BERTAHUN-TAHUN AKU MENCARI KEKASIH YANG HILANG TANPA KABAR SAMA SEKALI, NAMUN SAAT KAMI BERTEMU DI REUNI SEKOLAH JAKARTA AKU MEMBEKU MELIHAT SEORANG ANAK KECIL BERWAJAH IDENTIK DENGANKU MEMANGGILNYA IBU DAN SEBUAH TEROR RAHASIA KELUARGA KELAM TERBONGKAR!

BERTAHUN-TAHUN AKU MENCARI KEKASIH YANG HILANG TANPA KABAR SAMA SEKALI, NAMUN SAAT KAMI BERTEMU DI REUNI SEKOLAH JAKARTA AKU MEMBEKU MELIHAT SEORANG ANAK KECIL BERWAJAH IDENTIK DENGANKU MEMANGGILNYA IBU DAN SEBUAH TEROR RAHASIA KELUARGA KELAM TERBONGKAR!

BAGIAN 1

Langkahku seketika terhenti tepat di tengah kemewahan ruang pesta Hotel Kempinski Jakarta. Suara denting gelas kristal dan gelak tawa para alumni SMA ternama seakan lenyap perlahan dari pendengaranku. Dadaku bergemuruh hebat, menahan gejolak emosi yang membakar seluruh persendianku. Kemeja batik hitam yang kukenakan terasa makin menyempit saat mataku menatap lurus ke sudut ruangan yang diterangi lampu gantung berkilau.

Di sana, berdiri seorang perempuan bergaun sederhana. Perempuan yang selama tujuh tahun terakhir selalu bersemayam dalam setiap bait doaku. Indah.

Tujuh tahun. Waktu yang terasa seperti siksaan tanpa akhir. Namaku Aditya. Dahulu, aku dan Indah merajut kasih sejak duduk di bangku kelas dua SMA di Bandung. Kami tumbuh bersama, berbagi impian kecil, makan nasi goreng tepi jalan bersama, hingga saling mengikat janji suci untuk melangkah ke pelaminan begitu kami berdua meraih keberhasilan karier.

Namun, takdir melemparkan pukulan yang sangat telak. Tepat seminggu sebelum hari wisuda sarjanaku, Indah menghilang bak ditelan bumi. Nomor telepon pribadinya mendadak mati total. Seluruh akun media sosial miliknya terhapus tanpa jejak. Rumah kontrakan kecil yang disewanya di kawasan Tebet kosong melompong tanpa menyisakan satu pun barang pribadi.

Aku mengamuk dalam keputusasaan. Aku mendatangi teman-teman terdekatnya, mendatangi rumah keluarganya di daerah Garut, bahkan menghabiskan uang ratusan juta Rupiah demi menyewa jasa penyelidik swasta. Hasilnya nihil. Seluruh kerabatnya menutup mulut rapat-rapat seolah-olah ada kekuatan besar yang membungkam mereka. Berbulan-bulan aku hidup bagaikan mayat hidup, mencari jejak wanita yang kucintai tanpa pernah menemukan jawaban.

Waktu terus bergulir tanpa kompromi, memaksaku untuk menyerah pada kenyataan pahit. Lima tahun setelah peristiwa kelam itu, atas desakan keras keluarga besar, aku akhirnya menikahi seorang perempuan pilihan ayahku bernama Ratna. Kehidupan pernikahan kami berjalan tenang, dan kami dikaruniai seorang putri kecil bernama Maya. Kupikir, memori indah tentang Indah sudah terkubur rapi di dasar hatiku.

Sampai malam reuni sekolah ini menghancurkan seluruh pertahananku.

Aku melihatnya lagi. Wajah anggun itu masih menyimpan senyum lembut yang sama. Namun, kejutan luar biasa menghantam dadaku saat mendapati seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun berdiri di sampingnya. Tangannya menggenggam erat jemari Indah. Saat aku melangkah mendekat dengan tubuh gemetar, anak laki-laki itu menoleh tepat ke arahku.

Ya Allah! Langkahku terkunci total. Anak kecil itu memiliki bentuk mata, garis bibir, bahkan lesung pipi yang benar-benar identik denganku. Bagaikan cermin masa kecilku sendiri.

Aku berusaha keras mengatur napas yang makin memburu. “Indah…” panggilku lirih.

Dia perlahan menoleh. Begitu pandangan kami bertabrakan, matanya langsung berkaca-kaca. Bulir-bulir air mata menetes membasahi pipinya. “Aditya…” ucapnya terdesah.

Belum sempat aku menanyakan ribuan teka-teki dalam kepalaku, anak kecil itu makin erat memeluk kaki Indah. “Ibu… ayo kita pulang. Rizky lapar,” cicitnya polos.

Kepalaku serasa berputar hebat. Dengan sisa keberanian yang ada, aku berbisik menahan getaran di dada, “Siapa ayah kandungnya, Indah?”

Indah hanya menundukkan kepala. Air matanya makin deras menetes ke lantai marmer, namun mulutnya terkunci rapat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia menggandeng Rizky dan bergegas pergi meninggalkan aula pesta, meninggalkanku dalam kehampaan yang membakar.

Seminggu berlalu sejak malam mengerikan itu, kehidupan tenangku hancur berantakan. Hingga sore ini, seorang kurir mengantarkan sebuah paket tanpa nama pengirim ke kantor milikku di kawasan Sudirman. Di dalamnya terdapat sebuah buku harian tua berdebu. Pada halaman pertama, tertulis namaku dengan guratan tinta yang sangat kukenal.

Tanganku gemetar hebat saat membaca lembar demi lembar rahasia itu. Penyesalan mendalam langsung menusuk jantungku. Indah ternyata tidak pernah berpaling atau berhenti mencintaiku. Dia dipaksa menghilang secara brutal di bawah ancaman kekuasaan yang sangat kejam.

Belum sempat aku menyelesaikan lembar berikutnya, sebuah amplop cokelat tebal mendadak jatuh dari sela-sela buku tersebut. Di bagian depan amplop itu, tertulis pesan singkat bertinta merah:

“Buka hanya jika kamu siap mengetahui siapa ayah kandung anakku.”

Darahku serasa berhenti mengalir. Jemariku membeku tepat di atas perekat amplop tersebut. Tepat pada detik yang sama, ponsel di atas mejaku berdering nyaring, menampilkan nama yang membuat jantungku hampir copot:

PANGGILAN MASUK: PAK SURYA (AYAH KANDUNGKU)…

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Panggilan telepon dari ponselku terus berdering nyaring, menggetarkan permukaan meja kaca yang dingin. Nama Pak Surya, ayah kandungku sendiri, terpampang jelas di layar. Dengusan nafas beratku beradu dengan detik jam dinding kantor. Dengan jemari yang bergetar hebat, aku menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai itu ke telingaku.

“Aditya! Di mana kamu sekarang?!” suara berat dan penuh intimidasi dari Pak Surya langsung menyambar tanpa salam. “Segera pulang ke rumah Menteng! Malam ini keluarga Pak Tirta dan Ratna datang untuk makan malam bersama. Papa sudah menyiapkan investasi proyek lima puluh miliar Rupiah yang harus kamu tanda tangani!”

Telingaku serasa berdengung mendengarkan perintah tegas yang selama ini selalu kupatuhi tanpa bantahan. Namun malam ini, ada sesuatu yang pecah di dalam dadaku. “Aku sedang sibuk, Pa,” jawabku dingin.

“Kurang ajar! Jangan membantah Papa! Kamu tahu seberapa penting keluarga Ratna bagi bisnis kita? Cepat pulang!” bentak Pak Surya sebelum mematikan sambungan telepon secara sepihak.

Aku menarik nafas panjang, mencoba menguasai amarah yang mulai membakar seluruh kesadaranku. Kupandangi amplop cokelat tebal yang tergeletak pasrah di atas meja. Dengan perlahan, kutenagakan jemariku untuk merobek segel amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat dua lembar kertas tebal. Lembar pertama adalah surat hasil tes DNA resmi dari Laboratorium Klinik Medis Internasional Jakarta. Mataku menyisir baris demi baris angka-angka medis yang tertera di sana, hingga mataku tertuju pada kesimpulan akhir di bagian bawah:

Probabilitas Ayah Biologis antara Aditya Perkasa dan Rizky Pratama adalah 99,99%. Dinyatakan Identik.

“Ya Allah… Astaga…” pekikku tertahan. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya pecah menetes membasahi lembaran kertas bernilai sejarah itu. Rizky… anak laki-laki berusia enam tahun dengan mata dan senyum yang mirip denganku itu adalah darah dagingku sendiri! Anak kandungku!

Dengan dada yang makin sesak, aku mengambil lembar kertas kedua. Sebuah surat bertuliskan tangan dengan tinta hitam yang rapi. Tulisan tangan Indah. Setiap kata yang terukir di sana seolah menjadi sembilu yang menyayat jantungku tanpa ampun.

Untuk Aditya, pria yang pernah menjadi seluruh semestaku…

Jika kamu membaca surat ini, berarti takdir telah mempertemukan kita kembali di malam reuni itu. Maafkan aku, Aditya. Maafkan aku yang memilih kabur dan menghilang dari hidupmu tujuh tahun yang lalu tanpa sepatah kata pun penjelasan.

Seminggu sebelum hari wisuda kuliah kita, aku mendapati diriku sedang mengandung buah cinta kita. Hari itu, aku sangat bahagia. Aku bermimpi akan memberikan kejutan terindah untukmu di hari wisudamu. Namun, impian sederhana kita ternyata menjadi ancaman besar bagi keluarga muliamu.

Sore itu, saat aku sedang berada di rumah kontrakan Tebet, dua buah mobil mewah berhenti di depan pintu. Ayahmu, Pak Surya, datang bersama seorang perempuan muda bernama Ratna. Mereka tidak datang untuk memberikan restu, melainkan membawa teror yang menghancurkan seluruh duniaku.

Ayahmu memberitahuku bahwa perusahaan keluarga Perkasa sedang berada di ambang kebangkrutan total akibat kegagalan proyek properti puluhan miliar Rupiah. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan keluargamu dari kehancuran dan penjara adalah dengan menjodohkanmu dengan Ratna, putri tunggal pengusaha kaya raya Pak Tirta.

Saat aku menolak dan mempertahankan janin di kandunganku, ayahmu berdiri dan menatapku dengan tatapan penuh kebencian. Dia mengancamku dengan sangat kejam. Jika aku tidak menghilang malam itu juga, ayahmu akan menyuruh orang untuk menjebakmu dalam kasus peredaran obat-obatan terlarang. Dia bersumpah akan memenjarakanmu dan menghancurkan seluruh masa depan kariermu sebelum kamu sempat memakai toga wisuda.

Ratna bahkan melemparkan selembar cek bernilai lima ratus juta Rupiah ke wajahku sambil berkata bahwa rakyat jelata sepertiku tidak pantas bersanding dengan calon pewaris tahta bisnis Perkasa Group. Aku menolak uang haram itu, Aditya. Aku tidak sudi menjual cintaku demi Rupiah.

Namun, demi keselamatanmu, demi masa depanmu yang sangat cerah, aku terpaksa mengalah. Malam itu juga, dengan membawa satu tas pakaian kecil dan janin yang baru berusia dua bulan di dalam perutku, aku pergi meninggalkan Jakarta. Aku menumpang bus malam menuju sebuah desa kecil di Yogyakarta, tempat tinggal almarhumah nenekku.

Di sana, dalam kesendirian dan kemiskinan, aku melahirkan Rizky. Aku membesarkannya sendirian dengan berjualan kain batik tulis buatan tangan. Setiap kali melihat wajah Rizky, aku melihat dirimu. Dan setiap malam, aku berdoa agar Tuhan selalu melindungimu, meskipun kamu sudah menjadi milik orang lain…

“Kurang ajar! Demi Tuhan, ini benar-benar biadab!” teriakku histeris di dalam ruang kerja kantor yang sepi. Aku memukul meja mahoni di depanku hingga jemariku memar dan terasa panas.

Darahku mendidih hebat. Selama tujuh tahun aku hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah, mengira Indah meninggalkanku karena tidak lagi mencintaiku. Selama lima tahun aku berpura-pura bahagia menikahi Ratna, berusaha menjadi suami yang baik dan menurut pada setiap perintah Pak Surya. Ternyata, seluruh hidupku adalah sebuah panggung sandiwara megah yang dibangun di atas penderitaan wanita yang paling kucintai!

Tanpa berpikir panjang, aku menyambar kunci mobil dan berkas-berkas tersebut. Aku berlari menembus hujan deras yang mengguyur ibu kota menuju mobilku. Alamat pengirim paket yang tertera di resi pengiriman adalah sebuah rumah kontrakan kecil di kawasan pemukiman padat Tebet, Jakarta Selatan. Tampaknya Indah sedang menginap sementara di sana sebelum kembali ke Yogyakarta.

Kutancap gas mobilku gila-gilaan menembus kemacetan malam Jakarta. Hujan lebat membasahi kaca depan, seakan mewakili air mata penyesalan yang meluap dari dalam jiwaku.

Satu jam kemudian, aku berdiri di depan sebuah pintu rumah kontrakan kayu bersederhana di lorong sempit Tebet. Dengupan jantungku makin liar. Aku mengetuk pintu kayu itu dengan tangan gemetar.

Pintu perlahan terbuka. Sosok Indah berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian batik lusuh. Begitu melihatku berdiri basah kuyup dengan mata memerah, Indah terpaku.

“Aditya…” bisiknya gemetar.

Tanpa membuang waktu, aku langsung berlutut di atas lantai semen yang dingin di depan kakinya. Aku menangis sejadi-jadinya, menggenggam erat kedua tangannya yang terasa kasar akibat kerja keras.

“Maafkan aku, Indah… Demi Allah, maafkan aku!” raungku dengan suara serak menahan kepedihan. “Tujuh tahun aku hidup seperti orang bodoh! Aku tidak tahu kalau Ayah dan Ratna telah bertindak sekejam itu padamu! Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”

Indah ikut berlutut, memeluk kepalaku dengan kehangatan yang sangat kurindukan selama tujuh tahun ini. Air matanya menetes di bahuku yang basah. “Aku tidak ingin merusak hidupmu, Aditya. Dulu kamu punya masa depan yang sangat panjang…”

Tiba-tiba, sebuah suara mungil terdengar dari balik pintu kamar. Rizky keluar sambil memegang sebuah mobil-mobilan kayu sederhana. Anak laki-laki itu menatapku dengan mata bulatnya yang jernih.

Aku bangkit dan perlahan mendekati anak itu. Kutatap wajahnya yang begitu mirip denganku. Kusejajarkan posisiku dengannya, lalu merengkuh tubuh mungilnya ke dalam pelukanku. “Rizky… ini Bapak, Nak. Ini Bapak…” bisikku terisak.

Rizky tidak menolak. Jemari kecilnya mengelus punggungku lembut. “Ibu sering cerita soal Bapak. Ibu bilang Bapak adalah orang yang sangat baik,” cicit Rizky polos yang makin meremukkan hatiku.

Setengah jam kemudian, dengan amarah yang sudah mencapai puncak gunung berapi, aku meninggalkan kontrakan Indah setelah berjanji akan menyelesaikan semuanya malam ini juga. Aku membawa seluruh berkas bukti, buku harian, dan hasil tes DNA menuju rumah mewah keluarga Perkasa di kawasan elit Menteng.

Mobilku berhenti di depan pagar besi menjulang tinggi. Aku melangkah masuk ke dalam rumah megah berdinding marmer itu dengan pakaian yang masih setengah basah.

Di ruang makan utama yang diterangi lampu kristal seharga ratusan juta Rupiah, suasana hangat tampak terpancar. Pak Surya sedang tertawa lebar bersama Pak Tirta, sementara Ratna sedang menuangkan teh hangat di sebelah ibunya. Di meja makan tersaji hidangan mewah mulai dari sate khas Madura hingga nasi goreng kepiting.

Langkah kakiku yang berat berdentum keras di atas lantai marmer, mengejutkan semua orang yang ada di meja makan.

“Aditya! Kamu ini kenapa datang basah kuyup seperti ini? Tidak sopan sekali di depan Pak Tirta!” bentak Pak Surya seraya berdiri dengan wajah memerah.

Ratna ikut berdiri sambil tersenyum manis yang kini tampak sangat menjijikkan di mataku. “Mas Aditya, kamu dari mana saja? Ayo duduk, kita makan sate bersama…”

“DIAM!” teriakku menggema ke seluruh penjuru ruangan.

Suasana seketika hening mencekam. Pak Tirta dan istrinya terperanjat kaget melihat reaksimu.

Dengan tangan yang gemetar menahan murka, aku melangkah mendekati meja makan. Kubuka tas berkas dan melemparkan buku harian tua, surat ancaman, serta kertas hasil tes DNA tepat ke atas piring porselen mahal di depan Pak Surya dan Ratna.

BRAK!

“Buka dan baca itu semua!” geramku dengan suara bergetar berat.

Wajah Pak Surya seketika berubah pucat pasi saat melihat sampul buku harian tua yang sangat dikenalnya. Ratna dengan tangan gemetar mengambil lembar tes DNA dan surat pernyataan Indah. Dalam hitungan detik, warna merah di wajah Ratna memudar, berganti dengan kepucatan bagaikan mayat.

“Apa-apaan ini, Aditya?!” bentak Pak Surya mencoba mempertahankan wibawanya, meskipun matanya memancarkan kepanikan luar biasa.

“Tujuh tahun!” teriakku seraya menunjuk wajah ayah kandungku sendiri. “Tujuh tahun Papa membual soal kehormatan keluarga! Tujuh tahun Papa dan Ratna menghancurkan hidup seorang perempuan tidak berdosa dan mengusirnya bagaikan sampah! Papa mengancam akan memenjarakanku jika Indah tidak pergi! Apakah Papa masih pantas kusebut sebagai seorang Ayah?!”

Pak Tirta yang bingung segera mengambil lembaran surat tersebut dan membacanya. Matanya melotot tajam menatap putrinya. “Ratna! Apa arti semua ini?! Kamu dan Pak Surya melakukan ancaman keji seperti ini demi pernikahan kalian?!”

Ratna mulai menangis histeris. Dia berlutut mencoba memegang tanganku. “Mas Aditya, tolong dengarkan aku! Demi Tuhan, aku melakukan semua itu karena aku sangat mencintaimu! Aku tidak mau kehilangan kamu!”

“Jangan pernah sebut nama Tuhan dari mulut manismu yang penuh bisa busuk itu, Ratna!” tembakku dingin, menepis tangannya hingga dia terjatuh ke lantai marmer. “Malam ini juga, detik ini juga, hubungan kita berakhir! Aku akan mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama besok pagi!”

“Aditya! Jangan bertindak bodoh!” teriak Pak Surya sambil memukul meja hingga gelas air bergetar. “Jika kamu menceraikan Ratna, investasi lima puluh miliar dari Pak Tirta akan batal! Perusahaan kita akan hancur! Papa melakukan semua ini demi masa depanmu, demi kekayaan keluarga kita!”

“Kekayaan yang dibangun di atas penderitaan darah dagingku sendiri adalah sampah!” balasku menusuk. “Aku tidak butuh harta harammu, Pa! Mulai malam ini, hapus namaku dari silsilah keluarga Perkasa! Aku keluar dari perusahaan dan dari rumah ini!”

Melihat seluruh rencananya hancur berantakan dan pengakuannya terbongkar di depan sang ayah, Ratna yang tersudut tiba-tiba tertawa tertahan. Tawa serak yang berubah menjadi jeritan histeris menakutkan. Dia bangkit berdiri, menyapu air matanya kasar, lalu menatapku dengan pandangan penuh dendam yang membara.

“Kamu merasa paling suci dan paling menjadi korban di sini, Aditya?!” jerit Ratna melengking, membuat seluruh pelayan di dapur bergidik ketakutan. “Kamu pikir kamu pria paling malang karena dikelabui selama tujuh tahun?!”

Aku menatapnya dengan tatapan sharp tak bergeming. “Apa maksudmu?”

Ratna maju satu langkah, tersenyum sinis dengan derai air mata yang masih mengalir di pipinya. “Kamu bangga sekali mengagungkan putri kecil kita, Maya? Kamu pikir Maya adalah buah cinta suci dari pernikahan yang kamu jalani selama lima tahun ini?!”

Suasana ruang makan seketika membeku. Pak Surya dan Pak Tirta menatap Ratna dengan raut wajah penuh keraguan.

“Ratna! Bicara apa kamu?!” bentak Pak Tirta keras.

Ratna tidak peduli. Matanya tetap terkunci padaku, menyemburkan fakta beracun yang paling mematikan. “Lima tahun lalu, sebelum ayahmu mendatangi keluargaku untuk menjodohkan kita, aku sudah hamil dua bulan dengan mantan kekasihku yang melarikan diri ke luar negeri! Dan tahu siapa yang tahu rahasia busuk itu duluan? Ayah kandungmu sendiri, Pak Surya!”

Bagaikan disambar petir di siang bolong, dadaku serasa dihantam godam raksasa. Aku menoleh perlahan menatap Pak Surya yang kini tertunduk dengan tubuh gemetar hebat.

“Papa… tahu soal itu?” bisikku dengan suara yang hampir kehilangan daya.

Ratna tertawa puas melihat kehancuranku. “Ya! Ayahmu tahu aku sedang mengandung anak pria lain! Tapi demi mendapatkan suntikan dana segar dari ayahku untuk menyelamatkan Perkasa Group, ayahmu menutup mata! Dia memanfaatkan kehamilanku untuk memaksa pernikahan kita, menjadikanmu sebagai ayah pengganti dari anak haram yang kubawa! Maya bukan darah dagingmu, Aditya! Maya adalah anak dari pria lain!”

Pak Tirta terduduk lemas di kursinya, tidak menyangka putri kandungnya dan rekan bisnisnya telah melakukan kebohongan sebesar itu.

Aku berdiri mematung di tengah ruangan megah yang kini terasa seperti neraka jahanam. Seluruh pilar hidupku runtuh seketika. Pernikahan lima tahun yang kujalani, kasih sayang yang kucurahkan untuk Maya, serta pengorbanan yang kuberikan untuk keluarga… semuanya hanyalah sebuah panggung kebohongan yang dirancang oleh ayah kandungku dan wanita penipu di depanku.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, aku memutar badan. Aku melangkah keluar dari rumah megah itu, meninggalkan teriakan histeris Ratna, caci maki Pak Tirta kepada Pak Surya, dan runtuhnya kerajaan bisnis Perkasa Group yang hancur dalam semalam.

Hujan malam Jakarta perlahan mulai mereda saat aku memacu mobilku kembali menuju kontrakan sempit di Tebet. Beban berat yang bertahun-tahun mengikat jiwaku kini menguap, berganti dengan rasa lega yang tak ternilai. Aku melepaskan seluruh jabatan direktur, membuang semua fasilitas mewah, dan memilih kembali menjadi manusia biasa yang jujur.

Di kontrakan sederhana itu, Indah sedang duduk di kursi kayu menungguku sambil memeluk Rizky yang telah tertidur lelap. Begitu melihatku datang dengan wajah yang tenang, Indah tersenyum lembut.

Aku mendekatinya, berlutut di samping kursinya, dan menggenggam erat kedua tangannya. “Semuanya sudah berakhir, Indah. Aku sudah meninggalkan masa lalu kelam itu. Mulai besok, aku, kamu, dan Rizky akan memulai hidup baru dari nol di Bandung. Kita akan membesarkan Rizky bersama-sama…”

Indah mengelus pipiku dengan lembut. Air mata bahagia menetes dari sudut matanya, namun ada duka mendalam yang terpancar dari kedalaman iris matanya.

Dia perlahan merogoh saku kain batiknya, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih kecil berlogo Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dan menyelinapkannya ke telapak tanganku.

Aku membuka lembaran diagnosa medis tertanggal kemarin itu dengan dahi berkerut, lalu membacanya perlahan hingga seluruh duniaku kembali runtuh saat mendapati vonis kanker stadium akhir yang diidap Indah dengan sisa usia tak lebih dari tiga minggu.

Indah berbisik lirih sambil mengusap air mataku yang menetes, “Aku membawakan Rizky kepadamu di malam reuni itu… bukan untuk merebut kembali cintamu, Aditya… tapi agar putra tunggal kita tidak sebatang kara saat aku berpulang ke Rahmatullah…”