Anak-anak Mereka Membiarkan Orang Tuanya Hidup Susah—Mereka Tidak Tahu Harta Besar yang Ditinggalkan Orang Tuanya


“Pak, tidak mungkin setiap bulan Bapak meminta bantuan dari kami. Kami juga punya keluarga sendiri.”

Kata-kata dari anak sulungnya, Victor, terasa seperti pisau yang menusuk dada Pak Ramon.

Padahal dia tidak meminta untuk hidup mewah.

Bukan untuk membeli pakaian baru.

Bukan untuk menikmati makanan mahal.

Dia hanya meminta sedikit bantuan untuk membeli obat rutin istrinya, Bu Rosa, yang sudah beberapa bulan terakhir kondisi tubuhnya semakin lemah.

Mereka memiliki tiga orang anak.

Victor memiliki bisnis konstruksi sendiri.

Liza bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan besar.

Dan anak bungsu mereka, Paolo, bekerja di luar negeri.

Semua anak mereka hidup berkecukupan.

Memiliki mobil sendiri.

Rumah yang bagus.

Bisa pergi berlibur.

Namun di rumah tua mereka di desa, terkadang pasangan lansia itu harus berbagi satu kaleng sarden agar bisa makan selama dua hari.

“Anak,” kata Pak Ramon pelan, “Ayah hanya butuh Rp200 ribu saja. Obat Mama sudah habis.”

Victor menghela napas.

“Pak, bulan lalu saya sudah kasih.”

“Itu hanya Rp100 ribu.”

“Lalu Ayah mau saya yang menanggung semuanya?”

Pria tua itu tidak menjawab.

Dia kemudian menelepon Liza.

“Anak, Ayah boleh pinjam uang sebentar?”

“Pak, aku sedang rapat.”

“Ini hanya untuk obat Mama.”

“Kenapa tidak minta ke Kak Victor?”

“Ayah sudah bicara dengannya.”

Liza terdiam sebentar.

“Pak, aku juga punya banyak pengeluaran. Biaya sekolah anak-anak, cicilan mobil, kartu kredit…”

“Tidak apa-apa, Nak.”

Dia memutuskan panggilan sebelum mendengar jawaban yang lebih menyakitkan.

Kemudian dia mengirim pesan kepada Paolo.

Nak, kalau ada uang lebih, Ayah minta bantuan. Obat Mama perlu dibeli.

Pesan itu sudah terbaca.

Namun tidak ada balasan.

Malam itu, Bu Rosa melihat suaminya lebih diam dari biasanya.

“Anak-anak tidak memberi bantuan?”

Pak Ramon tersenyum.

“Mereka sedang sibuk.”

“Ramon.”

“Hm?”

“Jangan memaksa mereka.”

“Aku tidak memaksa.”

Rosa menggenggam tangan suaminya.

“Mereka sudah punya kehidupan sendiri.”

Ramon menatap istrinya.

“Tapi kita juga alasan kenapa mereka bisa memiliki kehidupan seperti itu.”

Nada suaranya bukan marah.

Lebih menyakitkan.

Seperti seseorang yang hanya merasa lelah.

Lebih dari tiga puluh tahun mereka habiskan hidup untuk ketiga anak mereka.

Dulu Pak Ramon bekerja sebagai sopir.

Sedangkan Bu Rosa berjualan kue tradisional.

Saat anak-anak membutuhkan biaya sekolah, Ramon bekerja lembur.

Saat ada tugas sekolah, Rosa menghemat uang makan agar bisa membeli perlengkapan.

Ketika Victor ingin kuliah teknik, mereka menggadaikan sebidang kecil tanah milik mereka.

Ketika Liza sakit saat kuliah, Rosa menjual sisa perhiasan pemberian suaminya saat pernikahan.

Dan ketika Paolo membutuhkan biaya keberangkatan untuk bekerja ke luar negeri, hampir seluruh tabungan mereka habis.

Mereka tidak pernah menyesal.

“Mereka adalah anak-anak kita,” selalu kata Rosa.

“Suatu hari nanti, hidup mereka pasti akan lebih baik.”

Dan memang hidup mereka menjadi lebih baik.

Namun yang tidak pernah mereka bayangkan, ketika anak-anak mereka semakin sukses, perlahan-lahan mereka justru semakin dilupakan.

 

 

Minyak tanah di lampu sentir itu sudah tinggal sejari. Baunya sangit, menusuk rongga hidung, mencoreng langit-langit bilik yang anyaman bambunya mulai mbrodol dimakan rayap.

Ramon mendengus pelan, bukan karena marah, tapi lendir di tenggorokannya selalu terasa pekat tiap kali kabut desa turun menabrak kaca jendela yang retak ditembel selotip cokelat. Di sampingnya, napas Rosa putus-putus. Pendek, kasar, seperti gesekan kertas semen ditiup angin.

“Minum air putih saja, Mon,” bisik Rosa, tenggorokannya seperti berpasir. “Nggak usah mikirin tablet biru itu. Palingan masuk angin biasa.”

“Masuk angin matamu soek,” gerutu Ramon pelan sekali, tangannya yang penuh kapalan meraba dahi istrinya. Dingin, tapi lengket oleh peluh malam. “Tensi bengkak begitu dibilang masuk angin. Besok aku ke kebun belakang. Pohon petai cina tetangga siapa tahu ada yang patah, bisa kujual ranting keringnya ke tukang tahu di pasar.”

Rosa tidak menjawab lagi. Perempuan itu cuma membalikkan badannya menghadap dinding papan yang dingin, menarik kain jarik motif sidomukti yang warnanya sudah pudar menjadi kelabu kusam. Jarik yang dulu dipakai saat menggendong Victor waktu anak itu berumur tiga bulan dan rewel semalaman karena cacar air.

Dua ratus ribu perak. Ramon menatap langit-langit yang menggelap.

Bagi Victor yang punya mobil kabin ganda warna hitam mentereng itu, dua ratus ribu cuma harga sekali isi solar nonsubsidi di rest area jalan tol. Bagi Liza, itu harga dua cangkir kopi susu berbusa tebal yang sering dipamerkan di status WhatsApp-nya tiap jam istirahat kantor. Bagi Paolo… ah, Paolo. Mengirim kabar saja anak bungsunya itu malas, apalagi menghitung selisih kurs ringgit ke rupiah.

Pukul empat pagi, Ramon sudah terbangun oleh suara kokok ayam jago milik Wak Gimin di sebelah rumah. Tulang ekornya ngilu parah. Dulu waktu jadi sopir truk gandeng lintas Sumatra, dia pernah terbalik di jurang Lahat; tulang pinggulnya remuk sedikit dan sampai sekarang selalu berdenyut kalau udara basah menyengat. Tapi hidup tidak pernah peduli pada tulang ekor orang miskin.

Dia memakai sandal jepit swallow yang tumitnya sudah aus miring ke kiri, mengikat sarung kumal di pinggang, lalu mengambil cangkul bopeng dari kolong amben.

Bukan ke kebun. Ramon melangkah ke halaman samping, ke arah bekas kandang kambing yang sudah runtuh sejak sepuluh tahun lalu. Di sana cuma ada rimbunan pohon pisang kluthuk yang daun-daunnya robek dihajar angin puyuh pekan lalu, tumpukan genteng pecah, dan sebuah gundukan tanah merah yang ditumbuhi rumput teki setinggi lutut.

Di bawah gundukan itu ada lantai semen tua bekas kamar mandi luar peninggalan ayahnya, Mbah Sastro, mandor perkebunan karet zaman baheula.

Orang sekampung taunya Ramon itu melarat sejak lahir sampai bau tanah. Victor, Liza, dan Paolo juga tahunya bapak mereka cuma sopir truk ompong yang modal hidupnya cuma setir bundar dan doa-doa pendek yang diulang tiap subuh.

Ramon mulai mencangkul. Tanah liat itu lengket kena embun. Bles. Bles. Napasnya mendengus-dengus seperti pompa ban bocor.

Dia tidak mencari harta karun intan permata berkilauan seperti di dongeng televisi. Ayahnya dulu meninggal mendadak karena serangan jantung di atas sadel sepeda onthel tahun 1984, hanya meninggalkan sebuah pesan ganjil yang dibisikkan beberapa jam sebelum napasnya putus:

“Mon… surat-surat hak konsesi tanah hutan jati sebelah timur batas desa jangan pernah kamu utak-atik kalau kamu belum sekarat. Biarkan rumput nutupin drum besinya. Kalau kamu masih kuat narik setir, narik setir saja. Manusia kalau megang tanah warisan pas lagi muda, matanya bakal ijo, hatinya copot.”

Ramon menurut. Tiga puluh tahun lebih dia narik truk, banting tulang sampai urat lehernya menonjol seperti kabel tiang listrik, menguliahkan Victor sampai sarjana teknik, mengantarkan Liza dapat kerjaan gedung bertingkat, lalu memodali Paolo nyebrang laut. Dia lupa tanah itu. Dia pikir tanah itu cuma hutan belantara mati yang diklaim sepihak sama jawara desa atau sudah dikuasai perhutani. Lagipula, Ramon terlalu sibuk memikirkan cicilan uang gedung anak-anaknya tiap semester ganjil tiba.

Mata cangkulnya menghantam sesuatu yang keras. Bukan batu kali. Suaranya berdenting tumpul. Tung.

Tangan Ramon bergetar. Dia berlutut di tanah basah, mengabaikan lututnya yang remuk oleh becek liat. Dengan jari-jarinya yang kasar dan kuku-kuku menghitam, dia menyingkirkan tanah lumpur, menyingkap sebuah tutup drum besi tebal yang dilapisi terpal tebal berlumut dan dililit rantai kapal berkarat.

Di dalamnya ada sebuah peti kayu jati kuno berlapis pelat timah, terkunci gembok kuningan sebesar kepalan tangan bayi.

Gembok itu sudah rapuh dimakan zaman. Sekali hantam dengan punggung cangkul, engselnya patah.

Di dalam peti yang kedap udara itu, tersimpan bungkusan kain mori putih yang sudah menguning. Bau kapur barus tua dan tembakau lintingan langsung menyergap hidung Ramon, membawanya melenting kembali ke aroma kakeknya empat puluh tahun silam.

Bukan tumpukan uang kertas rupiah bergambar monyet yang sudah tak laku.

Isinya: tiga sertifikat tanah berkancing lilin merah asli zaman kolonial dan transisi agraria tahun 1960 bertuliskan nama ayahnya, peta ukur segel basah bergaris batas patok batu kali, lima lembar sertifikat Hak Guna Usaha tanah perkebunan seluas total delapan belas hektar yang membentang dari batas lereng bukit hingga ke bantaran kali mati, dan sebuah kaleng biskuit Khong Guan berkarat.

Ketika kaleng biskuit itu dibuka dengan gemetar, isinya membuat mata tua Ramon nanar. Bukan perhiasan mewah model toko emas kota. Melainkan puluhan koin emas murni cap kijang dan gulungan dokumen obligasi perkebunan tembakau Deli lama bertanggal 1953 yang bagian belakangnya ada cap notaris pengesahan kepemilikan saham ganti rugi pembebasan lahan negara.

Ramon terduduk di tanah liat. Angin pagi berembus dingin, menggoyang dahan pohon randu di atas kepalanya.

Delapan belas hektar itu… adalah kawasan yang sekarang sedang ramai-ramai dibicarakan orang desa karena proyek pembangunan jalan tol lingkar luar dan kawasan industri pergudangan logistik provinsi.

Tanah yang selama puluhan tahun dianggap tanah tak bertuan milik perhutani yang terlantar itu, rupanya tanah bersertifikat mutlak milik keluarga Sastrowijoyo. Milik ayahnya. Milik Ramon yang sekarang bahkan tidak punya uang dua ratus ribu perak untuk menebus amplodipin dan obat lambung istrinya.

Ramon memandangi koin emas di telapak tangannya. Berat. Dingin. Dan tiba-tiba terasa sangat menjijikkan.

“Buat apa…” gumamnya parau ke arah rumput teki. “Dulu Victor minta uang skripsi sampai ibunya jual giwang kawin… aku punya ini di kolong tanah, tapi bapak nyuruh diam.”

Dia ingat betul kata ayahnya: Manusia kalau megang tanah warisan pas lagi muda, hatinya copot.

Ramon menutup kembali peti itu, tapi kali ini dia membawa dokumen-dokumen rapuh itu masuk ke dalam rumah, membungkusnya dengan kaus kutang bekas yang bersih.

Pagi itu, dia tidak menjual ranting kayu. Dia berjalan kaki lima kilometer ke arah balai desa, menyetop angkot colt tua menuju kantor agraria kabupaten, meminjam uang sepuluh ribu dari kas bon warung kopi Wak Gimin buat bayar ongkosnya.

Dua minggu berlalu tanpa suara telepon dari Jakarta, Surabaya, maupun Penang.

Rosa masih terbaring, tapi sekarang batuknya sudah agak reda bukan karena obat mahal dari kota, melainkan karena Ramon berhasil menukar satu koin emas lamanya ke pedagang emas antik di pecinan kota lama seharga dua puluh delapan juta rupiah. Pedagang itu sampai gemetar memegang koin murni peninggalan kakeknya.

Uang itu dipakai Ramon secukupnya saja: menebus obat paten untuk Rosa di apotek besar, membeli dua karung beras mentik wangi, memperbaiki talang air seng yang bocor, dan membelikan istrinya kasur busa baru yang empuk biar pinggangnya tidak remuk tiap tidur. Sisanya disimpan di bawah tumpukan karung gabah kosong di sudut dapur.

Lalu, kabar itu meledak seperti tabung gas bocor disulut korek api.

Bukan kabar dari mulut Ramon. Berita pembebasan lahan mega proyek simpang susun jalan tol lingkar selatan dan kawasan pergudangan peti kemas seluas puluhan hektar masuk surat kabar daerah dan portal berita daring. Dan di daftar inventarisasi BPN yang terpampang di papan pengumuman balai desa, nama pemegang hak ulayat dan sertifikat primer tunggal tertulis jelas: Ramon Sastrowijoyo.

Nilai ganti rugi konsorsium BUMN dan swasta untuk delapan belas hektar tanah strategis yang berada persis di bibir pintu keluar tol itu nilainya tidak masuk akal bagi orang desa: lebih dari tiga puluh dua miliar rupiah, belum termasuk kompensasi tegakan pohon jati dan bagi hasil saham pengelolaan rest area.

Hari Selasa sore, suara raungan mesin mobil memecah jalanan kampung yang biasanya hanya dilewati bebek dan sepeda motor bebek berknalpot keropos.

Dua mobil.

Satu SUV hitam mengilat berpelat nomor B, satu lagi sedan putih berpelat nomor L.

Victor turun duluan. Kemeja batiknya licin, sepatu pantofelnya mengilat terkena debu tanah liat depan pagar pekarangan. Langkahnya terburu-buru, wajahnya tegang bercampur seringai yang dipaksakan ramah. Di belakangnya, istrinya sibuk merapikan riasan wajah sambil melangkah jinjit menghindari becek bekas air hujan kemarin malam.

Dari sedan putih, Liza keluar sambil memegang tas kulit berlogo huruf ganda. Wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak manis, tersenyum lebar ke arah tetangga yang menonton di pinggir jalan.

“Bapak! Ibu!” suara Victor menggema di teras rumah papan tua itu.

Ramon sedang duduk di lincak kayu depan pintu, memakai baju koko putih warisan ayahnya yang sudah agak menguning di bagian ketiak, sedang meniup kopi tubruk hitam di cangkir seng. Di sampingnya, Rosa duduk di kursi rotan baru, wajahnya sudah agak segar meski guratan keriputnya masih dalam.

Ramon tidak berdiri. Dia cuma meletakkan cangkir sengnya perlahan ke atas meja kayu yang permukaannya tidak rata.

“Ada apa, Tor? Mobilmu bagus amat, sampai ayam tetangga pada lari masuk selokan.”

Victor tertawa canggung, mendekat dan langsung mencium tangan Ramon dengan takzim—sesuatu yang sudah tidak pernah dia lakukan sejak lima tahun terakhir. Istrinya bahkan langsung memeluk Bu Rosa, mencium pipi kiri dan kanan sambil mengeluarkan suara tangis yang dibuat-buat.

“Ibu… ya ampun, Ibu kurusan banget! Kenapa nggak bilang ke kami kalau Ibu sakit parah kemarin? Liza kan bisa kirim ambulans dari Surabaya bawa dokter spesialis ke sini!” Liza bersimpuh di kaki ibunya, suaranya terdengar begitu iba, begitu berbakti sampai-sampai Bu Rosa sendiri bingung mau menaruh tangannya di mana.

Rosa menatap suaminya. Ramon cuma diam, matanya dingin menatap ujung sepatu Victor yang berdebu.

“Dua ratus ribu kemarin katanya nggak ada, Za,” suara Ramon datar sekali. Tidak ada intonasi menyindir, tidak ada teriakan. Datar seperti permukaan air kali yang tenang tapi menyimpan pusaran lumpur di dasarnya.

Wajah Liza seketika memerah padam. Dia menelan ludah dengan susah payah.

“Aduh, Bapak… kemarin itu Liza kan lagi panik, pas banget Liza mau bayar uang muka asuransi anak-anak. Kan Liza nggak tahu kalau obat Ibu semendesak itu… Maksud Liza kan Mas Victor yang dekat di Jakarta bisa nalangin dulu…”

“Saya juga pas lagi ada audit proyek, Pak,” potong Victor cepat, suaranya sedikit meninggi membela diri sambil melipat tangan di dada. “Bapak tahu sendiri kontraktor sekarang kalau uang termin belum turun dari dinas, kita nomboknya miliaran. Kepala saya mau pecah waktu itu. Bukan nggak mau bantu orang tua.”

“Iya, iya,” sahut Ramon pendek. “Duduk. Bangkunya kotor, lap sendiri pakai tanganmu.”

Kedua anak itu duduk di lincak panjang. Istri Victor memilih tetap berdiri, melipat tangannya karena takut rok mahalnya kena noda getah kayu jati tua.

Suasana hening sejenak. Hanya suara deru kipas angin kecil dari dalam rumah dan gesekan dahan randu ditiup angin sore.

Victor berdeham panjang. Dia mengeluarkan map kulit hitam dari dalam tas kerjanya, menaruhnya hati-hati di meja di samping cangkir seng bapaknya.

“Pak… soal berita di kantor BPN kecamatan kemarin…” Victor mulai membuka kartu, matanya berkilat-kilat penuh nafsu yang berusaha ditutupi oleh istilah-istilah hukum bisnis. “Katanya orang kementerian sama pihak pengembang tol sudah ketemu Bapak hari Senin kemarin?”

Ramon memandangi map hitam itu. “Ketemu. Minum teh di sini. Habis satu toples rengginang buatan ibumu.”

“Terus… soal dana kompensasi tiga puluh dua miliar itu gimana, Pak?” desak Liza, tubuhnya condong ke depan, matanya melotot menatap bapaknya seolah takut ada satu kata pun yang terlewat. “Bapak jangan tanda tangan sembarangan lho! Orang desa sini banyak yang dibodohi calo tanah. Zaman sekarang mafia tanah itu licik-licik. Bapak kan sudah sepuh, pendengarannya juga sudah nggak awas, mending urusan hukum dan pencairan dananya diserahkan ke Mas Victor saja. Mas Victor kan punya pengacara perusahaan.”

“Iya, Pak,” timpal Victor cepat, mengambil selembar surat kuasa bermaterai sepuluh ribu yang rupanya sudah ia siapkan dari rumah. “Ini surat kuasa pengurusan dan hak rekening penampung. Biar Victor yang urus ke bank daerah sama kantor agraria provinsi. Nanti dananya masuk ke rekening giro perusahaan Victor dulu biar aman dari pajak progresif. Nanti buat Bapak sama Ibu, Victor buatkan rumah mewah di kota, dekat rumah Victor. Ada kolam renang, ada pembantu dua yang khusus mandiin dan nyuapin Ibu tiap hari. Rumah ini kita gusur saja, nggak layak huni begini.”

Rosa menarik napas panjang. Jemarinya yang kurus meraba lengan suaminya di bawah meja.

Ramon menatap Victor. Menatap mata anak sulungnya yang dulu menangis tersedu-sedu minta dibelikan buku gambar waktu kelas satu SD sampai Ramon rela tidak merokok dan makan siang tiga hari berturut-turut demi membelikan buku bergaris kotak-kotak itu. Menatap anak perempuan yang dulu ketika kena tipus di kamar kos Surabaya, Ramon jemput pakai mobil bak sewaan terbuka beralaskan jerami kering karena tidak punya uang buat bayar ambulans rumah sakit.

“Paolo mana?” tanya Ramon tiba-tiba.

Liza mengibaskan tangan. “Ah, si bungsu itu mana sempat mikirin ginian, Pak. Dia di Malaysia kerjaannya nggak jelas, palingan uangnya habis buat foya-foya sama teman-temannya. Nggak usah dipikirin dia mah.”

Belum sempat Liza menutup mulutnya, sebuah sepeda motor ojek desa berhenti mendadak di depan pagar bambu.

Seorang pemuda kurus turun tergesa-gesa, membayar tukang ojek dengan uang receh yang kusut, lalu berlari masuk tanpa melepas tas ransel kanvasnya yang dekil dan sobek di bagian tali pengikatnya.

Paolo.

Wajah anak bungsunya itu hitam legam terbakar matahari, matanya cekung dengan kantung mata ungu tebal, rambutnya awut-awutan bau debu jalanan. Dia memakai jaket parasut bekas yang resletingnya rusak diganjal peniti.

“Bapak! Ibu!”

Paolo menabrak pagar, berlari terengah-engah dan langsung berlutut di tanah depan kursi Bu Rosa. Dia tidak melihat mobil mewah Victor. Dia tidak melihat Liza yang berdandan seperti nyonya besar.

Napasnya memburu, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Dari dalam tas punggungnya yang dekil, dia mengeluarkan sebuah kantong plastik obat bertuliskan huruf Mandarin dan beberapa lembar uang kertas pecahan lima puluh dan seratus ringgit yang kusut tak beraturan, bercampur uang lima puluh ribuan rupiah hasil menukar di bandara Juanda.

“Bu… Paolo minta maaf…” suara pemuda itu pecah seketika, bahunya terguncang hebat, kepalanya menelungkup di atas pangkuan Bu Rosa yang beralas daster robek. “Paolo baru dapat izin cuti kemarin sore… paspor Paolo sempat ditahan majikan di pabrik sarung tangan… Ini obat dari toko sinshe di Georgetown, katanya bagus buat jantung sama pegal-pegal… Uangnya baru ada segini, Bu… tiga juta rupiah… Paolo lembur dua shift seminggu ini buat ngejar tiket pulang…”

Tangan Paolo yang kasar dan kurus gemetar saat meletakkan uang lecek itu di pangkuan ibunya. Kuku jempol kanannya retak menghitam, bekas terjepit mesin press pabrik yang belum sembuh total.

Rosa tertegun. Air matanya yang sejak kedatangan Victor dan Liza tertahan rapat, mendadak luruh membasahi ubun-ubun kepala anak bungsunya.

Victor dan Liza saling pandang dengan tatapan risih bercampur jijik melihat penampilan adiknya yang seperti kuli pelabuhan kelaparan.

“Ngapain kamu pake drama segala sih, Lho?” cibir Liza sambil membetulkan letak tas mewahnya. “Bapak sekarang sudah kaya raya. Tanah kakek yang di timur kena proyek tol, harganya tiga puluh dua miliar. Uang recehmu itu nggak ada artinya, simpan aja buat ongkosmu balik jadi kuli di Malaysia.”

Paolo mendongak, matanya yang merah dan kurang tidur menatap Liza dengan pandangan linglung.

“Tanah apa…? Kak Liza ngomong apa?”

Paolo sama sekali tidak tahu. Dia tidak membaca berita daerah. Di asrama pabriknya di pinggiran Penang, sinyal internet dibatasi dan waktunya habis dihabiskan berdiri dua belas jam di depan ban berjalan mencetak sarung tangan lateks. Dia pulang cuma karena membaca pesan singkat bapaknya dua pekan lalu yang bilang obat ibunya habis, dan dia panik setengah mati mengira ibunya sudah di ambang ajal.

Ramon menatap Paolo lama sekali.

Ditatapnya punggung anak bungsunya yang kurus, tangan yang melepuh kena bahan kimia pabrik, dan kotoran tanah di sela-sela jemari kakinya yang beralas sepatu kanvas sobek ujungnya.

Ramon menghela napas panjang. Angin sore itu berembus lebih kencang, menerbangkan daun-daun mangga kering ke atas teras.

Pria tua itu perlahan meraih map hitam milik Victor yang tergeletak di atas meja.

Mata Victor dan istrinya seketika berbinar terang. Victor buru-buru menyodorkan pulpen bertutup emas dari saku kemejanya.

“Tanda tangan di lembar ketiga yang ada materainya, Pak. Nanti malam langsung Victor bawa ke kantor notaris rekanan di kota.”

Ramon memegang pulpen emas itu sebentar. Memutar-mutarnya di antara jemarinya yang kapalan. Lalu, dengan gerakan tenang dan terukur, diletakkannya pulpen itu kembali di atas meja.

Tangan kirinya meraih map hitam tersebut.

Kreeek.

Suara robekan kertas tebal itu terdengar begitu renyah di tengah sunyinya sore pedesaan.

Victor terlonjak dari duduknya. “Pak! Apa-apaan itu?!”

Ramon tidak berhenti. Dia melipat berkas surat kuasa itu menjadi dua, lalu merobeknya lagi menjadi empat bagian kecil-kecil, menjatuhkannya begitu saja ke atas tanah becek di samping kakinya.

“Uang tiga puluh dua miliar itu memang ada, Victor,” suara Ramon terdengar serak tapi dalam, menggetarkan dada siapa saja yang mendengarnya. “Bahkan ada tambahan ganti rugi tegakan kayu jati sembilan miliar lagi yang baru disepakati sama pihak perhutani kemarin siang.”

Liza menahan napas, matanya liar melihat sobekan kertas di tanah. “Terus kenapa dirobek, Pak?! Bapak sudah pikun ya?! Itu miliaran rupiah!”

“Aku belum pikun, Liza,” Ramon menatap anak perempuannya itu dengan tatapan yang begitu dingin, begitu hampa, sampai-sampai Liza merasa seperti ditatap oleh orang asing yang berdiri di pinggir kuburan. “Dua minggu lalu, waktu aku nelpon kamu buat minta uang seratus ribu beli obat ibumu yang batuk darah… kamu bilang apa? Kamu lagi rapat. Kamu bilang cicilan mobilmu mahal. Kamu bilang biaya les anakmu jutaan.”

Liza terdiam kaku, wajahnya memucat.

“Dan kamu, Victor,” Ramon menunjuk hidung anak sulungnya dengan jari telunjuknya yang kasar. “Kamu punya perusahaan konstruksi. Proyekmu miliaran. Tapi waktu bapakmu ini minta dua ratus ribu… kamu ngitung untung rugi. Kamu tanya apakah kamu harus nanggung semuanya sendiri, seolah-olah ibumu ini pengemis yang nyelonong masuk ke pekarangan rumah barumu.”

“Pak… waktu itu kan Victor cuma—”

“Cuma apa?!” bentak Ramon. Suaranya menggelegar, membelah kesunyian senja. Dadanya yang kurus naik turun menahan lahar kemarahan yang selama tiga puluh tahun ia kubur bersama peti jati di kandang kambing. “Waktu kamu mau masuk teknik sipil dan nilaimu kurang sampai harus bayar jalur khusus uang pangkal dua puluh juta, siapa yang pergi ke rentenir pasar malam-malam, Victor?! Siapa yang rela digebuk orang karena telat bayar bunga biar kamu bisa pakai jas almamater itu?!”

Victor menunduk dalam-dalam. Istrinya melangkah mundur satu langkah, ketakutan melihat mata orang tua itu yang menyala merah.

“Kalian kira bapakmu ini bodoh?” lanjut Ramon, suaranya kembali memelan tapi setiap suku katanya terasa seperti hantaman godam seberat sepuluh kilo. “Kakekmu dulu ngubur surat tanah itu bukan karena pelit. Dia tahu… anak cucunya bakal jadi anjing lapar kalau dikasih makan harta sebelum kepalanya matang. Tiga puluh tahun aku simpan tanah itu, hidup susah jadi kuli setir, cuma biar kalian bertiga tumbuh jadi manusia yang punya hati.”

Ramon menunjuk sobekan kertas di tanah liat.

“Ternyata aku gagal. Kamu jadi insinyur, Victor, tapi otakmu cuma kalkulator rusak. Kamu jadi manajer, Liza, tapi hatimu lebih dingin daripada lantai semen kamar mayat.”

Rosa menangis terisak-isak di kursinya, mendekap kepala Paolo yang masih mematung bingung di pangkuannya.

“Pak… maafkan kami, Pak…” rintih Victor, lututnya mendadak lemas. Dia mencoba meraih kaki bapaknya, tapi Ramon menarik kakinya ke belakang.

“Nggak usah cium-cium kaki saya. Bau lumpur. Nanti ngotorin celana katun impor kamu itu,” kata Ramon pahit.

Ramon merogoh saku baju kokonya, mengeluarkan sebuah buku rekening bank tabungan negara berwarna biru tua dan sebuah surat penetapan ahli waris yang sudah dilegalisir oleh pengadilan negeri dan notaris resmi kabupaten kemarin siang.

Dia meletakkannya di depan dada Paolo.

“Kemarin lusa, waktu orang kementerian datang bawa dokumen kompensasi… bapak sudah tanda tangan surat hibah wasiat terbuka,” ujar Ramon kepada anak bungsunya yang masih gemetar. “Delapan belas hektar itu sudah resmi dilepas ke negara. Uang ganti ruginya… tiga puluh dua miliar rupiah… separuhnya bapak sumbangkan ke yayasan panti jompo dan madrasah anak yatim piatu di kecamatan barat, atas nama almarhum kakekmu.”

Mata Victor dan Liza membelalak horor. Enam belas miliar disumbangkan begitu saja kepada orang asing?

“Dan sisanya…” Ramon menepuk pundak Paolo yang basah oleh keringat dan air mata, “enam belas miliar sisanya masuk ke rekening perwalian atas nama kamu, Paolo. Dan sepeser pun Victor sama Liza tidak punya hak menuntut, karena surat pelepasan hak waris atas sisa tanah lainnya sudah bapak kunci dengan klausul pengabaian nafkah orang tua.”

“Pak! Ini nggak adil!” jerit Liza histeris, melupakan semua sopan santunnya. “Aku anak kandung Bapak! Mas Victor anak tertua! Kenapa si gembel ini yang dikasih semuanya?! Dia bahkan nggak tamat SMA!”

“Karena waktu ibunya sekarat,” potong Ramon dengan nada yang begitu tajam sampai membuat tenggorokan Liza tercekat, “anak gembel ini rela tidur di lantai bandara, memohon-mohon pinjam uang ke majikan Cina-nya, dan pulang bawa obat herbal bau sangit ini sambil nangis minta ampun karena cuma bisa bawa uang tiga juta rupiah.”

Ramon bangkit berdiri. Tubuhnya yang kurus tampak tinggi dan kokoh di bawah temaram lampu teras yang mulai berkedip menyala.

“Paolo pulang bawa uang nafkah dari darah dan keringatnya buat beli nyawa ibunya. Sedangkan kalian berdua… kalian datang ke sini cuma bawa serakah buat nyari bangkai bapakmu yang kalian kira sudah mau mati.”

Victor berlutut di tanah, kepalanya menempel di debu halaman. Istrinya menangis panik di samping mobil dinasnya yang mengilat.

“Pak… tolong, Pak… perusahaan Victor lagi terancam pailit kalau nggak dapat suntikan modal bulan ini… Victor mohon, Pak… sedikit saja buat bayar utang subkontraktor…”

Ramon memandang anak sulungnya itu tanpa kedipan mata. Dingin. Selesai.

“Dulu waktu bapak butuh seratus ribu buat obat ibumu, kamu bilang kamu bukan penanggung jawab hidup kami. Sekarang, bapak juga bukan pemegang kas penanggung jawab kebangkrutanmu, Victor. Urus sendiri perusahaanmu. Belajarlah hidup dari nol lagi seperti waktu bapak membesarkanmu di atas jok truk tua dulu.”

Ramon menoleh ke arah Paolo yang masih memegang buku tabungan itu dengan tangan bergetar hebat seolah memegang bongkahan bara api panas.

“Paolo.”

“I… iya, Pak…”

“Besok pagi, kamu antar ibumu ke rumah sakit besar di Solo. Sewa mobil yang paling empuk, sewa dokter yang paling pintar. Rawat ibumu sampai dia bisa jalan ke pasar lagi tanpa megangin pinggangnya.”

“Iya, Pak…” bisik Paolo dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.

“Dan setelah itu,” lanjut Ramon sambil membelai rambut anak bungsunya yang kusam, “kamu buka bengkel atau usaha apa saja yang kamu bisa di kota ini. Jangan pernah balik lagi ke negeri orang jadi kuli kasar. Temani bapak di sini. Rumah ini tetap rumah papan reyot, bapak nggak mau ganti jadi istana semen. Tapi besok, kita pasang genteng baru biar kalau hujan kamu nggak perlu naruh baskom di bawah kasur lagi.”

Ramon berbalik, melangkah masuk ke dalam rumah biliknya yang temaram. Dia tidak menoleh lagi ke arah Victor yang masih terpuruk mencium tanah liat pekarangan, tidak pula peduli pada ratapan histeris Liza yang ditarik suaminya masuk ke dalam mobil karena malu dilihat belasan tetangga kampung yang mulai berkerumun di pinggir jalan.

Pintu papan tua berderit pelan saat ditarik menutup dari dalam.

Klek.

Bunyi grendel besi tua mengunci rapat ruang dalam rumah itu.

Di luar, deru mesin mobil Victor dan Liza perlahan menyala, mundur tergesa-gesa membelah kegelapan malam desa yang pekat, meninggalkan jejak ban yang berantakan di atas tanah liat basah.

Di dalam bilik, aroma minyak tanah dari lampu sentir sudah tak lagi menyengat. Rosa duduk di tepi kasur barunya, mengelus punggung Paolo yang duduk bersimpuh di lantai semen sambil menyeduh teh melati hangat untuk ayahnya.

Ramon duduk di sudut amben, menyeruput sisa kopi tubruknya yang mulai dingin. Matanya memandang ke luar celah jendela kayu yang terbuka sedikit ke arah langit timur. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu di antara robekan awan hitam. Hatinya tidak lagi berat. Rasa lelah yang puluhan tahun menumpuk di pundaknya mendadak luruh, larut bersama keheningan malam pedesaan yang akhirnya kembali menemukan kedamaiannya yang sejati.