Aris meletakkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah.

PART 2

Tiga hari setelah pernikahan, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pagar rumah Aris.

Bambang turun membawa map cokelat tebal dengan wajah merah padam.

Maya tetap duduk di dalam mobil dengan tangan bersedekap.

Laras berdiri tenang di teras memperhatikan situasi.

Bambang berjalan cepat dan menyodorkan berkas ke dada Aris.

“Tanda tangani ini sekarang!”

“Apa ini?” tanya Aris dingin.

“Berkas pengalihan aset rumah Medan. Jangan berpura-pura dan jangan bermain main dengan orang tua!”

Aris membuka lembaran pertama dan membaca beberapa baris kalimat hukum di dalamnya.

Dokumen itu berupa surat pelepasan hak atas kepemilikan aset rumah keluarga di Medan.

“Saya tidak akan menandatangani apa pun.”

Bambang menunjuk wajah Aris dengan nada tinggi.

“Rumah itu milik kami! Kamu tidak berhak menghentikan pembayaran!”

“Kalau itu rumah Ayah dan Ibu, seharusnya kalian yang membayar angsurannya sejak awal.”

Malam itu, Aris membongkar berkas lama di lemari kerjanya.

Dia mencari dokumen akad kredit dan restrukturisasi pinjaman rumah Medan yang ditandatanganinya 8 tahun lalu.

Di antara lembaran tanda terima dan kuitansi, Aris menemukan hal yang selama ini tidak pernah dia perhatikan secara detail.

Namanya bukan cuma tertera sebagai penjamin atau pembayar angsuran.

Nama Aris Pratama tercatat sah sebagai pemegang hak kepemilikan sebesar 50 persen atas rumah tersebut.

Aris langsung menghubungi Irene Valdes, seorang pengacara spesialis pertanahan dan properti.

Keesokan harinya, Aris bertemu Irene di kantor hukumnya.

Irene memeriksa berkas sertifikat dan riwayat pembayaran dengan teliti.

“Secara hukum, Anda adalah pemilik sah atas separuh rumah itu,” tegas Irene.

Rumah di Medan tersebut memiliki nilai pasar sekitar Rp3.650.000.000, dengan sisa angsuran pokok yang tersisa hanya Rp124.800.000.

Namun, Irene menemukan kejanggalan serius pada berkas pengalihan yang dibawa Bambang kemarin.

Irene membalik halaman lampiran dan menunjuk satu nama yang tertera di sana.

“Ayah Anda bukan meminta Anda menyerahkan bagian ini kepadanya atau ibu Anda.”

Nama penerima hak di dokumen tersebut adalah Danang Pratama.

Adik kandung Aris.

Bahkan di dalam berkas terlampir salinan permohonan pengesahan surat kuasa yang diajukan ke kantor notaris 3 hari lalu.

Surat kuasa itu mencantumkan bahwa Aris memberikan wewenang penuh kepada Danang untuk mengalihkan hak atas tanah tersebut.

Tanggal pembuatan surat kuasa palsu itu bertepatan dengan hari pernikahan Aris.

Aris mencengkeram tepi meja.

“Saya tidak pernah menandatangani surat kuasa apa pun.”

Irene menatap Aris secara langsung.

“Saya tahu. Pengajuan itu gagal karena pihak notaris menemukan ketidaksesuaian data identitas dan penandatanganan pada sistem mereka. Berkasnya ditahan sebelum masuk ke Badan Pertanahan Nasional.”

Irene meminta Aris menyimpan semua salinan dan menahan diri untuk tidak menghubungi keluarganya terlebih dahulu.

“Kita butuh bukti lengkap mengenai siapa saja yang terlibat dalam pembuatan dokumen ini.”

Aris pulang dengan dada terasa sesak.

Laras menyambutnya di pintu depan dan langsung menyadari raut wajah suaminya.

“Ada masalah apa di kantor hukum?”

Aris meletakkan berkas di meja makan.

Laras membaca nama Danang, lalu matanya tertuju pada tanggal dokumen.

“Mereka mencoba mengalihkan kepemilikan rumah ini saat kita sedang berdiri di pelaminan?”

“Begitu data yang ada.”

“Tapi bukankah hari itu mereka bilang harus menghadiri acara akikah anak Rina?”

Pertanyaan Laras membuat Aris tertegun.

Aris segera mencari kontak Tante Heni, ibu dari Rina, yang sudah bertahun-tahun jarang berkomunikasi dengannya.

Sambungan telepon terhubung.

“Aris! Tante lihat foto pernikahanmu, bagus sekali. Selamat ya,” ujar Heni ramah.

“Terima kasih, Tante. Aris mau tanya sesuatu.”

“Tanya apa?”

“Acara akikah anak Rina… apakah benar diadakan hari Sabtu kemarin?”

Heni tertawa heran di seberang telepon.

“Sabtu kemarin? Acara Rina baru diadakan bulan depan, tanggal 17. Kenapa kamu tanyakan itu?”

Aris memandang Laras dengan tatapan tak percaya.

“Ibu bilang ke Aris kalau mereka tidak bisa datang ke nikahan Aris karena ada acara di rumah Tante.”

Suara Heni berubah serius.

“Ibumu bilang ke Tante kalau mereka tidak bisa bantu persiapan acara Rina bulan depan karena sibuk urusan pernikahanmu.”

Aris menutup telepon setelah mengucapkan terima kasih.

Orang tuanya menggunakan acara keluarga sebagai alasan di hadapan Aris, dan menggunakan pernikahan Aris sebagai alasan di hadapan kerabat lain.

Mereka tidak menghadiri acara mana pun.

6 hari kemudian, fakta sebenarnya terungkap secara utuh.

Irene mendapatkan konfirmasi dari kantor notaris dan lembaga perantara hukum.

Dokumen pendaftaran menunjukkan bahwa Bambang, Maya, dan Danang berada di kantor notaris bersama-sama selama beberapa jam pada hari Sabtu itu.

Mereka memproses pengajuan pengalihan hak kepemilikan Aris ke atas nama Danang.

Hari pernikahan Aris dipilih dengan sengaja.

Aris dipastikan sibuk, ponselnya dimatikan atau disimpan, dan tidak mungkin menerima notifikasi perbankan atau verifikasi dokumen.

Laras duduk di samping Aris setelah mendengar laporan Irene.

“Jadi selama ini mereka bukan membenciku karena kepribadianku,” kata Laras perlahan.

“Maksudmu?”

“Mereka membenciku karena mereka takut setelah kamu menikah, kamu tidak bisa lagi dikontrol dan dimanfaatkan.”

Kalimat Laras menghantam tepat di sasaran.

Laras tidak pernah merubah Aris, tetapi Laras memberikan standar hubungan yang sehat: mencintai seseorang tidak berarti harus terus-menerus diperas secara finansial.

Malam itu juga, Aris menelepon Danang.

Danang menjawab pada dering ketiga.

“Halo, Mas.”

“Kamu tahu soal pengalihan rumah di Medan?”

Hening cukup lama.

“Danang.”

“Ibu bilang kalian sudah bicara dan setuju,” cicit Danang.

“Kamu tahu mereka mau memindahkan 50 percent hak milikku ke namamu?”

“Iya…”

“Sejak kapan kamu tahu?”

“Ayah bilang rumah itu harus diberikan ke anak yang tinggal dekat dengan mereka, bukan Mas Aris yang sudah mapan di Jakarta.”

Aris tertawa hambar.

“Bagus sekali. Tapi yang bayar angsurannya selama 8 tahun itu aku.”

“Aku tahu, Mas. Tapi kata Ayah…”

“Kamu ada di kantor notaris hari Sabtu kemarin?”

Danang diam lagi.

“Jawab, Danang. Hari Sabtu saat aku berada di pelaminan.”

“Iya, Mas.”

Aris teringat bagaimana Danang datang ke Bogor pada Sabtu sore, memeluknya di lokasi pernikahan, dan berpura-pura bersedih karena orang tua mereka tidak datang.

“Kamu datang ke pernikahanku setelah dari kantor notaris untuk memproses dokumen itu?”

“Mas, dengar dulu…”

“Kamu lihat dua kursi kosong itu. Kamu lihat aku menunggu kedatangan Ayah dan Ibu.”

“Aku pikir Mas Aris memang sudah merelakan bagian itu!”

“Aku tidak pernah menyetujui apa pun! Dan surat kuasa itu dibuat tanpa sepengetahuanku!”

Danang mulai panik di seberang telepon.

“Aku tidak tahu kalau surat kuasa itu tidak sah! Ayah yang urus semuanya, aku cuma disuruh datang dan tanda tangan sebagai penerima!”

“Nanti saat orang-orang bertanya di mana kamu pada Sabtu pagi itu, katakan hal yang sebenarnya,” ujar Aris dingin.

“Mas, tolong jangan bawa masalah ini ke jalur hukum. Kita bisa bicarakan baik-baik.”

“Katakan yang sebenarnya,” ulang Aris lalu mematikan telepon.

Beberapa minggu berikutnya, tekanan keluarga mulai berganti strategi.

Pengacara yang ditunjuk Bambang mengirimkan surat somasi yang meminta Aris melanjutkan pembayaran angsuran dan melepaskan hak atas rumah tersebut.

Irene membalas somasi itu dengan menyertakan salinan akad kredit asli, seluruh bukti transfer pembayaran dari rekening Aris selama 96 bulan berturut-turut, serta salinan berkas pengajuan pengalihan hak ilegal yang gagal di notaris.

Pihak lawan langsung mengubah sikap dan meminta jalur negosiasi damai.

Maya menelepon Aris menggunakan nomor baru.

“Aris… ini Ibu.”

Suaranya dibuat sehalus mungkin.

“Kita ini keluarga. Kenapa harus pakai pengacara?”

“Ibu dan Ayah mencoba mengambil aset saya secara tidak sah.”

“Ayahmu yang mengurus berkas itu, Ibu tidak tahu detailnya!”

Aris tersenyum sinis. Maya selalu punya cara untuk melempar kesalahan ke orang lain.

“Lalu bagaimana dengan kebohongan soal acara akikah anak Tante Heni?”

Maya bungkam sejenak.

“Kami cuma ingin mengamankan rumah itu dari Laras.”

“Mengamankan dari istri saya?”

“Kamu baru menikah. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Rumah itu dibangun untuk keluarga besar kita, bukan untuk orang luar.”

“Saya yang membayar rumah itu selama 8 tahun!”

“Kamu bayar karena kamu anak yang berbakti!”

Pola lama itu muncul kembali: sanjungan untuk menuntut kepatuhan.

“Kalian tidak sedang melindungi rumah dari Laras. Kalian takut kehilangan akses ke uang saya,” tegas Aris.

Maya mulai menangis histeris di telepon.

“Kami ini orang tuamu! Kamu tidak boleh durhaka dan membuang kami seperti ini!”

Aris menatap foto pernikahannya di atas meja.

Dua kursi kosong di barisan depan terlihat sangat jelas.

“Saya tidak pernah membuang kalian. Kalian sendiri yang memilih duduk di kantor notaris daripada hadir di pernikahan saya.”

Aris memutuskan sambungan telepon.

Kasus tersebut tidak pernah sampai ke persidangan terbuka.

Danang, yang takut terseret kasus pemalsuan dokumen, memberikan pernyataan tertulis dan bukti pesan singkat grup keluarga.

Dalam pesan tersebut, Bambang secara eksplisit memerintahkan pembuatan berkas sebelum pernikahan Aris berlangsung agar tidak ada campur tangan dari Laras.

Menghadapi bukti-bukti yang sangat kuat, pihak Bambang akhirnya menyetujui opsi penjualan aset.

Rumah di Medan tersebut dijual seharga Rp3.820.000.000.

Sisa hutang angsuran sebesar Rp124.800.000 beserta biaya pelunasan dipercepat dan jasa hukum dibayarkan langsung dari hasil penjualan.

Sisanya dibagi rata 50 persen untuk Bambang dan Maya, serta 50 percent untuk Aris.

Saat Aris menerima bagian haknya sebesar Rp1.830.000.000, dia tidak merasakan kemenangan atau kepuasan besar.

Hanya ada rasa lelah yang mendalam.

Dia menggunakan sebagian uang itu untuk melunasi sisa biaya pernikahan, menyimpannya dalam tabungan berjangka, dan menjadikannya uang muka untuk membeli rumah baru bersama Laras di Selatan Jakarta.

Aris tidak membalas dendam.

Dia hanya berhenti menjadi penyokong finansial otomatis bagi keluarga yang tidak pernah menghargainya.

Bambang dan Maya terpaksa menjual mobil mereka dan pindah ke rumah kontrakan yang jauh lebih kecil di daerah Deli Serdang.

Bambang harus kembali bekerja sebagai pengawas lapangan harian di usianya yang sudah lanjut.

Maya tidak bisa lagi memamerkan gaya hidup atau membiayai kumpul-kumpul keluarga seperti sebelumnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, orang tua Aris harus menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan mereka sendiri.

Enam bulan setelah penjualan rumah selesai, Irene menghubungi Aris kembali.

“Ada dokumen lama yang baru ditemukan oleh pihak kurator bank penyimpanan arsip.”

Aris datang ke kantor Irene, menduga ada masalah administrasi pajak yang tertinggal.

Irene menyerahkan sebuah amplop cokelat tua yang sudah agak menguning.

Di bagian depan tertulis nama: “Untuk Cucu Saya, Aris Pratama.”

Aris mengenali tulisan tangan itu.

Tulisan Nenek Ratna, ibu dari ayahnya, yang meninggal dunia saat Aris berusia 19 tahun.

Aris membuka amplop tersebut dan membaca dua lembar kertas bergaris yang ditulis tangan.

Nenek Ratna menjelaskan bahwa modal awal pembelian tanah dan bangunan rumah di Medan berasal dari uang tabungan dan penjualan tanah warisannya.

Namun, Nenek Ratna memberikan syarat mutlak saat menyerahkan uang itu kepada Bambang 15 tahun lalu.

Nama Aris harus dimasukkan sebagai pemilik hak separuh aset ketika Aris sudah dewasa.

Bukan nama Danang.

Nenek Ratna menuliskan alasannya di lembar kedua.

Sejak kecil, Aris adalah cucu yang selalu datang setiap akhir pekan.

Aris yang membersihkan halaman, membelikan obat, dan merawat neneknya tanpa pernah meminta imbalan.

Di akhir surat itu, Nenek Ratna menuliskan satu kalimat:

“Menjadi orang baik bukan berarti kamu harus membiarkan orang lain memanfaatkan kebaikanmu untuk merugikan dirimu sendiri.”

Tangan Aris gemetar membaca kalimat tersebut.

“Apakah Ayah dan Ibu tahu soal surat ini?” tanya Aris dengan suara serak.

Irene menunjukkan berkas perjanjian keluarga lama yang terlampir di bawah surat.

“Mereka tahu. Saat pengajuan refinanciasi 8 tahun lalu, bank mewajibkan nama Anda masuk sebagai pemegang hak 50 percent sesuai dengan syarat sertifikat asal dari mendiang Nenek Anda.”

Aris tertegun.

Orang tuanya tidak pernah “meminjam nama” Aris karena kebaikan hati mereka.

Mereka terpaksa memasukkan nama Aris karena aturan legalitas yang ditinggalkan Nenek Ratna.

Selama 8 tahun, orang tuanya berpura-pura bahwa Aris hanya membantu membayar rumah mereka, padahal Aris sedang membayar haknya sendiri yang berusaha disembunyikan dari pengetahuan Aris.

Dan saat Aris akan menikah, mereka mencoba merebut kembali bagian itu untuk diberikan kepada Danang.

Aris membawa surat itu pulang.

Di teras rumah baru mereka, Aris duduk bersama Laras dan membacakan isi surat Nenek Ratna.

Laras memeluk Aris dengan erat tanpa banyak bicara.

Air mata Aris menetes di bahu Laras.

Dia tidak menangisi uang atau rumah yang telah dijual.

Dia menangis karena menyadari bahwa puluhan tahun lalu, ada seorang nenek yang sudah melihat ketulusannya dan berusaha melindunginya dari eksploitasi keluarganya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, Aris mencetak kalimat dari surat Nenek Ratna dan membingkainya di ruang kerja.

Di sebelah bingkai itu, Aris memasang foto pernikahannya dengan Laras.

Foto di mana mereka berdua tersenyum di depan pelaminan, dengan latar belakang dua kursi kayu yang kosong.

Aris tidak lagi memandang foto kursi kosong itu dengan rasa sakit atau amarah.

Kursi kosong itu adalah jawaban paling jujur yang pernah diberikan orang tuanya.

Dua kursi kosong itu menunjukkan dengan sangat jelas di mana posisi Aris saat dia tidak lagi bisa dimanfaatkan.

Aris tidak lagi menunggu pengakuan atau restu yang dibeli dengan uang.

Dia memilih jalannya sendiri.

Dia memilih Laras.

Dia memilih masa depannya.

Dan dia akhirnya memahami pesan mendiang Nenek Ratna secara utuh:

Mencintai keluarga tidak pernah berarti harus menghancurkan diri sendiri di dalamnya.