PART 2
Angka di lembar kertas itu menunjukkan tingkat kecocokan DNA sebesar 99,99 %.
Pak Danu adalah ayah kandung Nisa.
Namun, Nisa tidak lantas berdiri dan memeluk pria tua berpakaian rapi itu.
Nisa berpaling menatap Bu Maya, wanita yang telah memeras keringat selama 29 tahun untuk membelikannya beras, menyewakan rumah, dan membayarkan sekolahnya.
“Bu Maya adalah ibu saya. Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya,” tegas Nisa dengan suara tenang namun tidak bisa dibantah.
Pak Danu mengangguk perlahan, menerima batasan yang ditetapkan Nisa tanpa membantah.
Namun, kecemasan membuat Pak Danu mengambil langkah yang salah.
Setelah berita insiden penamparan di pengadilan bocor ke media massa, Pak Danu menyewa 2 pengawal pribadi untuk menjaga kontrakan Nisa secara diam-diam.
Saat Nisa melihat 2 pria berbadan tegap berdiri di depan gang rumahnya, kemarahannya memuncak.
Nisa langsung menghubungi Pak Danu.
“Reno mengontrol hidup saya dengan kebohongan. Anda mencoba mengontrol hidup saya dengan kekuasaan. Bagi saya, rasanya sama saja.”
Kata-kata itu menghantam kesadaran Pak Danu.

Hari itu juga, seluruh pengawal pribadi ditarik mundur.
Sementara itu, Reno mulai merasa terdesak.
Reno mendatangi pengacara Nisa dan menawarkan kesepakatan damai.
Dia berjanji akan menanggung seluruh biaya persalinan dan memberikan uang bulanan yang jauh lebih besar.
Syaratnya hanya satu: Nisa harus menyetujui perceraian tanpa banyak suara dan tidak memperpanjang kasus penamparan Siska.
“Jangan sampai masalah ini merusak nama baik keluarga besar saya,” ujar Reno melalui pesan tertulis kepada pengacara.
Siska pun mencoba membela diri melalui media sosial, mengklaim tindakan refleksnya terjadi karena provokasi Nisa.
Namun, video rekaman CCTV dari dalam ruang sidang terlanjur tersebar luas di internet.
Ditambah lagi, kabar bahwa Nisa adalah putri dari seorang hakim senior membuat kediaman Nisa dikepung wartawan.
3 hari kemudian, saat Nisa dan Bu Maya baru saja kembali dari apotek untuk membeli vitamin, belasan wartawan langsung menghadang langkah mereka.
Kamera menyala, mikrofon disodorkan tepat ke wajah Nisa.
Mereka bertanya tentang harta Pak Danu, status Reno, hingga persoalan warisan.
Nisa berusaha menerobos kerumunan, namun rasa sakit yang hebat mendadak mencengkeram perut bagian bawahnya.
Nisa merintih dan hampir terjatuh jika Bu Maya tidak cepat menahannya.
Rasa sakit itu datang bergelombang, kian cepat dan kian kuat.
Nisa dilarikan ke ruang gawat darurat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Tim dokter menyatakan Nisa mengalami kontraksi dini akibat stres berat dan tekanan darah yang melonjak tinggi.
Pak Danu tiba di rumah sakit beberapa menit kemudian.
Pria yang biasanya dihormati di ruang sidang itu kini hanya berdiri di sudut lorong medis tanpa berani menggunakan pengaruh jabatannya.
Seorang perawat keluar dari ruang bersalin dengan terburu-buru dan memanggil tim medis neonatal untuk masuk ke dalam.
Malam itu, seorang bayi perempuan lahir ke dunia.
Bayi itu lahir 9 minggu lebih awal dari perkiraan medis.
Beratnya hanya 1,8 kg.
Ruang perawatan intensif dipenuhi dengan suara alarm monitor jantung dan langkah kaki para perawat yang bergerak cepat.
Di luar ruangan, Bu Maya duduk menggenggam tasbih kayu yang sudah licin karena sering dipakai.
Pak Danu duduk di sebelahnya, menyadari bahwa seluruh kekayaan dan jabatannya tidak punya arti apa pun di depan pintu ruang NICU.
Ketika dokter anak keluar dan menyampaikan bahwa bayi dalam kondisi stabil meski masih membutuhkan bantuan alat pernapasan, Bu Maya menyapu air matanya.
Pak Danu menunduk dalam-dalam, mengucap syukur dengan suara bergetar.
Bayi itu diberi nama Alma.
Nisa baru diizinkan melihat anaknya beberapa jam kemudian.
Tubuh Alma tampak begitu kecil di dalam tabung inkubator, dengan selang oksigen tipis terpasang di hidungnya.
Rasa bersalah mulai menggerogoti pikiran Nisa.
Dia merasa bertanggung jawab karena pergi ke apotek, karena melayani pertanyaan pers, dan karena tidak bisa menahan emosinya.
Dokter spesialis anak yang menangani Alma segera memotong jalan pikiran tersebut.
“Ini bukan salah Anda. Tugas Anda sekarang adalah pulih agar bisa mendampingi putri Anda.”
Pak Danu berdiri di depan pintu kamar perawatan Nisa.
Dia tidak langsung masuk.
Dia menunggu sampai Nisa menatapnya dan memberikan anggukan kecil.
“Saya ingin menanggung semua biaya perawatan NICU untuk Alma,” kata Pak Danu pelan dari dekat pintu.
Nisa menatapnya dengan raut wajah lelah.
“Itu hal paling mudah yang bisa Anda lakukan dengan uang Anda.”
Kalimat itu menembus dadanya, namun Pak Danu tahu Nisa benar.
“Kalau begitu, beri tahu saya, apa hal terhebat dan tersulit yang harus saya lakukan?”
“Tanya dulu sebelum Anda bertindak. Jangan mengambil keputusan atas nama saya,” jawab Nisa tegas.
Pak Danu mengangguk pelan.
Dia menyadari bahwa hadir dalam hidup seorang putri yang sudah dewasa bukan berarti mengatur hidupnya dengan uang dan kekuasaan, melainkan menghormati setiap keputusan yang telah diambilnya selama 29 tahun.
Masalah hukum baru mulai bermunculan.
Pak Danu mendatangi Kejaksaan Agung dan menyerahkan seluruh dokumen medis serta berkas adopsi lama yang dimilikinya.
Penyelidikan resmi dibuka terhadap klinik swasta yang beroperasi pada tahun 1997 tersebut.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya jaringan pemalsuan dokumen kelahiran yang melibatkan oknum mantan pejabat dan sebuah kantor hukum besar di Jakarta.
Kantor hukum yang sama ternyata merupakan pengacara keluarga besar Reno selama belasan tahun.
Sebuah fakta baru terungkap dari pemeriksaan pesan digital.
Ayah Reno pernah melihat gelang perak yang dipakai Nisa saat acara makan malam keluarga 1 tahun sebelum perceraian terjadi.
Ayah Reno mengenali ukiran bunga dan inisial pada gelang itu karena kantor hukumnya pernah menangani kasus penggelapan dokumen klinik tersebut.
Alih-alih memberitahu Nisa, ayah Reno justru memerintahkan Reno untuk menekan Nisa agar tidak mencari tahu asal-usul keluarganya.
Mereka takut jika identitas Nisa terungkap, skandal masa lalu kantor hukum mereka akan terbongkar ke publik.
Bagi Nisa, fakta ini jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan cinta Reno.
Reno tahu bahwa istrinya kemungkinan besar adalah putri seorang hakim yang dicari selama puluhan tahun.
Namun Reno tetap membiarkan Nisa hidup kekurangan, membiarkannya membayar biaya dokter sendiri dari uang menjahit, dan membiarkan Siska menghina Nisa sebagai wanita miskin.
Atas permintaan Nisa, sebuah pertemuan diatur di ruang mediasi rumah sakit dengan didampingi pengacara.
Reno datang tanpa setelan jas mewahnya, dengan wajah kusam dan mata yang menyiratkan kelelahan.
Reno meletakkan seikat bunga di meja luar karena aturan steril rumah sakit.
“Nisa, aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau masalahnya akan sejauh ini. Semuanya di luar kendali,” ujar Reno.
Nisa menatap pria yang pernah dipercayainya itu.
“Semuanya tidak di luar kendali, Reno. Kamu yang memilih untuk melepas tanggung jawab setiap kali aku membutuhkanmu.”
Reno membawa-bawa nama Siska sebagai kekhilafan, menyebut ayahnya sebagai penekan, dan meminta Nisa mengingat masa lalu mereka.
Nisa berdiri perlahan dari kursinya.
“Anakku tidak boleh tumbuh dengan melihat ibunya bertahan dalam kebohongan demi menjaga nama baik keluargamu.”
Reno berusaha mendekat.
“Aku bisa berubah, Nisa. Beri aku kesempatan.”
“Berubahlah untuk dirimu sendiri. Tapi aku tidak akan berdiri di pintu untuk menunggu buktinya,” potong Nisa dingin.
Itu menjadi percakapan pribadi terakhir di antara mereka.
Sementara itu, proses hukum terhadap Siska atas tindakan penganiayaan fisik di ruang sidang terus berjalan.
Siska mencoba mengajukan permohonan damai dan menawarkan ganti rugi finansial yang besar.
Nisa menolak mencabut laporan polisinya.
Nisa menyerahkan seluruh proses hukum kepada pihak kepolisian dan kejaksaan tanpa intervensi kekuasaan dari Pak Danu.
Nisa tidak ingin membalas dendam; dia hanya ingin hukum berjalan sebagaimana mestinya.
Pak Danu juga mulai mengubah caranya memimpin.
Sebagai pemegang saham di sebuah perusahaan pengelola properti milik keluarganya, Pak Danu meminta dilakukan audit menyeluruh terhadap kebijakan sumber daya manusia.
Dia menemukan aturan internal yang memotong bonus pekerja wanita yang mengambil cuti hamil atau izin pemeriksaan medis.
Dalam rapat pemegang saham, beberapa direktur menolak perubahan aturan tersebut dengan alasan efisiensi biaya.
Pak Danu menatap para direksi dengan tenang.
“Jika sebuah perusahaan hanya bisa mencetak keuntungan dengan cara menindas hak dasar seorang ibu, maka sistem perusahaan ini yang rusak.”
Kebijakan baru diterapkan: hak cuti melahirkan diperpanjang, fasilitas penitipan anak disediakan, dan dana bantuan hukum dibentuk untuk karyawan yang menghadapi masalah domestik.
Nisa membaca berita perubahan kebijakan itu di koran harian.
Saat Pak Danu berkunjung ke rumah sakit, Nisa memberikan reaksinya.
“Mengubah aturan dari atas panggung itu mudah. Yang sulit adalah tidak lagi mengambil keputusan atas hidup orang lain secara sepihak.”
Pak Danu menerima masukan itu tanpa membela diri.
Hubungan mereka mulai terbangun langkah demi langkah.
Hari pertama Alma diizinkan keluar dari NICU dan pindah ke ruang perawatan biasa, Pak Danu datang membawa satu kardus besar popok bayi ukuran paling besar.
Bu Maya melihat kardus itu lalu menggelengkan kepala.
“Pak Danu mau membesarkan Alma sampai lulus SMA dengan satu kardus ini?” gurau Bu Maya.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, tawa renyah terdengar dari bibir Nisa.
Pak Danu ikut tersenyum, meski sedikit canggung.
Sejak hari itu, Pak Danu belajar menyesuaikan diri.
Dia datang ke rumah kontrakan di Kebayoran Lama tanpa sopir pribadi.
Dia mengetuk pintu dan menunggu diizinkan masuk sebelum melangkah melewati ambang pintu.
Dia belajar cara mencuci botol susu dengan benar dan belajar menimang Alma tanpa membuat bayi itu menangis.
Pak Danu juga memahami satu hal penting: Bu Maya adalah ibu sejati bagi Nisa, dan posisinya tidak akan pernah tergeser oleh surat tes DNA.
Suatu sore, saat Alma tertidur di pangkuan Bu Maya, Pak Danu duduk di kursi kayu dekat meja jahit.
“Saya tidak datang untuk mengambil posisi Anda, Bu Maya,” kata Pak Danu dengan jujur.
Bu Maya menatap pria tua itu.
“Bagus kalau Bapak paham.”
“Saya hanya ingin mendapat izin untuk belajar menjadi seorang ayah, jika Nisa memberi saya kesempatan.”
Bu Maya menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis.
“Kalau begitu, mulailah dengan tidak menyuruh dua mobil hitam parkir di depan gang yang sempit ini.”
Minggu berikutnya, Pak Danu selalu datang menggunakan taksi umum.
Setelah kondisi fisiknya pulih total, Nisa kembali menggeluti usaha menjahitnya.
Nisa tidak lagi sekadar menerima perbaikan pakaian bekas.
Dengan modal keterampilannya, Nisa mulai merancang pakaian ibu hamil yang longgar, elegan, dan menggunakan bahan yang ramah di kulit.
Nisa menjualnya secara daring dan menerima pesanan dari tetangga sekitar.
Sebuah toko pakaian di pasar Mayestik tertarik dan memesan 10 potong baju buatan Nisa.
Melihat perkembangan usaha putrinya, Pak Danu sempat menawarkan untuk membelikan sebuah ruko 3 lantai di kawasan elit.
Nisa bahkan tidak perlu menjawab.
Pak Danu langsung menarik ucapannya sendiri.
“Maaf… itu kebiasaan lama saya.”
“Bapak mengalami kemajuan,” sahut Nisa sambil tersenyum tipis.
“Jadi, apa yang bisa saya bantu?” tanya Pak Danu.
Nisa memikirkannya selama beberapa hari.
Nisa akhirnya menyetujui pinjaman modal usaha kecil dari Pak Danu, lengkap dengan surat perjanjian tertulis di atas meterai, bunga komersial standar, dan jadwal angsuran bulanan yang disusun oleh pengacaranya.
4 bulan kemudian, sebuah bengkel jahit kecil resmi dibuka di daerah Kebayoran Baru, tidak jauh dari pasar.
Nisa menamakannya “Toko Jahit Alma & Maya”.
Bu Maya sempat memprotes karena namanya dipasang di papan nama toko.
Namun Bu Maya menghabiskan waktu 2 jam membersihkan kaca depan toko itu agar terlihat berkilau dari jalan raya.
Toko itu tidak langsung berkembang menjadi industri raksasa, tetapi toko itu memberikan kemandirian penuh bagi Nisa.
Nisa mempekerjakan 3 orang wanita dari lingkungannya, 2 di antaranya adalah ibu tunggal yang membutuhkan penghasilan tetap.
Di sudut ruangan toko, dipasang sebuah boks bayi tempat Alma bermain, lengkap dengan teko listrik dan perlengkapan menyusui.
Sementara itu, persidangan perceraian Nisa dan Reno dilanjutkan di bawah kepemimpinan hakim ketua yang baru.
Pak Danu tidak pernah menghadiri atau mencampuri persidangan tersebut.
Putusan final Pengadilan Agama menetapkan hak asuh penuh Alma jatuh ke tangan Nisa.
Reno diwajibkan memberikan nafkah anak setiap bulan dengan nominal yang ditetapkan hakim, serta mendapatkan hak kunjungan terbatas dengan pengawasan.
Kasus pemalsuan dokumen dokumen medis klinik 29 tahun lalu tetap diproses oleh Polda Metro Jaya secara terpisah.
Saat keluar dari gedung pengadilan setelah sidang putusan cerai dibacakan, Reno menghadang langkah Nisa di koridor utama.
“Nisa, tolong beri aku kesempatan kedua. Aku benar-benar menyesal,” panggil Reno.
Nisa menggendong Alma yang sudah berusia 6 bulan dalam pelukannya.
Nisa menatap Reno tanpa ada lagi rasa benci atau dendam di matanya.
“Perbaikilah hidupmu, Reno. Tapi bukan tugas saya lagi untuk mengajarimu cara menjadi pria yang bertanggung jawab.”
Nisa melangkah melawati Reno tanpa menoleh lagi.
Di luar gedung, beberapa wartawan mencoba mendekat.
Pak Danu yang berdiri dekat mobil taksi menahan diri untuk tidak maju mendahului Nisa.
Pak Danu menatap Nisa untuk meminta persetujuan.
Nisa mengangguk pelan.
Pak Danu hanya berbicara singkat kepada media, meminta agar privasi putrinya dihormati.
Nisa menambahkan satu kalimat tegas di depan kamera wartawan:
“Penindasan yang saya alami di ruang sidang beberapa bulan lalu adalah tindakan salah, tidak peduli siapa nama ayah saya.”
Pernyataan itu menjadi kutipan utama di berbagai media nasional besok harinya.
Malam itu, mereka tidak mengadakan perayaan di restoran mewah.
Bu Maya memasak nasi uduk, ayam goreng, dan sambal terasi di rumah kontrakan.
Pak Danu tiba tepat waktu dan menawarkan diri untuk membantu di dapur.
Bu Maya memberikan sepotong kain lap dan menunjuk ke arah tempat cuci piring.
“Cuci semua piring kotor itu, Pak.”
“Saya punya mesin pencuci piring otomatis di rumah,” kata Pak Danu polos.
“Di sini mesinnya adalah tangan Bapak,” balas Bu Maya tegas.
Nisa tertawa lepas mendengar percakapan itu.
Alma yang duduk di kursi khususnya ikut bertepuk tangan melihat ibunya tertawa.
Perlahan-lahan, panggilan “Pak Danu” mulai bergeser.
Proses itu memakan waktu hampir 1 tahun penuh.
Momen itu terjadi saat peringatan 1 tahun dibukanya toko jahit Nisa.
Nisa menggelar syukuran kecil di depan tokonga dengan memasang selasar peneduh.
Tetangga, pelanggan, dan para pekerja berkumpul menikmati tumpeng.
Alma, yang baru belajar berjalan, melepaskan pegangan tangan Bu Maya dan melangkah perlahan menuju tempat Pak Danu berdiri.
Pak Danu berlutut dan membuka kedua tangannya, tetapi dia tidak memaksa mendekat.
Dia menunggu.
Alma melangkah dengan kaki kecilnya, menabrak lutut Pak Danu, lalu tertawa sambil memegang celana kainnya.
Pak Danu merengkuh cucunya dengan lembut, matanya berkaca-kaca.
Nisa memperhatikan pemandangan itu dari pintu toko.
Nisa melihat seorang pria yang telah kehilangan 29 tahun masa tumbuh kembang anaknya, seorang pria yang pernah mencoba menguasai keadaan dengan kekuasaan, dan akhirnya belajar bahwa kasih sayang tidak bisa dipaksakan.
Nisa melangkah mendekati mereka.
“Ayah.”
Pak Danu mendongak.
Dia tidak langsung menjawab, seolah takut suara keras akan menghapus kata yang baru saja didengarnya.
Dengan suara serak, Pak Danu menjawab pelan.
“Ayah di sini, Nisa.”
Nisa tersenyum, dan untuk pertama kalinya, rasa hangat yang utuh memenuhi dadanya.
Masa lalu tidak bisa dihapus: insiden penamparan, dokumen palsu, pernikahan yang hancur, dan tahun-tahun yang hilang tetap menjadi bagian dari sejarah mereka.
Namun masa lalu tidak lagi mengendalikan masa depan mereka.
Malam itu, setelah seluruh tamu pulang, Pak Danu menyelesaikan cucian piring di belakang toko, Bu Maya merapikan sisa tumpeng, dan Alma tertidur lelap dalam dekapan Nisa.
Keluarga itu tidak sempurna.
Namun mereka adalah keluarga yang belajar untuk saling menghormati tanpa menggunakan kekuasaan atas nama cinta.
