DI PEMAKAMAN CUCUKU YANG BERUSIA 7 TAHUN, AKU MEMBUNGKUK UNTUK MENCIUM KENINGNYA UNTUK TERAKHIR KALI DI DALAM PETI MATI. TIBA-TIBA MATANYA TERBUKA.

Sirene itu semakin dekat.

Namun anehnya, suara yang paling membuatku takut justru bukan sirene.

Melainkan keheningan di balik pintu.

Ardi tidak lagi memukul.

Rina juga diam.

 

 

 

 

Aku berdiri di ruang cuci yang sempit sambil memeluk Alya. Tubuh cucuku masih terasa panas. Jemarinya mencengkeram ujung selendangku seperti takut aku akan menghilang kalau dia melepaskannya.

“Nek…”

“Iya, Sayang.”

“Kalau polisi datang, Alya harus tidur lagi?”

Dadaku seperti diremas.

Aku menunduk dan menyentuhkan dahiku ke dahinya.

“Tidak. Mulai malam ini, kalau Alya ingin membuka mata, buka. Kalau ingin bicara, bicara. Kalau takut, bilang takut. Tidak ada yang boleh menyuruh Alya diam lagi.”

Dia menatapku beberapa detik.

Lalu mengangguk kecil.

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari luar.

BRAK!

Aku tersentak.

Disusul langkah kaki tergesa-gesa menuju bagian belakang rumah.

Ardi?

Aku mendekati pintu, tetapi tidak membukanya.

Operator 112 masih berada di sambungan telepon.

“Bu, jangan keluar. Petugas sudah tiba di depan rumah.”

Beberapa detik kemudian terdengar ketukan keras dari arah pintu utama.

“Polisi!”

Tidak ada jawaban.

Ketukan kedua terdengar.

Lebih keras.

Aku ingin berteriak, tetapi sebelum sempat melakukannya, suara kaca pecah terdengar dari arah dapur.

Lalu seseorang berlari.

Aku langsung tahu.

Ardi dan Rina sedang mencoba pergi.

Yang terjadi setelah itu terasa begitu cepat sekaligus lambat.

Ada suara petugas memasuki rumah.

Perintah-perintah pendek.

Langkah kaki di tangga.

Pintu dibuka.

Kemudian seseorang mengetuk pintu ruang cuci.

“Bu, kami dari kepolisian. Ibu aman. Bisa buka pintunya?”

Aku masih ragu.

“Buktikan.”

Aku bahkan tidak tahu dari mana keberanian itu datang.

Petugas di luar menyebutkan namanya dan mengatakan bahwa paramedis sudah menunggu.

Barulah aku membuka pintu sedikit.

Seorang polisi berdiri di sana bersama petugas medis perempuan.

Begitu melihat Alya, wajah petugas medis itu berubah.

Dia langsung berlutut.

“Boleh saya periksa?”

Alya justru memelukku semakin erat.

“Tidak mau.”

Petugas itu tidak memaksanya.

Dia duduk di lantai.

Benar-benar duduk begitu saja.

“Kamu tidak harus ke sini,” katanya lembut. “Saya yang mendekat pelan-pelan, ya?”

Alya mengintip dari balik bahuku.

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat cucuku bersedia mengulurkan tangan.

Malam itu Alya dibawa ke rumah sakit.

Aku ikut di dalam ambulans.

Sepanjang perjalanan dia tidak melepaskan tanganku.

Di sebuah persimpangan, ketika lampu-lampu Surabaya berkelebat di balik kaca, Alya bertanya sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.

“Nek, besok Alya jadi dikubur?”

Aku menahan tangis.

“Tidak.”

“Bunganya bagaimana?”

“Biarkan saja.”

“Kuenya?”

Aku terdiam.

“Kue apa?”

“Katanya kalau Alya jadi anak baik, nanti dapat kue cokelat.”

Aku memalingkan wajah sebentar.

Bukan karena tidak ingin menjawab.

Aku hanya tidak ingin dia melihat air mataku.

“Besok Nenek belikan.”

“Yang besar?”

“Yang paling besar.”

Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibirnya terangkat sedikit.

Hanya sedikit.

Tetapi cukup untuk membuatku merasa dunia belum sepenuhnya runtuh.

Di rumah sakit, dokter bekerja cepat.

Aku tidak diizinkan masuk selama pemeriksaan awal.

Aku mondar-mandir di lorong sampai seorang polisi mendatangiku.

“Bu, kami perlu bertanya tentang putra dan menantu Ibu.”

Aku menatapnya.

“Di mana mereka?”

Petugas itu tidak langsung menjawab.

Rupanya Ardi ditemukan di garasi belakang.

Dia tidak sempat pergi jauh.

Sedangkan Rina ditemukan di lantai atas.

Namun ada sesuatu yang lebih penting.

Sesuatu yang ditemukan polisi di kamar kerja Ardi.

Sebuah tas.

Isinya beberapa dokumen, obat-obatan, dan sebuah ponsel lama.

“Ponsel siapa?”

“Kami belum tahu.”

Aku langsung teringat sesuatu.

Tiga bulan sebelumnya, Alya pernah mengatakan bahwa dia punya “telepon rahasia”.

Aku mengira dia sedang bermain.

Anak tujuh tahun memang sering menciptakan dunia kecil mereka sendiri.

Tetapi rupanya…

Aku menatap petugas itu.

“Coba cari video.”

Petugas mengernyit.

“Video?”

“Alya suka merekam kucing. Dia pernah bilang punya telepon lama untuk merekam.”

Ponsel itu kemudian diperiksa.

Dan di sanalah semuanya mulai terbuka.

Bukan melalui pengakuan Ardi.

Bukan dari Rina.

Melainkan melalui rekaman pendek yang dibuat seorang anak tujuh tahun karena bosan berada di kamar.

Video pertama tidak menunjukkan sesuatu yang aneh.

Alya sedang merekam bonekanya.

Video kedua memperlihatkan seekor cicak di dinding.

Video ketiga hanya langit-langit.

Lalu ada satu rekaman berdurasi sebelas menit.

Kamera menghadap ke meja.

Tidak ada wajah siapa pun.

Hanya suara.

Suara Rina.

Kemudian suara Ardi.

Mereka sedang bertengkar.

Aku tidak mendengar seluruh rekaman malam itu. Polisi hanya menjelaskan bagian penting kepadaku.

Ternyata beberapa bulan sebelumnya Alya tanpa sengaja melihat dokumen yang seharusnya tidak pernah dia lihat.

Dokumen mengenai perusahaan keluarga.

Ardi sedang menghadapi masalah besar.

Ada transaksi yang tidak pernah diberitahukan kepadaku, padahal sebagian aset perusahaan masih terhubung dengan warisan mendiang suamiku.

Rina ingin semuanya selesai sebelum audit internal dilakukan.

Lalu Alya masuk ke ruang kerja ketika mereka sedang berbicara.

Dia tidak mengerti soal uang.

Tidak mengerti soal perusahaan.

Tetapi dia mendengar nama seseorang.

Dan melihat sebuah map.

Masalahnya sederhana sekaligus mengerikan: Ardi dan Rina panik.

Mereka mulai menjauhkan Alya dari keluarga.

Membatasi siapa yang boleh menemuinya.

Mengatakan bahwa dia sering sakit.

Ketika aku bertanya kenapa cucuku semakin kurus, jawabannya selalu sama.

“Sedang dalam pengawasan dokter.”

Aku percaya.

Itulah bagian yang paling sulit kumaafkan dari diriku sendiri.

Aku percaya.

Pukul tiga lewat sedikit, dokter akhirnya keluar.

Aku langsung berdiri.

“Bagaimana cucu saya?”

Dokter melepas maskernya.

“Kondisinya stabil.”

Dua kata.

Hanya dua kata.

Tetapi lututku langsung lemas.

Aku duduk.

Dokter menjelaskan bahwa Alya mengalami dehidrasi dan tubuhnya sangat lemah. Ada indikasi dia terpapar obat yang membuatnya mengantuk dalam waktu lama, tetapi pemeriksaan lebih lanjut tetap diperlukan.

“Apakah dia akan sembuh?”

“Kami optimistis. Tapi pemulihannya tidak hanya soal fisik.”

Aku tahu maksudnya.

Ada luka yang tidak terlihat di hasil laboratorium.

Aku masuk ke kamar Alya menjelang subuh.

Dia sedang tidur.

Bukan tidur yang membuatku takut seperti beberapa jam sebelumnya.

Kali ini ada monitor di sampingnya.

Ada perawat.

Ada dokter.

Ada orang-orang yang ingin membuatnya bangun, bukan memastikan dia tetap diam.

Aku duduk di kursi.

Menunggu.

Pagi datang perlahan.

Cahaya matahari masuk dari sela tirai.

Sekitar pukul tujuh, Alya membuka mata.

Hal pertama yang dia tanyakan adalah:

“Kuenya?”

Aku tertawa sambil menangis.

“Iya, iya. Nenek belum lupa.”

Dia mengangkat satu jari.

“Cokelat.”

“Iya.”

“Pakai stroberi.”

“Iya.”

“Dua stroberi.”

Aku menatapnya.

“Kenapa dua?”

“Satu buat Alya. Satu buat Nenek.”

Aku tidak bisa menjawab lagi.

Aku hanya mencium tangannya.

Tiga hari kemudian, penyelidikan berkembang jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.

Aku mengetahui sesuatu yang membuatku duduk lama di bangku rumah sakit tanpa mampu berkata apa-apa.

Ardi ternyata bukan dalang dari semuanya.

Tetapi jangan salah.

Dia tetap bersalah.

Sangat bersalah.

Dia tahu apa yang dilakukan Rina.

Dia tahu kondisi Alya.

Dia tahu kebohongan mengenai kematian putrinya.

Dan dia memilih diam.

Kenapa?

Takut.

Takut skandal perusahaan terbongkar.

Takut kehilangan bisnis.

Takut kehilangan rumah.

Takut namanya hancur.

Aku mendengar alasannya melalui pengacaranya dan hanya bisa berpikir:

Betapa anehnya manusia.

Kita bisa begitu takut kehilangan benda sampai lupa bahwa yang sedang hilang adalah manusia.

Rina, di sisi lain, telah mengatur sebagian besar rencana.

Penyelidikan menemukan komunikasi dengan seseorang yang membantu menyediakan obat secara tidak semestinya. Polisi juga menemukan dokumen medis yang diduga telah dimanipulasi.

Kasusnya kemudian diproses oleh pihak berwenang.

Aku tidak pernah bertanya kepada Alya apakah dia ingin mengetahui semua detailnya.

Dia baru tujuh tahun.

Ada kebenaran yang memang harus dibuka.

Tetapi tidak semuanya harus diletakkan di pundak seorang anak.

Yang dia perlu tahu saat itu cuma satu:

Dia aman.

Beberapa minggu pertama tidak mudah.

Alya sering terbangun tengah malam.

Kadang dia duduk tiba-tiba dan bertanya:

“Nenek, pintunya sudah dikunci?”

Aku akan menjawab, “Sudah.”

Lima menit kemudian:

“Nek?”

“Iya?”

“Benar-benar sudah?”

Aku bangun.

Memeriksa pintu di depannya.

“Lihat. Sudah.”

Barulah dia tidur lagi.

Ada malam ketika dia meminta lampu kamar tetap menyala.

Ada hari ketika suara langkah kaki orang dewasa di tangga membuat wajahnya langsung pucat.

Kami tidak memaksanya untuk “cepat sembuh”.

Aku membenci kalimat itu sekarang.

Cepat sembuh.

Seolah hati punya kalender.

Seolah ketakutan bisa diberi tenggat.

Kami mengikuti saran tenaga profesional dan membangun rutinitas sederhana.

Sarapan.

Sekolah secara bertahap.

Menggambar.

Bermain di halaman.

Tidur siang kalau lelah.

Dan satu hal yang ternyata sangat penting bagi Alya: berkebun.

Aku tidak tahu dari mana kesukaannya itu berasal.

Suatu pagi dia menunjuk halaman belakang rumahku.

“Nek, boleh Alya tanam bunga?”

“Bunga apa?”

Dia berpikir lama.

“Jangan bunga putih.”

Aku langsung memahami alasannya.

Bunga putih mengingatkannya pada malam itu.

“Baik. Tidak ada bunga putih.”

Kami pergi membeli bibit.

Alya memilih bunga matahari.

Kuning terang.

Dia menanamnya sendiri menggunakan sekop plastik kecil.

Setiap pagi dia berlari keluar untuk memeriksa tanah.

Hari pertama:

“Belum tumbuh.”

Hari kedua:

“Masih belum.”

Hari ketiga:

“Benihnya malas.”

Aku tertawa.

Hari keenam muncul tunas kecil.

Alya berteriak begitu keras sampai tetangga keluar rumah.

“NENEK! DIA HIDUP!”

Aku berlari keluar karena mengira terjadi sesuatu.

Ternyata dia berjongkok di depan tunas setinggi beberapa sentimeter.

“Lihat!”

Aku ikut jongkok.

Dia menyentuh tanah di samping tunas itu dengan ujung jarinya.

“Dia hidup.”

Aku memandang cucuku.

“Iya.”

Entah kenapa aku merasa dia sebenarnya tidak sedang membicarakan tanaman.

Bulan-bulan berlalu.

Kasus hukum berjalan.

Aku jarang menghadiri persidangan kecuali jika kehadiranku diperlukan.

Ardi beberapa kali meminta bertemu denganku.

Aku selalu menolak.

Sampai suatu hari, hampir enam bulan setelah malam itu, Alya bertanya:

“Nenek masih sayang Papa?”

Pertanyaan anak-anak kadang kejam tanpa mereka bermaksud kejam.

Aku membutuhkan waktu untuk menjawab.

“Papa adalah anak Nenek.”

“Berarti sayang?”

“Iya.”

“Walaupun Papa melakukan hal buruk?”

Aku menarik napas.

“Sayang seseorang tidak berarti kita harus membenarkan semua yang dia lakukan.”

Alya diam.

Aku melanjutkan.

“Kalau seseorang melakukan kesalahan besar, dia tetap harus bertanggung jawab.”

“Papa akan pulang?”

“Alya ingin Papa pulang?”

Dia menggeleng.

Cepat sekali.

Lalu dia terlihat bersalah karena menggeleng.

Aku memegang tangannya.

“Kamu tidak perlu merasa bersalah.”

“Alya takut.”

“Kalau begitu kita tidak bertemu dulu.”

Jawaban sesederhana itu tampaknya melegakannya.

Beberapa waktu kemudian, melalui proses hukum, pengasuhan Alya secara resmi dipercayakan kepadaku.

Hari ketika keputusan itu keluar, aku tidak mengadakan pesta.

Tidak ada perayaan besar.

Aku hanya membawa Alya ke toko buku.

Dia memilih tiga buku cerita, satu kotak pensil warna, dan—entah kenapa—sebuah buku besar tentang dinosaurus.

“Kamu suka dinosaurus?”

“Sekarang suka.”

“Sejak kapan?”

“Sejak lihat bukunya.”

Begitulah anak-anak.

Mereka mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu membutuhkan alasan rumit untuk bergerak maju.

Kadang cukup menemukan buku dinosaurus.

Setahun kemudian, sesuatu terjadi.

Bukan sesuatu yang dramatis.

Tidak ada polisi.

Tidak ada sirene.

Tidak ada rahasia.

Justru karena begitu biasa, aku tidak akan pernah melupakannya.

Hari Minggu.

Pukul delapan pagi.

Aku sedang membuat teh ketika mendengar Alya berteriak dari halaman.

“Nenek!”

Aku hampir menjatuhkan cangkir.

Aku berlari keluar.

Alya berdiri di bawah bunga matahari yang sekarang sudah jauh lebih tinggi darinya.

“Ada apa?”

Dia menunjuk salah satu bunganya.

Seekor kupu-kupu kecil hinggap di sana.

“Itu saja?”

Dia tertawa.

“Nenek kira apa?”

Aku memegang dada.

“Nenek kira kamu jatuh.”

“Alya kan cuma panggil.”

Aku ingin mengomel.

Benar-benar ingin.

Tetapi kemudian aku melihat wajahnya.

Pipinya sudah kembali berisi.

Rambutnya lebih panjang.

Matanya tidak lagi terus-menerus mencari pintu keluar setiap kali memasuki ruangan.

Dan yang paling penting…

Dia berteriak tanpa takut.

Suara yang dulu diperintahkan untuk diam sekarang memenuhi halaman.

Aku akhirnya ikut tertawa.

Beberapa minggu setelah itu, Alya kembali bersekolah penuh.

Hari pertamanya membuatku lebih gugup daripada dirinya.

Aku menyiapkan bekal terlalu banyak.

Nasi.

Ayam.

Buah.

Susu.

Biskuit.

Sampai Alya melihat kotaknya dan berkata:

“Nek, Alya sekolah sampai siang, bukan pindah rumah.”

Aku tertawa dan mengurangi separuh isinya.

Di depan gerbang sekolah dia menggenggam tanganku.

Aku menunggu.

Kupikir dia akan berubah pikiran.

“Nek.”

“Iya?”

“Nanti jemput?”

“Tentu.”

“Jangan telat.”

“Nenek datang tiga puluh menit lebih awal.”

Dia memutar mata.

“Nenek lebay.”

Lalu dia berlari masuk.

Aku berdiri di depan gerbang cukup lama.

Mungkin terlalu lama.

Sampai satpam sekolah bertanya apakah aku membutuhkan bantuan.

Aku menggeleng sambil tersenyum.

“Tidak, Pak. Saya cuma sedang melihat cucu saya pergi sekolah.”

Sore harinya Alya keluar membawa gambar.

Ada sebuah rumah kecil.

Dua orang berdiri di depannya.

Satu anak perempuan.

Satu perempuan tua.

Di samping mereka ada bunga matahari besar.

Aku menunjuk gambar itu.

“Ini siapa?”

“Ini Alya.”

“Yang ini?”

“Nenek.”

“Rumahnya?”

“Rumah kita.”

Aku berhenti.

Rumah kita.

Bukan rumah Nenek.

Rumah kita.

Aku menempelkan gambar itu di pintu kulkas.

Masih ada di sana sampai sekarang.

Dua tahun setelah malam di peti itu, hidup kami sudah berubah bentuk.

Tidak sempurna.

Aku tidak ingin berbohong dan mengatakan semua trauma lenyap seperti debu yang disapu.

Ada hari-hari tertentu ketika Alya masih takut pada ruangan gelap.

Dia masih tidak menyukai bunga lili putih.

Dia masih memintaku menemaninya jika harus pergi ke rumah sakit.

Tetapi sekarang ketakutan bukan lagi pusat hidupnya.

Dia punya teman.

Punya pelajaran yang disukai.

Punya cita-cita yang berubah setiap beberapa minggu.

Pernah ingin menjadi dokter hewan.

Kemudian arsitek.

Lalu pemain bulu tangkis.

Kemudian, selama dua hari, dia ingin menjadi penjual es krim karena menurutnya pekerjaan itu “selalu dekat makanan”.

Aku mendukung semuanya.

Suatu malam, ketika usianya hampir sepuluh tahun, kami duduk di teras.

Bunga matahari generasi ketiga tumbuh di halaman.

Alya bertanya:

“Nek, malam waktu Nenek buka peti itu… Nenek takut?”

Aku tidak menjawab dengan kebohongan orang dewasa.

“Sangat takut.”

“Kenapa tetap buka?”

Aku memandangnya.

“Karena Nenek mendengar suaramu.”

Dia terdiam.

Lalu bertanya:

“Kalau waktu itu Alya tidak menggaruk?”

Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada yang dia sadari.

Aku meraih tangannya.

“Tapi kamu menggaruk.”

“Kalau tidak?”

Aku menatap bunga matahari di halaman.

Angin malam menggerakkan daun-daunnya.

“Alya.”

“Iya?”

“Kita tidak hidup di dalam ‘kalau’.”

Dia mengernyit.

“Nenek ngomongnya aneh.”

Aku tertawa.

“Maksud Nenek, malam itu kamu berusaha. Nenek mendengar. Pintu peti terbuka. Itu yang terjadi.”

Dia mengangguk perlahan.

Kemudian menyandarkan kepala di bahuku.

Beberapa menit kami tidak bicara.

Aku pikir percakapan selesai.

Ternyata belum.

“Nek?”

“Hm?”

“Alya sekarang sudah boleh bangun, kan?”

Aku membeku.

Kalimat yang sama.

Kalimat yang dia ucapkan malam itu.

Tetapi kali ini suaranya berbeda.

Tidak gemetar.

Tidak berbisik.

Dia bahkan tersenyum kecil.

Aku memeluk bahunya.

“Boleh.”

“Selamanya?”

Aku mencium puncak kepalanya.

“Selamanya.”

Alya berdiri.

Lalu berlari menuju halaman.

Aku memanggilnya karena hari sudah malam, tetapi dia malah tertawa dan berlari lebih cepat mengitari bunga matahari.

“Nenek, tangkap Alya!”

“Alya! Jangan lari, nanti jatuh!”

“Kalau Nenek bisa tangkap!”

Anak itu tertawa keras.

Sangat keras.

Dan untuk pertama kalinya aku tidak menyuruhnya mengecilkan suara.

Biarkan tetangga mendengar.

Biarkan seluruh jalan mendengar.

Biarkan rumah ini penuh dengan suaranya.

Karena pernah ada malam ketika seorang anak kecil percaya bahwa keselamatannya bergantung pada kemampuannya untuk diam.

Sekarang tidak lagi.

Aku berdiri di teras, memperhatikannya berlari di bawah lampu halaman.

Di belakangnya, bunga-bunga matahari bergoyang tertiup angin.

Tak ada peti.

Tak ada bunga pemakaman.

Tak ada langkah kaki yang membuatnya bersembunyi.

Hanya seorang anak yang sedang tertawa.

Dan seorang nenek yang akhirnya memahami bahwa keajaiban terbesar malam itu bukan sekadar ketika Alya membuka mata.

Keajaiban sebenarnya datang jauh sesudahnya.

Ketika dia berani tidur tanpa memeriksa pintu berkali-kali.

Ketika dia kembali ke sekolah.

Ketika dia menanam sesuatu dan percaya bahwa benda kecil di bawah tanah akan tumbuh.

Ketika dia memanggil tempatku sebagai rumah kita.

Ketika dia berani berteriak.

Ketika dia tidak lagi meminta izin untuk hidup.

“Nenek!”

Aku mengangkat wajah.

Alya berdiri di tengah halaman.

“Apa?”

Dia tersenyum lebar.

“Ayo!”

Aku turun dari teras.

“Ke mana?”

“Pokoknya sini!”

Aku berjalan menghampirinya.

Dia menggenggam tanganku dan menarikku ke bawah bunga matahari paling tinggi.

Ternyata ada tunas baru.

Kecil sekali.

Hampir tersembunyi di antara daun.

Alya menunjuknya dengan wajah berbinar.

“Nenek lihat?”

Aku mengangguk.

“Tumbuh lagi.”

“Iya.”

Dia tersenyum.

Dan malam itu, untuk alasan yang bahkan sulit kujelaskan, aku merasa seperti sedang melihat jawaban dari semua pertanyaan yang pernah membuatku menangis.

Tidak semua yang hampir hilang benar-benar hilang.

Tidak semua yang dikubur akan berhenti tumbuh.

Dan terkadang, kehidupan kembali bukan dengan suara besar.

Bukan dengan mukjizat yang disaksikan banyak orang.

Kadang ia dimulai dari suara goresan kecil di tempat yang seharusnya sunyi.

Gores…

Gores…

Seseorang mendengarnya.

Seseorang membuka penutupnya.

Lalu sebuah kehidupan mendapat kesempatan kedua.

Alya menarik tanganku.

“Ayo masuk, Nek. Alya lapar.”

“Mau makan apa?”

Dia berpikir sebentar.

Kemudian wajahnya langsung cerah.

“Kue cokelat.”

Aku tertawa.

“Dengan stroberi?”

“Dua.”

“Satu untuk Alya, satu untuk Nenek?”

Dia menggeleng.

“Bukan.”

Aku mengangkat alis.

“Lalu?”

“Tiga stroberi sekarang.”

“Kenapa tiga?”

Alya berjalan masuk sambil tertawa.

“Satu lagi buat besok.”

Aku mengikuti cucuku ke dalam rumah.

Pintu kututup perlahan di belakang kami.

Bukan untuk mengurung siapa pun.

Hanya karena malam mulai dingin.

Dan dari dapur, suara Alya kembali terdengar.

“Nenek, cepat!”

“Iya, iya!”

Aku tersenyum.

Kali ini tidak ada seorang pun yang menyuruhnya diam.

Tidak malam ini.

Tidak besok.

Tidak lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *