Bagian 2: Rekaman yang Mengguncang//

“SELINGKUHAN SUAMIKU DATANG KE RUMAH DALAM KEADAAN HAMIL DAN MEMAKSAKU MENANDATANGANI SURAT CERAI, SEMENTARA IBU MERTUAKU BERDIRI DI SAMPINGNYA SAMBIL MEMAKIKU TAK TAHU DIRI — AKU MENANDATANGANINYA, LALU MENINGGALKAN SEBUAH USB DI ATAS MEJA. MEREKA SEMUA MENERTAWAKANKU SAMPAI PENGACARA MEMBUKANYA… ISINYA ADALAH REKAMAN SUARA YANG MEMBUAT SELURUH KELUARGA TERDIAM MEMBISU… 😨”

“Sudah terlalu lama kamu menempati posisi sebagai menantu keluarga Pratama. Hari ini, tanda tangani surat itu!”

Suara Bu Pratama terdengar dingin hingga ruang tamu sebuah rumah mewah di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, mendadak terasa sunyi.

Aku, Rania Putri, berdiri di tengah ruang tamu sambil menatap perempuan yang baru saja meletakkan setumpuk dokumen perceraian di hadapanku.

Namanya Selvi.

Perempuan muda yang selama berbulan-bulan menjadi simpanan suamiku.

Satu tangannya berada di atas perutnya yang mulai terlihat, sementara tangan lainnya perlahan menyibakkan rambut panjang dari bahunya.

“Rania, aku sebenarnya tidak ingin membuat keadaan menjadi sulit,” katanya sambil tersenyum tipis. “Tapi bayi dalam kandunganku adalah anak Mas Arga. Kamu juga seharusnya tahu kapan waktunya melepaskan.”

Aku tidak menjawab.

Tiga tahun menjadi istri Arga Pratama membuatku terbiasa dengan tatapan dingin keluarga suamiku.

Ibu mertuaku selalu menyindirku karena belum memberikan keturunan.

Setiap kali ada acara keluarga, beberapa kerabat mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengingatkanku bahwa aku hanyalah orang luar.

Bahwa aku tidak pantas terlalu lama tinggal di rumah keluarga Pratama.

Dan Arga…

Dulu dia pernah menggenggam tanganku sambil berkata bahwa selama kami bersama, dia tidak membutuhkan siapa pun lagi.

Sekarang laki-laki itu hanya berdiri di belakang Selvi.

Diam.

Membiarkan aku dipermalukan di depan matanya.

Bu Pratama tiba-tiba menghantam meja dengan telapak tangannya.

“Masih berdiri di sana untuk apa? Tanda tangani!”

“Bu…”

Arga baru saja membuka mulut.

“Kamu diam!”

Bu Pratama langsung berbalik kepadanya.

Nada suaranya berubah lembut seketika.

“Keluarga Pratama membutuhkan penerus. Selvi sedang mengandung cucu pertama Ibu. Apa Ibu harus berlutut memohon kepada perempuan yang tidak tahu diri seperti dia?”

Jari-jariku mengepal.

Aku menatap laki-laki yang pernah paling kucintai itu.

“Mas juga ingin aku tanda tangan?”

Arga menghindari tatapanku.

“Rania… kita sudah tidak seperti dulu.”

Hanya satu kalimat.

Tapi cukup untuk menghancurkan tiga tahun pernikahan.

Selvi menundukkan kepala sambil tersenyum kecil.

“Jangan membuat Mas Arga semakin sulit. Setelah menikah nanti, aku akan menjaga Ibu dengan baik.”

Aku tiba-tiba tertawa.

Tawa kecil.

Tapi membuat mereka semua terdiam sesaat.

“Baik.”

Aku menarik kursi dan duduk.

“Kalian ingin aku tanda tangan, kan?”

Bu Pratama segera menyodorkan pulpen.

“Akhirnya kamu tahu diri juga.”

Tanganku bergerak melewati setiap halaman.

Aku membaca semuanya dengan tenang.

Lalu menandatangani namaku perlahan.

Arga memperhatikanku.

Ada sesuatu yang melintas di matanya.

Penyesalan?

Keraguan?

Aku tidak peduli lagi.

“Rania…”

“Jangan panggil namaku lagi.”

Aku meletakkan pulpen.

Kemudian aku membuka tas tanganku dan mengeluarkan sebuah USB berwarna hitam.

Aku meletakkannya tepat di tengah meja.

Selvi langsung mengernyitkan dahi.

“Itu apa?”

“Hadiah perpisahan.”

Bu Pratama tertawa meremehkan.

“Kamu pikir sebuah USB bisa melakukan apa terhadap keluarga Pratama?”

Aku berdiri dan merapikan kerah bajuku.

“Tidak melakukan apa-apa.”

Aku menatap Arga lurus-lurus.

“Aku hanya berpikir… sebelum kita benar-benar menjadi orang asing, Mas seharusnya mendengarkan ini sekali.”

Arga mengerutkan kening.

“Rania, kamu mau melakukan apa lagi?”

“Tidak.”

Aku menjawab dengan suara tenang.

“Orang yang bermain kotor… dari awal bukan aku.”

Setelah mengatakan itu, aku berbalik dan meninggalkan rumah.

Di belakangku, tawa Selvi langsung terdengar.

“Dia benar-benar sudah tidak punya cara lain.”

Bu Pratama ikut tertawa.

“Sudah kalah masih saja mau membuat dirinya terlihat misterius.”

Arga mengambil USB itu.

Dia menatapnya beberapa detik.

Kemudian melemparkannya ke atas meja.

“Buang saja.”

Namun tepat saat itu, pintu ruang tamu terbuka.

Seorang pria berjas hitam masuk.

Dia adalah Bima Santoso, pengacara senior yang selama bertahun-tahun menjadi penasihat hukum keluarga Pratama.

Matanya langsung tertuju pada dokumen perceraian.

Kemudian berpindah ke USB hitam di atas meja.

“Mas Arga, Bu… apakah Bu Rania meninggalkan benda ini?”

“Iya.”

Arga menjawab singkat.

“Kalau begitu, izinkan saya memeriksanya.”

Arga tampak kesal.

“Apa yang menarik dari USB itu?”

Bima tidak menjawab.

Dia mengambil USB tersebut dan memasukkannya ke laptop.

Sebuah folder muncul di layar.

Hanya ada satu file rekaman suara.

Durasi:

23 menit 17 detik.

Selvi tiba-tiba kehilangan senyumnya.

“Pak Bima… tidak perlu dibuka.”

Bima berhenti.

Lalu menoleh kepadanya.

“Kamu tahu isinya?”

Ruang tamu mendadak sunyi.

Arga perlahan berdiri.

“Selvi?”

Perempuan itu mundur satu langkah.

“Aku… aku tidak tahu.”

Bima menatapnya beberapa detik.

Lalu menekan tombol putar.

Suara pertama langsung terdengar dari speaker laptop.

Hanya satu kalimat pendek.

Namun dalam sekejap, wajah Bu Pratama berubah pucat.

Arga membeku.

Dan Selvi mulai gemetar hebat, seolah baru saja mendengar suara dari masa lalu yang seharusnya sudah terkubur selamanya.

Karena orang yang berbicara dalam rekaman itu…

adalah seseorang yang selama ini mereka semua yakini sudah tidak mungkin lagi membuka mulut untuk mengatakan kebenaran.

Bagian 2: Rekaman yang Mengguncang

Suara pertama yang keluar dari speaker laptop itu membuat udara di ruang tamu mendadak terasa seperti membeku.

“Arga… kalau kamu mendengar rekaman ini, berarti aku sudah tidak ada lagi di sisimu.”

Suara itu.

Lembut.

Bergetar.

Tapi jelas sekali.

Suara Rania.

Arga langsung melangkah maju, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Matanya menatap layar laptop seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Apa-apaan ini?” gumamnya.

Bu Pratama yang sedari tadi berdiri dengan angkuh kini perlahan duduk kembali di sofa. Wajahnya yang pucat semakin terlihat di bawah lampu kristal ruang tamu.

“Matikan,” perintahnya dengan suara serak. “Matikan rekaman itu sekarang!”

Tapi Bima Santoso tidak bergerak.

Pengacara senior itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi, kedua tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya tajam, penuh perhitungan.

“Bu,” katanya dengan tenang, “saya sudah menjadi penasihat hukum keluarga Pratama selama hampir dua puluh tahun. Dan dalam dua puluh tahun itu, saya belum pernah melihat Ibu sekaligus Mas Arga sekaligus kehilangan ketenangan seperti sekarang.”

“Kamu tidak punya hak—”

“Justru saya punya hak.”

Bima menunjuk layar laptop.

“USB ini diserahkan oleh istri sah Mas Arga. Secara hukum, isinya bisa menjadi bukti dalam proses perceraian ini. Dan kalau saya tidak salah duga… isinya bukan sekadar rekaman biasa.”

Rekaman terus berjalan.

“Aku tahu kamu mungkin akan marah. Atau mungkin kamu tidak akan percaya. Tapi aku harus mengatakan ini, Mas. Aku harus. Karena kalau tidak, aku akan menyesal seumur hidupku.”

Suara Rania terdengar seperti seseorang yang sedang menahan tangis.

“Tiga tahun kita menikah. Tiga tahun aku berusaha menjadi istri yang baik. Tapi ada satu hal yang tidak pernah aku ceritakan kepadamu. Satu hal yang membuatku tidak bisa memberikan keturunan.”

Arga menelan ludah.

“Tidak bisa… memberikan keturunan?” ulangnya pelan.

Bu Pratama menoleh tajam ke arah anaknya.

“Dengar, Arga. Ini pasti akal-akalan perempuan itu. Dia cuma mau membuat kita panik. Dia tidak terima diceraikan, jadi dia—”

“Aku tidak mandul, Mas.”

Kalimat itu membuat Bu Pratama langsung berhenti berbicara.

“Aku tidak mandul. Aku sudah memeriksakan diri ke tiga dokter berbeda. Semuanya mengatakan hal yang sama. Aku sehat. Aku bisa hamil. Aku bisa punya anak.”

Ruang tamu benar-benar sunyi.

Bahkan suara detik jam dinding terdengar terlalu keras.

Selvi yang sejak tadi berdiri di samping sofa perlahan mundur. Satu langkah. Dua langkah. Tangannya yang tadi menempel di perutnya sekarang turun, menggantung kaku di sisi tubuh.

“Yang tidak bisa memberikan keturunan… adalah Mas Arga.”

Arga tersentak.

“APA?!”

Dia menoleh ke laptop, lalu ke Bima, lalu ke ibunya.

“Itu bohong! Itu pasti bohong!”

Tapi Bima tetap diam.

Dan rekaman terus berjalan.

“Aku menemukan hasil tesnya secara tidak sengaja. Dua tahun lalu. Saat aku sedang merapikan dokumen-dokumen Mas di ruang kerja. Ada satu amplop yang terselip di antara berkas-berkas kantor. Aku membukanya karena kupikir itu tagihan atau surat penting.”

Suara Rania berhenti sejenak.

“Ternyata itu hasil tes laboratorium. Tes kesuburan atas nama Arga Pratama. Dan hasilnya… azoospermia. Tidak ada sel sperma yang sehat. Nol. Tidak ada kemungkinan untuk memiliki anak secara alami.”

Arga mundur.

Kakinya menghantam meja kopi di belakangnya. Cangkir porselen di atasnya bergoyang dan hampir jatuh.

“Itu… itu tidak mungkin,” bisiknya.

Bu Pratama berdiri.

“Dokumen itu palsu! Rania yang membuatnya! Dia—”

“Aku tahu Ibu akan mengatakan itu.”

Suara Rania di rekaman seolah menjawab langsung.

“Makanya aku tidak pernah membicarakannya. Aku tidak pernah membuka dokumen itu di depan siapa pun. Aku menyimpannya kembali. Aku berpura-pura tidak tahu. Karena aku tahu, kalau sampai Mas Arga dan Ibu tahu bahwa aku sudah membaca hasil tes itu, aku akan diusir dari keluarga ini.”

“Maka dari itu…” lanjut suara Rania, “selama dua tahun terakhir, setiap kali Ibu menyindirku karena belum punya anak, aku hanya diam. Setiap kali kerabat keluarga bertanya kapan kami akan punya momongan, aku hanya tersenyum. Setiap kali Mas Arga menatapku dengan kekecewaan…”

Suara itu bergetar.

“Aku menanggung semuanya sendiri.”

Selvi tiba-tiba bicara.

“Rekaman ini palsu!” katanya dengan suara tinggi. “Dia cuma perempuan gagal yang tidak terima suaminya diambil! Dia—”

“Dan ada satu hal lagi yang harus Mas tahu.”

Rekaman itu terus berjalan tanpa peduli.

“Tentang Selvi.”

Selvi membeku.

“Perempuan itu… tidak pernah hamil.”

“APA?!”

Arga berbalik menatap Selvi.

Selvi langsung menggenggam perutnya.

“Itu bohong! Aku hamil! Ini anakmu, Mas! Ini—”

“Dia juga bukan simpanan Mas Arga.”

Ruang tamu itu rasanya seperti baru saja dihantam gempa.

“Selvi adalah perempuan yang disewa oleh seseorang. Dibayar untuk mendekati Mas Arga, untuk berpura-pura hamil, dan untuk memaksa aku keluar dari rumah ini.”

Arga menatap Selvi dengan mata membulat.

“Kamu… kamu disewa? Siapa yang menyewamu?!”

Selvi mundur semakin jauh.

“Tidak… tidak, Mas. Itu tidak benar. Dia bohong! Dia cuma cemburu! Dia—”

“Aku punya bukti transfernya.”

Rekaman itu terus berbicara.

“Selvi menerima uang sebesar tiga ratus juta rupiah dalam tiga kali transfer. Dari rekening atas nama…”

Rania menyebutkan nama itu dengan sangat jelas.

Dan begitu nama itu keluar dari speaker laptop, Bu Pratama langsung jatuh terduduk di sofa.

Karena nama yang disebutkan Rania adalah…

“Ratna Kusuma.”

Nama lengkap Bu Pratama.

Arga menoleh ke ibunya.

“Bu…?”

Bu Pratama menatap anaknya dengan wajah yang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan apa pun.

“Bu, apa yang dia katakan? Bu, jawab aku!”

“Aku tahu ini sulit dipercaya,” lanjut suara Rania. “Aku juga tidak percaya saat pertama kali menemukannya. Tapi aku punya bukti. Aku punya rekaman percakapan antara Ibu dan Selvi. Aku punya bukti transfernya. Aku punya semua yang aku butuhkan.”

Rekaman berhenti sejenak.

“Aku tidak pernah ingin menggunakan semua ini, Mas. Aku tidak pernah ingin menghancurkan keluarga ini. Tapi hari ini… Ibu memaksaku menandatangani surat cerai. Selvi datang ke rumah ini dengan perut palsu dan senyum palsu. Dan Mas… Mas hanya berdiri di sana. Diam.”

Suara Rania pecah.

“Jadi aku pikir… sudah saatnya aku berhenti diam.”

Rekaman itu berhenti.

Durasi 23 menit 17 detik.

Habis.

Ruang tamu keluarga Pratama benar-benar sunyi.

Tidak ada yang berbicara.

Tidak ada yang bergerak.

Bahkan Bima Santoso, yang biasanya selalu bisa menjaga ekspresinya, terlihat menelan ludah dengan susah payah.

Arga adalah orang pertama yang bergerak.

Dia berbalik ke arah ibunya.

“Bu… apa yang dia katakan itu benar?”

Bu Pratama tidak menjawab.

“BU! JAWAB AKU!”

Suara Arga menggelegar hingga membuat kaca jendela bergetar.

Bu Pratama perlahan mengangkat wajahnya.

Matanya berkaca-kaca.

“Arga… Ibu melakukan ini semua untukmu.”

“Untukku?!”

Arga tertawa.

Tawa yang getir. Tawa yang menyakitkan.

“Bu menyewa perempuan untuk berpura-pura hamil? Bu memaksa Rania menandatangani surat cerai? Bu… Bu menghancurkan pernikahanku?”

“Pernikahanmu sudah hancur sejak awal!” Bu Pratama berdiri. “Kamu tidak bisa memberikan keturunan, Arga! Keluarga Pratama membutuhkan penerus! Ibu hanya… Ibu hanya ingin keluarga ini tetap bertahan!”

“Tapi Rania tidak mandul!”

“Kamu yang mandul!”

Kata-kata itu keluar dari mulut Bu Pratama sebelum dia bisa menghentikannya.

Dan begitu kata-kata itu terucap, semuanya berubah.

Arga terdiam.

Bu Pratama menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Arga… Ibu tidak bermaksud—”

“Jadi Ibu tahu?”

Suara Arga sangat pelan. Hampir berbisik.

“Ibu tahu bahwa aku mandul?”

Bu Pratama menangis.

“Arga, dengar—”

“Ibu tahu bahwa aku tidak bisa punya anak… dan Ibu tetap menyalahkan Rania selama tiga tahun?!”

Bu Pratama menggeleng-gelengkan kepala.

“Bu hanya ingin melindungimu! Kalau orang lain tahu bahwa kamu tidak bisa punya anak, keluarga Pratama akan menjadi bahan tertawaan! Posisi kita di bisnis akan goyah! Ibu hanya—”

“Ibu menghancurkan hidup Rania.”

Arga mundur.

Kakinya terasa lemas.

“Ibu menghancurkan hidupku.”

Dia menoleh ke Selvi yang masih berdiri gemetar di sudut ruangan.

“Dan kamu… kamu bohong tentang bayi ini?”

Selvi langsung menangis.

“Mas Arga, aku… aku memang disuruh oleh Ibu. Tapi perasaanku kepadamu tulus! Aku benar-benar mencintaimu!”

“Kamu mencintaiku?” Arga tertawa pahit. “Kamu bahkan tidak hamil!”

“Mas, aku bisa menjelaskan—”

“KELUAR!”

Arga menunjuk pintu.

“KELUAR DARI RUMAH INI!”

Selvi mundur.

“Mas…”

“KELUAR!”

Selvi berlari keluar.

Pintu rumah dibanting.

Dan Arga berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya menutupi wajahnya.

Bu Pratama mencoba mendekat.

“Arga, anakku…”

“Jangan.”

Arga mundur.

“Jangan sentuh aku.”

“Arga—”

“Bu sudah menghancurkan semuanya.”

Bima Santoso perlahan berdiri.

Dia menutup laptop.

Memasukkan USB itu ke dalam sakunya.

“Mas Arga, Bu… saya rasa saya sudah mendengar cukup banyak untuk hari ini.”

Bu Pratama menoleh tajam.

“Kamu tidak akan membocorkan ini ke siapa pun!”

Bima menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Bu, saya sudah menjadi penasihat hukum keluarga ini selama dua puluh tahun. Saya tahu banyak hal. Tapi saya tidak pernah tahu bahwa Ibu bisa melakukan hal sejauh ini.”

“Bima—”

“Saya akan pergi sekarang.”

Bima melangkah ke pintu.

Tapi sebelum keluar, dia berhenti.

“Mas Arga.”

Arga mengangkat wajahnya.

“Kalau saya jadi kamu… saya akan mencari Rania.”

Pintu tertutup.

Dan keluarga Pratama tinggal di dalam rumah mereka yang besar dan mewah.

Tapi untuk pertama kalinya…

Rumah itu terasa kosong.

Bagian 3: Kebenaran yang Tidak Bisa Ditutupi

Tiga hari setelah kejadian itu, nama keluarga Pratama menjadi bahan pembicaraan di seluruh Jakarta.

Bukan karena bisnis mereka.

Bukan karena kekayaan mereka.

Tapi karena sebuah rekaman.

Rekaman 23 menit 17 detik yang awalnya hanya didengar oleh segelintir orang di ruang tamu rumah Pondok Indah itu… kini sudah tersebar di mana-mana.

Awalnya hanya di grup-grup WhatsApp keluarga.

Kemudian masuk ke media sosial.

Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, rekaman itu sudah ditonton lebih dari satu juta kali.

“Skandal Keluarga Pratama.”

Itu menjadi trending topic di berbagai platform.

Orang-orang membicarakannya di kantor.

Di kafe.

Di meja makan.

Semua orang ingin tahu siapa Rania Putri.

Dan mengapa perempuan itu bisa menyimpan rahasia sebesar itu selama tiga tahun.

Sementara itu, di sebuah apartemen kecil di kawasan Kemang, Rania duduk di sofa dengan secangkir teh hangat di tangannya.

Dia menatap layar ponselnya.

Puluhan panggilan tak terjawab.

Ratusan pesan masuk.

Beberapa dari kerabat.

Beberapa dari teman lama.

Beberapa dari orang asing yang entah bagaimana mendapatkan nomornya.

Tapi tidak ada satu pun dari Arga.

Setidaknya… belum.

Rania meletakkan ponselnya.

Dia menatap jendela.

Langit Jakarta sore itu berwarna oranye keemasan.

Indah.

Tapi hatinya terasa hampa.

“Sudah selesai,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Pintu apartemennya bergetar.

Tok. Tok. Tok.

Rania mengerutkan kening.

Dia belum memberitahu siapa pun tentang apartemen ini.

Dia baru menyewanya dua minggu lalu.

Dengan hati-hati, dia berdiri dan berjalan ke pintu.

Dia melihat melalui lubang intip.

Dan jantungnya hampir berhenti.

Di luar pintu…

Berdiri Arga Pratama.

Pria itu terlihat berbeda.

Matanya bengkak.

Rambutnya acak-acakan.

Kemejanya kusut.

Dia tidak terlihat seperti pengusaha sukses yang selalu muncul di majalah bisnis.

Dia terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.

Rania membuka pintu.

Arga mengangkat wajahnya.

“Rania.”

Suaranya serak.

“Mas.”

Hanya satu kata.

Arga menelan ludah.

“Aku… aku tidak tahu harus mulai dari mana.”

Rania tidak bergerak.

Dia tidak mempersilakan Arga masuk.

Dia hanya berdiri di ambang pintu, menatap laki-laki yang pernah menjadi suaminya.

“Aku tahu tentang rekaman itu,” kata Arga akhirnya. “Aku sudah mendengarnya. Berkali-kali. Setiap kali aku mendengarnya, aku merasa semakin hancur.”

“Mas datang ke sini untuk apa?”

Arga menundukkan kepalanya.

“Aku tidak tahu.”

Dia tertawa kecil.

“Itu jawaban yang bodoh, ya?”

Rania tetap diam.

“Rania… aku minta maaf.”

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya.”

Arga mengangkat wajahnya.

Matanya merah.

“Dulu aku berjanji akan melindungimu. Aku berjanji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Tapi aku… aku justru yang paling banyak menyakitimu.”

Rania menatapnya beberapa detik.

“Mas tahu apa yang paling menyakitkan?”

Arga menggeleng.

“Bukan karena Mas tidak membelaku di depan Ibu. Bukan karena Mas tidak mempercayaiku.”

Rania menelan ludah.

“Yang paling menyakitkan adalah… selama tiga tahun, aku menanggung semua tuduhan itu sendirian. Aku tahu bahwa yang mandul bukan aku. Aku tahu bahwa Mas yang tidak bisa memberikan keturunan. Tapi aku tetap diam. Aku tetap menerima semua hinaan itu. Karena aku mencintaimu, Mas.”

Air mata mulai mengalir di pipi Rania.

“Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Dan Mas… Mas membalasnya dengan membawa perempuan lain ke rumahku. Perempuan yang bahkan tidak benar-benar hamil. Mas membiarkanku dipermalukan di depan pengacara keluarga.”

“Rania—”

“Aku tanda tangani surat itu, Mas. Bukan karena aku menyerah. Tapi karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diperjuangkan.”

Arga melangkah maju.

Dia meraih tangan Rania.

“Rania, dengarkan aku. Aku tahu aku tidak punya hak untuk meminta apa pun darimu. Tapi…”

Dia menekan tangannya.

“Aku ingin memperbaiki semuanya.”

Rania menatap tangan itu.

Tangan yang dulu selalu menggenggamnya dengan hangat.

Tangan yang dulu selalu membuatnya merasa aman.

Tapi sekarang…

Tangan itu terasa asing.

“Mas tidak bisa memperbaiki semuanya.”

“Aku tahu.”

“Keluarga Mas sudah menghancurkan hidupku.”

“Aku tahu.”

“Ibu Mas—”

“Ibu sudah aku tinggalkan.”

Rania tertegun.

“APA?”

Arga mengangguk pelan.

“Aku meninggalkan rumah itu. Kemarin.”

Rania menatapnya dengan mata membulat.

“Mas… meninggalkan rumah?”

“Aku tidak bisa tinggal di sana lagi, Rania. Setiap kali aku melihat Ibu, aku teringat semua yang dia lakukan. Setiap kali aku melihat ruang tamu itu, aku teringat bagaimana aku hanya berdiri di sana. Diam. Membiarkanmu menderita.”

Arga menutup matanya.

“Aku menyerahkan semua urusan bisnis kepada pengacara. Aku sudah tidak peduli lagi dengan perusahaan. Aku sudah tidak peduli dengan nama Pratama.”

“Mas…”

“Aku hanya peduli padamu.”

Rania menarik tangannya.

“Mas, aku…”

“Aku tahu ini terlalu cepat. Aku tahu kamu mungkin sudah tidak mau melihatku lagi. Tapi aku…”

Arga berlutut.

Di depan pintu apartemen kecil itu.

Di depan Rania.

“Rania Putri, aku mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Dan kalau kamu masih mau… aku ingin memulai semuanya dari awal.”

Rania menatapnya.

Laki-laki yang dulu begitu dingin.

Laki-laki yang dulu tidak pernah membelanya.

Laki-laki yang dulu hanya diam.

Sekarang berlutut di depannya.

Dengan mata yang penuh penyesalan.

“Mas… bangun.”

“Aku tidak akan bangun sampai kamu memaafkanku.”

“Mas, bangun. Tetangga bisa melihat.”

“Aku tidak peduli.”

Rania menghela napas.

“Mas Arga.”

“Ya?”

“Aku…”

Rania berhenti.

Dia menatap mata Arga.

Mata yang dulu selalu membuatnya jatuh cinta.

“Mas, aku belum bisa memaafkanmu.”

Arga menundukkan kepalanya.

“Tapi…”

Arga mengangkat wajahnya.

“Tapi aku juga belum bisa melupakanmu.”

Rania menelan ludah.

“Aku butuh waktu, Mas. Aku butuh waktu untuk menyembuhkan semua luka ini. Aku butuh waktu untuk belajar percaya lagi.”

“Aku akan menunggu.”

Arga berdiri.

“Berapa pun lamanya.”

Rania menatapnya.

“Janji?”

“Janji.”

Rania menghela napas.

“Masuklah. Minum teh dulu. Mas terlihat seperti orang yang tidak tidur selama tiga hari.”

Arga tersenyum.

Senyum pertama yang Rania lihat sejak… entah kapan.

“Aku memang tidak tidur selama tiga hari.”

“Maka dari itu, masuk.”

Arga melangkah masuk ke apartemen kecil itu.

Apartemen yang jauh dari kemewahan rumah Pondok Indah.

Tapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir…

Rania merasa seperti dia akhirnya bisa bernapas.

Dua minggu kemudian, sebuah berita mengejutkan tersebar di seluruh Jakarta.

Ratna Kusuma, istri almarhum Hadi Pratama dan ibu dari Arga Pratama, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pemalsuan dokumen dan penipuan.

Bukan hanya itu.

Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa Selvi, perempuan yang disewa untuk berpura-pura hamil, ternyata sudah menerima uang dari Bu Pratama untuk melakukan hal serupa terhadap dua keluarga pengusaha lain.

Bu Pratama menggunakan cara yang sama.

Menyusupkan perempuan.

Membuat skandal.

Menghancurkan pernikahan.

Dan kemudian memaksa istri sah menandatangani surat cerai.

Semua dilakukan agar keluarga Pratama bisa menguasai bisnis keluarga-keluarga tersebut melalui pernikahan yang diatur.

Tapi rencana itu hancur.

Hancur karena satu perempuan yang selama tiga tahun hanya diam.

Seorang perempuan yang selalu diremehkan.

Seorang perempuan yang selalu dianggap tidak tahu diri.

Perempuan itu bernama Rania Putri.

Dan dia…

Baru saja membuktikan kepada seluruh dunia bahwa diam bukan berarti kalah.

Sementara itu, di sebuah kafe kecil di kawasan Senopati, dua orang duduk berhadapan.

Rania menyeruput kopinya.

Di depannya, Arga sedang menatap dokumen-dokumen di atas meja.

“Jadi… kita benar-benar akan melakukan ini?” tanya Arga.

Rania mengangguk.

“Kita akan membangun sesuatu yang baru. Bukan atas nama Pratama. Bukan atas nama siapa pun. Hanya kita.”

Arga tersenyum.

“Kedengarannya bagus.”

Rania tersenyum kembali.

“Tapi ada satu syarat.”

“Apa?”

Rania menatap Arga dengan serius.

“Mas harus berjanji… tidak akan pernah diam lagi.”

Arga menatapnya.

Dia meraih tangan Rania.

“Aku berjanji.”

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…

Rania percaya.

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *