Putraku bukan sekadar telah melewati sebuah pintu tanpa izin.
Ia telah melewati batas yang selama ini kubiarkan kabur karena aku terlalu takut kehilangan dirinya.
Kesadaran itu datang tanpa suara.
Tidak ada kemarahan besar.
Tidak ada dorongan untuk menelepon Bayu lalu memakinya.
Aneh, justru aku merasa sangat tenang.
Aku menutup aplikasi kamera, meletakkan ponsel di atas meja, kemudian berjalan ke dapur rumah Wulan.
Adikku sedang mengupas mangga.
Begitu melihat wajahku, tangannya berhenti.
“Mbak?”
Aku membuka mulut.
Tidak ada suara yang keluar.
Wulan meletakkan pisau.
“Mira, ada apa?”
Aku menunjukkan rekaman itu kepadanya.
Ia menontonnya sampai selesai.
Aku melihat rahangnya mengeras ketika Laras memindahkan foto Bambang.
Setelah video berakhir, Wulan tidak langsung bicara.
Ia mengambil tisu, memberikannya kepadaku, lalu duduk di kursi sebelahku.
“Mbak mau pulang sekarang?”
Aku hampir menjawab iya.
Hampir.
Tetapi kemudian aku teringat bagaimana selama bertahun-tahun aku selalu melakukan itu.
Bergegas.
Membereskan.
Menyelesaikan masalah orang lain.
Mengalah supaya semuanya kembali tenang.
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Wulan menatapku.
“Tidak?”
“Aku tetap di sini sampai hari Minggu.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Wulan tersenyum kecil.
“Bagus.”
Aku mengambil ponsel.
Bukan untuk menelepon Bayu.
Aku mencari satu nama lain.
Pak Hendra Wijaya.
Pengacara yang selama hampir sembilan tahun mengurus dokumen-dokumenku.
Ia mengangkat telepon pada dering kedua.
“Selamat siang, Bu Mira.”
“Pak Hendra, saya perlu bantuan.”
Nada suaranya langsung berubah.
“Ada masalah?”
“Ada orang masuk ke apartemen saya tanpa izin.”
“Siapa?”
Aku menelan ludah.
“Anak saya.”
Hening beberapa detik.
Lalu ia bertanya sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.
“Bu Mira ingin saya membantu sebagai pengacara, atau Ibu ingin saya mendengarkan sebagai orang yang sudah mengenal keluarga Ibu cukup lama?”
Pertanyaan itu membuatku diam.
“Sebagai pengacara.”
“Baik.”
Tidak ada ceramah.
Tidak ada kalimat bahwa keluarga seharusnya dibicarakan baik-baik.
Ia hanya meminta kronologi, rekaman kamera, catatan akses gedung, dan salinan surat yang kutemukan nanti setelah pulang.
Kemudian Pak Hendra berkata,
“Satu lagi. Jangan beri tahu mereka dulu bahwa Ibu sudah mengetahui semuanya.”
“Kenapa?”
“Karena saya ingin memastikan satu hal.”
“Apa?”
“Bagaimana mereka mendapatkan akses.”
Aku memandang Wulan.
Entah kenapa, kalimat itu membuat tengkukku terasa dingin.
Aku mengira persoalannya sederhana: Bayu masuk tanpa izin.
Ternyata mungkin tidak sesederhana itu.
Sore itu Pak Hendra menghubungi pengelola apartemen atas namaku.
Keesokan paginya, ia menelepon lagi.
“Mereka menggunakan kartu akses cadangan.”
Aku berdiri dari tempat tidur.
“Tidak mungkin. Kartu cadangan saya simpan di dalam apartemen.”
“Itulah masalahnya.”
Aku tidak menjawab.
Pak Hendra melanjutkan,
“Menurut catatan sistem, kartu tersebut pertama kali digunakan dua bulan lalu.”
Dua bulan.
Aku duduk kembali.
Dua bulan lalu aku pernah pergi tiga hari ke Solo menghadiri reuni sekolah.
Aku membuka aplikasi kamera dan mencari rekaman lama.
Sebagian sudah otomatis terhapus karena kapasitas penyimpanan.
Namun catatan akses masih ada.
Aku meminta pengelola gedung mengirimkan riwayatnya.
Ada empat tanggal.
Empat.
Bukan satu.
Aku membaca tanggal-tanggal itu sambil mencoba mengingat di mana aku berada.
Solo.
Rumah Wulan.
Acara ulang tahun teman.
Dan sekali, pemeriksaan kesehatan yang membuatku berada di luar hampir seharian.
Mereka tidak baru pertama kali masuk.
Mereka hanya baru pertama kali tertangkap olehku.
Aku memejamkan mata.
“Bagaimana mereka mendapatkan kartu itu?”
Pak Hendra menjawab pelan.
“Kemungkinan mereka mengambilnya ketika berkunjung terakhir kali.”
Aku langsung ingat.
Bayu pernah datang sendirian sekitar tiga bulan sebelumnya.
Katanya ingin mengantarkan buah.
Ia hanya tinggal empat puluh menit.
Saat itu aku pergi ke kamar mandi beberapa menit.
Kartu cadangan berada di laci meja dekat pintu.
Aku tidak punya bukti bahwa Bayu mengambilnya saat itu.
Tetapi rasanya…
Tidak.
Aku berhenti menebak.
Aku sudah terlalu lama mengisi kekosongan dengan alasan-alasan yang membuat putraku terlihat lebih baik.
Kali ini aku hanya akan mempercayai fakta.
Pak Hendra memintaku menandatangani beberapa dokumen elektronik.
Pertama, pemberitahuan resmi kepada pengelola gedung bahwa hanya aku yang berhak memberikan izin masuk ke unit.
Kedua, permintaan penonaktifan seluruh kartu akses selain kartu utama yang berada bersamaku.
Ketiga, perubahan daftar kontak darurat.
Nama Bayu kuhapus.
Tanganku berhenti tepat sebelum menekan tombol konfirmasi.
Nama anakku berada di layar.
Bayu Pratama.
Kontak darurat.
Selama bertahun-tahun aku berpikir, jika sesuatu terjadi kepadaku, Bayulah orang pertama yang harus dihubungi.
Sekarang jariku menggantung beberapa milimeter di atas layar.
“Mbak?”
Wulan berdiri di ambang pintu.
Aku menekan tombol itu.
Nama Bayu menghilang.
Sebagai gantinya, kumasukkan Wulan.
Selesai.
Tetapi Pak Hendra belum selesai.
“Bu Mira, saya perlu menanyakan sesuatu yang lebih pribadi.”
“Silakan.”
“Surat wasiat Ibu terakhir dibuat tujuh tahun lalu.”
Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Saat itu hampir seluruh asetku akan diwariskan kepada Bayu.
“Apakah Ibu ingin meninjaunya kembali?”
Aku melihat keluar jendela.
Anak-anak tetangga sedang bermain sepeda di jalan kecil depan rumah Wulan.
“Aku tidak ingin menghukum cucu-cucuku karena kesalahan orang tua mereka.”
“Tidak perlu.”
“Bagaimana caranya?”
Pak Hendra menjelaskan beberapa pilihan.
Aku mendengarkan.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa selama ini aku selalu berpikir hanya ada dua kemungkinan.
Memberikan semuanya kepada Bayu.
Atau tidak memberikan apa pun.
Ternyata hidup jarang sesederhana itu.
Kami mulai menyusun sesuatu yang berbeda.
Sebagian aset akan masuk ke dana pendidikan kedua cucuku dan hanya dapat digunakan untuk kebutuhan sekolah serta kuliah mereka.
Sebagian akan diberikan kepada Wulan.
Sebagian lagi kelak akan kusumbangkan kepada yayasan pendidikan yang dulu sering dibantu Bambang.
Bayu tetap mendapat bagian.
Namun tidak lagi memiliki kendali atas semuanya.
Apartemen?
Aku mengambil keputusan sendiri.
“Jangan masukkan apartemen ke bagian Bayu.”
Pak Hendra terdiam sejenak.
“Baik.”
Aku menutup telepon.
Aneh sekali.
Tidak ada petir.
Tidak ada musik dramatis.
Hanya suara Wulan dari dapur yang bertanya apakah aku mau makan soto.
Dan aku tiba-tiba lapar.
Benar-benar lapar.
Aku tertawa.
Wulan muncul membawa dua mangkuk.
“Kenapa?”
“Entahlah.”
Aku mengusap mata.
“Mungkin aku baru sadar hidupku ternyata belum selesai.”
Hari Minggu aku pulang ke Jakarta.
Aku tidak memberi tahu Bayu.
Begitu sampai di gedung apartemen, kepala keamanan sudah menungguku.
Ia meminta maaf berkali-kali.
Aku menghentikannya.
“Bapak tidak perlu meminta maaf atas sesuatu yang tidak Bapak lakukan.”
Kami mengganti kode akses pintu.
Kartu cadangan dinonaktifkan.
Aku juga meminta teknisi memasang kunci tambahan.
Ketika membuka pintu unit 1208, semuanya sudah kosong.
Bayu dan Laras sudah pergi.
Namun bekas keberadaan mereka masih ada.
Mainan kecil tertinggal di bawah meja.
Ada noda susu di karpet.
Ruang bacaku berantakan.
Dan surat Laras masih berada di meja dapur.
Ibu juga sedang tidak memakainya.
Aku mengambil surat itu.
Memotretnya.
Memasukkannya ke dalam map.
Bukan membuangnya.
Bukan pula menyobeknya.
Aku membutuhkan pengingat bahwa pernah ada hari ketika seseorang menganggap hidupku boleh digunakan karena aku sedang tidak berada di dalamnya.
Malam itu pukul delapan lewat sedikit, Bayu menelepon.
Aku membiarkannya berdering.
Ia menelepon lagi.
Kemudian pesan masuk.
Bu, kartu apartemennya kenapa tidak bisa dipakai?
Aku menatap kalimat itu cukup lama.
Bukan:
Maaf, Bu.
Bukan:
Kami masuk tanpa izin.
Pertanyaannya justru mengapa kartu itu tidak bisa dipakai.
Aku hampir tertawa.
Lalu datang pesan kedua.
Anak-anak meninggalkan beberapa barang. Besok kami ambil.
Aku mengetik:
Besok pukul sepuluh. Aku ada di rumah.
Bayu datang bersama Laras.
Tanpa anak-anak.
Begitu pintu terbuka, Laras langsung berkata,
“Bu, sebenarnya ini cuma salah paham.”
Aku mempersilakan mereka masuk.
Di meja ruang tamu sudah ada tiga cangkir teh.
Dan satu map cokelat.
Laras melihat map itu.
Wajahnya berubah sedikit.
Bayu duduk.
“Bu, kenapa kartu aksesnya diblokir?”
Aku menatap putraku.
“Bagaimana kamu mendapatkan kartu itu?”
Ia tidak menjawab.
“Bayu.”
“Cuma kartu cadangan, Bu.”
“Bagaimana kamu mendapatkannya?”
Laras menyela.
“Kami cuma pinjam.”
Aku menoleh kepadanya.
“Dari siapa?”
Ia terdiam.
Aku kembali memandang Bayu.
“Dari siapa?”
Bayu menghela napas panjang seperti aku yang sedang menyulitkan dirinya.
“Waktu itu Bayu lihat di laci.”
“Lalu?”
“Bayu ambil.”
“Tanpa izin?”
“Bu…”
“Tanpa izin?”
Akhirnya ia menjawab.
“Iya.”
Ada sesuatu dalam diriku yang selama bertahun-tahun terus menunggu alasan, tiba-tiba berhenti menunggu.
Aku membuka map.
Kuletakkan catatan akses di meja.
Empat tanggal.
Wajah Bayu berubah.
Laras langsung berkata,
“Kami bisa jelaskan.”
“Aku tidak meminta penjelasan.”
“Bu Mira, jangan seperti ini. Kami keluarga.”
Aku memandangnya.
“Justru karena kalian keluarga, aku memberi kalian kesempatan lebih banyak daripada yang akan kuberikan kepada siapa pun.”
Ia terdiam.
Aku menunjuk surat yang ditinggalkannya.
“Ini tulisanmu?”
Laras melihatnya.
“Iya, tapi waktu itu saya sedang kesal.”
Aku membaca satu kalimatnya keras-keras.
“Ibu juga sedang tidak memakainya.”
Ia menunduk.
“Aku mau bertanya sesuatu, Laras. Kalau kamu pergi berlibur selama seminggu, apakah rumahmu berhenti menjadi milikmu?”
Tidak ada jawaban.
“Kalau mobilmu diparkir dua hari, bolehkah aku mengambilnya?”
“Bukan begitu maksud saya.”
“Kalau perhiasanmu sedang tidak dipakai, bolehkah aku membawanya pulang?”
“Bu, itu berbeda.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Tidak berbeda.”
Bayu mulai gelisah.
“Sudahlah, Bu. Mau bagaimana sekarang?”
Nah.
Kalimat itu.
Bukan permintaan maaf.
Bukan penyesalan.
Mau bagaimana sekarang?
Aku membuka dokumen berikutnya.
“Mulai hari ini kalian tidak memiliki akses ke apartemen ini.”
Bayu menatapku.
“Apa?”
“Kalau ingin datang, telepon dulu. Kalau aku mengatakan boleh, kalian datang. Kalau aku mengatakan tidak, kalian tidak datang.”
Laras menyilangkan tangan.
“Jadi kami diperlakukan seperti orang asing?”
Aku menjawab,
“Orang asing justru tidak pernah masuk ke rumahku tanpa izin.”
Sunyi.
Bayu menatap lantai.
Kemudian aku mengeluarkan dokumen terakhir.
Bukan surat wasiat.
Aku tidak akan membicarakan warisan dengan mereka.
Dokumen itu adalah surat yang menyatakan seluruh keputusan finansial dan properti milikku hanya dapat dilakukan atas persetujuanku sendiri, sementara Pak Hendra menjadi pihak hukum yang akan menangani setiap permintaan terkait aset.
Bahasa sederhananya:
Tidak ada lagi pinjaman mendadak.
Tidak ada lagi permintaan uang muka.
Tidak ada lagi “cuma sedikit”.
Kalau mereka membutuhkan uang, jawabanku bisa iya.
Bisa juga tidak.
Dan tidak berarti tidak.
Bayu membaca dokumen itu.
Wajahnya pucat.
“Kenapa harus pakai pengacara segala?”
“Karena ketika aku bicara sebagai ibumu, kamu berhenti mendengarkan.”
Kalimat itu membuatnya terdiam.
Laras berdiri.
“Kalau begitu kami pulang.”
Ia mengambil tasnya.
Bayu ikut berdiri.
Aku tidak menahan mereka.
Tetapi ketika tangannya sudah berada di gagang pintu, Bayu menoleh.
Ada sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Mungkin marah.
Mungkin malu.
Mungkin keduanya.
“Ibu berubah.”
Aku tersenyum kecil.
“Iya.”
Hanya itu.
Aku berubah.
Pintu tertutup.
Aku berjalan ke balkon.
Tanganku gemetar.
Baru setelah semuanya selesai, tubuhku seperti menyadari apa yang baru saja terjadi.
Aku menangis.
Bukan karena menyesal.
Karena aku akhirnya melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan bertahun-tahun lalu.
Membela diriku sendiri.
Dua minggu Bayu tidak menghubungiku.
Kemudian tiga minggu.
Ulang tahunku datang.
Pagi itu Wulan menelepon sambil bernyanyi fals.
Teman-temanku datang membawa kue kecil.
Kami makan siang di sebuah restoran Sunda.
Aku tertawa sampai pipiku sakit.
Pukul sembilan malam, ketika aku sudah mengenakan piyama, bel pintu berbunyi.
Aku melihat kamera.
Bayu.
Sendirian.
Aku hampir tidak membuka pintu.
Namun akhirnya kulakukan.
Ia membawa sebuah kotak kecil.
“Selamat ulang tahun, Bu.”
“Terima kasih.”
Ia tidak langsung masuk.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, anakku berdiri di depan pintuku dan bertanya,
“Bayu boleh masuk?”
Aku merasakan sesuatu mencubit dadaku.
Aku mengangguk.
“Boleh.”
Kami duduk di ruang tamu.
Kotak itu berisi kue lapis legit kecil.
Bayu menatap tangannya sendiri.
“Laras tidak ikut?”
“Tidak.”
Lama sekali kami diam.
Kemudian ia berkata,
“Bayu marah sama Ibu.”
Aku hampir tersenyum.
Setidaknya ia jujur.
“Lalu?”
“Bayu merasa Ibu mempermalukan kami.”
Aku menunggu.
“Tapi setelah itu…”
Ia berhenti.
Nah.
Di situlah suaranya berubah.
“Anak perempuan Bayu bertanya kenapa kami tidak boleh lagi ke rumah Nenek.”
Aku menelan ludah.
“Bayu bilang karena kami melakukan sesuatu yang salah.”
Aku menatapnya.
“Dia bertanya apa.”
Bayu mengusap wajah.
“Bayu bilang kami masuk tanpa izin.”
“Lalu?”
“Dia bilang kalau dia mengambil pensil temannya tanpa izin, Bu Guru menyebutnya mengambil barang yang bukan miliknya.”
Aku hampir tertawa, tetapi tidak jadi.
Bayu menunduk.
“Anak umur tujuh tahun bisa mengerti sesuatu yang Bayu terus cari alasan untuk tidak mengerti.”
Mataku mulai panas.
“Kenapa kamu mengambil kartu itu?”
Ia menjawab pelan.
“Karena Bayu merasa… semua milik Ibu suatu hari nanti juga akan jadi milik Bayu.”
Itu menyakitkan.
Namun justru karena akhirnya ia mengatakannya tanpa bersembunyi, aku bisa menerimanya.
“Dan sekarang?”
“Sekarang Bayu malu.”
Ia menangis.
Bukan seperti di pemakaman Bambang.
Tidak keras.
Tidak memelukku.
Air matanya hanya jatuh ketika ia menatap lantai.
“Bayu minta maaf.”
Aku tidak langsung memaafkannya.
Ini mungkin terdengar aneh.
Bukankah seorang ibu seharusnya langsung membuka tangan?
Dulu aku juga berpikir begitu.
Sekarang tidak.
“Aku dengar permintaan maafmu,” kataku.
Bayu mengangguk.
“Aku membutuhkan waktu.”
“Iya.”
“Dan kepercayaan tidak kembali karena satu percakapan.”
“Iya, Bu.”
Ia pulang satu jam kemudian.
Tidak meminta uang.
Tidak menanyakan warisan.
Tidak meminta kartu akses baru.
Beberapa hari kemudian, cucu-cucuku datang.
Bayu menelepon terlebih dahulu.
Kami membuat pancake yang bentuknya lebih mirip pulau-pulau aneh daripada lingkaran.
Cucuku yang kecil menumpahkan susu.
Aku tertawa.
Untuk pertama kalinya aku bisa menikmati mereka tanpa merasa sedang menjalankan kewajiban.
Aku menjaga mereka ketika aku mau.
Bukan setiap Rabu.
Bukan setiap Sabtu.
Kadang aku berkata,
“Nenek sedang ada acara.”
Dan dunia ternyata tidak runtuh.
Laras membutuhkan waktu lebih lama.
Hampir tiga bulan.
Suatu sore ia datang sendirian.
Ia berdiri di depan pintu membawa tanaman anggrek kecil.
“Boleh masuk, Bu?”
Aku mengangguk.
Ia duduk dengan kaku.
Lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Surat.
Bukan surat panjang.
Hanya beberapa paragraf.
Ia meminta maaf atas kartu akses, apartemen, foto Bambang, dan terutama kalimat yang ditulisnya.
“Aku tidak berharap Ibu langsung memaafkan saya,” katanya.
Aku menatapnya.
“Saya cuma mau mengakui kalau waktu itu saya merasa berhak. Padahal saya tidak berhak.”
Itulah pertama kalinya Laras berbicara kepadaku tanpa mencoba terdengar lebih pintar.
Hubungan kami tidak mendadak sempurna.
Aku bahkan tidak menginginkannya.
Ada hari-hari kami masih tidak sepakat.
Ada ucapan yang kadang terasa tajam.
Ada makan malam keluarga yang sedikit canggung.
Begitulah keluarga.
Tidak semua luka harus berubah menjadi pelukan sambil menangis.
Beberapa luka sembuh dengan cara yang lebih membosankan.
Seseorang mulai mengetuk pintu.
Seseorang mulai bertanya sebelum meminjam.
Seseorang mengembalikan barang ke tempatnya.
Seseorang belajar menerima kata tidak tanpa membuat drama.
Setahun berlalu.
Aku tidak menjual apartemen.
Aku justru mengubah balkon kecil menjadi tempat favoritku.
Ada tanaman cabai, kemangi, melati, dan sebuah kursi rotan yang menurut Wulan terlalu besar.
Aku tidak peduli.
Aku menyukainya.
Aku juga mulai bepergian.
Solo.
Malang.
Bali bersama Wulan.
Aku bahkan ikut perjalanan kelompok ke Labuan Bajo meskipun Bayu awalnya khawatir.
“Bu yakin kuat?”
Aku menjawab,
“Kalau capek, ya istirahat.”
Sesederhana itu.
Foto dari perjalanan itu sekarang berada di meja kecil ruang tamu.
Di sebelah foto Bambang.
Aku berdiri di atas kapal mengenakan topi lebar yang membuatku terlihat konyol, tertawa ke arah kamera.
Aku suka foto itu.
Karena perempuan di dalamnya tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu hidupnya selesai.
Pada ulang tahunku yang ke-67, Bayu datang bersama Laras dan anak-anak.
Mereka membawa nasi tumpeng kecil.
Sebelum masuk, cucu perempuanku mengetuk pintu tiga kali.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku membuka pintu.
“Nenek!”
Ia langsung memelukku.
Bayu berdiri di belakangnya.
“Boleh masuk, Bu?”
Aku tertawa.
“Masuklah.”
Malam itu kami makan bersama.
Tidak ada pembicaraan tentang uang.
Tidak ada permintaan.
Tidak ada proposal investasi.
Anak-anak berlari ke ruang membaca.
Cucuku yang paling besar berhenti di ambang pintu.
“Nek, boleh ambil buku?”
Aku menatapnya.
“Boleh. Satu saja, nanti dikembalikan.”
“Oke!”
Aku memperhatikannya mengambil buku cerita dari rak.
Ia memegangnya hati-hati.
Sesuatu yang kecil.
Hampir tidak berarti.
Tetapi aku tiba-tiba teringat sebuah kartu akses yang pernah diambil dari laci tanpa sepengetahuanku.
Dan aku sadar perubahan besar kadang memang tidak terlihat besar.
Kadang bentuknya hanya sebuah pertanyaan:
Boleh?
Setelah mereka pulang, aku membereskan meja.
Di dapur aku menemukan selembar kertas.
Jantungku sempat berhenti sesaat.
Kertas.
Di dapur.
Aku hampir tertawa karena kenangan lama itu langsung kembali.
Aku mengambilnya.
Tulisan tangan cucuku memenuhi setengah halaman.
Ada gambar seorang perempuan berambut pendek berdiri di balkon bersama empat pot bunga.
Di atasnya ia menulis dengan huruf besar yang tidak rata:
RUMAH NENEK MIRA.
Aku berdiri lama sambil memegang gambar itu.
Rumah Nenek Mira.
Bukan rumah kosong.
Bukan apartemen yang sedang tidak dipakai.
Bukan sesuatu yang suatu hari otomatis menjadi milik orang lain.
Rumahku.
Aku membawa gambar itu ke ruang tamu dan memasukkannya ke dalam bingkai sederhana.
Bingkai tersebut kuletakkan tepat di samping foto Bambang.
“Pak,” bisikku sambil memandang wajah suamiku dalam foto.
“Aku akhirnya belajar.”
Entah kenapa aku tertawa sendiri.
Kalau Bambang masih hidup, mungkin ia akan menjawab bahwa aku memang keras kepala dan membutuhkan waktu terlalu lama.
Mungkin benar.
Malam semakin larut.
Aku mematikan lampu ruang tamu satu per satu.
Sebelum masuk kamar, aku berdiri sebentar di depan pintu.
Kunci baru masih terpasang.
Kartu aksesku berada di meja.
Satu kartu.
Milikku.
Aku pernah mengira akhir yang bahagia berarti Bayu kembali menjadi putra yang dulu memelukku di depan makam ayahnya dan berjanji tidak akan pernah meninggalkanku.
Ternyata aku salah.
Aku tidak membutuhkan Bayu kembali menjadi anak berusia 26 tahun itu.
Ia sudah dewasa.
Aku juga tidak membutuhkan Laras berubah menjadi menantu sempurna.
Tidak ada orang seperti itu.
Yang kubutuhkan hanyalah sesuatu yang selama ini tidak pernah kuminta dengan jelas:
Rasa hormat.
Dan anehnya, setelah aku berhenti memberikan semuanya karena takut kehilangan keluarga, aku justru mulai mendapatkan keluargaku kembali.
Bukan sekaligus.
Sedikit demi sedikit.
Dengan batas.
Dengan pintu yang harus diketuk.
Dengan kata “boleh” dan “tidak” yang akhirnya memiliki arti.
Beberapa bulan kemudian Pak Hendra menelepon menanyakan apakah aku masih ingin mempertahankan perubahan pada surat wasiat.
Aku sedang menyiram tanaman di balkon.
“Iya.”
“Tidak ingin dikembalikan seperti semula?”
“Tidak.”
Ia diam.
Aku tersenyum.
“Memaafkan seseorang bukan berarti mengembalikan semua kunci yang pernah kita ambil darinya, kan, Pak?”
Pak Hendra tertawa.
“Benar, Bu.”
Dana pendidikan cucu-cucuku tetap ada.
Bagian untuk Wulan tetap ada.
Sumbangan atas nama Bambang tetap ada.
Bayu tetap mendapatkan bagiannya.
Cukup.
Tidak semuanya.
Dan aku merasa damai dengan itu.
Sebelum menutup telepon, Pak Hendra bertanya,
“Kalau apartemennya sendiri bagaimana?”
Aku melihat ke dalam rumah.
Rak buku.
Sofa abu-abu.
Selendang batik.
Foto Bambang.
Gambar bertuliskan RUMAH NENEK MIRA.
Lalu aku melihat koper kecil di dekat pintu.
Besok pagi aku akan pergi ke Yogyakarta bersama teman-temanku.
Lima hari.
Apartemen ini akan kosong.
Aku tersenyum.
“Untuk sekarang, apartemen itu tetap milik saya.”
Aku menutup telepon.
Keesokan paginya aku menyeret koper menuju pintu.
Sebelum keluar, aku menatap ruangan sekali lagi.
Lalu aku tertawa ketika teringat satu kalimat yang pernah membuatku menangis:
Ibu juga sedang tidak memakainya.
Dulu kalimat itu terasa seperti penghinaan.
Sekarang aku tahu jawabannya.
Aku tidak perlu berada di rumah setiap saat agar rumah itu tetap menjadi milikku.
Aku tidak harus terus menggunakan sesuatu agar hakku atasnya dihormati.
Dan aku tidak perlu menghabiskan seluruh sisa hidupku dengan selalu tersedia hanya untuk membuktikan bahwa aku masih berguna bagi keluargaku.
Aku mematikan lampu.
Menutup pintu.
Menguncinya.
Lalu berjalan menuju lift dengan koper di belakangku.
Kali ini tanpa rasa bersalah.
Karena pada usia 67 tahun, setelah menjadi istri, ibu, nenek, pengasuh, pemberi pinjaman, tempat meminta bantuan, dan orang yang hampir selalu berkata iya…
aku akhirnya belajar menjadi Mira lagi.
Dan ternyata perempuan itu masih punya banyak tempat yang ingin ia kunjungi.
