Pengacara pribadi suamiku, Adrian Wijaya, menyerahkan dokumen perceraian kepadaku bahkan sebelum aku sempat melepas pakaian rumah sakit yang masih kukenakan.
Map tebal itu tergeletak di atas meja kopi di kamar kami. Tepat di sebelahnya terdapat amplop putih yang berisi hasil USG terakhirku.
Dua lembar kertas yang saling berhadapan: satu menjadi bukti kehidupan baru yang sedang berdetak di dalam rahimku, sementara yang lain menjadi keputusan akhir bagi tiga tahun pernikahan kami.
Adrian berdiri beberapa langkah dariku.
Dia tidak terburu-buru, dan sama sekali tidak berusaha menjelaskan apa pun.
Wajahnya dingin, seperti yang sudah biasa kulihat selama bertahun-tahun terakhir, tetapi ada sesuatu yang dia tahan jauh di dalam sorot matanya.
Aku tahu alasannya.
Wanita yang selama ini dia tunggu akhirnya kembali.
Pagi tadi, saat kami menuju rumah sakit, Bluetooth mobilnya tiba-tiba tersambung dengan sebuah panggilan.
Suara seorang wanita yang lembut dan sedikit bergetar memenuhi seluruh mobil:
“Adrian, aku sudah kembali. Ceraikan dia… kumohon.”
Adrian tidak mengatakan apa pun.
Dia hanya menekan tombol untuk memutus panggilan itu.
Sangat cepat.
Sangat dingin.
Saat itu, aku benar-benar mengira tindakannya adalah bukti kesetiaannya kepadaku.
Namun sebelum matahari terbenam, inilah jawabannya untukku—sebuah perjanjian perceraian yang sudah ditandatangani oleh pengacaranya.
Aku membuka halaman terakhir, mengambil pena, lalu menandatangani setiap bagian.
Setelah itu, aku mengangkat pandangan kepadanya.
“Apakah aku harus mulai berkemas sekarang untuk pergi?” tanyaku dengan suara tenang.
Adrian terdiam.
Mungkin dia sudah mempersiapkan dirinya untuk melihatku menangis, memohon, atau menyalahkannya.
Pria seperti dia terbiasa melihat wanita memohon di hadapannya.
Jadi ketika dia melihatku tetap tenang dan seolah tidak peduli, sedikit keterkejutan muncul di matanya.
“Tidak perlu,” jawabnya dengan suara serak. “Rumah ini akan dipindahkan atas namamu besok.”
Aku mengangguk tanpa penolakan.
Adrian tidak akan pernah memahami bahwa bagi seorang wanita yang sudah lama kehilangan harapan terhadap cinta, pergi tanpa membuat keributan adalah cara tercepat untuk mendapatkan kembali apa yang memang menjadi haknya.
“Sudah malam,” kataku sambil menutup pena. “Besok kamu punya rapat besar dengan dewan direksi. Aku akan tidur di kamar lain.”
Namun sebelum aku benar-benar berdiri, Adrian tiba-tiba meraih pergelangan tanganku.
Genggamannya sangat kuat.
Alisnya berkerut dan bibir tipisnya mengatup rapat.
“Althea,” panggilnya dengan nada tegas. “Kenapa kamu tidak marah sama sekali? Kenapa kamu tidak menangis?”
Aku menatap tangannya yang masih menggenggamku, lalu perlahan menatap langsung ke matanya.
“Kalau aku memohon kepadamu dan berlutut, apakah kamu akan membatalkan keputusanmu?”
Seluruh tubuh Adrian membeku.
Dia tidak bisa menjawab.
Keheningan di ruangan itu terasa semakin berat, sampai akhirnya aku merasakan genggamannya perlahan mengendur.
“Maaf,” bisiknya akhirnya. “Semua yang menjadi hakmu, akan kuberikan sebagai bentuk tanggung jawab.”
Aku sedikit menggeleng sambil menahan mataku yang mulai memerah.
“Aku percaya padamu.”
Keesokan harinya, setelah dokumen resmi perceraian selesai ditandatangani di kantor catatan sipil Jakarta, Adrian tidak langsung pergi.
Dia berhenti di dekat tangga dan menggenggam tanganku.
Dia melihat perutku yang mulai sedikit membesar di balik pakaian yang kukenakan.
“Makan siang bersama denganku,” ajaknya.
Jika dia mengatakan itu beberapa tahun lalu, mungkin aku akan menangis bahagia.
Selama ini Adrian tidak pernah menggenggam tanganku di depan umum.
Namun sekarang, aku perlahan menarik tanganku dan mundur satu langkah.
“Tuan Wijaya, rasanya itu sudah tidak pantas lagi.”
Dahinya mengernyit.
“Althea, kita hanya berpisah sebagai suami istri. Kita masih bisa menjadi teman.”
Aku hanya tersenyum pahit.
Selama tiga tahun dia menjadi batu bagiku.
Dan sekarang setelah aku membebaskannya, dia masih ingin berpura-pura peduli.
Ketika dia mengajakku naik mobil untuk mengantarku pulang, aku berkata langsung kepadanya selama perjalanan:
“Tentang anak ini… biarkan aku yang mengurusnya. Jangan khawatir, dia tidak akan menjadi penghalang bagi hubunganmu dengan Clara.”
Ekspresi Adrian langsung berubah.
Tatapannya menjadi gelap dan tangannya mencengkeram kemudi.
“Althea! Semudah itu bagimu membuang anak kita?!”
Aku tidak langsung menjawab.
Seluruh kalangan elite Jakarta tahu bahwa kata “anak di luar nikah” adalah luka terbesar dalam hidup Adrian Wijaya.
Ayahnya dulu membawa wanita simpanan dan anak hasil hubungan gelap ke rumah mereka, yang akhirnya membuat ibunya mengakhiri hidup.
Jadi ketika aku mengatakan bahwa aku tidak ingin anak ini mengalami hidup sebagai anak yang dianggap tidak sah, aku menyentuh bagian paling menyakitkan dalam dirinya.
Di tengah kemarahan dan ketegangan di dalam mobil, Adrian tiba-tiba berkata dengan suara bergetar:
“Althea… lahirkan anak itu. Kita akan membesarkannya bersama.”
Aku menoleh kepadanya.
Namun sebelum aku sempat menjawab, mobil tiba-tiba berhenti tepat di depan gerbang rumah kami.
Di luar, di bawah hujan yang semakin deras, berdiri seorang wanita dengan pakaian putih yang basah kuyup.
Clara.
Adrian hampir tidak berpikir.
Dia melupakan semua yang baru saja dia katakan.
Dia membuka pintu mobil dengan kasar dan berlari menerobos hujan untuk memeluk erat wanita yang selama ini dia rindukan.
Seolah wanita itu adalah kristal mahal yang takut dia pecahkan.
Saat itulah aku menyadari:
Ternyata Adrian bukan pria yang tidak memiliki perasaan.
Dia tahu bagaimana mencintai dan mengkhawatirkan seseorang.
Hanya saja…
bukan untukku.

Air hujan yang menciprat dari aspal jalanan perumahan elite itu memantul di kaca spion, buram, menyisakan jejak kelabu yang terus meleleh. Aku masih duduk di kursi penumpang. Sabuk pengaman masih mengikat dadaku, agak menekan bagian perut bawah yang belakangan mulai terasa keras dan padat.
Di luar, Adrian tidak sempat mengambil payung di kantong pintu. Mantel wol mahalnya yang baru dia beli di London dua pekan lalu kuyup dalam hitungan detik. Dia merengkuh tubuh Clara yang gemetaran—entah kedinginan, entah sengaja gemetar—dengan dua tangan yang merengkuh erat, kepalanya tertunduk di ceruk leher wanita itu.
Pemandangan yang menggelikan sebenarnya. Tiga tahun menikah, pria itu kalau menyentuh pundakku saja selalu dengan perhitungan dingin, seolah sentuhan fisik adalah barter dagang yang harus dihemat agar sahamnya tidak anjlok. Sekarang? Lihat dia. Seorang presdir konglomerasi logistik terkemuka, basah kuyup seperti anjing pasar di trotoar, membiarkan rambutnya lepek ke kening demi menjadi perisai bagi gaun putih tipis yang menempel ke kulit wanita lain.
Pintu mobil sisi pengemudi kubiarkan terbuka menganga. Angin basah masuk, membawa aroma tanah becek dan parfum mahal Adrian yang mendadak basi bercampur air hujan.
Aku tidak menangis. Airmata itu barang mahal, bodoh kalau dibuang untuk lelaki yang bahkan tidak ingat mematikan wiper mobil sebelum lari menyusul masa lalunya.
Tanganku merogoh tas jinjing, memastikan map cokelat berisi berkas pelepasan hak nafkah dan salinan catatan sipil tadi pagi aman dari rembesan air. Lalu pelan-pelan, kuangkat gagang payung hitam lipat yang selalu kusimpan di bawah kursi. Begitu kakiku menyentuh tanah, cipratan air langsung membasahi sepatu hak rendahku. Dinginnya menusuk sampai ke tulang kering.
Adrian menoleh saat mendengar suara bantingan pintu mobil yang kututup rapat.
Matanya liar, panik, rambutnya yang basah berantakan menutupi sebagian dahi. Clara menyandarkan seluruh bobot tubuhnya di dada Adrian, satu tangannya meremas kemeja pria itu, matanya sayu menatapku dengan binar kemenangan yang tipis, sangat tipis, nyaris tak kentara bagi orang yang tidak terlatih membaca manusia picik.
“Althea…” Suara Adrian tenggelam oleh desau hujan yang menghantam daun-daun palem di halaman. “Tunggu sebentar. Clara pingsan… badannya panas sekali.”
“Bawa masuk saja,” sahutku datar, menaikkan payung agar wajahku tidak tertutup tempias. “Rumah itu milikmu sampai besok pagi, kan? Sebelum akta hibahnya diproses notaris, silakan pakai sofa ruang tamu. Jangan di kamarku. Spreinya baru kuganti kemarin.”
Adrian menatapku kaget, seolah aku ini monster yang tega membiarkan burung pipit terluka mati kedinginan. “Kamu bisa bicara begitu saat dia sakit begini?!”
“Lalu aku harus bagaimana, Adrian? Menjerit? Menawari teh jahe hangat? Menyeka punggungnya dengan minyak kayu putih?” Aku tertawa kecil, suara tawa yang kering dan renyah, melayang di udara lembap. “Kalian berdua terlalu berisik. Sopir taksiku sudah belok di ujung jalan. Permisi.”
Sebuah taksi biru melambat di depan pagar besi setinggi tiga meter itu, wiper-nya bergerak malas membelah air.
Aku tidak menoleh lagi. Begitu bokongku mendarat di jok kain taksi yang sedikit berbau rokok kretek dan pengharum jeruk murahan, aku mengembuskan napas panjang. Panjang sekali. Rasanya seperti ada sebongkah batu kali yang selama tiga tahun menyumbat rongga dadaku mendadak luruh, mencair bersama genangan air yang kami lewati di jalan layang Antasari.
“Ke mana, Bu?” tanya sopir paruh baya itu sambil melirik spion tengah, memperhatikan pakaianku yang separuh basah.
“Kemang, Pak. Jalan Bangka. Rumah nomor tujuh yang halamannya banyak pot pohon cabai.”
Rumah Mbak Tari di Jalan Bangka tidak punya pendingin udara di ruang tamunya, hanya kipas angin gantung merek KDK yang baling-balingnya berdecit pelan setiap putaran keempat. Kriet… kriet… fush. Tapi udara di sana riil. Ada bau terasi goreng, ada suara anak tetangga main kelereng di gang, dan ada Mbak Tari yang sedang duduk bersila di tikar pandan sambil memotong kacang panjang dengan pisau dapur yang gagangnya sudah dililit karet ban.
Mbak Tari menatap koper kabinku yang diletakkan sopir taksi di teras, lalu menatapku dari balik kacamata bacanya yang melorot.
“Sudah beres?” tanyanya, nada suaranya tidak menghakimi, tidak kasihan. Nada seorang perempuan yang sudah pernah mengubur suaminya sepuluh tahun lalu dan tahu betul bahwa hidup harus terus jalan, ada laki-laki atau tidak.
“Sudah, Mbak. Tanda tangan basah.” Aku duduk di sebelahnya, melepaskan sepatu yang lembap. Jemari kakiku pucat dan keriput.
Mbak Tari menyodorkan secangkir teh panas yang mengepulkan aroma melati pekat. “Laki-laki itu tahu kamu bunting?”
“Tahu. Tadi sempat mengamuk di mobil.”
“Terus?”
“Mantan kekasihnya nongol di pagar rumah, basah kuyup kayak kucing hanyut. Dia lupa kalau aku ada di jok sebelah.”
Mbak Tari mendengus, pisau di tangannya memotong kacang panjang dengan bunyi klik-klik yang mantap di atas talenan kayu asam. “Tipikal. Orang kaya kalau drama selalu milih pas hujan lebat. Biar sinematik, biar rasa bersalahnya terasa mahal. Besok pagi kamu ikut aku ke pasar subuh. Beli ubi cilembu sama daun katuk. Muka kamu kayak mayat hidup, pucat begini mau ngasih makan bayi pakai apa?”
Aku meminum teh itu perlahan. Panasnya membakar lidah, tapi ada kehangatan yang merayap turun ke kerongkongan, menyapa perutku yang sunyi.
Aku mengelus perutku dari balik kaus longgar. Hai, Nak. Mulai malam ini, kita tidak perlu lagi sarapan dengan garpu perak dan muka kaku di meja makan marmer sepanjang empat meter. Kita makan tempe mendoan hangat pakai cabai rawit saja ya.
Dua minggu berlalu tanpa drama.
Jakarta seperti biasa: macet, debu galian kabel, dan bau asap knalpot Kopaja yang bikin mual di pagi hari. Tapi mualku sekarang murni mual kehamilan, bukan mual karena harus mencium aroma parfum Adrian yang seharian berbohong soal rapat lembur di Senayan Padahal kemejanya berbau bedak tabur vanila milik perempuan lain.
Tabunganku dari hasil kerja sebagai kurator galeri seni sebelum menikah ternyata masih utuh, ditambah beberapa proyek lepas restorasi lukisan yang mulai kukerjakan lagi di teras belakang rumah Mbak Tari. Cahaya matahari pagi di teras itu bagus sekali, jatuh miring melewati dedaunan pohon mangga manalagi, pas untuk mencampur cat minyak tanpa merusak spektrum warna aslinya.
Siang itu, sebuah sedan Lexus hitam berhenti di mulut gang. Terlalu mengilat untuk jalanan sempit yang sering becek oleh air buangan cucian warga.
Adrian keluar dari mobil.
Penampilannya kusut. Dasi sutranya miring, dua kancing teratas kemejanya terbuka, dan ada lingkaran hitam pekat di bawah matanya. Lelaki yang biasanya tampak seperti peraga busana di majalah bisnis pria itu kini melangkah ragu-ragu, menghindari jemuran popok bayi tetangga yang melintang rendah di tali plastik.
Mbak Tari yang sedang menyapu teras langsung meletakkan sapu lidinya tegak lurus, menatap pria itu seperti melihat lalat hijau masuk ke tudung saji.
“Cari siapa, Mas?” sergah Mbak Tari tanpa basa-basi.
Adrian berhenti tiga langkah dari teras, melirik Mbak Tari lalu beralih padaku yang sedang memegang kuas berbulu tupai di depan kanvas kanvas lanskap Pasar Baru tahun 1920-an.
“Althea,” panggilnya. Suaranya serak, seperti orang yang tidak tidur tiga malam dan terlalu banyak merokok di ruangan tertutup. “Kenapa kamu tinggal di tempat seperti ini? Rumah di Permata Hijau itu milikmu. Notaris sudah mengirimkan sertifikatnya ke kantormu, tapi orang kantormu bilang kamu sudah resign.”
Kutarik kuasku perlahan, mengeringkannya dengan kain perca. “Rumah itu terlalu luas untukku, Adrian. Membersihkan marmernya saja bikin pinggangku encok. Sudah kujual minggu lalu ke pengusaha batubara asal Samarinda. Murah kok, aku kasih diskon sepuluh persen biar cairnya cepat.”
Rahang Adrian mengetat, otot pipinya berkedut. “Kamu menjual rumah itu? Tanpa bilang padaku?!”
“Lho, kan katamu itu hakku sebagai bentuk tanggung jawab? Kalau sudah jadi hakku, mau kujual, mau kujadikan kandang kambing, atau kubakar sekalipun, urusannya denganmu apa?”
“Uangnya kamu apakan?!”
“Kutabung. Untuk biaya persalinan di rumah sakit biasa, bukan VVIP dengan karpet wol dan menu lobster seperti yang biasa kamu pamerkan ke relasimu. Sisanya buat modal beli ruko kecil di Jogja kalau anak ini sudah lahir.”
Adrian melangkah maju satu langkah, tapi Mbak Tari langsung menggeser posisi berdirinya, menghalangi undakan teras dengan ujung sapu lidi yang diacungkan miring.
“Mas, kalau mau ribut soal warisan atau harta gono-gini, bawa pengacara. Ini kampung orang, bukan ruang dewan direksi sampeyan. Sekali kamu teriak-teriak di sini, pemuda karang taruna di pos ronda ujung bisa mengira kamu penagih pinjaman online ilegal,” ketus Mbak Tari dengan logat Jawa Timuran yang kental dan tajam.
Adrian menarik napas berat, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal bertuliskan logo rumah sakit swasta terkemuka di Menteng.
“Clara tidak sakit tipus seperti yang kukira hari itu,” katanya tiba-tiba, suaranya melunak, berubah menjadi getaran yang aneh. Frustrasi bercampur rasa jijik yang ditujukan pada dirinya sendiri.
Aku meletakkan palet kayu di atas meja kecil. “Lalu?”
“Dia hamil.” Adrian menatapku lurus-lurus, mencoba mencari reaksi di wajahku. “Tiga bulan.”
Aku tersenyum tipis. “Selamat kalau begitu. Anak keduamu akan punya teman sebaya. Kamu bisa hemat biaya les renang kalau mereka digabung.”
“Bukan anakku, Althea!” potongnya setengah berteriak, matanya memerah. “Bukan anakku! Dia baru kembali dari Melbourne dua minggu lalu! Hubungan kami di masa lalu sudah selesai empat tahun yang lalu! Dia hamil anak pria Australia yang menolak menikahinya, lalu dia datang ke sini, mencariku, memanfaatkan rasa bersalahku karena dulu kami berpisah buruk!”
Aku memperhatikan wajah pria itu. Benar-benar memperhatikan.
Dulu, aku akan merasa sakit hati luar biasa melihat pria yang kucintai dikhianati orang lain. Dulu, aku mungkin akan lari memeluknya, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa ada aku di sini yang siap menampung segala sisa kehancurannya.
Tapi siang ini, di bawah rindangnya pohon mangga dan bau gorengan pisang dari dapur Mbak Tari, aku cuma merasa… bosan. Cerita mereka terlalu klise, terlalu drama televisi swasta pukul dua siang.
“Lalu, apa hubungannya denganku, Tuan Wijaya?” tanyaku datar.
“Aku tertipu, Althea,” bisiknya, suaranya pecah di ujung. Pria yang selama tiga tahun kuanggap dewa tak tersentuh itu kini berdiri di atas tanah merah becek, menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Hari itu… saat aku mengejarnya di tengah hujan… aku merasa seperti orang paling berdosa sedunia karena meninggalkannya dulu. Tapi dia cuma menjadikanku tempat pelarian. Dia butuh nama Wijaya untuk menyelamatkan mukanya di depan keluarga besarnya.”
“Baguslah kalau kamu sudah sadar. Jadi sekarang kamu bisa fokus mengurus hidupmu sendiri.”
“Pulanglah, Thea,” pintanya, matanya menatap perutku yang tersembunyi di balik celemek kerja bernoda cat hijau lumut. “Kita batalkan aktanya di pengadilan. Pengacaraku bilang masih ada celah administratif sebelum berkasnya masuk ke arsip pusat. Aku akan mengaku khilaf. Kita mulai lagi. Demi anak kita.”
“Demi anak kita?” Aku bangkit dari bangku rotan, berjalan perlahan mendekati pagar pembatas teras, menatapnya dari jarak dua meter. “Adrian, waktu kamu menandatangani surat cerai itu, anak ini sudah ada di dalam sini. Jantungnya sudah berdetak. Ukurannya baru sebesar buah stroberi, tapi dia ada. Dan kamu menukarnya dengan panggilan telepon sepuluh detik dari wanita yang bahkan tidak menghargaimu.”
“Aku panik waktu itu, Thea! Aku tidak berpikir jernih!”
“Kamu berpikir sangat jernih,” sanggahku tenang, tanpa emosi yang meledak-ledak. “Di kepalamu, kalkulasinya sederhana: Clara adalah cinta pertamamu yang suci dan teraniaya, sedangkan aku cuma anak rekan bisnis almarhum ayahmu yang dinikahkan demi mengamankan kepemilikan saham pelabuhan Merak. Kamu selalu bangga dengan kalkulasi bisnismu, kan? Sekarang terimalah ruginya.”
“Althea—”
“Jangan datang lagi ke sini,” potongku tegas. “Mobilmu menutupi jalan gerobak sampah Pak RT. Sebentar lagi jam angkut. Kalau mobil itu baret kena bak sampah seng, ganti ruginya mahal.”
Aku berbalik, melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi.
Mbak Tari di luar menyapu tanah dengan gerakan kasar, sengaja menerbangkan debu kering ke arah sepatu kulit mengilat Adrian. “Sudah dengar kan, Mas? Monggo, pintunya di sebelah sana. Jangan sampai saya siram pakai air cucian beras.”
Suara pintu pagar kayu yang ditutup berderit keras, disusul deru mesin mobil yang mundur tergesa-gesa di jalan sempit itu.
Tujuh bulan berikutnya bergulir lambat seperti madu yang dituangkan dari toples di musim dingin.
Perutku membesar dengan sehat. Kulitku tidak lagi kering, pipiku yang dulu tirus kini berisi dan kemerahan. Di usia kehamilan tiga puluh delapan pekan, berat badanku naik hampir empat belas kilogram. Bayiku aktif sekali, terutama kalau malam hari saat aku mendengarkan siaran radio klasik RRI atau saat Mbak Tari mengaji sehabis magrib. Tendangannya mantap, kadang membuatku meringis sambil tertawa kecil di kasur busa kami yang beralas seprai katun murah bermotif bunga matahari.
Adrian mencoba segala cara.
Bunga mawar putih impor pernah dikirim ke rumah Mbak Tari—langsung dipotong Mbak Tari untuk dijadikan hiasan di meja posyandu RT.
Keranjang buah berisi pir Korea dan anggur hitam seharga jutaan rupiah diantar kurir berseragam—dibagikan ke anak-anak yatim di panti asuhan dekat rel kereta api.
Bahkan pengacaranya, pria necis berkacamata kura-kura yang dulu menyerahkan surat cerai di meja kopiku, sempat datang membawakan draf rekening perwalian atas nama “Calon Bayi Althea Wijaya” dengan nominal sembilan digit.
Kukembalikan draf itu tanpa kubaca.
“Bilang pada bosmu,” kataku pada pengacara itu di ruang tamu sederhana Mbak Tari, “anak ini bernama Kinara. Nama belakangnya bukan Wijaya. Nama belakangnya memakai nama almarhum kakeknya dari pihakku: Suryodipuro. Dia tidak butuh sepeser pun saham pelabuhan atau dividen tahunan dari keluarga kalian. Katakan pada Adrian, kalau dia mau buang uang, sumbangkan saja ke panti jompo tempat ayahnya dulu menitipkan ibunya sebelum meninggal. Itu lebih berguna untuk membersihkan dosanya.”
Malam saat ketubanku pecah, Jakarta sedang diguyur hujan rintik-rintik. Bukan badai besar seperti hari perceraian kami, hanya gerimis tipis yang dingin dan menenangkan.
Kami tidak pergi ke rumah sakit swasta bertaraf internasional di kawasan elite yang biasa digunakan para pesohor. Kami naik mobil sewaan milik tetangga sebelah menuju sebuah klinik bersalin asri milik yayasan bidan senior di daerah Cilandak. Tempatnya sederhana, banyak tanaman suplir dan anggrek bulan di selasarnya, dan bau ruangannya adalah campuran minyak telon, seduhan teh chamomile, dan sabun antiseptik yang lembut.
Proses persalinannya panjang. Enam belas jam pembukaan yang menguras seluruh tenaga di pinggulku. Mbak Tari ada di samping kiriku, memegang baskom air hangat dan menyeka peluh di tengkukku sambil merapal selawat tanpa henti.
Lalu ada tangan lain yang menyentuh jemari kananku.
Bukan Adrian.
Lelaki itu—Genta—baru datang pukul tiga pagi, membawa tas jinjing berisi pakaian ganti Mbak Tari dan termos nasi tim ayam yang masih hangat. Genta adalah pemilik galeri seni independen di Yogyakarta tempatku memamerkan karya restorasi lukisan beberapa bulan terakhir. Dia tidak banyak bicara. Orangnya sederhana, mengenakan kemeja flanel lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana kargo pudar.
Selama enam bulan terakhir, dia yang bolak-balik Jogja-Jakarta mengurus pengiriman kayu spanram dan bahan kanvas khusus untukku, tanpa pernah sekalipun menanyakan siapa ayah dari anak di dalam perutku. Baginya, aku adalah Althea, seorang perupa dengan kepekaan warna yang luar biasa dan jiwa yang utuh, bukan janda dari konglomerat Adrian Wijaya.
“Tarik napas panjang, Thea,” bisik Genta lembut di telingaku, tangannya yang kasar karena sering memegang pahat kayu membiarkan jemariku meremasnya sekuat tenaga sampai buku-buku jarinya memutih. “Fokus pada detak jantungmu. Sebentar lagi.”
Pukul lima pagi lewat sepuluh menit, saat azan subuh berkumandang bersahut-sahutan dari tiga surau di kejauhan, tangisan itu pecah.
Keras. Melengking. Marah pada dunia yang tiba-tiba terang dan dingin.
Bidan meletakkan gumpalan daging kecil berwarna merah keunguan itu di atas dadaku yang telanjang. Kulitnya yang licin bersentuhan langsung dengan kulitku. Bau amis darah dan cairan ketuban mendadak menjadi aroma paling suci yang pernah kuhirup seumur hidupku.
Perempuan. Rambutnya hitam lebat, hidungnya mancung kecil, dan sepuluh jarinya bergerak-gerak mencakar udara, mencari pegangan.
“Alhamdulillah,” bisik Mbak Tari, air matanya menetes ke atas bantal bersalin.
Genta mundur dua langkah, berdiri di dekat pintu kaca yang mengembun, membiarkan kami bertiga menikmati detik-detik itu. Matanya berbinar di balik kacamata tipisnya, senyumnya tulus tanpa ada bayangan kepemilikan yang menuntut.
Satu jam kemudian, saat aku sudah dipindahkan ke kamar rawat inap yang menghadap ke taman dalam yang rimbun oleh pohon kamboja putih, pintu kamar diketuk pelan.
Kupikir perawat yang mau mengantar sarapan.
Bukan.
Adrian berdiri di sana.
Entah dari mana dia tahu klinik ini—mungkin dia menyewa detektif swasta murahan, sesuatu yang sangat sepele bagi rekening banknya. Jasnya rapi kali ini, tapi tubuhnya tampak menyusut beberapa kilogram. Bahunya turun. Dia melangkah masuk dengan sangat hati-hati, seperti seorang pencuri yang takut lantai kayu di bawah kakinya berderit.
Matanya langsung tertuju pada boks bayi transparan di sebelah ranjangku, tempat Kinara sedang tidur lelap berbalut kain bedong bermotif awan kelabu.
“Althea…” ucapnya pelan sekali, nyaris seperti embusan angin.
Mbak Tari yang sedang menyuapiku bubur sumsum langsung meletakkan mangkuknya dengan denting keras di atas meja nakas. Dia sudah bersiap berdiri untuk menyemburkan amarah, tapi kupegang lengannya pelan.
“Biar saja, Mbak. Sebentar saja,” kataku.
Mbak Tari melotot, tapi akhirnya mendengus dan keluar kamar sambil membanting pintu pelan, bergabung dengan Genta yang sedang duduk membaca koran di bangku semen taman luar.
Tinggal kami bertiga di ruangan itu.
Adrian melangkah mendekati boks bayi. Tangannya yang bersih, terawat, dengan jam tangan Patek Philippe ratusan juta di pergelangan kirinya, terangkat ragu-ragu di atas selimut Kinara.
Jemarinya gemetar hebat. Dia tidak berani menyentuh kulit pipi merah itu.
“Dia… mirip kamu,” bisik Adrian, suaranya tercekat di tenggorokan. Air mata yang selama ini kutahu tidak pernah ada dalam kamus hidupnya, kini menggenang di pelupuk matanya yang merah. “Bibirnya… persis bibirmu.”
“Iya. Dia memang anakku,” sahutku tenang dari atas ranjang, menyandarkan punggung ke bantal yang ditumpuk dua.
Adrian menoleh perlahan menatapku. “Anak kita, Thea.”
“Bukan, Adrian. Dia anakku. Kamu melepaskannya di hari yang sama saat kamu memutuskan bahwa masa lalumu lebih berharga daripada masa depan yang sedang tumbuh di dalam sini.” Kuketuk pelan perutku yang kini sudah mengempis.
Adrian jatuh berlutut di samping ranjangku.
Benar-benar berlutut.
Lututnya menabrak lantai teraso dingin klinik sederhana itu. Kepalanya terkulai di tepian kasur bersalin, tangannya mencoba meraih ujung jariku yang tergeletak di atas selimut. Tapi kutarik tanganku perlahan, menyembunyikannya di bawah lipatan kain.
“Aku sudah menghancurkan semuanya, ya?” ratapnya, bahunya berguncang pelan. Pemandangan yang dulu mungkin akan meremukkan hatiku, tapi sekarang hanya terlihat seperti seorang anak kecil yang merengek karena mainannya rusak akibat keteledorannya sendiri. “Clara sudah pergi. Dia mengambil uang damai dua miliar dari pengacaraku dan menghilang entah ke mana. Aku sendirian di rumah besar itu, Thea. Rumah itu dingin sekali. Setiap kali hujan turun, aku cuma melihat kamu berdiri di luar jendela mobil, menatapku dengan mata yang… yang sama sekali tidak membenciku. Dan itu yang paling membunuhku. Kenapa kamu tidak membenciku saja?!”
Aku menghela napas panjang. Angin pagi masuk dari kisi-kisi jendela atas, membawa wangi bunga kamboja yang gugur di halaman rumput.
“Karena membencimu itu melelahkan, Adrian. Kebencian butuh energi. Butuh dipikirkan setiap hari, butuh diingat-ingat saat bangun tidur. Dan kamu… kamu sudah tidak punya tempat lagi di kepalaku untuk dihabiskan energinya.”
Dia mendongak, wajahnya basah oleh air mata yang berantakan. “Beri aku kesempatan. Sekali saja. Bukan sebagai suami kalau kamu belum bisa. Sebagai ayah. Biarkan aku menafkahi dia. Biarkan namaku ada di akta kelahirannya. Aku akan buatkan yayasan atas namanya, aku akan—”
“Tidak.”
Satu kata. Pendek, padat, tanpa intonasi tinggi, tapi menghantam udara di antara kami seperti palu godam.
“Aktanya sudah diproses tadi pagi oleh pihak klinik. Namanya Kinara Suryodipuro. Kolom ayahnya kosong secara hukum perdata, sesuai putusan pengadilan agama kita yang menyatakan kamu melepaskan seluruh ikatan nafkah dan nasab materiil.”
“Kamu kejam, Althea…” bisiknya tak percaya.
Aku tersenyum tipis. Sangat tipis.
“Aku tidak kejam, Adrian. Aku cuma belajar darimu. Ingat hari itu? Di depan gedung catatan sipil, kamu bilang apa? ‘Semua yang menjadi hakmu akan kuberikan sebagai bentuk tanggung jawab.’ Nah, ini hakku. Ketenanganku adalah hakku. Dan masa depan anak ini tanpa bayang-bayang masa lalumu yang beracun adalah hak mutlak yang kubeli dengan harga tiga tahun kesabaranku di rumah besarmu.”
Kinara di dalam boksnya menggeliat kecil, mengeluarkan suara rengekan halus seperti anak kucing yang haus.
Pintu kamar berderit terbuka pelan. Genta melangkah masuk membawa segelas air putih hangat dan sepiring biskuit gandum, lalu berhenti sejenak melihat Adrian yang masih berlutut di lantai. Genta tidak memasang wajah marah, tidak pula mencemooh. Dia cuma mengangguk sopan pada Adrian, meletakkan piring di meja nakas, lalu dengan santai merapikan ujung selimut bedong Kinara yang sedikit tersingkap.
Gerakannya begitu alami. Tanpa rasa canggung, tanpa beban drama.
Adrian memandang pria itu, lalu memandangku.
Di detik itulah kulihat pemahaman yang sesungguhnya akhirnya meresap ke dalam kepala Adrian Wijaya: pintu itu bukan sekadar terkunci. Pintunya sudah dibongkar, dindingnya sudah diruntuhkan, dan di atas tanah bekas rumah tangganya yang hangus, sebuah kehidupan baru yang sama sekali tidak melibatkan dirinya sudah tumbuh subur, hijau, dan berbunga.
Perlahan, dengan sisa martabat yang berserakan di lantai teraso, Adrian bangkit berdiri. Dia mengusap wajahnya dengan saputangan sutra yang ditarik dari saku celana.
Dia menatap Kinara sekali lagi—tatapan seorang musafir yang melihat mata air di tengah gurun pasir tapi tahu betul bahwa air itu beracun baginya jika dia nekat meminumnya.
“Semoga dia sehat,” gumam Adrian, suaranya nyaris hilang di telan dengung kipas angin dinding.
“Dia akan sangat sehat,” jawabku mantap. “Terima kasih sudah mampir, Tuan Wijaya. Semoga jalanmu pulang tidak macet.”
Adrian berbalik. Langkah kakinya berat, berderit lambat di atas lantai lorong klinik, menjauh, makin menjauh, sampai akhirnya suara deru mobil mewahnya terdengar meninggalkan halaman parkir, ditelan oleh bisingnya lalu lintas Jalan TB Simatupang di pagi hari kerja.
Tiga tahun kemudian.
Yogyakarta di bulan Juli selalu berangin dan sedikit berdebu, tapi langit sore di atas persawahan Kasihan, Bantul, selalu berwarna jingga keemasan yang luar biasa indah.
Galeri kami—Studio Kayu & Kanvas—menempati sebuah rumah joglo tua beratap tumpang sari yang kami bangun kembali dari bongkaran rumah kayu di Gunungkidul. Bagian depannya galeri pameran dan toko perkakas kayu buatan Genta, bagian belakangnya adalah studio kerjaku, lengkap dengan rak-rak kayu jati berisi ratusan toples pigmen warna dan buku-buku referensi sejarah seni rupa.
Di halaman rumput yang luas tanpa pagar semen, Kinara sedang berlari mengejar seekor ayam kate jantan milik tetangga.
Anak itu memakai terusan katun motif jumputan warna biru nila, kakinya telanjang menginjak rumput gajah mini yang dipangkas rapi, tawanya melengking lepas memenuhi udara sore. Rambutnya dikuncir dua dengan karet gelang warna merah jambu, bergoyang-goyang setiap kali dia melompat menghindari parit kecil pengairan sawah.
“Ibu! Lihat! Ayamnya bisa terbang ke atas dahan pohon sawo!” teriaknya sambil menunjuk ke atas dahan dengan jari-jarinya yang mungil dan kotor oleh tanah gembur.
“Jangan dikejar terus, Kinara, nanti ayamnya bertelur di atas kepala kamu!” teriak Mbak Tari dari arah pendopo, sedang melipat jemuran kain serbet sambil mengunyah sirih.
Genta keluar dari bengkel kayunya di samping joglo, mengenakan celemek kulit yang penuh serbuk kayu gergajian. Dia membawa sebuah mainan kuda-kudaan kayu kecil yang baru selesai diampelas halus.
“Ayamnya capek, Nara,” kata Genta sambil berjongkok di rumput, menyodorkan kuda kayu itu. “Nih, mending kamu kasih makan kudanya pakai rumput jepang. Kudanya lapar seharian nungguin kamu pulang dari sekolah PAUD.”
Kinara langsung melupakan ayam kate itu, melompat ke pelukan Genta dan mencium pipi pria itu yang berbau kayu jati dan minyak pernis. “Bapak! Ekornya halus banget!”
“Iya dong, kan diampelas tiga kali pakai nomor empat ratus,” sahut Genta sambil tertawa, mengangkat anak itu tinggi-tinggi ke udara, membuatnya menjerit gembira berlatar langit senja yang mulai temaram.
Aku berdiri di ambang pintu studio, memegang cangkir kopi tubruk yang masih mengepul.
Ponselku di atas meja kerja bergetar pelan. Sebuah notifikasi berita ekonomi di media daring nasional muncul di layar:
PT Wijaya Logistik Internasional Resmi Mengajukan Restrukturisasi Utang PKPU di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.
Di bawah judul berita itu, ada foto Adrian Wijaya yang diambil secara tergesa-gesa oleh wartawan di lobi gedung pengadilan. Rambutnya sudah memutih hampir seluruhnya di usia yang baru menginjak awal empat puluhan. Wajahnya keras, tegang, dikelilingi belasan pengacara berjas hitam yang berusaha menahan serbuan mikrofon media.
Berita itu menyebutkan skandal penggelapan dana investor yang melibatkan mantan tunangannya, Clara, yang kabur ke luar negeri dan meninggalkan jejak utang obligasi bermasalah puluhan miliar rupiah atas nama anak perusahaan yang dipimpin Adrian.
Kutatap foto itu selama tiga detik.
Tidak ada rasa senang melihat kejatuhannya. Tidak ada dendam yang bersorak puas. Hanya ada perasaan netral yang dingin, seperti membaca berita tentang cuaca buruk di belahan bumi lain yang tidak pernah kukunjungi.
Kugeser notifikasi itu ke samping hingga layarnya kembali bersih, menampilkan foto latar belakang layar ponselku: Kinara yang tertawa belepotan es krim mangga di pelukan Genta di tepi Pantai Parangtritis musim liburan lalu.
“Thea!” panggil Genta dari halaman rumput, melambaikan tangan kirinya yang bebas sementara tangan kanannya menggendong Kinara di pundak. “Mbak Tari bikin lodeh terong sama ikan asin bakar di dapur belakang. Kopinya taruh dulu, keburu dingin kena angin sawah!”
“Iya, sebentar!” sahutku.
Kumatikan lampu meja studio, membiarkan aroma cat minyak, pernis kayu, dan bau tanah basah dari sawah menyatu di udara senja yang sejuk.
Saat melangkah menuruni undakan batu joglo menuju mereka berdua, angin sore berembus lembut, membelai pipiku dengan kehangatan yang dulu kukira tidak akan pernah kutemukan lagi di dunia ini.
Hujan pernah merenggut segalanya dariku di sebuah gerbang perumahan elite di Jakarta.
Tapi di sini, di bawah langit Jogja yang luas dan jujur, aku mengerti satu hal: kadang-kadang, seseorang harus dibiarkan basah kuyup sampai ke dasar jiwanya, hanya agar dia tahu betapa nikmatnya pulang ke rumah yang sesungguhnya—rumah yang tidak dibangun dari marmer dan kepalsuan, melainkan dari tawa seorang anak kecil, serbuk kayu gergajian, dan hati yang tak lagi punya alasan untuk merasa takut.
