Tiga mobil hitam itu berhenti hampir bersamaan di tepi lapangan.
Suara ban yang bergesekan dengan aspal membuat kerumunan mahasiswa spontan menoleh.
Pintu mobil pertama terbuka.
Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun turun dengan langkah cepat. Ia mengenakan setelan formal sederhana berwarna gelap, rambutnya tersisir rapi, dan wajahnya yang biasanya tenang kini tampak membeku menahan amarah.
Beberapa dosen senior yang baru tiba untuk menghadiri pelantikan langsung mengenalinya.
“Itu… Ibu Ratna Indrawan.”
Bisikan tersebut menyebar cepat.
Ratna Indrawan bukan sekadar tamu undangan. Ia adalah mantan hakim yang kini duduk sebagai salah satu anggota Dewan Wali Amanat Universitas Nusantara Jaya.
Dan dia adalah ibu kandung Nadia.
Ratna berhenti beberapa meter dari kerumunan.
Tatapannya jatuh kepada putrinya.

Gaun putih Nadia telah robek di bahu dan dipenuhi cat merah. Lengannya lecet. Dua petugas keamanan masih mencengkeram kedua tangannya, sementara Sisca berdiri di depan Nadia dengan ekspresi puas.
“Berlutut!” Sisca kembali membentak. “Kalau kamu minta maaf sekarang, mungkin saya masih bisa memaafkanmu.”
“LEPASKAN DIA!”
Suara Ratna menggema di seluruh lapangan.
Budi menoleh dan wajahnya seketika pucat.
Darmawan juga membeku.
“Ibu Ratna?”
Ratna berjalan mendekat tanpa menjawab. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari Nadia.
“Nadia.”
Hanya satu nama.
Namun cukup untuk membuat suasana mendadak senyap.
Nadia mengembuskan napas perlahan.
“Ibu datang lebih cepat.”
Ratna menatap tangan putrinya yang masih dicengkeram petugas keamanan.
“Saya bilang lepaskan dia.”
Kedua petugas itu buru-buru mundur.
Sisca mengernyit.
“Paman, siapa perempuan ini?”
Darmawan tidak menjawab.
Wajahnya mulai kehilangan warna.
Ratna mengambil saputangan dari tasnya dan mencoba membersihkan cat yang menempel di wajah Nadia.
“Kamu terluka?”
“Hanya lecet.”
Ratna melihat ponsel yang hancur di tanah, uang berserakan, lalu gaun putrinya yang robek.
Matanya berubah dingin.
“Siapa yang melakukan semua ini?”
“Saya.”
Sisca justru maju selangkah.
Mungkin karena belum memahami situasi, mungkin juga karena sepanjang hidupnya ia terbiasa melihat orang lain mundur ketika mendengar nama keluarganya.
“Perempuan ini masuk kampus tanpa identitas, menghina saya, lalu menampar saya. Petugas keamanan hanya menjalankan tugas.”
Ratna memandang Sisca beberapa detik.
“Lalu siapa yang menghancurkan teleponnya?”
Sisca terdiam.
“Siapa yang menyiram kopi?”
Tidak ada jawaban.
“Siapa yang merobek pakaiannya?”
Wajah Sisca mulai tegang.
“Dan siapa yang menyiramkan cat?”
Ratna menunjuk kaleng yang masih berada di dekat kaki Sisca.
Darmawan segera maju.
“Bu Ratna, sepertinya ada kesalahpahaman. Anak-anak muda kadang emosional. Kita bisa menyelesaikannya secara internal.”
“Internal?”
Ratna menoleh kepadanya.
“Saudara Darmawan, apakah memaksa seseorang berlutut juga bagian dari prosedur internal universitas?”
Darmawan tercekat.
Sisca menarik lengan pamannya.
“Paman, sebenarnya siapa mereka?”
Darmawan akhirnya berbisik.
“Itu Ibu Ratna Indrawan, anggota Dewan Wali Amanat.”
Sisca terdiam.
Namun kemudian ia melirik Nadia.
“Kalau begitu dia siapa?”
Pertanyaan itu justru membuat beberapa orang di belakang Ratna saling berpandangan.
Pintu mobil kedua terbuka.
Ketua Dewan Wali Amanat, Prof. Hendra Kusuma, turun bersama sekretaris universitas dan beberapa anggota senat akademik.
Mereka seharusnya menemui Nadia di gedung auditorium pukul sembilan.
Prof. Hendra melihat jam tangannya.
08:58.
Ia kemudian memandang Nadia yang berdiri dengan pakaian rusak di tengah lapangan.
Wajahnya mengeras.
“Nadia, apa yang terjadi?”
Sisca kembali membeku.
Prof. Hendra berjalan mendekat lalu berkata dengan suara cukup keras untuk didengar semua orang.
“Empat puluh menit sebelum pelantikan Anda sebagai Rektor Universitas Nusantara Jaya, ternyata Anda sudah mendapatkan gambaran yang sangat jelas tentang kondisi kampus ini.”
Keheningan terasa seperti ledakan.
Ponsel-ponsel yang merekam kejadian langsung bergerak mengarah kepada Nadia.
Sisca mundur satu langkah.
“Rektor?”
Bibirnya gemetar.
Darmawan menatap Nadia seolah baru melihat hantu.
Nadia mengambil saputangan dari tangan ibunya dan membersihkan sisa cat di wajahnya.
“Perkenalkan,” katanya tenang. “Dr. Nadia Indrawan. Mulai pukul sembilan pagi ini, berdasarkan keputusan Dewan Wali Amanat, saya menjalankan amanah sebagai Rektor Universitas Nusantara Jaya.”
Budi langsung menundukkan kepala.
“Bu Rektor, saya…”
“Jangan meminta maaf kepada saya dulu.”
Nadia menunjuk kamera pengawas di dekat perpustakaan.
“Pastikan rekamannya tidak disentuh siapa pun.”
Budi semakin pucat.
“Baik, Bu.”
“Tidak. Anda tidak lagi menangani pengamanan bukti.”
Nadia menoleh kepada kepala unit teknologi informasi yang berdiri bersama rombongan Dewan Wali Amanat.
“Pak Reza, salin seluruh rekaman kamera dari pukul delapan sampai sekarang. Simpan di tiga tempat berbeda.”
“Siap.”
Darmawan mulai gelisah.
“Bu Nadia, masalah kecil seperti ini seharusnya tidak mengganggu acara pelantikan.”
Nadia menatapnya.
“Masalah kecil?”
Ia menunjuk ponselnya yang hancur.
“Perusakan barang.”
Kemudian gaunnya.
“Penghinaan dan tindakan fisik.”
Lalu dua petugas keamanan.
“Penyalahgunaan wewenang.”
Terakhir, ia menatap Darmawan.
“Dan pejabat universitas yang mengambil keputusan tanpa memeriksa fakta.”
Darmawan mencoba tersenyum.
“Saya hanya percaya kepada laporan staf saya.”
“Itulah masalahnya.”
Nadia berjalan mengambil tasnya.
Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah map tipis berwarna hitam.
Ekspresi Darmawan berubah seketika.
“Saya datang lebih awal bukan sekadar untuk berjalan-jalan,” kata Nadia.
Ia mengangkat map tersebut.
“Tadi malam saya menerima dokumen mengenai dugaan beasiswa fiktif, penggelembungan anggaran pembangunan, dan transaksi melalui beberapa vendor yang diduga memiliki hubungan dengan pejabat universitas.”
Sisca menatap pamannya.
“Paman?”
Darmawan langsung membantah.
“Fitnah! Dokumen anonim tidak bisa dijadikan bukti.”
“Saya setuju.”
Jawaban Nadia membuat Darmawan terdiam.
“Karena itu saya tidak pernah mengatakan dokumen ini adalah bukti final. Dokumen ini adalah alasan untuk melakukan audit.”
Nadia menyerahkan map tersebut kepada Prof. Hendra.
“Dan kejadian pagi ini memberi alasan tambahan untuk memastikan audit dilakukan oleh pihak independen.”
Ratna berdiri di samping putrinya, tetapi tidak ikut campur.
Ia tahu Nadia tidak membutuhkan ibunya untuk menyelamatkannya.
Yang dibutuhkan Nadia hanyalah kesempatan agar kebenaran tidak dibungkam.
Tiba-tiba salah seorang mahasiswa berteriak dari kerumunan.
“Bu Rektor!”
Seorang mahasiswa laki-laki maju dengan tangan gemetar.
“Saya punya rekamannya dari awal.”
Sisca menatapnya tajam.
“Jangan ikut campur!”
Mahasiswa itu sempat mundur, tetapi Nadia berkata pelan, “Kamu tidak perlu takut.”
Mahasiswa tersebut menyerahkan ponselnya kepada petugas IT.
“Saya merekam saat Kak Sisca menjatuhkan HP Ibu. Saya juga merekam ketika petugas keamanan datang.”
Mahasiswi lain ikut maju.
“Saya juga punya video saat uang dilempar.”
Lalu mahasiswa lainnya mengangkat tangan.
“Saya merekam saat cat disiram.”
Satu demi satu saksi bermunculan.
Wajah Budi semakin pucat.
Selama bertahun-tahun, banyak mahasiswa memilih diam ketika berhadapan dengan orang yang memiliki koneksi.
Pagi itu, untuk pertama kalinya, mereka melihat seseorang yang tidak mundur.
Sisca mulai panik.
“Paman, lakukan sesuatu!”
Darmawan justru membentaknya.
“Diam!”
Sisca terkejut.
Nadia menatap keduanya.
“Tadi Anda mengatakan keamanan kampus bekerja untuk keluarga Anda, bukan?”
Sisca menggeleng cepat.
“Saya tidak pernah mengatakan itu.”
Nadia tersenyum tipis.
“Sayangnya banyak kamera merekamnya.”
Sisca mulai menangis.
“Saya bisa mengganti semuanya. HP itu berapa? Gaunnya berapa? Saya bayar.”
Nadia memandang gaunnya.
“Gaun ini memang bernilai sekitar Rp4,8 miliar dalam penilaian kolektor.”
Kerumunan kembali riuh.
“Tapi yang tidak bisa kamu beli adalah hak untuk mempermalukan orang lain.”
Sisca terdiam.
“Kalau hari ini saya benar-benar mahasiswa biasa tanpa jabatan, apakah kamu akan menyesal?”
Tidak ada jawaban.
“Itulah pertanyaan yang harus kamu pikirkan.”
Nadia kemudian meminta petugas keamanan pengganti mengamankan lokasi dan membawa Budi untuk pemeriksaan internal. Darmawan diberhentikan sementara dari seluruh kewenangan administratif selama audit berlangsung. Sisca diproses melalui mekanisme disiplin mahasiswa dan laporan mengenai perusakan barang diserahkan kepada pihak berwenang sesuai prosedur.
Namun kejutan terbesar belum datang.
Saat rombongan hendak bergerak menuju auditorium, sebuah mobil ketiga membuka pintunya.
Seorang perempuan tua turun perlahan.
Rambutnya hampir seluruhnya putih.
Sisca mendadak menutup mulut.
“Nenek?”
Perempuan itu adalah Surya Pratama, nenek Sisca sekaligus pendiri perusahaan keluarga yang menjanjikan hibah Rp30 miliar kepada universitas.
Ia ternyata berada dalam mobil ketiga karena diundang menghadiri pelantikan Nadia.
Sisca berlari menghampirinya.
“Nenek, jelaskan kepada mereka. Keluarga kita donor terbesar untuk gedung baru.”
Surya memandang cucunya lama.
Kemudian ia menoleh kepada Nadia.
“Bu Rektor, apakah sumbangan keluarga kami membuat cucu saya kebal terhadap aturan?”
“Tidak.”
“Bagus.”
Sisca terpaku.
Surya mengeluarkan teleponnya.
“Mulai hari ini, dana hibah Rp30 miliar tetap diberikan.”
Darmawan tampak sedikit lega.
Namun kalimat berikutnya menghancurkan harapan itu.
“Tapi pengelolaannya harus diaudit penuh dan tidak boleh berada di bawah kendali Darmawan maupun keluarga saya.”
“Nenek!”
Surya menatap Sisca tajam.
“Kamu mengira uang keluarga ini membuatmu lebih tinggi dari orang lain?”
Air mata Sisca jatuh.
“Nenek…”
“Saya membangun perusahaan dari toko kecil milik orang tua saya. Saya pernah tidur di lantai gudang karena tidak punya uang untuk menyewa kamar. Kalau kekayaan yang saya bangun justru membuat keturunan saya belajar merendahkan orang, berarti ada sesuatu yang gagal saya wariskan.”
Sisca menunduk.
Untuk pertama kalinya pagi itu, tidak ada lagi yang bisa ia katakan.
Pukul 09:17, Nadia akhirnya memasuki auditorium.
Pelantikan terlambat tujuh belas menit.
Ia tidak mengganti gaunnya.
Cat merah masih meninggalkan noda besar. Bagian bahunya yang robek hanya ditutup sementara dengan kain yang diberikan ibunya.
Ketika namanya dipanggil, seluruh ruangan berdiri.
Setelah mengucapkan sumpah jabatan, Nadia berdiri di podium.
Semua orang menunggu pidato panjang.
Namun Nadia hanya mengatakan beberapa kalimat.
“Pagi ini saya datang ke kampus sebagai seseorang yang tidak dikenal. Dalam empat puluh menit, saya belajar lebih banyak daripada yang mungkin bisa saya pelajari dari seratus halaman laporan.”
Ruangan sunyi.
“Saya melihat bagaimana nama keluarga, uang, dan jabatan dapat membuat seseorang merasa aturan tidak berlaku baginya. Tetapi saya juga melihat mahasiswa yang akhirnya berani berdiri dan mengatakan apa yang mereka lihat.”
Nadia memandang gaunnya yang rusak.
“Mulai hari ini, universitas ini tidak boleh bertanya siapa orang tuamu sebelum memberikan keadilan. Tidak boleh bertanya berapa besar sumbangan keluargamu sebelum menegakkan aturan. Dan tidak boleh meminta seseorang berlutut hanya karena ia dianggap tidak memiliki kekuasaan.”
Tepuk tangan memenuhi auditorium.
Enam bulan kemudian, audit independen selesai.
Ditemukan berbagai penyimpangan administratif yang kemudian diteruskan kepada pihak berwenang untuk pemeriksaan lebih lanjut. Darmawan tidak pernah kembali menduduki jabatan lamanya.
Budi juga tidak lagi menjadi kepala keamanan.
Sementara Sisca menjalani sanksi disiplin dan diwajibkan mengikuti program pelayanan sosial kampus.
Anehnya, justru di sana hidupnya mulai berubah.
Ia bekerja bersama mahasiswa penerima beasiswa yang selama ini hampir tidak pernah ia kenal. Ia bertemu orang-orang yang kuliah sambil bekerja malam, mahasiswa yang menghitung uang makan sampai rupiah terakhir, dan mereka yang mempertahankan prestasi karena satu kegagalan bisa membuat beasiswanya hilang.
Suatu sore, beberapa bulan kemudian, Sisca datang ke ruang rektor.
Ia membawa sebuah kotak.
Di dalamnya terdapat ponsel baru.
“Saya tahu ini terlambat,” katanya pelan. “Dan saya tahu barang ini tidak menghapus apa yang saya lakukan.”
Nadia tidak langsung mengambilnya.
Sisca kemudian mengeluarkan sesuatu yang lain.
Gaun putih yang pernah ia pakai pagi itu.
Gaun yang dulu membuatnya marah hanya karena ada orang lain mengenakan model serupa.
“Saya sudah menjual sebagian koleksi saya,” katanya. “Uangnya saya masukkan ke dana bantuan mahasiswa.”
Nadia menatapnya cukup lama.
“Kenapa?”
Sisca tersenyum getir.
“Karena ternyata gaun saya memang palsu.”
Nadia hampir tertawa.
Namun Sisca melanjutkan.
“Bukan cuma gaunnya. Cara saya hidup juga palsu. Saya merasa dihormati, padahal orang-orang hanya takut pada nama keluarga saya.”
Nadia akhirnya menerima kotak ponsel itu.
“Bawa pulang gaunnya.”
Sisca bingung.
“Kenapa?”
“Karena kamu tidak perlu membuang masa lalu untuk berubah. Kamu hanya perlu mengingat siapa dirimu ketika mengenakannya.”
Sisca mengangguk.
Ketika ia hendak pergi, pandangannya tertuju pada sebuah bingkai kaca di dinding ruang rektor.
Di dalamnya terdapat potongan kain putih dengan noda cat merah yang sudah mengering.
Gaun Nadia yang bernilai miliaran rupiah ternyata tidak pernah diperbaiki.
Di bawah bingkai itu hanya terdapat satu kalimat.
Kekuasaan menunjukkan siapa yang dapat memaksa orang lain berlutut. Karakter menentukan siapa yang memilih untuk tidak melakukannya.
Sisca berdiri memandanginya beberapa detik.
Lalu ia pergi tanpa berkata apa-apa.
Nadia kembali ke mejanya.
Di luar jendela, ribuan mahasiswa berjalan melintasi lapangan yang sama tempat dirinya pernah dipaksa berlutut.
Pagi itu ia datang empat puluh menit lebih awal untuk mengenal kampusnya.
Tanpa pernah menduga, empat puluh menit itulah yang akhirnya menentukan seperti apa universitas tersebut akan dipimpin selama bertahun-tahun berikutnya.
