BAGIAN 1:
Hampir setiap hari aku merasa muak setiap kali mendengar suara pelan pintu rumah kami yang berkarat terbuka tepat pukul empat pagi.
Saat aku sedang sibuk merebus air dengan teko tua dan menyiapkan obat untuk adikku yang berusia sepuluh tahun, Raka, yang menderita asma parah, Ibu Elena kembali muncul di hadapanku.
Pakaiannya yang lama dan pudar kusut, rambutnya berantakan dengan debu kering menempel di sana, matanya cekung karena kurang tidur, dan yang paling membuatku malu—seluruh rumah kecil kami dipenuhi bau parfum murahan yang menyengat, alkohol, dan asap rokok pahit.
“Kamu sudah bangun, Alyssa, Nak…” sapanya pelan dengan suara bergetar dan serak sambil berusaha tersenyum.
Aku tidak memedulikannya.
Aku sengaja membanting sendok lebih keras ke wajan.
Aku ingin dia tahu betapa besar rasa malu, jijik, dan kebencian yang sudah lama menumpuk di dalam hatiku.
Aku sudah berusia dua puluh satu tahun, seorang mahasiswa keperawatan tingkat akhir di salah satu universitas ternama di daerahku.
Setiap hari aku membawa impian untuk menyelamatkan adikku dari penderitaan dan membuktikan kepada dunia bahwa aku memiliki masa depan yang terhormat.
Aku mengenakan seragam putih perawat yang selalu kusetrika dengan hati-hati setiap malam agar terlihat rapi dan profesional.
Namun setiap kali aku melangkah keluar dari pintu rumah kami yang rapuh, rasanya seperti disiram minyak panas hanya karena dirinya.
“Alyssa! Astaga, aku melihat ibumu lagi tadi di halte!” kata Bu Sari ketika aku membeli roti di warung dekat rumah.
“Jam setengah empat pagi dia berjalan sempoyongan pulang dari kota! Ya Tuhan, sebenarnya pekerjaan apa yang dilakukan ibumu malam-malam sampai selalu bau seperti tempat karaoke dan memakai riasan murahan begitu?”
“Tidakkah kamu takut nama baikmu di rumah sakit ikut tercemar?”
Para pemabuk yang nongkrong di warung tertawa sambil menyeruput kopi.
Hatiku terasa seperti ditusuk pisau.
Aku ingin menghilang karena rasa malu yang begitu besar.
Kenapa aku harus memiliki ibu seperti ini?
Seorang ibu yang pergi setiap malam dan pulang saat fajar, lalu hanya berbaring di sofa tua sepanjang hari sementara aku berjuang mati-matian belajar, membersihkan rumah, menjual kue tradisional, dan merawat adikku yang sakit?
Sampai akhirnya datang krisis terbesar dalam hidupku sebagai mahasiswa.
Dekan kampus mengumumkan pemberitahuan terakhir di papan pengumuman:
Aku harus membayar total 6.500.000 rupiah untuk acara Capping, Pinning, and Candle Lighting Ceremony yang akan datang—upacara paling penting bagi mahasiswa keperawatan, tempat kami secara resmi menerima topi perawat dan pin emas sebagai tanda perjuangan selama empat tahun.
Batas pembayaran terakhir adalah hari Jumat pukul lima sore.
Jika aku tidak bisa membayar, aku tidak boleh naik ke panggung, namaku akan dicoret dari daftar kelulusan, dan perjuanganku selama empat tahun akan sia-sia.
Aku tidak punya tempat untuk meminta bantuan.
Universitas menolak surat janji pembayaran.
Sedikit tabunganku dari pekerjaan les privat sudah habis untuk membeli obat dan biaya nebulizer Raka.
Ketika pulang ke rumah sore itu, aku menemukan Ibu Elena baru saja bangun, tengkurap di sofa sambil mengusap matanya yang merah.
Aku tidak mampu menahan semuanya lagi.
Semua air mata dan kemarahan yang selama ini kusimpan akhirnya meledak.
“Ibu! Aku butuh uang lagi!” teriakku dengan tubuh gemetar karena marah.
“Enam juta lima ratus ribu rupiah untuk acara kelulusanku hari Jumat!”
“Sampai kapan Ibu mau menghancurkan hidup Ibu dengan kebiasaan buruk itu sementara aku yang berjuang sendirian di sini?!”
“Seluruh kampung menertawakanku karena memanggil Ibu perempuan murahan dan pemabuk!”
“Tidakkah Ibu malu kepadaku?!”
“Kalau Ibu masih punya harga diri, berikan aku uang untuk membayar semuanya!”
Tidak ada kemarahan di mata Ibu.
Sebaliknya, dia hanya memberikan senyum sedih, lelah, dan penuh luka.
Dia berdiri perlahan lalu memegang bahuku, tetapi aku langsung menepis tangannya karena rasa jijik.
“Maafkan Ibu, Alyssa…” pintanya dengan suara pecah dan bibir gemetar.
“Jangan khawatir, Nak. Empat tahun perjuanganmu tidak akan sia-sia.”
“Kamu akan menjadi perawat.”
“Malam ini… Ibu akan pergi ke kota. Ibu akan mendapatkan uang untukmu sebelum hari Jumat.”
Saat itu muncul kecurigaan dan ketakutan terbesar dalam pikiranku.
Dari mana seorang wanita tanpa pekerjaan tetap bisa mendapatkan hampir tujuh juta rupiah hanya dalam dua malam?
Apakah dari perjudian?
Atau jangan-jangan benar…
dia menjual dirinya di klub-klub gelap pinggir jalan untuk mendapatkan uang cepat?
Aku tidak bisa membiarkan impianku ternoda oleh uang kotor.
Pukul sepuluh malam, aku mendengar langkah kaki pelan Ibu Elena keluar dari kamarnya.
Dia mengenakan jaket lama yang sudah pudar dan membawa tas usang.
Aku tidak ragu.
Aku memakai hoodie hitam tebal dan diam-diam mengikutinya melewati jalan yang dingin dan gelap.
Dia berjalan cepat.
Dia tidak naik kendaraan.
Dia berjalan hampir tiga kilometer menuju bagian terdalam kota—tempat lampu neon motel murah, tempat perjudian, dan bar karaoke dipenuhi para pemabuk.
Jantungku berdebar.
Jari-jariku terasa dingin.
Aku ingin berteriak dan menariknya pulang.
Ternyata dugaanku benar!
Ibuku benar-benar menjual dirinya demi uang!
Namun sebelum dia sampai di pintu klub terbesar di sana, tiba-tiba Ibu Elena berbelok.
Dia masuk ke sebuah gang sempit, gelap, dan bau di samping gedung itu.
Aku diam-diam mengikuti sambil menahan napas.
Gang itu membawanya ke bagian belakang pasar umum tua di kota—sebuah tempat terbengkalai di malam hari, penuh kegelapan dan bau daging busuk serta sampah.
Aku perlahan mengintip dari balik tiang beton besar…
Dan di sanalah aku melihat sebuah pemandangan yang menghancurkan hatiku sepenuhnya dan membuat dunia seolah berhenti berputar…

Bau comberan mampet bercampur anyir darah ayam yang membusuk di selokan langsung menghantam pangkal tenggorokanku. Pekat. Bikin lambungku bergolak mual sampai aku harus membekap mulut dengan kedua tangan.
Di balik tiang beton yang terkelupas semennya hingga menampakkan tulang besi berkarat, aku mematung. Mataku terbelalak lebar-lebar, menolak mencerna apa yang sedang terjadi di depan sana.
Tak ada kasur busa tipis di kamar motel murahan. Tak ada pria hidung belang yang meraba-raba pinggangnya. Tak ada tawa genit menjijikkan seperti yang selama ini kurangkai dalam kepalaku yang penuh prasangka busuk.
Di sana, di bawah remang lampu pijar kuning lima watt yang dikerubungi laron, Ibuku—wanita yang tadi sore kubentak habis-habisan—sedang membungkuk di depan drum besi bekas oli yang dipotong dua.
Dia tidak sedang memakai pakaian seksi. Dia justru mengenakan celemek terpal kasar berwarna hitam yang robek di bagian paha, dilapisi sarung tangan karet kuning yang sudah berlubang di ujung jari telunjuknya. Di sampingnya, menumpuk karung-karung goni basah yang mengeluarkan uap panas dan bau yang luar biasa mengerikan: campuran muntahan manusia, bir basi, puntung rokok kretek yang terendam air, dan pecahan kaca botol minuman keras.
Seorang pria bertubuh gempal dengan tato naga melingkar di lehernya melemparkan dua karung goni lagi dari pintu belakang sebuah klub malam besar bernama Red Velvet Lounge. Karung itu berdebum keras ke lantai semen becek, mencipratkan air kotor ke ujung sepatu kain Ibu.
“Heh, Elena!” bentak pria itu kasar sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. “Ini sisa muntahan sama pecahan botol dari lantai dansa sama toilet VIP room. Habis ada tawuran antar geng tadi jam sebelas. Banyak belingnya. Bersihin semuanya! Jangan ada serpihan kaca yang nyangkut di karung daur ulang bos gue, ngerti lu? Kalau ada botol utuh lu simpen, bos minta lu pisahin per dus!”
Ibu mendongak. Wajahnya yang kusam disinari lampu temaram. Keringat bercampur daki mengalir di pelipisnya, membikin beberapa helai rambutnya yang beruban menempel di pipi.
“I-iya, Bang Tio…” jawab Ibu dengan suara serak yang sangat kuhafal. “Uang borongannya… yang kemarin belum turun, Bang. Anak saya… Alyssa butuh uang kuliah besok lusa. Enam setengah juta, Bang. Saya mohon, tolong bicarakan sama Bos Harun…”
Pria bernama Tio itu tertawa mengejek, mengembuskan asap rokok tepat ke wajah Ibu. Ibu terbatuk-batuk hebat, dadanya yang kurus naik-turun menahan sesak.
“Lu gila apa?!” sembur Tio. “Lu cuma tukang kuras comberan sama tukang pilah sampah botol bekas klub! Sadar diri, perempuan tua! Lu baru dapet tiga ratus ribu seminggu ini. Mau dapet enam setengah juta dari mana lu? Mau jual ginjal lu yang udah soak itu?!”
Ibu tiba-tiba menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai semen yang becek oleh air comberan dan genangan sisa alkohol murah. Dia tidak peduli celana kainnya basah kuyup. Dia meraih ujung celana jeans pria itu dengan kedua tangan berbalut sarung tangan karet yang bau busuk.
“Bang… saya bersihin selokan belakang juga malam ini!” pinta Ibu dengan suara tercekat, air mata mulai mengikis lapisan jelaga di pipinya. “Saya bersihin semua toilet lantai satu sampai tiga! Saya kuras muntahan di selokan utama yang mampet sejak minggu lalu! Apa saja, Bang! Saya kerjakan sampai subuh, sampai siang besok pun saya kuat! Asal kasih pinjaman kasbon enam setengah juta itu… tolong saya, Bang… anak saya mau jadi perawat… dia anak pintar, dia nggak boleh gagal cuma karena ibunya miskin…”
“Lepas, bangsat! Najis baju gue kena comberan lu!”
Tio menyentakkan kakinya dengan kasar. Tubuh Ibu yang kurus terhuyung ke samping, bahunya menghantam tepi drum besi tajam. Suara benturan itu terdengar begitu ngilu di telingaku.
Prang!
Sebuah botol bir kosong yang terlempar dari karung pecah berkeping-keping tepat di dekat tangan Ibu. Pecahan kaca tebal itu merobek sarung tangan karetnya, menembus telapak tangan kanannya. Darah segar seketika mengucur deras, menetes cepat ke atas genangan air kotor, bercampur dengan sisa-sisa bir dan muntahan yang ada di sana.
Ibu meringis tertahan, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat agar tidak menjerit.
“Denger ya, Elena,” kata Tio sambil meludah ke samping tubuh Ibu. “Kalau lu mau uang cepet, bos bilang ada borongan kuras septic tank bawah tanah di gedung karaoke seberang jalan yang baunya udah bikin tamu komplain. Limbah kotoran manusia campur lumpur beracun. Nggak ada mobil sedot yang bisa masuk ke gang itu. Harus dikuras manual pake ember. Lu mau turun ke dalem lubang itu sendirian malam ini? Bayarannya lima juta cash. Sisanya satu setengah juta, lu bawa botol-botol bir ini ke pengepul besi tua di ujung jembatan sebelum jam enam pagi. Sanggup lu? Kalau nggak sanggup, minggat lu dari sini!”
Ibu memegangi telapak tangannya yang robek. Darah merah gelap terus merembes melewati celah jemarinya. Tapi di matanya… di mata cekung yang selalu kuanggap malas itu, sama sekali tidak ada keraguan. Yang ada hanyalah kobaran keputusasaan seorang ibu yang siap menukar nyawanya sendiri demi selembar kertas ijazah anaknya.
“Saya sanggup, Bang…” bisik Ibu dengan bibir gemetar menahan perih. “Saya ambil. Kasih saya embernya.”
Lututku seketika kehilangan seluruh kekuatannya.
Aku terperosok ke tanah basah di balik tiang beton. Kedua tanganku mencengkeram dadaku sendiri yang mendadak terasa dihantam godam raksasa seberat ratusan ton. Napasku tersengal-sengal, oksigen seolah lenyap dari udara malam itu.
Ya Tuhan… Ya Allah… apa yang sudah kulakukan?
Kilatan-kilatan masa lalu berputar liar di kepalaku, menyiksaku tanpa ampun: Bau alkohol menyengat yang selalu kucium saat Ibu pulang jam empat pagi… itu bukan karena dia mabuk di bar, melainkan karena dia menghabiskan semalaman berendam di antara tumpahan miras basi dan muntahan para pemabuk kota! Asap rokok pahit yang menempel di baju dan rambutnya… itu bukan karena dia merokok bersama pria hidung belang, melainkan karena para preman dan penjaga klub malam itu terus-menerus mengembuskan asap rokok ke arahnya saat dia mengais sampah di bawah kaki mereka! Riasan murahan yang kata tetangga menempel di wajahnya… itu bukan bedak murah untuk menggoda lelaki! Itu adalah bedak talk bayi seribu perak yang sengaja Ibu balurkan tebal-tebal di wajah dan lehernya untuk menutupi bau busuk bangkai dan septic tank agar anak-anaknya di rumah tidak merasa mual saat dia pulang! Dan tubuhnya yang selalu terbaring lemas sepanjang hari di sofa tua… itu bukan karena dia malas atau pusing sehabis mabuk-mabukan! Itu karena seluruh tulangnya remuk redam, otot-ototnya terkoyak sehabis memikul drum-drum berisi limbah kotoran sendirian dari tengah malam hingga terbit fajar!
Air mataku tumpah ruah, mengalir deras membasahi jaket hoodie hitamku. Dadaku berdenyut sakit sekali, rasa sakit yang bahkan tidak pernah kuajarkan dalam ilmu keperawatanku.
“Tidakkah Ibu malu kepadaku?!” “Kalau Ibu masih punya harga diri, berikan aku uang untuk membayar semuanya!”
Suara teriakanku tadi sore kembali menggema di telingaku, menghantam gendang telingaku seperti cambukan cemeti berduri. Aku memukul kepalaku sendiri ke tiang semen. Betapa biadabnya aku! Betapa kotor dan berdosanya mulutku ini! Aku, yang merasa paling suci dengan seragam putih perawatku yang licin disetrika, ternyata hanyalah seekor ulat parasit yang tega menginjak-injak kepala ibunya sendiri demi sebuah topi perawat sialan!
Di seberang sana, pria bertato itu melemparkan seutas tali tambang besar dan dua ember cat bekas berlumur lumpur hitam ke hadapan Ibu.
“Tuh, tutup lubangnya udah dibuka sama anak-anak tadi sore. Dalamnya empat meter. Lu turun pake tangga monyet di dalem. Inget, lu cuma punya waktu sampe jam empat subuh sebelum klub tutup!”
Pria itu berbalik masuk ke dalam gedung, membanting pintu besi geser hingga menimbulkan suara dentangan yang memekakkan telinga.
Kini, tinggallah Ibu sendirian di gang sempit yang gelap itu.
Dia terdiam beberapa saat, menatap telapak tangannya yang terus meneteskan darah ke lantai. Dia tidak punya perban. Dia tidak punya antiseptik. Yang dilakukannya hanyalah merobek ujung lengan bajunya yang sudah rapuh dengan gigi, lalu melilitkan kain kotor itu seadanya ke luka robek di tangannya. Dia meringis kesakitan, air matanya menetes satu-satu membasahi kain penutup lukanya.
Kemudian, perlahan-lahan, dengan tubuh yang gemetar dan pinggang yang tampak bungkuk menahan beban usia, Ibu melangkah mendekati lubang persegi hitam di sudut gang—septic tank pembuangan limbah klub yang baunya bahkan dari jarak sepuluh meter saja sudah membuat mataku pedih luar biasa.
Ibu berlutut di bibir lubang itu, bersiap menurunkan kakinya ke dalam kegelapan yang menjijikkan itu.
“IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!”
Jeritan itu meluncur lepas dari kerongkonganku, merobek keheningan malam kota yang dingin. Aku tidak peduli lagi jika suaraku memicu kecurigaan preman klub. Aku tidak peduli lagi pada apa pun di dunia ini!
Aku berlari kencang menerobos genangan air comberan. Sepatuku tercebur ke dalam lumpur hitam, tapi aku terus berlari seperti orang gila.
Ibu tersentak kaget, menoleh ke belakang dengan mata membelalak panik. “A-Alyssa?!”
Sebelum Ibu sempat berdiri, aku sudah menjatuhkan diriku ke atas lantai becek di sampingnya. Aku mendekap tubuh kurus itu sekuat tenagaku. Mendekapnya begitu erat sampai aku bisa merasakan tulang-tulang rusuknya yang rapuh menonjol di balik baju basahnya.
Bau busuk limbah, bau alkohol basi, bau karat, dan bau amis darah segar langsung membungkus indra penciumanku. Tapi malam ini… untuk pertama kalinya dalam hidupku, bau itu tidak membuatku jijik sama sekali. Bau itu terasa begitu suci. Itu adalah aroma dari keringat dan darah seorang malaikat yang rela turun ke kerak neraka demi menyelamatkan hidupku.
“Alyssa… Nak… kenapa kamu ada di sini?!” Ibu panik luar biasa. Tangannya yang robek dan berlumuran darah kotor berusaha mendorong dadaku menjauh, panik karena takut mengotori jaketku. “Jangan dekat-dekat, Nak! Bau! Tempat ini kotor! Nanti bajumu kena noda kotoran… kamu kan anak bersih, kamu calon perawat… menjauh dari Ibu, Nak!”
“IBUUUU! MAAFKAN AKU, IBU! AMPUNI AKU!” raungku histeris di pundaknya. Aku membenamkan wajahku di ceruk lehernya yang dingin dan berbau comberan.
Tangisku meledak sejadi-jadinya, menghancurkan seluruh dinding keangkuhan yang selama empat tahun ini kubangun dengan angkuh.
“Aku anak durhaka, Bu! Aku anak terkutuk! Pukul aku, Bu! Tampar aku! Jangan lakukan ini… tolong, demi Tuhan, jangan turun ke lubang itu!”
Ibu membeku. Tangannya yang gemetar perlahan berhenti mendorongku. Ketika dia menyadari bahwa aku telah melihat semuanya, pertahanannya yang selama bertahun-tahun tampak sekeras batu karang akhirnya runtuh total.
Air mata Ibu tumpah ruah membasahi rambutku. Dia mendekap kepalaku dengan lengannya yang kurus, menangis tersedu-sedu hingga tubuhnya berguncang hebat.
“Ibu cuma nggak mau kamu gagal, Alyssa…” bisik Ibu dengan suara yang begitu lirih dan hancur. “Ibu ini bodoh, Nak. Ibu nggak punya ijazah. Waktu ayahmu meninggal dan ninggalin utang rentenir segunung, Ibu bingung harus kerja apa buat beli susu kamu dan bayar obat asma Raka. Nggak ada kantor yang mau nerima perempuan buta huruf kayak Ibu… Cuma tempat sampah ini yang mau nerima Ibu, Nak…”
“Ibu…” suaraku tercekat oleh rasa sesak yang luar biasa.
“Tiap malam Ibu mungut botol di sini… Ibu bersihin muntahan mereka… Ibu hirup bau rokok mereka… Biar Ibu yang kotor, Alyssa. Biar Ibu yang dihina orang sekampung. Asal kamu… asal anak perempuan Ibu bisa berdiri tegak pakai seragam putih bersih itu di depan orang banyak. Ibu cuma mau lihat kamu diwisuda, Nak… Ibu cuma mau denger namamu dipanggil dari atas panggung…”
Mendengar pengakuannya, duniaku rasanya benar-benar runtuh berkeping-keping.
Selama ini aku merasa bangga karena berjalan dengan kepala tegak memakai seragam putihku, tanpa pernah menyadari bahwa kain putih bersih yang kubanggakan itu ditenun dari darah yang mengucur dari tangan Ibu, dibasuh oleh air comberan yang setiap malam merendam kakinya, dan dibayar dengan harga diri seorang wanita yang rela diinjak-injak bagai cacing tanah di lorong gelap kota.
Aku melepaskan pelukanku perlahan. Dengan tangan yang bergetar hebat, kutarik kedua tangan Ibu yang kotor. Kulihat telapak tangan kanannya yang robek parah oleh pecahan kaca botol bir—darahnya sudah mulai bercampur dengan kotoran tanah yang bisa memicu infeksi tetanus mematikan.
Naluri keperawatanku langsung mengambil alih, namun kali ini bukan didasari oleh teori medis di buku kuliah, melainkan oleh jeritan cinta yang teramat perih.
Kulepas hoodie hitam tebal yang kukenakan hingga aku hanya memakai kaus dalam tipis di tengah angin malam yang menusuk tulang. Tanpa ragu sedetik pun, kurobek bagian dalam hoodie yang berbahan katun lembut dan bersih menggunakan gigiku.
“Alyssa, jangan… itu jaket bagusmu—”
“Diam, Bu! Biarkan aku mengobati Ibu!” perintahku dengan suara bergetar bercampur isak tangis.
Kukeluarkan botol air mineral kecil yang selalu kubawa di saku. Kuusap dan kubasuh luka robek di tangan Ibu dengan hati-hati, membasuh darah kotor dan serpihan debu yang menempel di dagingnya yang koyak. Ibu meringis kesakitan, tapi dia menahannya dengan memejamkan mata rapat-rapat.
Lalu, kulilitkan robekan kain katun bersih itu erat-erat ke telapak tangannya, membuat simpul perban tekan tepat di atas luka robeknya untuk menghentikan pendarahan, persis seperti teknik darurat yang kupelajari di bangku kuliah.
Setelah selesai, aku tidak melepaskan tangannya.
Kuangkat tangan Ibu yang kasar, keriput, berbau busuk, dan penuh kapalan itu ke depan wajahku. Di bawah lampu remang gang kumuh itu, di atas lantai semen yang menjijikkan, aku menundukkan kepalaku dalam-dalam… dan kucium telapak tangannya yang terluka itu berkali-kali.
Kucium punggung tangannya yang dipenuhi urat-urat menonjol akibat kerja paksa puluhan tahun. Kucium jemarinya yang dingin satu per satu dengan penuh takzim dan penyesalan yang membakar jiwa.
“Kita pulang, Bu,” kataku tegas sambil menatap matanya lekat-lekat, menyeka air mataku dengan punggung tangan.
“Tapi uang kuliahmu, Nak…” Ibu menatap lubang septic tank itu dengan putus asa. “Hari Jumat batasnya… tinggal dua hari lagi—”
“Aku tidak peduli lagi dengan topi perawat sialan itu!” potongku keras dengan suara parau. “Aku tidak peduli jika namaku dicoret dari kampus! Aku tidak peduli jika aku tidak pernah diwisuda seumur hidupku! Gelar itu tidak ada artinya jika harus ditukar dengan satu tetes darah Ibu lagi di tempat jahanam ini!”
“Alyssa…”
“Aku bisa bekerja, Bu! Aku punya dua tangan dan dua kaki yang sehat!” lanjutku sambil menarik tubuh Ibu untuk berdiri tegak. “Mulai malam ini, Ibu tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di gang kotor ini! Biar aku yang merawat Ibu dan Raka! Kita pulang sekarang!”
Ibu menatapku lama sekali. Di balik mata tuanya yang basah, kulihat seberkas cahaya yang belum pernah kulihat sebelumnya: bukan lagi keputusasaan, melainkan kelegaan yang begitu dalam, seolah beban seberat gunung yang selama belasan tahun dipikulnya sendirian di pundaknya akhirnya terangkat.
Ibu mengangguk pelan. “Iya, Nak… kita pulang.”
Kupapah tubuh Ibu yang ringkih keluar dari gang gelap itu. Kami berjalan beriringan menyusuri jalanan kota yang sepi di bawah langit malam yang dingin. Bau busuk masih menempel di tubuh kami berdua, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, saat berpapasan dengan beberapa orang di trotoar yang memandang kami dengan tatapan aneh, aku tidak lagi menundukkan kepalaku karena malu.
Aku justru melingkarkan tanganku lebih erat di pinggang Ibuku, berjalan dengan kepala tegak, karena aku tahu… wanita tua di sampingku ini adalah pahlawan terhebat yang pernah diciptakan Tuhan di muka bumi ini.
Keesokan paginya, matahari bersinar terik di atas atap seng rumah kami.
Aku tidak pergi ke kampus. Sejak subuh, aku sibuk membersihkan luka di tangan Ibu dengan cairan antiseptik yang kubeli dari sisa tabunganku, membalutnya dengan kassa steril yang rapi, lalu menyuapinya bubur hangat bersama Raka yang duduk di samping ranjang sambil memegangi ujung daster Ibu dengan mata berkaca-kaca.
Tepat pukul sebelas siang, sebuah mobil dinas berwarna hitam dengan pelat nomor khusus berhenti di depan gang sempit rumah kami. Kehadiran mobil mewah itu sontak membuat heboh warga kampung. Bu Sari dan para tetangga yang biasa mencibir langsung berkerumun di depan pagar dengan mata penasaran.
Dua orang pria berseragam safari gelap dan seorang wanita paruh baya berbusana sangat rapi turun dari mobil. Wanita itu adalah Profesor Ratna, Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan di universitasku—sosok yang terkenal sangat tegas, dingin, dan paling ditakuti oleh seluruh mahasiswa.
Jantungku berdegup kencang saat melihat beliau berjalan menyusuri gang becek menuju pintu rumahku yang reyot.
Apakah beliau datang untuk mengusirku secara resmi karena belum membayar biaya kelulusan?
Aku keluar dari pintu, berdiri menghadang di teras kecil dengan seragam rumahanku yang sederhana.
“Selamat siang, Profesor Ratna,” sapaku dengan suara kaku, berusaha menutupi rasa takutku. “Jika Ibu datang untuk menagih biaya kelulusan enam setengah juta itu… saya minta maaf. Saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari upacara wisuda dan gelar profesi saya.”
Profesor Ratna menatapku tajam dari balik kacamata bingkai emasnya. Tidak ada senyum di wajahnya. Namun, alih-alih memarahiku, pandangan matanya justru beralih ke dalam rumah, menatap Ibuku yang sedang duduk di sofa tua dengan tangan terbalut perban putih bersih.
“Boleh saya masuk, Alyssa?” tanya Profesor Ratna dengan nada suara yang anehnya terdengar sangat tenang, jauh dari nada galak yang biasa beliau tunjukkan di ruang sidang kampus.
Aku ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk dan mempersilakan beliau masuk.
Rumah kami sangat sempit. Hanya ada satu sofa tua yang busanya sudah kempes dan meja kayu lapuk. Profesor Ratna melangkah masuk tanpa menunjukkan rasa jijik sedikit pun pada kesederhanaan rumah kami. Beliau berdiri tepat di hadapan Ibuku yang tampak sangat gugup dan ketakutan.
“Nyonya Elena?” sapa Profesor Ratna pelan.
“I-iya, Bu Dosen…” jawab Ibu terbata-bata, berusaha berdiri untuk menyalami, namun Profesor Ratna segera menahan bahu Ibu dengan kedua tangannya dengan sangat lembut, memaksa Ibu tetap duduk.
Kemudian, sebuah pemandangan yang membuat seluruh warga di luar jendela ternganga terjadi:
Profesor Ratna, seorang guru besar kedokteran dan dekan universitas ternama, perlahan-lahan menundukkan tubuhnya, lalu berlutut dengan satu kaki di atas lantai semen rumah kami di hadapan Ibuku.
“Profesor?!” seruku panik, tak percaya dengan apa yang kulihat.
Profesor Ratna mengangkat wajahnya, menatap Ibu Elena dengan mata yang berkaca-kaca.
“Semalam… pukul dua dini hari,” suara Profesor Ratna bergetar pelan, memecah keheningan ruangan, “saya menerima laporan dari Direktur Utama Yayasan Rumah Sakit Medika Utama. Beliau meninjau rekaman kamera pengawas di gang belakang area hiburan kota terkait kasus perusakan properti oleh geng motor kemarin malam.”
Profesor Ratna menarik napas panjang, menatap perban di tangan Ibu.
“Dalam rekaman CCTV itu… tidak sengaja terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang mengais pecahan botol dan limbah berbahaya dengan tangan kosong, demi mengumpulkan uang kasbon untuk biaya kelulusan anaknya. Direktur Utama kami melihat logo map berkas yang dibawa wanita itu ke mandor kebersihan… map Fakultas Keperawatan universitas kita, bertuliskan nama: Alyssa Ramadhani.”
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan, air mata kembali merebak di pelupuk mataku.
Profesor Ratna menoleh menatapku dengan tatapan yang begitu hangat dan penuh rasa bangga yang luar biasa.
“Alyssa… semalam juga, Dewan Senat Universitas dan Yayasan Rumah Sakit langsung mengadakan rapat darurat pukul tiga pagi setelah melihat rekaman itu,” lanjut Profesor Ratna, suaranya bergetar menahan haru.
Beliau merogoh tas kulitnya, mengeluarkan sebuah map beludru berwarna biru tua berlogo emas universitas, lalu meletakkannya di atas pangkuan Ibu Elena.
“Kami menyadari betapa memalukannya sistem kami yang hampir saja menggugurkan seorang putri dari ibu yang paling mulia di kota ini hanya karena selembar kuitansi pembayaran upacara.”
Profesor Ratna membuka map beludru itu. Di dalamnya terdapat surat keputusan resmi berstempel basah tinta emas:
BEASISWA PENUH KELULUSAN TERBAIK DAN PENGANGKATAN PEGAWAI TETAP RUMAH SAKIT UTAMA.
“Biaya kelulusan enam juta lima ratus ribu rupiah itu sepenuhnya dihapuskan dan ditanggung oleh dana abadi rektorat,” kata Profesor Ratna, air mata akhirnya lolos membasahi pipinya yang berkerut anggun.
“Dan bukan hanya itu… Alyssa dinyatakan sebagai lulusan dengan predikat Summa Cum Laude atas dedikasi nilai akademiknya. Dan hari Senin depan, setelah upacara pelantikan, Alyssa resmi diangkat menjadi Perawat Tetap di Unit Perawatan Intensif (ICU) Rumah Sakit Pendidikan Utama dengan gaji penuh dan asuransi kesehatan kelas satu yang mencakup seluruh pengobatan asma adikmu sampai sembuh total!”
“Ya Allah…” bisik Ibu terperangah. Air matanya tumpah deras membasahi map beludru di pangkuannya. Ibu menangkupkan kedua tangannya ke wajah, menangis tersedu-sedu dalam sujud syukur yang begitu panjang di atas lantai semen rumah kami.
Raka yang berdiri di sampingku langsung memeluk pinggang Ibu sambil menangis gembira.
Di luar jendela, Bu Sari dan para tetangga yang mendengar seluruh percakapan itu tertunduk malu. Beberapa ibu-ibu yang kemarin paling keras mencibir Ibu Elena tampak menyeka air mata mereka dengan ujung daster, wajah mereka dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan yang teramat dalam karena telah memfitnah seorang malaikat pelindung keluarga.
Hari Jumat tiba.
Gedung auditorium utama universitas dipenuhi oleh ribuan pasang mata. Lampu kristal raksasa di langit-langit memantulkan kemilau megah ke seluruh ruangan berlantai karpet merah tebal. Suara musik orkestra klasik bergema agung, mengiringi ratusan mahasiswa keperawatan yang berdiri tegak dengan seragam putih bersih tanpa cela.
Namun hari ini, ada yang berbeda.
Protokol upacara yang biasanya kaku dan formal mendadak diubah atas perintah langsung dari Rektor dan Dewan Senat.
“Hadirin sekalian yang kami hormati,” suara Dekan Fakultas, Profesor Ratna, menggema melalui pengeras suara auditorium, membuat seluruh ruangan seketika hening.
“Hari ini, kita tidak hanya akan menyalakan lilin Florence Nightingale bagi para calon perawat yang telah menyelesaikan studinya. Hari ini, panggung kehormatan universitas ini ingin memberikan penghormatan tertinggi kepada sosok yang sesungguhnya telah mempraktikkan arti paling murni dari sebuah pengorbanan dan cinta tanpa syarat.”
Layar proyektor raksasa di belakang panggung menyala.
Di sana, terpampang sebuah foto sederhana yang diambil dua hari lalu di teras rumah kami: foto sepasang telapak tangan seorang wanita yang kasar, dipenuhi kapalan tebal, dan terbalut perban putih bersih, yang sedang menggenggam erat sebuah pin emas keperawatan.
Di bawah foto itu, tertulis sebuah kalimat dengan huruf emas yang menyentuh kalbu: “Kain putih yang suci ini tidak ditenun dari sutra, melainkan dari keringat, darah, dan air mata seorang Ibu.”
Seluruh auditorium menahan napas. Banyak orang tua mahasiswa yang mulai menyeka sudut mata mereka, terhanyut oleh kesakralan suasana.
“Kepada wisudawati terbaik tahun ini, Perawat Alyssa Ramadhani… dipersilakan naik ke atas panggung utama!” panggil pembawa acara dengan suara lantang dan bangga. “Didampingi oleh ibunda tercinta, Ibu Elena!”
Tepuk tangan bergemuruh memekakkan telinga saat pintu samping panggung terbuka.
Aku melangkah maju dengan seragam perawat putih terbaikku. Tapi hari ini, aku tidak berjalan sendirian dengan dagu terangkat sombong.
Aku menggenggam erat tangan kiri Ibuku.
Ibu mengenakan kebaya sederhana berwarna biru laut yang dibelikan oleh Profesor Ratna kemarin sore, dengan selendang batik rapi yang menutupi bahunya. Rambutnya disanggul anggun oleh perias kampus. Tangannya yang kanan masih terbalut kassa steril tipis, namun wajahnya… wajah cekung yang selama belasan tahun dihina dan dicaci maki itu… kini memancarkan cahaya keagungan yang begitu luar biasa indahnya.
Rektor universitas secara pribadi menyematkan pin emas keperawatan di dadaku. Namun sebelum topi perawat putih (nurse cap) itu dipasangkan di kepalaku, aku melangkah mundur satu langkah.
Aku mengambil topi perawat berwarna putih bersih lambang kesucian profesi medis itu dari nampan perak yang dibawa panitia.
Di hadapan ribuan pasang mata yang memandang dengan takjub—di hadapan para dosen, pejabat rumah sakit, dan ratusan pasang mata yang menyaksikanku—aku perlahan-lahan menjatuhkan kedua lututku ke atas karpet merah panggung utama.
Aku bersimpuh tepat di bawah kaki Ibuku.
“Alyssa…” bisik Ibu terkejut, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.
Aku tidak memedulikan mikrofon yang menyala di dekatku. Aku memegang kedua telapak kaki Ibuku yang kasar dan pecah-pecah karena terendam air comberan selama bertahun-tahun. Kurebahkan keningku di atas punggung kakinya, menciumnya dengan segenap jiwa dan ragaku.
“Topi kehormatan ini bukan milikku, Ibu…” ucapku dengan suara bergetar yang terdengar jelas ke seluruh penjuru auditorium melalui pengeras suara panggung. Air mataku menetes membasahi kulit kakinya yang dingin.
“Empat tahun ini, aku mengira dirikulah yang berjuang keras belajar merawat orang sakit… Tapi aku buta. Kaulah perawat yang sesungguhnya di dunia ini, Bu. Kau merawat hidupku dan adikku dengan mengorbankan seluruh harga dirimu, membiarkan tubuhmu sendiri terluka dan membusuk di selokan malam agar kami bisa bernapas dengan layak di siang hari…”
Aku mendongak, menatap wajah Ibu yang basah oleh air mata kebahagiaan.
Dengan tangan yang gemetar penuh rasa cinta dan takzim yang tak terhingga, kuangkat topi perawat putih itu tinggi-tinggi… lalu perlahan kupasangkan di atas sanggul rambut ibuku sendiri.
“Mahkota kesucian ini adalah milikmu, Ibu. Selamanya milikmu.”
Prok! Prok! Prok!
Satu orang berdiri di barisan depan. Lalu diikuti oleh Rektor. Para dekan. Para dosen. Dan dalam hitungan detik, seluruh isi auditorium—ribuan mahasiswa dan tamu undangan—serentak bangkit dari kursi mereka (standing ovation), memberikan tepuk tangan yang paling membahana dalam sejarah universitas itu.
Banyak dosen dan mahasiswa yang menangis sesenggukan menyaksikan momen itu. Suara isak haru dan tepuk tangan bersahut-sahutan memenuhi ruangan megah itu selama bermenit-menit tanpa henti.
Ibu berlutut di depanku, merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya di tengah gemuruh tepuk tangan yang tak kunjung padam. Kami berdua menangis di atas panggung itu, saling mendekap erat dalam kehangatan yang meruntuhkan segala sisa kepedihan masa lalu.
Kini, tidak ada lagi comberan hitam. Tidak ada lagi bau alkohol basi dan asap rokok yang mencekik dada. Tidak ada lagi cibiran tetangga yang menusuk ulu hati.
Yang ada hanyalah seorang anak perempuan yang akhirnya mengerti… bahwa cinta sejati seorang ibu adalah lautan pengorbanan tanpa batas, yang rela menyelam ke dasar lumpur tergelap di muka bumi, hanya demi mengangkat anak-anaknya terbang tinggi menyentuh langit impian mereka.
