Bagian 2
Laki-laki itu baru melewati pintu kaca hotel ketika aku melihat wajahnya berubah.
Adrian Wibowo jarang menunjukkan emosi di depan orang lain. Bahkan ketika sedang marah, suaranya biasanya justru semakin rendah dan gerakannya semakin tenang. Selama tiga tahun menjadi istrinya, aku belajar bahwa satu-satunya tanda Adrian benar-benar khawatir adalah langkahnya yang menjadi lebih cepat.
Malam itu, langkahnya hampir berubah menjadi lari.
Dia mengenakan setelan abu-abu gelap tanpa dasi. Rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena terburu-buru turun dari mobil. Ketika melihatku berdiri dengan gaun hitam, rambut masih lembap, dan bekas merah mulai muncul di lenganku, dia berhenti beberapa langkah di depanku.
“Clara?”
Aku tidak menjawab.

Matanya turun ke lenganku.
“Apa yang terjadi?”
Aku membuka mulut, tetapi suara dari dalam aula terdengar lebih dahulu.
“Akhirnya datang juga!”
Itu suara Ayah.
Dia rupanya melihat Adrian melalui pintu yang terbuka. Ayah berjalan mendekat dengan senyum lebar yang benar-benar berbeda dari wajahnya beberapa menit sebelumnya.
Aku tahu senyum itu.
Itu senyum yang selalu dia gunakan ketika bertemu calon klien besar.
“Pak Adrian Wibowo,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Wah, ini kejutan. Saya tidak tahu Bapak juga menghadiri acara malam ini.”
Adrian tidak langsung menerima tangannya.
Aku melihat kebingungan melintas di wajah Ayah.
Selama hampir setahun, perusahaan katering keluarga kami berusaha mendapatkan kontrak untuk beberapa acara tahunan PT Arunika Konstruksi, perusahaan tempat Adrian menjabat sebagai direktur utama. Aku tidak pernah ikut dalam proses penawaran itu karena sejak awal aku menolak mencampur pekerjaanku dengan hubungan pribadi.
Ayah hanya tahu aku pernah beberapa kali berkomunikasi dengan bagian keuangan Arunika.
Dia tidak pernah tahu bahwa aku tidur di samping direktur utamanya hampir setiap malam ketika Adrian berada di Bandung.
“Pak Adrian?” Ayah mengulangi, masih tersenyum. “Saya Surya. Kita pernah bertemu waktu presentasi vendor bulan Mei.”
“Saya ingat.”
Suara Adrian datar.
Lalu dia melewati tangan Ayah yang masih terulur dan berdiri di sampingku.
Tangannya menyentuh punggungku dengan sangat hati-hati.
“Clara,” katanya lagi. “Kamu jatuh?”
Aku menatapnya.
Entah mengapa, pertanyaan sederhana itu hampir membuatku menangis.
Bukan karena aku ingin dikasihani.
Tetapi karena untuk pertama kalinya malam itu seseorang melihat keadaanku dan bertanya apakah aku baik-baik saja, bukan apakah aku sedang merusak suasana.
“Ayah mendorongku ke kolam.”
Ruangan di sekitar kami mendadak terasa sangat sunyi.
Adrian memandang Ayah.
Ayah tertawa pendek.
“Ah, jangan dibesar-besarkan. Kami sedang bercanda. Clara kehilangan keseimbangan.”
“Ayah meletakkan dua tangan di bahuku dan mendorongku.”
“Tidak begitu kejadiannya.”
“Ada puluhan orang di teras.”
Senyum Ayah mulai kaku.
“Clara, ini pernikahan adikmu. Jangan membuat drama.”
Aku hampir menjawab, tetapi Adrian lebih cepat.
“Dia baru saja mengatakan Anda mendorongnya ke kolam.”
Nada suaranya tetap tenang.
Justru itu yang membuat wajah Ayah semakin tegang.
“Pak Adrian, ini urusan keluarga.”
“Benar.”
Adrian menatapnya lurus.
“Itu sebabnya saya ada di sini.”
Ayah mengerutkan kening.
“Apa maksudnya?”
Aku merasakan tangan Adrian mencari tanganku.
Dia tidak menarikku ke belakangnya. Tidak berdiri seolah aku membutuhkan seseorang untuk berbicara menggantikanku.
Dia hanya menggenggam tanganku.
Memberiku pilihan.
Aku menarik napas.
Kemudian aku mengeluarkan rantai tipis yang selama ini tersembunyi di balik kerah gaunku.
Cincin emas putih kecil tergantung di sana.
Aku melepaskannya dari rantai, memasangnya kembali pada jari manisku, lalu menatap Ayah.
“Aku rasa sudah waktunya Ayah tahu.”
Beberapa tamu yang tadi mengikuti Ayah dari aula mulai berkumpul di dekat pintu.
Sofi dan Raka juga berjalan mendekat.
Wajah Sofi tampak bingung.
“Clara?”
Aku menatap adikku.
“Adrian adalah suamiku.”
Tidak ada yang tertawa.
Untuk beberapa detik, bahkan musik dari aula terdengar terlalu keras karena semua orang di sekitar kami membisu.
Ayah menatap tanganku.
Lalu Adrian.
Kemudian kembali menatapku.
“Suami?”
“Sudah tiga tahun.”
Sofi menutup mulut dengan satu tangan.
Raka tampak sama terkejutnya, tetapi berbeda dengan Ayah, dia tidak mengatakan apa pun.
Ayah akhirnya tertawa.
Bukan tawa karena lucu.
Tawa orang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang selama ini dia bangun sendiri.
“Jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
“Kamu menikah tiga tahun dan tidak mengatakan apa-apa kepada keluarga?”
“Aku mencoba mengatakan aku punya seseorang.”
“Kapan?”
“Banyak kali.”
Aku masih bisa mengingatnya.
Tiga setengah tahun lalu, ketika Adrian dan aku baru mulai serius, aku pernah menyebut bahwa aku berkencan dengan seseorang dari Jakarta.
Ayah langsung bertanya apa pekerjaannya.
Ketika kujawab bahwa dia bekerja di bidang konstruksi, Ayah meminta kartu namanya karena sedang mencari investor untuk memperluas dapur produksi.
Aku menolak.
Seminggu kemudian, Ayah mengambil ponselku tanpa izin saat sedang diisi daya di kantor dan menelepon seseorang yang dia kira adalah kekasihku pada waktu itu.
Nomor tersebut ternyata milik rekan kerja.
Aku dipermalukan di kantor selama berbulan-bulan.
Setelah itu, aku berhenti memberi informasi.
Ketika aku dan Adrian menikah setahun kemudian, hanya dua sahabatku, keluarga inti Adrian, dan beberapa teman dekat yang hadir.
Aku berniat memberi tahu keluargaku setelah situasi bisnis lebih tenang.
Kemudian satu masalah berubah menjadi masalah lain.
Utang perusahaan.
Pernikahan Sofi.
Ekspansi dapur.
Aku terus menunda karena setiap kali pulang ke rumah, Ayah memberiku alasan baru mengapa hidupku harus menunggu.
Sampai akhirnya tiga tahun berlalu.
“Ayah selalu mengatakan aku tidak bisa mendapatkan pasangan,” kataku. “Malam ini Ayah mengatakannya di depan empat ratus orang.”
“Karena kamu tidak pernah bilang!”
“Kalau seorang anakmu tidak menceritakan bahwa dia sudah menikah selama tiga tahun, mungkin pertanyaan pertama yang seharusnya Ayah tanyakan bukan kenapa dia menyembunyikannya.”
Aku berhenti sebentar.
“Mungkin Ayah perlu bertanya kenapa dia tidak merasa aman memberitahumu.”
Sofi menundukkan kepala.
Ayah menunjuk Adrian.
“Dan kamu membiarkan dia melakukan ini?”
Adrian mengangkat alis.
“Melakukan apa?”
“Menyembunyikan pernikahan.”
“Clara tidak membutuhkan izin saya untuk menentukan kapan dia siap berbicara dengan keluarganya.”
“Kamu suaminya.”
“Benar.”
“Harusnya kamu menyuruh dia menghormati orang tuanya.”
Adrian menatap Ayah cukup lama.
Lalu berkata, “Menghormati orang tua tidak berarti menerima penghinaan.”
Aku merasakan jari Ayah bergerak gelisah di sekitar mikrofon.
Beberapa tamu mulai mundur.
Mereka mungkin akhirnya menyadari bahwa apa yang sedang terjadi bukan lagi hiburan.
Ayah menoleh kepadaku.
“Kita bicara besok.”
“Tidak.”
“Clara.”
“Kita bicara sekarang.”
Aku membuka tas kecil yang baru kuambil dari mobil dan mengeluarkan sebuah map tipis.
Aku memang tidak merencanakan pertengkaran malam itu.
Tetapi selama bertahun-tahun bekerja di bidang keuangan, ada satu kebiasaan yang sudah menjadi bagian dari diriku.
Aku menyimpan dokumen.
Semua dokumen.
Aku mengeluarkan tiga lembar bukti transfer.
Rp72.500.000.
Rp64.000.000.
Rp50.000.000.
Total Rp186.500.000.
Kemudian aku meletakkan cetakan percakapan WhatsApp di atasnya.
Ayah mengenali pesannya sendiri.
“Ini apa?” Sofi bertanya pelan.
“Pembayaran hotel, dekorasi, dan dokumentasi.”
Wajah Sofi semakin pucat.
“Aku pikir Ayah yang membayar.”
“Ayah meminta aku menalangi.”
Aku menunjuk bagian percakapan yang telah kutandai.
“Di sini Ayah menulis akan mengembalikannya dua minggu setelah pembayaran proyek kantor masuk.”
Ayah menatapku tajam.
“Kamu membawa itu ke pernikahan?”
“Aku membawa dokumen karena tadi sore bagian hotel mengatakan ada perbedaan catatan pembayaran. Aku sedang membereskannya untuk kalian ketika Ayah mengambil mikrofon.”
Sofi melihat Ayah.
“Ini benar?”
Ayah menghembuskan napas keras.
“Uang dalam keluarga memang harus dihitung seperti ini?”
Aku tidak langsung menjawab.
Itulah kalimat yang selalu digunakan Ayah jika seseorang meminta pertanggungjawaban.
Ketika dia meminjam, semuanya bisnis.
Ketika harus mengembalikan, semuanya keluarga.
“Kalau uang keluarga tidak perlu dihitung,” kataku, “mengapa sejak umur dua puluh empat tahun gajiku selalu dipotong kalau aku terlambat menyerahkan laporan?”
Tidak ada jawaban.
Aku melanjutkan.
“Kenapa bonusku dibatalkan ketika satu klien telat membayar, padahal itu bukan kesalahanku?”
Ayah mengepalkan rahang.
“Jangan bawa urusan perusahaan ke sini.”
“Ayah yang membawanya ke sini ketika menggunakan uang pribadiku untuk acara keluarga kemudian mempermalukanku di depan tamu.”
Sofi memegang lengan Raka.
“Clara, aku tidak tahu.”
Aku menatapnya.
“Aku tahu.”
Itulah yang menyakitkan.
Sofi memang tidak tahu mengenai uang tersebut.
Namun dia tahu bagaimana Ayah memperlakukanku.
Dan selama bertahun-tahun dia memilih diam karena selama aku menjadi sasaran, dia aman.
Raka akhirnya maju satu langkah.
“Kak Clara.”
Aku menatapnya.
“Saya benar-benar tidak tahu soal uang itu.”
“Aku percaya.”
“Kalau memang uang itu untuk pernikahan kami, saya dan Sofi akan ikut bertanggung jawab.”
Ayah langsung memotong.
“Tidak perlu.”
Raka menoleh kepadanya.
“Pak, ini hampir dua ratus juta.”
“Ayah akan mengurus.”
“Kapan?”
Pertanyaan itu datang dari Sofi.
Semua orang menoleh kepadanya.
Untuk pertama kalinya malam itu, adikku tidak tampak seperti pengantin yang takut pestanya rusak.
Dia tampak seperti perempuan yang baru menyadari bahwa sebagian pesta sempurnanya dibangun dengan uang orang yang beberapa menit sebelumnya dia biarkan dipermalukan.
Ayah menarik napas.
“Besok kita bicarakan.”
Aku menggeleng.
“Aku tidak meminta uangnya malam ini.”
“Lalu apa yang kamu mau?”
“Aku mau semuanya dicatat.”
Aku mengeluarkan selembar kertas lain.
“Besok pagi aku akan mengirim surat resmi mengenai pengembalian Rp186.500.000. Kita bisa membuat jadwal pembayaran yang masuk akal.”
Mata Ayah membesar.
“Kamu menagih ayahmu sendiri dengan surat?”
“Ya.”
“Aku membesarkanmu.”
“Ayah membesarkanku karena aku anak Ayah. Itu bukan pinjaman yang harus kubayar sampai mati.”
Beberapa orang langsung menoleh.
Kalimat itu bahkan mengejutkanku sendiri.
Namun setelah keluar, aku tahu aku tidak ingin menariknya kembali.
Ayah tertawa tanpa humor.
“Sejak menikah dengan orang kaya, mulutmu berubah.”
Aku merasakan Adrian bergerak sedikit, tetapi aku menekan tangannya.
Ini milikku.
Aku yang harus menyelesaikannya.
“Aku sudah seperti ini jauh sebelum menikah dengan Adrian,” kataku. “Bedanya, dulu aku terlalu takut mengatakannya.”
Aku mengambil napas.
“Dan satu hal lagi.”
Ayah menatapku.
“Mulai Senin, aku mengundurkan diri dari perusahaan.”
Wajahnya berubah sepenuhnya.
“Apa?”
“Aku sudah menyiapkan daftar akun, pembayaran berjalan, kontrak pemasok, pajak yang belum jatuh tempo, laporan gaji, dan akses yang perlu dialihkan. Aku akan melakukan serah terima secara profesional.”
“Tidak bisa.”
“Bisa.”
“Siapa yang akan mengurus keuangan?”
“Itu tanggung jawab pemilik perusahaan.”
“Kamu kepala keuangan.”
“Sampai masa serah terimaku selesai.”
“Kamu tidak bisa meninggalkan perusahaan begitu saja.”
“Aku tidak meninggalkan begitu saja. Aku mengundurkan diri.”
Ayah menatap Adrian.
“Ini karena kamu?”
Adrian tidak menjawab.
Aku yang menjawab.
“Bukan.”
“Jangan bohong.”
“Adrian sudah memintaku keluar dari perusahaan dua tahun lalu karena dia melihat setiap kali pulang kerja aku masih menjawab telepon Ayah sampai tengah malam.”
Ayah mencibir.
“Nah.”
“Tapi dia juga bilang keputusan harus datang dariku.”
Aku melihat Adrian sebentar.
“Dan dia menunggu.”
Lalu aku kembali menatap Ayah.
“Keputusan itu datang malam ini.”
Aku tidak pernah melihat Ayah kehilangan kata-kata selama itu.
Selama hidupku, dia selalu memiliki jawaban.
Selalu punya alasan.
Selalu bisa membuat orang lain merasa bersalah lebih cepat daripada mereka sempat memikirkan apakah kesalahan itu benar-benar milik mereka.
Namun malam itu, untuk pertama kali, tidak ada yang bisa dia katakan tanpa membuat dirinya terlihat lebih buruk.
Sofi berjalan mendekat kepadaku.
“Clara.”
Aku mundur setengah langkah.
Dia berhenti.
Air mata muncul di matanya.
“Aku minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Aku melihat Ayah mendorongmu.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Aku melihatnya.”
Suaranya pecah.
“Aku seharusnya datang menolongmu.”
“Ya.”
Dia menangis.
Aku tidak menghiburnya.
Belum.
Ada jenis permintaan maaf yang harus dibiarkan berdiri sendiri tanpa segera diberi pengampunan supaya orang yang mengucapkannya memahami beratnya.
“Aku takut,” katanya. “Aku berpikir kalau aku membuat keributan, semua orang akan mengingat kejadian ini sebagai bagian dari pernikahanku.”
Aku mengangguk.
“Dan kamu memilih membiarkanku mengingatnya sebagai bagian dari hidupku.”
Sofi menutup mata.
Aku melihat Raka merangkul bahunya.
“Aku tidak tahu bagaimana memperbaikinya,” katanya.
“Kamu tidak harus memperbaikinya malam ini.”
Aku berjalan melewatinya.
Di luar pintu hotel, udara Bandung terasa dingin.
Adrian mengikuti.
Kami tidak mengatakan apa pun sampai tiba di dekat mobil.
Barulah setelah pintu menutup, aku mulai gemetar.
Bukan tanganku saja.
Seluruh tubuhku.
Adrian tidak langsung memelukku.
Dia mengenalku terlalu baik untuk melakukan sesuatu sebelum aku siap.
“Boleh?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Dia menarikku ke dadanya.
Dan semua ketenangan yang kupaksakan sejak keluar dari kolam runtuh.
Aku menangis begitu keras sampai napasku tersendat.
“Aku benci mereka melihatku seperti itu.”
“Aku tahu.”
“Aku benci Ayah membuat semua orang tertawa.”
“Aku tahu.”
“Aku bahkan membayar pestanya.”
“Aku tahu.”
Aku menarik diri sedikit.
“Jangan bilang kamu sudah menyuruhku tidak mengirim uang itu.”
Sudut bibirnya bergerak.
“Saya sangat menghargai hidup saya.”
Untuk pertama kalinya malam itu, aku tertawa.
Hanya satu detik.
Namun cukup.
Adrian mengusap air mata di pipiku.
“Pulang?”
Aku mengangguk.
Sebelum mobil bergerak, ponselnya berbunyi.
Dia melihat layar lalu mengernyit.
“Apa?”
“Pesan dari direktur pengadaan.”
Aku langsung mengerti.
Tender perusahaan Ayah.
“Jangan.”
Adrian menatapku.
“Jangan batalkan apa pun karena kejadian malam ini.”
“Clara.”
“Aku serius.”
“Mereka sedang mengevaluasi vendor berdasarkan kemampuan operasional.”
“Biarkan tetap begitu.”
Aku memegang tangannya.
“Aku tidak mau Ayah bisa mengatakan aku menghancurkan bisnisnya karena marah.”
Adrian mengamatiku beberapa detik.
Kemudian dia mengangguk.
“Baik.”
“Terima kasih.”
“Tapi ada hal yang perlu kamu tahu.”
“Apa?”
“Tim pengadaan sudah menemukan beberapa masalah sebelum malam ini.”
Aku membeku.
“Masalah apa?”
“Dokumen arus kas dan kapasitas produksi tidak konsisten dengan nilai kontrak yang diajukan.”
Aku langsung duduk tegak.
“Aku tidak pernah menandatangani dokumen tender Arunika.”
“Saya tahu.”
“Siapa yang mengirim laporan keuangan?”
“Itu yang sedang diperiksa.”
Darahku terasa dingin.
Karena dua minggu sebelumnya, Ayah pernah meminta file laporan keuangan internal.
Katanya untuk pertemuan bank.
Aku memberikan versi resmi terakhir.
Namun angka yang digunakan untuk tender seharusnya tidak boleh diubah tanpa sepengetahuanku.
“Besok aku harus ke kantor.”
Adrian menggeleng.
“Bukan malam ini.”
“Ada sesuatu yang tidak beres.”
“Besok.”
Aku menatap jalan di depan kami.
Malam itu aku pikir bagian tersulit sudah selesai.
Aku salah.
Karena ketika Senin pagi aku membuka komputer kantor dan memeriksa folder tender PT Arunika Konstruksi, aku menemukan sebuah dokumen yang membuat tanganku kembali dingin.
Di halaman terakhir terdapat namaku.
Clara Wijaya.
Kepala Keuangan.
Dan tepat di bawahnya ada tanda tangan yang sangat mirip dengan tanda tanganku.
Hanya saja aku tidak pernah menandatanganinya.
