Ada seseorang yang memasukkan seorang bayi ke dalam karung lalu membuangnya ke sungai.
Saat matahari mulai terbit dan perlahan menerangi langit di atas persawahan serta perbukitan di luar daerah Sukabumi, Jawa Barat, Ramon Wijaya sudah menaiki kudanya dan berkeliling memeriksa pagar di sekitar ladangnya yang luas.
Di usia empat puluh dua tahun, Ramon mengenal setiap sudut tanah miliknya.
Dia mengetahui setiap tikungan kecil sungai yang mengalir di samping ladang.
Dia hafal suara pintu gerbang kayu tua yang berderit dan suara angin yang melewati pohon kelapa serta pohon mangga.
Bahu Ramon lebar dan tubuhnya kuat.
Dia memiliki tatapan mata yang tenang dan lembut, membuat banyak orang mudah mempercayainya.
Namun di balik ketenangannya, ada luka kehilangan yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Dua belas tahun yang lalu, sebuah kebakaran rumah merenggut nyawa istrinya, Elena, dan anak mereka yang baru lahir.
Sejak malam itu, hanya ada tiga hal yang dilakukan Ramon.
Bekerja.
Diam.
Bertahan.
Pagi itu, saat menunggang kuda di tepi sungai, dia melihat sesuatu yang tersangkut di ranting rendah dekat pinggir air.
Sebuah benda gelap yang sebagian tenggelam di dalam air dan perlahan berputar mengikuti arus.
“Sampah lagi.”
Gumam Ramon pelan.
Dia kesal melihat orang-orang yang tidak peduli membuang sampah ke sungai dari desa-desa di bagian atas.
Namun ternyata benda itu bukan sampah.
Itu adalah sebuah karung tua yang biasanya digunakan untuk menyimpan pakan ternak.
Dan karung itu terikat sangat kuat.
Ramon segera turun dari kudanya dan masuk ke air sungai yang dingin serta berlumpur.
Karung itu jauh lebih berat dari perkiraannya.
Tiba-tiba dadanya berdebar ketika dia menarik karung tersebut menuju tepian.
Lalu dia mendengar sesuatu.
Sebuah suara yang sangat lemah.
Ramon berhenti.
Itu bukan suara angin.
Sebuah rintihan kecil.
Seperti tangisan yang hampir kehilangan tenaga.
Jantungnya berdetak semakin keras saat tangannya gemetar berusaha membuka ikatan karung tersebut.
Ketika akhirnya karung itu terbuka, Ramon langsung terpaku.
Di dalamnya ada seorang bayi perempuan.
Usianya diperkirakan baru sekitar sepuluh atau sebelas bulan.
Kulit bayi itu pucat.
Bibir kecilnya mulai membiru karena kedinginan.
Hampir tidak terlihat napasnya.
Ramon tidak berpikir dua kali.
Dia langsung mengangkat bayi itu dan mendekapnya erat di dadanya.
Dia melepas jaket tebalnya dan membungkus tubuh kecil itu sambil berusaha menghangatkannya dari udara pagi yang dingin.
Perlahan, bayi itu membuka matanya.
Matanya besar.
Lelah.
Lemah.
Dan seolah menyimpan kesedihan yang tidak seharusnya terlihat pada anak sekecil itu.
Bibir kecilnya bergetar.
“Pa…pa…”
Rasanya seperti pukulan keras menghantam dada Ramon.
Dalam beberapa detik, dunia seakan menghilang.
Dia kembali melihat asap tebal yang memenuhi langit gelap.
Dia kembali mendengar suara api yang membakar dengan keras.
Dia kembali merasakan sakit kehilangan anak yang bahkan tidak sempat dia lihat tumbuh besar di sisinya.
Namun bayi yang ada dalam pelukannya sekarang masih hidup.
Dia masih bernapas.
Dan seseorang dengan sengaja berusaha memastikan bayi ini tidak akan selamat.
Ramon memeluk anak itu semakin erat.
Namun saat dia melakukan itu, sebuah benda kecil tiba-tiba jatuh dari lipatan karung basah tersebut.
Ramon melihat ke tanah.
Sebuah amplop kecil.
Bagian pinggirnya sudah basah dan terdapat noda air.
Ternyata amplop itu tersembunyi di bawah selimut tipis bayi tersebut.
Perlahan Ramon mengambil amplop itu.
Dia terlebih dahulu melihat bayi yang sedang bersandar erat di dadanya.
Lalu dia membuka amplop tersebut.
Namun ketika membaca tulisan di dalamnya, seluruh tubuh Ramon tiba-tiba terasa dingin…
Kertas di dalam amplop itu tipis, jenis kertas kalkir minyak yang biasa dipakai tukang gambar denah bangunan di kota. Tulisannya dibuat buru-buru memakai tinta pena celup murah yang sudah separuh luntur kena air kali Cipelang yang keruh:
“Namanya Maya. Lahir dari rahim Arum di paviliun belakang. Kalau anak ini mati, jangan cari kuburannya di tanah keluarga Suryo. Kalau dia hidup, jangan pernah bawa dia menginjak tanah aspal kota Sukabumi, atau lehernya dipotong sama orang suruhan Pak Hardi.”
Tangan Ramon bergetar bukan karena dingin air kali yang menembus celana jins belelnya. Nama itu. Hardi Suryo.
Dua belas tahun lalu, sebelum api menjilat habis rumah papan miliknya di kaki bukit Gunung Gede, ada dua orang centeng bertubuh tegap datang membawa surat penyerahan lahan perkebunan teh rakyat. Dua centeng itu mengenakan lencana logam berukir lambang kepala banteng perak—tanda kepengurusan perusahaan konsorsium kayu lapis milik Hardi Suryo. Malam sesudahnya, api membakar jerami di kandang kuda Ramon, lalu merambat ke kasur kapuk tempat Elena dan oroknya yang baru berusia tiga hari tertidur pulas. Polisi menutup berkas dengan kesimpulan: korsleting lampu teplok. Tak ada penyelidikan lanjutan.
Ramon menarik napas panjang, bau lumpur basah dan lumut sungai memenuhi paru-parunya.
Di dadanya, Maya menggeliat lemah. Dada telanjang anak itu menempel langsung ke kulit dada Ramon di balik lapisan jaket wol cokelat kusam. Kulit kecil itu luar biasa dingin, persis batu kali yang direndam embun upas.
“Ssshh… diam, Nduk. Jangan mati dulu,” bisik Ramon. Suaranya serak, parau seperti gerigi gergaji berkarat. Sudah bertahun-tahun dia tidak memakai suaranya untuk bicara pada manusia lain selain menawar harga pupuk urea di koperasi unit desa.
Dia menyambar pelana kuda jantannya—si Bromo, kuda lokal Sumbawa berbulu legam—lalu melompat naik hanya dengan satu pijakan kaki. Bromo mendengus keras, mencium aroma anyir air sungai dan kepanikan tuannya. Ramon memacu kudanya menembus pematang sawah yang belum ditanami, memotong semak belukar liar menuju rumah panggung kayu miliknya yang berdiri terasing di lereng bukit.
Begitu sampai di halaman tanah liat, Ramon tidak mengikat Bromo ke tiang pancang. Dia menendang daun pintu dapur hingga terbanting ke dinding papan.
Tungku tanah liat yang semalam menyisakan bara arang segera dia tiup menggunakan corong bambu. Api menyala lagi, menjilati ranting-ranting kayu kopi kering. Dia menjerang air di ceret seng tua, lalu meletakkan Maya di atas meja kayu beralaskan sarung lurik bersih yang dia ambil dari dalam peti jati Elena—sarung yang dua belas tahun tidak pernah disentuh matahari.
Bayi itu tidak menangis kencang. Cuma ada suara mirip anak kucing kejepit pintu: desah napas pendek-pendek, cuping hidungnya kembang-kempis menahan sesak. Di telapak kaki kirinya, ada tanda lahir warna cokelat tua berbentuk lonjong, persis sebutir biji kopi.
Ramon membasuh daki kali dari lipatan leher dan paha Maya menggunakan kain perca yang dicelup air hangat suam-suam kuku. Saat membersihkan jari-jemari mungil yang keriput itu, jempol kanan Ramon disentuh oleh telapak tangan Maya. Jemari kecil itu menutup, menggenggam kelingking Ramon yang kapalan dan penuh bekas luka golok.
Genggamannya erat. Luar biasa erat untuk ukuran tubuh yang hampir mati kedinginan di dalam karung pakan babi.
“Kuat kamu, ya?” gumam Ramon pelan. Matanya terasa pedih, perih bukan karena asap kayu bakar dari tungku, tapi karena ada semacam dinding es tebal di balik rusuknya yang mendadak retak.
Pagi itu, dia tidak pergi memeriksa pagar pembatas. Dia menyeduh air tajin dari beras merah simpanannya, mendinginkannya di cawan tanah liat, lalu menyuapkannya tetes demi tetes ke bibir Maya menggunakan ujung sendok bebek kuningan. Pada tetesan kelima, anak itu menelan dengan rakus. Lalu pada tetesan kesepuluh, Maya tertidur pulas, napasnya mulai teratur, dan rona merah jambu tipis perlahan kembali ke cuping telinganya.
Sore harinya, desas-desus mulai merayap dari arah pasar kecamatan Cikembar.
Mbok Nem, janda tua penjual garam krosok yang saban Selasa lewat di jalan setapak depan rumah Ramon membawa bakul bambu, berhenti di tepi pagar. Dia memicingkan mata melihat popok kain dari sobekan sarung lurik tua yang dijemur di atas pagar bambu.
“Mon,” panggil Mbok Nem, suaranya cempreng melengking di sela derit tonggeret hutan. “Kowe njemur kain bayi nggo opo? Kowe nyolong anak wedok seko endi?”
Ramon keluar dari pintu samping sambil memegang sabit pemotong rumput. Wajahnya dipasang datar seperti papan kuburan. “Anak sepupuku dari Cianjur, Mbok. Ibunya mati kena paru-paru basah semalam. Dititipkan ke sini daripada dibuang ke panti asuhan Kristen.”
Mbok Nem meludah ke tanah merah, mengunyah sirihnya lebih cepat. “Oalah. Tiwas tak kiro kowe nemu bayi buangan sing lagi diributkan orang-orang kota. Tadi pagi ada tiga mobil jip hitam plat B muter-muter di jembatan Cipelang. Katanya ada selingkuhan juragan Suryo kabur dari rumah sakit bersalin, terus bayinya ilang digondol babu.”
Ramon tidak menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengasah bilah sabit ke batu kali. Bunyi srek-srek logam beradu batu terdengar berat. “Bukan urusanku. Orang kota kebanyakan duit, bikin dosanya juga borongan.”
“Yo wis. Sing ati-ati kowe, Mon. Centeng-centeng Suryo itu sekarang pasang mata di mana-mana. Katanya siapa yang nemu bangkai bayinya bakal dikasih lima juta perak.”
Mbok Nem berlalu menuruni jalan setapak berbatu, pikulannya bergoyang seirama pinggulnya yang bongkok.
Ramon menunggu sampai bayangan bakul Mbok Nem hilang di balik tikungan rumpun bambu ori. Begitu suasana sepi, dia segera masuk ke dalam rumah, menurunkan palang pintu kayu, lalu berjalan ke sudut kamar tidurnya. Di bawah ranjang kayu gelondongan tempat dia tidur sendirian selama dua belas tahun, ada sebuah papan lantai yang tidak dipaku mati.
Dia mengangkat papan itu. Di dalam lubang tanah sedalam setengah meter yang kering berdebu, tergeletak sepucuk senapan berburu Mauser peninggalan kakeknya—seorang veteran pembela tanah air era revolusi—bersama sekotak amunisi kaliber 7,62 mm yang kalengnya sudah dilumuri gemuk sapi tebal agar tidak berkarat.
Ramon mengambil senjata itu, mengelap minyaknya menggunakan gombal kering, lalu mengokang kuncian larasnya. Bunyi klik-klak bajanya terdengar nyaring dan kokoh di dalam kamar yang temaram.
“Kalau mereka datang ke bukit ini,” bisik Ramon ke arah Maya yang sedang tidur mendengkur halus di atas ranjang, “mereka nggak bakal nemu bangkai. Mereka bakal nemu liang kubur mereka sendiri.”
Tahun-tahun di lembah lereng bukit itu tidak berjalan menurut putaran jam dinding, tapi menurut musim panen cengkih dan rebah-tidurnya rumpun padi ketan.
Maya tumbuh bukan seperti anak-anak perempuan di desa bawah yang diajari menyulam atau duduk bersimpuh memakai kain jarik. Maya tumbuh dengan kaki telanjang yang kapalan, kulit terpanggang matahari pegunungan sampai berwarna sawo matang mengilap, dan rambut tebal bergelombang yang diikat seadanya memakai serat pelepah pisang kering.
Usia enam tahun, Maya sudah bisa membaca jejak kaki babi hutan di tanah liat lembap.
Usia delapan tahun, tangannya sudah mahir mengendalikan tali kekang si Bromo, menyeberangi jeram sungai Cipelang yang berbatu licin tanpa terjungkal sekali pun.
Dan sepanjang delapan tahun itu, Ramon tidak pernah memanggilnya “anakku” di depan orang lain. Di hadapan warga desa yang sesekali berpapasan di warung kelontong, Ramon selalu menyebutnya “si keponakan sial”. Tapi setiap malam sebelum lampu minyak dipadamkan, Ramon akan duduk di tepi lincak bambu, memperhatikan Maya menghafal huruf-huruf latin dari buku-buku bekas ejaan lama yang dibelinya kiloan dari loakan pasar Sukabumi.
“Bapak,” tanya Maya suatu malam saat angin barat membawa gerimis dingin mengetuk genteng tanah liat. Usianya waktu itu baru genap sembilan tahun. Tangannya yang mungil sedang sibuk mengoleskan minyak kelapa bercampur tumbukan jahe ke betis Ramon yang pegal sehabis mencangkul saluran parit ladang.
“Hmm?” Ramon cuma berdeham pendek, matanya menatap asap tembakau lintingannya yang meliuk-liuk ke arah plafon bambu.
“Kenapa kita nggak pernah beli terasi ke pasar bawah? Mbok Nem kemarin bilang, di pasar bawah ada toko mainan yang jual boneka karet bisa nangis kalau dicabut dotnya.”
Ramon menarik napasnya perlahan, mematikan puntung rokoknya ke piring seng. “Di bawah itu kotor, Nduk. Banyak lalat hijau. Sekali kamu turun ke sana, baunya nempel di kulitmu sampai tujuh turunan, susah dicuci pakai sabun mandi apa pun.”
“Bapak takut sama orang kota?”
Ramon menoleh. Tatapannya menusuk tajam, tapi ada kehangatan yang tertahan di sudut kelopak matanya yang berkerut dalam. “Bapak nggak takut sama orang. Bapak cuma nggak suka tanah ini diinjak sama sepatu-sepatu yang alasnya kotor oleh ludah orang serakah. Kamu mau jadi orang kota?”
Maya menggeleng cepat, poninya yang berantakan bergoyang menutupi kening. “Enggak. Aku mau di sini saja. Nanti kalau Bromo mati, aku yang gantiin narik bajak sawah Bapak.”
Ramon mendengus pelan, menepuk puncak kepala Maya dengan telapak tangannya yang kasar seperti kulit kayu randu. “Bocah edan. Mana ada anak perempuan jadi kuda bajak.”
Tapi hidup tenang di bukit itu tidak bisa selamanya kedap suara.
Tahun 2018, saat Maya genap berusia lima belas tahun, deru mesin buldoser mulai terdengar menggeram di lembah bawah. Pembangunan jalur ganda kereta api dan perluasan kawasan wisata perkebunan teh modern mulai merangsek lereng-lereng perbukitan Cikembar. Tanah-tanah adat dibeli murah; yang menolak tanda tangan, kandang ayamnya tiba-tiba terbakar tengah malam atau padinya diracun pakai pestisida babi.
Perusahaan pengembangnya punya nama baru: PT Suryo Agro Lestari.
Suatu sore di bulan Agustus, saat kabut mulai turun membungkus kebun singkong, dua sepeda motor trail meraung-raung mendaki lereng bukit Ramon. Suara knalpotnya yang bising memecah kesunyian hutan pinus, membuat si Bromo meringkik resah di kandangnya.
Ramon yang sedang membersihkan pelepah aren di belakang rumah langsung meletakkan goloknya. Dia masuk lewat pintu belakang, mengambil Mauser tuanya dari balik lemari, lalu menyandarkannya di balik kusen pintu depan yang terbuka separuh.
Dua motor trail itu berhenti di depan pagar halaman. Empat orang turun. Tiga di antaranya pria muda berkulit gelap dengan jaket kulit imitasi dan potongan rambut cepak—jelas centeng bayaran khas kota. Tapi orang keempat…
Ramon menyipitkan mata dari balik bayang-bayang teras.
Orang keempat adalah pria tua berusia sekitar enam puluh tahunan, mengenakan kemeja safari warna khaki yang disetrika licin, bersepatu bot kulit cokelat mengilap, dan memegang tongkat kayu berujung perak. Wajahnya persegi, rahangnya keras, tapi kulit pipinya kendur oleh lemak kemewahan dan sisa penyakit gula.
Hardi Suryo.
Ramon tidak mungkin lupa pada rahang itu. Dua belas tahun lalu, saat persidangan sengketa lahan desa ditolak di pengadilan negeri, pria itulah yang melintas di depannya sambil tersenyum congkak di balik kaca mobil sedan Volvo hitamnya.
“Permisi!” teriak salah seorang centeng yang memakai anting perak di telinga kirinya. “Pemilik tanah nomor persil 42 ada di dalam?!”
Ramon melangkah keluar ke teras. Dia tidak membawa senapannya di tangan, tapi posisinya berdiri tepat di samping kusen tempat laras Mauser tersembunyi.
“Ada apa?” suara Ramon datar, dingin, tidak ada nada menyambut sama sekali.
Hardi Suryo maju selangkah, menepuk-nepuk ujung tongkatnya ke batu pijakan halaman dengan lagak tuan tanah memeriksa kandang kambing. “Ramon Wijaya, kan? Petani yang dulu menolak ganti rugi pembebasan hutan lindung?”
“Tanah ini bukan hutan lindung. Ini tanah hak milik ulayat keluarga saya sejak zaman kakek saya buka hutan tahun 1948,” sahut Ramon tanpa berkedip. “Kalian salah alamat kalau mau nawarin uang gusuran.”
Hardi tertawa kecil, tawa kering yang terdengar batuk-batuk kecil di ujungnya. “Zaman sudah ganti, Ramon. Sertifikat garapan dari lurah zaman baheula sudah nggak laku di kantor pertanahan sekarang. Di atas kertas peta tata ruang propinsi, lereng bukit ini masuk zona konservasi dan penunjang agrowisata kami. Minggu depan alat berat naik ke sini. Aku datang bukan mau nawar, aku cuma mau kasih kompensasi kerohiman: lima puluh juta. Ambil uangnya, pindah ke Cianjur atau ke mana saja sesukamu.”
“Bawa pulang uangmu ke kuburan, Hardi,” jawab Ramon tenang.
Centeng beranting perak melotot, maju dua langkah sambil meraba pinggang belakangnya tempat sebilah belati diselipkan. “Kurang ajar kamu, Pak Tua! Jaga mulutmu di depan Pak Hardi kalau masih mau napas besok pagi!”
“Kukuh, diam,” potong Hardi santai sambil mengangkat tangannya. Dia memandang Ramon dengan tatapan mencemooh. “Ramon, kamu ini sudah tua. Istri nggak punya, anak nggak punya. Hidup sendirian seperti celeng di hutan begini, buat apa mempertahankan batu dan lumpur? Mau kamu bawa mati?”
Tepat pada detik itu, suara derit engsel pintu bambu dari arah samping terdengar.
Maya melangkah keluar membawa bakul anyaman berisi pucuk daun singkong yang baru dipetiknya dari kebun bawah. Tubuhnya ramping tapi padat berotot, rambutnya dikepang dua sederhana, dan kakinya belepotan lumpur sawah yang sudah setengah mengering.
“Bapak,” kata Maya, sama sekali mengabaikan keberadaan orang-orang asing itu. “Air di kendi sudah dingin, mau kubuatkan kopi jahe sekarang?”
Seluruh udara di halaman rumah itu mendadak tersedot hilang.
Hardi Suryo membeku. Ujung tongkat peraknya tertahan di udara, tidak jadi mengetuk tanah. Matanya yang sipit dan keruh membelalak lebar, urat-urat merah di sekitar korneanya mendadak tegang saat menatap wajah gadis remaja yang berdiri di samping teras itu.
Bentuk mata itu. Lekukan tulang pipi yang tinggi, alis tebal yang sedikit melengkung di ujungnya, dan terutama… cara gadis itu memiringkan kepala saat memandang orang yang tidak disukainya.
Itu bukan wajah orang desa Cikembar.
Itu wajah Arum. Wajah perempuan penari lenso asal Manado yang dulu dibawa ayahnya dari perkebunan karet di pelosok Maluku empat puluh tahun silam—perempuan yang pernah dijadikan gundik rahasia di paviliun belakang rumah besarnya, perempuan yang mati bunuh diri menenggak racun tikus setelah bayinya diambil paksa oleh istrinya yang mandul.
“Kamu…” suara Hardi Suryo tercekat di tenggorokan, desahannya terdengar seperti pipa uap bocor. “Siapa… siapa anak ini?”
Ramon bergerak lebih cepat daripada kilat.
Tangannya menyambar laras Mauser di balik kusen pintu, lalu dalam satu gerakan terlatih yang tidak pernah tumpul oleh usia, moncong senapan tua itu sudah terarah lurus, tepat di antara kedua mata Hardi Suryo. Jaraknya tidak sampai dua jengkal dari hidung pria kaya itu.
Bunyi kokang Mauser—KRAK-KLIK—menggema mengerikan di lereng bukit yang sunyi.
Ketiga centeng itu langsung terkesiap, tangan mereka yang hendak mencabut senjata di pinggang terhenti kaku. Tidak ada yang berani bergerak satu milimeter pun. Mereka tahu Mauser tua itu bukan senapan angin pemburu burung emprit; peluru 7,62 mm sanggup merobek dada orang tembus sampai ke batang pohon di belakangnya.
“Satu langkah maju lagi,” bisik Ramon, suaranya begitu rendah dan tenang sampai-sampai centeng beranting perak menelan ludah dengan bunyi tercekat, “dan otak majikanmu berhamburan jadi pupuk kebun singkongku.”
Hardi Suryo tidak menatap moncong senapan itu. Matanya masih terpaku, menatap liar ke arah Maya yang kini berdiri tegak di samping Ramon tanpa sedikit pun rasa takut. Gadis itu bahkan tidak menjatuhkan bakul daun singkongnya; tangannya justru perlahan meraba gagang arit kecil yang terselip di pinggangnya sendiri.
“Anak itu…” bisik Hardi, bibirnya yang ungu mulai bergetar hebat. “Arum… melahirkan anak perempuan waktu itu. Dan bidan bilang anak itu mati kelemasan di dalam karung…”
“Bidanmu bohong, Hardi,” desis Ramon, jarinya mulai menekan pelatuk Mauser perlahan, merasakan tahanan pegas bajanya. “Tuhan tidak tidur waktu kamu menyuruh anjing-anjingmu membuang darah dagingmu sendiri ke kali Cipelang seperti kotoran babi. Anak ini kubesarkan dari air tajin dan keringat tanah ini. Dia bukan anakmu. Dia anakku. Dan kalau kamu mau mengambil sebutir saja debu dari tubuhnya, kamu harus bayar dengan nyawamu sekarang juga.”
“Bapak, tahan,” suara Maya memecah ketegangan.
Maya tidak gemetar. Dia meletakkan bakulnya di lincak teras, melangkah perlahan mendekati Ramon, lalu meletakkan satu tangannya di atas laras senapan Mauser yang panas. Dengan lembut namun bertenaga, dia menurunkan arah moncong senapan itu beberapa inci ke bawah.
Maya menatap pria tua berkemeja safari itu. Tidak ada dendam di matanya, tidak ada air mata, cuma ada tatapan dingin dan jijik yang sangat murni—tatapan elang gunung yang menatap seonggok bangkai tikus tanah di pinggir parit.
“Kalian orang-orang kota yang bajunya bagus tapi bau tanah kuburan,” kata Maya pelan, kata-katanya diucapkan dalam bahasa Sunda pedalaman yang kasar dan lugas. “Bapakku sudah bilang: pergi dari sini. Kalau besok kalian bawa mesin-mesin besi itu ke bukit ini, bukan cuma tanah yang bakal kami pertahankan. Darah kalian yang bakal kami pakai buat nyiram bibit pohon kopi kami.”
Hardi Suryo terhuyung mundur selangkah. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, tangan kirinya meremas kain kemeja safarinya di bagian jantung. Napasnya tersengal-sengal, wajahnya yang tadi angkuh mendadak berubah pucat pasi seperti kain kafan.
“Kukuh… balik. Bawa mobil balik…” rintih Hardi, suaranya parau menahan nyeri serangan jantung yang mendadak menyerang dinding dadanya.
Ketiga centeng itu buru-buru memapah majikan mereka, setengah menyeretnya menuruni jalan setapak menuju jip yang diparkir di bawah. Suara deru motor trail dan dengung mesin mobil yang dipacu ugal-ugalan segera terdengar menjauh, meninggalkan kepulan debu merah yang perlahan tenggelam ditiup angin lembah.
Halaman kembali sunyi. Hanya suara desau angin yang menggesek daun-daun bambu ori dan suara napas Ramon yang masih memburu.
Ramon menurunkan senapannya. Tangannya yang memegang popor kayu jati tua itu mendadak gemetar hebat. Dua belas tahun ketakutan dan dendam yang terkunci rapat di dasar dadanya mendadak tumpah ruah ke permukaan.
Dia berbalik membelakangi Maya, menatap ke arah dinding papan rumahnya yang lapuk, tidak ingin gadis itu melihat sudut matanya yang basah.
“Maya,” suara Ramon tercekat. “Surat itu… amplop di dalam karung dulu… kamu berhak tahu siapa orang tuamu yang sebenarnya. Pria tadi itu—”
“Bapakku namanya Ramon Wijaya,” potong Maya tegas.
Ramon terdiam, tubuhnya kaku.
Maya melangkah mendekat, berdiri tepat di depan pria tua itu. Dia meraih tangan kanan Ramon yang kapalan dan penuh luka gores duri salak, lalu menempelkan telapak tangan kasar itu ke pipinya sendiri—persis seperti yang dilakukannya setiap kali dia mengalami mimpi buruk sewaktu masih bocah.
“Waktu aku umur sembilan tahun, aku nemu amplop basah itu di peti jati Bapak, di bawah tumpukan sarung lurik Ibu Elena,” bisik Maya, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Ramon yang kelabu diterpa sinar sore. “Aku sudah bisa baca waktu itu, Pak. Aku tahu tulisan tangan di kertas minyak itu.”
Dada Ramon serasa dihantam palu godam untuk kedua kalinya dalam hidupnya. “Kamu… kamu sudah tahu selama ini?”
“Tahu,” sahut Maya, sebutir air mata akhirnya menggelinding turun di atas kulit pipinya yang cokelat matang, tapi bibirnya tersenyum—sebuah senyuman yang sangat mirip dengan senyuman Elena di foto usang yang dipajang di dinding ruang tengah. “Dan aku tahu siapa orang yang masuk ke air kali yang dingin buat narik karung pakan babi itu. Siapa orang yang nyuapin air tajin pakai sendok bebek tiap dua jam sekali waktu aku batuk darah. Siapa orang yang nggak pernah beli celana baru selama belasan tahun supaya bisa beliin aku buku tulis dan peluru berburu.”
Gadis itu merapatkan kepalanya ke dada Ramon, memeluk pinggang pria itu erat-erat.
“Bapak itu ya Bapak. Nggak ada bapak yang lain di dunia ini buat Maya.”
Ramon menjatuhkan Mauser tuanya ke atas lincak bambu. Kedua tangannya yang besar dan kasar melingkari pundak anak gadisnya itu, mendekapnya erat-erat ke dadanya yang bergetar hebat oleh isak tangis yang akhirnya pecah setelah dua belas tahun membeku dalam keheningan. Di atas mereka, langit lereng bukit Cikembar perlahan berubah warna menjadi lembayung keemasan, memandikan rumah panggung tua itu dengan cahaya hangat yang tidak lagi dingin.
Hardi Suryo tidak pernah kembali ke bukit itu.
Serangan jantung di halaman rumah Ramon sore itu membuatnya dilarikan ke Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura malam itu juga. Tiga minggu kemudian, kabar sampai ke telinga warga desa lewat Mbok Nem: sang konglomerat kayu lapis stroke total, separuh tubuhnya lumpuh, dan lidahnya kelu tak bisa lagi mengeluarkan kata-kata.
Sengketa lahan di lereng bukit itu menguap begitu saja setelah dokumen-dokumen lama tentang kejahatan lingkungan dan penggelapan pajak milik keluarga Suryo dibocorkan oleh pihak kejaksaan tinggi—sebuah kasus korupsi besar yang akhirnya membubarkan izin konsorsium agrowisata mereka di wilayah Sukabumi selatan. Tanah ulayat di kaki bukit tetap menjadi tanah ulayat; tenang, hijau, dan merdeka dari cengkeraman mesin-mesin perusak.
Tujuh tahun kemudian.
Tahun 2025, saat musim panen cengkih sedang wangi-wanginya memenuhi udara perbukitan Cikembar.
Di teras depan rumah panggung yang kini sudah diperbaiki dengan tiang-tiang kayu jati kokoh dan atap genteng sirap baru, seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun sedang asyik bermain dengan serutan kayu di lantai teras yang bersih. Kakinya yang gembul berlari-lari mengejar seekor anak anjing kampung berwarna belang hitam.
“Eyang! Eyang Kakung! Bromo mau makan rumput!” teriak bocah itu dengan suara cempreng cadelnya.
Dari arah kandang belakang, Ramon melangkah keluar. Usianya sudah enam puluh empat tahun sekarang. Rambutnya di pelipis sudah memutih seluruhnya seperti kapas hutan, dan punggungnya sedikit membungkuk karena beban cangkul puluhan tahun. Tapi langkah kakinya masih mantap menapak tanah merah, matanya masih bening dan tenang.
Dia menggendong cucunya itu, lalu mendudukkannya di atas pundaknya yang lebar.
“Jangan deket-deket si Bromo tua, Danu. Nanti ekornya nyabet matamu,” kata Ramon sambil tertawa pendek, tawa renyah seorang kakek yang hatinya sudah lama damai.
Dari arah dapur, Maya melangkah keluar membawa nampan kayu berisi dua cangkir kopi hitam mengepul dan sepiring singkong goreng bertabur parutan kelapa muda.
Di sampingnya, seorang pria muda berkemeja kain lurik sederhana—Bagus, guru sekolah dasar desa yang dua tahun lalu memberanikan diri datang membawa sekarung gula aren untuk melamar Maya—tersenyum ramah sambil membetulkan letak topi capingnya.
“Kopinya diminum dulu, Pak,” kata Maya sambil meletakkan nampan ke atas meja lincak. Wajahnya yang kini berusia dua puluh dua tahun memancarkan kematangan dan ketenangan seorang ibu muda yang mandiri. Di telapak kaki kirinya, tanda lahir cokelat berbentuk biji kopi itu masih ada, dan tanda lahir yang sama persis kini tercetak di telapak kaki kiri Danu, putranya.
Ramon duduk di lincak, menurunkan Danu ke atas pangkuannya, lalu menyeruput kopi hitamnya perlahan. Rasa pahit-manisnya pas, aroma cengkih bakar dari kebun belakang terbawa angin sore yang sejuk, menyusup di antara tiang-tiang rumah panggung mereka.
Dia menatap ke arah lembah di bawah sana. Sungai Cipelang masih mengalir di kejauhan, airnya berkilau perak memantulkan sinar matahari sore yang mulai condong ke barat. Air sungai yang sama yang dua puluh dua tahun lalu membawa seonggok karung pakan ternak berisi keajaiban paling berharga dalam hidupnya.
Danu mendongak, jemari mungilnya yang hangat menyentuh janggut putih Ramon yang kasar.
“Pa…pa…” celoteh anak itu manja, berusaha meniru cara ibunya memanggil Ramon.
Ramon tersenyum tipis, lalu mengecup kening cucunya itu dengan penuh takzim.
“Iya, Nduk,” bisik Ramon ke arah angin sore yang berdesau lembut di pucuk-pucuk pohon kelapa. “Bapak di sini. Selalu di sini.”
