
BAGIAN 1
“Tolong, Om… pura-pura jadi Papa saya.”
Anak laki-laki itu menabrak tubuhku begitu saja di trotoar Jalan Jenderal Sudirman.
Tangannya langsung mencengkeram jas yang kupakai.
“Peluk saya. Jangan lepasin.”
Aku belum sempat bertanya ketika dia menoleh ke belakang.
Dua pria berseragam biru tua berlari mendekat.
“Rian!”
Salah satu dari mereka menunjuk anak di depanku.
“Cepat kembali ke mobil!”
Aku menatap wajah Rian.
Mungkin delapan tahun.
Sepatunya sudah rusak di bagian depan. Napasnya pendek. Tangannya gemetar saat memegang lenganku.
Aku tidak tahu masalah apa yang sedang terjadi.
Tapi aku tahu satu hal.
Anak itu benar-benar takut.
Aku menariknya berdiri di sampingku lalu meletakkan tangan di pundaknya.
“Kenapa kamu lari dari Papa?”
Dua pria tadi langsung berhenti.
Salah satunya mengenaliku.
“Pak Arya?”
Aku tidak menjawab.
Dia terlihat semakin canggung.
“Maaf, Pak. Anak ini tinggal di Panti Asuhan Tunas Harapan. Dia kabur saat kami membawanya untuk pemeriksaan.”
“Suratnya?”
“Apa?”
“Surat yang menjelaskan kalian boleh mengejar anak delapan tahun di jalan seperti ini.”
Keduanya saling pandang.
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Kalau memang semuanya resmi, kita bisa bicara sambil menghubungi Dinas Sosial.”
Pria yang lebih tinggi langsung mengangkat tangan.
“Tidak perlu sejauh itu, Pak. Mungkin Rian sedang emosional.”
“Kalau begitu biarkan dia tenang dulu.”
Mereka mundur.
Sebelum pergi, salah satunya menatap Rian.
“Kamu tahu akibatnya kalau tidak kembali.”
Tubuh kecil di sampingku langsung menegang.
Aku menatap pria itu.
“Jangan bicara begitu pada anak di depan saya.”
Mereka akhirnya pergi.
Aku baru melihat Rian lagi setelah mobil mereka tidak terlihat.
“Sekarang jelaskan.”
Dia masih tidak melepaskan tanganku.
“Saya nggak boleh balik.”
“Kenapa?”
“Mereka mau memisahkan saya sama Dimas.”
“Dimas siapa?”
“Adik saya.”
Aku terdiam.
Rian menelan ludah.
“Besok ada keluarga yang mau mengambil Dimas.”
“Kamu tidak ikut?”
Dia menggeleng.
“Mereka bilang saya anak bermasalah.”
Aku membawa Rian ke apartemenku.
Awalnya aku hanya berniat memberinya makanan, lalu menghubungi pihak yang tepat.
Namun setelah semangkuk sup habis, ceritanya mulai berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kuabaikan.
Dimas enam tahun.
Dua tahun sebelumnya mereka kehilangan kedua orang tua dalam sebuah musibah kebakaran.
Sejak itu Dimas sangat bergantung pada kakaknya.
“Kalau malam dia sering bangun,” kata Rian.
“Saya pegang tangannya sampai tidur lagi.”
Aku duduk di seberang meja.
“Kenapa orang yang mau mengasuh Dimas tidak mau mengambil kalian berdua?”
Rian mengusap hidungnya.
“Bu Ratna bilang saya terlalu banyak tanya.”
“Tanya apa?”
“Kenapa kasurnya sudah rusak tapi nggak pernah diganti.”
Dia menatapku.
“Kenapa banyak orang datang kasih bantuan, tapi makanan kami tetap sama.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Terus saya pernah tanya kenapa ada anak yang dilarang ketemu kakaknya setelah ada keluarga baru.”
“Siapa Bu Ratna?”
“Kepala panti.”
Aku akhirnya menelepon Nadia, pengacaraku.
Keesokan paginya kami datang ke Tunas Harapan.
Bangunannya jauh lebih bagus daripada yang kubayangkan.
Lobi berpendingin udara.
Lantai marmer.
Foto para donatur memenuhi dinding.
Ratna Dewi menyambut kami di ruang tamu.
“Pak Arya, kami sangat menghargai perhatian Bapak.”
Dia meletakkan sebuah map di meja.
“Namun Rian memiliki riwayat perilaku yang cukup sulit.”
Aku membuka halaman pertama.
Ada laporan psikologis.
Ada tulisan agresif, manipulatif, sulit diatur.
Aku melihat Rian yang duduk di sampingku.
Dia menunduk.
“Siapa psikolog yang membuat laporan ini?”
Ratna tersenyum tipis.
“Tenaga profesional rekanan kami.”
“Bisa saya temui?”
“Tidak hari ini.”
Pintu kemudian terbuka.
Seorang anak kecil masuk bersama pengasuh.
Begitu melihat Rian, dia langsung berlari.
“Mas!”
Dimas memeluk kakaknya erat.
“Mereka bilang Mas Rian nggak balik lagi.”
Rian langsung memegang kepalanya.
“Aku di sini.”
“Aku nggak mau pergi sendiri.”
Pengasuh mendekat.
“Ayo, Dimas.”
Dimas semakin erat memegang Rian.
“Nggak mau.”
Ratna memberi isyarat.
“Bawa Dimas kembali.”
Aku berdiri.
“Cukup.”
Semua orang diam.
Aku menatap Ratna.
“Saya ingin mengajukan proses pengasuhan untuk keduanya. Bersama-sama.”
Senyumnya langsung hilang.
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Dimas sudah dijadwalkan ditempatkan bersama keluarga Bapak Hendra Kusuma besok pagi.”
Nadia menyela.
“Kalau prosesnya belum final, kami ingin melihat dokumennya.”
Ratna menutup map.
“Dokumen itu rahasia.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Baik. Kami akan meminta melalui jalur resmi.”
Malamnya, seorang penyelidik yang bekerja denganku, Fikri, mengirim hasil pemeriksaan awal.
Aku membukanya di ruang kerja.
Nama calon pengasuh tercantum jelas.
HENDRA KUSUMA.
Alamat tidak bisa diverifikasi.
Riwayat pekerjaan kosong.
Nomor identitas yang tercantum tidak cocok dengan basis data yang seharusnya.
“Ini bukan sekadar data yang salah,” kata Fikri melalui telepon.
“Identitasnya seperti dibuat dari potongan informasi beberapa orang.”
Aku memanggil Rian.
“Pernah dengar nama ini?”
Aku menunjukkan layar.
Begitu membaca nama itu, wajahnya berubah.
Gelas air yang dipegangnya terlepas dan jatuh ke karpet.
Aku langsung berdiri.
“Rian?”
Dia menunjuk nama itu dengan jari gemetar.
“Itu bukan orang yang mau jadi papanya Dimas.”
Aku mendekat.
“Lalu siapa?”
Rian menatapku.
“Saya pernah lihat Pak Hendra di panti.”
“Sering?”
Dia mengangguk.
“Dia masuk ke kantor Bu Ratna kalau semua anak sudah disuruh masuk kamar.”
Aku merasa dadaku mulai sesak.
“Apa yang dia lakukan?”
Rian menelan ludah.
Lalu dia mengatakan satu kalimat yang membuatku langsung mengambil ponsel.
“Saya pernah dengar dia bilang, kalau kakak-adik dipisah, uangnya bisa masuk dua kali.”
BERSAMBUNG…
BAGIAN 2
Aku tidak langsung bertanya lebih jauh.
Rian sudah terlihat terlalu takut.
Aku duduk di sebelahnya.
“Yang kamu dengar cuma itu?”
Dia menggeleng pelan.
“Ada lagi.”
“Apa?”
“Saya punya sesuatu.”
Dia berjalan ke tas sekolah lusuh yang kubelikan sore tadi.
Dari saku paling dalam, dia mengeluarkan sebuah buku tulis kecil.
Sampulnya sudah terlipat.
“Ini punya kamu?”
“Iya.”
Dia membukanya.
Beberapa halaman berisi pelajaran sekolah.
Lalu di bagian belakang ada deretan nama, tanggal, angka, dan huruf singkatan.
Aku menatapnya.
“Apa ini?”
“Nama orang yang datang malam.”
Aku menahan napas.
Rian menunjuk satu per satu.
“Kalau ada orang masuk ke kantor Bu Ratna setelah jam tidur, saya tulis.”
“Kenapa?”
Dia mengangkat bahu.
“Karena saya takut lupa.”
Aku melihat nama yang ditulis berulang kali.
Hendra.
Sebelas kunjungan dalam enam bulan.
Di beberapa tanggal ada angka.
Aku memotret semua halaman.
“Angka ini apa?”
“Saya nggak tahu.”
Rian berpikir sebentar.
“Tapi waktu Pak Hendra datang, besoknya biasanya Bu Ratna panggil beberapa anak.”
Fikri datang ke apartemenku kurang dari satu jam kemudian.
Nadia ikut.
Kami duduk di ruang kerja sementara Rian tidur di kamar tamu.
Aku menyerahkan foto buku itu.
Fikri membacanya lama.
“Kalau angka ini juta rupiah, polanya masuk akal.”
Nadia menatapnya.
“Jangan simpulkan dulu.”
“Aku tahu.”
Fikri membuka laptop.
“Tapi ada hal lain.”
Dia menunjukkan rekening perusahaan bernama PT Keluarga Harmoni Konsultan.
“Perusahaan ini disebut sebagai konsultan keluarga dan pendamping proses pengasuhan.”
“Pemiliknya?”
“Hendra Kusuma.”
Aku menatap layar.
Kali ini identitasnya nyata.
Foto seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun muncul.
Aku membangunkan Rian dengan hati-hati dan menunjukkan foto itu.
“Ini orangnya?”
Rian langsung mengangguk.
“Itu Pak Hendra.”
Berarti ada dua Hendra Kusuma.
Satu pria nyata.
Satu identitas calon pengasuh yang tidak valid.
Fikri menunjuk dokumen lain.
“Hendra yang asli ternyata bukan orang yang mengajukan pengasuhan Dimas.”
“Lalu?”
“Namanya dipakai di berkas.”
Nadia menyandarkan tubuh.
“Kita butuh bukti langsung dari yayasan.”
Aku tahu dia benar.
Aku punya uang.
Aku punya perusahaan.
Aku punya akses ke banyak orang.
Tapi aku tidak bisa masuk ke sebuah yayasan dan mengambil semua berkas hanya karena aku curiga.
“Kita laporkan sekarang.”
Nadia mengangguk.
“Dinas Sosial dulu. Minta penundaan penempatan Dimas sampai identitas calon keluarga diverifikasi.”
Kami bergerak pagi itu.
Aku juga menghubungi bank yang menjadi salah satu donor korporasi terbesar Tunas Harapan.
Aku tidak meminta mereka melakukan apa pun.
Aku hanya bertanya satu hal.
“Apakah laporan penggunaan dana yayasan pernah diaudit independen?”
Jawabannya membuatku tidak nyaman.
Belum pernah.
Selama lima tahun, Tunas Harapan hanya mengirim laporan internal.
Foto kegiatan.
Daftar kebutuhan.
Ucapan terima kasih.
Tidak ada pemeriksaan penuh.
Menjelang pukul sembilan pagi, Nadia mendapat kabar.
Penempatan Dimas ditunda sementara.
Aku merasa sedikit lega.
Hanya sedikit.
Karena Ratna langsung meneleponku.
“Pak Arya, Anda sudah terlalu jauh.”
“Apa maksudnya?”
“Anda membuat laporan berdasarkan cerita anak delapan tahun.”
“Dan identitas calon keluarga yang tidak valid.”
Dia diam.
Aku melanjutkan.
“Kenapa nama Hendra Kusuma dipakai?”
“Itu kesalahan administrasi.”
“Kesalahan administrasi sampai nomor identitasnya salah?”
“Staf kami bisa keliru.”
“Alamat rumah juga salah.”
Tidak ada jawaban.
Aku menatap jendela.
“Besok ada pemeriksaan.”
Ratna tertawa pendek.
“Pak Arya, Anda mungkin terbiasa mendapatkan apa yang Anda inginkan di perusahaan Anda.”
“Ini bukan perusahaan saya.”
“Benar.”
Suaranya berubah dingin.
“Jadi berhenti mengatur kami.”
Telepon ditutup.
Aku justru semakin yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Siangnya, Rian duduk di dapur bersama Dimas.
Setelah penempatan ditunda, Dimas diizinkan berada sementara di tempat perlindungan lain.
Aku meminta izin agar mereka bisa bertemu di bawah pengawasan petugas.
Dimas hampir tidak bicara.
Dia hanya mengikuti Rian ke mana pun.
Ketika Rian pindah kursi, Dimas ikut.
Ketika Rian mengambil air, Dimas berdiri.
Aku memperhatikan mereka dari jauh.
Untuk pertama kalinya sejak kehilangan Maya dan bayi kami empat belas bulan sebelumnya, apartemenku tidak terasa kosong.
Perasaan itu membuatku takut.
Aku tidak ingin membantu mereka hanya karena aku sedang mencoba mengisi bagian hidupku yang hilang.
Mereka bukan obat untuk kesepianku.
Mereka dua anak yang membutuhkan seseorang mengambil keputusan yang benar.
Aku harus memisahkan dua hal itu.
Malamnya aku berbicara dengan Nadia.
“Kalau nanti masalah panti selesai, aku tetap ingin mengajukan pengasuhan mereka.”
Dia menatapku.
“Karena kamu kasihan?”
“Tidak.”
“Karena kamu sendirian?”
Aku terdiam.
Pertanyaannya sengaja dibuat keras.
“Aku nggak tahu.”
“Kalau begitu jangan buru-buru.”
Aku mengangguk.
Nadia melanjutkan.
“Bantu mereka dulu tanpa menganggap mereka harus menjadi keluargamu.”
Aku tahu itu benar.
Besok paginya pemeriksaan dimulai.
Aku tidak diizinkan masuk sebagai bagian tim.
Aku menunggu di mobil bersama Fikri.
Dua jam.
Tiga jam.
Belum ada kabar.
Lalu Nadia menelepon.
“Mereka menemukan dua pembukuan.”
Aku duduk tegak.
“Apa?”
“Satu untuk laporan donatur. Satu lagi tersimpan di komputer kantor.”
“Apa isinya?”
“Dana yang diterima jauh lebih besar daripada yang dilaporkan sebagai biaya kebutuhan anak.”
“Selisihnya?”
“Belum dihitung.”
Aku memejamkan mata.
“Ratna?”
“Masih dimintai penjelasan.”
Sekitar satu jam kemudian, Fikri menerima pesan dari kontaknya.
Dia membacanya dua kali.
“Ini makin buruk.”
“Kenapa?”
“Ada biaya pendampingan keluarga yang dibayarkan ke perusahaan Hendra.”
“Berapa?”
“Bervariasi. Rp150 juta sampai Rp300 juta.”
Angka di buku Rian.
Aku langsung mengambil foto catatannya.
Semuanya cocok.
Aku merasa marah pada diriku sendiri karena sebagian pikiranku masih berharap itu hanya kebetulan.
Fikri kembali membaca layar.
“Dan ada pola.”
“Apa?”
“Anak yang masih kecil mendapatkan biaya pendampingan lebih tinggi.”
Aku langsung mengerti.
“Karena lebih banyak keluarga berminat.”
Dia mengangguk.
“Kalau anak punya kakak yang lebih tua, laporan perilaku kakaknya sering berubah buruk beberapa bulan sebelum proses penempatan.”
Aku tidak mengatakan apa pun.
Rian bukan anak bermasalah.
Dia dibuat terlihat seperti anak bermasalah.
Tujuannya sederhana.
Memisahkannya dari Dimas.
Nadia menelepon lagi.
“Kami menemukan laporan psikologis Rian.”
“Aku sudah lihat.”
“Bukan itu.”
Suaranya terdengar cepat.
“Mereka menemukan file asli.”
Aku berdiri.
“Dan?”
“File asli mengatakan Rian kooperatif, protektif terhadap adiknya, dan memiliki respons kecemasan yang wajar setelah kehilangan orang tua.”
Tanganku mengepal di sisi tubuh.
“Laporan yang diberikan Ratna?”
“Sudah diedit.”
Aku menatap dinding cukup lama.
“Siapa yang mengedit?”
“Login kepala yayasan.”
Ratna.
Tidak lama kemudian, Dinas Sosial menghentikan sementara kegiatan penempatan anak melalui Tunas Harapan sampai pemeriksaan selesai.
Semua proses dipindahkan ke lembaga lain.
Aku mengira itu sudah menjadi titik terburuk.
Ternyata belum.
Sore itu seorang perempuan bernama Sari datang ke kantor perusahaanku.
Dia mantan pengasuh di Tunas Harapan.
Awalnya dia tidak mau bicara di telepon.
Dia hanya bilang ingin bertemu langsung.
Aku mengajaknya duduk bersama Nadia.
Sari memegang tasnya dengan kedua tangan.
“Saya keluar enam bulan lalu.”
“Kenapa?”
“Karena saya mulai takut.”
“Takut apa?”
Dia melihat Nadia sebelum menjawab.
“Kalau ada saudara kandung yang dianggap sulit ditempatkan bersama, Bu Ratna kadang membuat laporan berbeda untuk mereka.”
Aku sudah mengetahui sebagian.
Tapi mendengarnya dari staf tetap terasa berat.
“Laporan apa?”
“Perilaku.”
“Siapa yang menyuruh?”
“Bu Ratna.”
“Hendra?”
Sari langsung diam.
Aku memperhatikan wajahnya.
“Kamu kenal dia.”
Dia mengangguk.
“Dia suami Bu Ratna.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menatap Nadia.
Fikri belum menemukan hubungan itu karena Hendra dan Ratna menggunakan alamat berbeda di berbagai dokumen perusahaan.
Sari melanjutkan.
“Perusahaan konsultan itu punya Pak Hendra.”
“Jadi yayasan membayar perusahaan milik suami kepala yayasan?”
“Iya.”
“Donatur tahu?”
“Saya nggak tahu.”
Aku menarik napas.
“Kenapa nama Hendra juga muncul sebagai calon pengasuh Dimas?”
Sari terlihat bingung.
“Calon pengasuh?”
Nadia memperlihatkan salinan formulir.
Begitu melihatnya, wajah Sari langsung berubah.
“Ini bukan formulir keluarga.”
“Apa maksudnya?”
Dia menunjuk kode kecil di bagian kanan bawah.
“HK-17.”
“Kenapa?”
“Ini kode internal.”
“Kode untuk apa?”
Sari ragu.
“Untuk keluarga yang belum selesai verifikasi tetapi sudah dimasukkan ke jadwal perkenalan.”
Aku menatapnya.
“Jadi nama Hendra hanya dipakai sementara?”
“Biasanya.”
“Kenapa?”
“Supaya slot penempatan terlihat sudah terisi.”
Aku mulai memahami caranya.
Yayasan bisa mengatakan kepada calon keluarga bahwa ada banyak peminat.
Proses dipercepat.
Biaya konsultasi dibayar.
Dokumen administratif diisi belakangan.
Dan kalau ada masalah, mereka menyebutnya kesalahan data.
“Berapa banyak anak?”
Sari menggeleng.
“Saya nggak tahu.”
“Kira-kira?”
“Puluhan.”
Aku menunduk.
Semua itu bukan sistem perlindungan anak.
Itu sudah berubah menjadi bisnis.
Tapi Sari belum selesai.
Dia membuka tas.
“Ada sesuatu yang saya simpan.”
Dia mengeluarkan flashdisk.
“Sebelum keluar saya menyalin laporan tahunan. Saya takut suatu hari mereka menyalahkan staf bawah.”
Nadia langsung mengambilnya.
Kami membuka isinya di laptop terpisah.
Ada laporan dana.
Email.
Daftar perusahaan.
Nama donatur.
Aku membaca tanpa banyak bicara.
Kemudian satu nama membuatku berhenti.
YAYASAN CAHAYA MAYA.
Aku merasa tubuhku kaku.
Nama itu tidak mungkin kebetulan.
Aku membuka file.
Tanda tangan di bagian bawah membuat tenggorokanku terasa kering.
Maya Mahendra.
Istriku.
“Arya?”
Nadia menatapku.
Aku masih melihat layar.
“Ini yayasan Maya.”
Aku tahu Maya memiliki beberapa program sosial.
Aku tidak pernah ikut campur terlalu jauh.
Dia mengurusnya bersama tim kecilnya sendiri.
Setelah aku kehilangan dia, aku hanya memastikan semua program tetap berjalan melalui kantor keluarga.
Aku tidak pernah memeriksa satu per satu penerimanya.
Ternyata Tunas Harapan salah satunya.
Aku membuka dokumen awal.
Dua tahun sebelumnya, Yayasan Cahaya Maya memberikan dana renovasi sebesar Rp4,8 miliar.
Ada syarat khusus.
Aku membaca perlahan.
Program harus memprioritaskan pemeliharaan hubungan saudara kandung.
Dana tidak boleh dipakai untuk transaksi dengan perusahaan yang memiliki hubungan keluarga dengan pengurus tanpa pengungkapan tertulis.
Setiap perubahan status penempatan anak harus melalui verifikasi independen.
Aku membaca bagian terakhir dua kali.
Jika ditemukan pelanggaran serius, kerja sama dapat dihentikan dan penggunaan aset yang dibiayai program dapat ditinjau kembali.
Aku menatap Nadia.
“Ratna melanggar semuanya.”
Nadia tidak langsung menjawab.
Dia membuka folder lain.
“Arya.”
“Apa?”
“Ada email dari Maya.”
Aku bergerak ke sampingnya.
Tanggalnya satu tahun sebelum kecelakaan.
Maya menulis kepada Ratna.
Aku hanya membaca beberapa kalimat.
Bu Ratna, saya kembali menerima keluhan tentang pemisahan kakak-adik. Mohon hentikan proses sampai evaluasi independen selesai.
Di bawahnya ada balasan Ratna.
Semua prosedur telah sesuai.
Maya menjawab lagi.
Saya akan datang melakukan audit langsung bulan depan.
Aku menatap tanggal.
Audit itu tidak pernah terjadi.
Karena beberapa minggu kemudian hidup kami berubah.
Aku menutup laptop.
Untuk beberapa saat aku tidak mampu bicara.
Semua orang diam.
Aku tidak menganggap ini pertanda.
Aku juga tidak percaya ada alasan khusus mengapa Rian memilih menabrakku di jalan.
Itu kebetulan.
Tapi Maya sudah pernah melihat masalah yang sama.
Dia sudah mencoba menghentikannya.
Dan setelah dia tidak ada, tidak ada orang yang melanjutkan audit itu.
Termasuk aku.
Rasa bersalah langsung muncul.
Nadia melihatku.
“Jangan campur rasa bersalah dengan fakta.”
“Aku seharusnya memeriksa.”
“Kamu tidak tahu.”
“Namaku ada di struktur yayasan keluarga.”
“Kamu sedang mengurus hidupmu sendiri waktu itu.”
Aku berdiri.
“Tapi sekarang aku tahu.”
Keesokan harinya kami menyerahkan seluruh data ke tim pemeriksa.
Flashdisk Sari menjadi bukti penting.
Begitu dokumen hubungan Ratna dan Hendra diverifikasi, transaksi perusahaan konsultan langsung diperiksa.
Totalnya lebih dari Rp6,7 miliar dalam empat tahun.
Sebagian berasal dari dana yayasan.
Sebagian lagi berasal dari pembayaran yang disebut biaya konsultasi dan pendampingan.
Ratna akhirnya diminta menghadiri pemeriksaan resmi.
Sebelum masuk, dia melihatku di lorong.
“Puas sekarang?”
Aku berhenti.
“Belum.”
Dia tertawa kecil.
“Bapak pikir setelah ini semua anak akan hidup sempurna?”
“Tidak.”
“Bapak bahkan tidak paham bagaimana sulitnya mencari keluarga untuk mereka.”
“Mungkin.”
Aku menatapnya.
“Tapi saya paham satu hal.”
Ratna diam.
“Kamu tidak boleh mengubah catatan anak hanya supaya mereka lebih mudah dipisahkan.”
Wajahnya mengeras.
“Kami mengambil keputusan praktis.”
“Untuk siapa?”
Dia tidak menjawab.
Aku pergi.
Aku tidak membutuhkan pengakuannya.
Dokumennya sudah bicara.
Selama beberapa minggu berikutnya, Tunas Harapan berada di bawah pengawasan.
Pengurus lama dinonaktifkan.
Program penempatan dihentikan sementara.
Anak-anak dipindahkan secara bertahap ke lembaga mitra yang sudah diverifikasi.
Semua laporan perilaku yang pernah dikeluarkan juga diperiksa ulang.
Beberapa orang tua pengasuh yang sebelumnya tidak tahu adanya manipulasi ikut dimintai keterangan.
Ternyata banyak keluarga juga menjadi korban.
Mereka membayar biaya yang dikatakan wajib.
Padahal tidak semuanya resmi.
Sementara itu, Rian dan Dimas ditempatkan bersama di rumah perlindungan sementara.
Aku berkunjung setiap dua atau tiga hari.
Aku tidak menjanjikan apa pun.
Aku belajar melakukan hal yang selama ini sulit bagiku.
Datang tanpa mencoba membeli solusi.
Suatu sore Dimas sedang menyusun puzzle di lantai.
Rian duduk di sofa membaca.
Aku membawa dua kotak makanan.
“Pak Arya.”
Aku tertawa.
“Kenapa sekarang Pak?”
Rian tersenyum kecil.
“Katanya saya harus sopan.”
Dimas tiba-tiba bertanya.
“Om masih mau jadi papa bohongan?”
Tanganku berhenti membuka kotak.
Rian langsung menegur.
“Dimas.”
“Biarin.”
Aku duduk di lantai.
“Kenapa tanya begitu?”
Dimas memegang satu keping puzzle.
“Karena waktu itu Mas Rian bilang Om pura-pura.”
“Iya.”
“Sekarang masih pura-pura?”
Aku tidak punya jawaban cepat.
Dan untuk pertama kalinya aku tidak mencoba membuat jawaban yang terdengar bagus.
“Aku nggak tahu.”
Dimas mengangguk seolah itu cukup.
Beberapa minggu kemudian, aku menjalani evaluasi.
Rumah.
Pekerjaan.
Kondisi emosional.
Dukungan keluarga.
Jadwal harian.
Semuanya diperiksa.
Aku juga bertemu konselor.
Dia menanyakan Maya.
Aku menjawab apa adanya.
Aku masih merindukannya.
Masih ada hari ketika aku tidak ingin bertemu siapa pun.
Masih ada bagian dalam diriku yang takut kehilangan orang lagi.
“Apa Anda ingin mengasuh Rian dan Dimas karena merasa mereka menggantikan keluarga yang hilang?”
Pertanyaan itu menyakitkan.
Tapi aku sudah memikirkannya.
“Tidak.”
“Bagaimana Anda tahu?”
“Karena kalau mereka akhirnya ditempatkan bersama keluarga lain yang aman dan mereka bahagia, saya akan tetap membantu.”
Aku menatap konselor.
“Saya ingin mereka bersama. Bahkan kalau bukan bersama saya.”
Itu jawaban paling jujur yang kupunya.
Prosesnya tidak cepat.
Berbulan-bulan.
Aku tidak keberatan.
Aku justru mulai mengerti kenapa prosedur seharusnya tidak bisa dilewati hanya karena seseorang punya uang.
Enam bulan setelah pertama kali bertemu Rian di Sudirman, aku mendapat izin pengasuhan sementara untuk keduanya sambil proses berikutnya berjalan.
Malam pertama mereka tinggal di apartemenku terasa aneh.
Rian memeriksa kunci pintu tiga kali.
Dimas bertanya apakah dia boleh membuka kulkas sendiri.
Aku menjawab iya.
Lima menit kemudian dia bertanya lagi.
“Beneran boleh?”
“Boleh.”
Dia mengambil susu.
Lalu menutup pintu kulkas perlahan.
Rian berdiri di belakangnya.
“Kita nggak harus minta izin makan?”
Aku menatap mereka.
“Nggak.”
Mereka saling pandang.
Aku baru sadar hal-hal kecil bisa terasa sebesar itu.
Beberapa hari kemudian, aku masuk ke kamar Rian.
Dia sedang menempel buku catatan lamanya ke dalam kotak penyimpanan.
“Kamu masih mau simpan?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia mengangkat bahu.
“Biar saya ingat.”
Aku duduk di ujung meja.
“Ingat apa?”
“Kalau saya nggak salah karena banyak tanya.”
Aku diam beberapa detik.
“Memang nggak salah.”
Dia menatapku.
“Bu Ratna selalu bilang saya bikin masalah.”
“Kamu memang bikin masalah.”
Rian langsung terdiam.
Aku menunjuk buku itu.
“Masalah untuk orang yang berharap tidak ada yang memperhatikan.”
Dia akhirnya tersenyum.
Dua bulan kemudian, pemeriksaan Tunas Harapan selesai.
Sejumlah pengurus dilarang lagi terlibat dalam pengelolaan layanan pengasuhan sampai proses hukum dan administratif mereka selesai.
Perusahaan Hendra kehilangan seluruh kontraknya dengan yayasan.
Dana yang masih bisa ditelusuri dibekukan untuk proses pemulihan dan kepentingan anak-anak.
Gedung Tunas Harapan tidak ditutup.
Itu keputusan yang paling mengejutkanku.
Awalnya aku ingin tempat itu berhenti beroperasi selamanya.
Namun tim independen menyarankan sesuatu yang lebih masuk akal.
Gedungnya masih bagus.
Anak-anak masih membutuhkan tempat tinggal.
Yang bermasalah adalah orang yang mengelolanya.
Yayasan Cahaya Maya mengambil kembali hak pengawasan atas dana renovasi dan menunjuk pengelola baru bersama lembaga sosial independen.
Aku menyetujui satu syarat.
Tidak ada lagi penempatan saudara kandung secara terpisah tanpa evaluasi khusus dan alasan yang benar-benar melindungi kepentingan anak.
Kupikir itulah akhir dari semua kejutan.
Aku salah.
Tiga hari sebelum sidang evaluasi pengasuhanku berikutnya, Nadia datang membawa sebuah map.
“Ada satu dokumen yang baru ditemukan.”
“Apa lagi?”
“Ini ditemukan di arsip fisik kantor lama Maya.”
Aku membuka map itu.
Ada proposal program.
Judulnya:
PROGRAM RUMAH BERSAMA.
Di bawahnya tertulis tujuan utama.
Mencegah pemisahan saudara kandung dalam pengasuhan alternatif.
Tanganku berhenti.
“Ini program Maya?”
Nadia mengangguk.
“Dia merencanakannya sebelum kecelakaan.”
Aku membalik halaman.
Ada daftar lima pasangan saudara kandung yang pernah dipantau tim Maya sebagai studi awal.
Aku membaca nama pertama.
Nama kedua.
Lalu berhenti di pasangan nomor empat.
Rian Prasetyo.
Dimas Prasetyo.
Aku menatap Nadia.
“Maya tahu mereka?”
“Timnya tahu.”
“Sejak kapan?”
“Hampir dua tahun lalu.”
Aku membaca catatan di bawah nama mereka.
Dua bersaudara. Sang kakak menunjukkan ikatan perlindungan kuat. Direkomendasikan tidak dipisahkan dalam proses pengasuhan.
Aku tidak bisa bicara.
Rian ternyata bukan anak acak yang kebetulan membawa kembali masalah yang pernah diperhatikan Maya.
Dia adalah salah satu anak yang sudah masuk dalam program yang ingin Maya lindungi.
Dan Ratna tahu itu.
Nadia menunjukkan satu lembar terakhir.
Ada catatan internal dari Ratna.
Status program ditunda setelah koordinator donor tidak lagi aktif.
Aku memahami semuanya.
Setelah Maya tidak bisa melanjutkan program, Ratna menganggap pengawasan telah hilang.
Dua anak yang sebelumnya sudah ditandai agar tetap bersama akhirnya kembali masuk dalam sistem lama.
Rian kemudian mulai bertanya tentang dana.
Laporan perilakunya diubah.
Dimas disiapkan untuk ditempatkan sendiri.
Aku menutup map.
Malam itu aku pulang lebih awal.
Rian dan Dimas sedang duduk di ruang keluarga.
Dimas tertidur dengan kepala di paha kakaknya.
Rian melihat map yang kubawa.
“Ada masalah lagi?”
“Tidak.”
Aku duduk di kursi depan mereka.
“Aku baru tahu sesuatu.”
“Apa?”
Aku menunjukkan program Maya.
Aku menjelaskan pelan.
Tidak semuanya.
Hanya bagian yang perlu dia tahu.
Bahwa dulu ada seorang perempuan bernama Maya yang membantu membuat program agar saudara seperti mereka tidak dipisahkan.
Bahwa nama mereka sudah ada dalam daftar.
Rian membaca halaman itu lama sekali.
“Dia kenal kami?”
“Mungkin belum pernah bertemu langsung.”
“Dia siapa?”
Aku menatap fotonya di sampul laporan.
“Istriku.”
Rian menoleh padaku.
Aku mengangguk.
“Dia yang dulu mencoba memastikan kalian tetap bersama.”
Rian melihat Dimas yang masih tidur.
Lalu kembali menatap dokumen.
“Berarti saya tabrak orang yang tepat?”
Aku tertawa kecil.
“Jangan mulai percaya begitu.”
“Kenapa?”
“Karena kamu menabrakku tanpa lihat jalan.”
Dia ikut tertawa.
Itu pertama kalinya aku melihatnya tertawa tanpa cepat-cepat melihat sekeliling.
Beberapa bulan sesudahnya, proses pengangkatan anak kami akhirnya masuk tahap final.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada kamera.
Aku tidak mengundang media meski beberapa wartawan sudah mengetahui kasus yayasan.
Hari itu kami hanya bertiga.
Setelah urusan selesai, kami keluar dari gedung.
Dimas menggenggam tanganku.
Rian berjalan di sebelah kiri.
Di tangga depan, Rian tiba-tiba berhenti.
“Pak Arya.”
Aku menatapnya.
“Masih Pak?”
Dia tersenyum.
“Belum terbiasa.”
Dimas langsung menyela.
“Papa aja.”
Rian terlihat malu.
Aku tidak memaksanya.
“Kamu panggil apa pun yang bikin kamu nyaman.”
Kami berjalan lagi.
Beberapa langkah kemudian, aku mendengar suara Rian.
Pelan sekali.
“Pa.”
Aku berhenti.
Dia langsung melihat ke arah lain.
“Apa?”
“Enggak.”
Aku hampir tertawa.
Tapi aku tidak menggodanya.
Aku hanya melanjutkan berjalan.
Empat belas bulan sebelumnya aku pikir rumah yang sunyi adalah satu-satunya kehidupan yang tersisa untukku.
Ternyata hidupku berubah bukan karena keputusan bisnis besar.
Bukan karena uang.
Bukan juga karena aku datang menyelamatkan siapa pun.
Semuanya dimulai karena seorang anak kusut di pinggir Jalan Sudirman memegang jas seorang pria asing dan membuat satu permintaan sederhana.
“Tolong pura-pura jadi Papa saya.”
Hari itu aku memang berpura-pura.
Tapi hanya untuk beberapa menit.
Selebihnya, Rian dan Dimas membuatku belajar bagaimana benar-benar hadir untuk seseorang.
Dan buku catatan kecil seorang anak delapan tahun akhirnya melakukan apa yang bertahun-tahun tidak dilakukan oleh laporan resmi.
Membuat orang dewasa mulai bertanya.
