Diusir dan Dihina Sebagai Gadis Desa Berbaju Murah Saat Melangkah ke Ruang Rapat Direksi Gedung Pencakar Langit Jakarta, Aku Sontak Membungkam Wanita Sombong Itu Ketika Surat Terakhir Almarhum Ayahku Membongkar Pemilik Sah Empat Puluh Delapan Persen Saham Perusahaan!

“JANGAN SALAH MASUK RUANGAN!” bentak seorang wanita bersetelan mewah dengan nada yang menggelegar saat aku baru melangkah melewati pintu kaca ruang rapat direksi. “Ini tempat orang-orang penting, bukan tempat gadis desa lusuh sepertimu!”
Namaku Nabila. Hari itu, aku melangkah menembus kemegahan gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, Jakarta, hanya dengan pakaian yang sangat sederhana. Kemeja putih yang warnanya mulai memudar, rok panjang hitam, serta sepasang sepatu pantofel kusam yang sudah tiga tahun menemaniku menyusuri jalanan tanah kampung kami di Yogyakarta. Tidak ada tas bermerek bernilai puluhan juta Rupiah di lenganku. Tidak ada kilau perhiasan emas di jemariku. Aku hanya memeluk erat sebuah map cokelat tua yang kusam. Map yang diberikan oleh almarhum ayahku, Pak Yusuf Rahman, tepat sebelum beliau berpulang ke hadirat Tuhan dua tahun lalu.
Pesan terakhir Ayah di atas balai-balai bambu rumah kami terus terngiang saban malam. “Nabila, anakku… Kalau suatu hari nanti ada surat resmi memanggilmu ke gedung tertinggi di ibu kota, jangan pernah takut. Datanglah sendiri, bawa map ini, dan berdirilah dengan tegap.”
Aku tidak pernah paham alasan di balik pesan itu. Kami hidup begitu bersahaja di desa, bertahan hidup dari warung nasi goreng kecil dan hasil kebun seadanya. Sampai akhirnya, tiga hari sebelum perayaan Lebaran tahun ini, sebuah amplop tebal berlogo garuda emas tiba di rumah. Undangan resmi rapat pleno direksi Menara Megah Perkasa Group. Namaku, Nabila Putri Rahman, tercantum jelas di sana sebagai pihak utama yang wajib hadir.
Aku mengira ada kekeliruan administrasi. Namun, demi menunaikan amanah almarhum Ayah, aku memberanikan diri menaiki bus malam menuju Jakarta.
Begitu keluar dari lift lantai paling atas, sekretaris berwajah dingin mengarahkanku. “Ruang rapat direksi ada di sebelah kanan.”
Aku mengangguk sopan. “Terima kasih, Bu.”
Namun, begitu jemariku baru saja mendorong pintu jati berukir itu, wanita bergaun mahal dengan tablet digital di tangannya langsung melompat dari kursinya.
“Berhenti!” teriaknya tajam. Matanya menatapku dari ujung rambut hingga ujung sepatu kusamku dengan tatapan jijik yang amat nyata.
Aku terkejut dan terhenti di ambang pintu. Wanita itu melangkah mendekat dengan dentakan sepatu hak tingginya yang menggema di seluruh ruangan berkarpet tebal.
“Kamu siapa? Berani-beraninya mengotori ruangan ini!” bentaknya.
“Saya Nabila, Bu…” jawabku pelan namun berusaha tetap tenang.
“Dari divisi mana? Cleaning service? Atau anak magang yang tidak punya sopan santun?”
“Saya bukan karyawan di sini,” sahutku jujur.
Wanita itu tertawa nyaring, membuat belasan pria dan wanita bersetelan jas mahal di meja rapat panjang itu ikut menoleh. “Bukan karyawan? Lalu kenapa kamu lancang melangkah ke ruang rapat direksi utama?”
“Saya mendapat undangan resmi untuk menghadiri rapat ini.”
Wanita itu memandangi kemeja putihku yang sedikit kusut, lalu tertawa mengejek. “Undangan? Astaga! Kamu pikir tempat ini panti sosial? Ini ruang direksi Menara Megah Perkasa! Bukan tempat untuk melamar pekerjaan atau meminta sumbangan!”
Rasa malu membakar wajahku. Beberapa direktur berbisik-bisik sambil tersenyum sinis.
“Saya hanya mengikuti alamat dan petunjuk di surat ini, Bu,” tegasku sambil menunjukkan amplop tebal itu.
Wanita itu menunjuk ke arah pintu keluar tanpa sudi melihat suratku. “Keluar sekarang! Sebelum aku panggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar!”
Aku menolak mundur. “Saya boleh menunjukkan suratnya sebentar saja?”
“Tidak perlu! Pak Satpam! Tolong keluarkan gadis desa ini sekarang juga!” panggilnya keras.
Aku menggenggam map cokelat peninggalan Ayah semakin erat. Dadaku bergemuruh hebat. “Tunggu! Ayah saya yang meminta saya datang ke sini!”
Wanita itu bersedekap dada sambil terkekeh sinis. “Ayahmu? Memangnya siapa ayahmu? Petani rumput? Tukang ojek?”
Aku menatap matanya tajam dan menjawab dengan suara lantang, “Almarhum Pak Yusuf Rahman!”
Seketika itu juga, tawa mengejek di dalam ruangan mendadak terhenti total. Ruangan megah itu mendadak sunyi senyap bak kuburan. Senyum angkuh wanita itu langsung lenyap seketika.
Di ujung meja rapat panjang, seorang pria tua bersetelan jas hitam elegan dengan rambut beruban mendadak berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang.
“Yusuf Rahman?!” serunya dengan suara bergetar hebat.
Aku mengangguk tegap. “Iya, Pak.”
Pria tua itu melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca menatap wajahku. “Kamu… kamu anak kandung Yusuf?”
“Benar, Pak. Saya Nabila.”
Tangannya yang keriput tampak gemetar hebat saat memegang tepi meja. “Sudah berapa lama ayahmu meninggal dunia?”
“Dua tahun yang lalu, Pak,” jawabku pelan.
Pria tua itu menghela napas panjang, raut wajahnya dipenuhi penyesalan mendalam. “Demi Tuhan… Aku kira dia membawa rahasia besar itu sampai ke liang lahat…”
Aku mengerutkan dahi, bingung. “Rahasia apa, Pak?”
Sebelum pria tua itu menjawab, wanita yang tadi membentakku menyela dengan wajah panik. “Pak Direktur Bambang! Jangan percaya begitu saja! Gadis desa ini pasti penipu yang ingin memeras perusahaan kita!”
Pak Bambang menoleh tajam, suaranya menggelegar membungkam wanita itu. “Diam kamu, Melisa!”
Melisa tersentak kaget dan mundur dua langkah dengan wajah pucat.
Pak Bambang menunjuk ke kursi utama di sebelah kanan pimpinan. “Duduklah, Nabila.”
Aku melangkah dan duduk di kursi empuk itu. Seluruh jajaran direksi yang tadi menertawakanku kini menundukkan kepala. Tidak ada lagi yang berani memandang remeh kemeja murahku.
Pak Bambang mengambil map cokelat tua dari tanganku dan membukanya dengan tangan bergetar. “Dokumen ini… ini asli?”
“Saya tidak pernah membukanya sejak Ayah memberikannya, Pak,” jujurku.
Pak Bambang membaca lembar demi lembar surat berstempel khusus di dalamnya. Perlahan tapi pasti, wajah pria tua itu berubah pucat pasi.
“Apa isinya, Pak?” tanyaku tak tahan lagi.
Pak Bambang tidak langsung menjawab. Dia menatapku dalam-dalam. “Nabila… apakah ayahmu pernah bercerita tentang perusahaan ini saat kalian tinggal di desa?”
“Tidak pernah, Pak. Ayah hanya bilang beliau dulu bekerja di kota.”
“Pernah menceritakan namaku atau nama anggota direksi di sini?”
Aku menggeleng tegas. “Tidak pernah sama sekali.”
Pak Bambang memejamkan mata sejenak. “Bagus… Berarti ayahmu benar-benar menjaga rahasia ini demi keselamatan nyawamu.”
Aku semakin tidak mengerti. “Pak, sebenarnya untuk apa saya dipanggil ke sini?”
Pak Bambang berdiri tegap dan menekan tombol di mejanya. Layar monitor raksasa di dinding depan langsung menyala, menampilkan bagan struktur kepemilikan saham Menara Megah Perkasa Group.
“Hari ini kamu harus mengetahui kebenaran yang tersembunyi selama puluhan tahun,” ujar Pak Bambang.
Mataku menelusuri daftar nama pemegang saham di layar. Di sana tertera nama-nama konglomerat terkenal Indonesia dengan kepemilikan lima persen hingga sepuluh persen. Namun, mataku mendadak terkunci pada baris paling atas yang tercetak dengan huruf kapital tebal:
YUSUF RAHMAN — 48% SAHAM UTAMA.
Napasku tercekat. Jantungku berdegup kencang. “Kenapa… kenapa nama almarhum Ayah ada di sana?”
Pak Bambang menjawab dengan nada berat, “Karena ayahmu, Yusuf Rahman, adalah pendiri utama sekaligus pemilik saham terbesar di perusahaan raksasa ini.”
Aku menggelengkan kepala, tidak percaya. “Tidak mungkin! Ayah saya hanya orang biasa di kampung! Kami hidup serba kekurangan!”
“Ayahmu terpaksa meninggalkan ibu kota dan bersembunyi dua puluh tahun lalu,” potong Pak Bambang lirih.
“Kenapa Ayah harus bersembunyi?”
“Karena saat itu, dia dituduh melakukan penggelapan uang perusahaan sebesar ratusan miliar Rupiah!”
Aku langsung berdiri bangkit dari kursi, memukul meja rapat. “Bohong! Ayah saya orang yang sangat jujur! Beliau tidak pernah mengambil hak orang lain!”
Pak Bambang menatapku penuh empati. “Memang tidak. Ayahmu tidak pernah mencuri sepeser pun Rupiah dari perusahaan ini.”
Dadaku naik turun menahan emosi. “Kalau Ayah tidak bersalah… lalu siapa pengkhianat sebenarnya yang tega menjebak Ayah sampai kami harus menderita di desa?”
Pak Bambang mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan rapat yang kini mencekam. “Itulah alasan utama kamu dihadirkan di ruangan ini hari ini, Nabila.”
Seketika itu juga, Melisa berdiri panik dari kursinya, tangannya gemetar memegang tablet. “Pak Bambang! Kita tidak punya waktu untuk membahas masa lalu yang tidak jelas! Rapat pleno harus segera dimulai!”
Aku menatap Melisa tajam. Kepanikan di matanya sangat tidak wajar. “Kenapa Ibu Melisa terlihat begitu takut dan gelisah?”
Melisa bungkam, bibirnya bergetar hebat.
Pak Bambang menjawab dingin, “Tentu saja dia takut, Nabila. Karena ayah kandung Melisa-lah yang menjadi dalang di balik semua kehancuran ayahmu!”
Aku tersentak hebat. “Siapa ayah kandungnya?”
Pak Bambang menunjuk ke arah seorang pria tua bersetelan jas paling mahal yang duduk di ujung meja direksi. “Pak Surya!”
Pria tua bernama Surya itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap mataku.
“Pak Surya yang menjebak ayahmu dua puluh tahun lalu,” lanjut Pak Bambang dengan suara lantang. “Dialah yang mengambil alih tampuk kepemimpinan setelah ayahmu menyingkir ke kampung. Dan sekarang, dia mendudukkan anak kandungnya, Melisa, sebagai Direktur Utama di perusahaan ini!”
Pikiran berlapis emosi membakar dadaku. Jadi wanita yang baru saja menghinaku sebagai gadis desa adalah anak dari pria yang merusak kehidupan ayahku!
Namun tiba-tiba, Melisa membanting tabletnya ke meja rapat hingga berdentang keras. “CUKUP! JANGAN MEMBUAT DONGENG DI SINI!” teriaknya histeris. “Gadis desa lusuh ini tidak punya hak sedikit pun untuk berada di ruangan ini, apalagi mencampuri urusan direksi!”
Pak Bambang menatap Melisa dengan tatapan dingin menakutkan. “Kamu salah besar, Melisa. Justru Nabila-lah yang memiliki hak paling mutlak dan paling besar atas perusahaan ini!”
Melisa melotot tajam. “Apa maksud Bapak?!”
Pak Bambang membuka lembaran kertas bersampul emas dari dalam map cokelatku. “Berdasarkan akta pendirian perusahaan dan perjanjian klausul khusus, jika pendiri utama Yusuf Rahman meninggal dunia tanpa pernah terbukti bersalah secara hukum, maka seluruh hak suara dan kepemilikan saham empat puluh delapan persen secara otomatis diwariskan penuh kepada anak tunggalnya!”
“Anak tunggal?” gumam Melisa dengan suara tercekat.
Pak Bambang menatapku tegas. “Iya. Nabila Putri Rahman!”
Seluruh anggota direksi di ruangan itu menahan napas. Melisa tampak terkulai di kursinya, wajahnya pucat pasi bagai mayat.
“Secara hukum negara dan akta perusahaan,” tegas Pak Bambang, “Nabila adalah pemegang saham tertinggi dengan hak suara mutlak!”
Air mataku menetes tanpa bisa kubendung. Selama puluhan tahun hidup prihatin di desa, memakan nasi dengan garam, aku tidak pernah menyangka bahwa Ayah adalah pemilik kekayaan melimpah ini. Beliau memilih hidup sederhana demi melindungiku dari cengkeraman orang-orang jahat di ibu kota.
Tiba-tiba, pintu ruang rapat terbuka kasar. Seorang pria bersetelan kemeja serba hitam masuk tergesa-gesa sambil membawa sebuah kotak besi hitam terkunci.
“Pak Bambang! Kami berhasil menemukan kotak rahasia ini di dalam brankas tua Pak Yusuf!” serunya.
Kotak besi itu diletakkan tepat di hadapanku. Dengan jemari bergetar, aku menekan kode tanggal lahirku yang pernah dibisikkan Ayah sebelum berpulang. Klik! Kotak itu terbuka.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto lama Ayah bersama para pendiri perusahaan, serta sebuah alat perekam suara tua. Pak Bambang menekan tombol play.
Suara berat dan hangat almarhum Ayah mendadak menggema di seluruh sudut ruangan rapat.
“Nabila… anakku tercinta. Jika kamu mendengar rekaman suara ini, itu artinya Ayah sudah tidak ada lagi di dunia ini untuk melindungimu…”
Tangisku pecah seketika. “Ayah…” bisikku lirih.
Suara Ayah berlanjut dengan nada tegas, “Anakku, jangan pernah percaya pada siapa pun di perusahaan itu yang mengatakan bahwa ayahmu adalah seorang pencuri atau penggelap uang. Ayah pergi meninggalkan Jakarta bukan karena takut atau bersalah…”
Rekaman itu terhenti sejenak, diiringi helaan napas berat Ayah, sebelum kalimat berikutnya meluncur dan menghentak jiwa semua orang di ruangan itu:
“Ayah mengalah dan berpura-pura sembunyi di desa karena Ayah tahu betul… ada orang berjiwa iblis di dalam rapat direksi itu yang sebenarnya berniat mengakhiri nyawa Ayah dan nyawamu!”
Keheningan yang mencekam merayapi ruangan. Seluruh direktur gemetar ketakutan.
Pak Bambang memandangku dengan mata berkaca-kaca. “Masih ada lanjutan rekamannya, Nabila.” Dia menekan tombol sekali lagi.
Suara almarhum Ayah kembali bergema, kini bernada ancaman dingin:
“Orang iblis itu masih duduk nyaman di kursi direksi hari ini. Dan dia akan menghalalkan segala cara yang paling keji agar Nabila tidak pernah mengetahui siapa pemilik sah perusahaan sebenarnya!”
Rekaman mati. Melisa mendadak berdiri dengan tubuh bergetar hebat. Wajahnya mandi keringat dingin.
Aku menatap Melisa dan Pak Surya dengan tatapan menembus kalbu. “Apakah kalian berdua yang merencanakan semua ini?!”
Belum sempat mereka menjawab, pintu ruang rapat kembali terdorong keras. Seorang pengacara senior ber-batik premium masuk membawa sebuah dokumen bermaterai lengkap.
“Maaf mengganggu rapat penting ini,” ujar pengacara itu tegas.
Pak Bambang bertanya cepat, “Ada apa, Pak Pengacara?”
Pengacara itu melangkah lurus ke arahku dan membungkuk hormat. “Ibu Nabila… saya memegang amanah terakhir dari almarhum Ayah Anda untuk menyerahkan dokumen rahasia ini tepat di saat Anda menduduki kursi pimpinan.”
Dia menyerahkan sebuah amplop putih tertutup rapat. Dengan tangan gemetar, aku membuka isinya. Di dalamnya tertera tulisan tangan Ayah yang sangat kukenal:
NAK, JIKA MEREKA MEMINTAMU MEMIMPIN PERUSAHAAN INI, TERIMALAH TANPA RAGU. KARENA HANYA DENGAN MENJADI PEMIMPIN TERTINGGI, KAMU BISA BUKAN HANYA MENGAMBIL HAK KITA, TAPI JUGA MEMBONGKAR SIAPA SOSOK SEBENARNYA YANG MENGKHIANATI DAN MENGHANCURKAN HIDUP AYAH!
Aku mengusap air mataku dan menatap seluruh jajaran direksi dengan ketegasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kedatanganku ke Jakarta bukan lagi sekadar gadis desa yang menuntut warisan, melainkan sebagai pemilik sah yang siap menghancurkan kebohongan selama dua puluh tahun!
Namun, sebelum aku bersuara, pengacara itu mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik lirih namun tajam:
“Bu Nabila… ada satu nama rahasia yang baru saja terungkap dari hasil investigasi laboratorium forensik…”
Aku menoleh cepat. “Siapa?”
Pengacara itu melirik tajam ke arah Melisa dan Pak Bambang secara bergantian, lalu berucap lirih, “Orang yang sebenarnya mengatur skenario jahat ini bukan hanya Pak Surya… tapi ada sosok yang jauh lebih berkuasa di ruangan ini!”
Melisa mendadak berteriak histeris sambil menerjang ke depan. “TUTUP MULUTMU! JANGAN BERANI-BERANI BUKA DOKUMEN ITU! KELUAR KALIAN SEMUA! KELUAR!”
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
Suasana di ruang rapat pleno Menara Megah Perkasa Group yang terletak di lantai empat puluh gedung megah kawasan Sudirman itu mendadak berubah menjadi neraka kepanikan. Teriakan histeris Melisa yang mencoba merebut dokumen dari tangan pengacara senior itu membuat suasana semakin memanas. Dua orang direktur lain refleks berdiri, sementara Pak Surya—ayah Melisa—tampak terkulai lemas di kursinya dengan wajah sepucat kapas.
“Hentikan semuanya! Keamanan! Panggil seluruh satpam lantai ini sekarang!” jerit Melisa dengan napas terengah-engah. Matanya yang tadi memancarkan kesombongan kini dipenuhi ketakutan luar biasa. Tangannya melayang hendak mencengkeram amplop putih di tanganku.
“Cukup, Melisa!” suara keras menggelegar keluar dari mulutku.
Aku berdiri tegap dari kursi pimpinan. Aura kelemahan sebagai gadis desa yang tadi melekat padaku sirna seketika, berganti dengan martabat seorang putri pemilik tunggal perusahaan raksasa ini. Mataku menatap tajam ke dalam manik mata Melisa yang bergetar.
“Berdiri di tempatmu dan jangan berani-berani menyentuh dokumen ini seujung jari pun!” tumpah murkaku. “Di ruangan ini, aku adalah pemegang saham tertinggi dengan hak suara empat puluh delapan persen. Tanpa izin dariku, tidak ada satu orang pun di ruangan ini yang berhak memerintah petugas keamanan!”
Melisa terhenti kaku. Langkah kakinya goyah saat menyadari bahwa seluruh kekuasaan yang selama ini dia banggakan di hadapan para karyawan telah runtuh dalam hitungan menit.
Pengacara senior bernama Pak Kusuma itu membetulkan letak kacamata bingkai emasnya. Dia memandang Melisa dengan dingin, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh anggota direksi yang hadir.
“Bapak dan Ibu Sekalian,” ujar Pak Kusuma dengan suara tenang namun sarat ancaman hukum. “Dokumen yang saya genggam ini bukan sekadar lembaran kertas biasa. Ini adalah berkas investigasi independen yang digagas oleh almarhum Pak Yusuf Rahman selama belasan tahun dalam persembunyiannya di desa, dibantu oleh lembaga auditor internasional.”
Pak Bambang, yang sejak tadi tampak begitu gigih membela dan memfasilitasiku, melangkah mendekati Pak Kusuma. Wajah tua itu memancarkan rasa ingin tahu yang mendalam. “Pak Kusuma, tolong jelaskan kepada kami semua. Siapa sosok yang dimaksud dalam warkat terakhir Yusuf? Siapa pengkhianat sebenarnya yang telah mencoreng nama baik pendiri perusahaan ini?”
Pak Kusuma menatap Pak Bambang dengan tatapan yang sangat aneh. Ada kilatan rasa jijik dan penyesalan di mata pengacara senior itu.
“Pak Bambang…” kata Pak Kusuma lambat-lambat. “Apakah Bapak benar-benar ingin saya membacakan nama itu di depan seluruh jajaran direksi?”
“Tentu saja!” seru Pak Bambang dengan nada penuh keprihatinan palsu. “Demi keadilan untuk almarhum sahabatku, Yusuf! Kita harus membersihkan nama baiknya dan menjebloskan pengkhianat itu ke dalam penjara!”
Pak Kusuma tersenyum sinis. Dia membongkar segel merah pada amplop tebal kedua dan mengeluarkan beberapa lembar bukti transfer bank luar negeri bernilai puluhan juta Dolar Amerika, serta salinan akta kepemilikan rekening cangkang di Kepulauan Cayman.
“Dua puluh tahun yang lalu,” papar Pak Kusuma dengan suara nyaring yang memecah keheningan ruangan, “Pak Yusuf Rahman difitnah telah mengalirkan dana operasional perusahaan sebesar lima ratus miliar Rupiah ke rekening pribadinya. Semua bukti fisik saat itu mengarah pada Pak Yusuf, sehingga beliau terpaksa melarikan diri ke kampung kecil di Yogyakarta demi menyelamatkan nyawa putri tunggalnya, Nabila, dari ancaman pembunuhan terselubung.”
Aku mendengarkan setiap kata dengan dada sesak. Bayangan masa kecilku berputar cepat di ingatan. Aku teringat bagaimana Ayah selalu memeriksa pintu dan jendela rumah panggung kami setiap malam sebelum tidur. Aku teringat bagaimana Ayah selalu melarangku mengambil foto atau mengunggah apa pun ke media sosial ketika internet mulai masuk ke desa kami. Ayah hidup dalam ketakutan konstan, bukan karena melarikan diri dari hukum, tetapi demi melindungiku dari cengkeraman penjahat berdasi ini!
“Namun,” lanjut Pak Kusuma, suaranya meninggi, “Investigasi forensik digital yang diselesaikan bulan lalu membuktikan fakta sebaliknya! Dana lima ratus miliar Rupiah itu tidak pernah masuk ke rekening Pak Yusuf. Uang itu ditransfer secara bertahap melalui delapan perusahaan cangkang, lalu bermuara ke rekening atas nama PT Surya Abadi Nusantara—perusahaan milik Pak Surya!”
Sontak seluruh direktur di ruangan itu gempar! Kasak-kusuk keras pecah seketika.
“Kurang ajar!” teriak seorang direktur senior. “Jadi selama ini Pak Surya yang mengeruk uang perusahaan dan menjebak Pak Yusuf?!”
Pak Surya yang duduk di ujung meja rapat mendadak menangis histeris. Pria tua itu jatuh berlutut di lantai berkarpet tebal, menyatukan kedua telapak tangannya ke arahku.
“Nabila! Ampunkan Paman, Nabila! Demi Tuhan, Paman memang bersalah telah menerima uang itu!” ratap Pak Surya dengan air mata bercucuran di wajahnya yang keriput. “Tapi Paman terpaksa! Paman diancam! Paman hanya dijadikan alat dan topeng oleh orang lain!”
Aku melangkah mendekati Pak Surya dengan hati yang teriris. “Diancam oleh siapa, Paman? Siapa orang yang tega membuat kehidupan Ayahku menderita selama puluhan tahun?!”
Pak Surya mengangkat tangannya yang gemetar hebat, menunjuk lurus ke arah pria tua yang berdiri tepat di sampingku.
“DIALAH DALANG SEBENARNYA! BAMBANG HERMAWAN!” teriak Pak Surya histeris.
Ruangan rapat itu seketika bak dihantam petir di siang bolong!
Aku membalikkan badan dengan cepat, menatap Pak Bambang dengan tatapan tidak percaya. Pria tua yang dari awal menyambutku dengan ramah, pria yang pura-pura menangis meratapi nasib Ayahku, pria yang berpura-pura menjadi pahlawan pembela keadilan… adalah iblis yang sebenarnya!
Wajah Pak Bambang yang semula penuh kehangatan dan rasa simpati mendadak berubah total. Topeng kebaikannya terlepas seketika. Matanya melotot dingin, dan bibirnya tertarik membentuk senyuman licik yang amat mengerikan.
“Astaga…” bisikku serasa tak berdaya. “Pak Bambang… Bapak?”
Pak Bambang terkekeh pelan, tawa dingin yang membuat bulu kuduk seluruh orang di ruangan itu berdiri. “Ya Allah… Ternyata si tua bangka Surya ini benar-benar tidak bisa diandalkan sampai akhir.”
Melisa mendadak berlari menghampiri ayahnya, Pak Surya, dan memeluknya sambil menangis bombong. “Papa… kenapa Papa membocorkan semuanya?!”
“Karena Papa tidak mau mati di penjara sendirian, Melisa!” jerit Pak Surya penuh keputusasaan. “Bambang-lah yang merencanakan pembunuhan terhadap Yusuf! Bambang yang menyuruh orang memasang sabotase pada rem mobil Yusuf dua puluh tahun lalu! Beruntung Yusuf berhasil selamat dan melarikan diri ke desa!”
Darahku serasa berhenti mengalir. Sabotase rem mobil? Pembunuhan?
“Kurang ajar!” amukku, tidak mampu lagi menahan gelombang emosi yang membakar dada. Aku melangkah maju menantang Pak Bambang. “Bapak adalah manusia paling keji! Ayah saya menganggap Bapak sebagai saudara kandungnya sendiri! Ayah selalu bercerita bahwa beliau punya sahabat sejati di masa mudanya… dan sahabat itu adalah Bapak!”
Pak Bambang melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh. “Sahabat? Jangan konyol, Nabila! Dalam dunia bisnis berkecukupan puluhan triliun Rupiah, tidak ada yang namanya sahabat! Ayahmu itu terlalu baik, terlalu jujur, dan terlalu bodoh! Dia ingin membagikan keuntungan perusahaan kepada seluruh karyawan dan masyarakat kecil. Sementara aku? Aku ingin kekuasaan mutlak!”
Dia melangkah mendekatiku, menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. “Aku sengaja membiarkan ayahmu hidup di desa lusuh itu seperti cacing tanah. Aku tahu dia menyimpan empat puluh delapan persen saham. Tapi aku pikir, setelah dia meninggal, rahasia itu akan terkubur selamanya bersama jasadnya yang membusuk di tanah kampung! Aku tidak pernah menyangka si tua bangka itu cukup pintar untuk mengirimkan dokumen perjanjian ini kepadamu!”
“Ayah saya bukan orang bodoh, Pak Bambang!” tegasku dengan suara bergetar namun penuh penekanan. “Ayah saya tahu betul betapa liciknya Bapak! Makanya Ayah menyuruh saya datang ke sini hari ini!”
Pak Bambang tertawa meremehkan. “Lalu kenapa kalau kamu datang? Hah? Kamu pikir hanya dengan sekeping kertas dan rekaman suara tua ini kamu bisa menjatuhkanku? Lihat sekelilingmu, gadis desa! Aku menguasai jajaran kepolisian, aku memegang para pejabat ibu kota, dan aku mengendalikan dewan komisaris! Sekali aku menekan tombol panggilan, kamu dan pengacara murahilmu ini tidak akan pernah bisa keluar dari gedung ini hidup-hidup!”
Ancaman pembunuhan secara terang-terangan itu membuat beberapa anggota direksi ketakutan dan mencoba kabur menuju pintu keluar. Namun sebelum ada yang sempat menyentuh gagang pintu, Pak Kusuma—pengacara senior itu—mengangkat mikrofon kecil di bajunya.
“Pak Bambang Hermawan,” kata Pak Kusuma dengan nada tenang yang sangat mematikan. “Bapak benar-benar mengabaikan satu hal penting dari almarhum Pak Yusuf Rahman.”
Pak Bambang mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?!”
“Pak Yusuf tahu betul bahwa Bapak akan menggunakan kekuasaan dan koneksi pejabat Bapak untuk membungkam kebenaran,” jelas Pak Kusuma. “Oleh karena itu, sebelum rapat pleno ini dimulai, seluruh dokumen kejahatan Bapak, rekaman pengakuan Pak Surya, bukti transfer rekening luar negeri, hingga bukti sabotase pembunuhan dua puluh tahun lalu… sudah diunggah secara otomatis ke server pusat Komisi Pemberantasan Korupsi dan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia!”
Wajah Pak Bambang mendadak berubah menjadi merah padam. “APA?!”
“Tidak hanya itu,” tambah Pak Kusuma sambil menunjuk ke arah kamera CCTV di sudut atas ruangan rapat. “Rapat pleno hari ini, mulai dari saat Bu Nabila melangkah masuk dan dihina oleh anak buah Bapak, hingga pengakuan Bapak barusan… disiarkan secara langsung (live streaming) ke seluruh media berita nasional dan akun media sosial resmi perusahaan!”
Seketika itu juga, telepon genggam milik seluruh anggota direksi di ruangan itu berdering tanpa henti! Pesan demi pesan dan notifikasi berita darurat membanjiri layar ponsel mereka:
BREAKING NEWS: Skandal Pembunuhan dan Penggelapan Triliunan Rupiah Menara Megah Perkasa Terbongkar Lewat Live Streaming Rapat Direksi! Direktur Utama Bambang Hermawan Terbukti Menjebak Pendiri Saham Utama Yusuf Rahman!
“Kurang ajar! Matikan layarnya! Matikan koneksi internetnya sekarang juga!” jerit Pak Bambang histeris bak orang kesetanan. Dia berlari menuju layar monitor raksasa dan mencoba mencabut kabel-kabel jaringan di sana.
Namun semuanya sudah terlambat.
BUM! BUM! BUM!
Pintu ganda ruang rapat pleno itu didobrak keras dari luar! Belasan personel kepolisian bersenjata lengkap bersama jajaran penyidik KPK berpakaian batik resmi menerobos masuk ke dalam ruangan.
“JANGAN BERGERAK! KAMI DARI MABES POLRI DAN KPK!” teriak perwira polisi berpangkat Komisaris Besar yang memimpin pasukan.
Seluruh ruangan menjadi gempar. Petugas kepolisian dengan cepat mengepung Pak Bambang, Pak Surya, dan Melisa.
“Bambang Hermawan, Anda kami tangkap atas tuduhan tindak pidana korupsi, penggelapan dana perusahaan, tindak pidana pencucian uang, dan percobaan pembunuhan berencana terhadap Yusuf Rahman!” tegas perwira polisi itu sambil mengacungkan surat perintah penangkapan resmi.
Pak Bambang mencoba melawan dan berteriak-teriak, “Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa aku?! Aku punya kenalan jenderal! Aku bisa memecat kalian semua!”
Namun petugas kepolisian tidak memedulikan racauannya. Kedua tangan Pak Bambang langsung diborgol besi dengan sangat kencang. Pria tua yang beberapa menit lalu begitu angkuh dan merasa menjadi raja di gedung pencakar langit ini kini terseret di lantai bagai pesakitan yang hina.
Sementara itu, Pak Surya hanya bisa menangis pasrah saat jemarinya juga dipasangi borgol. Melisa yang mencoba memeluk ayahnya ikut diamankan oleh petugas wanita.
Saat Melisa digiring melewatinya, aku berdiri menatapnya. Wanita yang tadi pagi membentakku dengan kata-kata “gadis desa” dan menyuruhku keluar bagai sampah, kini berjalan tunduk dengan air mata dan maskara yang luntur membasahi pipinya. Rasa sombongnya hancur berkeping-keping.
“Nabila… tolong aku, Nabila…” bisik Melisa lirih dengan suara serak, memohon belas kasihan dari gadis yang tadi dihinanya.
Aku hanya menatapnya dengan tatapan dingin tanpa kata. Hukum dan keadilan kini sedang menjalankan tugasnya.
Setelah seluruh penjahat berdasi itu diseret keluar dari ruang rapat, suasana ruangan lambat laun kembali tenang. Jajaran direksi yang tersisa, bersama para staf senior, berdiri rapat membentuk barisan di hadapanku. Satu per satu dari mereka membungkukkan badan secara mendalam sebagai bentuk penghormatan dan permohonan maaf atas kepicikan mereka sebelumnya.
“Ibu Nabila Putri Rahman…” ujar salah seorang direktur senior mewakili yang lain. “Atas nama seluruh jajaran direksi dan karyawan Menara Megah Perkasa Group, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas perlakuan tidak pantas yang Ibu terima hari ini. Kami siap mendukung penuh kepemimpinan Ibu sebagai Pemegang Saham Utama dan Pimpinan Tertinggi perusahaan ini.”
Aku menarik napas panjang. Beban berat di pundakku serasa terangkat perlahan. Amanah almarhum Ayah telah menuntunku menyingkap tabir kejahatan yang kelam ini.
Pak Kusuma melangkah mendekatiku sambil memegang kotak besi hitam milik Ayah. “Ibu Nabila… seluruh proses hukum telah berjalan. Perusahaan ini kini resmi kembali ke tangan pemilik yang sah. Selamat datang di rumah baru Anda, Bu.”
Aku tersenyum tipis, mengusap air mata kepedihan yang kini berubah menjadi kebanggaan. “Terima kasih, Pak Kusuma. Tapi perjuangan kita baru saja dimulai. Saya akan membersihkan perusahaan ini dari sisa-sisa pengkhianatan dan menjalankan amanah Ayah untuk menyejahterakan seluruh karyawan dan masyarakat.”
Pak Kusuma mengangguk kagum. Namun, tepat ketika dia hendak menutup kotak besi hitam tersebut, jemarinya tersangkut pada sebuah lipatan kain beludru merah yang tersembunyi di balik dinding ganda kotak tersebut.
“Tunggu sebentar, Bu Nabila…” kata Pak Kusuma terkejut. “Ada satu kompartemen rahasia lagi di dalam kotak ini.”
Aku mengerutkan dahi. “Kompartemen rahasia?”
Pak Kusuma menarik sebuah kantong beludru merah kecil dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat mini yang disegel dengan lilin merah bertuliskan inisial rahasia Ayah. Di dalamnya terdapat sebuah dokumen tes DNA resmi dari laboratorium internasional tertanggal sepuluh tahun lalu, beserta sebait surat kecil bertuliskan tinta hitam.
“Dokumen apa itu, Pak Kusuma?” tanyaku penasaran.
Pak Kusuma membaca isi dokumen tes DNA tersebut dengan mata membelalak lebar. Tangannya gemetar hebat hingga lembaran kertas itu berguncang.
“Ya Allah… Demi Tuhan…” bisik Pak Kusuma dengan suara tercekat seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya.
“Ada apa, Pak? Tolong bacakan!” desakku dengan jantung kembali berdegup kencang.
Pak Kusuma menatap wajahku dengan pandangan penuh guncangan jiwa, lalu membacakan kalimat terakhir yang ditulis oleh almarhum Ayahku di lembar kertas kecil tersebut:
Nabila, jika kamu sudah memenangkan perusahaan ini, ada satu kebenaran terakhir yang harus kamu ketahui tentang Melisa… Melisa sebenarnya bukanlah anak kandung Pak Surya. Dia adalah anak kandung Ayah dari pernikahan pertama Ayah sebelum bertemu ibumu… Melisa adalah kakak kandung seayahmu yang diculik dan dimanfaatkan oleh Pak Surya sejak bayi untuk dijadikan alat menguasai perusahaan kita!
Napasku berhenti seketika. Seluruh duniaku serasa berputar dahsyat.
Aku mendongak cepat, menatap ke arah pintu keluar ruang rapat tempat Melisa baru saja digiring keluar oleh polisi dalam keadaan terborgol. Kakak kandungku sendiri… wanita yang selama ini diadu domba untuk membenci dan memusuhiku… adalah darah daging Ayahku sendiri!
