AKU KIRA CUMA TERSESAT DI HUTAN 3 HARI – TAPI PAS PULANG AKU LANGSUNG TERPAKU LIHAT PULUHAN WARGA DUDUK DI DEPAN RUMAHKU GELAR TAHLILAN, IBuku JATUHKAN GELAS BEGITU LIHAT AKU BERDIRI DI GERBANG
Namaku Raka Prasetyo.
Aku tinggal di sebuah desa kecil di pinggiran Wonosari, dekat Yogyakarta. Hidupku biasa saja.
Hari itu, Kamis sore, aku masuk ke hutan jati belakang desa. Cuma mau ambil parang titipan Ayah yang ketinggalan di gubuk ladang. Jalan itu sudah puluhan kali kulewati sejak kecil. Aku hafal setiap belokan, setiap pohon besar.
Aku berangkat jam 4 sore. Kupikir 30 menit pulang pergi selesai.
Tapi sore itu semuanya berubah.
Baru 15 menit masuk, kabut putih tebal datang sangat cepat. Padahal musim kemarau. Kabut itu aneh, dingin.
Jalan setapak yang biasanya jelas, tiba-tiba hilang. Pohon-pohon terlihat sama semua.
Aku jalan hampir satu jam, dengan napas ngos-ngosan. Anehnya, aku kembali lagi ke pohon beringin besar yang sama. Pohon yang ada akar gantungnya. Aku sudah tiga kali lewat pohon itu.
Aku coba ambil arah lain, ke kiri. Tetap saja, 20 menit kemudian aku kembali ke pohon beringin yang sama.
Ponselku tidak ada sinyal sama sekali. Blank.
Aku lihat jam tangan mekanik pemberian Kakek, jam yang tidak pernah rusak. Jarumnya berhenti tepat di pukul 17.17. Tidak bergerak lagi.
Aku mulai panik.
Malam pertama aku terpaksa tidur di sebuah gubuk kosong yang atapnya bocor. Dingin sekali. Aku dengar suara-suara aneh seperti ada yang manggil namaku pelan-pelan dari jauh, “Raka… Raka…” Tapi aku ingat pesan Ibu, jangan jawab kalau di hutan ada yang manggil.
Keesokan paginya, hari kedua, seorang pria tua datang. Pakai baju lurik cokelat, celana hitam, bawa obor kecil padahal sudah pagi. Wajahnya keriput tapi matanya tajam.
Dia tanya pelan,
“Kamu Raka, cucunya Pak Surya Prasetyo?”
Aku langsung terpaku. Badanku merinding.
“Bapak kenal Kakek saya?”
Dia hanya tersenyum tipis, tidak jawab. Dia kasih aku sebotol air minum dari bambu dan sepotong singkong rebus.
“Cari tiga batang bambu yang tumbuh berdekatan jadi satu rumpun. Ikuti jalan di sebelahnya lurus terus. Tapi ingat satu hal, jangan pernah menoleh ke belakang kalau mendengar namamu dipanggil, meskipun suaranya mirip Ibu atau Ayahmu.”
Aku angguk. Aku ikuti perkataannya.

Aku jalan terus, tidak berani noleh.
Pada hari ketiga, menurut hitunganku, aku melihat cahaya matahari terang di kejauhan. Aku berlari. Jalan desa akhirnya terlihat! Aku berhasil keluar!
Kupikir semuanya sudah selesai. Cuma 3 hari hilang, paling Ibu marah-marah sedikit.
Tapi begitu aku belok ke gang rumahku… langkahku berhenti total.
Di depan rumahku… ramai sekali.
Puluhan warga duduk bersila di halaman. Ada tikar panjang. Ada tenda. Terdengar suara doa tahlilan pelan.
Ibuku, Bu Ratna, duduk di tengah-tengah, pakai kerudung hitam, wajahnya sembab.
Di atas meja kecil di depan Ibu, ada bingkai fotoku. Foto wisudaku.
Aku langsung terpaku di gerbang. Mulutku kering.
Aku panggil pelan, “Ibu?”
Bu Ratna mengangkat kepala. Begitu melihatku berdiri di gerbang dengan baju kotor penuh tanah, gelas teh di tangannya jatuh dan pecah.
Prang!
Seluruh halaman yang tadinya ramai doa, langsung sunyi senyap. Semua orang menoleh ke arahku.
Seorang tetangga dekat, Pak RT, berdiri dengan suara gemetar,
“Raka…? Raka Prasetyo? Kamu… kamu pulang?”
Aku bingung, “Iya Pak, aku baru 3 hari di hutan…”
Pak RT jawab dengan suara pelan tapi bikin bulu kudukku berdiri,
“Raka… kamu sudah hilang lebih dari 40 hari. Kami sudah cari kamu sampai ke hutan sebelah. Kami kira kamu…”
Aku hampir tidak percaya. 40 hari? Padahal di ingatanku cuma 3 hari 2 malam!
Aku langsung ditarik masuk ke dalam rumah. Ayahku, Pak Arman Prasetyo, langsung memelukku erat. Badannya gemetar.
Dia lihat pakaianku yang robek, tangan dan wajahku yang kotor, dan sepatuku yang hilang satu.
“Kamu tinggal di mana selama 40 hari, Le? Kamu makan apa?”
Aku jawab bingung, “Aku cuma 3 hari di hutan, Yah. Aku tidur di gubuk, ada kakek-kakek kasih air dan singkong.”
Tidak ada yang bicara. Semua warga saling pandang.
Aku keluarkan ponselku yang sudah lowbat. Tanggalnya memang sudah lewat 42 hari dari tanggal aku berangkat! Padahal rasanya baru 3 hari!
Aku tunjukkan jam mekanik di tanganku. Jarumnya masih berhenti di 17.17.
Ibu tanya dengan suara pelan, “Siapa yang bantu kamu pulang, Raka? Siapa kakek-kakek itu?”
Aku ceritakan semua. Pria tua baju cokelat, yang tahu nama Kakekku, yang kasih air bambu, yang kasih petunjuk tiga batang bambu.
Begitu aku sebut nama Pak Surya, Kakekku, wajah Ayah langsung berubah pucat.
Ayah tanya cepat, “Orang itu tahu nama Kakekmu? Dia sebut nama Surya?”
Aku angguk, “Iya Yah. Dia bilang ‘Cucunya Surya akhirnya datang’.”
Ayah tanpa bicara langsung masuk ke kamar belakang. Beberapa menit kemudian dia kembali bawa kotak kayu jati tua yang sudah berdebu. Kotak milik Kakek yang tidak pernah boleh dibuka sembarangan.
Di dalamnya ada foto-foto hitam-putih zaman dulu.
Ayah meletakkan satu foto di depanku di atas meja. Foto dua orang pemuda berdiri di depan hutan jati, tahun 1978.
Tanganku langsung dingin sedingin es.
Di foto itu ada Kakekku, Pak Surya, masih muda, gagah pakai ikat kepala.
Dan berdiri di sampingnya, merangkul bahunya… adalah pria berbaju cokelat yang menolongku di hutan! Wajahnya sama persis! Keriputnya, tahi lalat di pipinya, bahkan baju lurik cokelatnya sama!
Aku langsung teriak sambil tunjuk foto, “Ini orangnya! Ini yang kasih aku air! Pak baju cokelat ini!”
Ibu langsung menutup mulutnya, “Tidak mungkin, Raka…”
Aku bingung, “Kenapa tidak mungkin, Bu?”
Ayah membalik foto itu. Di belakangnya ada tulisan tangan Kakek dengan spidol:
“Wonosari, 1978 – Surya dan Darman, janji di batas hutan”
Nama pria itu: Pak Darman Santoso.
Aku tanya cepat, “Pak Darman tinggal di mana sekarang, Yah? Aku mau terima kasih!”
Suasana di ruang tamu langsung sunyi. Tidak ada yang jawab. Pak Hadi, tetua desa yang paling sepuh, hanya melihat Ayah dan menggeleng pelan.
Aku makin tidak tenang, “Pak Darman di mana?”
Ayah akhirnya bilang pelan, “Raka, dulu Pak Darman memang tinggal di gubuk dekat hutan itu. Dia penjaga hutan. Dia sahabat baik Kakekmu.”
Aku tanya, “Sekarang?”
Pak Hadi akhirnya buka suara dengan suara berat, “Pak Darman sudah lama tidak terlihat di desa ini, Le. Sudah puluhan tahun. Gubuknya sudah roboh. Warga sudah tidak pernah lihat dia lagi sejak tahun 80-an. Kakekmu yang terakhir lihat dia.”
Aku merinding. Tapi kalau sudah puluhan tahun tidak terlihat, bagaimana bisa dia kasih aku air 2 hari lalu? Wajahnya masih segar, masih kuat jalan?
Aku ceritakan lagi lebih detail, “Tapi dia tahu namaku Yah! Dia bilang ‘Cucunya Surya akhirnya datang’ seolah dia sudah menunggu aku lama!”
Ayah langsung berdiri, matanya membesar, “Dia benar-benar bilang begitu? ‘Akhirnya datang’?”
Aku angguk.
Ayah buru-buru membuka bagian dasar kotak kayu yang ada tutup rahasianya. Di sana ada sebuah amplop coklat yang sudah sangat kuning, disegel.
Di depannya tertulis dengan tulisan tangan Kakek yang sangat aku hafal:
“BERIKAN KEPADA RAKA HANYA JIKA SUATU HARI DIA PULANG DARI HUTAN SETELAH WARGA BERHENTI MENCARINYA – LEBIH DARI 30 HARI HILANG”
Aku langsung terpaku. Kakek tulis ini untukku? Padahal Kakek sudah berpulang 10 tahun lalu, saat aku masih SD!
“Kakek tulis ini untukku, Yah?”
Ayah mengangguk dengan mata berkaca-kaca, “Kakek titip kotak ini ke Ayah sebelum berpulang. Dia bilang, ‘Man, simpan. Suatu hari cucu kita akan masuk ke hutan itu, dan dia akan pulang dengan cara yang aneh. Kalau hari itu datang, kasih surat ini ke dia’.”
Tanganku gemetar buka surat itu.
Baris pertama bikin napasku berhenti:
“Raka, cucuku. Kalau kamu baca ini, berarti Darman sudah memenuhi janjinya kepadaku setelah 45 tahun.”
Aku lanjut baca surat Kakek dengan tangan gemetar, disaksikan Ayah, Ibu, dan Pak Hadi.
“Tahun 1978, Kakek juga pernah tersesat di hutan yang sama seperti kamu. 3 hari di hutan, 30 hari di desa. Waktu berputar berbeda di dalam sana. Kakek juga kembali ke pohon beringin yang sama terus-menerus. Kakek hampir putus asa.”
“Waktu itu yang menolong Kakek adalah Darman Santoso. Dia bukan orang biasa. Dia penjaga batas hutan. Dia tunjukkan jalan tiga bambu itu ke Kakek. Sebelum berpisah, kami membuat janji di bawah pohon beringin besar itu tepat jam 17.17 sore.”
“Janjinya: Jika suatu hari nanti ada darah daging keluarga Prasetyo yang masuk dan tersesat di hutan itu lagi, Darman harus menunggu dan membantu dia pulang, bagaimanapun caranya, bahkan jika harus menunggu puluhan tahun. Karena hutan itu hanya akan melepaskan keluarga kita kalau ada penjaganya yang mengantar.”
“Sebagai gantinya, Kakek janji akan menjaga gubuk Darman dan tidak akan biarkan hutan itu ditebang. Dan Kakek janji akan ceritakan kisah Darman ke anak cucunya agar tidak dilupakan.”
“Raka, jam di tanganmu yang berhenti di 17.17 itu adalah jam milik Darman dulu. Kakek tukar dengan jam Kakek. Jam itu akan berhenti saat kamu masuk ke wilayahnya, sebagai tanda kamu sudah masuk ke waktunya Darman, bukan waktu kita. Makanya kamu merasa cuma 3 hari, tapi di desa sudah 40 hari.”
“Jangan takut sama Darman, Le. Dia sudah menunggu kamu lama. Dia tahu kamu akan datang karena Kakek pernah bilang, ‘Cucuku Raka, yang paling suka main di hutan, pasti suatu hari akan kesana’.”
Aku nangis membaca surat itu. Ayahku juga nangis. Ibu memelukku erat.
Jadi Pak Darman itu bukan sosok menyeramkan. Dia adalah sahabat Kakek yang menepati janji selama 45 tahun! Dia menunggu di dalam hutan itu hanya untuk menolongku, cucu dari sahabatnya! Dia ingat janjinya di jam 17.17 sore 45 tahun lalu.
Ayah lalu membuka halaman terakhir surat Kakek. Di sana ada satu nama lain yang masih tertutup lipatan kecil.
Aku tanya, “Siapa lagi, Yah?”
Ayah buka lipatan itu. Di sana tertulis:
“NAMA PENJAGA SELANJUTNYA SETELAH DARMAN: RAKA PRASETYO – CUCU SURYA”
Aku terpaku.
Di bawahnya Kakek tulis,
“Raka, setelah kamu pulang, tugas Darman selesai. Sekarang hutan itu butuh penjaga baru yang berhati baik. Bukan untuk menakuti orang, tapi untuk membantu orang yang tersesat seperti kamu dan Kakek dulu. Kamu tidak harus tinggal di hutan. Cukup jaga agar hutan itu tidak dirusak, jangan biarkan orang tebang pohon sembarangan. Kalau kamu jaga hutannya, hutan akan jaga desamu. Janji ini turun temurun.”
Malam itu tahlilan yang tadinya untukku yang dikira sudah tidak ada, berubah jadi syukuran kepulanganku. Warga menangis haru.
Jam tanganku yang berhenti di 17.17 akhirnya berdetak lagi tepat jam 12 malam, setelah aku berjanji dalam hati akan jaga hutan itu.
Keesokan harinya aku, Ayah, dan Pak Hadi kembali ke hutan. Kami cari gubuk Pak Darman. Gubuknya memang sudah roboh, tertutup semak. Tapi di depan gubuk itu ada tiga batang bambu yang tumbuh berdekatan, masih segar. Dan di bawahnya ada botol bambu bekas tempat air yang diberikan kepadaku 3 hari lalu.
Pak Darman sudah tidak ada di sana lagi. Tapi janjinya sudah lunas.
Sekarang setiap bulan aku dan karang taruna desa bersih-bersih hutan jati itu. Kami pasang papan larangan tebang liar. Dan anehnya, sejak itu tidak ada lagi warga yang tersesat sampai 40 hari. Kalau ada yang tersesat, paling 2 jam sudah ketemu lagi di dekat pohon beringin.
Pesan dari 3 hari yang terasa 40 hari itu: Di setiap hutan, di setiap desa, selalu ada janji baik antara manusia yang dijaga sampai puluhan tahun. Janji itulah yang membuat seorang kakek rela menunggu di dalam kabut selama 45 tahun hanya untuk menolong cucu dari sahabatnya. Hutan tidak menyeramkan, yang menyeramkan adalah kalau kita lupa janji untuk menjaganya.
Jam 17.17 bukan jam mistis. Itu adalah jam di mana sebuah janji dibuat, dan sebuah janji ditepati.
Pernahkah kamu atau keluargamu mengalami kejadian aneh seperti tersesat di hutan atau di tempat yang sudah sangat hafal, merasa cuma sebentar tapi ternyata sudah berhari-hari? Atau pernahkah kamu mendengar kisah tentang penjaga hutan atau orang yang menepati janji puluhan tahun seperti Pak Darman? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar ya, mari kita bahas bersama!

