AKU PULANG KE BANDUNG UNTUK MEMARAHI PUTRIKU KARENA “MENGHABISKAN” UANG SEKOLAH YANG KUKIRIM SETIAP BULAN—TAPI DI KANTIN AKU MELIHATNYA MEMBAGI SATU BUNGKUS NASI MENJADI DUA PORSI, DAN SATU TANDA TANGAN DI BERKAS BEASISWA MEMBUKTIKAN KEBOHONGAN INI SUDAH DIRENCANAKAN SEJAK HARI PERTAMA AKU PERGI

AKU PULANG KE BANDUNG UNTUK MEMARAHI PUTRIKU KARENA “MENGHABISKAN” UANG SEKOLAH YANG KUKIRIM SETIAP BULAN—TAPI DI KANTIN AKU MELIHATNYA MEMBAGI SATU BUNGKUS NASI MENJADI DUA PORSI, DAN SATU TANDA TANGAN DI BERKAS BEASISWA MEMBUKTIKAN KEBOHONGAN INI SUDAH DIRENCANAKAN SEJAK HARI PERTAMA AKU PERGI

BAGIAN 1

AKU DATANG KE SEKOLAH UNTUK MEMARAHI PUTRIKU YANG KATANYA BOROS, TAPI SERAGAM PUDARNYA, MAKAN SIANG SETENGAH PORSI, DAN SATU FORMULIR BANTUAN SISWA MEMBUATKU TAK BISA BERDIRI TEGAK

“Kalau kamu masih peduli sama anakmu, pulanglah sekarang.”

Suara kakakku, Ratih, terdengar tajam dari telepon.

Aku sedang berada di ruang proyek sebuah kawasan industri di Balikpapan ketika dia menelepon pukul hampir sembilan malam.

“Kenapa lagi?”

“Dina minta uang buat tablet sekolah. Katanya rusak. Kamu kirim dua belas juta minggu lalu, kan?”

“Iya.”

Ratih mendengus.

“Uangnya sudah habis.”

Aku langsung duduk tegak.

“Habis untuk apa?”

“Entahlah. Anak sekarang pintar bohong. Dia juga sering pulang sore. Aku dengar dia dekat dengan anak laki-laki dari luar sekolah. Mama sudah capek mengurusnya.”

Di ujung ruangan, lampu neon berdengung.

Aku menutup mata.

Selama empat tahun terakhir, percakapan seperti ini terlalu sering terjadi.

Namaku Arman Prasetyo. Umurku empat puluh enam tahun.

Empat tahun sebelumnya, istriku, Lestari, meninggal akibat komplikasi setelah berbulan-bulan menjalani pengobatan.

Saat itu, putri kami, Dina, baru berumur dua belas tahun.

Tabungan kami hampir habis.

Rumah di Bandung masih mencicil.

Aku mendapat tawaran kerja sebagai pengawas proyek konstruksi di Kalimantan dengan gaji hampir dua kali lipat pekerjaanku sebelumnya.

Keputusan itu terasa kejam, tetapi masuk akal.

Aku akan bekerja jauh selama beberapa tahun.

Dina tinggal di Bandung bersama ibuku, Bu Sri, dan kakakku, Ratih, yang rumahnya hanya beberapa gang dari sana.

Aku membayar semuanya.

Setiap bulan, aku mengirim antara Rp9 juta sampai Rp12 juta.

Di luar itu masih ada transfer tambahan.

Uang seragam.

Les matematika.

Buku.

Kegiatan sekolah.

Kacamata.

Dokter gigi.

Sepatu.

Biaya study tour.

Laptop.

Aku bahkan membuka rekening khusus agar biaya pendidikan Dina tidak pernah terganggu.

Namun semakin banyak uang kukirim, semakin buruk cerita yang kudengar tentang putriku.

“Dina minta sepatu baru lagi.”

“Dina pilih-pilih makanan.”

“Dina malas ikut les.”

“Dina sekarang suka melawan.”

“Dina bilang uang dari papanya kurang.”

Awalnya aku sering meminta bicara langsung dengannya.

Tapi selalu ada alasan.

Dina sedang mandi.

Dina sedang belajar.

Dina sudah tidur.

Dina sedang di rumah temannya.

Dan ketika akhirnya kami bicara lewat telepon, percakapan kami terasa semakin dingin.

“Sekolah gimana?”

“Baik.”

“Uang cukup?”

Hening sebentar.

“Cukup.”

“Kamu jangan bikin Eyang repot.”

“Iya, Pa.”

Aku mengira itu fase remaja.

Aku tidak sadar bahwa setiap kali Dina terdengar seperti ingin mengatakan sesuatu, selalu ada suara orang lain di belakangnya.

Sampai malam Ratih menelepon soal tablet.

“Aku baru transfer dua belas juta.”

“Itulah masalahnya,” kata Ratih. “Dia tahu kamu selalu kirim uang kalau dia minta.”

“Aku tidak pernah kasih langsung ke Dina.”

“Justru itu. Dia memanipulasi Mama supaya meminta ke kamu.”

Kalimat itu membuat darahku naik.

“Besok aku pulang.”

Ratih terdiam.

“Besok?”

“Aku ambil penerbangan pagi.”

“Arman, nggak perlu sampai—”

Aku sudah menutup telepon.

Untuk pertama kalinya dalam hampir setahun, aku tidak memberitahu keluargaku bahwa aku pulang.

Aku ingin melihat semuanya sendiri.

Pagi berikutnya aku terbang ke Jakarta, lalu naik kereta cepat menuju Bandung.

Dalam perjalanan, aku membuka mutasi rekening.

Empat tahun.

Transfer demi transfer.

Kalau dijumlahkan, lebih dari Rp480 juta sudah kukirim untuk kebutuhan Dina dan rumah tempat dia tinggal.

Belum termasuk biaya besar seperti laptop dan sekolah.

Aku semakin marah.

Bagaimana seorang anak SMA bisa merasa semua itu belum cukup?

Sekitar pukul sebelas siang, aku tiba di sekolah Dina.

Aku sengaja tidak menelepon.

Aku berdiri di luar pagar sampai jam istirahat.

Puluhan siswa keluar dari kelas.

Aku hampir tidak mengenali anakku sendiri.

Dina berjalan di antara teman-temannya sambil membawa ransel abu-abu yang warnanya sudah kusam.

Sepatunya putih.

Atau dulu pernah putih.

Bagian depan sepatu sebelah kiri sudah dilem.

Rok seragamnya terlihat sedikit terlalu pendek karena tubuhnya bertambah tinggi, bukan karena model.

Aku menatap dari jauh.

Tidak ada ponsel mahal di tangannya.

Tidak ada tablet baru.

Tidak ada tas bermerek.

Dina pergi ke kantin.

Aku mengikuti dari jarak beberapa meter.

Dia membeli satu bungkus nasi sederhana dengan telur dan sayur.

Lalu aku melihat sesuatu yang membuat langkahku berhenti.

Dina meminta dua piring kecil.

Dia membagi nasi itu menjadi dua bagian.

Satu bagian dia makan.

Bagian lainnya dimasukkan ke kotak makan kecil.

Penjual kantin tersenyum kepadanya.

“Buat nanti sore lagi, Din?”

Dina mengangguk.

“Iya, Bu. Biar nggak beli lagi.”

Aku seperti ditampar.

Dua belas juta rupiah baru kukirim satu minggu sebelumnya.

Aku berjalan menjauh sebelum dia melihatku.

Tanganku gemetar.

Aku langsung menuju ruang tata usaha.

Setelah menunjukkan KTP dan menjelaskan bahwa aku ayah Dina, seorang staf memanggil wali kelasnya.

Namanya Bu Niken.

Begitu mendengar namaku, ekspresinya berubah.

“Pak Arman?”

“Iya.”

Dia menatapku beberapa detik.

“Bapaknya Dina?”

“Iya. Ada apa?”

Bu Niken mempersilahkanku duduk.

“Maaf kalau saya keliru… saya pikir Bapak bekerja di luar negeri dan sudah tidak aktif menanggung biaya Dina.”

Dadaku terasa dingin.

“Siapa yang bilang begitu?”

Dia membuka komputer.

Beberapa menit kemudian, sebuah dokumen muncul.

Program bantuan pendidikan daerah.

Nama siswa: Dina Prasetyo.

Status ekonomi: keluarga rentan.

Penghasilan wali: Rp2,7 juta per bulan.

Ayah kandung: tidak memberikan nafkah rutin.

Aku membaca baris itu tiga kali.

“Ini apa?”

“Pengajuan bantuan.”

“Sejak kapan?”

Bu Niken melihat tanggal.

“Pertama kali saat Dina kelas tujuh.”

Empat tahun lalu.

Tahun yang sama saat aku mulai bekerja di Kalimantan.

Dia membuka dokumen berikutnya.

Bantuan seragam.

Bantuan transportasi.

Subsidi makan.

Pembebasan biaya beberapa kegiatan.

Bantuan perangkat belajar.

Aku mengangkat kepala.

“Perangkat belajar?”

“Tablet.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Kapan?”

“Semester lalu.”

Aku menahan napas.

“Sekolah memberikan tablet?”

“Bukan milik pribadi. Pinjaman program sekolah. Dina menggunakannya karena pihak keluarga mengatakan tidak mampu membelikan.”

Aku perlahan mengeluarkan ponsel.

Kubuka mutasi transfer.

“Bu, saya kirim Rp7,5 juta khusus untuk tablet tiga bulan lalu.”

Bu Niken tidak langsung menjawab.

Aku menggulir lagi.

“Lalu minggu lalu Rp12 juta karena katanya tablet itu rusak dan perlu diganti.”

Wajah Bu Niken berubah.

“Pak Arman… tablet sekolah yang dipakai Dina masih ada. Tidak rusak.”

Untuk beberapa detik aku tidak mendengar apa-apa selain suara AC.

“Siapa yang mengurus semua pengajuan ini?”

“Wali keluarga yang terdaftar.”

“Nama?”

Bu Niken memutar layar.

Di bagian bawah dokumen terdapat tanda tangan.

Sri Wahyuni.

Ibuku.

Aku menelan ludah.

Namun itu belum bagian terburuk.

Bu Niken membuka berkas kontak keluarga.

Di sana tercantum namaku.

Arman Prasetyo.

Nomor teleponku juga ada.

Tapi dua angka terakhir berbeda.

Emailku hampir sama.

Hanya satu huruf yang diganti.

Aku menunjuk layar.

“Itu bukan nomor saya.”

Bu Niken terlihat bingung.

“Selama ini kami mengirim pemberitahuan ke nomor ini.”

“Siapa yang membalas?”

Dia mengambil beberapa catatan komunikasi.

Lalu membacakan satu pesan lama.

“Mohon semua urusan Dina melalui neneknya saja. Saya sedang memiliki keluarga baru dan tidak ingin diganggu.”

Aku merasa tengkukku dingin.

“Apa?”

Bu Niken menatapku.

“Itu balasan dari nomor yang terdaftar sebagai milik Bapak.”

Aku berdiri terlalu cepat hingga kursi bergeser.

“Saya tidak pernah mengirim pesan seperti itu.”

Kemudian pintu ruang guru terbuka.

Dina masuk membawa sebuah buku.

Dia melihatku.

Tubuhnya langsung membeku.

“Papa?”

Wajahnya tidak menunjukkan rasa senang.

Yang kulihat justru ketakutan.

Aku maju selangkah.

“Dina…”

Dia mundur.

“Eyang bilang Papa nggak mau ketemu aku.”

Aku berhenti.

“Apa?”

Matanya mulai merah.

“Katanya Papa capek biayain aku.”

Bu Niken keluar diam-diam dan menutup pintu.

Aku dan anakku tinggal berdua.

“Dina, Papa kirim uang setiap bulan.”

Dia tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Tapi karena tidak percaya.

“Eyang bilang Papa cuma transfer kalau dipaksa.”

Aku membuka aplikasi bank.

Kuperlihatkan semua transfer.

Januari.

Februari.

Maret.

April.

Tahun demi tahun.

Dina menatap layar dengan wajah pucat.

“Aku nggak pernah dapat ini.”

“Papa kirim buat kamu.”

Dia menggeleng.

“Aku dapat uang saku Rp10 ribu sehari.”

Aku seperti kehilangan kemampuan bicara.

“Sepuluh ribu?”

“Kadang nggak dapat kalau Eyang marah.”

“Les?”

“Aku berhenti dua tahun lalu.”

Aku pernah membayar les sebesar Rp1,8 juta per bulan.

“Sepatu?”

Dina melihat ke bawah.

“Aku beli ini dari uang hadiah lomba.”

“Laptop?”

“Nggak punya.”

“Tahun lalu Papa kirim Rp14 juta buat laptop.”

Dina mulai menangis.

“Eyang bilang Papa menolak beliin.”

Aku berdiri di sana seperti orang bodoh.

Selama bertahun-tahun aku marah kepada anakku karena kebohongan orang lain.

Dan yang paling menyakitkan, Dina juga marah kepadaku karena kebohongan yang sama.

Aku memeluknya.

Awalnya tubuhnya kaku.

Lalu perlahan tangannya mencengkeram kemejaku.

“Kenapa Papa nggak pernah pulang?”

Pertanyaan itu menghantam jauh lebih keras daripada tuduhan apa pun.

“Aku pikir semuanya baik-baik saja.”

“Enggak.”

Dia menangis di dadaku.

“Enggak pernah baik-baik saja.”

Sore itu, aku tidak membawa Dina pulang ke rumah ibuku.

Kami pergi ke sebuah kafe kecil dekat sekolah.

Aku membeli makanan sebanyak yang dia mau.

Anehnya, dia cuma memesan mie dan teh hangat.

Seolah bahkan ketika diberi pilihan, dia sudah lupa bagaimana meminta sesuatu untuk dirinya sendiri.

Aku mulai bertanya.

Pelan-pelan.

Tidak menghakimi.

Dari situ aku mengetahui bahwa ibuku selalu mengatakan biaya hidup semakin mahal.

Ratih sering membawa uang belanja dengan alasan membeli kebutuhan Dina.

Kalau aku mengirim uang tambahan, biasanya Dina tidak tahu.

Kalau aku mengirim hadiah, mereka bilang itu dari Eyang.

Dua kali aku mengirim uang ulang tahun.

Dina bahkan tidak tahu.

Lalu dia berkata sesuatu.

“Pa…”

“Iya?”

“Waktu kelas delapan, aku pernah coba hubungi Papa lewat email.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Aku kirim dari komputer perpustakaan.”

“Apa isi emailnya?”

“Aku tanya… Papa masih sayang aku atau nggak.”

Dadaku seperti diremas.

“Aku tidak pernah menerima email itu.”

Dina membuka akun email lamanya.

Kami mencari folder terkirim.

Email itu masih ada.

Subjeknya:

Papa, aku boleh tinggal sama Papa nggak?

Tanggal pengiriman empat tahun lalu.

Aku melihat alamat penerimanya.

Alamat emailku benar.

Pesan terkirim.

Tapi aku tidak pernah melihatnya.

Kemudian Dina menunjukkan hal lain.

Keesokan harinya dia menerima balasan.

Singkat.

Jangan bikin masalah. Papa kerja untuk hidup baru. Dengarkan Eyang.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

“Itu bukan Papa.”

“Aku tahu sekarang.”

Aku memeriksa detail pengiriman.

Balasan itu bukan berasal dari alamat emailku.

Sekilas mirip.

Satu huruf berbeda.

Persis seperti email palsu yang terdaftar di sekolah.

Seseorang sudah membuat akun yang meniru identitasku sejak empat tahun lalu.

Ini bukan sekadar mengambil uang.

Ini direncanakan.

Seseorang sengaja memastikan aku dan Dina tidak pernah bisa saling percaya.

Malam itu aku menyewa kamar hotel untuk kami.

Setelah Dina tidur, aku membuka semua mutasi transfer selama empat tahun.

Aku membuat tabel.

Tanggal.

Nominal.

Alasan transfer.

Aku lalu meminta Dina mengingat apa yang benar-benar dia terima pada waktu tersebut.

Semakin lama kami mencocokkan, semakin buruk hasilnya.

Transfer Rp14 juta untuk laptop—Dina tidak menerima.

Rp8 juta untuk study tour—Dina tidak ikut karena katanya aku menolak membayar.

Rp6,5 juta untuk perawatan gigi—Dina menggunakan puskesmas sekolah.

Rp10 juta untuk kursus persiapan ujian—dia tidak pernah didaftarkan.

Rp18 juta untuk biaya masuk program belajar intensif—tidak pernah ada.

Menjelang pukul satu pagi, total uang yang tidak bisa dijelaskan sudah lebih dari Rp260 juta.

Lalu aku menemukan sebuah transaksi yang berbeda.

Bukan transfer ke rekening ibuku.

Rekening tujuan atas nama Ratih Kurniasari.

Rp85 juta.

Keterangan yang kuketik sendiri dua tahun lalu:

BIAYA OPERASI DINA.

Aku sampai berdiri dari kursi.

“Operasi?”

Dina yang belum benar-benar tidur menoleh.

“Aku nggak pernah operasi, Pa.”

Aku membuka percakapan WhatsApp lama dengan ibuku.

Foto rumah sakit.

Foto gelang pasien.

Foto kuitansi.

Saat itu mereka mengatakan Dina mengalami usus buntu dan perlu tindakan segera.

Aku sedang berada di lokasi proyek yang tidak memungkinkan pulang.

Aku mengirim uang malam itu juga.

Aku memperbesar foto kuitansi.

Ada nama pasien.

Sebagian tertutup jari.

Tapi sekarang, setelah kuperhatikan baik-baik, aku melihat satu detail kecil.

Usia pasien tertulis:

47 tahun.

Dina saat itu baru empat belas.

Aku langsung membuka profil WhatsApp Ratih.

Umurnya sekarang empat puluh sembilan.

Tanganku mengepal.

Tiba-tiba Dina duduk di tempat tidur.

“Pa…”

“Apa?”

Dia tampak ragu.

“Aku pernah lihat foto itu.”

“Foto rumah sakit?”

Dina mengangguk.

“Itu waktu Tante Ratih operasi kandungan.”

Aku tidak bergerak.

“Kenapa?”

“Karena setelah pulang dari rumah sakit, Eyang bilang jangan bilang Papa. Katanya Tante Ratih malu sudah merepotkan keluarga.”

Aku menatap kembali bukti transfer Rp85 juta itu.

Mereka tidak cuma mengambil uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Mereka pernah membuatku percaya anakku sedang terbaring di ruang operasi.

Dan menggunakan rasa takutku untuk membayar tagihan orang lain.

Aku hampir menelepon ibuku saat itu juga.

Namun sebelum sempat melakukannya, Dina berkata pelan,

“Pa, ada satu lagi yang mungkin Papa harus tahu.”

Aku menoleh.

Wajahnya pucat.

“Bulan lalu aku dengar Eyang sama Tante Ratih bicara soal rumah Mama.”

Aku membeku.

Rumah yang kami tempati di Bandung adalah rumah peninggalan istriku.

Sertifikatnya atas namaku dan Dina sebagai ahli waris.

“Apa yang mereka bicarakan?”

Dina menatapku.

“Mereka bilang, sebelum Papa pulang permanen, suratnya harus selesai dulu.”

BAGIAN 2

AKU KIRA MEREKA HANYA MENGAMBIL UANG BULANAN, SAMPAI PUTRIKU MENYEBUT “SURAT RUMAH” DAN SEORANG NOTARIS MENUNJUKKAN ADA BERKAS DENGAN TANDA TANGANKU YANG TIDAK PERNAH KUBUAT

Aku tidak tidur malam itu.

Pagi-pagi sekali, aku menelepon teman lama bernama Bimo yang bekerja sebagai konsultan properti.

Aku tidak menjelaskan semuanya.

Aku hanya memberinya alamat rumah dan meminta dia mengecek apakah ada aktivitas jual-beli atau pengikatan apa pun terhadap properti itu.

Dua jam kemudian, Bimo menelepon.

“Man, kamu pernah kasih kuasa ke seseorang?”

“Tidak.”

“Yakin?”

“Seratus persen.”

Dia terdiam.

“Ada orang yang sempat meminta pengecekan dokumen untuk rumahmu sekitar enam minggu lalu.”

Aku berdiri di dekat jendela hotel.

“Siapa?”

“Nama yang masuk ke kantor notaris bukan kamu. Tapi mereka membawa surat kuasa yang katanya ditandatangani kamu.”

Darahku langsung berdesir.

“Notaris mana?”

Bimo memberiku alamat.

Siang itu aku datang bersama Dina.

Notaris tersebut, Pak Hadi, awalnya berhati-hati.

Namun setelah melihat identitasku dan dokumen asli kepemilikan digital yang kusimpan, dia membuka catatan konsultasi.

Belum ada transaksi jual-beli.

Syukurlah.

Tetapi seseorang memang sudah memulai proses.

Mereka membawa fotokopi sertifikat.

Fotokopi KTP-ku.

Kartu keluarga lama.

Dan sebuah surat kuasa.

Pak Hadi meletakkannya di meja.

Aku membaca namaku.

Arman Prasetyo.

Lalu tanda tangan.

Mirip.

Sangat mirip.

Tapi bukan milikku.

“Siapa yang membawa ini?”

Pak Hadi memeriksa catatan.

“Seorang perempuan bernama Ratih Kurniasari.”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

“Dia kakak saya.”

Dina menggenggam tangan sendiri di bawah meja.

“Apa tujuannya?”

“Katanya keluarga ingin menjual rumah karena Bapak sudah menetap di Kalimantan dan anak Bapak akan kuliah di luar kota.”

Aku menatap Pak Hadi.

“Harga yang mereka minta?”

“Sekitar Rp2,4 miliar.”

Harga pasar rumah itu setidaknya Rp3,1 miliar.

“Mereka sudah punya calon pembeli?”

“Katanya ada.”

“Uang muka?”

Pak Hadi menghela napas.

“Pembeli sempat mentransfer tanda jadi Rp100 juta.”

Aku menahan napas.

“Ke siapa?”

“Bukan ke rekening kantor kami. Mereka mengaku sudah menerimanya langsung.”

Aku keluar dari kantor dengan kepala berdenyut.

Rp260 juta dana Dina.

Rp85 juta operasi palsu.

Sekarang Rp100 juta tanda jadi rumah.

Dan mungkin masih banyak yang belum kutemukan.

Aku menelepon ibuku.

“Ma, aku pulang.”

Hening.

“Pulang?”

“Iya.”

“Kok nggak bilang?”

“Aku mau bikin kejutan.”

Dia cepat menjawab.

“Kamu di mana sekarang?”

“Bandung.”

Ada jeda pendek.

Lalu suara ibuku berubah.

“Dina sama kamu?”

Aku melihat putriku.

“Iya.”

“Arman, kamu jangan percaya omongan anak itu dulu. Dia akhir-akhir ini suka—”

“Jam tujuh malam aku ke rumah.”

Aku menutup telepon.

Aku tidak menyebut sekolah.

Tidak menyebut uang.

Tidak menyebut rumah.

Aku ingin mereka bicara sebelum tahu seberapa banyak yang sudah kuketahui.

Namun satu jam sebelum kami berangkat, ponsel Dina berbunyi.

Pesan dari Eyang.

Kamu bikin Papa marah sama keluarga sendiri? Pulang sekarang sebelum semuanya makin parah.

Pesan berikutnya masuk.

Jangan lupa siapa yang membesarkan kamu ketika bapakmu memilih pergi.

Aku mengambil tangkapan layar.

Lalu pesan ketiga datang.

Kalau rumah ini sampai hilang gara-gara mulutmu, kamu dan Papamu cari tempat tinggal sendiri.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Rumah ini.

Seolah rumah peninggalan istriku sudah menjadi milik mereka.

Jam tujuh tepat, aku datang bersama Dina.

Ibu membuka pintu.

Ratih sudah duduk di ruang tamu.

Suaminya, Dedi, juga ada.

Ekspresi mereka terlalu tegang untuk orang-orang yang katanya tidak tahu ada masalah.

“Ada apa sih?” tanya Ratih.

Aku duduk.

“Kita bicara soal uang Dina.”

Ratih langsung mendengus.

“Nah, kan. Aku bilang juga anak itu pasti—”

Aku meletakkan tumpukan cetakan mutasi rekening di meja.

Dia diam.

“Empat tahun,” kataku. “Lebih dari Rp480 juta.”

Ibuku menatap kertas-kertas itu.

Aku mengeluarkan dokumen bantuan sekolah.

“Di sekolah, Mama menulis aku tidak memberi nafkah.”

Ibu mulai pucat.

“Aku bisa jelaskan.”

“Kita belum sampai bagian yang perlu dijelaskan.”

Aku meletakkan kuitansi operasi.

“Ini siapa yang operasi?”

Ratih menelan ludah.

Tidak ada yang menjawab.

Aku menunjuk usia pasien.

“Empat puluh tujuh tahun.”

Dina duduk diam di sampingku.

Aku mengeluarkan bukti transfer Rp85 juta.

“Kalian bilang Dina masuk rumah sakit.”

Ratih berdiri.

“Aku waktu itu memang sakit! Dan keluarga itu saling membantu!”

Aku menatapnya.

“Kalau minta bantuan, kenapa harus bilang anakku sedang operasi?”

“Karena kamu nggak akan kirim kalau tahu itu buat aku!”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Setelah itu ruangan sunyi.

Ratih sadar dia baru saja mengaku.

Ibuku menutup mata.

Aku belum selesai.

Aku mengeluarkan salinan surat kuasa dari tas.

Begitu kertas itu menyentuh meja, wajah Ratih benar-benar berubah.

“Kenal ini?”

Dia tidak menjawab.

“Aku baru dari notaris.”

Ibuku tiba-tiba bangkit.

“Arman, dengarkan Mama. Rumah itu terlalu besar. Kamu jarang pulang. Ratih punya dua anak—”

“Jadi kalian jual rumahku?”

“Belum dijual.”

“Tapi sudah menerima Rp100 juta.”

Dedi menatap Ratih.

“Kamu bilang uang itu pinjaman.”

Aku menoleh.

Jadi suaminya sendiri pun tidak tahu seluruh cerita.

Ratih menunjuk Dina.

“Semua ini gara-gara anak itu!”

Aku berdiri.

“Jangan pernah tunjuk anakku lagi.”

Ibuku ikut berdiri.

“Kamu membela dia setelah semua yang Mama lakukan? Siapa yang mengurus Dina empat tahun?”

Aku menatap perempuan yang membesarkanku.

“Dengan uang siapa?”

Wajahnya menegang.

Aku bertanya lagi.

“Dengan uang siapa, Ma?”

Dia tidak menjawab.

Lalu terdengar suara pintu depan.

Seorang pria sekitar lima puluhan masuk sambil membawa map.

Aku mengenalnya sebagai Pak Eko, tetangga dua rumah dari kami.

Dia terlihat terkejut melihatku.

“Lho, Pak Arman sudah pulang?”

Ibuku langsung berjalan ke arahnya.

“Pak Eko, nanti saja.”

Tetapi Pak Eko mengangkat map.

“Saya cuma mau antar salinan perjanjian yang Bu Ratih minta.”

Aku menatap map itu.

“Perjanjian apa?”

Pak Eko melihat Ratih.

Kemudian kepadaku.

“Bukannya Bapak sudah setuju?”

“Setuju apa?”

Pak Eko membuka map.

Di halaman pertama tertulis:

PERJANJIAN PENGOSONGAN DAN PENYERAHAN PROPERTI.

Tanggal pengosongan rumah tinggal tiga minggu lagi.

Dan di halaman terakhir…

ada lagi tanda tanganku.

BAGIAN 3

MEREKA MENGIRA AKU AKAN BERTERIAK DAN MEMAAFKAN SEPERTI BIASA, TAPI AKU MEMILIH MENGUMPULKAN BUKTI, MEMBEKUKAN AKSES KEUANGAN, MENGEMBALIKAN HAK PUTRIKU, DAN MEMBIARKAN KEBohongan MEREKA RUNTUH SATU PER SATU

Aku tidak berteriak.

Justru itu yang membuat Ratih semakin gelisah.

Aku membaca seluruh perjanjian dari halaman pertama sampai terakhir.

Pak Eko ternyata bukan pembeli.

Dia menjadi perantara untuk seorang kenalannya yang ingin membeli rumah tersebut.

Dalam dokumen itu tertulis bahwa rumah akan dikosongkan dalam waktu tiga minggu setelah pembayaran tahap kedua.

Nilai transaksi yang dicantumkan Rp2,45 miliar.

Tanda jadi Rp100 juta sudah diserahkan.

Pembayaran berikutnya Rp700 juta direncanakan setelah dokumen dinyatakan lengkap.

Aku memandang Pak Eko.

“Bapak pernah bicara langsung dengan saya?”

Dia terlihat pucat.

“Tidak. Bu Ratih bilang Bapak susah dihubungi karena kerja di lokasi tambang.”

“Pernah video call?”

“Tidak.”

“Pernah menerima pesan dari nomor saya?”

“Beberapa kali.”

Aku meminta melihatnya.

Nomor itu bukan nomorku.

Nomor tersebut hanya berbeda dua angka.

Sama seperti data di sekolah.

Aku mulai memahami pola mereka.

Mereka tidak sekadar berbohong secara spontan.

Mereka membangun versi palsu tentang diriku.

Nomor palsu.

Email palsu.

Tanda tangan palsu.

Cerita palsu.

Selama bertahun-tahun mereka menjadi “aku” bagi dunia di sekitar Dina.

Aku menoleh kepada ibu.

“Sejak kapan?”

Dia menatap lantai.

“Arman…”

“Sejak kapan kalian merencanakan ini?”

Ratih menyela.

“Nggak ada rencana besar seperti yang kamu pikirkan.”

Aku mengambil satu dokumen.

“Email palsu dibuat empat tahun lalu.”

Dokumen lain.

“Nomor palsu masuk data sekolah empat tahun lalu.”

Lalu surat kuasa.

“Tanda tangan palsu.”

Lalu kuitansi rumah sakit.

“Operasi palsu.”

Lalu perjanjian rumah.

“Dan sekarang rumah.”

Aku melihat mereka satu per satu.

“Jadi jangan bilang ini kebetulan.”

Ratih mulai menangis.

Tapi anehnya, aku tidak merasakan iba.

Bukan setelah melihat Dina membagi nasi satu bungkus menjadi dua.

“Aku punya utang,” katanya akhirnya.

Aku tetap diam.

Ratih menutup wajah.

“Usahaku gagal.”

Tiga tahun sebelumnya, dia pernah membuka bisnis katering bersama temannya.

Aku tahu bisnis itu tutup.

Aku tidak tahu meninggalkan utang.

“Berapa?”

“Awalnya seratus dua puluh juta.”

“Sekarang?”

Dedi, suaminya, menjawab pelan.

“Aku juga nggak tahu.”

Ratih menatap suaminya.

Ternyata sebagian utang disembunyikan darinya.

Aku bertanya lagi.

“Sekarang berapa?”

Ratih berbisik.

“Hampir enam ratus juta.”

Ibu langsung membela.

“Kakakmu terdesak, Man.”

“Dan solusinya mengambil uang anakku?”

“Kamu punya penghasilan besar.”

Aku hampir tidak percaya mendengarnya.

“Jadi karena aku punya penghasilan, uang Dina bebas kalian ambil?”

“Mama pikir kamu akan ngerti.”

“Mengerti apa?”

Ibuku mulai menangis.

“Kamu jauh. Kamu nggak tahu sulitnya mengurus rumah, mengurus Dina, membantu Ratih—”

Aku memotong.

“Aku bayar semua biaya rumah.”

Dia diam.

“Listrik aku bayar.”

Diam.

“Pajak rumah aku bayar.”

Diam.

“Uang belanja aku kirim.”

Diam.

“Biaya Dina aku kirim.”

Aku menatap ibuku.

“Jadi tepatnya bagian mana yang kalian tanggung?”

Tidak ada jawaban.

Saat itu Dina bangkit.

Suara putriku pelan, tetapi ruangan langsung hening.

“Eyang pernah bilang Papa menikah lagi.”

Aku menoleh kepadanya.

“Apa?”

Dina menatap neneknya.

“Waktu aku minta telepon Papa pas ulang tahun keempat belas.”

Ibu langsung berkata, “Dina—”

“Eyang bilang Papa punya keluarga baru.”

Mataku terasa panas.

Dina melanjutkan.

“Eyang bilang kalau aku sering mengganggu, Papa akan berhenti kirim uang sama sekali.”

Aku melihat ibuku.

“Kenapa?”

Air matanya jatuh.

“Kami takut kamu bawa Dina ke Kalimantan.”

Aku benar-benar tidak memahami jawabannya.

“Kenapa itu masalah?”

Ratih menjawab lebih dulu.

“Kalau Dina ikut kamu, uang bulanan berhenti.”

Akhirnya.

Kalimat paling jujur malam itu.

Bukan karena mereka terlalu menyayangi Dina.

Bukan karena mereka merasa aku tidak pantas menjadi ayah.

Dina adalah alasan agar transfer tetap mengalir.

Anakku telah berubah menjadi sumber pemasukan.

Aku mengambil ponsel.

Ratih langsung menatapku.

“Kamu mau apa?”

“Mulai malam ini, semua transfer berhenti.”

Ibu menggeleng.

“Arman, jangan gegabah.”

“Akses rekening rumah tangga aku cabut.”

Ratih maju satu langkah.

“Terus Mama hidup pakai apa?”

“Aku akan tetap menanggung kebutuhan Mama secara langsung. Listrik, obat, kebutuhan dasar. Tapi tidak satu rupiah pun masuk ke rekening Ratih.”

Wajah kakakku merah.

“Kamu tega sama keluarga sendiri?”

Aku menatapnya.

“Pertanyaan itu seharusnya kamu tanyakan waktu Dina makan nasi setengah bungkus karena mengira ayahnya tidak mau membiayainya.”

Tidak ada yang bisa menjawab.

Malam itu aku membawa Dina keluar dari rumah.

Kami menginap di hotel selama beberapa hari.

Besok paginya aku melakukan hal-hal yang seharusnya kulakukan sejak awal.

Aku mendatangi bank.

Mengganti seluruh akses.

Memblokir rekening tambahan.

Mengubah email.

Mengaktifkan verifikasi berlapis.

Aku membuat rekening pendidikan baru atas nama Dina dengan kontrol bersama sampai dia cukup umur.

Kemudian kami kembali ke sekolah.

Aku bertemu kepala sekolah dan Bu Niken.

Aku menjelaskan situasinya.

Aku tidak meminta program bantuan yang sudah diterima Dina dikembalikan seolah dia bersalah.

Dina memang menjadi korban dari informasi palsu.

Tetapi aku meminta sekolah memperbarui semua data dan menyimpan salinan laporan sebagai bukti.

Bu Niken lalu menunjukkan sesuatu yang sebelumnya tidak kami periksa.

Catatan konseling Dina.

Aku tidak membaca semuanya.

Itu hak privasinya.

Tapi Dina sendiri memberikan izin untuk satu bagian.

Dua tahun sebelumnya dia pernah mengatakan kepada konselor:

“Ayah saya masih hidup, tapi sepertinya tidak mau punya saya lagi.”

Aku tidak bisa melanjutkan membaca.

Aku keluar sebentar.

Duduk di bangku depan kantor sekolah.

Menutup wajah dengan kedua tangan.

Selama bertahun-tahun aku merasa menjadi ayah yang bertanggung jawab karena mengirim uang tepat waktu.

Ternyata uang bukan kehadiran.

Dan kepercayaan tanpa pemeriksaan bisa berubah menjadi kelalaian.

Aku memang ditipu.

Tetapi ada satu kesalahan yang tidak bisa kulemparkan seluruhnya kepada ibu atau Ratih.

Aku terlalu mudah percaya.

Aku seharusnya menelepon sekolah.

Seharusnya melihat nilai Dina sendiri.

Seharusnya pulang lebih sering.

Seharusnya berbicara kepada anakku tanpa perantara.

Sore itu aku mengatakan semua itu kepada Dina.

“Papa minta maaf.”

Dia menatapku.

“Karena uangnya?”

“Bukan.”

Aku menggeleng.

“Karena Papa lebih percaya cerita orang lain daripada bertanya langsung sama kamu.”

Mata Dina berkaca-kaca.

“Aku juga marah sama Papa lama banget.”

“Kamu berhak.”

“Aku pikir Papa nggak sayang.”

Aku menelan ludah.

“Papa nggak bisa mengembalikan empat tahun itu. Tapi kalau kamu kasih kesempatan, Papa mau memperbaiki yang masih bisa diperbaiki.”

Dia tidak langsung memelukku.

Dan aku tidak memaksanya.

Kepercayaan yang rusak empat tahun tidak sembuh dalam empat menit.

Kami memulai dari hal-hal kecil.

Aku menemani Dina membeli sepatu baru.

Dia memilih pasangan seharga Rp429 ribu lalu bertanya tiga kali apakah terlalu mahal.

Aku hampir menangis di toko.

Kami membeli laptop.

Bukan yang paling mahal.

Dina sendiri memilih model yang cukup untuk belajar.

Kami pergi ke dokter gigi.

Membeli beberapa buku persiapan ujian.

Kemudian aku menghubungi kantorku.

Aku meminta dipindahkan ke proyek Jawa Barat.

Gajinya lebih kecil.

Posisinya tidak sebaik di Kalimantan.

Aku menerima tanpa ragu.

Dua minggu kemudian aku menyewa rumah kecil dekat sekolah Dina.

Aku belum mau kembali ke rumah lama karena proses hukumnya sedang berjalan.

Ya, aku membawa masalah itu ke jalur hukum.

Bukan karena aku ingin melihat ibu masuk penjara.

Bukan juga karena ingin menghancurkan hidup Ratih.

Tetapi pemalsuan tanda tangan dan upaya menjual rumah bukan perselisihan keluarga biasa.

Aku menyerahkan bukti kepada pengacara.

Surat kuasa palsu.

Perjanjian pengosongan.

Nomor telepon palsu.

Email palsu.

Mutasi rekening.

Kuitansi rumah sakit.

Pesan ancaman kepada Dina.

Pembeli rumah akhirnya membatalkan transaksi setelah mengetahui pemilik asli tidak pernah menyetujui penjualan.

Uang tanda jadi Rp100 juta harus dikembalikan.

Masalahnya, uang itu sudah dipakai Ratih membayar utang.

Dia tidak punya uang untuk mengembalikannya.

Untuk pertama kalinya, kebohongan mereka tidak bisa ditutup dengan uang dariku.

Ratih terpaksa menjual mobilnya.

Perhiasan yang dibeli selama beberapa tahun juga dijual.

Dedi mengambil alih pengaturan keuangan rumah mereka dan menolak menutupi utang baru istrinya.

Bisnis Ratih benar-benar selesai.

Beberapa kreditur mulai menagih langsung kepadanya.

Aku tidak membayar satu rupiah pun.

Ibuku menelepon hampir setiap hari selama minggu pertama.

Kadang marah.

Kadang menangis.

Kadang berkata aku sudah berubah.

Suatu malam dia berkata,

“Kamu mau Mama mati sendirian?”

Aku menjawab pelan.

“Tidak. Aku masih akan memastikan Mama punya makanan, obat, dan tempat tinggal.”

“Terus kenapa kamu nggak pulang?”

“Karena merawat Mama tidak berarti aku harus membiarkan Mama menyakiti Dina lagi.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Mama boleh marah sama aku. Tapi Dina tidak akan lagi menjadi alat untuk mendapatkan uang.”

Setelah itu aku membatasi komunikasi.

Semua bantuan untuk ibu kubayar langsung.

Obat ke apotek.

Listrik melalui aplikasi.

Belanja kebutuhan pokok dari supermarket.

Tidak ada lagi uang tunai besar.

Tiga bulan berlalu.

Kasus pemalsuan dokumen tetap berjalan.

Melalui mediasi dan proses hukum, Ratih akhirnya menandatangani pengakuan bahwa surat kuasa dan beberapa dokumen tidak dibuat atau ditandatangani olehku.

Sebagian dana yang masih dapat dilacak diwajibkan dikembalikan.

Jumlahnya tidak mendekati seluruh kerugianku.

Tetapi bagiku, hal terpenting bukan mendapatkan setiap rupiah kembali.

Yang paling penting adalah menghentikan akses mereka terhadap kehidupan Dina.

Rumah peninggalan Lestari aman.

Aku mengurus dokumen agar bagian hak Dina terlindungi dengan jelas.

Tidak seorang pun bisa lagi menggunakan fotokopi lama atau cerita tentang “persetujuan keluarga” untuk menyentuhnya.

Enam bulan kemudian, Dina lulus.

Aku datang dua jam sebelum acara dimulai.

Aku duduk di barisan depan.

Bukan di Kalimantan.

Bukan lewat video call.

Bukan menerima foto dari orang lain.

Aku ada di sana.

Ketika nama Dina dipanggil sebagai salah satu siswa dengan nilai akademik tertinggi, aku berdiri terlalu cepat dan hampir menjatuhkan kursi.

Dina tertawa dari panggung.

Itu pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku melihatnya tertawa begitu lepas saat melihatku.

Setelah acara, Bu Niken menghampiri.

“Pak Arman, Dina dapat tawaran beasiswa.”

Aku menatap Dina.

“Kamu belum bilang.”

Dia tersenyum.

“Baru mau kasih tahu.”

Program itu menanggung sebagian besar biaya kuliahnya di Bandung.

Aku bercanda,

“Padahal Papa sekarang sudah siap bayar.”

Dina tertawa.

“Ya ditabung aja.”

Kalimat sederhana itu terasa seperti kemenangan.

Bukan karena uangnya.

Karena anakku sekarang tahu bahwa uang tersebut benar-benar ada untuknya.

Beberapa hari kemudian, kami pergi makan di warung yang dulu sering dikunjungi Dina sepulang sekolah.

Pemiliknya mengenali dia.

“Mau nasi setengah lagi buat nanti?”

Dina tertawa kecil.

“Sekarang satu porsi aja, Bu.”

Aku memesan dua.

Kami duduk berhadapan.

Di tengah makan, Dina tiba-tiba berkata,

“Pa.”

“Hm?”

“Aku dulu sering simpan setengah nasi bukan cuma karena uang.”

Aku berhenti mengunyah.

“Terus?”

“Kalau aku makan semuanya siang, malam kadang lapar.”

Dadaku kembali terasa sesak.

Dia melihat ekspresiku lalu tersenyum tipis.

“Tapi itu dulu.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Dia mengambil satu potong ayam dari piringku tanpa izin.

Aku pura-pura protes.

“Eh, itu punya Papa.”

“Katanya semua buat aku.”

Aku tertawa.

Dan untuk pertama kalinya sejak Lestari meninggal, meja makan terasa seperti rumah lagi.

Hubunganku dengan ibu tidak pernah kembali seperti sebelumnya.

Mungkin suatu hari akan lebih baik.

Mungkin tidak.

Ratih beberapa kali meminta maaf.

Aku menerima permintaan maafnya sebagai kata-kata.

Bukan sebagai tiket untuk kembali dipercaya.

Kepercayaan punya harga berbeda dengan pengampunan.

Dina sekarang kuliah.

Aku masih bekerja.

Kami masih kadang bertengkar soal hal-hal kecil seperti orang tua dan anak pada umumnya.

Tapi ada satu aturan yang tidak pernah kami langgar.

Kalau ada masalah, kami bicara langsung.

Tidak lewat nenek.

Tidak lewat bibi.

Tidak lewat cerita orang lain.

Dan setiap kali aku mengingat hari ketika aku datang ke sekolah dengan niat memarahi putriku, ada satu gambaran yang selalu muncul lebih dulu.

Dina duduk di kantin.

Membagi satu bungkus nasi menjadi dua.

Sementara ratusan juta rupiah yang kukirim atas namanya mengalir ke tempat lain.

Dulu aku berpikir pengkhianatan terbesar adalah uang yang diambil dariku.

Aku salah.

Uang bisa dicari lagi.

Rumah bisa diamankan.

Dokumen bisa diperbaiki.

Yang hampir tidak bisa dikembalikan adalah empat tahun ketika seorang anak percaya ayahnya sudah memilih hidup tanpa dirinya.

Karena itu, ketika orang bertanya kenapa aku membawa masalah keluarga sampai ke pengacara, jawabanku selalu sama:

Mereka bukan sekadar mengambil uangku.

Mereka mengambil suaraku, memakai namaku, lalu menggunakannya untuk meyakinkan putriku bahwa aku sudah meninggalkannya.

Dan itu adalah satu-satunya utang yang tidak akan pernah kubiarkan siapa pun menagih kepada anakku lagi.