Berpura-pura Bangkrut, Seorang Jutawan TKI Pulang ke Kampung untuk Menguji Kesetiaan Istrinya


“Sayang… jangan kaget. Aku sudah tidak punya tabungan lagi.”

Seolah senyum Elena langsung menghilang ketika mendengar perkataan suaminya, Marco, di area kedatangan bandara.

Sudah tujuh tahun mereka tidak hidup bersama dalam waktu yang lama.

Selama tujuh tahun itu juga Marco bekerja sebagai TKI di Qatar.

Dan sekarang, di hari yang paling dinantikan oleh seluruh keluarga, dia hanya membawa sebuah ransel tua.

Tidak ada banyak kardus oleh-oleh.

Tidak ada koper baru.

Polo yang dipakainya sederhana.

Sepatunya sudah lusuh.

Dan wajahnya terlihat sangat lelah.

“Apa maksudmu sudah tidak punya apa-apa?” tanya Elena.

Marco menunduk.

“Aku investasikan tabungan kita. Tapi gagal. Rugi.”

Istrinya terdiam.

“Uang pesangon juga?”

“Sudah tidak ada.”

“Berapa yang tersisa?”

Marco pura-pura terlihat malu untuk menjawab.

“Sekitar 12 juta rupiah.”

Elena tidak mengatakan apa pun.

Dan selama beberapa detik, Marco merasa seolah dunia berhenti berputar.

Inilah saat yang selama ini dia takutkan.

Namun Elena tidak tahu bahwa semua itu hanyalah kebohongan besar.

Karena kenyataannya, Marco sama sekali tidak bangkrut.

Dia juga tidak pulang sebagai orang miskin.

Dia memiliki tabungan dan investasi senilai lebih dari 16 miliar rupiah.

Dia bahkan memiliki saham di sebuah perusahaan pemasok material konstruksi yang dibangun bersama dua temannya saat bekerja di luar negeri.

Dia berpura-pura tidak punya uang karena ingin mengetahui satu hal:

Jika uangnya hilang, apakah istrinya, Elena, masih akan tetap bersamanya?

Saat Marco pergi ke Qatar, usianya baru 29 tahun.

Sedangkan Elena berusia 26 tahun.

Mereka memiliki seorang anak berusia dua tahun bernama Joshua.

Saat itu kehidupan mereka sangat sulit.

Menyewa rumah.

Memiliki utang rumah sakit.

Dan terkadang harus meminjam uang hanya untuk membayar listrik.

Karena itu, ketika Marco mendapatkan kesempatan bekerja di Qatar, dia tidak punya pilihan lain.

“Hanya tiga tahun,” janjinya saat itu.

Namun berubah menjadi lima tahun.

Lalu tujuh tahun.

Selama bekerja di luar negeri, karier Marco berkembang dengan baik.

Dia dipromosikan menjadi pengawas proyek.

Mulai memiliki investasi sampingan.

Dan hampir setiap bulan, dia mengirimkan uang sekitar 6 juta hingga 8 juta rupiah.

Namun semakin lama, dia mulai menyadari bahwa pengeluaran di Indonesia juga semakin bertambah.

Ada peralatan rumah tangga baru.

Ada motor baru untuk adik Elena.

Ada acara keluarga yang dia biayai meskipun dia tidak berada di sana.

Ada juga kerabat yang langsung mengirim pesan:

“Mas Marco, boleh pinjam uang?”

Terkadang dia merasa dirinya bukan dianggap sebagai suami.

Melainkan seperti ATM.

Lalu suatu hari, temannya yang bernama Ramon berkata kepadanya:

“Bro, sulit mengetahui siapa yang benar-benar mencintaimu ketika kamu selalu menjadi orang yang memberi.”

“Apa maksudmu?”

“Coba pulang tanpa membawa uang.”

Marco tertawa saat itu.

“Hidupku bukan film.”

Namun ide itu terus terbayang di pikirannya.

Terutama setelah suatu hari adik iparnya, Cherry, berkata saat video call:

“Untung saja Kak Marco suamimu, Kak. Kalau dia hanya pria biasa, mungkin kalian masih hidup susah sampai sekarang.”

Saat itu Elena hanya tersenyum.

Namun dia tidak menjawab perkataan adiknya.

Dan bagi Marco, diamnya Elena terasa seperti duri kecil yang terus menusuk hatinya.

 

Có thể là hình ảnh về một hoặc nhiều người

 

 

Angin malam Terminal 3 Soekarno-Hatta berembus membawa bau aspal basah dan knalpot bus. Taksi online yang mereka pesan melaju dalam keheningan yang tebal. Di jok belakang, Elena melipat tangan di dada, pandangannya terkunci pada lampu-lampu jalan tol yang berkejaran di luar jendela. Tidak ada sapaan hangat. Tidak ada pelukan rindu yang meledak-ledak seperti di sinetron siang hari. Yang ada hanya suara gesekan ban mobil dengan jalan dan deru AC yang terlalu dingin.

Dua belas juta rupiah.

Angka itu menggantung di udara kepala Elena seperti awan badai kecil. Tujuh tahun. Delapan puluh empat bulan. Ribuan jam di mana Marco melewatkan ulang tahun Joshua, kematian kakeknya, dan dinding rumah yang dicat ulang dua kali tanpa bantuannya. Hasil akhirnya adalah dompet tipis dan ransel dekil.

“Kamu serius?” tanya Elena sekali lagi, suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara mesin mobil.

Marco menoleh. Wajahnya disamarkan oleh temaram lampu kota. “Mau gimana lagi, Sayang. Proyek di Doha kemarin kolaps. Partner lokal lari membawa semua aset. Aku beruntung masih bisa nyelipin uang segitu buat tiket pulang.”

Kebohongan itu keluar begitu saja dari lidahnya. Lancar. Terlalu lancar, hingga perut Marco sendiri terasa mulas. Ada rasa bersalah yang menusuk, tapi rasa penasaran jauh lebih besar. Selama ini, setiap kali dia menelepon, nada suara Elena selalu meninggi setiap kali membicarakan cicilan motor adiknya atau arisan keluarga. Apakah cinta yang dibangun dari jarak ribuan kilometer itu beralaskan rekening bank? Atau ada sisa-sisa manusia di dalamnya?

Sesampainya di rumah kontrakan di pinggiran Bekasi—rumah yang dibayar lunas dari hasil keringatnya tiga tahun lalu, tapi diagungkan seolah-olah itu mukjizat—suasana terasa sunyi. Joshua, yang kini sudah kelas tiga SD, tidur melingkar di sofa ruang depan, memeluk robot mainan plastik murah. Anak itu tidak mengenali ayahnya pada pandangan pertama tadi sore di bandara. Tidak ada teriakan gembira. Hanya tatapan bingung dari mata anak kecil yang terbiasa melihat ayahnya lewat layar kaca ponsel berukuran lima inci.

Malam itu, Marco tidur menghadap tembok. Punggungnya kaku. Di saku celana jins lamanya yang digantung di belakang pintu, ponsel pintar mewahnya mati total karena disengaja. Di dalam benda itu tersimpan aplikasi perbankan dengan saldo yang bisa membeli tiga rumah di kompleks ini sekaligus. Tapi di sini, di bawah kipas angin gantung yang berdecit malas, dia adalah seorang pengangguran yang gagal.

Pagi datang membawa bau masakan gosong dari dapur sebelah.

Cherry, adik perempuan Elena, datang pukul sembilan tanpa diundang. Perempuan berambut dicat pirang kecokelatan itu langsung nyelonong masuk, membawa kantong pelastik berisi buah jeruk nipis. Matanya langsung menyapu ruangan, mencari koper besar, kardus-kardus kardigan bermerek, atau kotak parfum impor yang biasanya dibawa para TKI pulang kampung.

Yang dia temukan hanya Marco yang sedang duduk di lantai, memperbaiki engsel pintu dapur yang copot dengan obeng karat.

“Loh, Mas Marco sudah beres bongkar barang?” tanya Cherry, suaranya melengking. “Mana oleh-oleh buat ponakanmu di kampung? Katanya mau dibeliin sepatu bola original.”

Marco mengelap keringat di dahi dengan punggung tangan. “Nggak ada, Cher. Bagasi kemarin kena denda. Barangnya tertinggal di Doha.”

Cherry tertegun. Alisnya yang disulam rapi berkerut tajam. Dia melirik kakaknya yang sedang menyapu lantai dengan sapu ijuk usang. Wajah Elena pucat, bibirnya terkatup rapat.

“Tertinggal?” Cherry mengulang, nada suaranya naik satu oktaf. “Tujuh tahun di luar negeri, pulangnya cuma bawa ransel? Jangan bercanda, Mas. Suami tetangga sebelah aja yang cuma dua tahun jadi kuli kebun di Malaysia bisa bawa pulang motor matik baru sama renovasi dapur.”

“Beneran, Cher,” potong Marco datar, sengaja memasang ekspresi memelas yang menyedihkan. “Uangnya habis buat nutup utang perusahaan. Aku malah nombok.”

Elena berhenti menyapu. Batang sapu itu digenggamnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tidak membela Marco. Dia juga tidak memarahi Marco. Dia hanya diam, berjalan menuju dapur, dan membanting panci aluminium ke atas kompor dengan suara berdenting nyaring.

Itu reaksi pertama yang nyata dari istrinya. Bukan kemarahan karena suaminya celaka atau tertimpa musibah, melainkan kekecewaan yang berwujud suara logam beradu.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti neraka yang lambat.

Berita bahwa Marco pulang dalam keadaan bangkrut menyebar di antara kerabat seperti bau bangkai tikus di loteng. Telepon genggam Elena yang biasanya berdering riuh oleh pesan minta tolong pinjam uang atau patungan acara keluarga mendadak sunyi. Paman-paman yang dulunya sering memanggil Marco dengan sebutan “Bos Besar Doha” kini mengalihkan pandangan setiap kali tak sengaja berpapasan di jalan kampung.

Bahkan Cherry sempat terang-terangan berkata di depan muka Marco saat makan siang, “Makanya, Mbak El, dari dulu aku bilang, jangan terlalu ngarep sama buruh tambang atau konstruksi. Kerjanya untung-untungan. Coba kalau dulu Mbak El nikah sama mantannya yang PNS itu, hidup kita nggak bakal ikut susah.”

Elena menunduk. Dia sedang menyuapi Joshua saat itu. Sendok di tangannya berhenti di udara.

Marco mengepalkan tangan di bawah meja. Urat-urat di lengannya menonjol. Ingin sekali dia melempar kartu debit prioritasnya ke muka iparnya yang cerewet itu. Ingin sekali dia berteriak bahwa rumah ini, mobil Avanza tetangga yang sering dipinjam paman mereka, dan uang sekolah swasta Joshua selama ini dibayar dari rekening rahasianya di luar negeri.

Tapi dia menahannya. Dia ingin melihat batas akhir dari kesabaran Elena.

Sebab di situlah inti dari permainan bodoh ini.

Seminggu berlalu. Tekanan psikologis di rumah itu semakin pekat. Elena tidak pernah lagi tersenyum. Setiap kali Marco mendekat untuk membantu mencuci piring atau merapikan meja, Elena selalu mengelak dengan alasan sibuk menjahit pakaian pesanan tetangga. Perempuan itu kembali mengambil pekerjaan sebagai buruh jahit rumahan—pekerjaan yang ditinggalkannya lima tahun lalu saat kiriman uang dari Qatar mulai deras mengalir.

Puncaknya terjadi pada malam jumat.

Hujan deras mengguyur Bekasi. Genting rumah tua itu bocor di beberapa titik, menghasilkan tetesan air yang jatuh tepat di atas tumpukan koran bekas di sudut ruang tamu.

Marco duduk di lantai, memegang baskom plastik untuk menampung air tetesan.

Elena keluar dari kamar tidur dengan wajah kusut. Matanya bengkak, sepertinya habis menangis diam-diam di balik pintu. Dia melemparkan dompet kulit usang milik Marco ke pangkuan suaminya.

“Uang dua belas juta itu tinggal berapa sekarang?” tanya Elena dingin.

Marco mendongak. “Tinggal… sekitar sembilan juta. Buat bayar listrik sama beras kemarin.”

“Besok ibu minta uang iuran pengajian bulanan lima puluh ribu. Aku nggak punya,” suara Elena gemetar, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang tertahan di tenggorokan. “Dan SPP Joshua nunggak dua bulan. Kepala sekolah tadi sore kirim pesan lewat WhatsApp.”

Marco terdiam. Dia menatap istrinya lekat-lekat. Di bawah cahaya lampu neon lima belas watt yang berkelip-kelip, wajah Elena tampak jauh lebih tua dari usianya yang baru kepala tiga. Ada kerutan halus di sudut matanya—garis-garis yang dibentuk oleh malam-malam panjang menunggu kabar, mengurus anak sendirian, dan menanggung malu di hadapan keluarga besar.

“El,” panggil Marco pelan. “Kalau seandainya… aku nggak bakal bisa bangkit lagi gimana? Kalau kita harus hidup pas-pasan begini terus selamanya?”

Elena menatapnya tajam. Kilatan di mata perempuan itu bukan kemarahan biasa, melainkan keputusasaan yang sudah sampai di ujung tanduk.

“Kamu pikir aku peduli sama uangnya, Marco?” suaranya pecah. Air mata yang selama seminggu ditahannya akhirnya tumpah juga, mengalir begitu saja melewati pipinya yang tirus. “Tujuh tahun! Tujuh tahun aku pura-pura kuat di depan tetangga. Aku senyum-senyum sendiri pas orang bilang suamiku sukses di luar negeri, padahal aku tidur sendiri setiap malam! Aku urus anak sakit sendirian tengah malam tanpa ada laki-laki di sampingku!”

Marco tertegun. Napasnya tercekat.

“Dan sekarang kamu pulang… tanpa apa-apa? Tanpa penjelasan yang masuk akal? Kamu pikir aku marah karena kita miskin? Nggak, Marco! Aku marah karena aku merasa dibodohi! Aku capek jadi topeng kesuksesan buat keluarga kita!”

Elena jatuh bersimpuh di lantai, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisannya bukan tangisan penyesalan materi, melainkan tangisan kelelahan jiwa yang paling dasar.

Melihat pemandangan itu, dinding kebohongan yang dibangun Marco selama seminggu runtuh seketika. Rasanya seperti ditonjok tepat di ulu hati. Selama ini dia mengira Elena adalah perempuan yang silau oleh kilau mata uang Riyal Qatar. Dia menyangka istrinya hanya mencintai dompetnya, bukan orangnya.

Tapi malam ini, di lantai rumah yang bocor, di tengah bau tanah basah dan suara air hujan, Marco menyadari kebodohannya sendiri.

Bukan Elena yang berubah menjadi monster materialistis. Lingkungannyalah—keluarganya, iparnya, tetangganya, dan ekspektasi sosial yang diciptakan oleh uang kirimannya sendiri—yang mengubah rumah tangga mereka menjadi panggung sandiwara. Dan dia, dengan segala kecurigaannya yang kekanak-kanakan, justru memperparah luka itu.

Marco merangkak maju. Dia tidak lagi peduli pada eksperimen bodohnya. Dia menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan.

Elena sempat meronta, memukul dada suaminya dengan kepalan tangan kecilnya. “Lepasin! Lepasin! Kamu tahu nggak betapa malunya aku tadi siang pas ditagih utang warung?”

“Maafin aku, El… maafin aku,” bisik Marco, suaranya parau, air matanya sendiri ikut menetes di rambut istrinya.

“Lepas, bodoh!”

“Aku bohong.”

Kalimat itu meluncur begitu saja.

Tangisan Elena mendadak terhenti. Perempuan itu mendorong dada suaminya, menatap wajah Marco dengan mata merah dan napas tersengal. “Apa maksudmu?”

Marco mengambil napas dalam-dalam. Tangannya merogoh saku jaket parasut kumuh yang tersampir di sandaran kursi. Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal—bukan amplop berisi uang tunai, melainkan dokumen-dokumen penting yang selama ini disembunyikannya di dalam tas lapis ganda.

“Aku nggak bangkrut, El,” kata Marco lirih, menatap lurus ke dalam mata istrinya yang kebingungan. “Proyek di Doha nggak kolaps. Uang kita nggak hilang.”

Elena terpaku. Otaknya seolah menolak mencerna kalimat itu. “Kamu… kamu ngomong apa sih?”

Marco membuka dokumen tersebut. Di dalamnya tertera lembar portofolio investasi, sertifikat kepemilikan saham di perusahaan konstruksi lokal Qatar atas namanya, dan buku tabungan dengan deretan angka nol yang membuat siapa pun yang melihatnya akan terpekik. Totalnya lebih dari enam belas miliar rupiah. Belum termasuk aset tanah di kota kabupaten sebelah.

“Tujuh tahun aku kerja, El. Aku banting tulang bukan cuma buat foya-foya. Aku sengaja nabung sebanyak itu supaya kita bisa pensiun muda, beli rumah impian, dan nggak perlu merantau lagi,” suara Marco bergetar hebat. “Tapi… tapi aku denger omongan Cherry waktu itu. Aku denger orang-orang ngeliat aku kayak mesin ATM. Aku takut… aku takut kamu juga mandang aku cuma sebelah mata.”

Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Hujan di luar seolah mengecil, menyisakan suara tetesan air di baskom plastik.

Elena menatap lembaran kertas di tangan suaminya. Dia membaca angka-angka itu berulang kali. Bukan dengan mata berbinar-binar kegirangan seperti orang yang mendapat durian runtuh. Tidak. Wajahnya justru semakin pucat, lalu berangsur-angsur berubah menjadi kemarahan yang jauh lebih dingin dari sebelumnya.

“Jadi…” suara Elena berbisik, sangat pelan, tapi menusuk jantung Marco. “Selama seminggu ini… kamu sengaja?”

Marco menelan ludah. Dia tidak bisa menjawab.

“Kamu sengaja bikin aku stres setengah mati?” Elena melanjutkan, suaranya mulai naik, mencerminkan ketidakpercayaan yang luar biasa. “Kamu sengaja bikin aku nangis semalaman mikirin bayar sekolah anak? Kamu sengaja bikin aku dilecehin sama adikku sendiri karena dianggap nggak punya apa-apa?!”

“El, aku cuma…”

“Kamu nguji aku?!” teriak Elena, air matanya kembali tumpah, kali ini bukan karena sedih, melainkan karena harga dirinya diinjak-injak oleh sandiwara suaminya sendiri. “Kamu pikir hidupku ini film detektif, Marco?! Kamu pikir aku mainan yang bisa kamu tes kesetiaannya sesuka hatimu sesudah kamu tinggal merantau bertahun-tahun?!”

Elena berdiri dengan sisa tenaganya. Dia menepis tangan Marco yang hendak menyentuhnya.

“Keluar.”

“El…”

“Aku bilang keluar dari kamar ini!” bentak Elena, suaranya mengguncang dinding rumah. Joshua yang tertidur di sofa terjaga kaget, lalu menangis histeris memanggil ibunya.

Malam itu, Marco tidak tidur di kamar. Dia duduk di teras depan rumahnya sendiri, ditemani nyamuk dan udara dingin sisa hujan, sementara pintu kamar terkunci rapat dari dalam.

Pelajaran paling mahal dalam hidupnya akhirnya diterima: kecurigaan yang dibungkus dengan alasan “menguji cinta” adalah cara tercepat untuk menghancurkan apa yang sedang kita coba lindungi.

Tiga minggu berlalu seperti hukuman mati yang berjalan lambat.

Elena tidak berbicara sepatah kata pun kepada Marco selama sepuluh hari pertama. Komunikasi mereka hanya sebatas kebutuhan anak: menyerahkan piring makanan di atas meja tanpa menatap mata, atau menulis pesan singkat di kertas jika ada urusan penting.

Keluarga besar sempat mencium gelagat aneh. Cherry sempat datang membawa gosip bahwa Marco terlihat mengambil uang di ATM bank swasta dengan nominal besar, tapi Elena langsung memotong pembicaraan itu dengan dingin dan menyuruh adiknya pulang.

Marco tidak melawan. Dia menerima setiap tatapan tajam dan sikap dingin istrinya sebagai konsekuensi logis dari kebodohannya. Dia mulai memperbaiki atap rumah yang bocor dengan tangannya sendiri. Dia mengantar Joshua sekolah setiap pagi menggunakan motor matik lama. Dia memasak air, menyapu halaman, dan mencuci pakaiannya sendiri tanpa meminta bantuan Elena.

Hingga suatu sore di akhir bulan, saat matahari tenggelam di ufuk barat menyisakan langit berwarna jingga keemasan, Elena duduk di teras belakang, memandangi tanaman cabai di pot kecil yang hampir mati karena kurang disiram.

Marco mendekat perlahan, membawa dua cangkir teh manis hangat. Dia meletakkan satu cangkir di sebelah tangan istrinya, lalu duduk berjarak dua meter di bangku kayu.

Tidak ada yang bicara selama beberapa menit.

“Aku sudah urus pemindahan seluruh rekening dan aset ke bank lokal atas nama kita berdua,” kata Marco akhirnya, suaranya rendah dan datar. “Dan aku nggak bakal balik lagi ke Qatar. Kontrakku sudah habis, dan aku nggak akan perpanjang.”

Elena menoleh pelan. Matanya menyapu wajah suaminya—kumis tipis yang mulai memutih di pelipis, guratan lelah di bawah mata, dan pundak yang tidak lagi setegak tujuh tahun lalu.

“Kenapa baru sekarang?” tanya Elena, suaranya sudah tidak setajam tiga minggu lalu. Hanya menyisakan kelelahan yang dalam.

“Karena aku baru sadar,” jawab Marco jujur, menatap lurus ke depan. “Selama ini aku terlalu sibuk membuktikan diri sebagai pencari nafkah, sampai aku lupa cara jadi suami. Aku ngirim uang banyak bukan karena sayang sama kalian, tapi demi menenangkan rasa bersalahku karena meninggalkan kalian. Dan ketika aku pulang, aku malah bawa ego yang lebih besar dari koperku.”

Elena terdiam. Dia menyeruput teh hangat itu sedikit. Hangatnya menjalar ke kerongkongannya.

“Aku capek, Marco,” bisik Elena lirih. “Rumah ini bukan bank. Dan aku bukan nasabah yang butuh diaudit kesetiaannya setiap kali suaminya pulang.”

“Aku tahu. Dan aku minta maaf. Aku nggak bakal minta kamu langsung maafin aku hari ini, atau besok. Tapi aku bakal di sini. Beneran di sini. Bukan cuma ngirim angka-angka lewat aplikasi ponsel.”

Angin sore berembus pelan, menggoyangkan daun-daun mangga di samping halaman.

Joshua tiba-tiba berlari keluar dari dalam rumah, membawa bola plastik merah sambil berteriak, “Ayah! Kata Ibu, ayo temenin aku main bola di lapangan depan sebelum magrib!”

Marco tertegun sejenak, lalu senyum pertamanya dalam sebulan terakhir terbit di bibirnya. Dia menoleh ke arah istrinya.

Elena tidak tersenyum lebar, tapi sudut bibirnya sedikit melunak. Dia mengambil sisa teh di cangkirnya, lalu berdiri sambil merapikan daster batiknya.

“Sana temenin anakmu,” kata Elena pelan saat melangkah melewati suaminya. “Jangan bikin dia nunggu kayak waktu itu.”

Marco mengangguk cepat. Dia bangkit berdiri, menyusul langkah kecil anaknya ke halaman depan, sementara di ambang pintu belakang, seorang perempuan berdiri mengawasi mereka dengan dada yang akhirnya terasa lega—bukan karena tumpukan uang di rekening bank, melainkan karena laki-laki yang pergi tujuh tahun lalu akhirnya benar-benar pulang kembali ke rumah.