Aku Selalu Tertawa Melihat Senyum Polos Istriku Yang Kupikir Sangat Lugu Dan Bodoh, Tanpa Kusadari Di Balik Kelembutan Balutan Kain Batik Dan Mangkuk Nasi Goreng Hangat Setiap Malam, Dia Sedang Menyiapkan Jebakan Maut Yang Memusnahkan Seluruh Hidupku!

Keringat dingin mengucur deras membasahi kemeja Batik sutra mahal yang kukenakan. Tanganku gemetar hebat saat berdiri membeku di tengah ruangan megah bernuansa dingin ini. Di depanku, susunan dokumen dan map-map tebal berserakan di atas meja kaca. Setiap lembar kertas di sana seolah menjadi eksekutor yang siap mencabut seluruh kehormatan dan jalan hidupku.
Namaku Dimas. Sembilan tahun lamanya aku mengarungi bahtera rumah tangga bersama Laras. Di mata keluarga besar, teman-teman pengusaha di kawasan perkantoran elit SCBD Jakarta, hingga tetangga di kompleks perumahan kami di Cilandak, Laras adalah sosok istri yang luar biasa sempurna namun sangat sederhana. Dia wanita keturunan Yogyakarta yang selalu tampil bersahaja dengan kain batik lembut, rambut tersanggul rapi, dan tutur kata yang amat halus.
Laras adalah tipe wanita pendiam. Dia tidak pernah menuntut perhiasan berlian, tidak pernah meminta mobil mewah, dan yang paling penting… dia tidak pernah sekalipun memeriksa telepon genggamku atau mempertanyakan ke mana aku pergi. Setiap kali aku pulang larut malam, bahkan hingga pukul dua dini hari dengan aroma alkohol tipis di kerah jas, Laras selalu menyambutku di pintu depan dengan senyuman yang sama.
“Mas Dimas sudah makan? Aku sudah buatkan nasi goreng kesukaanmu dan sate ayam hangat,” ucapnya selalu dengan nada lembut yang menenangkan.
Setiap kali mendengar ucapan itu, aku selalu tertawa sinis di dalam hati. Aku merasa menjadi pria paling beruntung sekaligus paling cerdik di dunia. Dalam pikiranku, Laras adalah wanita yang terlalu lugu. Terlalu polos untuk ukuran zaman modern. Dia terlalu bodoh untuk menyadari wangi parfum wanita mahal milik orang lain yang menempel di bajunya, atau noda lipstik tipis yang sengaja kubersihkan sebelum melangkah masuk rumah. Kebodohan dan kepolosannya membuatku merasa bagaikan seorang raja yang tak tersentuh oleh hukum apa pun.
Rasa percaya diri yang berlebihan itu akhirnya berubah menjadi keberanian yang liar. Aku mulai menjalin hubungan gelap dengan sekretaris baruku di kantor, seorang wanita muda bernama Celine. Celine adalah kebalikan dari Laras: glamor, agresif, selalu mengenakan gaun-gaun impor ketat, dan sangat mahir memanjakan harga diriku. Kami bahkan tanpa ragu menyewa sebuah unit apartemen mewah di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, sebagai sarang tersembunyi kami.
Tidak berhenti di situ, rasa rakus mulai menguasai otakkuku. Aku tidak hanya ingin mendua secara emosional dan fisik, tetapi aku juga merencanakan pengkhianatan finansial yang sangat matang. Aku berpikir, jika suatu hari nanti pernikahan ini membosankan dan aku memutuskan untuk menceraikan Laras, aku tidak ingin wanita lugu itu mendapatkan sepeser pun harta kekayaanku.
Sedikit demi sedikit, dengan memanfaatkan jabatanku sebagai Direktur di PT Nusantara Graha, aku mulai memindahkan sebagian besar aset perusahaan dan rekening bersama keluarga ke rekening rahasia luar negeri atas namaku sendiri. Nilainya tidak main-main, mencapai puluhan Miliar Rupiah. Dalam imajinasiku yang angkuh, aku membayangkan Laras kelak akan diusir dari rumah tanpa membawa apa-apa, hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang malang di pinggir jalanan Jakarta.
Selama bertahun-tahun, skenario busuk itu berjalan tanpa hambatan sedikit pun. Laras tetap menjadi Laras yang biasa: menyeduhkan teh melati hangat, menyetrika kemeja batiknya dengan rapi, dan tersenyum tulus setiap kali melihatku.
Sampai pada suatu malam Kamis yang basah oleh guyuran hujan deras di Jakarta. Aku pulang menjelang tengah malam setelah menghabiskan malam yang panas bersama Celine di apartemen. Seperti biasa, Laras menyambutku di ruang tamu, menyodorkan cangkir teh hangat dengan kelembutan yang tidak pernah berubah.
“Mas Dimas…” bisiknya pelan dengan tatapan mata yang bening.
“Ada apa, Laras?” jawabku acuh tak acuh sambil melepaskan sepatu kulitku.
“Hari Jumat besok, tolong kosongkan seluruh jadwalmu ya, Mas. Jangan ada janji dengan klien atau rapat di luar. Aku ingin mengajak Mas ke suatu tempat.”
Aku menatapnya sekilas, lalu mengangguk tanpa curiga sedikit pun. Kupikir, mungkin dia ingin mengajakku makan malam di restoran Jawa langganannya di Menteng, atau sekadar memintaku mengantarnya membeli kain batik baru untuk acara keluarga.
Hari Jumat pun tiba. Aku mengemudikan mobil Alphard hitamku menembus kemacetan Jakarta. Laras duduk di sampingku, diam memandangi jalanan dengan senyum tipis yang terukir manis di bibirnya. Senyum yang terasa begitu damai.
Namun, ketika mobilku belok dan berhenti di pelataran sebuah bangunan megah bertingkat, jantungku mendadak berdesir aneh. Ini bukan kawasan restoran mewah di Menteng. Ini adalah kompleks Pengadilan!
Langkah kakiku mendadak terhenti di ambang pintu utama. “Laras… Kenapa kamu mengajakku ke sini? Tempat apa ini?!” suaraku mulai gemetar.
Laras menoleh perlahan. Wajahnya tetap tenang, namun senyuman manisnya mendadak berubah menjadi sesuatu yang belum pernah kulihat selama sembilan tahun pernikahan kami. Senyum yang begitu tenang… namun memancarkan kebekuan yang mampu menghentikan detak jantungku.
“Turun, Mas. Ada sebuah kebenaran yang harus kita selesaikan hari ini,” ucapnya dengan nada datar tanpa intonasi.
Langkah kakiku terasa seberat timah saat mengikutinya masuk ke dalam salah satu ruang rapat tertutup. Di dalam ruangan berpendingin udara itu, telah menunggu seorang pengacara senior kenamaan Jakarta, dua orang auditor forensik keuangan berjas hitam, dan dua orang penyidik kepolisian.
Pengacara Laras meletakkan lima map tebal berwarna hitam di atas meja kaca.
“Pak Dimas,” kata pengacara itu dengan suara tegas menggelegar. “Di dalam map ini terdapat seluruh bukti otentik perselingkuhan Anda dengan Saudari Celine, foto-foto manifes apartemen Kuningan, transaksi aliran dana ilegal perusahaan, pemindahan aset senilai 25 Miliar Rupiah, hingga ratusan rekaman percakapan rahasia Anda.”
Bumi seolah runtuh menimpaku. Seluruh persendianku melorot seketika. Muka dan tubuhku mandi keringat dingin.
Aku menatap Laras dengan mata membelalak tak percaya. “Laras… Sejak… Sejak kapan kamu mengetahui semua ini?!”
Laras menatapku tanpa emosi, tanpa tumpahan air mata, dan tanpa kemarahan sedikit pun.
“Sejak hari pertama kamu mulai berubah, Mas. Sejak pertama kali aroma parfum Celine menempel di baju yang kucuci dengan tanganku sendiri sembilan bulan yang lalu.”
“Tapi… Kenapa kamu diam?! Kenapa kamu berpura-pura tidak tahu dan tetap tersenyum padaku setiap hari?!” jeritku frustrasi di tengah kepanikan yang membakar dada.
Laras tersenyum tipis, senyuman dingin yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri.
“Karena orang yang banyak bicara hanya akan merusak rencananya sendiri, Mas. Dan orang yang merasa dirinya paling pintar, sering kali gagal melihat jebakan maut yang dipasang tepat di depan matanya.”
Aku membeku. Seluruh kesombonganku hancur berkeping-keping di atas lantai pengadilan.
Namun, kejutan mengerikan itu ternyata belum sampai di puncaknya.
Penyidik kepolisian yang duduk di ujung meja kemudian mengeluarkan satu map tebal lagi dari dalam tas kulitnya. Map itu berwarna merah menyala.
“Pak Dimas…” penyidik itu bersuara berat dan dingin. “Ada satu laporan tindak pidana penggelapan dan pencucian uang lagi. Laporan ini bukan berasal dari Ibu Laras… melainkan dari seseorang yang paling Anda percayai dan paling dekat dengan hidup Anda selama ini.”
Jantungku berdegup begitu kencang hingga telingaku berdenging hebat. Tanganku yang gemetar hebat perlahan meraba dan membuka map merah tersebut.
Begitu nama pelapor utama dan saksi kunci tertera dengan jelas di lembar pertama… wajahku seketika pucat pasi bagaikan mayat.
Ternyata… orang yang selama ini paling aku banggakan dan kutumpuk dengan kepercayaanku… justru sosok yang diam-diam menjadi belati tajam yang menusuk jantungku dari belakang…
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
Pandanganku mendadak kabur saat membaca nama yang tercetak tebal di atas kertas bernomor surat kepolisian itu. Nama yang selama ini selalu kusebut dengan penuh rasa bangga, nama wanita yang selalu kupeluk setiap malam di apartemen mewah Kuningan: Saudari Celine Indah Pertiwi.
“Celine?! Tidak mungkin! Astaga, ini pasti salah! Ini tidak masuk akal!” jeritku hysteris sambil menghempaskan kertas itu ke meja. “Celine itu kekasihku! Dia bersamaku setiap hari! Dia yang menemaniku mengurus bisnis! Kenapa nama Celine ada di sini sebagai pelapor tindak pidana penggelapan aset?!”
Belum sempat rasa syokku terobati, pintu ruang rapat terbuka perlahan. Suara dentakan sepatu hak tinggi yang tegas membentur lantai marmer menggema di seluruh ruangan.
Seorang wanita melangkah masuk. Namun dia bukan Celine yang biasa kukenal dengan gaun terbuka dan riasan tebal yang penuh godaan. Wanita di depanku ini mengenakan setelan blazer biru tua yang sangat rapi, rambutnya diikat klimis ke belakang, dan matanya memancarkan aura ketegasan seorang profesional.
Celine.
“Celine! Kurang ajar kamu!” teriakku sambil berdiri, berniat memburunya. Namun dua petugas polisi dengan cepat menahan kedua bahuku dan memaksaku kembali duduk. “Apa-apaan ini?! Aku yang membelikanmu mobil! Aku yang memberikanmu perhiasan dan uang bulanan puluhan juta Rupiah! Kenapa kamu malah menjebakku?!”
Celine berjalan mendekat, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Dia berhenti persis di samping Laras, lalu membungkukkan badannya sedikit dan meletakkan tangannya dengan penuh hormat di bahu Laras.
“Maafkan saya, Pak Dimas,” kata Celine dengan suara dingin dan formal. “Semua kemewahan, mobil, dan perhiasan yang Bapak berikan kepada saya adalah uang hasil penggelapan aset PT Nusantara Graha. Dan asal Bapak tahu… saya tidak pernah sekalipun memiliki perasaan cinta kepada pria pengkhianat seperti Bapak.”
“Kurang ajar! Lalu kenapa kamu melayaniku selama ini?! Kenapa kamu mau tidur di apartemen itu?!” cecarku dengan napas memburu dan dada yang terasa mau meledak.
Celine tersenyum sinis. “Apartemen mewah di Kuningan itu? Bapak pikir Bapak menyewanya dari agen properti biasa? Apartemen itu adalah unit properti milik keluarga Ibu Laras. Dan saya… saya bukanlah sekadar sekretaris yang bisa Bapak goda dengan uang.”
Celine kemudian mengeluarkan sebuah tanda pengenal resmi dari dalam sakunya dan menunjukkan tepat di depan mataku.
“Nama saya Celine Indah Pertiwi. Saya adalah Auditor Forensik Independen dari Lembaga Investigasi Keuangan Publik. Dan lebih dari itu… saya adalah adik sepupu kandung dari Ibu Laras. Kami berasal dari trah keluarga yang sama di Yogyakarta.”
“Ya Allah… Astaga…” suaraku tercekat di tenggorokan. Seluruh badanku gemetar hebat. Kepala serasa dihantam palu godam berukuran raksasa.
Laras, wanita yang duduk di sampingnya, kini menatapku dengan tatapan mata yang begitu tajam. Kelembutan khas wanita Jawa yang selama sembilan tahun ini melekat padanya seolah menguap tanpa bekas, berganti menjadi sosok penguasa yang sangat berwibawa.
“Mas Dimas…” suara Laras mengalun pelan, namun dampaknya bagaikan petir di siang bolong. “Kamu begitu sibuk dengan kesombonganmu di SCBD. Kamu begitu silau dengan jabatan Direkturmu hingga kamu lupa… siapa keluarga istri yang kamu nikahi selama sembilan tahun ini. Kamu pikir aku hanyalah anak kampung dari Yogyakarta yang polos, bodoh, dan tidak tahu apa-apa tentang dunia bisnis?”
Laras menyandarkan tubuhnya di kursi kayu jati.
“PT Nusantara Graha yang kamu bangga-banggakan itu… didirikan sembilan tahun lalu menggunakan modal awal sebesar 10 Miliar Rupiah milik almarhum ayahku, Bapak Suryo. Saat kamu menikahiku, kamu hanyalah seorang manajer semenjana yang tidak memiliki aset apa pun. Karena rasa cintaku padamu saat itu, aku menyerahkan kursi Direktur Utama kepadamu dan memilih berdiri di belakang layar, membiarkan namamu melambung demi menjaga kehormatanmu sebagai seorang suami.”
Aduhh! Demi Tuhan, kenyataan itu menusuk jantungku hingga berdarah-darah! Aku teringat bagaimana selama bertahun-tahun ini aku selalu menyombongkan diri di hadapan teman-temanku, memamerkan seolah-olah aku adalah pengusaha sukses yang membangun kerajaan bisnis dari nol, sementara istriku hanyalah ibu rumah tangga yang menumpang hidup padaku!
Celine melanjutkan penjelasannya dengan nada bicara yang runut dan mematikan.
“Setiap rupiah yang Bapak coba pindahkan secara diam-diam dari rekening perusahaan ke rekening cangkang luar negeri… sebenarnya tidak pernah sampai ke rekening pribadi Bapak. Sejak hari pertama Bapak meminta saya memproses transfer tersebut, saya telah mengalihkan seluruh dana tersebut ke dalam rekening konsinyasi hukum dan escrow account yang diawasi langsung oleh otoritas keuangan dan pengacara Ibu Laras. Dokumen-dokumen perjanjian investasi yang Bapak tanda tangani di apartemen saat bersenang-senang dengan saya… adalah surat pengakuan dosa dan pengalihan seluruh hak saham pribadi Bapak!”
“Kalian… kalian semua iblis! Kalian merencanakan ini semua untuk menghancurkanku!” teriakku histeris. Air mata penyesalan dan ketakutan mulai meleleh membasahi pipiku.
“Kami tidak menghancurkanmu, Mas,” sela Laras dengan intonasi yang begitu tenang. “Kamu sendiri yang menggali lubang kuburmu. Kami hanya memastikan bahwa kamu jatuh ke dalam lubang yang kamu gali sendiri tanpa ada jalan untuk keluar.”
“Laras! Tolong, Laras! Ingat pernikahan kita!” aku mencoba merangkak di lantai, mengabaikan rasa malu di hadapan para penyidik dan pengacara. Aku mencoba menggapai ujung kain batik yang dikenakan Laras. “Aku khilaf! Aku buta oleh harta dan hawa nafsu! Aku janji akan berubah! Aku akan memutuskan hubungan dengan siapa pun! Kita bisa pulang ke rumah di Cilandak sekarang, Mas akan minta maaf dan sujud di kakimu! Tolong cabut laporan ini, Laras!”
Laras menarik pelan ujung kain batiknya, menjauhkan jalur kain itu dari genggaman tanganku yang kotor. Pandangan matanya penuh dengan rasa jijik.
“Pulang ke rumah? Mas… ingatkah kamu kejadian pada Hari Raya Idul Fitri tahun lalu? Saat tradisi Mudik ke Yogyakarta?” tanya Laras. Suaranya sedikit bergetar, menahan tumpukan luka mendalam yang selama ini dipendamnya rapi.
Aku bungkam. Memoriku mendadak terlempar pada kejadian setahun yang lalu.
“Waktu itu,” lanjut Laras dengan mata berdada basah namun tanpa meneteskan air mata, “kamu meneleponku dengan suara panik, mengaku harus terbang ke Singapura karena ada urusan bisnis mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Kamu membiarkanku pulang kampung sendirian menggunakan kereta api, membawa tas-tas berat, sementara ibuku, Ibu Ratna, sedang terbaring kritis di ICU rumah sakit Yogyakarta!”
“Aku duduk di dapur rumah tua di Yogyakarta pada malam takbiran, memasak Opor Ayam dan membuat kue Nastar sendirian dengan air mata yang menetes tanpa henti. Aku salat malam dan berdoa khusyuk agar suamiku di Singapura selalu diberi keselamatan dan kesehatan…”
Laras memberi isyarat pada Celine. Celine mengambil sebuah map foto dan membeberkannya di atas lantai, tepat di depan wajahku.
Foto-foto itu memperlihatkan diriku yang sedang tertawa lebar, meneguk minuman keras di atas kapal pesiar pribadi di Bali bersama beberapa wanita malam pada hari pertama Lebaran!
“Kamu memamerkan kemewahan dan kebohongan di atas penderitaan istri dan mertuamu yang sedang berjuang melawan sakaratul maut!” bisik Laras, suaranya tajam bagaikan sembilan sembilu yang menghujam dadaku. “Saat ibuku meninggal dunia dua hari setelah Lebaran dan kamu baru pulang dengan alasan ‘terbang dari Singapura’, aku sudah melihat foto-foto ini, Mas. Saat itulah aku sadar… rasa cintaku padamu telah mati bersamaan dengan berpulangnya ibuku ke Rahmatullah. Dan sejak hari itu, aku bersumpah demi Allah… aku tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk pria tak berguna sepertimu!”
“Astaga… Laras… Maafkan aku… Demi Tuhan, maafkan aku…” aku melolong meraung-raung di atas lantai marmer. Kehampaan luar biasa merayapi dadaku. Rasa bersalah, malu, dan ketakutan bergulat menjadi satu menghantam kesadaranku.
Pengacara Laras kemudian berdiri dan membacakan berkas putusan awal.
“Pak Dimas, berdasarkan seluruh bukti pelanggaran berat ini, Ibu Laras resmi mengajukan gugatan cerai talak dengan tuntutan hak asuh penuh atas seluruh aset bersama. Selain itu, pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia telah menetapkan Anda sebagai tersangka atas kasus Penggelapan dalam Jabatan Pasal 374 KUHP dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun.”
“Seluruh rekening bank atas nama Anda telah dibekukan secara hukum detik ini juga. Mobil Alphard, koleksi jam tangan, dan rumah di Cilandak telah disita oleh pengadilan sebagai jaminan pemulihan kerugian perusahaan. Anda resmi bangkrut dan tidak memiliki hak satu sen pun atas PT Nusantara Graha.”
Penyidik kepolisian melangkah maju. Suara logam dingin beradu saat borgol besi dikeluarkan.
Cklik! Cklik!
Kedua pergelangan tanganku dikunci rapat dengan borgol besi. Dinginnya rantai itu menjalar ke seluruh pembuluh darahku.
“Pak Dimas, Anda kami tahan. Silakan ikut kami ke Markas Polda Metro Jaya sekarang,” ucap penyidik itu tegas.
Aku dipapah berdiri secara paksa. Tubuhku terasa sangat lemas, tak berdaya bagaikan pakaian kotor yang dilemparkan. Saat digiring berjalan keluar dari ruang rapat menelusuri koridor pengadilan, puluhan kilatan lampu kamera dan puluhan wartawan media bisnis Jakarta sudah menyambut di luar. Wajahku yang pucat dan kedua tanganku yang terborgol menjadi santapan empuk kamera media.
Sebelum diseret masuk ke dalam mobil tahanan kepolisian yang berjeruji besi, aku menoleh untuk terakhir kalinya ke arah pintu gedung pengadilan.
Di sana, Laras berdiri anggun di balik balutan kain batiknya. Di sampingnya, Celine berdiri mendampingi. Laras menatap ke arahku dan melempar sebuah senyuman tipis. Senyuman yang sangat tenang, lembut, dan damai—senyuman yang dahulu selalu kupikir sebagai simbol kebodohan dan kepolosannya, namun kini menjadi lambang kehancuran mutlak atas seluruh jalan hidupku.
Saat pintu mobil tahanan hendak ditutup rapat, Celine melangkah mendekati kaca jendela mobil yang terbuka sedikit. Dia menatapku dengan pandangan dingin dan membisikkan kenyataan terakhir yang menghabisi sisa jiwaku:
“Satu hal lagi yang belum kamu tahu, Mas Dimas… apartemen di Kuningan yang kamu sewa itu bukan milik Laras, melainkan milik Budi—sahabat karir kepercayaanmu sendiri yang ternyata selama ini adalah suami sah saya.” “Kalian berdua bukan hanya dijebak oleh Laras, tapi Budi sudah mengambil alih seluruh sisa proyek bisnismu di SCBD sejak bulan lalu.” “Selamat menikmati dinginnya jeruji besi, dari kami bertiga yang selalu kamu anggap lugu.”
