AYAHKU MEMBAGIKAN RUKO DAN MOBIL KEPADA DUA ADIKKU, LALU MENYEBUTKU BEBAN—MALAM ITU AKU PERGI, PAGINYA PETUGAS BANK DATANG MEMBAWA FOTO ALMARHUM NENEK

BAGIAN 2

Aku membaca kalimat di belakang foto itu tiga kali.

KIRANA BUKAN CUCUKU. DIA PEMILIK SEBENARNYA TEMPAT INI.

Tanganku langsung dingin.

Kalimat pertama membuatku bingung.

Kalimat kedua membuat napasku tertahan.

Kalau aku bukan cucu Nenek, lalu aku siapa?

Dan kalau tempat itu benar-benar milikku, kenapa selama bertahun-tahun Ayah memperlakukanku seperti orang yang menumpang hidup?

Aku menelepon Bu Ratna.

“Jangan biarkan siapa pun pergi.”

“Kirana, ayahmu marah besar.”

“Aku menuju ke sana.”

“Cepat.”

Aku langsung turun ke parkiran.

Sepanjang perjalanan dari Cimahi ke Bandung, ponselku terus bergetar.

Dito.

Nisa.

Ibu.

Ayah.

Tidak satu pun kujawab.

Baru ketika mobilku memasuki Jalan Antapani, pesan dari Dito masuk.

KALAU KAMU MERASA PUNYA HAK ATAS RESTORAN, DATANG DAN BUKTIKAN.

Aku hampir tertawa.

Empat tahun aku duduk di ruang kecil tanpa jendela mengurus tagihan mereka.

Saat supplier menagih, aku yang ditelepon.

Saat uang kas kurang, aku yang menambal.

Saat cicilan jatuh tempo, aku yang mencari jalan.

Tapi sekarang aku diminta membuktikan bahwa aku punya hak.

Aku memarkir mobil tepat di depan restoran.

Pintu utama masih tertutup untuk pelanggan.

Di dalam, suasana seperti ruang sidang.

Ayah berdiri di belakang meja.

Dito di sampingnya.

Nisa duduk bersama Ibu.

Dua petugas bank ada di dekat lemari arsip.

Bu Ratna dan seorang notaris berdiri di ujung ruangan.

Kotak logam milik Nenek masih terbuka.

Begitu aku masuk, Ayah langsung menunjukku.

“Kamu puas?”

Aku menutup pintu.

“Belum.”

“Kamu mempermalukan keluarga.”

“Tidak, Yah.”

Aku meletakkan tas di kursi.

“Aku cuma menjalankan klausul yang dibuat Nenek.”

Ayah menghantam meja.

“Jangan bawa-bawa orang mati!”

Bu Ratna maju.

“Justru karena almarhumah Ibu Saras yang membuat perjanjian ini, kita harus membahasnya.”

Ayah menatap tajam.

“Bu Ratna hanya pegawai bank.”

Perempuan itu tersenyum tipis.

“Dulu iya.”

Dia mengeluarkan kartu nama.

“Sekarang saya kepala divisi pengelolaan aset khusus.”

Wajah Ayah sedikit berubah.

Bu Ratna membuka map.

“Lima tahun lalu, sebelum meninggal, Ibu Saras menempatkan beberapa aset dalam skema pengamanan.”

“Aset apa?”

Dito memotong.

“Ruko Antapani ini?”

“Bukan hanya ruko.”

Ruangan langsung diam.

Bu Ratna mengeluarkan daftar.

“Tanah restoran utama.”

Ayah menelan ludah.

“Gudang di Kiaracondong.”

Nisa berhenti memainkan ponsel.

“Dan dua unit ruko di Antapani.”

Dito langsung berdiri.

“Ruko yang diberikan Ayah ke saya?”

Bu Ratna melihatnya.

“Pak Hendra tidak bisa memberikan sesuatu yang kepemilikannya tidak sepenuhnya berada atas nama beliau.”

Ayah membentak.

“Itu aset keluarga!”

“Benar.”

Bu Ratna menatapku.

“Pertanyaannya, keluarga siapa?”

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

Notaris mengambil foto lama yang tadi dikirim kepadaku.

“Bu Kirana, pernah melihat foto ini?”

“Belum.”

“Bayi ini siapa?”

Aku menggeleng.

Ayah tiba-tiba berkata,

“Tidak penting.”

Aku langsung menoleh.

“Ayah tahu?”

Dia membisu.

Aku berjalan mendekat.

“Ayah tahu siapa bayi itu?”

Ibu berdiri.

“Kirana, sudah cukup.”

Aku memandangnya.

“Ibu juga tahu?”

Matanya bergerak ke arah Ayah.

Itu cukup.

Ada sesuatu yang selama ini mereka sembunyikan.

Aku mengambil foto itu.

“Siapa bayi ini?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku mengangkat suara.

“SIAPA?”

Akhirnya Ibu menangis.

“Diam saja, Hendra.”

Ayah menoleh tajam.

“Jangan.”

“Sudah terlalu lama.”

“Ika!”

“Dia berhak tahu!”

Ruangan sunyi.

Ibu duduk perlahan.

Tangannya gemetar.

“Kirana, perempuan yang kamu panggil Nenek… memang bukan nenek kandungmu.”

Dadaku seperti ditarik dari dalam.

Aku menatap foto itu lagi.

“Lalu?”

Ibu mengusap air mata.

“Kamu anak dari kakak perempuan Ayahmu.”

Aku menoleh kepada Ayah.

“Ayah punya kakak?”

Ayah tidak menjawab.

Ibu yang melanjutkan.

“Namanya Larasati.”

Aku belum pernah mendengar nama itu.

Tidak sekali pun.

“Dia meninggal saat kamu masih bayi.”

Aku menatap Ayah.

“Jadi Ayah sebenarnya pamanku?”

Rahangnya mengeras.

“Secara darah, iya.”

Nisa menutup mulut.

Dito ikut terpaku.

Sepertinya mereka juga baru tahu.

Aku tertawa pelan.

Semua potongan aneh masa kecilku tiba-tiba terasa masuk akal.

Kenapa foto bayiku jauh lebih sedikit.

Kenapa Nenek selalu membelaku.

Kenapa Ayah sering berkata aku berbeda dari adik-adikku.

Aku pikir itu hanya karena aku anak pertama.

Ternyata memang berbeda.

“Kenapa aku dibesarkan sebagai anak kalian?”

Ibu menjawab.

“Ibumu meninggal mendadak setelah melahirkan. Ayah kandungmu sudah meninggal lebih dulu karena kecelakaan.”

Aku menelan ludah.

“Dan aset ini?”

Bu Ratna masuk ke percakapan.

“Sebagian berasal dari ibu kandung Anda.”

Ayah langsung membantah.

“Jangan sembarangan.”

Bu Ratna membuka satu berkas.

“Almarhumah Larasati memiliki tanah tempat restoran pertama berdiri.”

Aku memandang bangunan di sekelilingku.

Restoran yang Ayah selalu sebut dibangun dari nol oleh dirinya sendiri.

“Tanah ini milik ibu kandungku?”

“Ya.”

“Bangunannya?”

“Dibangun bersama almarhumah Ibu Saras setelah Larasati meninggal.”

Bu Ratna menunjuk foto.

“Itu sebabnya foto ini diambil.”

Aku melihat lagi.

Nenek.

Kakek.

Aku sebagai bayi.

Di depan bangunan lama yang kelak menjadi restoran.

“Apa maksud tulisan ‘pemilik sebenarnya’?”

Notaris menjawab.

“Karena sebelum meninggal, Larasati membuat wasiat.”

Ayah tiba-tiba berjalan mendekat.

“Tidak pernah ada wasiat.”

Bu Ratna menatapnya.

“Justru ada.”

“Mana?”

Ruangan kembali sunyi.

Aku teringat kalimat Bu Ratna di telepon.

Dokumen hilang.

“Surat pengalihan hak itu yang hilang?”

Bu Ratna mengangguk.

“Bukan hanya surat pengalihan.”

Dia melihat Ayah.

“Salinan wasiat juga seharusnya ada di kotak.”

Aku langsung memandang Ayah.

“Kamu mengambilnya?”

“Jaga mulutmu.”

“Dulu?”

“Aku tidak mengambil apa pun.”

“Lalu bagaimana Ayah tahu dokumen itu ada?”

Dia terdiam.

Dito langsung menatapnya.

“Yah?”

Untuk pertama kalinya malam itu, Dito terlihat tidak yakin berada di pihak mana.

Aku mendekati Ayah.

“Empat tahun aku menutupi cicilan restoran.”

Dia diam.

“Aku pakai tabunganku.”

Tidak ada jawaban.

“Aku bahkan menarik deposito milikku supaya pegawai tetap digaji waktu cabang rugi.”

Ibu menangis semakin keras.

Aku menunjuk restoran.

“Dan selama itu Ayah tahu tanah ini berasal dari ibu kandungku?”

Ayah akhirnya bicara.

“Keluarga membesarkanmu.”

Aku terpaku.

Dia melanjutkan.

“Kamu makan dari uang keluarga. Sekolah dari uang keluarga.”

Aku tertawa pendek.

“Jadi itu alasan Ayah mengambil milikku?”

“Aku menjaga semuanya.”

“Untuk siapa?”

“Untuk kita.”

Aku menatap Dito.

“Ruko untuk Dito.”

Lalu Nisa.

“Mobil untuk Nisa.”

Kemudian kembali kepada Ayah.

“Dan aku disebut beban.”

Tidak ada yang berani menatapku.

Bu Ratna menggeser satu dokumen.

“Pak Hendra, ada masalah lain.”

Ayah menegang.

“Kami menemukan beberapa transaksi jaminan.”

Dito mendekat.

“Jaminan apa?”

“Dua tahun lalu, restoran utama digunakan sebagai dasar fasilitas kredit.”

Aku langsung menoleh kepada Ayah.

“Berapa?”

Bu Ratna menjawab.

“Outstanding terakhir Rp3,8 miliar.”

Nisa berdiri.

“Apa?”

Ibu menutup wajah.

Dito langsung marah.

“Yah, katanya utang perusahaan tinggal sedikit!”

Ayah membentak.

“Diam!”

Bu Ratna belum selesai.

“Dan tiga bulan terakhir, pembayaran cicilan berasal dari rekening pribadi Bu Kirana.”

Semua mata beralih kepadaku.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Karena mereka memang baru tahu.

Dito perlahan duduk.

Nisa tak lagi memegang kunci mobil dengan bangga.

Ayah masih mencoba mempertahankan wajahnya.

“Itu pinjaman usaha. Normal.”

“Benar,” kata Bu Ratna. “Kalau pemilik aset menyetujuinya.”

Tatapan Ayah berubah.

Aku menangkap maksudnya.

“Siapa yang tanda tangan?”

Bu Ratna tidak langsung menjawab.

Notaris membuka map lain.

“Nama Anda.”

Aku membeku.

“Aku?”

“Bu Kirana.”

Aku mengambil kertas itu.

Ada tanda tanganku.

Tapi bukan tanda tanganku.

Mirip.

Sangat mirip.

Namun aku tahu kebiasaanku sendiri.

Aku selalu memanjangkan garis terakhir huruf K.

Di sini tidak.

“Ini palsu.”

Bu Ratna mengangguk.

“Kami menduga demikian.”

Aku menatap Ayah.

“Kamu memalsukan tanda tanganku?”

“Jangan asal tuduh.”

“Tiga tahun aku mengurus dokumen keuangan. Ayah punya ratusan contoh tanda tanganku.”

Dia mengalihkan pandangan.

Dito menatapnya tak percaya.

“Yah, ini serius.”

Ayah berteriak,

“Semua yang kulakukan untuk mempertahankan bisnis!”

Aku maju satu langkah.

“Bisnis siapa?”

“Bisnis keluarga!”

“Jawab.”

Dia tidak menjawab.

Aku menatap semua orang.

Kemudian membuka laptop yang kubawa.

“Aku tadi malam mengunduh mutasi tiga tahun.”

Wajah Ayah berubah.

Aku melihatnya.

Sangat kecil.

Tapi jelas.

Dia takut.

Aku membuka satu folder.

“Awalnya aku cuma mau menyimpan bukti bahwa aku tidak mengambil uang perusahaan.”

Kutarik layar menghadap Bu Ratna.

“Tapi ada transfer yang sejak dulu terasa aneh.”

Beberapa transaksi muncul.

Rp250 juta.

Rp340 juta.

Rp175 juta.

Berulang.

Ke satu perusahaan.

PT Mahardika Utama Sentosa.

Dito mendekat.

“Perusahaan apa itu?”

Aku menggeleng.

“Aku kira supplier milik teman Ayah.”

Bu Ratna langsung meminta salah satu petugas bank mengecek.

Beberapa menit terasa sangat panjang.

Lalu petugas itu mendekat.

“Pemegang saham utamanya atas nama Nisa Hendra Kusuma.”

Nisa langsung berdiri.

“Apa?!”

Semua menatapnya.

Dia panik.

“Aku tidak punya perusahaan!”

Aku menatap Ayah.

Sekarang semuanya menjadi jelas.

Nisa hanya nama.

Sama seperti tanda tanganku.

Sama seperti ruko untuk Dito.

Semuanya alat.

“Berapa total transfer?” tanyaku.

Petugas menghitung.

“Sekitar Rp2,7 miliar dalam tiga tahun.”

Dito memaki pelan.

Ibu menangis.

Nisa melempar kunci mobil ke meja.

“Yah, apa ini?”

Ayah mundur.

“Bisa dijelaskan.”

“Jelaskan sekarang.”

Aku menatapnya.

Lama.

Akhirnya dia duduk.

Wajahnya tiba-tiba terlihat jauh lebih tua daripada semalam.

“Bisnis ini hampir jatuh dua tahun lalu.”

“Lalu?”

“Aku butuh dana.”

“Dan perusahaan atas nama Nisa?”

“Untuk memindahkan beberapa aset.”

“Supaya apa?”

Dia diam.

Bu Ratna menjawab.

“Supaya aset tidak terlihat sebagai bagian dari operasional utama saat penagihan.”

Aku menutup mata.

Jadi selama aku menambal cicilan Rp96 juta per bulan dengan uang sendiri, Ayah justru memindahkan uang ke perusahaan lain.

Aku membuka mata.

“Mulai hari ini, aku tidak membayar satu rupiah pun.”

Ayah langsung berdiri.

“Kirana!”

“Tidak.”

“Kalau kamu berhenti, bank bisa mengambil bangunan.”

Bu Ratna menjawab tenang.

“Belum tentu.”

Ayah menoleh.

“Karena kalau tanda tangan pada perjanjian jaminan terbukti palsu, prosesnya akan berbeda.”

Ayah benar-benar pucat sekarang.

Aku menatap notaris.

“Dan hak kepemilikan?”

“Harus ditelusuri berdasarkan dokumen asli.”

“Yang hilang.”

Dia mengangguk.

Aku teringat kotak Nenek.

Lapisan bawah.

Foto.

Mungkin Nenek tahu dokumen bisa hilang.

“Boleh aku lihat kotaknya?”

Bu Ratna menyerahkannya.

Aku memeriksa bagian dalam.

Besi tua.

Lapisan beludru.

Foto tadi ditemukan di dasar palsu.

Aku mengangkat lapisan itu lagi.

Kosong.

Tapi di sudut kanan ada goresan kecil.

Bukan goresan.

Angka.

314.

Aku menatap Bu Ratna.

“Ini apa?”

Wajahnya berubah.

“Nomor safe deposit box.”

Ayah tiba-tiba bergerak.

Terlalu cepat.

Dia mencoba merebut kotak itu.

Petugas bank langsung menahannya.

“Pak!”

“Tidak ada apa-apa di sana!”

Aku menatap Ayah.

Dan untuk pertama kalinya, aku tersenyum.

“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa Ayah takut?”

Dua jam kemudian kami berada di cabang bank pusat.

Safe deposit box nomor 314 masih aktif.

Pemilik awalnya Nenek.

Pihak yang diberi akses kedua adalah aku.

Aku tidak pernah tahu.

Setelah prosedur verifikasi selesai, kotak itu dibuka.

Di dalam hanya ada tiga benda.

Satu amplop besar.

Satu flashdisk.

Dan sebuah kunci tua.

Tanganku gemetar saat membuka amplop.

Dokumen pertama adalah salinan akta kepemilikan tanah restoran.

Atas nama:

Larasati Pranoto.

Ibu kandungku.

Dokumen kedua adalah akta pengalihan hak bersyarat.

Penerima:

Kirana Laras Pranoto.

Namaku.

Nama lengkap yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Dokumen ketiga adalah surat tulisan tangan Nenek.

Aku membacanya pelan.

Kirana, jika surat ini sampai ke tanganmu, berarti Hendra sudah gagal melakukan satu hal yang kuminta: memperlakukanmu seperti anaknya sendiri.

Aku berhenti.

Dito menunduk.

Nisa menangis.

Aku lanjut membaca.

Restoran ini dibangun dari tanah ibumu. Hendra diberi hak mengelola sampai kamu berusia tiga puluh tahun, dengan satu syarat: dia tidak boleh mengalihkan, menjaminkan, atau mengusirmu dari usaha ini.

Aku langsung melihat tanggal lahirku.

Tiga puluh tahun.

Aku genap tiga puluh minggu lalu.

Ayah tahu.

Itu sebabnya pembagian aset dilakukan sekarang.

Itu sebabnya aku harus dibuat merasa tidak punya tempat.

Supaya aku pergi tanpa bertanya.

Di bagian bawah tertulis:

Jika Hendra mengusirmu, hak pengelolaannya berakhir saat itu juga.

Aku mengembuskan napas panjang.

Jadi ketika Ayah berkata—

Kalau merasa tidak dihargai, silakan cari tempat lain.

Dia sendiri yang mengaktifkan klausul Nenek.

Bu Ratna menatapku.

“Mulai tadi malam, secara administratif, hak pengelolaan Pak Hendra sudah berakhir.”

Ayah jatuh terduduk.

Aku tidak merasa menang.

Aneh.

Aku hanya merasa lelah.

Sangat lelah.

Dalam minggu-minggu berikutnya, semuanya bergerak cepat.

Audit dilakukan.

Pemalsuan tanda tangan diperiksa.

Transfer ke perusahaan atas nama Nisa dibekukan sementara.

Hadiah ruko kepada Dito tidak bisa dilanjutkan.

Mobil Nisa ternyata dibeli menggunakan fasilitas perusahaan, bukan hadiah pribadi Ayah.

Aku mengambil alih pengelolaan sementara restoran.

Bukan untuk menghancurkan keluarga.

Justru untuk menyelamatkan 86 pegawai yang tidak tahu apa-apa.

Dito tetap bekerja.

Tapi sekarang sebagai kepala cabang dengan kontrak dan target jelas.

Tidak ada lagi status “anak pemilik”.

Nisa memilih keluar dari pemasaran dan melanjutkan kuliah yang dulu dia tinggalkan.

Ibu pindah sementara ke rumah kakaknya.

Ayah?

Aku tidak mengusirnya dari hidupku.

Tapi aku mencabut semua aksesnya dari rekening bisnis.

Untuk pertama kalinya, dia harus datang ke ruang kantorku jika ingin membahas restoran yang selama puluhan tahun dia sebut miliknya.

Sebulan kemudian, aku akhirnya memberanikan diri membuka isi flashdisk dari safe deposit box.

Ada video Nenek.

Direkam dua minggu sebelum meninggal.

Wajahnya kurus.

Suaranya lemah.

Tapi matanya tajam seperti yang kuingat.

“Kirana, kalau kamu menonton ini, berarti kamu sudah tahu siapa Larasati.”

Aku menahan napas.

“Nenek hanya ingin kamu tahu satu hal lagi.”

Dia mengangkat kunci tua yang sama dengan yang kini ada di tanganku.

“Kunci itu bukan untuk restoran.”

Aku melihatnya.

“Cari loker lama di stasiun Bandung. Nomornya ada di balik gagang.”

Aku membalik kunci.

27.

Dua hari kemudian aku membuka loker itu ditemani Bu Ratna.

Di dalamnya ada sebuah tas kain tua.

Dan satu map merah.

Aku pikir aku akan menemukan dokumen lain tentang ibuku.

Ternyata yang kutemukan adalah hasil tes DNA dari tiga puluh tahun lalu.

Nama ibu: Larasati Pranoto.

Nama bayi: Kirana.

Nama ayah biologis membuat tanganku terlepas dari kertas.

Aku mengenal nama itu.

Sangat mengenalnya.

Karena orang itu masih hidup.

Dan selama tiga puluh tahun, dia bukan kupanggil “Ayah”.

Dia adalah Bu Ratna.

Di baris identitas lama tertulis nama sebelum pergantian status hukumnya: Raka Ratnadi.

Dan tanda tangan saksi di bawahnya adalah milik Nenek.