Di dalam mobil, Rian mulai membuka laptopnya untuk memeriksa arsip dokumen digital keluarga.

PART 2 Pukul 02.17 WIB, mereka berempat berkumpul di rumah Rian. Reno memegang ponselnya dengan...

Ketika Maya mengambil ponsel itu, dia tahu dia mungkin baru saja menyelamatkan rumah neneknya.

PART 2 Pukul 20:00 keesokan harinya, sebuah mobil mewah menjemput Maya di depan gang rumahnya....

Penghinaan semalam ternyata bukan sekadar keangkuhan seorang miliarder.

PART 2 Sutini duduk di sudut warung kopi tenang di kawasan Surabaya Selatan sore itu....

Pagi harinya, sebuah berkas rahasia diletakkan di meja Hendra.

PART 2 Anak di dalam foto itu adalah putra kandung Maya. 3 tahun lalu di...

Pada pukul 00:17, dia menemukan alasan sebenarnya di balik penolakan anggaran tersebut.

BAGIAN 2 Anggaran modernisasi server sebesar Rp 2,5 miliar itu ditolak Clarissa 14 bulan lalu...

Maya menatap pintu kamar yang tertutup, lalu mengetik satu kata singkat:

PART 2 Pukul 14.00 WIB, ruang pertemuan di lantai atas Hotel Grand Imperium sudah terisi...

SAYA DUDUK 9 JAM DI KURSI LIPAT PERUSAHAAN SAYA SENDIRI SAMBIL DITERTAWAKAN DIREKTUR. SAAT DIREKTUR MENOLAK CAIRKAN GAJI 1.860 BURUH, SAYA BUKA IDENTITAS ASLI!  Pukul 16:47, sebuah nampan berisi gelas-gelas kotor mendarat tepat di dekat kaki Kirana Wijaya. Siska, sekretaris direksi, menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan jijik. “Kalau memang butuh uang dan cuma bisa duduk manis di situ, lebih baik kamu ke dapur belakang dan cuci semua gelas ini,” ujar Siska keras di depan belasan karyawan. Beberapa staf kantor yang lewat tertawa kecil. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu siapa wanita berjaket kain biru kusam itu. Kirana duduk tenang sambil memeluk sebuah map kulit cokelat yang sudah agak terkelupas di bagian pinggirnya. Dia adalah pemilik tunggal PT Armada Logistik Nusantara. Perusahaan transportasi raksasa yang membawahi 1.860 karyawan di seluruh Indonesia. Hari ini adalah tenggat akhir pencairan gaji bulanan seluruh buruh dan staf sebelum pukul 18:00. Kirana sengaja datang dari Surabaya ke kantor pusat di Jakarta menggunakan kereta pagi. Dia tiba di gedung menara kaca kawasan Gatot Subroto itu pukul 08:38. Sejak membeli gedung ini 4 tahun lalu melalui perusahaan holding miliknya, Kirana tidak pernah mengizinkan foto dirinya dipajang di dinding. Dia tidak pernah muncul di media sosial perusahaan atau video profil korporat. Prinsip hidup yang dia pegang berasal dari almarhum ayahnya, seorang mantan sopir truk trailer. “Jika orang baru menghormatimu setelah tahu jabatanmu, artinya mereka tidak menghormati manusianya, tapi cuma takut pada kekuasaannya.” Pagi itu, Kirana tidak menyebutkan siapa dirinya kepada siapa pun. Dia hanya mengatakan memiliki janji bertemu pukul 09:00 dengan Rendy Perkasa, Direktur Operasional Wilayah Barat. Pertemuan itu sudah dijadwalkan sejak 10 hari lalu. Selain urusan janji tersebut, Kirana harus menandatangani berkas pencairan gaji secara fisik. Itu adalah aturan internal yang sengaja Kirana pertahankan. Dua kali dalam sebulan, dia harus melihat secara langsung jumlah angka dan daftar nama orang-orang yang menggantungkan hidup pada perusahaannya. Di meja depan lantai dasar, Pak Bambang, petugas keamanan senior berusia 61 tahun, menyambutnya ramah. Pak Bambang menyerahkan kartu tamu nomor 17. Dia mencatat rapi di buku tamu kulit hitam: “K. Wijaya, 09:00, janji dengan Bpk. Rendy P., masuk 08:41.” Saat Kirana naik ke lantai 12, Siska menyapa dengan nada dingin. “Mau cari siapa?” “Saya ada janji dengan Pak Rendy jam 9.” Siska memeriksa komputer, lalu menyipitkan mata. “Tidak ada nama kamu di jadwal. Kamu datang mau menawarkan barang?” “Tolong periksa lagi. Janji itu sudah dibuat minggu lalu.” Siska mengibas tangan dengan malas. “Pak Rendy sibuk. Kalau mau menunggu, duduk saja di sudut sana.” Pukul 09:18, Rendy berjalan melintasi lobi utama sambil tertawa bersama dua manajer seniornya. Dia melewati Kirana yang jaraknya kurang dari 2 meter tanpa menoleh sedikit pun. Pukul 10:03, seorang konsultan keuangan berpakaian rapi datang tanpa janji. Siska langsung menyapa ramah dan membukakan pintu ruangan Rendy dalam waktu kurang dari 2 menit. Kirana mengeluarkan pulpen, lalu mencatat jam kejadian itu di sudut lembar catatannya. Pukul 11:20, Siska kembali menghampiri Kirana dengan tangan bersedekap. “Kamu masih di sini? Jangan bikin lobi kelihatan kumuh. Tangkap sinyal dong, Pak Rendy tidak ada waktu buat orang biasa.” Kirana tidak menjawab. Di dalam map cokelatnya, Kirana membawa 4 lembar surat aduan tanpa nama yang dikirim ke kotak pos pribadinya dalam 3 bulan terakhir. Semua aduan itu menyampaikan hal serupa: “Lantai 12 hanya melayani orang bersetelan mahal. Orang kecil dianggap tidak ada.” Kirana ingin membuktikan sendiri apakah aduan itu nyata atau sekadar isapan jempol. Pukul 13:35, semua keraguan Kirana sirna. Dari balik dinding kaca ruang rapat yang agak terbuka, dia mendengar suara Rendy tertawa nyaring. “Biarkan saja wanita itu duduk di situ. Saya mau lihat seberapa tahan dia bertahan sebelum akhirnya menyerah dan pulang!” Kirana menutup map cokelat di pangkuannya. Dia tidak lagi sekadar menguji laporan aduan. Dia sedang menyaksikan seberapa parah pembusukan moral yang terjadi di jajaran direksi perusahaannya sendiri.

PART 2 Pukul 14:10, staf bagian keuangan berlari kecil menghampiri meja Siska di lantai 12....

“Arini, datang ke rumah saya sekarang.”

PARTE 2 Arini memacu sepeda motornya menuju rumah Pak Broto. Pak Broto sudah menunggu di...

Dia juga belum menyadari bahwa adiknya telah mencoba memberi tahu satu rahasia besar selama hampir 1 tahun.

PART 2 Aris menemukan kontrakan kecil tempat Rina tinggal di daerah Tambora, Jakarta Barat. Rina...

Dia menatap Maya dengan tatapan dingin.

PART 2 Dalam waktu 2 minggu, Maya berhasil mengolah seluruh sisa hasil panen menjadi mentega...