Di Hari Ulang Tahun Pernikahan Kami Suamiku Membiarkanku Menunggu 4 Jam Demi Asisten Wanitanya Hati Ini Hancur Saat Cincin Pernikahan Kuhempas Ke Dalam Gelas Anggur Dan Rahasia Kelam Pengkhianatannya Terbongkar Di Sebuah Vila Mewah Puncak!

Aku menunggu suamiku selama hampir empat jam di sebuah restoran mewah kawasan Jakarta Pusat pada malam ulang tahun pernikahan kami yang keenam.
Pukul tujuh malam, lilin aroma terapi di atas meja bernomor tujuh belas masih menyala sempurna, memancarkan pendar keemasan di atas taplak meja putih bersih.
Pukul sembilan malam, hidangan steak wagyu seharga belasan juta Rupiah yang kupesan khusus sudah dingin membeku, diselimuti lapisan lemak yang mengeras.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, pelayan restoran datang untuk ketiga kalinya, menundukkan kepala dengan raut wajah penuh simpati yang sangat menyiksa harga diriku, lalu bertanya apakah hidangan perlu dipanaskan kembali di dapur.
Pukul 10.53 malam, laki-laki yang telah mendampingiku selama enam tahun itu akhirnya muncul.
Hadiah ulang tahun pernikahan paling berkesan yang diberikan Rizky malam itu adalah membiarkanku duduk sendirian seperti orang bodoh selama tiga jam lima puluh tiga menit.
Aku menatap jam tangan berpelat perak di pergelangan tanganku, lalu mengalihkan pandangan pada sosok tinggi yang berjalan tergesa-gesa membelah area restoran.
Jas hitam buatan penjahit ternama yang dipakainya saat pamit berangkat kerja tadi pagi sudah menghilang entah ke mana.
Dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka berantakan, memperlihatkan ikatan dasi yang sudah longgar.
Ketika dia menarik kursi kayu jati di hadapanku, aroma parfum mawar manis yang sangat asing dan menyengat langsung menusuk hidungku, mengalahkan wangi lilin restoran.
“Maafkan aku, Nabila.”
Rizky mengembuskan napas panjang, mengusap wajahnya yang berpeluh.
“Putri mengalami masalah besar.”
Aku mengepalkan jemari di bawah meja, tidak mengeluarkannya sepatah kata pun.
Laki-laki itu langsung melanjutkan pembelaannya tanpa diminta, “Ada klien bisnis yang mabuk dan mulai berbuat tidak sopan padanya di restoran sebelah. Putri panik setengah mati dan meneleponku sambil menangis. Aku tidak mungkin membiarkan asisten pribadiku sendirian dalam situasi genting seperti itu.”
“Jadi kamu pergi menolongnya?” suaraku terdengar begitu datar, sangat asing di telingaku sendiri.
“Iya, tentu saja.”
“Dan kamu tidak punya waktu lima detik saja untuk mengirim pesan singkat padaku?”
Rizky terdiam sejenak, matanya bergerak gelisah melintasi deretan lilin.
“Keadaan sangat kacau, Nabila. Aku sibuk menangani situasi dan mengurus klien bajingan itu.”
Aku menatap sumbu lilin yang kini tinggal seperempat, meleleh melekat pada piring kaca.
Enam tahun lalu, kami merayakan hari pernikahan pertama kami dengan menyantap dua mangkuk mi instan kuah di sebuah kamar kontrakan sempit di daerah Tebet. Kamar itu begitu panas karena kipas angin gantungnya sering mati mendadak.
Malam itu, Rizky menggenggam erat jemariku, menatap mataku dengan linangan air mata, lalu berjanji bahwa sesibuk apa pun dia membangun karier di Jakarta, tanggal ini akan selalu menjadi milik kami berdua.
Astaga! Ternyata manusia memang paling mudah amnesia pada janji masa lalunya ketika rekening banknya sudah terisi puluhan miliar Rupiah.
Rizky mengulurkan tangan, mencoba meraih jemariku yang mendingin di atas meja.
“Sudahlah, Nabila. Malam ini sudah telanjur rusak.”
Lalu dia mengukir senyum tipis, seolah-olah baru saja menawarkan solusi paling bijaksana di muka bumi.
“Lain kali aku ganti semuanya. Aku janji.”
Aku menatap iris matanya dalam-dalam.
“Lain kali?”
“Iya. Minggu depan kita makan malam lagi di restoran yang lebih mahal dari ini. Aku yang pesan tempatnya.”
Aku perlahan menarik tanganku dari jangkauannya.
Jemariku bergerak perlahan menuju jari manis kiri. Aku mencabut cincin pernikahan bertahtakan berlian murni itu, lalu melemparnya tepat ke dalam gelas anggur merah yang masih terisi penuh.
Cling!
Bunyi denting nyaring saat logam mulia itu menghantam dasar kaca membuat raut wajah Rizky berubah drastis dalam sekejap.
“Nabila!” suaranya meninggi, menahan geram.
“Apa?”
“Jangan membuat keributan konyol di tempat umum hanya karena masalah sepele seperti satu makan malam!”
Aku hampir tertawa berderai mendengar ucapannya.
Satu makan malam?
Bagi seorang Rizky, malam istimewa yang kupersiapkan selama satu bulan penuh—reservasi tempat, memesan gaun kebaya sutra khusus, hingga mengosongkan seluruh jadwalku—hanya bernilai tiga kata konyol itu.
Aku belum sempat membalas kalimat beracunnya ketika sebuah suara wanita bergelombang penuh kelembutan terdengar dari arah belakang punggungku.
“Pak Rizky?”
Aku menoleh perlahan.
Putri berdiri beberapa meter di belakang meja kami dengan wajah pucat dan mata berair.
Dan mata telanjangku langsung menangkap sebuah pemandangan yang sangat kukenal.
Jas hitam berkain wool mahal yang menempel di bahunya adalah jas milik suamiku.
Putri melangkah mendekat dengan langkah ragu, menampilkan ekspresi penuh rasa bersalah yang sangat dibuat-buat.
“Mbak Nabila, maafkan saya. Demi Tuhan, semua ini murni kesalahan saya.”
Jemarinya dengan sengaja menarik bagian depan jas Rizky yang kebesaran di tubuhnya, seolah-olah baru menyadari aku sedang menatap pakaian itu dengan intens.
“Tadi baju kerja saya tersiram minuman oleh klien yang mabuk, jadi Pak Rizky meminjamkan jasnya agar saya tidak kedinginan.”
Aku mengangguk pelan, menyunggingkan senyum dingin.
“Begitu rupanya.”
Putri menggigit bibir bawahnya yang terpoles lipstik merah muda.
“Saya benar-benar tidak tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Mbak Nabila dan Pak Rizky.”
Aku menatap wajah polosnya yang penuh tipu daya.
Aneh sekali.
Seingatku, sejak dia mendekati meja ini, aku sama sekali belum pernah mengucapkan kata ‘ulang tahun pernikahan’ kepada siapa pun.
Namun sebelum aku sempat membongkar kebohongannya, Putri sudah menjangkau botol anggur merah di atas meja.
“Kalau begitu, biarkan saya menebus kesalahan besar ini.”
Dia menuangkan anggur merah itu hingga memenuhi gelas kosong di sebelahnya.
“Saya akan minum tiga gelas penuh sekaligus sebagai bentuk permohonan maaf saya kepada Mbak Nabila.”
Baru saja gelas pertama terangkat beberapa sentimeter dari meja, gerakan tangan Rizky begitu cepat merebut gelas itu dari jemari Putri.
“Jangan!”
Nada suara suamiku terdengar begitu panik dan protektif, membuat beberapa pengunjung restoran di sekitar kami ikut menoleh.
Rizky mengerutkan kening dalam-dalam, menatap Putri dengan tatapan penuh kecemasan yang tidak pernah lagi ditunjukkannya padaku selama tiga tahun terakhir.
“Asam lambungmu sedang kambuh parah, Putri. Kamu tidak boleh menyentuh alkohol sedikit pun malam ini!”
Putri menatap Rizky dengan mata yang semakin berkaca-kaca.
“Tapi Mbak Nabila pasti sangat marah pada saya, Pak…”
“Biar aku yang mengatasi istriku.”
Aku duduk membisu di hadapan dua manusia itu, menyaksikan drama sinetron picisan yang diperagakan secara langsung di depan mataku.
Luar biasa membagakan!
Suamiku lupa bahwa aku belum memasukkan sebutir nasi pun ke dalam perutku sejak tadi siang demi menyambut makan malam romantismu.
Namun dia menghafal di luar kepala bahwa dinding lambung asisten wanitanya sangat sensitif terhadap minuman beralkohol!
Putri kembali berpura-pura mencoba mengambil gelas itu dari tangan Rizky.
Entah sengaja atau memang gerakan yang dirancang rapi, siku tangannya menyenggol piring dan gelas anggur di tepi meja.
Pyar!
Cairan anggur merah pekat itu tumpah merembes, membasahi gaun kebaya sutra krem kesayanganku dari batas pinggang hingga menjuntai ke paha!
“Ya Allah! Astaga!”
Putri langsung melompat mundur dengan ekspresi panik luar biasa.
“Mbak Nabila, maafkan saya! Saya benar-benar tidak sengaja!”
Aku berdiri secara refleks, menatap gaunku yang kini ternoda warna merah pekat seperti darah.
Namun gerakan Rizky jauh lebih secepat kilat daripada gerakanku.
Bukannya memeriksa kondisiku, laki-laki itu justru langsung menyambar bahu Putri dan menarik tubuh wanita itu ke belakang perlahan shield tubuh besarnya.
“Putri, tanganmu terkena pecahan kaca atau noda anggur? Kamu tidak apa-apa, kan?!”
Langkah kakiku membeku seketika.
Putri menggelengkan kepala dengan raut mengasihkan di balik punggung suamiku.
“Tidak, Pak… saya tidak apa-apa.”
Barulah setelah memastikan Putri aman tanpa goresan, Rizky memutar tubuhnya dan menatap gaunku yang sudah hancur berantakan.
Aku menatap wajah laki-laki itu selama beberapa detik tanpa kedipan.
Lalu, sebuah tawa kecil yang dingin meledak dari celah bibirku.
“Rizky.”
“Apa lagi, Nabila?” jawabnya dengan nada penuh kekesalan.
“Pindahkan Putri dari tim proyekmu besok pagi.”
Wajah Putri seketika memucat bagai mayat di balik bahu Rizky.
Rizky makin memajukan wajahnya, keningnya berkerut tajam.
“Jangan pernah mencampuradukkan masalah kecemburuan pribadimu dengan urusan profesional kantor!”
“Aku tidak memintamu memecatnya dari perusahaan.”
Aku mengambil beberapa lembar tisu kering di atas meja, lalu mengusap sisa cairan anggur di pergelangan tanganku dengan tenang.
“Aku hanya meminta kamu memindahkannya ke divisi lain, jauh dari timmu.”
“Proyek megah di Puncak sedang berjalan setengah jalan, Nabila! Tidak bisa sembarangan memindahkan orang!”
“Kapan dia bisa dipindahkan secara resmi?”
“Setelah proyek besar ini selesai sepenuhnya.”
“Kapan tanggal pastinya?”
Rizky mendadak terdiam, mengalihkan pandangannya.
Aku mengulangi pertanyaanku dengan suara lebih tegas, membuat suasana restoran makin mencekam.
“Tanggal berapa, Rizky?”
“Aku tidak bisa menentukan tanggal pasti sekarang juga!”
“Jadi berapa bulan lagi aku harus menunggu kepastian darimu?”
Rizky akhirnya benar-benar kehilangan kendali atas kesabarannya. Dia menghentakkan tangannya ke meja.
“Kamu harus memaksaku dan membuat kekacauan sejauh ini hanya demi urusan sepele satu makan malam yang gagal?!”
Restoran mewah itu seketika mendadak terasa begitu sunyi merayap.
Aku memandangi garis-garis wajah laki-laki di hadapanku—laki-laki yang sepuluh tahun lalu bersedia berjalan kaki menembus hujan deras di Bandung hanya untuk membelikanku sepiring nasi goreng saat aku sedang sakit.
Dulu, ketika kami masih tidak punya apa-apa, aku selalu berdoa agar bisnisnya sukses besar, berfikir bahwa jika kami kaya kelak, kami akan memiliki lebih banyak waktu untuk saling mencintai.
Ternyata kami memang berhasil menjadi kaya raya.
Hanya saja, seluruh waktu Rizky kini telah menjadi milik wanita lain.
“Baiklah.”
Aku mengambil tas tangan kulitku tanpa sedikit pun menyentuh gaunku yang basah kuyup.
Rizky menatap gerak-gerikku dengan tatapan penuh curiga.
“Baik apa maksudmu?”
“Tidak ada apa-apa.”
Aku melangkah maju, berjalan melewati Putri yang masih menundukkan kepala berpura-pura takut.
Rizky sama sekali tidak beranjak dari tempatnya untuk mengejarku.
Di dalam tas tanganku, terdapat sebuah kotak bludru hitam berukuran kecil.
Di dalamnya bukan berisi perhiasan emas atau jam tangan mewah seharga ratusan juta.
Melainkan sebuah kunci master dan sertifikat atas nama kepemilikan sebuah vila mewah menghadap laut di kawasan Nusa Dua, Bali.
Beberapa tahun lalu, saat kami masih tinggal di kamar kontrakan bocor, Rizky pernah menunjuk brosur gambar vila mewah menghadap samudra luas dan berkata sambil tertawa impian,
“Suatu hari nanti, kalau aku sudah jadi pengusaha sukses, aku akan belikan rumah tepat di tepi laut untuk kita menghabiskan masa tua berdua.”
Aku tidak pernah meragukan kata-katanya.
Tiga minggu lalu, aku mencairkan seluruh tabungan pribadi dari hasil bisnis fesyenku sendiri untuk membeli vila impian itu secara tunai.
Rencananya, kunci vila itu akan kuberikan malam ini sebagai kejutan hadiah ulang tahun pernikahan kami yang keenam.
Begitu melangkahkan kaki keluar dari pintu kaca restoran menuju area valet jalanan Jakarta yang bising, aku langsung menekan nomor agen properti terpercaya kami di Bali.
“Halo, Selamat malam Ibu Nabila?”
“Iya, Pak Bambang.”
“Apakah ada kendala mengenai penyerahan sertifikat vila di Bali malam ini?”
Aku berhenti melangkah, memandang bayangan pintu restoran di belakangku dengan tatapan kosong.
“Batalkan seluruh rencana kejutan dan penyerahan nama kepemilikan itu.”
Agen di ujung telepon terdiam sejenak, terkejut.
“Maaf Ibu? Maksudnya bagaimana?”
“Jangan balik nama sertifikat itu atas nama Rizky Wijaya seperti rencana awal kita.”
Aku menarik napas panjang, meresapi rasa sakit yang menjalar di dada.
“Jual kembali vila itu ke pasar properti malam ini juga. Berapa pun harganya.”
Setelah mematikan sambungan telepon, aku membuka daftar kontak teleponku, menggulir hingga menemukan satu nama yang sudah sangat kukenal.
Aditya Pranoto, sahabat lamaku sekaligus pengacara hukum keluarga paling hebat di Jakarta.
Aku mengetik satu pesan singkat yang dingin:
“Adit, aku butuh bantuanmu. Tolong siapkan draft gugatan cerai dan perhitungan pembagian harta bersama secepatnya.”
Balasan pesannya masuk hanya dalam hitungan detik:
“Aku tunggu di kantorku esok sore, Nabila. Semuanya akan kuselesaikan.”
Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas, menyetop taksi kening di pinggir jalan, dan pulang ke rumah megah kami sendirian.
Rizky baru menginjakkan kaki di rumah setelah jarum jam melewati pukul dua dini hari.
Aku berpura-pura sudah tertidur lelap di kamar utama, memunggungi pintu.
Keesokan harinya, ketika matahari pagi mulai menerobos jendela kaca, Rizky bertingkah seolah-olah pertengkaran hebat semalam hanyalah angin lalu yang bisa disapu bersih dengan uang.
Di atas meja makan, di sebelah piring nasi gorengku, tergeletak sebuah kotak bludru merah yang sangat elegan.
Rizky membukanya di depanku dengan senyum merekah.
Sebuah gelang berlian murni berkilau indah di dalamnya.
“Ini untukmu, Nabila. Maafkan kejadian semalam ya.”
Aku bahkan tidak berminat untuk menyentuh kotak tersebut.
“Sebagai barang penukar untuk pelampiasan kekecewaanku semalam?”
Rizky mendesah berat, memasang wajah lelah.
“Nabila, tolonglah. Aku kan sudah minta maaf secara tulus.”
Aku menatap lurus ke dalam iris matanya.
“Lalu bagaimana dengan Putri?”
“Kenapa harus membawa-bawa nama Putri lagi? Ada apa lagi dengannya?”
“Kapan tepatnya dia dipindahkan dari timmu?”
Rizky memijat pelipisnya dengan jari-jarinya yang gemetar.
“Beri aku waktu beberapa hari lagi untuk mengatur struktur kantor, Nabila.”
Pertanyaan yang sama persis kembali berputar-putar di dalam kepalaku bagai kaset rusak.
Aku menatapnya dingin dan bertanya,
“Berapa hari tepatnya? Sebutkan angkanya.”
Rizky membuka mulutnya untuk menjawab, namun tidak ada satu pun angka atau kata yang keluar dari bibirnya.
Aku mengangguk pelan dengan senyum getir.
Enam tahun hidup bersama pria ini mengajarkanku satu pola yang sangat jelas.
Jika Rizky benar-benar ingin melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya—seperti membeli mobil baru, mengejar klien kaya, atau membantu Putri—dia selalu punya tanggal pasti, menit yang terukur, rencana matang, dan eksekusi yang tegas.
Namun hanya ketika pertanyaan itu menyangkut kebahagiaanku dan ketenangan jiwaku—
jawabannya selalu: nanti.
Lain kali.
Beri aku waktu beberapa hari lagi.
Tunggu sampai proyek selesai.
Aku berdiri dari kursi makan, menyambar tas kerja kulitku tanpa menyentuh sarapan di meja.
“Nabila!”
Langkah kakiku terhenti di depan pintu dining room.
Rizky menatapku dengan tatapan melunak yang dipaksakan.
“Kamu… masih marah padaku?”
Aku memutar tubuh sedikit, menyunggingkan senyum paling tipis yang bisa kubuat.
“Tidak. Aku sama sekali tidak marah lagi.”
Laki-laki itu mendesah lega, mengira badai rumah tangganya telah berlalu dengan modal sebuah gelang berlian.
Rizky tidak pernah tahu bahwa sejak detik aku melemparkan cincin pernikahan ke dalam gelas anggur merah semalam, aku sudah berhenti berharap pada permintaan maafnya.
Dia juga tidak tahu bahwa vila megah di Bali yang pernah menjadi impian terbesar masa mudanya sudah kuperintahkan untuk dijual ke pihak lain.
Dan hal yang paling tidak pernah dibayangkannya dalam mimpi buruk mana pun—
pertemuanku dengan pengacara perceraian sudah dijadwalkan sore hari ini.
Kali ini, aku tidak akan pernah lagi bertanya kapan dia punya waktu luang untuk mendengarkanku.
Karena ketika Rizky akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaan itu kelak—
aku sudah melangkah pergi sangat jauh dari kehidupannya…
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
Pukul tiga sore, di lantai paling atas gedung perkantoran mewah kawasan SCBD Jakarta, aku duduk menghadap Aditya. Di atas meja kaca bening, tumpukan dokumen gugatan cerai dan audit keuangan perusahaan keluarga sudah tersusun rapi.
“Nabila, kamu yakin dengan keputusan ini?” tanya Aditya dengan nada suara baritonnya yang tenang. “Rizky bukan hanya suamimu, tapi dia juga memegang posisi Direktur Utama di PT Wijaya Mahakarya, perusahaan yang didirikan almarhum ayahmu.”
Aku menandatangani lembar demi lembar berkas perceraian itu tanpa keraguan sedikit pun. “Justru karena perusahaan itu peninggalan almarhum Ayah, Adit. Aku tidak akan membiarkan parasit seperti Rizky dan asistennya menggerogoti kerja keras keluargaku.”
“Lalu bagaimana dengan rencana kepindahan mereka esok hari?” Adit menyandarkan punggungnya di kursi kulit, menatapku penuh arti. “Orang-orangku sudah melacak pergerakan rekening Rizky. Ada aliran dana gelap sebesar lima puluh miliar Rupiah yang ditransfer dari rekening perusahaan ke sebuah akun penampung atas nama Putri Rahmawati.”
Darahku mendidih mendengar nominal angka fantastis itu. Lima puluh miliar Rupiah! Dana deviden warisan keluargaku yang seharusnya dialokasikan untuk ekspansi bisnis, malah dialirkan secara ilegal demi memanjakan wanita simpanannya.
“Ke mana tujuan transfer itu dialokasikan?” tanyaku dengan gigi terkancing rapat.
Adit menyodorkan sebuah dokumen kepemilikan aset. “Mereka baru saja membeli sebuah vila mewah tersembunyi di kawasan Puncak Pass, Bogor. Atas nama Putri. Dan esok pagi, Rizky meminta izin libur kerja dengan alasan rapat darurat dengan investor luar negeri.”
Aku menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan kepahitan. Rapat darurat investor luar negeri? Sandiwara busuk yang sangat klasik.
“Biarkan mereka menikmati kemenangan semu mereka malam ini, Adit,” ucapku tegas sambil menutup pulpen mahal di tanganku. “Besok pagi, kita berikan kejutan terbesar dalam hidup mereka.”
Keesokan harinya, sesuai perkiraanku, Rizky berbohong.
Saat sarapan pagi, dia mencium keningku dengan sikap manis yang terbuat dari kebohongan. Dia mengenakan kemeja batik sutra terbaiknya, mengelus rambutku, lalu berkata bahwa ada pertemuan mendadak dengan klien Singapura di daerah Bandung yang memerlukan kehadirannya hingga larut malam.
“Jangan menungguku makan malam ya, Sayang. Pertemuan ini sangat krusial untuk masa depan perusahaan kita,” ucapnya dengan raut wajah tanpa dosa.
“Tentu, Rizky. Lakukan apa yang harus kamu lakukan,” jawabku seolah-olah menjadi istri penurut yang bodoh.
Begitu mobil SUV mewah milik Rizky bergerak meninggalkan pekarangan rumah kami, aku langsung berganti pakaian. Aku mengenakan setelan blazer hitam elegan, memasang kacamata hitam, dan masuk ke dalam mobil Sedan yang sudah disiapkan oleh tim hukum Aditya.
Kami berkendara menembus jalur tol Jakarta-Cikampek menuju ke arah Puncak, Bogor. Jalanan menanjak berkelok diselimuti kabut tipis dan udara dingin khas pegunungan. Namun, dinginnya udara Puncak tidak sebanding dengan kebekuan yang menancap di dalam dadaku.
Mobil kami berhenti di sebuah gerbang besi tempa hitam berukir mewah di daerah Puncak Pass. Gerbang itu terbuka otomatis. Di balik rindangnya pepohonan pinus, berdiri kokoh sebuah vila megah berarsitektur modern dengan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke hamparan kebun teh yang hijau menyegarkan.
Mobil Rizky terparkir gagah di pelataran parkir vila tersebut.
Aku turun dari mobil bersama Aditya dan tiga orang petugas kepolisian berseragam lengkap dari Polres Bogor yang telah membawa surat perintah resmi.
Langkah kakiku berderap mantap menaiki tangga batu menuju pintu utama vila. Udara dingin pegunungan menerpa wajahku, namun semangat balas dendam membuat seluruh aliran darahku mendidih panas.
Pintu vila tidak terkunci rapat. Melalui celah dinding kaca transparan di ruang keluarga, mataku menangkap pemandangan yang seketika menghentikan detak jantungku.
Pemandangan yang jauh lebih biadab dan menjijikkan dari apa yang pernah kubayangkan dalam pikiran terburukku!
Di dalam ruangan berlantai marmer impor itu, bukannya sebuah rapat bisnis yang berlangsung.
Rizky sedang duduk santai di sofa empuk sambil merangkul mesra pinggang Putri yang hanya mengenakan piyama sutra tipis. Namun yang membuat hatiku benar-benar hancur menjadi abu adalah keberadaan sosok wanita paruh baya yang duduk di hadapan mereka sambil tertawa terbahak-bahak sambil menyesap cangkir teh hangat.
Ibu Ratna. Ibu kandung Rizky. Ibu mertua yang selama enam tahun ini kusalimi tangannya dengan penuh hormat setiap minggu!
Tidak hanya itu, di sebelah Ibu mertuaku, duduk Pak Surya—salah satu komisaris korup di perusahaan almarhum ayahku yang sudah lama kucurigai mencoba melakukan kudeta jabatan!
Di atas meja kaca di hadapan mereka, berbotol-botol minuman mahal bertumpuk di sebelah map berkas berlogo PT Wijaya Mahakarya.
Aku memajukan langkah mendekati celah pintu, mendengarkan percakapan mereka yang terdengar sangat jelas melalui pengeras suara ruangan yang terbuka.
“Rizky, kamu ini benar-benar anak Ibu yang paling cerdas!” tawa Ibu Ratna memecah kesunyian ruangan. “Si Nabila bodoh itu pasti sekarang sedang duduk di rumah menangisi gaun kotornya! Dia tidak akan pernah tahu kalau harta warisan ayahnya sudah kita kuras habis untuk membeli vila megah ini!”
Rizky tertawa berderai, mendaratkan ciuman mesra di pelipis Putri. “Nabila itu terlalu polos, Bu. Dia pikir aku masih laki-laki miskin yang bisa dia atur-atur hanya karena dulu keluarganya menolongku. Selama enam tahun ini aku berpura-pura jadi suami setia hanya demi mendapatkan seluruh akses tanda tangan sahamnya!”
Putri menyandarkan kepalanya di dada Rizky dengan manja. “Tapi Mas Rizky janji kan, setelah seluruh aset PT Wijaya balik nama atas namaku dan Pak Surya, Mas Rizky akan langsung menceraikan si wanita sok suci itu?”
“Tentu saja, Putri Sayang,” sahut Rizky tanpa beban sedikit pun. “Hari Senin depan, surat gugatan cerai akan kulayangkan atas nama Nabila dengan tuduhan dia tidak bisa memberikan keturunan. Kita akan buat dia keluar dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang Rupiah!”
Pak Surya menepuk bahu Rizky dengan bangga. “Kerja bagus, Rizky. Berkas pengalihan lima puluh persen saham PT Wijaya atas nama Putri sudah lengkap. Tinggal menunggu proses stempel yang dipalsukan besok pagi!”
Demi Tuhan! Astaga!
Seluruh persendian tubuhku berguncang hebat mendengar konspirasi keji yang dirancang oleh orang-orang yang selama ini kuberikan makan dan penghidupan layak.
Suamiku, ibu mertuaku, asisten wanitanya, dan komisaris perusahaanku sendiri bersekongkol untuk merampas seluruh harta warisan almarhum Ayah dan mendepangku hingga hancur!
Cukup sudah sandiwara ini.
Dengan dorongan emosi yang meledak-ledak, aku menendang pintu kaca utama vila itu hingga terhempas lebar!
BRAK!
Benturan keras pintu menghantam dinding kayu membuat kaca jendela bergetar hebat. Suara dentuman itu menggema keras di seluruh penjuru vila.
Empat orang di dalam ruangan seketika melonjak kaget dari duduk mereka. Cangkir teh di tangan Ibu Ratna terlepas, jatuh berkeping-keping di atas marmer!
“Astaga! Siapa itu?!” jerit Putri panik sambil menutup dada piyamanya.
Aku melangkah masuk dengan tenang, membelah kabut Puncak yang menerobos masuk dari pintu yang terbuka. Tatapan mataku menghujam lurus ke arah wajah Rizky yang seketika berubah pucat pasi bagaikan lembaran kertas.
“Sungguh sebuah rapat bisnis investor luar negeri yang sangat luar biasa dan berkelas, Suamiku,” ucapku dengan nada suara dingin menyengat.
Rizky berdiri terpaku, matanya terbelalak lebar seolah-olah sedang melihat hantu di siang bolong. “Na… Nabila?! Kenapa kamu… kenapa kamu bisa ada di sini?!”
Ibu Ratna mengelus dadanya yang naik turun, mencoba menguasai rasa terkejutnya, lalu berdiri menunjuk mukaku dengan jari telunjuknya yang gemetar.
“Kurang ajar kamu, Nabila! Berani-beraninya kamu mendobrak pintu dan masuk tanpa sopan santun ke vila milik anakku!” bentak Ibu mertuaku dengan wajah merah padam.
Aku tertawa sinis, menatap wanita tua yang pernah kupijat kakinya saat dia sakit itu. “Vila milik anak Ibu? Vila yang dibeli menggunakan uang hasil pencucian dana lima puluh miliar Rupiah dari perusahaan almarhum Ayahku?!”
Wajah Pak Surya dan Putri seketika memucat drastis begitu mendengar nominal angka lima puluh miliar Rupiah terucap dari bibirku.
Rizky mencoba melangkah mendekatiku, memasang wajah panik namun berusaha tetap mengintimidasi. “Nabila! Jj-jangan bicara sembarangan! Jangan buat keributan konyol di sini! Kamu membuntutiku?! Kamu sudah melanggar privasiku!”
“Privasi?” Aku melipat kedua tanganku di dada, menatapnya dengan rasa jijik yang mendalam. “Privasi untuk merencanakan pemalsuan tanda tanganku? Privasi untuk mentransfer uang warisan ayahku ke rekening wanita simpananmu ini?”
Putri bersembunyi di belakang punggung besar Rizky, menangis buaya dengan tubuh gemetar. “Mas Rizky… tolong aku… Mbak Nabila mau menuduhku yang tidak-tidak…”
“Nabila!” jerit Ibu Ratna melangkah maju dengan wajah bengis. “Kamu istri tidak tahu diri! Kamu cuma wanita tidak berguna yang kebetulan beruntung punya harta warisan! Rizky berhak bahagia dan mengambil seluruh kekayaan itu sebagai ganti rugi karena sudah meladeni sifat sok kuasamu selama enam tahun ini!”
“Ibu diam!” suaraku membahana memotong makian wanita tua itu, menghentikan ucapannya seketika. “Ibu lupa siapa yang membayar utang judi puluhan miliar Rupiah milik keluarga Ibu saat rumah kalian mau disita oleh bank lima tahun lalu?! Siapa yang membiayai seluruh hidup mewah Ibu kalau bukan uang dari keringat almarhum Ayahku?!”
Ibu Ratna bungkam seribu bahasa, matanya melotot tidak percaya atas perlawananku.
Rizky yang mulai kehilangan kendali emosi maju melangkah, hendak mencengkeram lengan blazerkul. “Nabila! Cukup! Keluar kamu dari sini sekarang sebelum aku bertindak kasar!”
Namun sebelum jemari kotor Rizky sempat menyentuh serat kain blazetku, dua orang polisi berseragam penuh melangkah cepat menerobos masuk, menyergap lengan Rizky dan menguncinya di belakang punggung!
KLIK!
Bunyi borgol besi yang mengunci kedua pergelangan tangan Rizky bergema nyaring di dalam ruangan.
“Apa-apaan ini?! Lepaskan aku! Kamu tahu siapa aku?! Aku Direktur Utama PT Wijaya Mahakarya!” teriak Rizky memberontak histeris saat tubuhnya dihimpit ke dinding marmer.
Aditya melangkah masuk dengan tenang, membawa map dokumen tebal di tangannya. Dia berdiri di sebelahku, menatap Rizky, Pak Surya, dan Putri dengan pandangan dingin penuh kemenangan.
“Saudara Rizky Wijaya, Pak Surya, dan Saudari Putri Rahmawati,” ucap Aditya dengan suara tegas yang berwibawa. “Atas nama Kepolisian Republik Indonesia dan tim kuasa hukum Nabila Wijaya, Anda bertiga resmi ditahan atas tuduhan penggelapan jabatan, pemalsuan dokumen otentik, serta tindak pidana pencucian uang korporasi.”
Pak Surya terduduk lemas di atas sofa, dokumen di tangannya terlepas berhamburan di lantai. “T-tunggu… ini pasti ada kesalahpahaman! Saya hanya investor pasif!”
“Kesalahpahaman?” Aditya menyunggingkan senyum tipis. “Seluruh rekaman percakapan Anda bertiga di ruangan ini baru saja tertransmisi secara langsung ke server penyidik Polres Bogor melalui mikrofon tersembunyi yang terpasang di jam tangan yang Anda kenakan, Pak Surya.”
Pak Surya refleks menatap jam tangan mewahnya dengan mata terbelalak horor.
Rizky menggelengkan kepala histeris, menatapku dengan sorot mata penuh permohonan. “Nabila! Nabila, tolong dengarkan aku dulu! Ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan! Aku dijebak! Putri yang membujukku untuk melakukan semua ini! Putri yang merencanakannya!”
Putri yang mendengar namanya ditumbalkan langsung melompat berteriak ke arah Rizky dengan wajah kalap. “Kurang ajar kamu, Rizky! Kamu yang memaksaku menyerahkan nomor rekeningku! Kamu yang bilang kalau kamu akan menceraikan Nabila dan menikahiku secara resmi di Bali!”
“Diam kamu, wanita tidak tahu diri!” jerit Ibu Ratna melabrak Putri, saling menjambak rambut di atas marmer vila, menciptakan kekacauan luar biasa.
Polisi dengan cepat melerai pertikaian brutal antara kedua wanita itu dan membelenggu tangan Putri serta Pak Surya dengan borgol besi.
Rizky menyenggol tubuh polisi, berlutut di atas marmer dingin tepat di hadapan kakiku. Air mata penyesalan palsu mulai menetes membasahi pipinya.
“Nabila… aku mohon padamu… ampuni aku, Sayang!” ratap Rizky dengan suara serak menangis terisak-isak. “Ingat masa lalu kita, Nabila! Ingat waktu kita masih makan nasi goreng berdua di kamar kontrakan sempit! Ingat perjuangan kita dari nol! Aku khilaf, Nabila… tolong cabut laporannya, kita bisa mulai semuanya dari awal lagi…”
Aku menundukkan kepala, memandangi laki-laki yang pernah kucintai setengah mati ini dengan tatapan penuh rasa kasihan dan keandakan.
Aku melangkah mundur satu langkah, menjauhkan ujung sepatuku dari sentuhan tangan kotornya.
“Kamu salah, Rizky,” ucapku dengan suara datar namun penuh dengan penekanan tajam. “Kamu pikir aku baru tahu kebusukan kalian semalam di restoran?”
Rizky mendongak, matanya terbelalak bingung.
Aku menyunggingkan senyum penuh kemenangan saat memberikan kebenaran pahit yang sesungguhnya.
“Enam bulan lalu, aku sudah tahu kamu mengalirkan dana perusahaan ke rekening Putri. Berkas pengalihan saham yang kamu tandatangani tadi pagi di kantor? Itu bukan berkas persetujuan proyek Puncak, melainkan berkas pengakuan utang pribadi atas nama dirimu sendiri senilai seratus miliar Rupiah kepada perusahaanku.”
Wajah Rizky seketika membeku bagaikan es batu.
“Dan tahu siapa klien mabuk yang mengganggu Putri di restoran dua hari yang lalu hingga kamu membiarkanku menunggu empat jam?” aku memajukan wajahku tepat di depan telinganya, berbisik halus namun mematikan.
“Klien itu adalah orang suruhanku untuk menguji seberapa jauh kamu rela mengorbankan hari pernikahan kita demi wanita ini. Dan tes DNA dari laboratorium Rumah Sakit Jakarta yang baru kuterima tadi pagi membuktikan… janin yang sedang dikandung Putri saat ini bahkan bukan anak kandungmu, melainkan anak dari klien mabuk tersebut. Selamat menikmati sisa hidupmu di balik jeruji besi, Rizky!”
Rizky menjerit histeris bagaikan orang gila saat polisi menyeret tubuhnya keluar menembus pintu vila.
