DEMI MASA DEPAN ANAKNYA, SEORANG TKW BERTAHAN 12 TAHUN TAK PULANG—IA MENANGIS SAAT MELIHAT PUTRANYA BERSERAGAM PILOT DI PESAWAT YANG DITUMPANGINYA

Dimas tidak langsung memeluk ibunya.

Aneh memang.

Setelah dua belas tahun membayangkan momen itu, setelah entah berapa ribu malam ia tidur dengan keinginan sederhana untuk kembali mencium tangan ibunya, ketika perempuan itu benar-benar berdiri di hadapannya…

kakinya justru terasa berat.

Bu Sari yang bergerak lebih dulu.

 

 

 

Tangannya yang kasar terangkat perlahan, menyentuh pipi Dimas.

Ujung jarinya gemetar.

Ia mengusap rahang putranya seperti sedang memastikan bahwa laki-laki di depannya bukan gambar dari layar ponsel.

“Beneran kamu, Mas?”

Dimas mencoba tersenyum.

Gagal.

Bibirnya malah bergetar.

“Iya, Bu.”

“Ya Allah…”

Bu Sari menarik wajah anaknya mendekat.

Barulah Dimas memeluknya.

Tidak seperti pelukan di sinetron yang rapi dan indah.

Topi pilot yang dipegang Dimas hampir jatuh. Tas kecil Bu Sari tersenggol kursi. Bahu perempuan itu berguncang begitu keras sampai Dimas harus memegang punggungnya.

Bu Sari menangis tanpa suara beberapa detik.

Lalu pecah.

“Anakku…”

Hanya itu.

Tidak ada kalimat panjang.

Tidak ada nasihat.

Dua belas tahun ternyata bisa runtuh hanya oleh satu kata.

Anakku.

Dimas menutup mata.

Wangi ibunya masih hampir sama.

Ada aroma minyak kayu putih yang samar, bercampur parfum murah yang biasa digunakan Bu Sari sejak dulu.

Tiba-tiba ia kembali menjadi anak empat belas tahun.

Anak yang berdiri di Bandara Adisutjipto sambil berusaha tidak menangis karena malu dilihat orang.

Anak yang waktu itu berkata, “Ibu jangan lama-lama.”

Padahal…

dua belas tahun.

Selama itu ibunya tidak pulang.

“Maafin Dimas, Bu.”

Bu Sari langsung melepaskan pelukannya.

“Maaf apa?”

“Karena Ibu harus kerja selama itu.”

Wajah Bu Sari berubah.

Ia mencubit pelan lengan anaknya.

“Jangan ngomong begitu.”

“Tapi kalau bukan karena sekolah Dimas—”

“Sudah.”

Bu Sari mengusap pipinya sendiri.

“Aku ke sana karena keputusan Ibu. Kamu belajar karena keputusanmu. Jangan dibalik-balik sampai kamu merasa punya utang seumur hidup sama Ibu.”

Dimas terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi entah kenapa justru membuat dadanya semakin sesak.

Seorang pramugari yang berdiri beberapa langkah dari mereka ikut mengusap matanya.

Beberapa penumpang mulai bertepuk tangan.

Awalnya hanya satu dua orang.

Kemudian seluruh bagian kabin dipenuhi tepuk tangan.

Bu Sari malah panik.

“Lho, kok tepuk tangan?”

Beberapa orang tertawa kecil.

Seorang bapak dari kursi seberang berkata, “Selamat, Bu. Hebat anaknya.”

Bu Sari buru-buru menggeleng.

“Bukan anak saya yang hebat.”

Dimas menatapnya.

Bu Sari melanjutkan dengan polos,

“Dia cuma nurut kalau disuruh belajar.”

Tawa pecah di kabin.

Dimas sampai menunduk sambil tertawa di tengah air matanya.

Itulah Bu Sari.

Dua belas tahun tidak mengubah caranya berbicara.

Tidak suka dibuat terlalu dramatis.

Padahal beberapa detik sebelumnya hampir seluruh kabin ikut menangis.

Dimas kemudian mencium tangan ibunya.

Lama.

Bu Sari membelai kepalanya.

“Sudah, Mas. Sana kerja. Jangan gara-gara Ibu pesawatnya enggak jadi terbang.”

Tawa kembali terdengar.

Dimas mengangguk.

Namun sebelum kembali ke kokpit, ia berbisik,

“Nanti setelah mendarat, jangan pulang dulu.”

Bu Sari mengerutkan kening.

“Lho?”

“Tunggu Dimas.”

“Kenapa?”

Dimas hanya tersenyum.

“Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Nanti.”

Bu Sari ingin bertanya lagi, tetapi Dimas sudah berjalan kembali ke depan.

Ia memperhatikan punggung anaknya.

Seragam putih.

Empat garis di pundak.

Langkah tegap.

Sampai pintu kokpit tertutup, Bu Sari masih belum duduk.

Perempuan di sampingnya menyentuh lengannya.

“Bu…”

Bu Sari menoleh.

Perempuan itu tersenyum sambil menangis.

“Ibu berhasil.”

Entah kenapa kalimat itu justru membuat Bu Sari kembali terisak.

Ia duduk.

Pesawat mulai bergerak perlahan menuju landasan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bu Sari tidak takut naik pesawat.

Biasanya ketika pesawat mulai berakselerasi, tangannya akan mencengkeram sandaran.

Hari itu tidak.

Ia menempelkan kepala ke jendela.

Ketika pesawat meninggalkan tanah Arab Saudi, ia melihat kota yang selama dua belas tahun menjadi tempatnya mencari nafkah perlahan mengecil.

Gedung.

Jalan raya.

Lampu.

Gurun yang luas.

Semuanya menjauh.

Bu Sari mengembuskan napas panjang.

“Aku pulang…”

bisiknya.

Lalu sangat pelan, hampir tak terdengar,

“Benar-benar pulang.”

Ada perasaan aneh.

Senang, tentu.

Tetapi juga kosong.

Selama dua belas tahun hidupnya memiliki jadwal yang hampir sama.

Bangun.

Bekerja.

Mengirim uang.

Menelepon Dimas.

Tidur.

Mengulanginya lagi.

Besok.

Lusa.

Bulan berikutnya.

Tahun berikutnya.

Sekarang semua itu selesai.

Lantas setelah pulang…

ia akan menjadi siapa?

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul begitu saja.

Bu Sari tidak menceritakannya kepada siapa pun.

Ia hanya memandang awan.

Beberapa jam kemudian, ketika lampu kabin diredupkan, sebagian besar penumpang tidur.

Bu Sari tidak bisa.

Ia membuka tas kecilnya.

Di dalamnya ada sebuah dompet cokelat tua.

Dari dompet itu ia mengeluarkan foto yang pinggirannya sudah kusut.

Foto Dimas ketika masih SMP.

Seragam putih biru.

Rambut sedikit terlalu panjang.

Senyum canggung.

Bu Sari membandingkan foto itu dengan bayangan laki-laki berseragam pilot yang tadi berdiri di hadapannya.

Ia tersenyum sendiri.

“Kok cepat sekali besarnya…”

Perempuan di sebelahnya sudah tidur.

Bu Sari memasukkan kembali foto itu.

Tetapi ketika hendak menutup dompet…

ia melihat sesuatu.

Sebuah amplop kecil.

Tulisan di depannya sudah agak pudar.

Untuk Dimas.

Bu Sari menatap amplop itu cukup lama.

Surat tersebut ditulis sembilan tahun lalu.

Saat itu Dimas baru masuk SMA.

Bu Sari pernah sakit cukup parah di Jeddah.

Demam tinggi selama beberapa hari.

Ia takut.

Bukan takut mati.

Yang ia takutkan adalah meninggal sebelum melihat Dimas berhasil.

Malam itu ia menulis surat.

Kalau terjadi sesuatu kepadanya, seorang teman diminta mengirimkannya ke Indonesia.

Namun Bu Sari sembuh.

Surat tersebut tidak pernah dikirim.

Ia menyimpannya sampai lupa.

Tangannya hendak membuka amplop.

Berhenti.

“Nanti saja.”

Ia memasukkannya kembali.

Entah kenapa ia merasa Dimas perlu membaca surat itu.

Bukan malam ini.

Suatu hari.

Ketika waktunya tepat.

Pesawat terus melaju menembus malam.

Beberapa jam sebelum tiba, Bu Sari akhirnya tertidur.

Dan ketika suara Dimas kembali terdengar dari pengeras suara mengumumkan bahwa mereka akan segera mendarat di Jakarta, perempuan itu terbangun dengan wajah sedikit linglung.

Kemudian ia tersenyum.

Anaknya.

Suara anaknya yang membawa pesawat ini pulang.

Roda menyentuh landasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Bu Sari spontan mengucap,

“Alhamdulillah.”

Tepuk tangan terdengar dari beberapa bagian kabin.

Pesawat perlahan berhenti.

Penumpang mulai berdiri mengambil barang.

Bu Sari juga hendak mengambil tasnya ketika seorang pramugari mendekat.

“Bu Sari?”

“Iya?”

“Kapten Dimas berpesan agar Ibu menunggu sebentar.”

Bu Sari langsung curiga.

“Anak itu mau bikin apa lagi?”

Pramugari tertawa.

“Saya juga tidak tahu, Bu.”

Padahal jelas sekali ekspresinya menunjukkan bahwa ia tahu.

Satu demi satu penumpang turun.

Banyak yang berhenti untuk menjabat tangan Bu Sari.

Ada seorang perempuan yang berkata bahwa suaminya juga bekerja di luar negeri.

Ada yang meminta foto.

Ada pula seorang bapak yang hanya berkata,

“Semoga sehat terus, Bu.”

Kabin akhirnya sepi.

Bu Sari duduk sendirian.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Dimas belum muncul.

“Mas?”

Tidak ada jawaban.

Bu Sari berdiri.

Lalu terdengar suara langkah.

Dimas muncul dari depan, kali ini membawa sebuah tas.

“Ayo, Bu.”

“Ke mana?”

“Turun.”

“Ya memang mau turun.”

Dimas tertawa.

Mereka berjalan keluar pesawat.

Begitu memasuki area kedatangan…

Bu Sari berhenti.

Ada sekitar belasan orang berdiri di sana.

Awalnya ia tidak mengenali mereka.

Kemudian seorang perempuan tua berkerudung hijau maju.

“Sari?”

Bu Sari membeku.

“Mbak…?”

Perempuan itu langsung memeluknya.

Kakaknya.

Mbak Sri.

Sudah dua belas tahun mereka tidak bertemu.

Di belakangnya ada adik, keponakan, sepupu, beberapa tetangga dari Yogyakarta.

Ada yang sudah menikah.

Ada anak-anak kecil yang bahkan belum lahir ketika Bu Sari berangkat.

Tangis kembali pecah.

Tetapi ada satu orang yang tidak terlihat.

Bu Sari mencari-cari.

“Dimas.”

“Iya?”

“Mbah?”

Senyum Dimas menghilang sedikit.

Bu Sari langsung memahami.

Ibunya sendiri meninggal tiga tahun sebelumnya.

Saat itu Bu Sari tidak pulang.

Bukan karena tidak ingin.

Dokumen pekerjaannya sedang bermasalah dan perjalanan mendadak sulit dilakukan.

Ia hanya mengikuti pemakaman lewat panggilan video.

Luka itu rupanya belum benar-benar sembuh.

Dimas menggenggam tangannya.

“Nanti kita ke makam Mbah.”

Bu Sari mengangguk.

“Besok.”

“Terserah Ibu.”

“Besok pagi.”

Dimas tersenyum.

“Iya.”

Mereka kemudian berjalan menuju area parkir.

Bu Sari mengira perjalanan akan langsung dilanjutkan menuju Yogyakarta.

Ternyata Dimas berhenti di depan sebuah mobil.

“Bentar.”

Ia mengambil sesuatu dari bagasi.

Sebuah kotak kecil.

Bu Sari mengernyit.

“Apa lagi?”

Dimas menyerahkannya.

“Buka.”

“Kalau isinya mahal, Ibu marah.”

“Buka dulu.”

Bu Sari membuka kotak.

Di dalamnya ada sebuah kunci.

Ia memandang Dimas.

“Kunci apa?”

“Kunci rumah.”

“Rumah siapa?”

Dimas tidak langsung menjawab.

Bu Sari mulai merasa aneh.

“Mas.”

“Rumah kita.”

Bu Sari tertawa kecil.

“Iya, rumah kita kan memang ada di Yogya.”

“Bukan rumah lama.”

Senyumnya hilang.

Dimas mengeluarkan ponsel.

Ia menunjukkan foto sebuah rumah sederhana.

Tidak besar.

Dinding putih.

Atap cokelat.

Ada teras kecil.

Di samping rumah terlihat halaman dengan pohon mangga muda.

Bu Sari menatap foto itu.

“Lho…”

“Dimas beli tahun lalu.”

“Untuk apa?”

“Untuk Ibu.”

Bu Sari langsung mengembalikan kunci itu.

“Enggak.”

Dimas sudah menduga.

“Bu—”

“Enggak. Mahal.”

“Dengar dulu.”

“Kamu baru kerja sudah beli rumah. Nabung sana.”

“Bu.”

“Besok kalau nikah bagaimana?”

Dimas memegang kedua bahu ibunya.

“Ibu dengar dulu.”

Bu Sari diam.

“Selama ini Ibu selalu bilang rumah kita bocor kalau hujan.”

“Itu tinggal diperbaiki.”

“Dan kamar mandi di luar.”

“Ya tinggal jalan.”

“Dan lantainya retak.”

“Bisa ditambal.”

Dimas tertawa putus asa.

Ibunya memang begitu.

Selalu ada jawaban untuk menghindari sesuatu yang menurutnya terlalu mahal.

Akhirnya Dimas berkata,

“Bu, sekali ini saja biarkan Dimas yang memilih.”

Bu Sari terdiam.

“Selama dua belas tahun Ibu memilih Dimas.”

Kalimat berikutnya keluar lebih pelan.

“Sekarang giliran Dimas memilih Ibu.”

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada musik.

Tidak ada orang asing yang merekam.

Hanya suara kendaraan di area parkir bandara.

Dan justru di situ Bu Sari menangis lebih keras daripada ketika bertemu Dimas di pesawat.

Ia memukul pelan dada anaknya.

“Buat apa beli rumah…”

“Supaya Ibu enggak perlu mikirin genteng bocor lagi.”

“Uangnya—”

“Uang Dimas.”

“Harusnya ditabung.”

“Sudah.”

“Untuk nikah.”

“Belum ada calonnya.”

Bu Sari berhenti menangis.

“Hah?”

Dimas langsung sadar ia salah bicara.

Keluarga di belakang mereka tertawa.

Bu Sari menatap anaknya tajam.

“Umur dua puluh enam belum punya calon?”

“Bu, kita baru ketemu setelah dua belas tahun.”

“Ya terus?”

“Bisa enggak masalah jodoh dibahas minggu depan?”

Bu Sari akhirnya tertawa.

Tawa yang aneh karena bercampur air mata.

Malam itu mereka tidak langsung ke Yogyakarta.

Karena Bu Sari kelelahan, keluarga memutuskan menginap semalam di Jakarta.

Dimas menyewa beberapa kamar hotel sederhana dekat bandara.

Ketika semua orang sudah tidur, sekitar pukul dua dini hari, Dimas mendengar ketukan.

Tok.

Tok.

“Mas?”

Dimas membuka pintu.

Ibunya berdiri sambil membawa amplop.

“Belum tidur, Bu?”

“Enggak bisa.”

Bu Sari masuk.

Ia duduk di tepi tempat tidur.

Amplop itu diletakkan di meja.

“Apa itu?”

“Surat.”

“Buat siapa?”

“Kamu.”

Dimas hendak mengambilnya.

Bu Sari menahan.

“Bukan sekarang.”

“Lho?”

“Nanti.”

“Kapan?”

“Kalau Ibu sudah enggak ada.”

Dimas langsung mengernyit.

“Bu.”

“Ya semua orang akhirnya enggak ada.”

“Jangan ngomong begitu.”

Bu Sari tersenyum.

“Makanya. Jangan dibaca sekarang.”

Dimas memegang amplop itu.

“Kenapa diberikan sekarang?”

“Takut lupa menyimpannya.”

Dimas menatap tulisan tangan ibunya.

Untuk Dimas.

Ia tidak membukanya.

Amplop itu dimasukkan ke dalam tas.

Mereka diam cukup lama.

Kemudian Bu Sari bertanya sesuatu yang tidak pernah Dimas duga.

“Mas.”

“Hm?”

“Ibu sekarang harus ngapain?”

Dimas menoleh.

“Maksudnya?”

“Besok.”

Bu Sari memainkan ujung kerudungnya.

“Selama ini Ibu bangun selalu tahu harus ngapain. Masak. Bersih-bersih. Kerja.”

Ia tertawa kecil.

“Kalau pulang… Ibu mau ngapain?”

Dimas baru sadar.

Selama ini ia hanya memikirkan bagaimana membuat ibunya berhenti bekerja.

Ia tidak pernah memikirkan bahwa bekerja selama dua belas tahun telah menjadi seluruh ritme hidup perempuan itu.

“Ya istirahat.”

“Sebulan mungkin enak.”

“Setahun.”

“Bisa gila Ibu.”

Dimas tertawa.

Bu Sari ikut tersenyum.

Lalu Dimas bertanya,

“Dulu Ibu pengin apa?”

“Hah?”

“Sebelum punya Dimas. Sebelum kerja ke Arab Saudi. Ibu pernah punya keinginan apa?”

Bu Sari berpikir.

Lama.

“Sebenarnya…”

Ia malu-malu.

“Apa?”

“Ibu suka masak.”

Dimas mengangguk.

“Tahu.”

“Dulu pengin punya warung makan kecil.”

Dimas langsung duduk tegak.

“Warung?”

“Jangan mulai.”

“Mulai apa?”

“Matamu sudah kayak orang mau belanja.”

Dimas tertawa keras.

Tiga bulan kemudian…

di sebuah jalan kecil di Sleman, Yogyakarta, berdirilah warung sederhana.

Namanya bukan Warung Dimas.

Bukan pula Warung Kapten.

Bu Sari menolak semua nama itu.

Ia memilih:

Warung Bu Sari.

Tidak ada dekorasi mewah.

Meja kayu.

Kursi plastik.

Etalase sederhana.

Menu utamanya nasi pecel, sayur lodeh, ayam ungkep, telur balado, sambal terasi, dan teh hangat.

Hari pertama buka hanya dua belas pelanggan.

Hari kedua sembilan.

Hari ketiga…

lima.

Bu Sari mulai panik.

“Mas, ini bangkrut.”

Dimas yang sedang libur hanya tertawa.

“Baru tiga hari.”

“Tiga hari itu beras sudah habis berapa kilo.”

“Mau terkenal dalam tiga hari?”

“Ya enggak.”

“Terus?”

Bu Sari cemberut.

Tetapi minggu berikutnya seorang penumpang yang dulu berada di penerbangan Jeddah-Jakarta kebetulan mengenalinya.

“Bu Sari?”

Bu Sari bingung.

“Kita pernah ketemu?”

“Saya yang duduk beberapa baris dari Ibu waktu Kapten Dimas—”

“Oh!”

Orang itu kemudian mengunggah foto warung Bu Sari ke media sosial.

Tidak berlebihan.

Hanya cerita singkat.

Tentang seorang ibu yang bekerja bertahun-tahun di luar negeri.

Tentang anaknya.

Tentang warung kecil yang sekarang ia kelola.

Dua hari kemudian…

Bu Sari kewalahan.

“Mas!”

Dimas sedang mencuci piring.

“Apa?”

“Nasinya habis!”

“Masak lagi.”

“Ayamnya juga.”

“Pesan lagi.”

“Sambalnya tinggal sedikit.”

Dimas menatap ibunya.

“Katanya bangkrut?”

Bu Sari melotot.

“Jangan banyak ngomong. Iris bawang sana.”

Begitulah.

Tidak langsung kaya.

Tidak tiba-tiba punya restoran besar.

Kadang warung ramai.

Kadang sepi.

Pernah juga Bu Sari salah menghitung belanja dan rugi.

Pernah seorang pelanggan mengeluh karena sambalnya terlalu asin.

Bu Sari murung sampai malam.

Namun setiap pagi ia tetap membuka pintu warung.

Ada tujuan baru.

Ada kesibukan.

Ada kehidupan yang benar-benar miliknya.

Dan Dimas?

Ia terus terbang.

Jakarta.

Denpasar.

Makassar.

Medan.

Kadang penerbangan internasional.

Setiap pulang ke Yogyakarta, hal pertama yang dilakukannya bukan tidur.

Ia datang ke warung.

Masuk dari pintu belakang.

Mencari nasi.

“Bu, lapar.”

Dan Bu Sari selalu menjawab hal yang sama.

“Pilot kok makannya gratis terus.”

Namun piring Dimas selalu paling penuh.

Dua tahun berlalu.

Suatu sore, sebuah mobil berhenti di depan warung.

Dimas turun.

Tidak sendirian.

Di sampingnya ada seorang perempuan bernama Alya.

Bu Sari melihat dari balik etalase.

Matanya langsung menyipit.

Dimas pura-pura sibuk melihat menu.

“Bu.”

“Hm.”

“Kenalin.”

Bu Sari tidak menjawab.

Ia sedang memperhatikan Alya dari kepala sampai kaki.

Dimas mulai gugup.

“Ini Alya.”

Alya tersenyum dan mencium tangan Bu Sari.

“Assalamu’alaikum, Bu.”

“Wa’alaikumussalam.”

Hening.

Dimas berdeham.

“Bu…”

Bu Sari akhirnya bertanya,

“Sudah makan?”

Alya tersenyum.

“Belum, Bu.”

“Ya sudah. Duduk.”

Dimas mengembuskan napas lega.

Namun ketika ia hendak ikut duduk, Bu Sari menarik lengannya.

“Mas.”

“Apa?”

“Ini yang waktu itu katanya belum ada calon?”

Dimas memerah.

“Bu…”

“Berapa lama kenalnya?”

“Delapan bulan.”

Bu Sari menghitung dengan jari.

“Lho. Berarti setelah pulang dari Arab, Ibu baru tiga bulan di rumah, kamu sudah cari pacar?”

Alya yang mendengar dari meja tertawa.

Dimas menutup wajah.

Beberapa bulan kemudian, Dimas melamar Alya.

Setahun setelahnya mereka menikah.

Tidak terlalu mewah.

Bu Sari sendiri yang meminta.

“Uangnya jangan habis untuk pesta sehari.”

Namun ada satu kursi kosong di barisan keluarga.

Di kursi itu diletakkan foto almarhumah ibu Bu Sari.

Mbah Dimas.

Ketika akad selesai, Dimas tidak langsung mencari istrinya.

Ia berjalan kepada ibunya.

Mencium tangannya.

“Bu.”

Bu Sari tersenyum.

“Apa?”

“Makasih.”

“Untuk apa?”

Dimas ingin menjawab.

Untuk sekolah.

Untuk uang.

Untuk dua belas tahun.

Untuk mi instan yang dimakan supaya uang bisa dikirim.

Untuk tangan kasar.

Untuk rambut yang memutih.

Untuk kesempatan menjadi pilot.

Terlalu banyak.

Akhirnya ia tidak mengatakan semuanya.

Ia hanya memeluk ibunya.

Bu Sari menepuk punggungnya.

“Sudah. Istrimu ditinggal.”

Dimas tertawa.

Beberapa tahun kemudian, hidup mereka menjadi lebih ramai.

Dimas dan Alya memiliki seorang anak perempuan.

Namanya Kirana.

Dan ternyata…

Bu Sari yang dulu berkata ingin sibuk bekerja malah sering menutup warung lebih cepat hanya karena cucunya datang.

“Bu, katanya warung?”

“Besok juga bisa jualan.”

“Dulu kalau Dimas pulang, warung enggak pernah tutup.”

“Cucu beda.”

Dimas hanya bisa menggeleng.

Pada ulang tahun Bu Sari yang keenam puluh, Dimas memberinya hadiah tiket umrah.

Bu Sari menatap tiket itu lama.

Arab Saudi.

Negeri yang selama dua belas tahun menjadi tempat ia bekerja.

Ia akhirnya kembali.

Tetapi kali ini berbeda.

Tidak membawa kontrak kerja.

Tidak membawa seragam rumah tangga.

Tidak memikirkan berapa riyal yang harus dikirim bulan depan.

Ia pergi sebagai seorang ibu, seorang nenek, pemilik warung kecil…

dan perempuan yang akhirnya memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

Dalam perjalanan pulang, Bu Sari kembali duduk di dekat jendela.

Kebetulan sekali.

42A.

Ia tertawa ketika melihat nomor itu.

Pramugari yang mengantarnya bingung.

“Kenapa, Bu?”

“Enggak apa-apa.”

Bu Sari duduk.

Pesawat mulai bersiap.

Lalu suara kapten terdengar.

Bukan Dimas.

Bu Sari justru tersenyum.

Ia tidak membutuhkan kejutan kedua.

Yang pertama sudah cukup untuk seumur hidup.

Ia mengeluarkan ponsel.

Ada foto baru dari Alya.

Kirana sedang mengenakan topi pilot milik ayahnya yang kebesaran.

Di bawahnya ada pesan.

“Yangti, Kirana bilang nanti mau jadi pilot seperti Ayah.”

Bu Sari tertawa kecil.

Ia mengetik balasan.

“Boleh. Tapi sekolahnya bapaknya yang bayar.”

Alya mengirim emoji tertawa.

Beberapa menit kemudian Dimas menelepon.

“Bu.”

“Iya?”

“Sudah di pesawat?”

“Sudah.”

“Jangan lupa obat.”

“Sudah.”

“Air minum?”

“Ada.”

“Kalau pusing panggil pramugari.”

“Iya.”

“Pas sampai Jakarta kabari.”

Bu Sari tersenyum.

Dulu percakapan mereka terbalik.

Dulu dialah yang selalu mengingatkan Dimas makan.

Belajar.

Tidur.

Jangan pulang terlalu malam.

Sekarang anak itu yang cerewet.

“Mas.”

“Iya, Bu?”

“Sudah, jangan khawatir.”

Hening sebentar.

Lalu Bu Sari mengatakan kalimat yang selama dua belas tahun selalu ia ucapkan dari kamar kecilnya di Jeddah.

“Ibu sehat.”

Dimas diam.

Mungkin ia teringat masa lalu juga.

Namun kali ini Bu Sari tertawa.

“Yang ini beneran.”

Dimas ikut tertawa.

“Oke. Hati-hati, Bu.”

Telepon ditutup.

Bu Sari memandang keluar jendela.

Pesawat bergerak.

Ia teringat dirinya bertahun-tahun lalu.

Perempuan yang pergi membawa koper murah.

Takut.

Bingung.

Tidak tahu bahasa Arab.

Tidak tahu bagaimana nasibnya nanti.

Ia hanya tahu satu hal.

Anaknya harus sekolah.

Kalau seseorang pada waktu itu mengatakan bahwa dua belas tahun kemudian anak tersebut akan menerbangkan pesawat yang membawanya pulang…

Bu Sari mungkin akan tertawa.

Terlalu indah.

Seperti cerita buatan orang.

Tetapi hidup kadang memang aneh.

Tidak semua pengorbanan menghasilkan sesuatu yang kita bayangkan.

Tidak semua air mata mendapat balasan.

Bu Sari tahu itu.

Ia melihat banyak sesama pekerja migran yang berjuang sama kerasnya tetapi hidup tetap sulit.

Karena itulah ia tidak pernah merasa dirinya lebih hebat.

Ia hanya merasa beruntung.

Sangat beruntung.

Pesawat mulai meninggalkan landasan.

Rumah-rumah mengecil.

Jalan berubah menjadi garis.

Awan perlahan memenuhi jendela.

Bu Sari menyandarkan kepala.

Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Surat.

Surat yang dulu diberikan kepada Dimas.

Belum pernah dibahas lagi.

Setelah mendarat nanti, ia berniat menanyakannya.

Tetapi Bu Sari tidak tahu satu hal.

Dimas masih menyimpan amplop itu.

Utuh.

Tidak pernah dibuka.

Bahkan setelah menikah.

Bahkan setelah memiliki anak.

Pada bagian belakang amplop, bertahun-tahun kemudian Dimas menambahkan tulisan kecil dengan tangannya sendiri:

“Aku tidak akan membukanya selama Ibu masih bisa menceritakan semuanya langsung kepadaku.”

Dan amplop itu tetap berada di laci meja kerjanya.

Tahun demi tahun.

Sementara Bu Sari masih sibuk mengomel kalau Dimas lupa makan.

Masih membuka warung sesuka hati.

Masih memanjakan Kirana.

Masih menawar harga cabai di pasar.

Masih menelepon anaknya hanya untuk bertanya,

“Mas, pulang kapan?”

Dan setiap kali jadwal memungkinkan, Dimas selalu menjawab,

“Sebentar lagi, Bu.”

Dua kata sederhana.

Tetapi bagi Bu Sari, dua kata itu memiliki arti yang tidak pernah kecil.

Sebab dahulu…

dialah yang pergi.

Dan anaknya menunggu dua belas tahun.

Sekarang, setiap kali Dimas pergi menerbangkan pesawat ke kota atau negara lain, Bu Sari tahu bahwa kali ini perpisahan mereka tidak akan sepanjang itu lagi.

Di rumah kecil di Yogyakarta, selalu ada lampu teras yang sengaja ia nyalakan.

Ada nasi hangat.

Ada sambal.

Ada seorang ibu yang menunggu.

Dan suatu malam, jauh setelah warung tutup, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Pintu terbuka.

Dimas turun dengan koper pilotnya.

Lampu teras masih menyala.

Ia membuka pintu perlahan.

Dari dalam terdengar suara Bu Sari,

“Mas?”

Dimas tersenyum.

“Iya, Bu.”

“Pulang?”

“Iya.”

Tidak ada penumpang yang bertepuk tangan.

Tidak ada kamera.

Tidak ada pengumuman dari kokpit.

Hanya suara sandal Bu Sari yang tergesa-gesa dari dapur.

Dan entah kenapa…

bagi Dimas, kepulangan kecil seperti itulah yang akhirnya terasa paling mewah.

Karena sekarang ia tahu satu hal yang dulu tidak ia miliki selama dua belas tahun.

Setiap kali pergi…

ia masih punya tempat untuk pulang.

Dan di tempat itu, ibunya menunggu.