BAGIAN 2
“Ibu Nisa… akhirnya pulang juga.”
Aku tidak bisa menjawab.

Anak perempuan itu berdiri di ambang pintu dengan seragam SD, rambut dikepang dua, dan wajah yang terasa terlalu familier.
Bukan karena aku pernah melihatnya.
Justru karena aku seperti melihat diriku sendiri saat kecil.
Bentuk mata.
Garis dagu.
Bahkan caranya menggigit bibir ketika gugup.
“Aulia?” suaraku nyaris tidak terdengar.
Dia mengangguk.
Lalu matanya beralih kepada Fahri.
“Ayah, Ibu marah?”
Ayah.
Aku menatap Fahri.
“Jadi benar dia anakmu.”
Fahri tidak menyangkal.
Tetapi sebelum aku sempat meledak lagi, Aulia berjalan mendekat.
Dia berhenti satu meter di depanku.
Tidak memeluk.
Tidak menyentuh.
Hanya menatap.
“Ibu lebih tinggi dari foto.”
Dadaku langsung sesak.
“Foto apa?”
Aulia membuka tas sekolahnya.
Mengeluarkan dompet kecil.
Di dalamnya ada foto lama.
Aku dan Fahri.
Diambil hampir sepuluh tahun lalu.
Saat kami masih menikah.
Aku memakai blus putih.
Fahri berdiri di sampingku.
Tanganku memegang sebuah map dari klinik fertilitas.
Aku mengenali hari itu.
Hari ketika dokter memberi tahu bahwa program bayi tabung pertama kami gagal.
Tanganku mulai gemetar.
“Dari mana kamu punya ini?”
Aulia menoleh pada ibuku.
“Nenek yang kasih.”
Aku langsung menatap Ibu.
“Ibu.”
Air matanya turun.
“Nisa, duduk dulu.”
“Jangan suruh aku duduk.”
Aku mengangkat hasil DNA.
“Jelaskan ini.”
Fahri menarik napas.
“Aulia memang anak kita.”
Aku tertawa.
Suara yang keluar terdengar asing.
“Anak kita?”
“Iya.”
“Aku tidak pernah melahirkan dia.”
“Aku tahu.”
“Lalu bagaimana mungkin?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku melihat wajah mereka satu per satu.
Ibu.
Fahri.
Aulia yang mulai ketakutan.
Aku akhirnya menurunkan suara.
“Sayang, masuk kamar Nenek sebentar.”
Aulia menatap Fahri.
Dia mengangguk.
“Masuk dulu.”
Setelah anak itu pergi, aku meletakkan kertas DNA di meja.
“Sekarang bicara.”
Fahri duduk.
“Apa kamu masih ingat Klinik Arunika?”
Aku tentu ingat.
Empat tahun pertama pernikahan kami dipenuhi pemeriksaan.
Obat hormon.
Suntikan.
Harapan.
Kegagalan.
Sampai akhirnya kami melakukan IVF.
Dari beberapa sel telur, hanya tiga embrio yang dinyatakan baik.
Dua ditanamkan.
Gagal.
Aku mengalami perdarahan.
Dokter mengatakan tidak ada kehamilan yang bertahan.
“Satu embrio tersisa,” kata Fahri.
Aku mengangguk perlahan.
“Dan kita sepakat menghentikan semuanya.”
“Itu yang kamu pikir.”
Aku menatapnya tajam.
“Apa maksudmu?”
Fahri memandang Ibu.
Aku ikut menoleh.
Wajah Ibu langsung runtuh.
“Ibu?”
“Nisa… waktu itu kamu sangat hancur.”
“Jawab.”
“Embrio itu tidak dimusnahkan.”
Aku membeku.
“Tidak.”
“Ibu meminta klinik mempertahankannya.”
Aku sampai tidak mengerti kalimatnya.
“Tanpa izin aku?”
Ibu menangis.
“Ibu pikir suatu hari kamu akan berubah pikiran.”
“Aku dan Fahri bercerai!”
“Itu setelahnya.”
“Lalu siapa yang menyuruh embrio itu ditanamkan?”
Ibu menutup wajah.
Jawabannya sudah ada di depan mataku.
“Jangan bilang…”
“Ibu.”
Aku mundur.
Seolah perempuan di kursi roda itu bukan ibuku.
“Kepada siapa?”
Fahri menjawab.
“Seorang perempuan bernama Rina.”
Aku menatapnya.
“Siapa Rina?”
“Surrogate.”
Aku tertawa pendek karena terlalu marah untuk menangis.
“Di Indonesia? Diam-diam? Kalian gila?”
“Prosesnya tidak legal seperti yang seharusnya,” kata Fahri.
“Seperti yang seharusnya?”
Aku menunjuk hasil DNA.
“Kalian memakai embrio tubuhku tanpa persetujuanku!”
“Aku tidak tahu saat proses transfer dilakukan.”
Aku menatap Fahri.
“Bohong.”
“Demi Allah, aku baru tahu saat Rina hamil hampir lima bulan.”
“Lalu kenapa kamu tidak meneleponku?”
Wajahnya berubah.
“Karena waktu itu kamu sudah memblokir semua nomorku.”
“Itu bukan alasan!”
“Aku datang ke Jakarta.”
Aku terdiam.
“Kapan?”
“Delapan tahun lalu.”
“Aku tidak pernah melihatmu.”
“Aku datang ke kantor lamamu. Mereka bilang kamu pindah cabang ke Makassar.”
Aku mengingatnya.
Tahun itu aku memang pindah selama delapan bulan.
“Aku kirim email.”
“Aku ganti alamat.”
“Surat juga.”
Aku menatap Ibu.
Ibu menunduk.
Perasaan buruk muncul.
“Surat itu sampai ke sini?”
Ibu menangis lebih keras.
Aku langsung tahu.
“Ibu menyembunyikannya?”
“Nisa…”
“IBU MENYEMBUNYIKANNYA?”
“Ibu takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu akan melapor polisi. Takut Aulia diambil. Takut semuanya terbongkar.”
Aku sampai kehilangan kata-kata.
Selama sembilan tahun aku menganggap Fahri lelaki yang tidak pernah berusaha menjelaskan akhir pernikahan kami.
Ternyata ada surat.
Ada anak.
Dan ibuku berdiri di tengah semuanya.
“Kenapa kita bercerai sebenarnya?” tanyaku kepada Fahri.
Dia menatapku.
Pertanyaan itu terdengar bodoh.
Aku masih ingat pertengkaran kami.
Aku menuduhnya tidak peduli lagi.
Dia sering pergi ke klinik tanpa memberitahuku.
Menerima telepon tengah malam.
Aku pernah menemukan bukti pembayaran atas nama perempuan yang tidak kukenal.
Rina.
Saat kutanya, dia menolak menjelaskan.
Dua bulan kemudian kami berpisah.
“Kamu sudah tahu tentang Rina waktu itu?”
“Belum soal kehamilan.”
“Lalu kenapa membayar biaya medisnya?”
“Karena Ibu kamu bilang dia menjalani prosedur yang berhubungan dengan penyimpanan embrio kita. Aku pikir komplikasi medis.”
Aku menatap Ibu.
“Ibu berbohong kepada dia juga?”
Pelan sekali, Ibu mengangguk.
Kemarahan yang selama ini hanya mengarah kepada Fahri berpindah.
“Kenapa?”
Ibu menatapku.
“Karena setelah program terakhir gagal, kamu bilang tidak mau punya anak lagi.”
“Aku sedang berduka!”
“Ibu tahu.”
“Tidak. Kalau Ibu tahu, Ibu tidak akan mengambil keputusan tentang tubuhku.”
Ibu menangis.
“Ayahmu meninggal tanpa cucu. Ibu bodoh. Ibu pikir kalau anak itu lahir, kalian akan kembali bersama.”
Aku sampai tidak percaya.
“Jadi Aulia lahir untuk memperbaiki pernikahan?”
“Awalnya Ibu berpikir begitu.”
“Dan ketika gagal?”
Ibu menatap kamar tempat Aulia masuk.
“Ibu sudah telanjur mencintainya.”
Aku duduk.
Tenagaku habis.
“Bagaimana Rina?”
Fahri menjawab.
“Meninggal tujuh bulan setelah melahirkan.”
Aku terkejut.
“Kecelakaan.”
“Dan Aulia?”
“Aku yang mengambil hak asuh.”
“Kenapa pakai nama Rahman?”
“Itu nama keluarga Rina di dokumen awal. Mengubah semuanya waktu itu berisiko membuka proses embrio ilegal.”
Aku menatap hasil pemeriksaan rumah sakit.
“Dia sakit apa?”
“Kelainan jantung bawaan ringan dan gangguan autoimun. Sekarang kondisinya jauh lebih stabil.”
“Rp400 juta?”
“Itu akumulasi beberapa tahun.”
Aku bangkit.
“Dan uang yang kukirim untuk Ibu?”
Fahri langsung menjawab.
“Aku tidak pernah meminta satu rupiah.”
Aku menatapnya tajam.
“Rekening menunjukkan transfer.”
“Itu keputusan Ibu.”
Ibu menggenggam tanganku.
“Nisa, dengarkan.”
Aku menarik tangan.
“Jangan.”
“Ibu punya uang pensiun. Fahri juga membayar kebutuhan Ibu.”
Aku menoleh.
“Apa?”
Fahri terlihat tidak nyaman.
Ibu melanjutkan.
“Setelah Ibu kena stroke ringan dua tahun lalu, Fahri yang datang.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Kamu baru pindah jabatan. Selalu sibuk.”
“Aku menelepon!”
“Dan setiap kali kamu menelepon, Ibu bilang sehat.”
Aku menatap rumah.
Baru sekarang semuanya terlihat berbeda.
Obat-obatan di meja.
Pegangan tambahan di kamar mandi.
Kursi roda.
Baskom yang dibawa Fahri tadi.
“Dia yang memandikan Ibu?”
Air mata Ibu jatuh.
“Hampir setiap hari sebelum kerja.”
Aku tidak bisa menatap Fahri.
Lelaki yang selama sembilan tahun kubenci ternyata mengurus ibuku.
Sementara aku hanya mengirim uang dan menganggap itu cukup.
Tapi satu hal tetap salah.
“Kenapa uangku dipakai untuk Aulia?”
Ibu menjawab lirih.
“Karena dia cucuku.”
“Tanpa izin.”
“Iya.”
“Rp35 juta setiap bulan itu untuk Ibu.”
“Ibu salah.”
Aku tidak menyangka akan mendengar pengakuan sesederhana itu.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Hanya salah.
“Aku tidak tahu harus memaafkan Ibu atau tidak.”
“Ibu mengerti.”
“Aku juga tidak tahu bagaimana harus melihat Aulia.”
Fahri berdiri.
“Jangan salahkan dia.”
“Aku tahu.”
“Dia tidak pernah meminta lahir dengan cara seperti ini.”
Kalimat itu menusuk tepat.
Pintu kamar terbuka.
Aulia ternyata mendengar.
Matanya merah.
“Kalau Ibu tidak suka Aulia, Aulia bisa pulang sama Ayah.”
Aku menutup mata.
Tidak.
Anak itu tidak boleh menanggung dosa orang dewasa.
Aku berjongkok di depannya.
“Kamu tahu siapa aku?”
Dia mengangguk.
“Nenek bilang Ibu kandung Aulia bekerja jauh.”
“Sejak kapan?”
“Sejak kecil.”
“Kenapa kamu memanggilku Ibu?”
Dia membuka tas lagi.
Kali ini mengeluarkan tumpukan kertas terlipat.
Surat.
Puluhan.
Semua ditulis dengan tulisan anak-anak.
Di depan masing-masing ada kalimat:
Untuk Ibu Nisa.
Aku membuka satu.
Ibu, hari ini Aulia dapat nilai 95 matematika.
Yang lain.
Ibu, tadi Aulia masuk rumah sakit lagi tapi tidak nangis.
Yang lain.
Ibu, kalau nanti pulang, Aulia boleh panggil Ibu langsung atau harus Tante dulu?
Aku tidak bisa membaca berikutnya.
Mataku sudah penuh air.
“Kenapa surat-surat ini tidak pernah dikirim?”
Aulia menunjuk Ibu.
“Nenek bilang alamat Ibu sering berubah.”
Aku menatap Ibu.
Dia langsung menangis.
“Maaf.”
Aku berdiri.
Tidak ada kata yang cukup.
Malam itu aku tidak kembali ke hotel.
Aku tidur di kamar lamaku.
Atau lebih tepatnya, mencoba tidur.
Sekitar pukul dua dini hari, kudengar suara di dapur.
Fahri.
Dia sedang mengambil air.
“Aku belum memaafkanmu,” kataku.
Dia mengangguk.
“Aku tidak minta.”
“Kenapa waktu bilang Aulia anakmu, kamu tidak langsung bilang anak kita?”
“Karena ada Aulia di dekat pintu.”
Aku terdiam.
“Aku tidak mau dia mendengar perdebatan tentang siapa yang berhak menjadi orang tuanya.”
Aku duduk.
“Sejak kapan kamu tahu pasti dia anak biologisku?”
“Setelah lahir. Aku lakukan tes DNA.”
“Itu tes yang tadi?”
“Iya.”
“Kenapa namaku ada?”
“Karena aku butuh kepastian bahwa klinik benar-benar memakai embrio kita.”
Aku menatapnya.
“Hasilnya?”
“Probabilitas maternitasmu 99,999%. Paternitasku juga 99,999%.”
Jadi tidak ada keraguan.
Aulia anak biologis kami.
Yang tidak pernah kukandung.
Yang tidak pernah kulahirkan.
Yang tidak pernah kukenal.
“Apa kamu pernah menikah lagi?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Fahri tersenyum tipis.
“Aku sibuk jadi ayah.”
Aku tidak bertanya lagi.
Dua hari berikutnya terasa aneh.
Aku menemani Aulia ke rumah sakit.
Melihat Fahri menghafal obatnya.
Mengetahui Ibu menjual sebidang tanah kecil dua tahun lalu untuk biaya operasi pertama sebelum mulai memakai kirimanku.
Aku marah.
Tetap marah.
Tapi amarahku berubah bentuk.
Aku membuat rekening baru khusus kebutuhan Ibu.
Hanya aku yang punya akses.
Untuk Aulia, aku bicara langsung dengan Fahri.
“Aku mau ikut menanggung.”
Dia menatapku.
“Karena uang?”
“Karena aku ingin mengenalnya.”
Tidak ada senyum kemenangan.
Dia hanya mengangguk.
Minggu berikutnya kami menemui pengacara.
Kami mulai mengurus status hukum Aulia.
Aku juga melaporkan prosedur lama klinik tersebut.
Dokter yang menangani penyimpanan embrio ternyata sudah pensiun.
Administrator yang memalsukan persetujuanku masih hidup.
Aku tidak membiarkan masalah itu ditutup hanya karena akhirnya aku mencintai anak yang lahir dari pelanggaran tersebut.
Satu kesalahan tidak menghapus kesalahan lain.
Ibu menerima itu.
Fahri juga.
Aku memperpanjang cutiku.
Untuk pertama kalinya, aku mengantar Aulia ke sekolah.
Sebelum turun dari mobil, dia ragu.
“Ibu Nisa?”
“Hm?”
“Nanti pulang masih ada?”
Pertanyaan sederhana.
Tapi aku tahu apa yang sebenarnya dia tanyakan.
Apakah aku akan pergi lagi?
Aku menggenggam tangannya.
“Ada.”
Dia tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya, ketika dia memanggilku Ibu, aku tidak merasa sedang memakai milik orang lain.
Dua bulan kemudian, kondisi Ibu membaik.
Aulia semakin sering menginap bersamaku.
Aku dan Fahri tidak kembali menjadi suami istri.
Belum.
Mungkin tidak pernah.
Yang kami lakukan hanya belajar menjadi dua orang tua yang akhirnya berbicara jujur.
Aku pikir rahasia terbesar keluarga kami sudah selesai.
Sampai penyidik dari klinik lama menelepon dan meminta kami datang karena menemukan arsip ruang bersalin Rina.
Ada satu halaman yang selama delapan tahun tidak pernah dimasukkan ke berkas resmi.
Aku membacanya dua kali sebelum menyerahkannya kepada Fahri.
Wajahnya langsung pucat.
Aulia ternyata tidak lahir sendirian.
Catatan persalinan mencatat bayi kedua—laki-laki—lahir hidup tujuh menit setelahnya.
Dan bayi itu dibawa pulang oleh kakak kandungku sendiri, Ratna, pada malam yang sama.
