ANAK TUNGGAL SEORANG KONGLOMERAT MEMBISU SELAMA 12 TAHUN KARENA DIVONIS BUTA TOTAL, HINGGA PUTRA SEORANG

Dimas tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya mengambil segenggam tanah yang masih lembap karena hujan semalam, lalu meremasnya perlahan.

“Dingin,” gumamnya. “Kalau kena tangan rasanya kayak es batu yang sudah mau cair.”

Raka tidak bereaksi.

 

 

 

 

 

Dimas mengambil sebuah kerikil kecil, membersihkannya dengan ujung kaus, lalu meletakkannya di telapak tangan Raka.

“Yang ini licin. Jangan dibuang. Aku cari lama.”

Jari Raka bergerak.

Sedikit sekali.

Namun Dimas melihatnya.

Hari berikutnya, ia datang lagi.

Lalu besoknya lagi.

Anehnya, mereka hampir tidak pernah berbicara. Tepatnya, hanya Dimas yang berbicara.

Tentang sekolah.

Tentang Bu Sari yang selalu memarahinya karena kaus kaki sering hilang sebelah.

Tentang tukang bakso dekat sekolah yang menurutnya terlalu pelit memberi saus.

Kadang ia membawa benda-benda aneh.

Kulit salak.

Biji mangga.

Daun jambu.

Potongan kayu.

Raka merabanya satu per satu.

Sampai suatu sore, setelah hujan deras mengguyur Surabaya, Dimas menemukan sesuatu yang kemudian mengubah semuanya.

Tanah liat.

Ia mengambil sedikit dari bawah pot besar.

“Ka, coba ini.”

Dimas menempelkan tanah dingin itu ke dahi Raka.

Mendadak…

Kelopak mata Raka bergetar.

Dimas membeku.

Ia mengira hanya kebetulan.

Ditempelkannya lagi sedikit tanah ke sisi kening Raka.

Kelopak mata itu kembali bergerak.

Kali ini jauh lebih kuat.

“Mas Raka?”

Tak ada jawaban.

Namun tangan Raka tiba-tiba mencengkeram pergelangan Dimas.

Dimas terdiam.

Untuk pertama kalinya ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Bukan pada Raka.

Melainkan pada cerita tentang Raka.

Beberapa hari berikutnya, Dimas diam-diam melakukan permainan sederhana.

Ia tidak tahu istilah medis. Ia bahkan sering mendapat nilai enam untuk pelajaran IPA.

Dimas hanya penasaran.

Ia berdiri di sebelah kanan Raka dan menggerakkan tangannya.

Tidak ada respons.

Ia berpindah ke kiri.

Masih tidak ada.

Lalu suatu hari, sinar matahari sore memantul dari baskom stainless yang dibawa salah seorang ART.

Pantulan cahaya itu mengenai wajah Raka.

Raka spontan memalingkan kepala.

Dimas sampai menjatuhkan pot kecil di tangannya.

Prang!

Bu Sari berlari keluar.

“Dimas! Kamu ngapain?”

Dimas buru-buru menunjuk Raka.

“Bu… Mas Raka tadi menghindari cahaya.”

Bu Sari menatap anaknya.

“Jangan bicara sembarangan.”

“Tapi aku lihat sendiri.”

“Sudah. Ambil potnya.”

Dimas menuruti ibunya, tetapi rasa penasarannya justru semakin besar.

Kalau Raka benar-benar tidak bisa melihat apa pun sejak lahir, kenapa ia bereaksi terhadap cahaya?

Pertanyaan itu belum sempat terjawab ketika seseorang ternyata sudah memperhatikan mereka.

Dari balkon lantai dua, dr. Bastian Mahendra berdiri tanpa bergerak.

Dokter pribadi keluarga Wijaya itu telah menangani Raka sejak bayi.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

Namun jemarinya mencengkeram pagar balkon begitu keras.

Malam itu, dr. Bastian menemui Surya.

“Pak Surya, saya dengar anak ART sering bermain dengan Raka.”

Surya menutup laptopnya.

“Memangnya kenapa?”

“Tidak baik.”

“Raka terlihat lebih tenang sejak anak itu datang.”

“Itulah masalahnya.”

Surya mengernyit.

Dr. Bastian segera mengubah nada bicara.

“Maksud saya, Raka punya gangguan sensorik kompleks. Interaksi yang tidak terkontrol bisa memicu episode agresif.”

Surya terdiam.

Selama dua belas tahun ia sudah terbiasa mempercayai lelaki di depannya.

Ketika dokter lain datang, Bastian selalu mendampingi.

Ketika hasil pemeriksaan berbeda, Bastian yang menjelaskan.

Ketika Surya mulai berharap, Bastian pula yang berkata agar dirinya menerima kenyataan.

Akhirnya Surya mengangguk.

“Mulai besok, larang Dimas masuk taman belakang.”

Kalimat itu sederhana.

Dampaknya tidak.

Pukul dua siang keesokan harinya, Raka sudah duduk di dekat pintu taman.

Dua lewat sepuluh.

Dua lewat tiga puluh.

Pukul tiga.

Dimas tidak datang.

Raka mulai gelisah.

Tangannya meraba-raba lantai.

Pukul setengah empat, seorang perawat membawanya kembali ke kamar.

Raka memberontak.

Bantal dilempar.

Gelas plastik jatuh.

Ia menolak makan dan menepis tangan siapa pun yang mencoba menyentuhnya.

Suara gaduh terdengar sampai dapur.

Dimas yang sedang membantu ibunya mengupas bawang langsung berdiri.

“Itu Mas Raka.”

“Kamu jangan ke sana!” Bu Sari menarik tangannya.

Namun Dimas sudah berlari.

Ia melewati koridor, menerobos dua pegawai rumah, lalu mengambil segenggam tanah dari pot tanaman hias.

Ketika pintu kamar Raka terbuka, Surya, dua perawat, dan dr. Bastian berada di dalam.

“Dimas!”

Surya membentak.

Dimas tidak berhenti.

Ia berlutut di depan Raka.

“Mas, aku di sini.”

Raka masih meronta.

Dimas menempelkan tanah dingin itu ke dahinya.

Seketika tubuh Raka membeku.

Napasnya perlahan turun.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu sesuatu terjadi.

Kelopak mata Raka terbuka.

Tidak sepenuhnya.

Hanya sedikit.

Namun cukup untuk membuat dr. Bastian mundur satu langkah.

Dimas mendekat.

“Mas Raka?”

Bibir Raka bergetar.

Suara yang keluar begitu serak hingga hampir tidak terdengar.

“Di…”

Surya berdiri kaku.

Raka mencoba lagi.

“Di… mas.”

Wajah Surya kehilangan warna.

Dua belas tahun.

Dua belas tahun ia menunggu satu kata dari anaknya.

Dan kata pertama itu bukan “Papa”.

Bukan pula nama perawat.

Melainkan Dimas.

Surya berlutut.

“Raka?”

Raka memiringkan wajah ke arah suara ayahnya.

Lalu matanya bergerak.

Bukan gerakan kosong.

Pupilnya mengikuti bayangan Surya.

Surya melihatnya.

Dimas melihatnya.

Dan dr. Bastian…

langsung berkata, “Itu refleks.”

Terlalu cepat.

Semua orang menoleh kepadanya.

Dokter itu menarik napas.

“Respons saraf sederhana. Jangan membuat kesimpulan.”

Dimas memandangnya.

Anak sebelas tahun itu mungkin tidak mengerti istilah neurologi.

Tetapi ia tahu satu hal.

Orang yang tidak takut biasanya tidak berkeringat sebanyak itu.

Malam tersebut Surya tidak tidur.

Ia duduk di kamar Raka sampai hampir subuh.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak melihat anaknya sebagai sebuah diagnosis.

Ia memperhatikan hal-hal kecil.

Saat lampu dinyalakan mendadak, Raka menyipitkan mata.

Saat Surya menggerakkan tubuh di depan jendela, kepala Raka sedikit mengikuti.

Saat sebuah benda jatuh, Raka jelas bereaksi.

Surya merasakan sesuatu yang menyakitkan muncul di dadanya.

Harapan.

Setelah dua belas tahun, harapan justru terasa menakutkan.

Pukul lima pagi, Surya menelepon rumah sakit di Singapura yang pernah memeriksa Raka ketika masih kecil.

Ia meminta seluruh arsip lama.

Jawaban yang diterimanya membuat tangannya dingin.

“Kami tidak memiliki catatan pemeriksaan atas nama Raka Wijaya, Pak.”

Surya berdiri.

“Coba periksa lagi.”

Petugas memeriksa.

Tetap tidak ada.

Padahal dr. Bastian pernah mengatakan bahwa sampel dan hasil pemeriksaan Raka telah dikonsultasikan ke sana.

Surya mulai membuka lemari arsip.

Satu map.

Dua map.

Puluhan hasil pemeriksaan.

Ia membaca semuanya sampai mata terasa panas.

Sebagian besar menggunakan istilah medis yang tidak ia pahami.

Namun ada satu hal aneh.

Hampir semua dokumen penting ditandatangani atau disalin melalui klinik yang sama.

Klinik milik keluarga dr. Bastian.

Surya menelepon seorang dokter mata yang pernah datang delapan tahun sebelumnya.

Dokter itu terdiam cukup lama ketika mendengar nama Raka.

“Saya kira Anda tidak mau melanjutkan pemeriksaan.”

“Maksud Anda?”

“Waktu itu saya menyarankan pemeriksaan lanjutan karena respons pupil Raka masih ada.”

Surya tidak bergerak.

“Apa?”

“Saya bahkan mengatakan kemungkinan gangguan penglihatannya tidak separah diagnosis awal.”

“Tapi laporan yang saya terima menyebutkan kebutaan total permanen.”

Di ujung telepon tidak ada suara beberapa detik.

Kemudian dokter itu berkata pelan,

“Saya tidak pernah menulis kesimpulan seperti itu.”

Surya menutup mata.

Ada bagian dalam dirinya yang runtuh saat itu juga.

Pagi berikutnya, Surya tidak menuduh siapa pun.

Ia justru bersikap seperti biasa.

Dr. Bastian datang pukul sembilan.

Surya menyambutnya dengan kopi.

“Dok, saya mau pemeriksaan lengkap untuk Raka.”

“Tidak perlu terburu-buru.”

“Justru saya ingin memastikan.”

“Saya dokter yang menangani Raka sejak bayi.”

“Saya tahu.”

Surya tersenyum tipis.

“Itulah sebabnya saya ingin memastikan.”

Untuk pertama kalinya, dr. Bastian tampak tidak nyaman.

Sementara itu Dimas kembali diizinkan menemui Raka.

Kali ini bukan diam-diam.

Dimas duduk di depan Raka sambil membawa tiga benda.

Bola merah.

Bola kuning.

Dan sebuah mobil mainan biru.

“Kalau kelihatan sedikit, tunjuk yang paling terang.”

Raka diam.

Dimas menunggu.

Lama.

Lalu tangan Raka bergerak ke arah bola kuning.

Dimas menahan napas.

“Sekali lagi.”

Ia menukar posisi benda.

Tangan Raka kembali bergerak.

Tidak tepat.

Melenceng beberapa sentimeter.

Tetapi arahnya benar.

Bu Sari yang berdiri di pintu menutup mulutnya.

Surya tidak berkata apa-apa.

Matanya sudah merah.

Hari itu juga, tanpa memberi tahu dr. Bastian, Surya membawa Raka ke rumah sakit lain.

Pemeriksaan berlangsung berjam-jam.

Hasilnya tidak seperti keajaiban dalam film.

Tidak ada dokter yang berkata bahwa Raka tiba-tiba normal.

Tidak.

Kenyataannya lebih rumit.

Raka memang memiliki gangguan penglihatan sejak kecil. Namun bukan kebutaan total permanen seperti yang selama ini dipercaya keluarga.

Masih ada fungsi visual.

Masih ada jalur yang dapat dirangsang.

Dan kemampuan bicara Raka…

tidak menunjukkan kelainan fisik yang membuatnya mustahil berbicara.

Dokter spesialis anak meminta riwayat obat-obatan Raka.

Surya menyerahkan daftar yang diberikan dr. Bastian.

Dokter membaca cukup lama.

“Pak Surya, apakah semua obat ini masih diberikan?”

“Iya.”

“Setiap hari?”

“Iya.”

Dokter meletakkan kertas itu.

“Kami perlu mengevaluasi semuanya satu per satu. Jangan hentikan sendiri secara mendadak. Tetapi beberapa obat ini perlu ditinjau ulang karena bisa menyebabkan kantuk berat dan menekan respons.”

Surya merasakan telinganya berdenging.

Selama ini Raka memang hampir selalu tampak lemas setelah minum obat malam.

Ia menganggap itu bagian dari penyakit.

Bagaimana kalau…

Tidak.

Surya tidak berani menyelesaikan pikirannya.

Pemeriksaan lanjutan membuka hal yang jauh lebih buruk.

Beberapa resep dalam arsip tidak sesuai dengan obat yang benar-benar diberikan.

Ada tagihan terapi yang ternyata tidak pernah dilakukan.

Ada laporan konsultasi luar negeri yang tidak dapat diverifikasi.

Jumlah uangnya besar.

Tetapi uang bukan bagian yang paling membuat Surya gemetar.

Yang paling menghancurkannya adalah satu dokumen lama.

Hasil pemeriksaan Raka ketika berusia dua tahun.

Pada lembar asli tertulis:

“Respons visual terbatas terdeteksi. Direkomendasikan stimulasi dini dan evaluasi lanjutan.”

Pada salinan yang selama ini disimpan Surya, kalimat tersebut berubah menjadi:

“Tidak ditemukan respons visual bermakna. Prognosis sangat buruk.”

Surya membaca kedua kertas itu berkali-kali.

Lalu ia menangis.

Bukan keras.

Ia hanya duduk di kursi rumah sakit sambil menutupi wajah.

Dimas yang kebetulan berada di sana tidak tahu harus berkata apa.

Akhirnya ia duduk di samping Surya.

“Om…”

Surya mengangkat wajah.

Dimas menyerahkan kerikil kecil.

“Kalau aku sedih biasanya pegang ini.”

Aneh sekali.

Surya hampir tertawa.

Di hari ketika hidupnya terasa hancur, seorang bocah memberinya batu.

Namun batu kecil itulah yang digenggamnya sampai sore.

Dr. Bastian dipanggil ke rumah dua hari kemudian.

Ia datang seperti biasa.

Kemeja rapi.

Tas dokter hitam.

Ekspresi tenang.

Namun kali ini Surya tidak sendirian.

Ada pengacara keluarga.

Ada dokter dari rumah sakit tempat Raka diperiksa ulang.

Dan ada beberapa map di atas meja.

Wajah dr. Bastian berubah.

Surya mendorong dua lembar dokumen ke arahnya.

“Yang mana laporan asli?”

Bastian tidak menjawab.

“Dua belas tahun saya percaya kepada Anda.”

“Pak Surya, saya bisa menjelaskan.”

“Silakan.”

Bastian membuka mulut.

Menutupnya lagi.

Penjelasan yang keluar kemudian berantakan.

Kesalahan administrasi.

Perbedaan interpretasi.

Staf klinik.

Sistem lama.

Ia menyebut banyak hal, kecuali satu hal yang ingin didengar Surya.

Kebenaran.

Pemeriksaan keuangan kemudian menemukan pembayaran-pembayaran mencurigakan melalui beberapa perusahaan penyedia terapi yang terhubung dengan pihak klinik. Masalah itu akhirnya diserahkan kepada pengacara dan pihak berwenang untuk ditangani sesuai proses hukum.

Surya tidak mengejar Bastian ketika dokter itu keluar dari rumah.

Ia tidak berteriak.

Tidak membanting meja.

Ia hanya berkata satu kalimat sebelum pintu tertutup.

“Saya kehilangan dua belas tahun bersama anak saya.”

Bastian berhenti.

Surya melanjutkan,

“Uang bisa dicari lagi. Dua belas tahun itu tidak.”

Pintu tertutup.

Tetapi cerita Raka tidak selesai ketika rahasia terbongkar.

Justru bagian tersulit baru dimulai.

Raka tidak mendadak bisa melihat jelas.

Ia juga tidak tiba-tiba menjadi anak yang cerewet.

Hari pertama terapi baru, ia menangis.

Hari kedua ia menolak masuk ruangan.

Hari ketiga ia melempar alat latihan.

Seminggu kemudian, ia hanya mau menjalani terapi kalau Dimas duduk di dekat pintu.

Dimas membawa PR matematika sambil mengomel.

“Kalau Mas Raka nggak latihan, aku juga nggak mau kerjain pecahan.”

Raka menoleh.

Dimas membuka buku.

“Dua-duanya susah. Adil.”

Sudut bibir Raka bergerak.

Dimas menatapnya.

“Eh?”

Raka tersenyum.

Sangat kecil.

Tapi nyata.

Tiga bulan berlalu.

Raka mulai mampu membedakan bentuk besar pada jarak dekat.

Enam bulan kemudian, ia mengenali beberapa warna dengan lebih konsisten.

Kemampuan bicaranya berkembang perlahan melalui terapi komunikasi.

Kata-katanya pendek.

Kadang tidak jelas.

Kadang ia frustrasi dan memilih diam lagi.

Surya belajar untuk tidak memaksanya.

Ia juga belajar sesuatu yang selama dua belas tahun tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya.

Menjadi ayah.

Bukan menjadi pemilik rumah.

Bukan menjadi orang yang membayar tagihan rumah sakit.

Ayah.

Ia mulai makan pagi bersama Raka.

Kadang makanannya dingin karena Raka membutuhkan waktu lama.

Tidak masalah.

Surya berhenti membawa ponsel ke meja makan.

Pada suatu Minggu pagi, ia bahkan ikut duduk di tanah bersama Raka dan Dimas.

Celana mahalnya terkena lumpur.

Dimas tertawa.

“Om Surya sekarang kayak tukang kebun.”

Surya menatap celananya.

“Ini harganya mahal.”

Dimas menjawab enteng, “Lumpurnya gratis.”

Raka tertawa.

Suara tawa itu pendek dan serak.

Namun Surya langsung diam.

Matanya berkaca-kaca.

Raka menyentuh tangannya.

Lalu berkata terbata-bata,

“Pa… pa.”

Surya tidak sanggup menjawab.

Ia memeluk anaknya.

Raka awalnya kaku.

Beberapa detik kemudian, kedua tangannya membalas pelukan itu.

Dimas yang melihat malah berdiri.

“Aku ambil minum dulu.”

Padahal ia tidak haus.

Ia hanya merasa dua orang itu membutuhkan waktu sendiri.

Setahun kemudian, taman belakang rumah Wijaya berubah.

Bukan lagi taman steril dengan tanaman mahal yang tidak boleh disentuh.

Ada kebun kecil.

Cabai.

Tomat.

Terong.

Daun bawang.

Sebagian tumbuh miring karena ditanam Dimas.

Sebagian mati.

Sebagian dimakan ulat.

Surya tidak peduli.

Di tengah kebun itu terdapat dua pot besar.

Pada pot pertama tertulis nama Raka.

Pada pot kedua tertulis nama Dimas.

Raka kini bersekolah dengan program pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Penglihatannya tetap memiliki keterbatasan dan ia masih menjalani terapi rutin, tetapi dunianya tidak lagi sepenuhnya gelap.

Suatu sore, ia dan Dimas duduk di tempat mereka pertama kali bertemu.

Dimas menunjukkan tomat yang baru memerah.

“Ini merah.”

Raka menyipitkan mata.

“Merah?”

“Iya.”

Raka menyentuh buah itu.

Kemudian tersenyum.

“Bagus.”

Dimas tertawa.

“Belum tentu. Bisa saja asem.”

Raka ikut tertawa.

Dari balkon lantai dua, Surya berdiri memperhatikan mereka.

Dulu ia selalu melihat anaknya dari tempat yang sama.

Bedanya, sekarang ia tidak bertahan lama di sana.

Surya turun.

Melepas sandal.

Lalu ikut duduk di tanah.

Bu Sari keluar membawa tiga gelas es teh.

“Pak Surya, celananya kotor lagi.”

“Biar.”

Bu Sari menggeleng sambil tersenyum.

Dimas mengambil segenggam tanah.

“Mas Raka masih ingat ini?”

Raka merabanya.

Tanah lembap.

Dingin.

Sama seperti dulu.

Dimas hendak menempelkannya ke kening Raka seperti pertama kali.

Raka buru-buru menangkap tangannya.

“Jangan!”

Semua orang terdiam.

Lalu Raka menambahkan dengan suara yang kini jauh lebih jelas,

“Nanti rambutku kotor.”

Dimas tertawa paling keras.

Bu Sari sampai harus duduk karena ikut tertawa.

Surya memandangi putranya.

Anak yang dulu dianggap tidak akan pernah melihat dunia.

Anak yang dianggap tidak akan pernah berbicara.

Kini justru sedang ribut karena takut rambutnya terkena lumpur.

Surya tertawa sambil mengusap matanya.

Raka menoleh.

“Papa nangis?”

“Enggak.”

“Bohong.”

Surya terdiam sesaat.

Lalu tersenyum.

“Iya. Papa nangis.”

“Kenapa?”

Surya ingin memberikan jawaban panjang.

Tentang penyesalan.

Tentang dua belas tahun yang hilang.

Tentang rasa bersalah karena terlalu percaya pada laporan dan terlalu sedikit mengenal anaknya sendiri.

Namun akhirnya ia hanya menjawab,

“Karena Papa senang.”

Raka mengangguk seolah jawaban itu sudah cukup.

Mungkin memang cukup.

Tidak semua luka harus ditutup dengan kalimat besar.

Tidak semua kehidupan yang pernah hancur harus kembali menjadi sempurna.

Raka tetap harus terapi.

Penglihatannya tetap terbatas.

Surya tetap membawa penyesalan yang mungkin tidak pernah benar-benar hilang.

Bu Sari tetap bekerja.

Dimas tetap sering kehilangan kaus kaki sebelah.

Hidup mereka tidak berubah menjadi dongeng.

Tetapi rumah besar di Pakuwon Indah itu tidak lagi sunyi.

Ada suara sandal Dimas berlari di koridor.

Ada suara Bu Sari memanggil dari dapur.

Ada suara Surya mengingatkan jadwal terapi.

Dan, hampir setiap sore, ada suara Raka tertawa di taman belakang.

Suatu hari Dimas bertanya,

“Mas Raka, dulu waktu kita pertama ketemu, sebenarnya Mas tahu aku ada di samping?”

Raka berpikir cukup lama.

“Aku nggak tahu wajahmu.”

“Terus?”

Raka meraba tanah di antara mereka.

Kemudian menjawab,

“Aku tahu kamu nggak takut sama aku.”

Dimas mendadak diam.

Raka tersenyum.

“Semua orang pegang tanganku seperti aku bisa pecah.”

Ia berhenti sebentar.

“Kamu malah kasih aku batu.”

Dimas tertawa.

“Batunya masih ada?”

Raka menunjuk ke arah Surya.

Surya memasukkan tangan ke saku celana.

Kerikil kecil itu ternyata masih ada.

Batu yang dahulu diberikan Dimas kepadanya di rumah sakit.

Surya meletakkannya di telapak tangan Raka.

Raka menggenggamnya.

Tidak ada seorang pun berbicara selama beberapa saat.

Angin sore menggerakkan daun mangga.

Tanah masih sedikit basah.

Di depan mereka, satu buah tomat yang terlalu matang akhirnya jatuh sendiri dari tangkainya.

Dimas langsung berdiri.

“Eh! Tomatku!”

Raka tertawa.

Surya ikut tertawa.

Bu Sari berteriak dari dapur agar mereka segera masuk karena makan malam sudah siap.

Dan rumah yang selama dua belas tahun terasa seperti tidak memiliki kehidupan itu akhirnya memiliki sesuatu yang bahkan tidak bisa dibeli Surya dengan miliaran rupiah.

Suara.

Bukan suara mesin terapi.

Bukan suara dokter membacakan diagnosis.

Melainkan suara keluarga yang saling memanggil dari satu ruangan ke ruangan lain.

Raka berdiri perlahan.

Sebelum masuk, ia berhenti di ambang pintu dan menoleh ke taman.

Penglihatannya belum sempurna.

Bentuk pohon mangga di kejauhan masih tampak samar.

Wajah Dimas dari beberapa meter pun belum selalu terlihat jelas.

Namun cahaya matahari sore masih bisa ia tangkap.

Kuning keemasan.

Hangat.

Raka memandangnya beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Dimas.”

“Apa?”

“Besok tanam lagi.”

“Tomat?”

Raka menggeleng.

“Cabai.”

Dimas menyeringai.

“Kenapa cabai?”

Raka berjalan masuk sambil menjawab,

“Biar Papa kepedasan.”

Surya yang berada tepat di belakangnya berhenti.

“Raka!”

Dua anak itu langsung berlari sambil tertawa.

Dan untuk pertama kalinya, Surya tidak meminta mereka diam.

Ia membiarkan suara itu memenuhi seluruh rumah.

Karena setelah dua belas tahun…

akhirnya rumah itu benar-benar terasa seperti rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *