Aku Mengutuk Istriku yang Tampak Tak Tahu Diri Saat Kuberikan Hadiah Sepatu Murah Padahal Aku Sudah Berdarah-darah Mencari Uang Rupiah di Jakarta, Tapi Rahasia Kelam di Balik Kotak Sepatu Itu Justru Meremukkan Jantungku Seketika!

Dada ini rasanya mau meledak menahan emosi yang membakar seluruh rongga jiwaku! Di atas lemari pakaian kamar kami yang sempit di sudut kota Jakarta, sebuah kotak sepatu berwarna cokelat masih tergeletak kaku, tak tersentuh sedikit pun sejak seminggu yang lalu.
Sepatu itu bukan sepatu mahal keluaran desainer ternama luar negeri. Harganya hanya sekitar tiga ratus lima puluh ribu Rupiah—angka yang harus kukumpulkan dari sisa uang lemburku membanting tulang sebagai buruh pabrik. Aku masih ingat betul momen di pusat perbelanjaan daerah Pasar Minggu dua minggu lalu. Waktu itu, mata Indah—istriku yang selalu memakai daster lusuh dan selendang batik tua—tertuju pada sepasang sepatu kain warna krem di etalase toko. Matanya berbinar indah, sebuah pemandangan langka yang jarang kulihat selama lima tahun pernikahan kami.
“Kalau suka, ambil saja, Dek. Mas yang bayar,” bisikku menyenggol bahunya.
Namun, Indah langsung menarik tangannya dengan cepat, seolah tersengat listrik. Ia menunduk, merapikan letak hijabnya, lalu menjawab pelan, “Nanti saja, Mas. Belum butuh.”
Aku tahu tabiat istriku. Dia gengsi. Dia selalu merasa tidak enak hati jika harus mengeluarkan uang untuk dirinya sendiri. Maka, seminggu kemudian, tanpa sepengetahuannya, aku menyisihkan sisa uang belanjaan dan berniat memberinya kejutan. Aku membeli sepatu itu secara diam-diam.
Hari itu, matahari Jakarta begitu menyengat. Aku menghampirinya yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang rumah kami yang sempit. Dengan rasa bangga yang membubung tinggi di dada, aku menyerahkan kotak sepatu itu.
Indah membuka kotaknya. Dia menatap sepatu kain itu selama beberapa detik. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya—senyuman yang sangat datar, tanpa kehangatan, tanpa kehebohan yang kuharapkan.
“Mas beliin ini?” tanyanya pelan.
“Iya. Katanya waktu itu suka. Dipakai ya,” jawabku mantap, menanti pelukan hangat atau setidaknya jeritan gembira.
“Makasih ya, Mas,” ucapnya singkat.
Setelah itu, dia menutup kotak sepatu, membawanya masuk ke dalam rumah, dan kembali sibuk mengucek cucian. Tidak ada pelukan. Tidak ada rasa haru. Bahkan tidak ada keinginan untuk mencobanya di kakinya! Aku berdiri mematung di belakangnya, merasa jer Comparing pengorbananku sama sekali tidak dihargai. Emosiku mulai menyulut panas. Apa ukurannya salah? Apa warnanya norak? Atau sebenarnya dia meremehkan sepatu murah pemberianku?
Malam harinya, kekesalanku semakin menjadi-jadi. Indah sedang sibuk menyetrika kemeja batikku di sudut ruang tamu yang remang-remang. Suara setrika uap berdesis menyapu kesunyian.
“Kamu tidak suka sepatunya?” tanyaku dengan nada dingin penuh selidik.
Indah menoleh sebentar, menyapu keringat di dahi dengan punggung tangannya. “Suka kok, Mas.”
“Terus kenapa reaksimu biasa saja? Seperti tidak menghargai suamimu sendiri!” tegasku dengan suara meninggi.
Dia tertawa kecil—sebuah tawa yang justru terasa menyayat hatiku. “Emang harus gimana, Mas? Harus lompat-lompat?”
Astaga! Dahi ini makin berdenyut kencang. Obrolan itu mati begitu saja. Dia melanjutkan pekerjaannya tanpa merasa bersalah.
Keesokan harinya, aku melihat kotak sepatu itu masih bertengger rapi di tempat yang sama. Ego lakilakiku terinjak-injak! Rasa amarah membakar dadaku. Aku merasa tindakan romantis yang kulakukan sama sekali tidak berguna di matanya. Aku mengutuk keadaanku, mengutuk ketidakpekaan istriku!
Sampai akhirnya, tiga hari kemudian, kebenaran pahit mendobrak kesadaranku hingga hancur berkeping-keping.
Pagi itu, aku sedang duduk di teras depan sambil menyesap kopi hitam. Indah sedang berbicara dengan kakaknya, Mbak Putri, melalui telepon di dekat jendela samping. Aku tidak sengaja mendengar suaranya yang gemetar menahan tangis.
“Sebenarnya aku pengin sekali ikut liburan ke Bandung sama kalian, Mbak… Tapi kalau aku pergi dua hari, siapa yang mengurus dan menyuapi Bapak? Siapa yang memandikan Bapak kalau dia mengompol?”
Jantungku berhenti berdetak seketika. Sendok kopi di tanganku terlepas.
Indah melanjutkan ucapannya dengan tawa buatan yang sangat menyedihkan. “Tidak apa-apa, Mbak. Kalian pergi saja. Jangan pikirkan aku…”
Tepat saat telepon ditutup, rasa penasaran dan emosiku membuncah. Aku menyergap masuk ke kamar, berniat mengambil kotak sepatu itu untuk meluapkan kemarahanku yang tertahan. Namun, saat kutarik kotak sepatu itu dari atas lemari dan kubuka isinya… mataku melotot tak percaya! Di bawah sepasang sepatu krem itu, tertumpuk puluhan lembar surat pegadaian emas, tagihan utang berdarah-darah atas nama keluargaku, dan sebuah rahasia besar yang sengaja dia sembunyikan rapat-rapat dariku!
Sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi, pintu depan didobrak kasar. Ibu kandungku dan kakak laki-lakiku berjalan masuk dengan wajah memerah, langsung menunjuk muka Indah dan berteriak keras…
Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇
BAGIAN 2
“Kurang ajar kamu, Indah! Dasar menantu tidak tahu diuntung!” jerit Ibu kandungku, Ibu Surya, seraya melangkah lebar menghampiri Indah yang sedang berdiri gemetar di samping meja makan.
Belum sempat aku bereaksi, tangan Ibu melayang ke udara. Plak! Suara tamparan keras memecah keheningan rumah kecil kami. Indah tersungkur ke lantai keramik yang dingin, memegangi pipinya yang memerah. Kotak sepatu krem yang baru saja kubeli jatuh terbalik, menghamburkan isinya ke lantai.
“Ibu! Apa-apaan ini?!” teriakku histeris, langsung berlari memasang badanku di depan Indah. Dadaku naik turun menahan amarah yang membakar kepala. “Demi Tuhan, Ibu datang ke rumahku cuma untuk menyiksa istriku?!”
Di belakang Ibu, Mas Eko—kakak kandungku yang bertubuh tambun dan selalu dipenuhi utang judi—berdiri sambil bersedekap dengan wajah licik. “Halah, Aditya! Kamu itu disiram minyak pelet sama perempuan ini! Kamu tidak tahu saja, istri mu ini menyembunyikan uang puluhan juta Rupiah di belakangmu!”
“Uang apa?! Jangan sembarangan bicara, Mas Eko!” balasku dengan nada membentak.
“Lihat itu di lantai! Lihat pakai matamu sendiri!” tunjuk Ibu dengan jari telunjuknya yang gemetar karena emosi.
Mataku tertuju pada kertas-kertas yang berhamburan keluar dari kotak sepatu di bawah kaki Indah. Bukan hanya sepasang sepatu krem murah yang kubeli dengan uang lemburku. Di sana, berceceran puluhan lembar kuitansi pegadaian resmi, surat utang atas nama Mas Eko, dan berkas tagihan rumah sakit yang jumlahnya mencapai puluhan juta Rupiah!
Aku berlutut dengan lutut lemas, mengambil salah satu lembar surat pegadaian itu. Tanganku gemetar hebat saat membaca nama pemilik perhiasan yang digadaikan: Toko Emas Semar – Perhiasan Cincin dan Kalung Warisan Ibu Indah.
“Indah… ini… ini apa?” suaraku tercekat di tenggorokan.
Indah bersimpuh di lantai, menunduk dalam-dalam sambil menangis sesenggukan tanpa suara. Bau kain keringat dan minyak kayu putih tercium kuat dari tubuhnya yang kurus.
“Tanya sama istri mu yang sok suci itu!” potong Ibu dengan suara melengking. “Dia diam-diam menggadaikan emasnya untuk bayar utang Mas Eko! Tapi waktu Ibu minta sisa uangnya tiga ratus ribu Rupiah buat beli baju batik Lebaran, dia bilang tidak ada uang! Malah beli sepatu baru! Maksudmu apa, Indah?! Kamu mau mempermalukan keluarga kami?!”
Telingaku berdengung keras. Seketika, potongan-potongan teka-teki yang selama ini membingungkanku menyatu menghantam ilusi kesombonganku.
Setiap malam jam tiga pagi, saat aku tertidur lelap setelah pulang kerja dari pabrik di kawasan industri Cikarang, aku sering mendengar suara dentang kuali di dapur. Indah selalu bangun dini hari untuk memasak nasi goreng dan sate ayam dalam jumlah besar, lalu membungkusnya rapi untuk dijual ke warung-warung kelontong sekitar pasar. Aku dulu berpikir dia hanya mencari kegiatan mengisi waktu luang.
Ternyata… selama dua tahun terakhir ini, istriku membanting tulang sampai tulang rusuknya rasanya mau patah, menjual seluruh perhiasan peninggalan almarhumah ibunya, hanya untuk menutupi utang-utang Mas Eko agar rumah kecil kami tidak disita oleh penagih utang! Dia menanggung makian Ibuku, menerima hinaan kakakku, dan menanggung penderitaan ini sendirian tanpa pernah mengeluh satu kata pun kepadaku! Dia menyembunyikan semua penderitaan ini di dalam kotak sepatu murah yang baru saja kubeli!
“Aduh, Ya Allah…” ratapku dalam hati. Jantungku seperti dihantam palu godam yang sangat berat.
Aku berdiri tegak. Emosi gelap menguasai jiwaku, tapi kali ini bukan kepada Indah—melainkan kepada diriku sendiri dan keluarga kandungku yang biadab ini!
“Cukup!” teriakku menggelegar hingga kaca jendela bergetar. “Keluar kalian dari rumahku!”
Ibu melotot tak percaya. “Aditya! Kamu berani mengusir Ibu kandungmu sendiri demi perempuan ini?!”
“Ibu yang tidak punya hati!” balasku dengan mata memerah menahan air mata kekecewaan. “Ibu dan Mas Eko sudah memeras darah dan air mata istriku! Mas Eko yang berutang judi, kenapa Indah yang harus menjual perhiasan ibunya?! Kenapa kalian jadikan istriku sebagai sapi perah?!”
“Aditya, jaga mulutmu ya!” Mas Eko mencoba maju menantangku.
Aku menarik kerah baju Mas Eko dan mendorongnya kasar ke arah pintu keluar. “Kalau Mas Eko tidak keluar sekarang, aku panggil warga kampung dan polisi! Keluar!”
Melihat kemarahanku yang membara seperti kesetanan, Mas Eko ketakutan. Dia menarik tangan Ibu yang masih mengumpal-umpal seraya menyumpahi kami. Aku membanting pintu depan dengan keras. Brak! Suara dentuman pintu bergema di seluruh ruangan, menyisakan kesunyian yang mencekam.
Aku berbalik. Indah masih duduk di lantai, mengumpulkan kertas-kertas kuitansi pegadaian itu dengan tangan yang gemetar hebat. Air matanya menetes satu per satu membasahi ubin keramik.
Aku berjalan pelan, lalu berlutut di hadapannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku benar-benar memperhatikan sosok wanita di depanku ini.
Rambutnya yang terikat asal-asalan tampak kusam. Jarinya kasar dan pecah-pecah karena terlalu sering terkena sabun cuci murah. Dan saat mataku turun ke bawah, aku melihat kakinya… Tumit kakinya pecah-pecah dan memerah, memakai sandal jepit swallow yang sudah tipis dan disambung peniti.
Ya Allah! Bagaimana bisa aku merasa menjadi suami yang hebat hanya karena memberinya sepasang sepatu krem seharga tiga ratus lima puluh ribu Rupiah?! Bagaimana bisa aku begitu sombong merasa sudah melakukan tindakan paling romantis di dunia, sementara istriku membawa beban hidup setinggi gunung di pundaknya yang ringkih?!
“Indah…” panggilku pelan. Suaraku gemetar hebat.
“Mas… maafkan aku,” bisiknya di antara isak tangis. “Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini darimu. Aku cuma… aku cuma tidak mau beban pikiranmu bertambah. Kamu sudah capek kerja cari uang Rupiah di pabrik dari pagi sampai malam…”
Kalimat itu seperti pisau belati yang menusuk dadaku berulang kali. Dia yang dihina, dia yang ditampar, dia yang dikuras hartanya—tapi dia yang meminta maaf kepadaku!
“Kenapa, Dek? Kenapa kamu tidak pernah cerita sama Mas?” air mataku akhirnya menetes tak tertahan lagi. Aku merengkuh tubuhnya yang kurus ke dalam pelukanku. “Mas ini suamimu, Indah! Mas bukan cuma orang asing yang cuma bisa kasih uang belanja!”
Indah menyandarkan kepalanya di dadaku. Tangisnya pecah menjadi jeritan histeris yang selama bertahun-tahun ini dia tahan di dalam dadanya.
Malam itu, kami duduk berdua di teras belakang rumah di bawah remang lampu bohlam lima watt. Aku menyeduhkan teh hangat untuknya. Di dalam kamar, suara batuk Bapak—ayah kandungku yang menderita stroke berat sejak tiga tahun lalu—terdengar samar-samar.
Aku memegang tangan Indah yang terasa dingin. “Malam kemarin, aku mendengar pembicaraanmu dengan Mbak Putri di telepon.”
Indah tersentak kecil, menundukkan kepalanya. “Mas dengar?”
“Iya. Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu pengin ikut liburan ke Bandung?”
Indah tersenyum pahit, menatap cangkir tehnya. “Bagaimana aku bisa pergi, Mas? Bapak butuh dirawat dua puluh empat jam. Bapak harus disuapi makan nasi tim setiap tiga jam sekali. Obat peninggi tensi dan vitamin harus diminum tepat waktu. Kalau malam, Bapak sering mengompol dan harus diganti popoknya. Siapa yang mau melakukan itu semua kalau aku pergi?”
“Ada Mas, Dek. Mas suamimu,” tegasku.
Indah menatapku dengan mata sembab. “Mas harus bekerja di pabrik. Mas juga capek mencari uang. Aku tidak mau merepotkan Mas…”
Kata-kata itu membuat dadaku semakin sesak. Aku teringat kejadian-kejadian masa lalu. Dua bulan lalu, dia pernah berkata pelan saat kami makan malam, “Kayaknya enak ya kalau sesekali bisa pulang ke kampung di Yogyakarta…” Waktu itu aku cuma menjawab tanpa menoleh dari layar ponsel, “Nanti ya kalau ada rezeki uang Rupiah lebih.”
Sebulan lalu, dia menatap keluar jendela saat hujan deras dan berbisik, “Mas, aku kangen jalan-jalan sore lihat pemandangan luar kota…” Aku langsung mentransfer uang seratus ribu Rupiah ke rekeningnya dan bilang, “Nih, buat beli makanan online saja.”
Dan minggu lalu, saat dia memandang sepatu kain krem di mall, aku bilang, “Kalau suka ambil saja.” Lalu ketika dia menolak, aku membelikannya diam-diam dan menuntut reaksi heboh seolah aku adalah pahlawan terbesar di hidupnya!
Ternyata, selama ini aku adalah suami yang sangat dangkal! Aku menerjemahkan setiap jeritan jiwanya yang kelelahan sebagai keinginan akan barang dan materi!
Dia bilang capek, aku beliin makanan. Dia bilang ingin jalan-jalan, aku transfer uang. Dia bilang suka sepatu, aku beliin sepatu.
Selesai. Menurut logikaku yang dangkal.
Padahal… yang dia butuhkan bukanlah barang mahal, bukan makanan lezat, dan bukan uang transferan! Yang dia butuhkan adalah kebebasan dari rasa bersalah! Yang dia butuhkan adalah kehadiran seorang suami yang mau membagi beban hidupnya, bukan cuma menjadi penonton yang membagi uang!
“Sabtu besok,” ucapku pelan namun penuh penekanan. “Kamu pergi ke Bandung sama Mbak Putri dan teman-temanmu.”
Indah mendongak kaget. “Mas? Apa maksudmu?”
“Pergi, Indah. Cuma dua hari satu malam. Nikmati liburanmu.”
“Terus Bapak bagaimana, Mas?! Siapa yang mengurus Bapak?!” suaranya meninggi, dipenuhi rasa cemas yang amat sangat.
“Gue yang jaga. Maksudku… Mas yang akan menjaga Bapak sepenuhnya. Mas yang bakal suapi Bapak, mandikan Bapak, ganti popok Bapak. Semuanya.”
Indah memandangku dengan tatapan tak percaya. “Pekerjaan pabrik Mas bagaimana? Hari Sabtu kan Mas ada lembur?”
“Mas sudah minta izin ambil cuti. Mas tidak peduli dipotong gaji!” jawabku mantap. “Mas serius, Indah.”
Indah tidak langsung menjawab. Dia menarik napas panjang, menahan gelombang emosi yang bergemuruh di dadanya. Air mata kembali menggenang di sudut matanya.
“Mas…” bisiknya halus, hampir tak terdengar. “Aku sebenarnya tidak butuh pergi jauh ke ujung dunia… Aku tidak butuh menginap di hotel mewah…”
“Lalu apa yang kamu mau, Dek?” tanyaku penuh penyesalan.
Indah menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum kecil—senyuman paling jujur yang pernah kulihat. “Aku cuma pengin sekali saja dalam hidupku… berjalan keluar rumah tanpa merasa sedang meninggalkan dan mengorbankan semuanya.”
Kalimat sederhana itu menghantam jantungku begitu keras hingga aku tidak bisa berkata-kata lagi. Ternyata selama ini dia bukannya tidak punya keinginan hidup. Dia hanya terlalu sering mengalah demi menjaga rumah tangga ini agar tidak hancur!
Sabtu pagi tiba. Jam lima subuh, Mbak Putri sudah menjemput Indah dengan mobil travel di depan gang rumah.
Sebelum melangkah keluar, Indah berdiri ragu di ambang pintu. Dia berkali-kali menoleh ke belakang, menatap kamar Bapak dengan wajah penuh kecemasan. Tangannya memegang erat tali tas pakaiannya.
Aku menghampirinya, memegang kedua bahunya, dan tersenyum hangat. “Jangan khawatirkan rumah ini. Pergilah dengan senang hati. Mas janji, saat kamu pulang besok, Bapak akan baik-baik saja.”
Indah mengangguk pelan. Dia mencium tanganku dengan takzim. “Aku jalan ya, Mas… Terima kasih.”
Awalnya, aku berpikir merawat Bapak dan mengurus rumah adalah pekerjaan sepele. Aku seorang laki-laki dewasa, pekerja keras di pabrik. Apa susahnya cuma mengurus satu orang tua dan rumah kecil?
Namun… kenyataan menghantamku tanpa ampun!
Baru jam delapan pagi, rumah sudah seperti kapal pecah. Aku mencoba memasak nasi tim untuk Bapak di dapur, tapi buburnya gosong karena aku lupa mengecilkan api kompor. Bau hangus memenuhi seluruh ruangan.
Jam sembilan pagi, Bapak terbangun dan menangis meraung-raung karena ngompol. Saat aku mencoba memindahkan tubuh Bapak yang kaku ke kamar mandi untuk memandikannya, pinggangku rasanya mau patah! Tubuh Bapak berat, dan beliau terus berteriak ketakutan karena tidak terbiasa dimandikan olehku. Air sabun menyiprat ke seluruh bajuku, dan aku harus menggosok lantai kamar mandi yang licin sambil menahan bau kotoran.
Jam sebelas siang, Bapak mengamuk tidak mau minum obat. Obat tabletnya terlempar ke lantai. Aku harus sabar merujuknya seperti anak kecil, menyuapinya bubur baru yang kubeli dari luar spoon demi spoon.
Jam dua siang, aku terduduk lemas di lantai ruang tamu yang belum sempat kusepud. Bajuku basah kuyup oleh keringat dan air cucian. Perutku perih berbunyi karena aku sendiri belum sempat menyuap satu sendok nasi pun sejak pagi! Pelipisku berdenyut hebat.
Ya Allah, Ilahi Rabbi! Baru setengah hari saja aku menggantikan posisi Indah, seluruh badanku rasanya mau remuk! Bagaimana bisa Indah melakukan semua neraka pekerjaan ini setiap hari, selama tiga tahun berturut-turut, tanpa pernah terlambat memasakkan makanan untukku, tanpa pernah membiarkan bajuku kotor, dan tanpa pernah mengeluh sedikit pun?!
Sungguh, dosa apa yang sudah kubuat sampai menyia-nyiakan wanita semulia dirinya?!
Saat jam tiga sore, ketika Bapak sedang tertidur lelap setelah kuminumi obat, aku masuk ke kamar Bapak untuk mengganti sprei kasur yang kotor. Saat menarik sprei tua di bawah kasur, tanganku menyenggol sebuah kotak kayu jati tua yang terkunci di sudut laci lemari pakaian Bapak.
Kunci kecilnya tergeletak di atas lemari. Karena penasaran, aku membuka kotak kayu tersebut.
Di dalam kotak itu, tidak ada perhiasan atau uang simpanan. Yang ada hanyalah selembar buku harian lusuh milik Bapak dan sebuah kertas surat keputusan pengadilan bernomor tua tahun 1998 dari Yogyakarta.
Dengan tangan gemetar, aku membaca lembaran kertas bernuansa kuning tersebut. Seketika, mataku terbelalak lebar! Jantungku seperti berhenti berdetak!
Surat itu adalah Surat Adopsi Resmi Anak.
Indah… bukanlah anak kandung Bapak!
Indah adalah anak yatim piatu yang diadopsi oleh Bapak dari sebuah panti asuhan kecil di sudut kota Yogyakarta saat usianya baru lima tahun! Sementara itu, dua anak kandung Bapak yang sebenarnya—kakak-kakakku yang hidup mampu di kota lain—sama sekali tidak pernah mau menampung Bapak dan angkat tangan saat Bapak jatuh sakit terkena stroke!
Aku membaca tulisan tangan Bapak yang gemetaran di lembar buku harian itu: “Tuhan… kasihanilah Indah. Anak angkatku yang tidak berdarah kandung ini justru satu-satunya yang mau merawat tubuhku yang bau dan lumpuh ini. Anak-anak kandungku membuangku karena aku miskin, tapi Indah menjual perhiasan dan masa mudanya demi memberiku makan. Ya Allah, balaslah kebaikan malaikat kecilku ini…”
“Astagfirullahaladzim! Ya Allah!” jeritku meratap di dalam kamar yang sunyi. Air mataku menetes deras membasahi lembaran buku harian itu.
Indah bukan darah daging keluarga kami! Dia tidak punya kewajiban moral untuk menanggung beban penderitaan ini! Tapi dengan ketulusan hatinya yang sesuci embun pagi, dia mengorbankan seluruh hidupnya, cita-citanya, dan kebahagiaannya hanya untuk merawat pria tua yang bahkan tidak memberikan darah kepadanya! Dan aku… suami bodoh yang tidak berguna ini, justru sibuk mempertanyakan kenapa dia tidak tersenyum gembira saat kuberi sepatu murah?!
Minggu malam, jam delapan. Suara deru mobil travel terdengar berhenti di depan gang.
Pintu depan terbuka pelan. Indah melangkah masuk membawa sebuah tas kain berisi oleh-oleh kecil—keripik tempe dan gantungan kunci khas Bandung.
Wajahnya tampak lelah, namun matanya… matanya berbinar terang. Ada rona kebahagiaan yang begitu segar di pipinya. Ada ketenangan yang tidak pernah kulihat selama lima tahun terakhir.
Begitu melihatku berdiri di ruang tamu, dia tersenyum manis. “Mas… aku pulang.”
Aku berjalan menghampirinya tanpa bersuara. Aku langsung berlutut di depannya, memeluk pinggangnya erat-erat, dan membenamkan wajahku di perutnya. Aku menangis sesenggukan seperti anak kecil.
Indah kaget setengah mati. Tangannya yang lembut mengelus rambutku dengan bingung. “Loh, Mas? Kenapa menangis? Ada apa? Bapak baik-baik saja kan, Mas?”
“Bapak baik-baik saja, Dek…” suaraku parau tertahan isak tangis. “Mas yang tidak baik-baik saja… Mas minta maaf, Indah. Mas suami yang biadab, suami yang bodoh, suami yang egois…”
“Mas, bicara apa sih? Berdirilah, Mas…” Indah berusaha menarik tubuhku.
Aku berdiri, menatap matanya yang bening. “Mas sudah tahu semuanya, Indah. Mas sudah tahu tentang surat adopsi di kamar Bapak… Mas sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya merawat Bapak seharian ini. Mas rasanya mau gila, Dek! Tapi kamu… kamu menanggungnya bertahun-tahun sendirian!”
Indah terpaku mendengarnya. Matanya berkaca-kaca, lalu mengangguk pelan. “Bapak memang bukan ayah kandungku, Mas… Tapi Bapak yang memberi aku rumah saat aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Aku cuma ingin berbakti…”
“Dan Mas janji, mulai hari ini, kamu tidak akan pernah menanggungnya sendirian lagi!” potongku tegas, memegang erat kedua tangannya. “Bebanmu adalah beban Mas. Duka mu adalah duka Mas!”
Aku berjalan ke kamar, mengambil kotak sepatu krem seharga tiga ratus lima puluh ribu Rupiah yang masih tersimpan rapi di lemari. Aku membawanya keluar, membukanya, dan meletakkan sepasang sepatu kain krem itu tepat di depan kaki Indah.
“Loh, kenapa dikeluarin lagi, Mas?” tanyanya sambil tersenyum tipis.
“Biar dipakai,” jawabku penuh kehangatan. “Mulai besok dan seterusnya, sepatu ini harus dipakai.”
Indah tertawa kecil, suara tawa paling merdu yang pernah kudengar. “Mau dipakai ke mana, Mas? Kita kan tidak punya uang untuk liburan mahal?”
“Ke mana saja kamu mau pergi, Dek. Ke pasar, ke taman kota, atau cuma jalan-sore di depan gang. Kalau kamu mau pergi, bilang sama Mas. Mas yang akan menggantikan tugasmu di rumah, atau Mas yang akan menggandeng tanganmu berjalan di luar!”
Indah diam terpaku. Airmata kebahagiaan menetes perlahan menelusuri pipinya. Dia menunduk, memakai sepatu kain krem itu di kakinya. Pas sekali.
Dia mendongak menatapku, lalu tersenyum—sebuah senyuman yang sangat berbeda dari senyuman seminggu yang lalu. Bukan senyuman formalitas karena diberi barang murah. Tapi senyuman seorang wanita yang akhirnya merasa bahwa dirinya dihargai, dicintai, dan yang paling penting… tidak lagi berjuang sendirian di dunia ini.
Saat aku tersenyum lega memandangnya melangkah anggun memakai sepatu baru itu menuju teras depan, mataku tertuju pada selembar surat vonis medis dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang baru saja terjatuh dari tas kainnya.
Dokter menyatakan Indah mengidap penyakit kanker stadium akhir yang sengaja dirahasiakannya, dan alasannya memintaku merawat Bapak kemarin adalah agar aku terbiasa mandiri sebelum ia berpulang ke hadirat Tuhan.
Sepatu murah yang kubeli dengan tetes keringatku itu kini berdiri anggun di ambang pintu, menjadi saksi bisu betapa hancurnya jiwaku menyadari bahwa kebebasan sehari yang kuberikan padanya adalah salam perpisahan terakhir dari malaikatku yang sedang berjalan menuju keabadian.
