AKU MENGABAIKAN TELEPON AYAH SAAT IBU MENATAPKU DAN BERPULANG UNTUK SELAMANYA SEBAB SELAMA INI AYAH LEBIH MEMILIH ISTRI MUDA DAN MENUDUH IBU HANYA BERPURA-PURA SAKIT DEMI MENCARI PERHATIAN HINGGA PENYESALAN ITU DATANG TERLAMBAT!

AKU MENGABAIKAN TELEPON AYAH SAAT IBU MENATAPKU DAN BERPULANG UNTUK SELAMANYA SEBAB SELAMA INI AYAH LEBIH MEMILIH ISTRI MUDA DAN MENUDUH IBU HANYA BERPURA-PURA SAKIT DEMI MENCARI PERHATIAN HINGGA PENYESALAN ITU DATANG TERLAMBAT!

Tanganku berguncang hebat di dalam lorong dingin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Di atas meja kecil di sebelah pembaringan Ibu, sebuah telepon genggam terus bergetar tanpa henti. Layar ponsel itu menyala terang, memantulkan satu nama yang dulu sangat kucintai, namun kini membakar dada dengan rasa benci yang meluap.

Bapak Farhan.

Aku hanya menatap layar berdering itu dengan pandangan hampa. Suara deringnya seolah menampar kesunyian di ruangan yang berbau antiseptik tajam ini. Sambil menelan ludah yang terasa sepahit racun, aku menjulurkan tangan, lalu pelan-pelan meletakkan kembali ponsel itu secara terbalik di atas meja.

Namaku Nabila. Usiaku baru dua puluh satu tahun, namun guratan di dadaku sudah bagaikan orang tua yang menanggung beban hidup seabad.

Aku tahu persis, jika kerabat atau tetangga melihat sikapku detik ini, mereka tanpa ragu akan melabeliku sebagai anak durhaka. Mereka akan mengutukku sebagai anak yang tega memutuskan tali silaturahmi dengan orang tua kandung. Namun… mereka tidak pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Ibu merintih kesakitan saban malam, memegang perutnya yang mengeras akibat pembengkakan organ dalam. Mereka tidak pernah melihat darah yang mengucur dari selang cuci darah Ibu.

Tiga tahun terakhir adalah neraka jahanam bagi kami berdua. Ibu didiagnosis menderita penyakit ginjal stadium akhir. Tubuh Ibu yang dulunya berisi dan hangat, perlahan-lahan mengering, menyusut hingga tinggal tulang terbungkus kulit pucat. Wajah cantiknya berganti menjadi guratan kesakitan yang tak tertahankan. Rumah sakit sudah menjadi rumah kedua bagi kami.

Setiap kali penyakit Ibu kambuh di tengah malam yang buta, aku memegang tangan Ibu yang dingin sambil menelepon Bapak. Berharap ada sedikit rasa kemanusiaan di dalam dada pria yang telah membesarkanku itu. Namun apa tanggapan Bapak?

“Kamu dan ibumu itu sama saja! Cuma pinter bikin drama!” jerit Bapak dari seberang telepon dengan nada jijik. “Ibumu itu cuma berpura-pura sakit demi mencari perhatianku! Dia cemburu karena aku bahagia! Jangan pernah telepon aku lagi cuma gara-gara keluhan sepele!”

Tak lama setelah vonis dokter keluar tiga tahun lalu, Bapak memilih melangkah pergi. Beliau menikahi seorang janda kaya bernama Tante Indah, lalu pindah ke kawasan perumahan mewah di Jakarta Selatan. Beliau lebih memilih memanjakan istri barunya dan membelikan mobil sport untuk kedua anak tirinya.

Sementara di sini, di sebuah rumah kontrakan sempit di daerah Kampung Melayu, aku berjuang setengah mati seorang diri. Aku terpaksa menjual sepeda motor Mio kesayanganku. Aku menggadaikan cincin kawin peninggalan Nenek. Bahkan, aku membuat keputusan paling menyakitkan dalam hidupku: mengundurkan diri dari bangku kuliah semester empat di Universitas Indonesia demi mencari uang tambahan dan menjaga Ibu dua puluh empat jam penuh.

Selama tiga tahun penderitaan itu, Bapak tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki di kontrakan kami. Tidak satu sen pun uang Rupiah mengalir dari dompetnya untuk membeli kantong darah atau biaya resep obat Ibu.

Malam sebelum Ibu benar-benar mengembuskan napas terakhir, jemari Ibu yang gemetar menggapai pergelangan tanganku. Suara Ibu terdengar seperti bisikan angin malam yang menyayat hati.

“Nabila, anakku…” bisik Ibu dengan sisa tenaga terakhirnya. “Jangan simpan dendam pada Bapakmu… Doakan saja, semoga suatu hari nanti… hatinya dibukakan oleh Allah…”

Itulah kalimat terakhir yang keluar dari bibir pucat Ibu.

Pagi harinya, saat azan Subuh berkumandang melintasi atap-atap rumah warga, Ibu resmi mengembuskan napas terakhirnya. Ibu berpulang menuju ketenangan yang abadi.

Saat proses pemandian jenazah berlangsung di halaman kontrakan, telepon genggamku kembali bergetar. Nama Bapak Farhan kembali muncul di layar. Aku menatap nama itu dengan tatapan dingin, lalu menekan tombol penolak panggilan.

Dua hari setelah pemakaman Ibu di TPU Jeruk Purut, Bapak akhirnya menampakkan batang hidungnya. Beliau berjalan menyusuri gang sempit kontrakan kami dengan kemeja Batik mahal dan senyum lebar tanpa rasa dosa. Tangannya menjinjing dua kotak besar martabak manis dan kantong belanjaan berisi oleh-oleh dari Bali.

“Nabila! Mana ibumu?” tanya Bapak dengan suara lantang saat melangkah masuk. “Suruh dia keluar! Jangan pura-pura lumpuh dan bersembunyi di kamar terus-terusan!”

Aku berdiri mematung di tengah ruangan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku berjalan mendekatinya, lalu menyerahkan sebuah bingkai foto yang baru saja kuambil dari lemari. Foto sebuah bingkai nisan tanah merah yang masih basah dengan taburan bunga mawar.

Senyum sombong di wajah Bapak mendadak sirnah. Wajahnya berubah sepucat kertas. Tangannya yang memegang kotak oleh-oleh mulai berguncang hebat hingga seluruh bawaannya jatuh terhempas ke lantai.

“A… apa-apaan ini, Nabila?!” pekik Bapak dengan suara tercekat.

“Ibu sudah pergi ke tempat yang tidak bisa Ayah jangkau lagi,” jawabku dengan suara sangat pelan namun menusuk hingga ke sumsum tulang. “Dan Ayah… terlambat untuk selamanya.”

Bapak langsung ambruk ke lantai semen yang dingin. Beliau menangis meraung-raung, memukul dadanya sendiri berulang kali bagaikan orang kesetanan. Namun, raungan itu tak lebih dari pertunjukan murahan yang tak akan pernah bisa menghidupkan kembali jasad Ibu.

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Sebulan telah berlalu sejak hari di mana Bapak meraung-raung di lantai semen kontrakan kami. Selama tiga puluh hari itu pula, kehidupan Bapak hancur berkeping-keping. Rasa bersalah yang merayap perlahan mulai menggerogoti jiwanya. Namun, aku tidak peduli. Hati nuraniku untuk pria itu sudah mati total bersamaan dengan ditutupnya liang lahat Ibu.

Suatu sore yang mendung, ketika hujan gerimis mulai mengguyur kawasan Kampung Melayu, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan gang kontrakan. Seorang pria paruh baya berjas hitam rapi keluar sambil memegang sebuah tas kulit tebal. Beliau adalah Pak Bambang, seorang pengacara senior yang sangat terkenal di Jakarta.

“Apakah ini benar rumah kediaman Almarhumah Ibu Siti?” tanya Pak Bambang dengan nada sangat sopan dan penuh simpati.

“Benar, Pak. Saya Nabila, putrinya,” jawabku sambil membukakan pintu.

Pak Bambang melangkah masuk, memandang sekeliling ruangan sempit kami yang sederhana, lalu menghela napas panjang. “Ibu Anda melimpahkan sebuah amanat besar kepada saya sebelum beliau berpulang. Beliau berpesan agar dokumen ini baru dibuka di hadapan Anda dan juga suami beliau, Bapak Farhan.”

Aku segera menghubungi Bapak. Tidak sampai tiga puluh menit, Bapak tiba di kontrakan dengan penampilan yang sangat memprihatinkan. Kemejanya kusut, matanya sembap berdarah, dan tubuhnya jauh lebih kurus dari sebelumnya. Keretakan hubungan dengan Tante Indah kabarnya mulai terjadi sejak hari pemakaman Ibu.

“Nabila… Pengacara ini bilang ada pesan dari Ibumu?” suara Bapak bergetar, memandangku dengan tatapan memohon ampun. Aku hanya memalingkan wajah, enggan menatap mata pria penyebar penderitaan itu.

Pak Bambang duduk di kursi kayu melamin yang sudah mengelupas. Beliau mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapi dan sebuah buku harian bersampul kain Batik milik Ibu.

“Bapak Farhan, sebelum saya membacakan surat wasiat resmi, ada baiknya Anda melihat berkas medis asli dari Rumah Sakit Medika ini terlebih dahulu,” kata Pak Bambang sambil menggeser sebuah map merah ke hadapan Bapak.

Bapak memuka map itu dengan jemari yang gemetaran. Matanya menyusuri lembaran demi lembaran laporan medis, analisis laboratorium, dan catatan rekam medis rahasia. Semakin bawah Bapak membaca, semakin hebat guncangan pada bahunya. Wajah Bapak berubah dari pucat menjadi biru kehitaman.

“Ya Allah… Demi Tuhan… Ini… ini tidak mungkin!” jerit Bapak hysteris.

Inilah fakta mengerikan pertama yang terungkap. Selama dua tahun terakhir, penyakit ginjal Ibu bukanlah sekadar kegagalan organ alami. Berdasarkan hasil toksikologi independen yang dilakukan oleh tim dokter khusus atas permintaan Ibu secara diam-diam, ditemukan kandungan racun zat kimia dosis tinggi yang mengendap di saluran darah Ibu!

Racun itu berasal dari suplemen palsu dan racun berdosis lambat yang dimasukkan secara berkala ke dalam minuman herbal Ibu! Dan pelaku yang menyuapkan minuman racun itu tidak lain adalah Tante Indah!

Istri muda Bapak itu ternyata secara teratur mendatangi kontrakan kami sewaktu aku sedang bekerja paruh waktu di toko kelontong. Tante Indah berpura-pura menjadi dermawan yang memberikan jamu herbal untuk penyembuhan Ibu, padahal tujuannya adalah mempercepat kerusakan organ dalam Ibu agar Ibu cepat berpulang!

Mengapa Tante Indah melakukan tindakan sekeji itu?

Jawabannya terkuak di halaman selanjutnya. Tante Indah ingin memastikan bahwa seluruh harta kekayaan peninggalan keluarga besar Ibu dari Yogyakarta tidak jatuh ke tangan Ibu atau aku!

Bapak terduduk lemas, matanya terbelalak lebar seolah hendak melompat keluar. Beliau memukul kepalanya sendiri ke dinding kayu dengan keras. “Indah… Perempuan kurang ajar itu… Dia bilang padaku itu cuma jamu kesehatan! Dia bilang ibumu cuma bersandiwara!”

“Bukan cuma itu, Bapak Farhan,” sela Pak Bambang dengan suara dingin bagaikan es. “Silakan buka buku harian Almarhumah halaman terakhir.”

Bapak dengan tangan bersimbah keringat dingin membuka buku Batik kesayangan Ibu. Tulisan tangan Ibu yang rapi dan lembut terpampang di sana, ditulis beberapa minggu sebelum Ibu mengembuskan napas terakhir.

‘Untuk suamiku, Mas Farhan… Aku tahu kamu membaca ini ketika aku sudah berada di alam yang berbeda. Aku tahu kamu sangat membenciku karena aku dianggap menjadi beban dalam hidupmu yang baru bersama Indah. Mas… aku sudah tahu sejak satu tahun lalu bahwa Indah secara perlahan meracuni minumanku. Aku tahu suplemen yang dia bawa mengandung racun keras. Tapi aku memilih untuk tetap meminumnya tanpa bersuara. Mengapa? Karena Indah mengancamku, Mas. Dia mengancam akan menyuruh orang jahat untuk mencederai Nabila, memutus masa depan anak kita, jika aku berani membuka suara padamu atau melaporkannya ke Polisi. Aku lebih baik menelan racun itu setiap hari dan menanggung rasa sakit yang luar biasa di dalam tubuhku, asalkan anakku Nabila bisa tetap hidup dengan selamat. Aku mengorbankan nyawaku demi melindungi darah daging kita dari kekejaman istri mudamu…’

“TIDAKKKK!” raung Bapak pecah seketika. Suara tangisannya menggema melintasi lorong-lorong Kampung Melayu. Bapak tersungkur di kaki Pak Bambang, menangis meraung-raung bagaikan binatang yang terluka parah.

Pria itu baru menyadari kenyataan pahit yang amat sangat mengerikan: Perempuan yang dituduhnya berpura-pura sakit demi mencari perhatian, ternyata sedang bertaruh nyawa menahan racun setiap hari demi melindungi anak kandung mereka dari kejahatan istri barunya sendiri!

“Ibuuu! Maafkan aku, Ibu! Maafkan aku!” Bapak meraung memanggil nama Ibu, memukuli dadanya sendiri hingga memar. “Aku orang bodoh! Aku suami bajingan! Ya Allah, cabut nyawaku sekarang juga! Cabut nyawaku!”

Aku berdiri mematung di sudut ruangan. Air mataku menetes deras tanpa suara. Dadaku sesak luar biasa menahan kepedihan mendalam. Ibuku tercinta… wanita tersuci dan tersabar di dunia ini, harus menanggung penderitaan sesadis itu demi melindungiku!

Namun, Pak Bambang belum selesai. Beliau merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna perak. Beliau menegakkan tubuhnya, menatap Bapak Farhan dengan pandangan penuh ketegasan.

“Ibu Siti menitipkan sebuah rekaman video di dalam flashdisk ini. Beliau menegaskan bahwa video ini adalah pesan terakhir yang wajib Anda saksikan secara utuh.”

Pak Bambang membuka laptop miliknya yang diletakkan di atas meja. Beliau memasukkan flashdisk tersebut, lalu menekan tombol pemutar media.

Layar laptop menampilkan sosok Ibu. Wajah Ibu sangat pucat, badannya kurus kering, dan hidungnya terpasang selang oksigen. Namun, matanya memancarkan ketenangan yang sangat luar biasa. Ibu tersenyum tipis menatap kamera.

“Mas Farhan…” suara Ibu terdengar lirih di dalam video itu, membuat suasana ruangan menjadi begitu hening dan mencekam.

“Jika kamu melihat video ini, artinya aku sudah tidak ada lagi di sampingmu. Aku sengaja meminta Nabila untuk tidak mengabarimu saat sakaratul maut menjemputku. Bukan karena aku benci padamu, Mas… Tapi karena aku ingin memberimu kesempatan untuk menikmati hidup barumu tanpa terganggu oleh bayangan wanitamu yang sakit-sakitan ini.”

Bapak menggigit bibirnya hingga berdarah, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari layar laptop.

“Tapi Mas, ada beberapa hal penting yang harus kamu ketahui sebelum kamu melanjutkan hidupmu bersama Indah dan anak-anaknya,” lanjut Ibu di dalam video tersebut.

Ibu menarik napas panjang, tampak begitu payah menahan rasa sakit di dadanya.

“Pertama, seluruh aset perusahan tekstil di Jakarta, rumah mewah di Menteng yang kamu tempati bersama Indah, serta seluruh rekening atas namamu… sejatinya adalah modal dari warisan keluarga besar saya di Yogyakarta. Tiga bulan lalu, sebelum fisiku melemah total, saya telah mencabut seluruh hak kuasa atas nama kamu. Lewat bantuan Pak Bambang, seluruh kepemilikan aset, rumah Menteng, perusahaan, dan rekening bank resmi saya alihkan 100 persen atas nama anak kita, Nabila.”

Bapak mendongak, matanya membelalak kaget.

“Artinya, Mas Farhan… kamu saat ini tidak memiliki satu sen pun harta. Rumah yang kamu tinggali bersama Indah bukan lagi milikmu. Perusahaan yang kamu banggakan itu kini sepenuhnya milik Nabila. Kamu melangkah keluar dari rumah ini sebagai orang yang tidak punya apa-apa.”

“A… apa?!” gumam Bapak tidak percaya.

“Dan hal kedua…” suara Ibu di dalam video mendadak berubah menjadi sangat tegas, mata Ibu menatap lurus ke kamera. “Soal kedua anak tiri yang sangat kamu banggakan, yang selalu kamu belikan barang-barang mewah dari hasil menjual perhiasanku…”

Ibu tersenyum pahit di dalam rekaman itu.

“Hasil tes DNA yang terlampir di dalam map Pak Bambang membuktikan bahwa kedua anak itu sama sekali bukan anak kandung Indah dari mantan suaminya yang dulu. Kedua anak itu adalah hasil hubungan gelap Indah bersama seorang pria lain yang selama ini memeras uangmu dari belakang! Kamu telah membiayai anak dari pria yang merusak rumah tangga kita, Mas!”

Bapak terperanjat hebat! Tubuhnya berguncang dahsyat seolah-olah dihantam petir di siang bolong. Beliau membuka kembali berkas di dalam map cokelat dengan liar. Di sana, terlampir hasil tes DNA resmi yang menyatakan bahwa Tante Indah telah membohongi Bapak selama bertahun-tahun! Bapak telah mengusir anak kandungnya sendiri dan membiarkan istrinya menderita, demi membesarkan anak-anak hasil perselingkuhan istri mudanya!

“Kurang ajar! Indahhhh! Perempuan iblis!” seru Bapak histeris, mencengkeram rambutnya sendiri hingga rontok.

Namun, kejutan terbesar belum berakhir. Di dalam rekaman video, Ibu melanjutkan kalimat terakhirnya dengan tatapan penuh kepasrahan.

“Mas Farhan… laporan kepolisian atas kasus pengancaman, percobaan pembunuhan berencana menggunakan racun, serta penggelapan aset yang dilakukan oleh Indah sudah diserahkan oleh Pak Bambang ke Polda Metro Jaya pagi ini. Bukti-bukti rekaman CCTV saat Indah memasukkan zat beracun ke dalam obatku sudah lengkap. Sebentar lagi, polisi akan menangkapnya.”

Ibu menghela napas terakhir di dalam rekaman video tersebut, lalu tersenyum lembut. “Selamat tinggal, Mas Farhan. Nikmatilah kehidupan barumu… dalam penyesalan yang terlambat.”

Video berakhir. Layar laptop mendadak menjadi hitam.

Tepat pada saat itu, suara sirine mobil kepolisian meraung-raung di depan gang kontrakan kami. Beberapa anggota polisi berpakaian preman tampak melangkah cepat, mengawal Tante Indah yang sudah dalam kondisi terborgol! Tante Indah menangis histeris, berteriak-teriak memanggil nama Bapak dari luar kontrakan.

“Mas Farhan! Tolong aku, Mas! Tolong aku! Ini semua fitnah!” teriak Tante Indah dari balik jendela.

Bapak bangkit berdiri dengan mata merah menyala. Beliau berlari keluar kontrakan, bukannya menolong, melainkan langsung menerjang dan memaki Tante Indah dengan caci maki luar biasa. “Perempuan iblis! Kau racuni istriku! Kau tipu aku dengan anak-anak harammu! Kurang ajar kau!”

Polisi segera melerai dan menyeret Tante Indah ke dalam mobil tahanan. Harta benda Tante Indah disita, rumah mewah di Menteng disegel, dan kedua anak tirinya diusir oleh pihak kepolisian karena rumah tersebut kini secara sah merupakan milik tunggal milikku.

Di tengah guyuran hujan gerimis yang semakin deras, Bapak merangkak mendekatiku. Beliau berlutut di tanah lumpur yang kotor, memegang ujung celanaku dengan kedua tangannya yang gemetar hebat.

“Nabila… Anakku…” bisik Bapak dengan suara yang hampir habis karena terlalu banyak meraung. “Maafkan Bapak, Nak… Ampuni Bapak… Bapak tidak punya rumah lagi… Bapak tidak punya uang lagi… Tolong izinkan Bapak tinggal di sini bersama kamu… Bapak mohon, Nabila…”

Aku menatap pria yang kini berlutut rapuh di lumpur itu. Wajahnya yang dulu sombong kini hancur tak berbekas. Penyesalan yang amat sangat dalam terpancar dari matanya, namun penyesalan itu datang saat segalanya sudah menjadi abu.

Aku menarik kakiku perlahan dari genggaman tangannya. Aku memandang Bapak dengan pandangan dingin tanpa rasa benci, namun juga tanpa rasa kasihan.

“Ayah bilang dulu Ibu hanya berpura-pura sakit demi mencari perhatian,” ucapku pelan, menatap lurus ke dalam matanya. “Sekarang, izinkan aku menganggap tangisan dan penderitaan Ayah hari ini… juga hanya sekadar drama berpura-pura demi mencari perhatianku.”

Aku berbalik arah, melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan, lalu menutup pintu kayu itu rapat-rapt. Kututupi pendengaranku dari suara raungan Bapak yang memanggil namaku di luar dalam guyuran hujan yang makin deras.

Di balik pintu yang terkunci, aku memeluk foto Ibu erat-erat di dada. Akhirnya, keadilan untuk Ibu telah ditegakkan. Ibu kini bisa tersenyum tenang di alam sana, sementara orang yang telah menyakitinya harus membayar penderitaan itu dengan penyesalan seumur hidupnya.

Sebab ada satu fakta terakhir yang sengaja tidak kusampaikan pada Bapak dalam surat wasiat Ibu: Sejak awal, aku sudah tahu bahwa Bapak bukanlah ayah kandungku, melainkan pria asing yang diadopsi Ibu demi menjaga nama baik keluarga.