AKU DIUSIR DARI RUMAHKU SENDIRI DEMI IBU MERTUA, SAAT SUAMIKU MEMBELA MEREKA, AKU MENGUNCI REKENING DAN MEMBUKA SEMUA RAHASIA KELUARGANYA DI DEPAN KELUARGA BESAR MEREKA

 

 

BAGIAN 1

“Ibu pindah hari Sabtu. Ruang kerja kamu jadi kamarnya. Aku tidak mau ada perdebatan.”

Tanganku berhenti saat hendak mengangkat cangkir kopi.

Aku menatap layar ponsel.

“Siapa yang memutuskan?”

“Sudah dibicarakan.”

“Dibicarakan oleh siapa?”

Raka diam sebentar.

“Ibu, Nita, dan aku.”

Aku tertawa pendek karena tidak percaya.

“Jadi tiga orang memutuskan siapa yang boleh tinggal di rumahku, lalu pemilik rumah diberi tahu belakangan?”

“Jangan mulai, Dinda.”

“Raka, ini rumahku.”

“Ibu cuma butuh tempat tinggal.”

“Itu bukan jawabanku.”

Nada suaranya langsung berubah.

“Kamu selalu membuat semuanya soal uang dan kepemilikan.”

Aku menahan napas.

“Aku membuatnya soal izin.”

“Aku sedang kerja. Kita bahas nanti.”

Telepon ditutup.

Aku berdiri beberapa detik di dapur.

Rumah dua lantai di Alam Sutera itu kubeli sebelum menikah.

Bukan hadiah pernikahan.

Bukan hasil cicilan bersama.

Aku membelinya dari tabungan dan bagian warisan keluarga yang kuterima bertahun-tahun sebelum mengenal Raka.

Sebelum menikah, kami juga menandatangani perjanjian pisah harta.

Raka tahu semuanya.

Keluarganya tidak.

Selama bertahun-tahun mereka selalu menyebut rumah ini “rumah Raka”.

Aku tidak pernah mengoreksi.

Dulu aku pikir itu hal kecil.

Hari itu aku baru mengerti bahwa kebohongan yang dibiarkan terlalu lama akhirnya dianggap sebagai hak.

Sabtu sore pukul 18.10, suara kendaraan berhenti di depan pagar.

Aku melihat dari jendela.

Sebuah pikap putih.

Bu Sari turun lebih dulu.

Setelah itu Nita.

Aku melihat empat koper, beberapa dus, televisi, mesin kopi, pot tanaman, dua kursi lipat, dan sangkar burung yang ditutup kain.

Aku langsung tahu satu hal.

Ini bukan rencana tinggal beberapa hari.

Bel berbunyi berkali-kali.

“Dinda!”

Suara Bu Sari terdengar dari luar.

“Buka pintunya. Ibu capek.”

Aku membuka jendela sedikit.

“Ibu boleh masuk sendiri untuk bicara. Barangnya tunggu sampai Raka pulang.”

Bu Sari langsung menatapku tajam.

“Maksud kamu apa?”

“Kita bicara dulu.”

“Mau bicara apa? Ini rumah anak saya.”

Aku tidak menjawab cepat.

Selama tujuh tahun, kalimat itu berkali-kali kudengar.

Kali ini aku tidak membiarkannya lewat.

“Rumah ini bukan milik Raka, Bu.”

Nita langsung mengeluarkan ponselnya.

“Apa?”

“Rumah ini milikku.”

Bu Sari tertawa.

“Jangan lucu. Raka bilang dia sudah punya rumah sebelum kalian menikah.”

Aku merasa sesuatu di dalam diriku langsung jatuh.

Jadi ternyata Raka pernah mengatakan sesuatu.

Bukan sekadar membiarkan mereka salah paham.

Aku membuka pintu sedikit, tapi rantai pengaman tetap terpasang.

“Raka bilang begitu?”

Bu Sari menunjuk rumahku.

“Bertahun-tahun dia bilang ini rumahnya.”

Nita mengangkat ponselnya ke arahku.

“Ulangi tadi. Biar semua keluarga dengar.”

Aku melihat kamera.

“Turunkan ponselnya.”

“Takut?”

“Tidak. Aku tidak memberi izin kamu merekam dari dalam area rumahku.”

Bu Sari mulai mengetuk pintu lebih keras.

“Tega sekali sama orang tua.”

Aku mundur.

Beberapa menit kemudian, aku mendengar mereka menelepon seseorang.

Dua puluh menit setelah itu, sebuah mobil patroli datang.

Aku benar-benar tidak menyangka Bu Sari akan menghubungi petugas hanya karena aku tidak mengizinkan barang-barangnya masuk.

Dua petugas berbicara dengan Bu Sari dan Nita.

Aku keluar ke teras.

Salah satu petugas bertanya dengan tenang,

“Siapa pemilik rumah berdasarkan dokumen?”

Bu Sari langsung menunjuk jalan.

“Anak saya. Dia sedang pulang.”

Tepat saat itu mobil Raka masuk ke kompleks.

Wajahnya berubah begitu melihat pikap, Bu Sari, Nita, dan dua petugas di depan rumah.

Dia turun cepat.

“Ini ada apa?”

Bu Sari mendekatinya.

“Bilang ke mereka rumah ini punya kamu.”

Aku menatap Raka.

Petugas juga menatapnya.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Untuk pertama kalinya, suamiku tidak bisa menghindar dengan kalimat setengah benar.

“Pak,” kata petugas, “kami hanya perlu memastikan kepemilikan rumah.”

Raka menelan ludah.

Bu Sari masih menunggu.

Akhirnya dia berkata pelan,

“Rumah ini atas nama Dinda.”

Bu Sari tidak bergerak.

“Apa?”

“Dinda beli sebelum kami menikah.”

“Lalu kenapa selama ini kamu bilang rumah ini milikmu?”

“Aku tidak pernah bilang persis begitu.”

Aku langsung menoleh kepadanya.

Itu kalimat yang membuat semuanya terasa jelas.

Raka tidak merasa bersalah karena menurutnya dia tidak pernah berbohong dengan kalimat lengkap.

Dia hanya membentuk cerita yang menguntungkannya.

Petugas menjelaskan bahwa tidak ada orang yang bisa pindah masuk tanpa izin pemilik.

Bu Sari memandangku lama.

Lalu kepada Raka.

“Kamu mempermalukan Ibu.”

Aku hampir menjawab, tapi memilih diam.

Barang-barang dimasukkan kembali ke pikap.

Nita berhenti merekam.

Entah karena panik atau kesal, mereka meninggalkan satu sangkar burung di dekat teras.

Saat pikap bergerak, burung beo dari balik kain tiba-tiba berseru,

“Bayar! Bayar!”

Aku tidak tahu kenapa, tapi untuk pertama kalinya malam itu aku hampir tertawa.

Raka tidak.

Malam itu dia tidur di kamar tamu.

Aku tidak bisa tidur.

Sekitar pukul 23.40 aku membuka aplikasi bank.

Beberapa bulan terakhir aku memang jarang memeriksa kartu tambahan yang dipakai Raka.

Kami mempunyai pengaturan sederhana.

Pendapatannya masuk ke rekening pribadinya.

Pendapatanku masuk ke rekeningku.

Untuk pengeluaran rumah, kami punya rekening bersama.

Tapi sejak dua tahun lalu, aku memberinya satu kartu tambahan dari rekening pribadiku untuk keadaan tertentu.

Aku mempercayainya.

Kesalahan terbesar bukan memberi akses.

Kesalahanku adalah berhenti memeriksa.

Aku membuka riwayat dua puluh bulan terakhir.

Restoran.

Hotel.

Toko elektronik.

Perbaikan rumah Bu Sari.

Pembayaran cicilan mobil Nita.

Transfer rutin.

Ada nominal Rp15 juta.

Rp22 juta.

Rp38 juta.

Lalu beberapa transaksi jauh lebih besar.

Aku mengambil kalkulator.

Tanganku mulai dingin.

Totalnya hampir Rp1,5 miliar.

Aku duduk di ujung tempat tidur.

Aku belum selesai.

Ada satu transfer pada tiga bulan sebelumnya sebesar Rp420 juta.

Penerimanya sebuah rekening perusahaan.

PT Cakra Properti Nusantara.

Keterangan transaksi:

UANG MUKA UNIT A-17 — ATAS NAMA RAKA PRADANA & SARI WULANDARI.

Aku membaca baris itu tiga kali.

Raka bukan sekadar memakai uangku untuk membantu ibunya.

Dia membeli sesuatu.

Dan nama ibunya tercantum bersama namanya.

Aku membuka transaksi berikutnya.

Rp85 juta.

Keterangan:

PELUNASAN BIAYA PENGIKATAN.

Saat itu pintu kamar terbuka.

Raka berdiri di sana.

Matanya langsung jatuh pada layar laptopku.

Wajahnya berubah.

Aku menatapnya.

“Unit A-17 itu apa?”

Dia tidak menjawab.

“Raka.”

Dia menutup pintu perlahan.

Lalu berkata,

“Kamu jangan mengambil keputusan sebelum aku jelaskan.”

Aku berdiri.

“Keputusan apa?”

Dia menarik napas.

“Rumah untuk Ibu.”

Aku belum sempat berkata apa-apa ketika ponselnya berbunyi.

Satu pesan muncul di layar yang masih menyala di tangannya.

Aku bisa melihat nama pengirimnya.

Nita.

Pesannya hanya satu kalimat.

Mas, kalau Dinda sudah tahu soal rumah itu, pastikan dia jangan sampai melihat dokumen perusahaan.

Aku menatap Raka.

“Dokumen perusahaan apa?”

Dan untuk pertama kalinya malam itu, suamiku benar-benar kehilangan kata-kata.

Bersambung…

BAGIAN 2

Raka langsung membalik ponselnya.

Terlambat.

Aku sudah membaca pesan itu.

“Dokumen perusahaan apa?”

“Tidak ada.”

Aku mengangguk pelan.

“Baik.”

Aku kembali duduk.

Sikapku justru membuat Raka gugup.

Dia berdiri dekat pintu beberapa detik.

“Dinda, dengarkan dulu.”

“Aku sedang mendengarkan.”

“Unit itu memang aku beli untuk Ibu.”

“Pakai uang siapa?”

Dia tidak menjawab.

Aku memutar laptop ke arahnya.

“Rp420 juta.”

Diam.

“Lalu Rp85 juta.”

Dia mengusap wajah.

“Aku niat ganti.”

“Dari mana?”

“Bonus tahunan.”

“Bonus tahunanmu tahun lalu Rp46 juta.”

Raka langsung menatapku.

Aku tahu penghasilannya.

Aku tahu bonusnya.

Aku juga tahu utang kendaraannya.

Selama bertahun-tahun aku sengaja tidak pernah memakai perbedaan penghasilan kami untuk merendahkannya.

Tapi sekarang justru data itu yang membuat kebohongannya mudah terlihat.

“Aku punya rencana.”

“Rencana yang tidak melibatkan izin pemilik uang?”

“Jangan bicara seolah aku orang asing.”

“Kamu suamiku. Justru itu masalahnya.”

Raka menarik kursi.

“Dinda, Ibu sudah tua.”

“Jangan pindahkan topik.”

“Aku cuma ingin memastikan dia punya tempat.”

“Dengan mengambil hampir setengah miliar dari rekeningku?”

Dia mulai bicara lebih cepat.

“Nanti rumah itu jadi aset.”

“Atas nama kamu dan ibumu.”

Raka diam.

Aku menunjuk ponselnya.

“Sekarang soal dokumen perusahaan.”

“Cuma urusan bisnis Nita.”

“Kenapa aku tidak boleh melihat?”

“Karena tidak ada hubungannya sama kamu.”

Aku hampir tertawa.

“Kalau dibayar memakai uangku, ada hubungannya denganku.”

Dia berdiri lagi.

“Kamu terlalu emosi.”

“Aku belum melakukan apa-apa.”

“Justru itu. Kamu pasti mau menghukum semua orang.”

Aku menatapnya.

“Aku mau mengunci kartu tambahanmu.”

Wajahnya berubah.

“Jangan.”

Aku membuka aplikasi.

Raka maju satu langkah.

“Dinda.”

Aku menekan menu pengelolaan kartu.

“Jangan sekarang.”

Aku membekukan kartu itu.

Lalu aku mengubah batas transaksi rekening.

Setelah itu aku mengganti akses aplikasi yang pernah tersimpan di tablet bersama.

Raka berdiri diam.

“Kamu serius?”

“Aku baru menemukan hampir Rp1,5 miliar transaksi yang tidak pernah aku setujui.”

“Itu bukan semuanya untuk aku.”

“Kalimat itu tidak membantu.”

Dia mulai berjalan bolak-balik.

“Aku bisa jelaskan satu-satu.”

“Besok.”

“Kenapa besok?”

“Karena malam ini aku tidak percaya penjelasanmu.”

Aku menutup laptop.

“Aku butuh dokumen.”

“Dokumen apa?”

“Semua.”

Raka tertawa tidak nyaman.

“Ini rumah tangga, Din. Bukan audit.”

Aku menatapnya.

“Aku manajer keuangan. Kalau kamu tidak mau diaudit, seharusnya jangan memakai rekeningku seperti kas keluarga.”

Dia keluar tanpa menjawab.

Begitu pintu tertutup, aku langsung mengirim pesan kepada bank untuk meminta detail transaksi dan menonaktifkan seluruh akses tambahan.

Aku juga membuka email lama.

Aku mencari kata “A-17”.

Tidak ada.

Aku mencari nama perusahaan.

Ada satu hasil.

Email otomatis enam bulan lalu.

Terima kasih telah menggunakan alamat email ini sebagai kontak alternatif untuk proses verifikasi PT Cakra Properti Nusantara.

Aku tidak pernah mendaftar.

Aku membuka lampiran.

Dokumennya terkunci.

Aku mencoba tanggal lahir Raka.

Salah.

Nomor ponselnya.

Salah.

Lalu aku mencoba tanggal lahir Bu Sari.

Terbuka.

Aku langsung duduk tegak.

Ada formulir pemesanan sebuah rumah tipe 90 di kawasan Bintaro.

Harga Rp2,8 miliar.

Nama pembeli pertama: Raka Pradana.

Nama pembeli kedua: Sari Wulandari.

Sumber dana awal tercantum:

Dana pribadi pembeli pertama.

Aku menatap kalimat itu.

Dana pribadi.

Padahal uang muka berasal dari rekeningku.

Aku terus membaca.

Ada dokumen berikutnya.

Fotokopi KTP.

Data pekerjaan Raka.

Lalu sebuah surat pernyataan.

Di bagian bawah ada tandatangan.

Namaku tercantum sebagai pasangan.

Dinda Maharani.

Aku tidak pernah menandatangani surat itu.

Aku memperbesar gambar.

Tandatangannya mirip.

Tapi bukan punyaku.

Malam itu aku tidak membangunkan Raka.

Aku juga tidak menghubungi keluarganya.

Aku mengirim seluruh dokumen ke email kerja pribadiku dan menyimpan salinannya di penyimpanan terpisah.

Paginya aku menelepon notaris yang dulu membantu perjanjian pisah harta kami.

Namanya Pak Adrian.

Aku hanya menjelaskan fakta.

Dia tidak banyak bicara.

“Jangan tandatangani apa pun dulu.”

“Saya tidak akan.”

“Dan jangan serahkan dokumen asli perjanjian pisah harta kepada siapa pun.”

“Baik.”

“Apakah suami Ibu pernah meminta salinannya?”

Aku terdiam.

“Sekitar dua tahun lalu. Katanya untuk pengajuan visa.”

Pak Adrian langsung bertanya,

“Ibu memberikan?”

“Scan.”

“Hanya scan?”

“Iya.”

Ada jeda.

“Bawa semua dokumen yang Ibu temukan.”

Siang itu aku mengambil cuti.

Raka menelepon sembilan kali.

Aku tidak menjawab.

Nita mengirim pesan.

Mbak, jangan bikin masalah makin besar. Mas Raka cuma membantu Ibu.

Aku membaca tanpa membalas.

Lalu Bu Sari mengirim pesan suara.

Aku tidak membukanya.

Pukul 14.00 aku sudah duduk di kantor Pak Adrian di Jakarta Selatan.

Dia membaca dokumen rumah A-17 cukup lama.

Kemudian dia menatapku.

“Yang ini bukan tandatangan Ibu?”

“Bukan.”

“Yang ini?”

Dia membuka halaman lain.

Aku merasa perutku langsung tidak nyaman.

Ada salinan perjanjian pisah harta kami.

Di bawahnya tercantum sebuah lembar tambahan.

Judulnya:

PERNYATAAN PERSETUJUAN PENGGUNAAN DANA KELUARGA.

Isinya menyatakan bahwa aku memberi izin kepada Raka menggunakan dana dari rekening tertentu untuk kepentingan investasi keluarga.

Di bagian bawah ada namaku.

Dan lagi-lagi tandatangan yang bukan milikku.

“Aku tidak pernah melihat ini.”

Pak Adrian menggeser dokumen.

“Yang membuat saya khawatir bukan hanya tandatangannya.”

Dia menunjuk nomor akta.

Nomornya memakai format kantornya.

Tapi satu digit salah.

“Dokumen ini dibuat agar terlihat seolah berasal dari kantor saya.”

Aku tidak langsung bicara.

Aku hanya menatap halaman itu.

Satu pikiran muncul.

Kalau dokumen palsu ini sudah dipakai untuk pembelian rumah, mungkin ada penggunaan lain.

“Pak, bisa cari tahu apakah ada dokumen lain memakai nama saya?”

“Bisa kita mulai dari pihak properti dan bank.”

Aku mengangguk.

“Lakukan.”

Sore itu aku pulang sekitar pukul 18.30.

Ada tiga mobil di depan rumah.

Aku mengenali satu mobil milik Bu Sari.

Satu milik Nita.

Satu lagi milik Om Bambang, kakak Bu Sari.

Begitu masuk, aku mendengar suara dari ruang makan.

Ternyata Raka mengundang keluarga.

Tanpa izin lagi.

Bu Sari duduk di tengah.

Nita di sebelahnya.

Ada Om Bambang, Tante Mira, dua sepupu Raka, dan seorang paman lain.

Total sembilan orang.

Raka berdiri.

“Kita selesaikan sekarang.”

Aku meletakkan tas.

“Selesaikan apa?”

Bu Sari langsung bicara.

“Masalah kamu sama keluarga.”

“Aku tidak punya masalah dengan keluarga.”

“Kamu mempermalukan Ibu di depan petugas.”

“Aku tidak menelepon mereka.”

Nita menyela.

“Mbak bisa saja buka pintu.”

Aku melihatnya.

“Lalu kalian pindah masuk ke rumahku tanpa persetujuanku?”

“Mbak selalu bilang rumahku, rumahku.”

Aku menarik kursi.

“Karena memang rumahku.”

Bu Sari menepuk meja.

“Lihat cara dia bicara!”

Raka menghela napas.

“Dinda, cukup.”

Aku menatap suamiku.

“Kamu yang mengumpulkan mereka?”

“Aku mau ada saksi.”

“Saksi untuk apa?”

“Supaya nanti kamu tidak mengubah cerita.”

Kalimat itu membuatku diam sebentar.

Lalu aku mengangguk.

“Bagus.”

Raka terlihat bingung.

“Apa?”

“Aku juga suka ada saksi.”

Aku membuka tas.

Raka langsung memandang map biru di tanganku.

Bu Sari berkata,

“Ibu cuma mau satu hal. Kamu hormati suami.”

Aku duduk.

“Bu, saya mau bertanya.”

“Apa?”

“Apakah Ibu tahu rumah A-17 harganya Rp2,8 miliar?”

Wajah Bu Sari berubah sedikit.

Raka langsung memotong.

“Dinda.”

Aku mengangkat tangan.

“Aku bertanya ke Ibu.”

Bu Sari mengencangkan bibir.

“Itu urusan Raka.”

“Jadi Ibu tahu?”

Dia tidak menjawab.

Aku membuka salinan formulir.

“Nama Ibu ada di sini.”

Om Bambang langsung menoleh.

“Rumah apa?”

Bu Sari menjawab cepat,

“Raka belikan rumah untuk saya. Salah?”

Aku melihat Raka.

“Tidak salah kalau pakai uang sendiri.”

Ruangan langsung lebih tenang.

Aku mengeluarkan lembar transaksi.

“Uang muka Rp420 juta berasal dari rekening pribadiku.”

Nita memalingkan wajah.

“Biaya berikutnya Rp85 juta juga dari rekeningku.”

Bu Sari menatap Raka.

“Kamu bilang itu uang investasimu.”

Raka langsung berkata,

“Memang akan aku kembalikan.”

Aku mengeluarkan lembar berikutnya.

“Selama dua puluh bulan, total transaksi yang dilakukan melalui kartu tambahan dan transfer terkait keluargamu hampir Rp1,5 miliar.”

Tante Mira terlihat kaget.

“Sebanyak itu?”

Nita berdiri.

“Ini urusan suami istri.”

Aku menatapnya.

“Rp260 juta dari jumlah itu masuk ke rekeningmu.”

Nita berhenti.

Semua mata beralih kepadanya.

“Mbak jangan asal.”

Aku meletakkan cetakan transaksi di meja.

“Cicilan mobil. Renovasi salon. Tagihan kartu. Transfer tunai.”

Nita tidak duduk.

Bu Sari berkata,

“Kalau Raka bantu adiknya, memang kenapa?”

“Karena uangnya bukan milik Raka.”

“Apa bedanya? Kalian suami istri.”

Aku membuka map lain.

“Bedanya ada di dokumen ini.”

Aku meletakkan salinan perjanjian pisah harta.

Raka langsung berkata,

“Semua orang tidak perlu lihat.”

“Kenapa?”

“Privasi kita.”

Aku menatap seluruh meja.

“Kemarin rumahku dibawa ke depan keluarga. Hari ini rekeningku juga sudah dibahas. Jadi mari kita selesaikan dengan fakta.”

Om Bambang membaca dokumen itu.

“Berarti aset masing-masing memang terpisah?”

“Iya.”

Bu Sari langsung melihat Raka.

“Kamu tidak pernah bilang.”

Raka mulai terlihat kesal.

“Karena tidak penting.”

Aku mengeluarkan satu dokumen terakhir.

“Kalau tidak penting, kenapa ada yang membuat dokumen tambahan palsu?”

Raka tidak bergerak.

Nita perlahan duduk.

Aku meletakkan surat persetujuan penggunaan dana di atas meja.

“Aku tidak pernah menandatangani ini.”

Raka berkata cepat,

“Itu cuma administrasi.”

Aku menatapnya.

“Administrasi?”

“Pihak properti butuh dokumen.”

“Jadi siapa yang membuat tandatanganku?”

Dia diam.

Aku bertanya sekali lagi.

“Siapa?”

Bu Sari mulai terlihat panik.

“Raka?”

Raka membalas,

“Ibu jangan ikut.”

Aku tertawa pendek.

“Nama Ibu ada di transaksi setengah miliar. Ibu sudah ikut.”

Nita tiba-tiba berkata,

“Mas cuma ingin mempercepat proses.”

Aku langsung menoleh.

“Kamu tahu?”

Dia sadar sudah salah bicara.

Raka memejamkan mata sebentar.

Aku tidak perlu bertanya lagi.

“Nita tahu.”

“Aku cuma bantu urus dokumen,” katanya.

“Dokumen apa saja?”

“Cuma properti.”

“Yakin?”

Tidak ada jawaban.

Aku membuka laptop.

Raka langsung berdiri.

“Dinda, cukup.”

“Belum.”

“Jangan buka urusan bisnis di depan keluarga.”

Aku menatapnya.

“Jadi memang ada urusan bisnis.”

Om Bambang bersandar.

“Raka, sebenarnya apa yang terjadi?”

Raka menjawab,

“Tidak ada apa-apa. Dinda sedang marah.”

Aku membuka spreadsheet yang kubuat siang itu.

Satu per satu transaksi sudah kukategorikan.

Rumah Bu Sari.

Nita.

Properti.

Satu kategori lain belum kukenal.

PT Lintas Niaga Bersama.

Ada tujuh transfer.

Total Rp310 juta.

Aku menunjukkan layar.

“Perusahaan ini milik siapa?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku sudah mencari datanya sebelum pulang.

Aku lanjut sendiri.

“Direkturnya Nita.”

Tante Mira langsung menoleh kepadanya.

Nita tampak pucat.

Aku melihat Raka.

“Komisarisnya kamu.”

Bu Sari terlihat kebingungan.

“Perusahaan apa?”

Nita berkata,

“Cuma usaha kecil.”

Aku mengangguk.

“Usaha kecil yang menerima Rp310 juta dari rekeningku.”

Raka mengetuk meja.

“Itu investasi.”

“Di mana kontraknya?”

“Ada.”

“Di mana laporan keuangannya?”

Dia diam.

“Di mana bukti kepemilikanku sebagai orang yang uangnya dipakai?”

Tidak ada jawaban.

Aku sudah tahu jawabannya.

Tidak ada.

Aku menutup laptop.

“Mulai malam ini seluruh akses rekening sudah kubekukan.”

Bu Sari langsung berdiri.

“Kamu mau membuat suami sendiri tidak punya uang?”

Aku melihatnya.

“Raka punya gaji.”

“Dia punya cicilan!”

“Cicilan yang dia ambil sendiri.”

Nita ikut berdiri.

“Lalu usaha saya bagaimana?”

Aku menatapnya.

Untuk beberapa detik ruangan benar-benar hening.

Aku bertanya,

“Kenapa usaha kamu bergantung pada rekeningku?”

Nita langsung kehilangan suara.

Itu pertanyaan sederhana.

Tapi semua orang di meja akhirnya mulai melihat masalah yang sama.

Selama bertahun-tahun mereka mengira Raka yang membiayai banyak hal.

Rumah Bu Sari diperbaiki.

Mobil Nita dibayar.

Liburan keluarga dibantu.

Restoran saat ulang tahun.

Hadiah mahal.

Bahkan calon rumah baru.

Mereka mengira Raka sangat berhasil.

Padahal sebagian besar gaya hidup itu dibayar dari rekeningku.

Aku melihat wajah Om Bambang.

Dia seperti baru memahami sesuatu.

“Jadi selama ini kalau Raka bilang dia yang traktir keluarga…”

Aku menjawab,

“Banyak transaksi masuk kartu tambahan milikku.”

Raka langsung berkata,

“Jangan dibuat seolah semua dari kamu!”

“Aku tidak bilang semua.”

Aku menatapnya.

“Aku menunjukkan transaksi.”

Bu Sari mulai menangis.

“Kamu sengaja mau menghancurkan nama anak saya.”

Aku menarik napas.

“Bu, saya tidak membuat transaksi ini.”

“Kalau kamu istri yang baik, tidak perlu membuka semuanya.”

Kalimat itu justru membuatku semakin tenang.

“Kalau saya diam lagi, tahun depan mungkin bukan Rp1,5 miliar.”

Raka mendekat.

“Kita bicara berdua.”

“Tidak.”

“Dinda.”

“Kamu yang mengundang mereka sebagai saksi.”

Dia berhenti.

Aku menatap sembilan orang di ruang makan.

“Sekarang ada satu hal terakhir.”

Aku membuka email dari Pak Adrian.

Raka melihat nama pengirimnya.

Wajahnya langsung berubah.

Aku bertanya,

“Kamu pernah memakai scan perjanjian pisah harta kita untuk apa?”

“Tidak pernah.”

“Pikir lagi.”

“Tidak pernah.”

Aku memutar laptop.

“Pak Adrian menemukan dokumen tambahan yang menggunakan nomor akta kantornya, tapi nomor itu tidak valid.”

Om Bambang membaca dari layar.

Aku lanjut,

“Tandatanganku juga bukan milikku.”

Bu Sari memegang lengan Raka.

“Kamu buat?”

Raka menjawab,

“Bukan.”

Aku menatap Nita.

Dia langsung berkata,

“Jangan lihat aku.”

Aku belum menuduh.

Tapi reaksinya sudah cukup.

“Nita.”

“Aku cuma menerima file.”

“Dari siapa?”

Dia melihat Raka.

Raka langsung berkata,

“Diam.”

Semua orang mendengarnya.

Aku bersandar.

“Bagus.”

Raka menatapku tajam.

“Bagus apa?”

“Sekarang aku tahu ada hal yang kamu takut dia katakan.”

Om Bambang ikut bicara.

“Nita, jawab.”

Nita mulai menangis.

Bu Sari mendekat.

“Nak, bilang saja.”

Akhirnya Nita berkata pelan,

“Mas Raka bilang cuma dipakai sekali.”

Aku merasa tengkukku kaku.

“Dipakai untuk apa?”

“Pengajuan modal.”

Aku menatap Raka.

“Modal perusahaan?”

Nita mengangguk.

“Waktu itu perusahaan butuh bukti aset dan dukungan dana.”

Aku membuka lagi data PT Lintas Niaga Bersama.

“Perusahaan ini?”

“Iya.”

“Namaku dimasukkan?”

Nita diam.

“Nita.”

“Iya.”

Ruangan langsung gaduh.

Aku mengangkat suara sedikit.

“Sebagai apa?”

Nita menunduk.

“Pemodal.”

Aku membuka data legal perusahaan yang sudah kuunduh.

Namaku tidak tercantum.

“Aku bukan pemegang saham.”

“Bukan di akta.”

“Lalu di mana?”

“Di proposal ke investor.”

Raka langsung berkata,

“Cukup!”

Aku menatapnya.

Itu pertama kalinya malam itu dia terdengar benar-benar takut.

Aku memahami sesuatu.

Properti bukan masalah terbesarnya.

Bahkan Rp1,5 miliar mungkin bukan masalah terbesarnya.

Aku bertanya kepada Nita,

“Proposal apa?”

Dia menangis lebih keras.

Raka berjalan ke arahnya.

“Jangan jawab.”

Om Bambang berdiri menghalangi.

“Biarkan dia bicara.”

Nita akhirnya membuka tasnya.

Dia mengeluarkan tablet.

“Aku masih punya file lama.”

Raka berkata,

“Nita!”

Tapi tablet sudah berada di tanganku.

Ada folder bernama Investor Final.

Aku membukanya.

Halaman pertama membuat seluruh tubuhku kaku.

PROFIL PENDIRI DAN PENDUKUNG FINANSIAL

Foto Raka.

Foto Nita.

Dan fotoku.

Di bawah namaku tertulis:

Dinda Maharani — CFO & Strategic Investor.

Aku tidak pernah menjadi CFO perusahaan mereka.

Aku bahkan tidak tahu perusahaan itu ada sampai hari itu.

Aku geser ke halaman berikutnya.

Di sana tercantum nilai dukungan modal dariku:

Rp4.500.000.000.

Aku berhenti bernapas sesaat.

“Empat setengah miliar?”

Nita cepat berkata,

“Itu bukan uang yang sudah masuk.”

“Lalu apa?”

“Komitmen.”

“Komitmen siapa?”

Dia tidak bisa menjawab.

Aku menatap Raka.

“Kamu menjanjikan Rp4,5 miliar atas namaku?”

“Itu cuma proyeksi.”

“Kepada investor?”

Raka tidak menjawab.

Aku terus membuka.

Ternyata perusahaan mereka sedang mencoba menarik dana dari dua mitra bisnis.

Dalam proposal itu, rumahku di Alam Sutera juga ditampilkan sebagai salah satu bukti stabilitas finansial keluarga pendiri.

Ada foto rumahku.

Ada perkiraan nilai pasar.

Dan ada keterangan:

Aset keluarga pendiri — bebas sengketa.

Aku menutup tablet.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar marah.

Bukan karena mereka memakai fotoku.

Bukan karena Raka memamerkan rumahku.

Tapi karena sekarang aku paham alasan sebenarnya Bu Sari ingin pindah.

Aku menatap Raka.

“Ibumu pindah ke rumahku bukan cuma karena butuh tempat, kan?”

Tidak ada jawaban.

Aku memandang Bu Sari.

Dia terlihat bingung.

Aku kembali menatap Nita.

“Katakan.”

Nita menyeka wajahnya.

“Investor mau melakukan verifikasi alamat.”

Ruangan langsung sunyi.

Aku mulai memahami urutannya.

Jika Bu Sari tinggal di rumahku, mereka bisa membuat cerita bahwa rumah itu memang rumah keluarga Raka.

Kalau ada orang datang memeriksa, Bu Sari ada di sana.

Barang-barangnya ada di sana.

Keluarga bisa mengatakan Raka pemiliknya.

Aku menatap suamiku.

“Jadi itu alasan sebenarnya.”

Raka menjawab cepat,

“Tidak seperti itu.”

“Lalu seperti apa?”

“Investor cuma ingin melihat stabilitas keluarga.”

“Dan kamu mau memakai rumahku sebagai bukti.”

“Aku tidak berniat mengambil rumahnya.”

“Tidak perlu mengambil. Kamu cukup membuat orang lain percaya rumah itu bagian dari asetmu.”

Bu Sari menatap Raka.

“Kamu bilang Ibu pindah karena dekat rumah sakit.”

Raka tidak menjawab.

Saat itu Bu Sari terlihat sama terkejutnya denganku.

Aku sadar satu hal lagi.

Dia memang ikut menikmati kebohongan soal kepemilikan rumah.

Tapi rupanya Raka juga memakai ibunya sendiri sebagai bagian dari rencana bisnis.

Bu Sari duduk perlahan.

“Kamu manfaatkan Ibu?”

Raka mulai kehilangan kendali.

“Semua ini untuk keluarga!”

Aku menatapnya.

“Keluarga yang mana?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengambil tablet.

“Aku kirim file ini ke diriku.”

“Jangan.”

Raka mencoba mengambilnya.

Aku mundur.

Om Bambang langsung berdiri di antara kami.

“Sudah.”

Raka menatap pamannya.

“Om jangan ikut campur.”

Om Bambang menunjuk meja.

“Kamu yang undang kami.”

Kalimat itu langsung menghentikannya.

Aku mengirim folder itu ke emailku.

Lalu aku menyerahkan tablet kembali kepada Nita.

“Besok pagi, pengacaraku akan menghubungi pihak properti dan perusahaan.”

Raka langsung berkata,

“Jangan buat keputusan gegabah.”

“Aku sudah terlalu lama tidak membuat keputusan.”

“Kalau investor mundur, perusahaan bisa selesai.”

“Itu bukan perusahaan milikku.”

“Kamu tahu berapa orang bergantung pada usaha itu?”

Aku menatapnya.

“Berapa?”

Dia diam.

Nita menjawab pelan,

“Enam.”

“Enam karyawan?”

“Iya.”

“Lalu kenapa kalian mengajukan angka Rp4,5 miliar seolah sudah ada?”

Raka memukul telapak tangannya sendiri ke meja karena frustrasi.

“Kami butuh modal untuk berkembang!”

“Dengan memakai namaku tanpa izin?”

Dia tidak punya jawaban.

Aku menutup map.

“Raka, malam ini kamu keluar dari rumah.”

Bu Sari langsung berdiri.

“Dinda!”

Aku mengangkat tangan.

“Bu, ini rumah saya.”

Raka tertawa pendek.

“Kamu mengusir suamimu?”

“Aku meminta kamu tinggal di tempat lain sementara semua ini diperiksa.”

“Kalau aku tidak mau?”

Aku menatapnya.

“Jangan buat masalah yang seharusnya bisa selesai dengan tenang.”

Om Bambang langsung berkata,

“Raka, ikut Om.”

Raka terlihat tidak percaya.

“Om membela dia?”

“Saya membela fakta.”

Bu Sari menangis lagi.

Tapi kali ini bukan kepadaku.

Dia melihat Raka.

“Kamu bilang semua bantuan selama ini dari hasil kerja kamu.”

Raka diam.

“Kamu bilang rumah itu milikmu.”

“Aku—”

“Kamu bilang rumah baru juga kamu beli.”

Bu Sari berdiri.

“Ternyata semuanya pakai uang istrimu?”

Raka terlihat sangat malu.

Aku tidak merasa puas.

Aku justru merasa lelah.

Tujuh tahun aku menjaga harga dirinya.

Sekarang kebohongan itu runtuh bukan karena aku sengaja mempermalukannya, tetapi karena dia terus membutuhkan kebohongan yang lebih besar untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Malam itu Raka pergi bersama Om Bambang.

Nita membawa Bu Sari.

Sebelum keluar, Bu Sari berhenti di pintu.

Dia menatapku.

Aku tidak tahu apakah dia mau marah lagi.

Tapi dia hanya berkata,

“Rumah A-17 itu… Ibu tidak tahu uangnya dari kamu.”

Aku mengangguk.

“Saya percaya bagian itu.”

Dia terlihat kaget.

Aku lanjut,

“Tapi Ibu tahu rumah ini bukan milik Raka sejak kemarin. Dan hari ini Ibu masih datang dengan keluarga untuk memaksa saya menyerah.”

Bu Sari menunduk.

Aku tidak menambahkan apa pun.

Pintu kututup.

Besok paginya, aku pergi ke kantor bank bersama Pak Adrian.

Kami memeriksa seluruh akses rekening.

Di sanalah twist terakhir muncul.

Petugas bank menemukan satu pengajuan kredit bisnis yang masih dalam tahap verifikasi.

Nilainya Rp6 miliar.

Debitur:

PT Lintas Niaga Bersama.

Penjamin pribadi:

Raka Pradana.

Aku mengangguk.

Lalu petugas membuka halaman berikutnya.

Agunan tambahan yang dicantumkan:

Rumah tinggal di Alam Sutera.

Rumahku.

Aku langsung berkata,

“Saya tidak pernah menyetujui.”

Petugas mengangguk.

“Dokumen belum selesai diverifikasi karena ada ketidaksesuaian data.”

Aku menatap Pak Adrian.

Dia bertanya,

“Ketidaksesuaian apa?”

Petugas membuka berkas digital.

“Ada surat persetujuan pemilik aset.”

Namaku tercantum.

Tandatangannya sekali lagi bukan milikku.

Namun ada hal yang jauh lebih aneh.

Nomor KTP yang dicantumkan bukan nomor KTP-ku.

Aku mendekat.

“Ini nomor siapa?”

Petugas memeriksa data.

Lalu dia memandang kami.

“Nomor ini terdaftar atas nama Sari Wulandari.”

Aku membeku.

Bu Sari.

Aku langsung meneleponnya.

Dia menjawab setelah dua kali panggilan.

“Dinda?”

“Bu, saya mau tanya satu hal. Ibu pernah memberikan foto KTP kepada Raka untuk pengajuan kredit?”

“Iya.”

“Kapan?”

“Sekitar empat bulan lalu. Katanya untuk rumah baru.”

Aku menutup mata.

Semua potongan akhirnya cocok.

Raka tidak hanya menggunakan namaku.

Dia juga menggunakan identitas ibunya untuk melengkapi dokumen yang mencoba menghubungkan rumahku dengan keluarganya.

Bukan karena Bu Sari ikut merencanakannya.

Karena dia percaya anaknya.

Siang itu Raka datang ke kantor Pak Adrian.

Dia terlihat sangat lelah.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada Nita.

Tidak ada penonton.

Aku meletakkan salinan pengajuan kredit di depannya.

Dia melihat halaman pertama.

Lalu berhenti.

“Aku bisa jelaskan.”

Aku menggeleng.

“Tidak perlu cerita panjang. Aku cuma mau jawaban.”

Dia duduk.

“Kenapa?”

Raka lama tidak bicara.

Akhirnya dia berkata,

“Karena aku malu.”

Aku tidak menyangka jawaban itu.

Dia melanjutkan pelan.

“Semua orang mengira aku berhasil. Ibu bangga. Nita selalu mengandalkan aku. Keluarga pikir aku yang punya rumah. Awalnya aku cuma diam.”

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Lalu semakin lama aku tidak tahu cara mengaku.”

“Jadi kamu memakai uangku.”

“Aku pikir aku bisa mengganti.”

“Lalu memakai rumahku untuk cari pinjaman.”

“Aku pikir perusahaan akan berhasil.”

“Lalu?”

Dia menunduk.

“Aku bisa bayar semuanya.”

Aku menarik napas.

“Raka, kamu tidak sedang membayar kesalahan lama. Kamu terus membuat risiko baru supaya cerita lama tidak terbongkar.”

Dia tidak menjawab.

Aku mendorong dokumen pengajuan kredit.

“Kamu juga pakai data ibumu.”

Dia memejamkan mata.

“Ibu tidak tahu.”

“Aku tahu.”

Dia menatapku.

Mungkin dia mengira kalimat itu akan membuatku lunak.

Tidak.

Justru itu yang membuat semuanya selesai.

Aku berkata,

“Aku tidak bisa hidup dengan orang yang diam-diam membuat keputusan finansial sebesar ini lalu menyebutnya demi keluarga.”

“Din…”

“Aku sudah minta Pak Adrian menyiapkan proses pemisahan seluruh kewajiban.”

Wajahnya berubah.

“Apa maksudmu?”

“Kamu tahu.”

Dia tidak langsung menjawab.

Aku tidak membuat pidato.

Aku tidak menjelaskan tujuh tahun pernikahan kami.

Aku juga tidak ingin berdebat tentang siapa yang lebih banyak berkorban.

Aku cuma tahu kepercayaan tidak hilang karena satu transaksi.

Kepercayaan kami habis karena ratusan keputusan kecil yang sengaja disembunyikan.

Beberapa minggu kemudian, pengajuan kredit itu dibatalkan.

Pihak properti juga menghentikan proses unit A-17 setelah sumber dana dipersoalkan.

Dana yang masih bisa dikembalikan dikembalikan ke rekeningku setelah proses administrasi selesai.

Tidak semuanya.

Sebagian biaya sudah terpakai.

Untuk sisa transaksi lain, semuanya masuk proses penyelesaian melalui pengacara.

Nita menutup rencana ekspansi perusahaan.

Usahanya kembali berjalan kecil.

Enam karyawannya tetap bekerja karena dia memilih mempertahankan operasional dasar daripada mengejar proyek besar.

Bu Sari tidak jadi pindah ke rumahku.

Dia tinggal sementara dengan Om Bambang, lalu menyewa rumah kecil dekat rumah sakit dengan uang pensiunnya sendiri dan bantuan yang disepakati secara terbuka dari anak-anaknya.

Anehnya, hubungan kami justru menjadi lebih tenang setelah itu.

Dia tidak pernah meminta tinggal bersamaku lagi.

Suatu sore, dia datang mengambil sangkar burung yang tertinggal.

Kami berdiri di depan pintu.

Dia memegang sangkar itu.

Burungnya kembali berkata,

“Bayar! Bayar!”

Untuk pertama kalinya Bu Sari tertawa kecil.

Lalu dia menatapku.

“Dinda.”

“Iya, Bu?”

“Ibu salah karena terlalu percaya cerita Raka.”

Aku menjawab,

“Saya juga.”

Dia mengangguk.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada adegan panjang.

Dia hanya membawa burungnya pergi.

Beberapa bulan kemudian, saat proses antara aku dan Raka hampir selesai, aku menemukan satu amplop di ruang kerja.

Amplop itu terselip di belakang lemari.

Di depannya tertulis namaku.

Tulisan tangan Raka.

Aku sempat takut membuka.

Tapi akhirnya kubuka.

Isinya bukan surat cinta.

Bukan permintaan maaf.

Itu adalah daftar.

Tanggal.

Nominal.

Nama orang.

Semua uang yang pernah dia ambil dari rekeningku selama dua tahun.

Di bagian paling bawah ada kalimat pendek.

Aku mulai mencatat karena awalnya benar-benar berniat mengembalikan semuanya. Lalu jumlahnya terlalu besar, dan aku malah semakin takut mengaku.

Ada satu kolom terakhir.

Saldo yang harus kukembalikan kepada Dinda: Rp1.487.650.000.

Aku duduk lama.

Bukan karena terharu.

Tapi karena akhirnya aku mendapat bukti bahwa Raka tahu sejak awal uang itu bukan miliknya.

Dia tidak salah paham.

Dia tidak menganggapnya uang bersama.

Dia tahu.

Dia bahkan mencatat utangnya.

Dan justru itulah bagian yang membuat keputusanku menjadi mudah.

Aku memasukkan daftar itu ke map dokumen.

Tidak kusobek.

Tidak kubuang.

Aku membawanya ke Pak Adrian keesokan harinya.

Karena terkadang orang tidak membutuhkan satu kebohongan besar untuk kehilangan kepercayaan.

Cukup satu keputusan kecil yang disembunyikan.

Lalu keputusan berikutnya.

Lalu keputusan berikutnya lagi.

Sampai akhirnya tidak ada lagi yang tersisa untuk dipercaya.

Dan setelah tujuh tahun selalu diam agar harga diri suamiku tetap utuh, kali ini aku memilih menjaga satu hal yang terlalu lama kuabaikan.

Diriku sendiri.

TAMAT