan dia.”

Ternyata Dimas sudah merencanakan pengambilalihan aset saya sejak lama.

Namun rencana itu gagal karena saya belum sempat menandatangani dokumen perluasan kuasa tersebut.

Irene mengusap air matanya.

“Saya sudah menyerahkan kunci apartemen dan mobil ke tim hukum Mbak Maya.”

“Saya cuma minta satu hal, tolong jangan libatkan anak saya.”

Saya menatap wanita di depan saya.

“Lindungi anakmu dari perbuatan ayahnya. Saya tidak akan menyentuh anak itu.”

Irene mengangguk dan pamit pergi.

Sementara itu, Bu Ratna mencoba mengambil jalur publik.

Dia merekam video berdurasi dua menit dan mengunggahnya ke media sosial.

Dalam video itu, dia menangis dan menuduh menantunya sebagai “pengusaha kaya yang tega mengusir mertua dan mengkriminalisasi keluarga suami”.

Video itu viral dan memicu komentar negatif dari netizen.

Beberapa klien menelepon saya untuk meminta klarifikasi.

Tim staf komunikasi perusahaan menyarankan agar kami merilis video CCTV dapur ke publik untuk membersihkan nama baik.

Saya menolaknya dengan tegas.

“Kondisi kesehatan Ibu saya bukan bahan tontonan publik,” kata saya.

Sebagai gantinya, tim hukum kami mengeluarkan pernyataan pers resmi.

Pernyataan itu hanya berisi tiga poin mendasar:

Pertama, proses hukum atas dugaan tindak penganiayaan sedang ditangani kepolisian.

Kedua, Dimas telah diberhentikan dari seluruh jabatan struktur perusahaan.

Ketiga, audit independen sedang berjalan terkait dugaan penyalahgunaan wewenang dan pemalsuan dokumen.

Ketika pihak kepolisian memanggil Bu Ratna untuk pemeriksaan resmi berdasarkan bukti CCTV dan laporan medis, Bu Ratna langsung menghapus video di media sosialnya.

Proses hukum atas kasus penganiayaan berjalan sesuai prosedur.

Bu Ratna ditetapkan sebagai tersangka.

Dia terancam hukuman penjara akibat perbuatannya.

Proses gugatan cerai dan pendaftaran pidana penggelapan uang terhadap Dimas juga berlanjut di pengadilan.

Dimas diwajibkan mengembalikan seluruh dana yang telah dialihkan secara ilegal.

Proyek perumahannya di Bintaro disita bank karena tidak mampu membayar jaminan.

Satu bulan kemudian, Ibu Sumi diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Bahunya masih harus dibebat, tetapi gerakan tangannya perlahan-lahan membaik.

Saya memutuskan untuk menjual rumah tiga lantai di Serpong.

Saya tidak ingin tinggal di tempat yang penuh dengan kenangan pura-pura.

Saya membeli sebuah unit griya tawang yang lebih ringkas di kawasan Jakarta Barat.

Unit itu memiliki balkon yang luas dan pencahayaan matahari yang cukup.

Di balkon itu, Ibu menanam tanaman herbal, cabai, dan beberapa pot bunga mawar.

Suatu sore di hari Minggu, Ayah saya memasak soto di dapur baru kami.

Ibu duduk di kursi santai sambil menyiram tanaman.

Tiba-tiba, Ayah menyenggol cangkir teh hingga isinya tumpah ke lantai granit.

Seketika ruangan menjadi hening.

Selama sekejap, ingatan tentang Bu Ratna yang selalu marah hanya karena setetes air kembali terlintas.

Lalu Ibu Sumi tertawa pelan.

“Aduh, Pak, tua-tua kok masih ceroboh,” ledek Ibu.

Ayah tertawa sambil mengambil kain lap.

Saya yang duduk di sofa ikut tertawa hingga meneteskan air mata.

Tidak ada rumah tiga lantai yang megah.

Tidak ada perhiasan mahal yang dipamerkan.

Tidak ada suami yang berpura-pura menjadi pengusaha sukses di atas kerja keras istrinya.

Tetapi di ruangan ini, saya tidak perlu lagi berpura-pura atau meminta maaf atas keberadaan keluarga saya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, Dimas mencoba menemui saya untuk terakhir kalinya di luar gedung pengadilan.

Penampilannya kusut.

Dia tidak lagi memakai pakaian bermerek.

“Maya, tolong cabut laporan polisi untuk Ibu,” mohon Dimas.

“Ibu sudah tua, dia tidak akan kuat di dalam penjara.”

Saya menatap mantan suami saya itu dengan tenang.

“Setiap orang harus menanggung akibat dari perbuatannya sendiri, Dimas.”

“Kamu dan ibumu yang memilih jalan ini.”

Saya membalikkan badan dan melangkah menuju mobil.

Saya telah kehilangan pernikahan yang berjalan selama 6 tahun.

Saya telah kehilangan rumah yang pernah saya banggakan.

Tetapi saya mendapatkan kembali harga diri saya, melindungi ibu saya, dan mengambil penuh kendali atas hidup saya sendiri.

Saya tidak kehilangan apa pun yang benar-benar berharga.

Saya hanya pulang ke kehidupan saya yang sebenarnya.