Demi membela kehormatan ibu kandungku yang berjuang menjual nasi uduk, aku nekat menggagalkan pernikahan mewah seharga dua miliar rupiah tepat setelah calon ibu mertua sombong memindahkan tempat duduk ibuku ke pojok dapur dan menampar wajahku di depan ruang rias

Demi membela kehormatan ibu kandungku yang berjuang menjual nasi uduk, aku nekat menggagalkan pernikahan mewah seharga dua miliar rupiah tepat setelah calon ibu mertua sombong memindahkan tempat duduk ibuku ke pojok dapur dan menampar wajahku di depan ruang rias

BAGIAN 1

Lima belas menit sebelum gema suara akad nikah berkumandang di hotel bintang lima kawasan Jakarta Selatan, pintu ruang rias diketuk kasar dari luar. Sepupuku, Indah, menerobos masuk dengan napas terengah-engah. Tangannya menggenggam ponsel dengan buku-buku jari yang memutih. Wajah cantiknya yang biasanya tenang kini pucat pasi, memancarkan kecemasan luar biasa.

“Putri, kamu harus lihat ini sekarang! Kamu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi!” seru Indah tanpa basa-basi, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.

Aku yang sedang merapikan riasan tiara di depan cermin besar langsung menghentikan gerakan jemariku. Batinku berdesir tidak tenang. “Ada apa, Indah? Kenapa kamu panik begitu? Jangan bikin aku tegang, sebentar lagi Pak Penghulu sampai.”

Tanpa menjawab sekerat kata pun, Indah menyodorkan layar ponselnya tepat di depan mataku. Layar itu menampilkan dua foto beruntun yang baru saja diambil beberapa menit lalu di area lobi dan ruang tunggu keluarga.

Pada foto pertama, tampak calon ibu mertuaku, Ibu Haryati. Wanita itu berdiri anggun mengumbar senyum jumawa. Dia mengenakan kebaya sutra eksklusif berwarna biru tua dengan balutan bordir benang emas yang sangat rumit. Mewah, berkelas, dan amat sangat elegan. Foto itu adalah wujud nyata dari kebaya kustom seharga puluhan juta Rupiah yang secara khusus kupesan langsung dari butik ternama milik Bu Yuni di daerah Kemang. Sebuah gaun yang memang kurancang untuk menghormati orang tua di hari bahagiaku.

Namun, ketika mataku bergeser pada foto kedua, jantungku seolah berhenti berdetak saat itu juga.

Darahku mendadak berdesir dingin. Tubuhku yang terbalut gaun pengantin putih langsung menegak kaku.

Di foto kedua itu, terlihat ibuku tercinta—Ibu Siti. Beliau berdiri menyendiri di sudut ruangan yang sepi. Ibuku tidak memakai kebaya sutra biru mewah yang sudah kusiapkan sejak tiga bulan lalu. Sebagai gantinya, ibu justru mengenakan kebaya katun murahan yang berbahan tipis, berkerut, dengan warna krem pucat yang sudah pudar. Kebaya itu tampak begitu kusam dan sangat tidak berseri, persis seperti pakaian obralan puluhan ribu Rupiah yang biasa dijajakan di pasar kaget.

“Astaga, Ya Allah… Kenapa Ibu pakai baju itu?” bisikku lirih, tenggorokanku mendadak terasa menyempit dan menyakitkan. “Kenapa Ibu tidak pakai kebaya sutra yang sudah aku belikan? Ke mana baju Ibu yang sebenarnya?”

Indah menatapku dengan tatapan berang campur kasihan. “Loh, Putri? Bukannya baju itu yang memang kamu kirimkan ke rumah Ibumu kemarin lusa? Ibumu blak-blakan bilang kalau Rizky yang mengantarkan paket baju itu dan bilang kalau itu pesanan khusus darimu!”

“Demi Tuhan, aku tidak pernah membelikan baju murahan itu untuk Ibuku!” tegasku dengan nada tinggi, menahan amarah yang mulai membakar dada. “Aku ini anak kandungnya! Untuk pakaian sehari-hari saja selalu kubelikan bahan terbaik dari gerai ternama di mal. Mana mungkin di hari pernikahan bahagiaku sendiri, aku tega menyuruh ibu kandungku memakai pakaian kusam seperti itu?!”

“Tapi kata Tante Siti, Mas Rizky sendiri yang menyerahkan kotak itu!” tekan Indah.

Aroma kebusukan mendadak tercium tajam. Otakku berputar cepat. Ada permainan kotor yang sedang berlangsung di belakang punggungku. Tanpa membuang waktu, aku langsung menyambar ponselku dan memutar nomor telepon Bu Yuni, pemilik butik langganan kelas atas tempatku memesan seluruh busana keluarga.

Begitu panggilan terhubung, suara Bu Yuni terdengar penuh keraguan di ujung telepon. “Halo, Mbak Putri? Ada apa? Acara akadnya belum dimulai, kan?”

“Bu Yuni, tolong jawab jujur!” potongku cepat tanpa tatanan kata yang formal. “Kenapa kebaya sutra biru tua milik Ibu Siti tidak dikirimkan? Kenapa justru kebaya murahan yang sampai ke tangan ibu saya?!”

Terjadi jeda hening yang cukup panjang di seberang sana. Suara helaan napas Bu Yuni terdengar sangat berat. “Mbak Putri… bukannya Mbak Putri sendiri yang membatalkan pesanan kebaya sutra untuk Ibu Siti seminggu yang lalu? Mbak mengirim pesan kalau Ibu Siti tidak mau pakai baju mahal dan memilih jahit baju sendiri di kampung?”

Bagaikan disambar petir di siang bolong, mataku membelalak sempurna. “Saya membatalkan? Kapan saya pernah membatalkan pesanan Ibu saya sendiri?!”

“Tapi, Mbak… Mas Rizky, calon suami Mbak Putri, yang datang langsung ke butik saya. Beliau membawa bukti surat kuasa dan email dari akun bersama kalian. Mas Rizky bilang Mbak Putri sangat sibuk mengurus urusan kantor, jadi beliau yang diminta mengurus pembatalan itu sekaligus meminta pengembalian dana tunai!”

Dada ini bergemuruh hebat. Rasanya ada batu besar yang dihantamkan tepat di dadaku. “Rizky yang melakukannya? Dia mengambil uang refund-nya secara tunai?”

“Iya, Mbak Putri. Semua bukti tanda terima uang dan salinan email pembatalan ada di sistem kami. Kalau Mbak Putri tidak percaya, detik ini juga saya kirimkan seluruh bukti dokumennya ke WhatsApp Mbak Putri,” tutur Bu Yuni penuh rasa cemas.

Hanya dalam hitungan detik, belasan berkas digital masuk ke ponselku. Ketika kubuka dokumen tersebut, tampak jelas tanda tangan Rizky di atas meterai, lengkap dengan bukti transfer dan penerimaan uang tunai senilai lima puluh juta Rupiah dari pembatalan kebaya ibuku!

Belum sempat rasa syok ini mereda, pintu ruang rias kembali terdorong terbuka. Rizky—calon suamiku—masuk dengan senyum mengembang tanpa dosa. Pria itu tampak gagah mengenakan beskap pengantin krem berhiaskan benang perak, pakaian mewah yang seluruhnya kubayar menggunakan kartu kredit pribaduku.

“Sayang, kok kamu belum selesai berdandan? Penghulu dan para tamu VIP sudah berkumpul di ballroom utama. Ayo cepat, sebentar lagi acara dimulai,” ucap Rizky santai, seolah-olah tidak ada badai yang sedang mengintai.

Aku memutar tubuhku perlahan. Kuhadapkan layar ponsel yang menampilkan bukti penarikan uang dan surat pembatalan itu tepat di depan wajahnya. Seketika itu juga, warna kulit di wajah Rizky berubah pucat pasi. Bibirnya menyunggingkan kedutan panik.

“Kamu… kamu yang membatalkan kebaya Ibu secara diam-diam dan mengambil uangnya?” tanyaku dengan suara bergetar menahan amarah yang teramat dalam.

“Sayang, aku… aku bisa jelaskan semuanya. Tolong jangan emosi dulu, ini hari pernikahan kita—”

“Jelaskan sekarang, Rizky! Jangan berani-berani memanggilku sayang sebelum kamu menjawab pertanyaanku!” bentakku keras hingga membuat para penata rias di dalam ruangan terlonjak kaget dan saling pandang dengan cemas.

Rizky menyapu pandangan ke sekeliling, mencoba mencari celah untuk berkelit. Matanya bergerilya liar, ciri khas utama dari seorang pembohong ulung yang tersudut. “Mbak-mbak MUA, bisakah keluar sebentar? Kami butuh bicara pribadi,” pinta Rizky dengan nada panik.

Para penata rias segera mengemas peralatan mereka dan melangkah keluar ruangan tanpa berani bersuara. Begitu pintu tertutup rapat, aku melangkah maju menantang pandangan calon suamiku.

“Katakan alasannya, Rizky! Kamu tahu betul betapa berharganya kebaya itu untuk Ibuku! Aku bekerja membanting tulang hingga larut malam demi memastikan Ibuku tampil terhormat dan setara di hari pernikahanku! Kenapa kamu tega membatalkannya dan menukarnya dengan kain kusam seperti itu?!”

Rizky mengusap wajahnya kasar, lalu mendengkus pelan dengan nada meremehkan. “Kamu harusnya realistis, Putri! Ibumu itu cuma wanita kampung! Beliau tidak akan pernah terbiasa memakai kebaya mahal puluhan juta seperti itu! Ibumu itu orangnya terlalu sederhana, nanti justru beliau canggung dan bikin malu di depan relasi dosen serta pejabat yang diundang Mamaku!”

“Apa kamu bilang?!” Indah menyambar dari samping dengan napas memburu. “Kurang ajar kamu, Rizky! Kebaya Tante Siti itu dibeli pakai uang Putri sendiri! Bukan pakai uangmu atau uang Mamamu!”

“Kamu diam, Indah! Ini urusan rumah tanggaku dan Putri, jangan ikut campur!” gertak Rizky kasar.

“Lalu bagaimana dengan tempat duduk?!” sela Indah lagi tanpa rasa takut. “Putri, kamu tahu tidak kalau Tante Siti ditempatkan di mana oleh panitia?!”

Jantungku seperti terhentak keras. “Maksudmu apa, Indah? Ibu duduk di mana?”

Indah mengepal jari-jarinya. “Tante Siti dipindahkan dari meja utama keluarga! Ibumu ditarik ke pojok ruangan paling belakang, tepat di samping pintu keluar dan dekat area dapur katering!”

Rasa hantamannya jauh lebih dahsyat daripada berita pembatalan kebaya tadi. Dadaku mendadak sesak, napas terasa amat berat.

Ibuku… Wanita suci yang rela bangun pukul tiga pagi setiap hari selama puluhan tahun, menanak nasi, mengukus tahu, menumbuk bumbu sambal, dan memikul dandang berat demi menjajakan nasi uduk di pinggir jalan… Semua itu beliau lakukan demi menyekolahkanku hingga jenjang sarjana, demi memastikanku bisa berdiri tegak dan terpandang seperti hari ini!

Sejak ayah berpulang ke Rahmatullah saat aku masih kelas dua SD, tidak ada warisan harta sepeser pun yang ditinggalkan. Yang ada hanyalah sebuah gerobak kayu tua pinjaman tetangga dan ketabahan luar biasa dari seorang ibu. Tangan wanita itu memar, kasar, dan selalu berbau bawang goreng. Namun dari tangan kasar itulah lahir seorang putri yang kini menjadi direktur utama di perusahaan swasta beromzet miliaran Rupiah!

Dan kini, di hari paling membahagiakan dalam hidupku, orang-orang yang tidak pernah menyumbang sebutir beras pun dalam hidup kami, tega membuang ibuku ke pojok dapur seolah-olah ibuku adalah noda hitam yang harus disembunyikan?!

“Panggilkan Koordinator Event Organizer sekarang juga!” perintahku pada Indah dengan nada dingin menusuk tulang.

“Putri, jangan bikin masalah! Jangan buat malu keluargaku di depan para tamu VIP!” cicit Rizky memohon.

“Kamu yang membuat malu dirimu sendiri, Rizky!”

Tak sampai dua menit, Mbak Dina—manajer Event Organizer—masuk dengan wajah pucat menyeramkan. Ia sudah bisa merasakan hawa dingin mencekat yang memenuhi ruang rias.

“Mbak Dina,” panggilku datar tanpa emosi. “Siapa yang menginstruksikan perubahan tata letak meja utama hingga ibu kandungku dipindahkan ke pojok dekat dapur?”

Mbak Dina menelan ludah dengan susah payah. Matanya melirik ragu ke arah Rizky. “Anu, Mbak Putri… Seminggu yang lalu Pak Rizky dan Ibunya, Ibu Haryati, datang langsung ke kantor kami. Beliau meminta perubahan denah. Pak Rizky bilang Mbak Putri sudah setuju untuk memindahkan Ibu Siti ke meja belakang.”

“Apa alasan yang mereka berikan padamu, Mbak Dina?” tanyaku menuntut kejujuran penuh.

Mbak Dina menghela napas pasrah. “Ibu Haryati bilang… Ibu Siti itu cuma penjual nasi uduk kampung yang tidak terbiasa dengan tata cara table manner kelas atas. Beliau bilang kalau Ibu Siti duduk di meja utama bersama pejabat dan kolega kampus, Ibu Siti akan membuat malu keluarga besar karena tidak mengerti bahasa Inggris dan tidak tahu etika busana. Ibu Haryati menuntut agar meja Ibu Siti ditaruh di dekat dapur agar tidak terlihat oleh kamera dokumentasi…”

Airmata kemarahan hampir menetes dari sudut mataku, namun kupaksa bertahan. Tanganku mengepal begitu erat hingga kuku-kukuku menancap ke dalam telapak tangan.

Sebelum aku sempat membalas ucapan Mbak Dina, pintu ruang rias mendadak terdorong lebar. Ibu Haryati—calon ibu mertuaku—masuk dengan langkah cepat. Perhiasan emas dan berlian menempel mencolok di leher serta jemarinya. Wajah cantiknya terpoles tata rias tebal dengan dagu tersangkut tinggi ke atas.

“Ada apa ini heboh-heboh?! Kenapa kamu belum siap juga, Putri?!” seru Ibu Haryati dengan nada memerintah yang sangat menjengkelkan. “Penghulu sudah duduk manis di depan! Tamu-tamu penting Papa dan Rizky sudah berkumpul! Kamu mau mempermalukan keluarga akademisi kami, ya?!”

Aku membalikkan badan, menatap lurus tepat di manik mata wanita paruh baya itu. “Tante Haryati… Kenapa Tante tega membatalkan kebaya sutra milik Ibu saya dan memindahkan meja duduknya ke pojok dapur?”

Ibu Haryati melipat kedua tangannya di dada. Senyum sinis merekah di bibirnya yang terpoles gincu merah menyala. “Ooh, cuma karena urusan sepele itu kamu menunda acara? Putri, tolong sadar diri! Meja utama itu diisi oleh para Rektor, Dekan, dan pejabat kementerian! Orang-orang terpandang dengan status sosial tinggi! Ibumu itu cuma tukang jual nasi uduk di depan sekolah dasar! Kaliber dan kastanya jelas beda jauh!”

“Tante!” potongku keras.

“Jangan memotong bicaraku!” bentak Ibu Haryati semakin menjadi-jadi. “Harusnya kamu berterima kasih! Saya melakukan ini demi kebaikan ibumu sendiri! Kalau ibumu yang kampungan itu duduk di meja VIP, dia cuma bakal jadi bahan tertawaan relasi-relasi saya! Dia itu tidak setara dengan kami!”

“Tidak setara?” bisikku dengan terkekeh dingin. “Tante bilang Ibu saya tidak setara? Lalu Tante tahu tidak… Kebaya sutra mewah yang sedang Tante pakai di tubuh Tante detik ini, dibeli menggunakan uang hasil keringat siapa?”

Mata Ibu Haryati melotot tajam. “Maksudmu apa bicaraku begitu?! Tentu saja ini dibeli oleh Rizky, anakku!”

“Salah besar!” gelakku kencang, penuh nada cemoohan. “Kebaya itu dibeli pakai kartu kredit pribadiku! Kebaya itu awalnya mau kubeli khusus untuk Ibu kandungku! Tapi karena aku ingin menghormatimu sebagai calon mertua, aku membelikannya juga untukmu! Tapi ternyata… Tante justru menusukku dari belakang dan membuang Ibu kandungku seperti sampah!”

“Kurang ajar kamu, Putri! Berani-beraninya kamu merendahkan saya di depan orang banyak!” jerit Ibu Haryati dengan mata memerah menahan murka.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kiriku! Benturan tangan Ibu Haryati begitu kuat hingga wajahku terlempar ke samping dan rasa panas membakar merayapi kulit pipiku!

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Keheningan mencekat langsung menguasai seluruh ruang rias. Indah menjerit histeris sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan, sementara Mbak Dina terperanjat mundur hingga menabrak dinding glass door. Rizky berdiri membeku bagaikan patung batu, memandangi ibunya yang masih mengacungkan tangan dengan napas memburu.

Pipi kiriku terasa panas membakar, menciptakan bekas luka merah memar yang berdenyut kencang. Namun, tidak ada satu tetes pun air mata yang jatuh dari pelupuk mataku. Sebaliknya, rasa sakit fisik itu justru membakar habis seluruh sisa rasa cium, cinta, dan penghormatan yang pernah kupunya untuk keluarga ini.

Aku menegakkan kepala perlahan. Kutatap wajah Ibu Haryati dengan tatapan dingin, sepi, dan sekeras batu karang.

“Kamu… kamu berani menamparku di hari pernikahanku sendiri?” bisikku, suaranya begitu tenang hingga terdengar sangat mengerikan.

“I-itu hukuman karena kamu sudah bersikap kurang ajar pada calon mertuamu sendiri!” seru Ibu Haryati dengan nada yang mulai goyah, mencoba menutupi rasa gugupnya melihat tatapan mataku yang tanpa rasa takut sedikit pun. “Lagipula, kamu itu cuma calon menantu! Jangan berani-berani pamer harta di depan saya!”

Rizky mencoba mendekat dan memegang lenganku. “Sayang… sudah, Sayang. Mama cuma emosi sebentar. Ayo kita rapikan riasanmu, kita langsung akad nikah sekarang ya? Anggap saja masalah ini sudah selesai—”

“Sentuh aku sekali lagi, Rizky,” potongku dengan nada serak mematikan, “dan aku pastikan tanganmu tidak akan pernah bisa mengetik di papan tulis kampus lagi.”

Rizky mendadak menarik tangannya kembali seolah-olah baru saja menyentuh besi panas yang membara.

Aku memutar tubuh, membelakangi mereka berdua. Jemariku dengan cepat melepas tiara mewah di atas kepala dan melemparkannya begitu saja ke atas meja rias. “Indah,” panggilku tegas.

“I-iya, Putri?” sahut Indah gagap.

“Bawa seluruh berkas keuangan, dokumen kepemilikan aset, dan panggil tim kuasa hukum serta sekuriti utama gedung ini ke ballroom sekarang juga.”

“Baik, Putri!” Indah langsung berlari keluar ruangan tanpa bertanya lagi.

“Putri! Kamu mau melakukan apa?!” jerit Rizky panik, langkah kakinya membuntutiku saat aku berjalan lebar meninggalkan ruang rias menuju lorong ballroom utama.

Ibu Haryati menyusul dari belakang dengan setengah berlari, gaun kebaya mewahnya berkibar-kibar. “Putri! Jangan bikin gila kamu ya! Ada Rektor dan pejabat dinas di dalam! Kalau kamu bikin kacau, kerjaya Rizky sebagai dosen bisa hancur!”

“Bukan cuma kerjayanya yang hancur, Tante,” bisikku tanpa menoleh sedikit pun. “Tapi seluruh hidup kalian berdua.”

Aku mendorong pintu ganda ballroom utama dengan kedua tanganku.

Seketika itu juga, pemandangan megah nan megah tersaji di hadapanku. Ratusan tamu undangan berpakaian mewah duduk rapi di atas kursi berlapis kain sutra. Bunga-bunga impor segar menghiasi setiap sudut pelaminan senilai miliaran Rupiah. Di meja akad depan, Pak Penghulu dan saksi-saksi sudah duduk bersila menunggu pengantin wanita.

Namun, perhatianku sama sekali tidak tertuju pada kemewahan dekorasi palsu itu.

Mataku bergerak menyapu sudut paling belakang ballroom. Di sana, tepat di samping tumpukan piring kotor dekat pintu dapur katering, tampak seorang wanita paruh baya duduk sendirian di atas kursi lipat besi yang dingin. Beliau menggenggam tas kain kusamnya erat-erat di atas pangkuan. Kebaya krem murahannya tampak begitu kontras dan menyayat hati di tengah gemerlap lampu kristal ballroom. Ibuku—Ibu Siti—duduk terasing sambil mengusap sudut matanya yang basah.

Rasa iba dan amarah bercampur menjadi gelombang destruktif di dalam dadaku.

Tanpa membuang waktu, aku melangkah mantap menyusuri karpet merah tengah ballroom. Langkah kakiku yang tegas menarik perhatian seluruh tamu undangan. Bisik-bisik keheranan mulai terdengar ketika mereka melihat pengantin wanita berjalan sendirian tanpa didampingi pengantin pria, dengan riasan tiara yang sudah terlepas dan luka merah memar yang mencolok di pipi kiri.

Aku terus berjalan melintasi panggung utama, melintasi meja akad, dan terus melangkah ke sudut paling belakang ruangan.

“Putri? Kamu mau ke mana, Nak?” bisik Pak Penghulu kebingungan.

Aku tidak memedulikannya. Aku tiba di pojok dapur, berlutut tepat di hadapan ibuku. Kutatap mata senja wanita yang telah melahirkanku itu.

“Ibu…” panggilku lembut, suaranya gemetar menahan haru.

Ibu Siti terperanjat kaget. Beliau buru-buru menyapu air matanya dan mencoba tersenyum, meski bibirnya bergetar hebat. “Putri? Kenapa kamu ke sini, Nak? Ayo kembali ke depan. Nanti calon mertuamu dan tamu-tamu penting marah kalau lihat kamu menyahut Ibu di sini… Ibu tidak apa-apa di sini, Nak. Dari sini Ibu tetap bisa melihat anak gadis Ibu yang paling cantik menikah…”

“Demi Allah, Ibu…” Pikiranku runtuh mendengarkan ketulusan wanita ini. Aku meraih jemari tangannya yang kasar dan penuh bekas luka bakar akibat percikan minyak goreng semasa membesarkanku. Kucium jemari itu dengan penuh khidmat. “Ibu tidak boleh duduk di sini. Tempat Ibu bukan di sini.”

Aku berdiri tegak, menggandeng erat tangan ibuku, dan menuntunnya berjalan bersama menuju panggung utama akad nikah.

Ibu Haryati dan Rizky yang baru sampai di depan panggung panik setengah mati melihat perbuatanku.

“Putri! Kamu gila, ya?! Mau menaruh tukang nasi uduk itu di panggung utama?!” jerit Ibu Haryati tanpa sadar menaikkan volumenya hingga gema suaranya memantul di seluruh ballroom.

Seluruh tamu undangan mendadak hening seketika. Ratusan pasang mata kini tertuju penuh ke arah panggung utama.

Aku tidak menjawab celotehan wanita itu. Aku meraih mikrofon wireless milik pembawa acara yang berdiri di samping meja akad, mematikan musik latar, lalu menyalakan mikrofon tersebut. Suaraku menggema nyaring menembus setiap sudut ruangan.

“Cek… 1, 2, 3. Selamat pagi untuk seluruh tamu undangan yang terhormat, Pak Penghulu, serta para saksi yang hadir di ruangan ini,” ucapku tenang, tegas, dan sangat bergema.

Rizky berlari menuju panggung mencoba merebut mikrofon dari tanganku. “Putri, matikan miknya! Jangan bikin malu!”

Sebelum Rizky sempat menyentuhku, empat orang petugas sekuriti berbadan tegap yang dipanggil oleh Indah langsung memegang kedua lengan Rizky dan menguncinya di tempat.

“Lepaskan saya! Saya ini calon pengantin prianya! Saya dosen!” teriak Rizky berontak.

Aku kembali mendekatkan mikrofon ke bibirku. “Saya ingin mengumumkan sebuah berita penting kepada Bapak dan Ibu sekalian. Hari ini, tepat detik ini juga… PERNIKAHAN INI RESMI SAYA BATALKAN!”

BOM!

Bagaikan ledakan bom atom, seluruh ballroom langsung pecah dalam gemuruh kehebohan! Para tamu undangan berteriak kaget, saling berbisik histeris, sementara Pak Penghulu terperanjat hingga berdiri dari tempat duduknya!

“Ya Allah! Kenapa dibatalkan?!” “Ada apa ini?! Pengantin wanitanya nekat sekali!” “Lihat itu, pipi pengantin wanitanya memar!”

Ibu Haryati berlari naik ke panggung dengan wajah merah padam karena malu dan murka. “Putri! Kamu wanita tidak berpendidikan! Kamu mau mempermalukan keluarga besar akademisi kami di depan relasi Rektor dan Pejabat?! Dasar anak tukang nasi uduk tidak tahu untung!”

Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang memancarkan dominasi penuh.

“Keluarga akademisi terpandang?” ulangku lewat mikrofon dengan nada menyindir yang sangat tajam. “Bapak dan Ibu sekalian, izinkan saya membocorkan sebuah fakta mengejutkan tentang ‘keluarga akademisi terpandang’ yang ada di atas panggung ini!”

Indah melangkah maju membawa laptop dan menghubungkan layarnya ke proyektor raksasa ballroom yang biasanya digunakan untuk memutar video pre-wedding. Dalam hitungan detik, layar raksasa itu menampilkan belasan dokumen audit keuangan dan salinan rekening bank!

“Pria di sebelah saya ini, Rizky,” tunjukku pada calon pengantin pria yang kini mukanya pucat bagaikan mayat, “mengaku sebagai dosen muda sukses dan mandiri. Namun tahukah Anda sekalian? Seluruh biaya hidup mewahnya, mobil Honda CR-V yang dikendarainya sehari-hari, hingga seluruh biaya acara pernikahan mewah dua miliar Rupiah hari ini… seratus persen dibiayai oleh perusahaan saya, PT Surya Mandiri!”

Gumam kekagetan kembali membahana di seluruh ruangan!

“Bukan hanya itu!” lanjutku dengan suara makin berwibawa. “Seminggu yang lalu, Rizky secara diam-diam memalsukan tanda tangan saya, menggunakan email bersama untuk membatalkan pesanan kebaya sutra mewah milik ibu kandung saya, lalu mengambil uang refund tunai senilai lima puluh juta Rupiah untuk melunasi utang judi online pribadinya!”

“Bohong! Itu fitnah!” jerit Rizky histeris, namun layar proyektor langsung menampilkan bukti pesan singkat, bukti rekap transfer, dan tanda terima tunai yang ditandatangani oleh Rizky sendiri di butik Kemang!

Para tamu undangan mulai bersorak mencemooh Rizky. Wajah para relasi dosen dan rektor yang hadir tampak sangat jijik melihat kenyataan tersebut.

“Dan untuk calon ibu mertua saya yang terhormat, Ibu Haryati…” mataku beralih menatap tajam wanita tua yang kini gemetaran di tempatnya. “Wanita yang dengan sombongnya menyebut ibu saya ‘cuma tukang nasi uduk kampungan yang tidak setara’… Tahukah Anda semua? Rumah mewah di kawasan Pondok Indah yang selama ini dipamerkannya ke semua tetangga dan relasi, sebenarnya adalah aset kontrakan atas nama perusahaan saya yang sewa bulanan selalu saya bayarkan!”

Ibu Haryati mendadak memegang dadanya, napasnya tersengal-sengal. “Putri… cukup, Putri… tolong matikan miknya…”

“Kenapa, Tante? Takut reputasi palsumu hancur?!” gertakku tanpa belas kasihan. “Tante tega memindahkan ibu kandungku ke pojok dapur katering hanya karena Tante malu dengan profesi penjual nasi uduk! Tante bahkan tega menampar pipiku di ruang rias hanya karena aku menuntut keadilan untuk ibuku!”

Aku menunjuk layar proyektor sekali lagi. Indah menampilkan dokumen lama yang bertanggal lima belas tahun lalu.

“Mari kita buka plot twist sesungguhnya hari ini!” serumu kencang. “Kenapa Ibu Haryati begitu membenci dan takut pada Ibu saya?!”

Seluruh ruangan mendadak hening total. Bahkan suara hembusan AC pun terdengar jelas.

“Lima belas tahun yang lalu,” jelasku dengan senyum penuh kemenangan, “almarhum suami Ibu Haryati mengalami kebangkrutan total akibat terlilit utang rentenir. Pria itu nyaris menyerah pada hidup dan kehilangan rumah tempat tinggal mereka. Dan siapakah sosok dermawan yang memberikan bantuan dana hibah tanpa bunga senilai ratusan juta Rupiah hingga keluarga ini bisa bertahan hidup dan Rizky bisa kuliah hingga jadi dosen?!”

Aku merangkul bahu ibuku dengan sangat bangga.

“Wanita itu adalah IBU SITI! Wanita sederhana yang Tante buang ke pojok dapur hari ini!”

JASS!

Bagaikan disambar petir di tengah malam, Ibu Haryati terhuyung mundur hingga terduduk kaku di lantai panggung! Wajahnya benar-benar kehilangan seluruh warna kehidupan!

Ibuku—Ibu Siti—selama puluhan tahun memutar uang hasil usaha kuliner nasi uduknya menjadi yayasan dana bantuan mikro untuk masyarakat kecil yang terlilit utang. Dan Ibu Haryati adalah salah satu penerima bantuan yang pernah berlutut mencium kaki ibuku lima belas tahun lalu demi memohon bantuan modal!

Ibu Haryati mengenali wajah Ibu Siti saat acara lamaran tiga bulan lalu. Namun, karena rasa gengsi yang luar biasa dan takut rahasia masa lalunya yang pernah menjadi pengutang miskin terbongkar di depan relasi sosialitanya, Ibu Haryati secara licik berencana menyembunyikan dan menghinakan Ibu Siti di pojok dapur agar tidak ada satu orang pun yang mengenali wanita dermawan itu!

“Astaga… Tante Haryati ternyata bekas penerima sedekah Ibu Siti?!” “Kurang ajar sekali! Sudah ditolong malah membalas dengan kotoran!” “Tidak tahu malu! Menantu kaya diberalaskan hutang, tapi malah menyiksa ibu kandungnya!”

Teriakan makian dan cemoohan dari ratusan tamu undangan bergema riuh memenuhi seluruh ballroom!

Ibu Haryati menangis histeris di atas lantai panggung. Rasa malu yang amat sangat meremukkan seluruh keangkuhannya. Rizky tersungkur di sebelah ibunya, memegang kakiku sambil menangis meraung-raung.

“Putri! Tolong aku, Putri! Jangan batalkan pernikahan ini! Aku mohon maafkan Mama! Aku mencintaimu, Putri!” tangis Rizky pecah, mengusapkan wajahnya di atas sepatu hak tinggiku.

Aku melangkah mundur dengan jijik, menarik kakiku dari genggamannya.

Di saat yang bersamaan, empat orang petugas kepolisian berseragam lengkap masuk ke dalam ballroom, didampingi oleh auditor keuangan perusahaanku.

“Sdr. Rizky,” ucap petugas polisi dengan suara berat dan tegas. “Anda kami tangkap atas dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen, penggelapan dana perusahaan senilai 800 juta Rupiah, dan penipuan terencana.”

Borgol besi berdenting dingin, mengunci kedua pergelangan tangan Rizky di hadapan ratusan tamu undangan dan relasi kampusnya! Rizky berteriak histeris saat diseret keluar dari ballroom oleh petugas kepolisian.

Ibu Haryati meraung-raung memanggil nama anaknya, lalu berlutut merayap menuju kaki ibuku.

“Mbak Siti… Mbak Siti tolong saya, Mbak! Tolong ampuni anak saya! Saya mengaku salah, Mbak Siti! Saya yang tidak tahu diri! Tolong cabut laporan polisi itu, Mbak!” tangis Ibu Haryati sesenggukan di atas lantai, memohon belas kasihan dari wanita yang sebelumnya ia buang ke dekat sampah dapur.

Ibuku menatap Ibu Haryati dengan tatapan penuh duka dan kekecewaan mendalam. Ibu Siti tidak memukul, tidak pula membalas caci maki. Beliau hanya menarik napas panjang dan berkata dengan sangat tenang:

“Haryati… Uang bisa dicari, harta dan jabatan bisa hilang dalam sekejap mata. Tapi rasa hormat seorang anak pada ibunya adalah hal suci yang tidak bisa kamu beli dengan kepalsuanmu. Maafkan kami, tapi hukum harus tetap berjalan.”

Ibuku membalikkan badan, memegang tanganku erat-erat. Aku melepaskan gaun pengantin mewah bagian luar yang terasa menyesakkan itu, menyisakannya menjadi busana kemeja kerja yang rapi. Kupasangkan selendang sutra putih milikku ke bahu Ibuku, memahkotai wanita teragung dalam hidupku itu di depan semua orang.

Kami berdua berjalan keluar dari ballroom gedung mewah itu dengan kepala tegak, meninggalkan reruntuhan kesombongan keluarga pencuri yang kini hancur berkeping-keping.

Tiga bulan kemudian, PT Surya Mandiri resmi membuka jaringan waralaba kuliner Nusantara terbesar di Indonesia dengan nama resmi “Dapur Ibu Siti”, yang seluruh keuntungan bersihnya disalurkan untuk panti asuhan dan pendidikan anak miskin.

Sementara Rizky mendekam di balik jeruji besi menjalani hukuman penjara dan Ibunya hidup terlunta-lunta di kontrakan sempit akibat seluruh asetnya disita negara, aku berdiri di samping Ibu tercinta menyadari satu kebenaran abadi dalam hidup:

Uang dan harta bisa dicari dalam sekejap, barang bisa diganti tanpa sisa, tetapi kehormatan seorang Ibu adalah takhta suci yang tak akan pernah boleh diusik oleh siapa pun!