Aku Menemukan Dua Tiket Pesawat Ke Bali Atas Nama Suamiku Dan Sahabat Karibku Padahal Suamiku Pamit Lembur Kantor Di Jakarta, Tapi Ternyata Ada Kebohongan Mengerikan Tentang Almarhum Ayahku Yang Disembunyikan Keluarga Selama Ini!

Tanganku gemetar hebat saat meremas dua lembar kertas berukuran panjang itu. Pandanganku kabur oleh air mata yang mendadak menetes tanpa bisa kutahan. Kertas itu adalah dua tiket pesawat penerbangan kelas bisnis menuju Bali untuk jadwal penerbangan besok pagi.
Satu tiket tertera nama suamiku, Rizky Pratama.
Dan satu tiket lagi tertera nama wanita yang sangat kusingkahi dalam hidupku, Indah Permata. Sahabat karibku sendiri yang sudah kuanggap seperti saudara kandung sejak zaman kuliah di Bandung.
“Ya Allah… Ini tidak mungkin terjadi…” bisikku lirih, merosot di samping ranjang kamar utama kami di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Dada ini terasa dihantam bongkahan batu besar. Selama tiga minggu terakhir, Rizky selalu pulang larut malam dengan pakaian kusut dan wajah lelah. Setiap kali aku menyambutnya di depan pintu dengan segelas teh hangat dan bertanya, jawaban yang keluar dari mulutnya selalu sama.
“Pekerjaan kantor di Sudirman sedang menumpuk, Sayang. Ada proyek besar yang harus diselesaikan,” ucapnya lembut sembari mengelus kepalaku.
Aku mempercayainya sepenuh hati. Bahkan malam ini, sebelum melangkah keluar pintu rumah, Rizky sempat mengecup keningku dengan penuh kehangatan.
“Mas mungkin pulang sangat malam atau bahkan tidak pulang karena harus menginap di kantor. Kamu tidur duluan ya,” katanya manis.
Aku tersenyum tulus malam itu. “Iya, Mas. Jangan lupa makan malam. Hati-hati di jalan.”
Namun, beberapa menit setelah mobil Rizky meninggalkan pelataran rumah, aku teringat bahwa berkas pabrik Batik milik keluarga kami yang minta dikirim via surel ada di dalam tas kerja kulit milik Rizky. Karena tas kerjanya tertinggal di meja ruang tamu, aku bermaksud mengambil laptopnya.
Saat jemariku meraba kompartemen rahasia di dalam tas tersebut, bukannya menemukan dokumen kerja, aku justru menemukan amplop cokelat berisi dua tiket pesawat penerbangan ke Bali.
Tanganku yang gemetar langsung meraih ponsel. Aku mencoba menghubungi nomor Rizky.
Panggilan pertama, tidak diangkat.
Panggilan kedua, dialihkan.
Panggilan kelima, ponselnya mendadak tidak aktif.
Aduh! Kepala ini terasa mau pecah. Namun detik berikutnya, sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke ponselku dari nomor Rizky.
“Jangan tunggu aku malam ini, Putri. Pekerjaan di kantor benar-benar menyita waktu.”
Aku menatap layar ponsel dengan tatapan kosong. Kebohongan yang sangat rapi. Dadaku semakin sesak, napas terasa tercekat di tenggorokan. Mengapa Rizky harus berbohong? Mengapa dia harus pergi ke Bali bersama Indah?
Indah adalah sahabat yang hampir setiap akhir pekan berkunjung ke rumah kami. Indah yang selalu menikmati nasi goreng buatanku. Indah yang selalu pasang badan ketika ada kerabat yang meremehkan rumah tanggaku. Bahkan Indah pernah menggenggam tanganku erat dan berkata, “Putri, Rizky itu pria yang sangat jujur. Kalau aku jadi kamu, aku akan mempercayainya seratus persen.”
Kurang ajar! Ternyata di balik senyum manisnya, ada duri beracun yang ditancapkan tepat di punggungku!
Tiba-tiba, suara getaran berulang terdengar dari atas meja rias. Itu ponsel cadangan milik Rizky yang tertinggal. Sebuah pesan masuk memperlihatkan nama pengirim di layarnya: Indah.
Jantungku berdegup kencang seperti genderang perang. Dengan keberanian yang tersisa, aku membuka pesan itu. Hanya satu kalimat, namun sanggup meruntuhkan seluruh duniaku.
“Ki, jangan sampai istrimu tahu alasan sebenarnya kita terbang ke Bali besok pagi.”
Astaga! Alasan sebenarnya? Apa maksudnya ini?!
Sebelum aku sempat mencerna kalimat itu, pesan kedua dari Indah masuk melampirkan sebuah foto. Foto itu memperlihatkan Rizky dan Indah sedang duduk berhadapan di sebuah restoran mewah kawasan Menteng. Namun, bukan kedekatan mereka yang membuat darahku berdesir hebat, melainkan sebuah amplop besar berwarna cokelat tua di atas meja mereka. Di atas amplop itu tertulis nama lengkapku dengan tinta hitam tebal, dan di bawahnya ada sebuah tulisan tangan yang sangat kukenal: “BAPAK WIJAYA – RAHASIA BALI”.
Tubuhku membeku seketika. Bapak Wijaya? Itu nama almarhum ayahku! Ayah yang dinyatakan berpulang dalam kecelakaan lalu lintas tragis delapan tahun lalu di jalur Ciawi!
Ponsel di tanganku hampir terjatuh. Aku menyapu air mata, membulatkan tekad, dan kembali menekan nomor ponsel Rizky. Kali ini, panggilan terhubung.
“Kenapa, Sayang?” suara Rizky di ujung telepon terdengar sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat hingga terasa asin darah, menahan jeritan histeris yang ingin meledak.
“Mas…”
“Iya, Putri? Kenapa belum tidur?”
“Besok kamu benar-benar lembur di kantor?” tanyaku dengan suara bergetar.
Hening sejenak di ujung telepon. Rizky menghela napas panjang. “Iya, Sayang. Ada apa?”
“Lalu… dua tiket pesawat ke Bali atas nama kamu dan Indah besok pagi itu untuk siapa, Mas?!” teriakku histeris.
Telepon langsung terputus seketika.
Hanya butuh waktu lima belas menit hingga suara derit ban mobil terdengar menggesek pelataran rumah. Pintu depan terbuka tergesa-gesa. Rizky melangkah masuk dengan wajah sepucat kapas. Matanya membelalak kaget saat melihatku berdiri kaku di tengah ruang tamu, memegang dua tiket pesawat dan memandangnya dengan tatapan benci.
Aku melemparkan kedua tiket itu tepat ke dada Rizky. “Jelaskan padaku, Rizky Pratama! Jelaskan hubungan harammu dengan Indah!”
Rizky tidak mengambil tiket yang jatuh ke lantai. Dia melangkah mendekat dengan tangan terangkat. “Putri, dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang kamu bayangkan!”
“Tidak seperti yang kubayangkan?!” teringkik aku tertawa getir, air mata terus mengalir membasahi pipiku. “Dua tiket pesawat ke Bali, kamu dan sahabatku, lalu pesan rahasia untuk menyembunyikan sesuatu dariku! Aku harus berpikir seperti apa lagi, Mas?!”
“Aku dan Indah memang harus pergi ke Bali besok!” tegaspnya dengan nada suara yang bergetar hebat.
“Kenapa?! Untuk bersenang-senang di atas penderitaanku?!”
Rizky menatapku dengan tatapan mata yang belum pernah kulihat selama empat tahun kami menikah. Tatapan penuh penderitaan dan rahasia kelam.
“Karena ada seseorang di Bali yang harus kami temui, Putri!”
“Siapa?!” pekikku.
Rizky terdiam. Dia menunduk dalam-dalam, mengambil ponselnya, lalu menggeser layar dan menyodorkannya tepat di depan mataku.
“Orang yang selama delapan tahun ini kamu kira sudah meninggal dunia…”
Mataku membelalak lebar. Di layar ponsel itu, terlihat sebuah foto terbaru seorang pria tua berambut uban yang sedang duduk di sebuah pendopo kayu. Pria itu memegang surat kabar lokal Bali bertanggal hari ini. Wajah itu… garis senyum itu…
“Bapak…?” bisikku lemah, seluruh persendianku serasa lolos dari tempatnya.
“Bukan, Putri,” suara Rizky terdengar sangat berat, menelan ludah dengan susah payah. “Yang berpulang delapan tahun lalu itu bukan Ayahmu. Dan besok, aku dan Indah terbang ke Bali untuk menyelamatkannya dari kebohongan besar keluargamu sendiri…”
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
Pernyataan Rizky malam itu menghantam kesadaranku bagai petir di siang bolong. Kepala terasa berputar, lantai yang kupijak seolah bergoyang runtuh. Ayahku… Bapak Wijaya… pria yang kuiringi pemakamannya delapan tahun lalu dengan derai air mata dan rasa kehilangan yang mendalam, ternyata masih bernapas di suatu tempat di Pulau Bali?
“Bohong! Ini pasti rekayasa kamu dan Indah untuk menutupi perselingkuhan kalian!” jeritku hysteris, menolak mempercayai kenyataan gila yang disodorkan di depan mataku.
Demi Tuhan! Bagaimana mungkin seorang anak dibohongi atas kematian ayahnya sendiri selama hampir satu dekade?!
Rizky memegang kedua bahuku erat. Kali ini aku tidak menolaknya karena seluruh kekuatanku telah habis menguap. “Putri, dengarkan aku demi Allah! Aku tidak pernah mengkhianati pernikahan kita. Indah adalah putri dari pengacara pribadi almarhum keluarga ayahmu. Selama ini, Indah membantuku melacak aliran dana rahasia yang mencurigakan dari aset perusahaan Batik keluargamu di Yogyakarta!”
“Aset Batik? Aliran dana? Mas, bicara yang jelas! Jangan buat aku gila!” tangisku pecah di dada Rizky.
Rizky mendekapku erat, menyalurkan kehangatan yang amat kubutuhkan di tengah badai kenyataan ini. Dia menjelaskan bahwa enam bulan lalu, Indah secara tidak sengaja menemukan dokumen transaksi kepemilikan tanah di kawasan Ubud, Bali, yang baru saja diperbarui atas nama Bapak Wijaya. Nomor Induk Kependudukan dan sidik jarinya cocok seratus persen dengan ayahku.
Selama bertahun-tahun, ternyata ada pihak tertentu yang secara berkala mengirimkan uang dalam jumlah puluhan juta Rupiah setiap bulan untuk membiayai perawatan medis rahasia Bapak di Bali. Dan pengirim uang tersebut adalah… Ibu Sumi, ibu kandungku sendiri, dibantu oleh Paman Hendra, adik kandung Ibu!
“Ibu? Paman Hendra?” bisikku tercekat. “Tidak… Tidak mungkin Ibu tega memalsukan kematian Bapak!”
“Malam ini Indah mendapat kabar dari informan di Bali bahwa kondisi kesehatan Bapak mendadak menurun kritis,” lanjut Rizky dengan tatapan mata nanar. “Paman Hendra berniat memindahkan Bapak malam ini juga ke tempat terisolasi agar rahasia ini tidak terbongkar. Makanya aku dan Indah harus segera terbang besok pagi untuk menyela tindakan mereka!”
“Aku ikut!” tegasku tanpa ragu sedikit pun. “Aku tidak peduli apa pun yang terjadi, aku harus melihat dengan mataku sendiri!”
Pagi harinya, dengan penerbangan pertama dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Ngurah Rai, kami bertiga terbang ke Bali. Di dalam pesawat, Indah duduk di sampingku. Dia menggenggam jemariku yang dingin dengan penuh rasa penyesalan.
“Maafkan aku, Putri. Aku menyembunyikan ini darimu karena Rizky takut kamu tidak sanggup menahan guncangan emosional sebelum kami mendapatkan bukti fisik yang kuat. Kami tidak bermaksud melukaimu,” tutur Indah tulus.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Pikiran melayang kembali ke masa delapan tahun lalu. Saat tragedi kecelakaan di jalur Ciawi terjadi, Ibu Sumi dan Paman Hendra sangat melarangku melihat jasad Bapak dengan alasan kondisi fisik yang rusak parah akibat kebakaran mobil. Proses pemakaman di kampung halaman di Gunungkidul pun dilakukan sangat cepat. Saat itu aku yang masih muda hanya bisa menangis pasrah menuruti perintah Ibu.
Setibanya di Bandara Ngurah Rai Bali, kami langsung menyewa kendaraan dan memacu mobil menuju kawasan Ubud, melewati jalanan berliku yang dikelilingi rindangnya pepohonan kelapa dan hamparan sawah. Jantungku berdegup kencang tak beraturan.
Mobil berhenti di depan sebuah villa kayu bergaya tradisional Jawa di daerah perbukitan sunyi. Pintu gerbang ukiran kayu terbuka lambat. Indah dan Rizky melangkah di depanku, memandu jalan menuju pendopo belakang yang menghadap langsung ke lembah sungai.
Di sana, di atas sebuah kursi roda berukir batik, duduk seorang pria tua mengenakan kemeja kain putih tipis. Rambutnya telah memutih seluruhnya, namun garis wajah tegas itu… ketenangan sorot matanya…
“Bapak…?” panggilku dengan suara bergetar, nyaris kehilangan napas.
Pria tua itu perlahan memutar kursi rodanya. Matanya yang sayu menatap wajahku. Detik berikutnya, genangan air mata memenuhi pelupuk matanya yang keriput.
“Putri…? Anakku… Putri…?” bisiknya dengan suara serak menahan kerinduan yang membuncah.
“Ya Allah! Bapak!”
Aku berlari dan langsung berlutut di pangkuannya. Tangisku pecah sejadi-jadinya. Aku memeluk tubuh renta itu, menghirup aroma minyak kayu putih dan tembakau yang sangat kurindukan—aroma khas ayahku yang tak pernah berubah sejak aku kecil. Ini bukan mimpi. Ini bukan ilusi. Ayahku masih hidup! Ayahku benar-benar bernapas!
“Bapak… kenapa Bapak meninggalkan Putri? Kenapa Bapak bersembunyi di sini?” tangisku menyayat hati sembari menciumi jemarinya yang gemetar.
Bapak membelai hijabku dengan lembut, air matanya menetes membasahi kepalaku. “Maafkan Bapak, Nak… Maafkan Bapak yang tidak berdaya melindungi kamu…”
Bapak Wijaya kemudian menceritakan kebenaran mengerikan yang tersimpan rapi selama delapan tahun. Delapan tahun lalu, kecelakaan mobil itu bukanlah musibah murni, melainkan kejahatan terencana yang didalangi oleh Ibu Sumi dan Paman Hendra! Mereka menginginkan penguasaan penuh atas seluruh aset pabrik Batik dan warisan keluarga bernilai puluhan miliar Rupiah.
Ketika obat racun dosis rendah yang dicampurkan ke dalam minuman Bapak tidak berhasil mengakhiri hidupnya secara instan, Paman Hendra merekayasa kecelakaan mobil. Namun, Bapak berhasil diselamatkan oleh seorang warga lokal dan dilarikan secara rahasia. Bukannya menyesal, Ibu Sumi yang mengetahui Bapak selamat namun menderita kelumpuhan total justru menyembunyikan Bapak di Bali di bawah pengawasan ketat, sambil memalsukan kematian Bapak demi mencairkan klaim asuransi dan menguasai seluruh harta!
“Ibu dan Pamanmu membiarkan Bapak hidup seperti mayat bernapas di sini, Putri… Mereka mengancam akan menghancurkan hidupmu jika Bapak mencoba menghubungi kepolisian…” rintih Bapak dengan dada naik turun menahan kepedihan.
Astaga! Ibu kandungku sendiri… wanita yang melahirkanku… ternyata adalah sesosok monster berdarah dingin!
Tiba-tiba, suara raungan mesin mobil memecah ketenangan villa. Dua unit mobil SUV hitam berhenti paksa di pelataran depan. Pintu villa didobrak kasar!
“Kurang ajar! Siapa yang berani membawa Putri ke sini?!”
Suara lengkingan yang sangat kukenal bergema. Ibu Sumi melangkah masuk dengan wajah merah padam karena murka, didampingi oleh Paman Hendra dan tiga pria berbadan tegap berpakaian serba hitam.
“Ibu?!” teriakku histeris, bangkit berdiri menghalangi tubuh Bapak. “Tega-teganya Ibu melakukan kejahatan sekeji ini pada Bapak?!”
Ibu Sumi terkejut melihat keberadaanku, namun ekspresi wajahnya berubah cepat menjadi dingin dan penuh kebencian. Hilang sudah sosok ibu lembut yang kucintai selama ini.
“Putri! Jangan ikut campur urusan orang tua!” bentak Ibu Sumi tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Pria tua bangkotan ini harusnya sudah tiada sejak delapan tahun lalu! Dia hanya menghambat kemajuan keluarga kita!”
“Demi Tuhan, Ibu! Ibu sudah gila!” teriakku sembari berderai air mata. “Harta sudah membutakan hati nurani Ibu!”
Paman Hendra melangkah maju dengan tatapan mengancam, memberi isyarat kepada tiga pria berbadan besar di belakangnya. “Hendra! Ambil paksa dokumen sertifikat tanah di dalam kamar! Dan kalian bertiga, seret orang tua itu ke mobil!”
“Jangan ada yang berani menyentuh mertuaku!” jerit Rizky pasang badan di depan kami, pasang kuda-kuda bersama Indah.
“Rizky! Kamu menantu tidak tahu diri! Dulu aku menyetujui pernikahanmu dengan Putri agar kamu bisa membantuku mengelola aset Batik, bukan untuk menjadi musuh dalam selimut!” amuk Ibu Sumi dengan mata melotot savage.
Situasi semakin memanas dan mencekam. Salah satu pria tegap mendorong Rizky hingga tersungkur ke lantai batu. Paman Hendra mencoba mencengkeram lenganku untuk menarikku menjauh dari kursi roda Bapak.
“Lepaskan aku! Paman jahat! Lepaskan!” jeritku histeris.
Namun sebelum keos semakin tak terkendali, suara sirine mobil kepolisian mendadak membahana mengerung dari arah luar gerbang villa! Puluhan personel polisi berseragam lengkap dari Polda Bali menerobos masuk dengan senjata terarah.
“Jangan bergerak! Polisi! Angkat tangan kalian semua!” teriak petugas kepolisian memecah kegentingan.
Paman Hendra dan tiga pria tegap itu langsung mengangkat tangan dengan wajah pucat pasi. Ibu Sumi membeku di tempat, matanya membelalak tak percaya. Indah tersenyum tipis sembari mengacungkan ponselnya—ternyata sejak awal masuk ke wilayah Ubud, Indah telah mengkoordinasikan tim hukumnya untuk melapor ke Kepolisian Daerah Bali atas dugaan penyekapan dan penggelapan aset!
“Sumiati dan Hendra, Anda berdua ditangkap atas dugaan kasus pemalsuan dokumen kematian, penggelapan aset bernilai puluhan miliar Rupiah, serta percobaan kejahatan terencana!” tegas Perwira Polisi sembari memasangkan borgol besi ke pergelangan tangan Ibu Sumi.
“Putri! Tolong Ibu, Nak! Jangan biarkan polisi membawa Ibu! Ibu ini yang melahirkanmu!” jerit Ibu Sumi histeris saat tubuhnya diseret keluar oleh petugas.
Aku memalingkan wajah, menutup telingaku rapat-rapat. Air mataku menetes deras mengiringi kejatuhan wanita yang pernah sangat kuhormati itu. Hukum akhirnya menegakkan keadilannya.
Setelah suasana villa kembali tenang dan rombongan polisi membawa para pelaku ke markas kepolisian, aku kembali berlutut di hadapan Bapak. Rizky dan Indah berdiri di sampingku, memberikan dukungan moral.
“Bapak… sekarang semuanya sudah selesai. Bapak aman bersama Putri dan Mas Rizky,” bisikku lembut mengusap tangan Bapak yang gemetar.
Bapak Wijaya memandang wajahku dalam-dalam, mengelus pipiku dengan sisa tenaganya, lalu menatap Indah dan Rizky bergantian. Senyum sedih terukir di bibirnya yang pucat.
“Belum selesai, Putriku… Ada satu rahasia lagi yang harus Bapak sampaikan sebelum kebenaran ini utuh…” desah Bapak serak.
“Rahasia apa lagi, Pak?” tanyaku bingung, menatap heran ke arah Rizky dan Indah yang tiba-tiba menundukkan kepala.
Bapak memegang tanganku erat-erat, menatap lurus ke dalam mataku dengan ketulusan yang luar biasa.
“Sumiati… wanita yang baru saja ditangkap polisi itu… sebenarnya bukanlah ibu kandung yang melahirkanmu ke dunia ini, melainkan wanita yang dahulu merebutmu dari rahim istri pertamaku yang sah.”
“Indah yang selama ini kamu anggap sahabat karib… sesungguhnya adalah saudara kembar kandungmu sendiri yang dipisahkan sejak bayi demi menyelamatkan nyawanya dari keserakahan Sumiati.”
“Dan Rizky… suami tercintamu ini… adalah pria pilihan Bapak delapan tahun lalu yang sengaja Bapak utus untuk masuk ke dalam hidupmu demi melindungimu dari jeratan kejahatan keluarga itu.”
