Pernikahannya bukan hanya hancur karena kurangnya rasa hormat.

PART 2

2 minggu kemudian, Ibu Ratna meminta ruang kerja Rina dikosongkan.

“Saya mau pakai ruangan ini untuk menumpuk kardus barang-barang lama. Lagipula pekerjaanmu itu bukan kerja beneran.”

Aris bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

“Kasihkan saja. Kamu kan bisa pakai laptop di meja dapur.”

Rina tidak membantah.

Ia berjalan ke kamar, membuka lemari, dan mengeluarkan 19 map dokumen.

Satu map untuk setiap tahun usia pernikahan mereka.

Ia meletakkan seluruh map itu di atas meja makan.

Di dalamnya teratur rapi kuitansi cicilan rumah, bukti pembayaran listrik, tagihan obat Ibu Ratna, biaya sekolah, kursus musik Sasa, belanja bulanan, dan bukti transfer dari rekening Rina.

Rata-rata pengeluaran rumah tangga mereka mencapai Rp37.000.000 per bulan.

Sedangkan gaji Aris yang masuk ke rekening keluarga hanya Rp13.500.000.

Rina menunjuk angka di lembaran kertas.

“Dari mana sisanya selama bertahun-tahun ini?”

Aris tertegun.

“Maksudmu apa?”

“Saya yang membayar seluruh kekurangan itu dari hasil usaha saya.”

Ibu Ratna terdiam membisu di kursinya.

Rina lalu menatap Aris dengan tenang.

“Sekarang tunjukkan kepada ibumu, ke mana perginya uang deposito Rp68.400.000 peninggalan almarhum Bapak?”

Aris mendadak berdiri dan memukul meja.

“Itu urusan internal keluarga saya! Kamu tidak berhak ikut campur!”

Reaksi panik Aris menjadi jawaban pasti bagi Rina.

Malam itu juga, Rina menghubungi pengacara, menyewa sebuah rumah kontrakan yang berjarak 10 menit dari sekolah anak-anak, dan menyiapkan proses perceraian.

Pada tanggal 8 November, Rina menyampaikan keputusan itu di depan meja makan.

Aris tersenyum meremehkan.

“Pergi saja. Tapi bawa semua anak-anakmu. Jangan harap ada yang tersisa di sini.”

Ibu Ratna ikut terkekeh sinis.

Rafi berdiri dan menatap ayah serta neneknya.

“Ingat kata-kata kalian malam ini. Nanti kalian akan tahu siapa yang sebenarnya menjalankan rumah ini.”

Rina tidak langsung angkat kaki hari itu juga.

Atas saran pengacaranya, ia mengumpulkan seluruh bukti penghasilan, aset, dan kuitansi pembayaran selama bertahun-tahun.

Aris menganggap ketenangan Rina sebagai bentuk ketakutan.

“Kamu tidak akan bertahan lebih dari 2 bulan mengurus 3 anak sendirian,” cibir Aris suatu pagi.

Rina tidak merespons.

Pertemuan mediasi pertama digelar di kantor pengacara pada bulan Desember.

Pengacara Rina menanyakan kesediaan Aris mengenai hak asuh anak.

“Anak-anak mau ikut ibunya, ya bawa saja semua,” jawab Aris acuh tak acuh.

Ia tidak sebut nama Rafi, Sasa, atau Maya.

Ia hanya menyebut mereka sebagai “anak-anak itu”.

Namun saat membahas nafkah anak, sikap Aris berubah drastis.

“Saya tidak mau membiayai gaya hidup barunya!”

Pengacara Rina menyela dengan tegas.

“Ini bukan untuk gaya hidup klien kami. Ini adalah kewajiban hukum seorang ayah untuk biaya hidup dan pendidikan 3 anak kandungnya.”

Pengacara lalu menyerahkan berkas keuangan Rina.

Bukti penghasilan dari perusahaan medis.

Bukti laporan keuangan dan omzet Astuti Konsultan.

Bukti pembayaran sekolah, les musik, dan tagihan medis.

Aris membelalakkan mata membaca angka pendapatan Astuti Konsultan.

“Kamu menghasilkan uang sebanyak ini dari laptop itu?”

Rina menatapnya lurus.

“Ya. Dari laptop yang mau kamu pindahkan ke meja dapur.”

Ibu Ratna yang ikut hadir dalam mediasi tampak terkejut.

“Kalau kamu punya uang sebanyak ini, kenapa kamu biarkan Aris bekerja keras?”

Pengacara Rina menyerahkan map lain kepada Ibu Ratna.

“Ibu Ratna, catatan ini membuktikan bahwa selama bertahun-tahun, Rina yang menanggung 70 persen pengeluaran rumah tangga, termasuk seluruh biaya pengobatan dan kebutuhan pribadi Ibu.”

Ibu Ratna terperanjat.

Kemudian pengacara mengeluarkan dokumen terakhir: riwayat penarikan dana deposito almarhum suaminya sebesar Rp68.400.000.

Ibu Ratna menunjuk dokumen itu.

“Uang itu simpanan saya! Kenapa ada di berkas ini?”

Pengacara menunjukkan bukti penarikan yang dilakukan oleh Aris.

“Uang itu sudah ditarik habis dalam 7 kali transaksi oleh Aris.”

Ibu Ratna menoleh ke arah anaknya dengan wajah pucat.

“Aris… apa benar ini?”

Aris menunduk, tidak berani menatap ibunya.

“Uang itu… dipakai untuk bayar utang investasi dan cicilan mobil lama, Bu…”

Ibu Ratna terduduk lemas di kursinya.

Selama bertahun-tahun ia membanggakan Aris sebagai tulang punggung keluarga dan menuduh Rina menumpang hidup.

Kini ia tahu bahwa anak kandungnya yang menghabiskan uang simpanannya, sementara menantunya yang diam-diam membiayai hidupnya.

Proses perceraian berlanjut tanpa perlawanan berarti dari Aris.

Tanggal 10 Januari, Rina dan ketiga anaknya resmi pindah ke rumah kontrakan baru.

Rina tidak mengambil perabotan besar dari rumah Bintaro.

Ia hanya membawa pakaian, buku, laptop, alat musik Sasa, perlengkapan sekolah Maya, dan 19 map dokumen pilihannya.

Rumah baru mereka memang lebih kecil, tetapi memiliki jendela besar yang terang.

Malam pertama, mereka makan malam bersama di lantai beralas karpet.

Sasa tertawa terbahak-bahak saat menceritakan kejadian di sekolah, lalu mendadak menutup mulutnya dengan tangan.

“Maaf…” kata Sasa pelan.

Rina heran.

“Kenapa minta maaf, Sasa?”

“Takut bikin bising…”

Suasana hening sejenak.

Rina menyadari betapa anak-anaknya terbiasa hidup dalam ketakutan akan teguran dan bentakan di rumah lama.

Rina tersenyum lembut.

“Di rumah ini, kamu boleh tertawa sekeras yang kamu mau.”

Sasa kembali tertawa, diikuti Rafi dan Maya.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Rina merasakan kedamaian yang nyata.

Seminggu setelah kepindahan mereka, ponsel Rina mulai berdering terus-menerus.

Sabtu pagi pukul 08:12, panggilan dari Aris masuk.

Rina tidak mengangkatnya.

Pukul 08:19, giliran Ibu Ratna yang menelepon.

Pesan singkat mulai bermunculan di layar HP Rina.

“Di mana kamu simpan resep obat darah tinggi Ibu?”

“Detergen merek apa yang biasa dipakai untuk seragam Maya?”

“Tanggal berapa nomor pelanggan listrik harus dibayar?”

“Kenapa iuran kebersihan RT belum dibayar dan orangnya datang menagih ke rumah?”

Rina membaca semua pesan itu tanpa membalas satu pun.

Siang harinya, pesan dari Aris kembali masuk.

“Ibu tidak bisa menemukan obatnya. Tolong datang sebentar ke sini untuk jelaskan semuanya.”

Rafi yang melihat pesan itu tersenyum dingin.

“Cuma butuh 1 minggu buat mereka sadar.”

Bukan hanya urusan rumah tangga yang kacau.

Aris juga tidak tahu apa-apa tentang anak-anaknya.

3 hari kemudian, Aris menelepon Sasa.

“Sasa, meskipun Ayah dan Ibu berpisah, kamu tetap anak Ayah. Kamu boleh datang ke rumah kapan saja.”

Sasa bertanya dengan suara datar.

“Ayah tahu siapa nama guru les musik Sasa?”

Aris terdiam di seberang telepon.

“Ayah tahu lagu apa yang sedang Sasa pelajari untuk ujian bulan depan?”

“Sasa, jangan mulai bertanya hal-hal tidak penting…”

“Sasa cuma mau tahu, Ayah kangen Sasa atau kangen ada orang yang mengurus rumah?”

Sasa langsung mematikan telepon.

Aris juga mencoba mendatangi Rafi di dekat sekolahnya.

“Rafi, kamu sudah 17 tahun. Kamu bisa tinggal sama Ayah.”

“Kenapa Rafi harus tinggal di sana?”

“Kamu anak laki-laki tertua. Kamu bisa bantu Ayah menjaga Nenek di rumah.”

Rafi menatap ayahnya dengan pandangan kecewa.

“Ternyata benar. Ayah tidak butuh anak. Ayah cuma butuh pengganti Ibu untuk melayani Nenek.”

“Ayah tidak bermaksud begitu!”

“Malam itu Rafi sudah peringatkan Ayah, tapi Ayah yang mengusir kami semua.”

Aris tidak bisa menjawab lagi.

Pada akhir bulan Januari, Ibu Ratna mengalami lonjakan tekanan darah tinggi.

Aris yang panik menelepon Rina.

“Rina, di mana buku catatan kontrol kesehatan Ibu? Dokter minta rekam medisnya!”

Rina menjawab dengan tenang dari balik telepon.

“Buku itu tidak ada di saya.”

“Lalu di mana? Kamu kan yang selalu mencatatnya!”

“Bukan saya. Maya yang mencatatnya.”

Aris tertegun.

“Maya? Maya masih 10 tahun!”

“Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Maya yang memasang alat tensi di lengan Neneknya dan mencatat angkanya di buku biru. Kalau obat Nenek belum diminum, Maya yang mengambilkan air putih.”

Aris terdiam seribu bahasa.

Selama 2 tahun terakhir, Ibu Ratna selalu mengira kontrol kesehatannya berjalan otomatis karena pelayanan rumah sakit.

Ia tidak pernah tahu bahwa cucu kecilnya yang setiap pagi memastikan kesehatannya sebelum pergi sekolah.

Cucu yang sering ia keluhkan karena dianggap membuat bising.

Aris menemukan buku catatan biru itu di dalam laci meja kecil kamar ibunya.

Di lembar terakhir, tertulis tulisan tangan Maya yang masih kekanak-kanakan:

“10 Oktober, tensi Nenek 138/86. Nenek kelihatan capek.”

“21 Oktober, tensi Nenek 132/82. Hari ini Nenek ingat minum obat sendiri.”

Dan di halaman paling akhir, tertulis tanggal hari mereka pindah:

“Hari ini kami pindah. Maya tidak sempat ukur tensi Nenek karena barang-barang sudah diangkut. Obat Nenek sudah Maya pisahkan di kotak sampai hari Minggu. Semoga Nenek tidak marah sama Maya. Maaf Maya tidak bisa datang besok pagi.”

Aris memegang buku itu dengan tangan gemetaran.

Ia memanggil ibunya dan membacakan tulisan tangan Maya di depan Ibu Ratna.

Ibu Ratna menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tanpa suara.

Penyesalan yang sangat dalam akhirnya menghantam mereka berdua.

Orang-orang yang selama ini mereka anggap beban dan sumber kegaduhan adalah orang-orang yang menjaga hidup mereka tetap berjalan setiap hari.

Seminggu kemudian, sebuah paket kecil tiba di rumah baru Rina.

Paket itu berisi sebuah surat dari Ibu Ratna untuk Maya.

Surat itu tidak berisi alasan atau pembenaran diri.

Hanya ada beberapa baris kalimat:

“Nenek dulu selalu bilang kamu membuat bising. Sekarang Nenek tahu, suara langkah kakimu di pagi hari adalah tanda bahwa ada orang yang sangat menyayangi Nenek. Nenek simpan buku birumu. Nenek tidak akan pernah melupakan kebaikanmu lagi.”

Maya membaca surat itu, lalu menyimpannya di dalam laci meja belajarnya.

3 minggu kemudian, Maya menggambar sebuah cangkir teh dan kotak obat di atas kertas, lalu mengirimkannya lewat pos ke rumah Bintaro tanpa menuliskan pesan apa pun.

Itu adalah caranya menyampaikan perpisahan dengan damai.

Waktu terus berjalan.

Rafi berhasil diterima di jurusan Teknik Sipil universitas negeri impiannya.

Sasa terpilih menjadi ketua grup musik di sekolahnya dan memenangkan kompetisi daerah.

Astuti Konsultan berkembang semakin pesat.

Rina menambah 2 staf administrasi baru untuk membantunya, sehingga ia tidak perlu lagi bekerja sampai larut malam.

Ia kini memiliki waktu untuk menemani anak-anaknya makan malam setiap hari.

19 map dokumen masih tersimpan di lemari ruang tamu mereka.

Dokumen-dokumen itu bukan lagi simbol penderitaan bagi Rina, melainkan bukti ketangguhan dan perjuangannya sebagai seorang ibu.

Aris dan Ibu Ratna mendapatkan apa yang mereka minta malam itu.

Mereka mendapatkan rumah yang hening tanpa suara anak-anak, tanpa musik, dan tanpa laptop yang menyala di malam hari.

Namun di dalam keheningan itu, mereka akhirnya menyadari satu hal.

Keheningan yang mereka inginkan ternyata bukanlah kedamaian.

Itu adalah kehampaan dari sebuah rumah yang telah kehilangan jiwanya.

Rina duduk di sofa rumah barunya sambil memegang cangkir hangat.

Di ruang tengah, Rafi dan Sasa sedang berdebat seru tentang jadwal penggunaan meja belajar, sementara Maya bernyanyi kecil sambil menempelkan gambar baru di pintu kulkas.

Suasana rumah itu penuh dengan suara dan tawa.

Rina tersenyum pelan.

Suara-suara itu bukan lagi sebuah kegaduhan.

Suara-suara itu adalah kehidupan yang sesungguhnya.