Hamil Enam Bulan Aku Diusir Mertua Dan Suami Penakut Dari Rumah Yang Kucicil Sendiri, Tapi Saat Kujual Aset Senilai Tiga Miliar Rupiah Di Notaris, Rahasia Besar Keluarga Mereka Akhirnya Terbongkar Hingga Ibu Mertuaku Berlutut Memohon Ampun!

Hamil Enam Bulan Aku Diusir Mertua Dan Suami Penakut Dari Rumah Yang Kucicil Sendiri, Tapi Saat Kujual Aset Senilai Tiga Miliar Rupiah Di Notaris, Rahasia Besar Keluarga Mereka Akhirnya Terbongkar Hingga Ibu Mertuaku Berlutut Memohon Ampun!

BAGIAN 1

Pagi itu di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, awan hitam menggantung rendah mengiringi rintik hujan yang mulai membasahi aspal. Sebuah koper hitam besar dilempar secara kasar dari teras hingga menghantam tiang gerbang besi. Bunyi benturannya terdengar begitu memekakkan telinga, memecah kesunyian pagi yang dingin.

“PERGI KAMU DARI RUMAH INI! JANGAN PERNAH BERANI KEMBALI LAGI!”

Suara teriakan menyayat hati itu melengking keras. Aku terdiam kaku di atas lantai teras yang dingin. Tanganku bergerak refleks, memeluk perutku yang kini sudah membesar memasuki usia kehamilan enam bulan. Rasa nyeri menjalar di pinggangku, namun rasa sakit di dadaku jauh lebih menusuk.

Di hadapanku, berdiri Bu Ratmi, ibu mertuaku. Wajah keriputnya memerah padam, diselimuti kemarahan yang meluap-luap. Matanya menatapku seolah-olah aku adalah sampah yang sangat menjijikkan. Di belakang tubuhnya yang kokoh, berdiri Dimas, suamiku. Pria yang telah bersamaku selama lima tahun itu hanya menunduk dalam-dalam, menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celana tanpa berani menatap mataku sedikit pun.

“Bu… kenapa Ibu harus mengusir saya sekarang? Kasihan anak di dalam kandungan saya, Bu. Di luar sedang hujan deras,” ucapku dengan suara bergetar menahan tangis yang membendung di pelupuk mata.

“Justru karena kamu sedang hamil, kami tidak mau lagi menanggung beban hidupmu!” bentak Bu Ratmi tanpa sedikit pun belas kasihan. “Setiap hari kamu cuma menambah biaya makan di rumah ini! Dimas sedang tidak bekerja, dan kamu malah terus menuntut ini itu!”

Astaga! Demi Tuhan, jantungku seperti diremas mendengar ucapan wanita tua itu. Mataku beralih menatap Dimas yang masih berdiri mematung.

“Mas… kamu cuma diam saja melihat ibumu mengusirku dan calon anakmu?” tanyaku penuh penekanan.

Dimas menghela napas panjang. Dia mengusap wajahnya dengan kasar sebelum akhirnya memberanikan diri menatapku dingin.

“Maafkan aku, Rani. Aku tidak bisa melawan Ibu. Kamu lebih baik pulang saja ke rumah orang tuamu di kampung. Lagipula, kata Ibu benar, keuangan kita sedang hancur. Aku tidak sanggup membiayai persalinanmu nanti.”

Kalimat yang keluar dari mulut suamiku terasa ribuan kali lebih menyakitkan daripada bentakan keras ibu mertuaku. Ya Allah! Rasanya dunia di sekitarku runtuh seketika. Selama lima tahun mengarungi bahtera rumah tangga, siapakah yang sebenarnya menopang hidup keluarga ini?

Setiap bulan, delapan puluh persen dari gajiku sebagai akuntan senior di kawasan Kuningan kuserahkan sepenuhnya kepada Dimas. Aku yang membayar cicilan rumah mewah ini sebesar lima belas juta Rupiah setiap bulannya tanpa pernah terlambat. Bahkan ketika Dimas kehilangan pekerjaannya dua tahun lalu, aku rela mengambil kerja sampingan hingga larut malam demi memastikan dapur rumah ini tetap mengepul, demi memastikan Bu Ratmi bisa membeli baju batik baru saat hari raya Lebaran dan berkunjung ke sanak saudara saat tradisi Mudik.

Namun sekarang, saat perutku membuncit membawa darah dagingnya, aku justru dibuang seperti bangkai.

Bu Ratmi melangkah maju, menunjuk hidungku dengan telunjuknya yang gemetar.

“Bawa semua barang-barang murahmu itu! Rumah megah ini milik anak kandungku, Dimas! Kamu cuma wanita yang numpang hidup dan menghabiskan uang anakku!”

Aku menelan saliva dengan susah payah, mengusapkan air mata yang menetes membasahi pipiku. Rasa sakit hati ini perlahan berubah menjadi ketegangan yang dingin. Aku menegakkan tubuhku, menatap mereka berdua satu per satu.

“Nggak apa-apa, Bu. Kalau ini memang kemauan Ibu dan Mas Dimas, saya akan pergi.”

Aku membungkuk perlahan, menyeret koper hitamku yang basah terkena cipratan air hujan. Namun sebelum melangkah melewati pintu gerbang, aku menghentikan langkahku. Aku membalikkan badan, menatap Dimas dengan pandangan yang tajam dan paut.

“Mas… nanti kalau semua kebenaran tentang rumah ini dan keuanganmu terbongkar… jangan pernah memohon dan bilang aku tidak pernah memperingatkanmu.”

Dahi Dimas mengerut seketika. Keningnya berkerut penuh kebingungan.

“Maksud kamu apa, Rani? Jangan berbelit-belit!”

Aku tidak menjawab sepatah kata pun. Aku mengabaikan seruan mereka, lalu terus berjalan menembus hujan deras menuju jalan raya untuk menghentikan sebuah taksi.

Satu jam kemudian, aku tiba di sebuah bangunan megah di kawasan Jakarta Selatan. Di papan namanya tertulis jelas: Kantor Notaris & Pejabat Pembuat Akta Tanah Pak Bambang, S.H.

Dengan pakaian yang setengah basah, aku duduk di hadapan Pak Bambang, seorang notaris senior berambut perak yang sudah lama menjadi kepercayaan almarhum keluargaku. Aku mengeluarkan sebuah map cokelat tebal yang selama ini kusimpan rapi di dalam brankas tersembunyi.

Di dalam map tersebut, tersusun rapi puluhan lembar bukti transfer cicilan bank atas namaku, surat perjanjian sewa tanah, serta dokumen sertifikat kepemilikan asli rumah yang baru saja aku tinggalkan.

Pak Bambang mengamati lembar demi lembar dokumen tersebut dengan kaca pembesarnya. Wajahnya yang semula tenang perlahan berubah menjadi sangat serius dan tegang.

“Ibu Rani… jika seluruh dokumen resmi ini valid dan terverifikasi di Badan Pertanahan Nasional, maka rumah mewah yang baru saja Anda tinggalkan tersebut…” Pak Bambang menghentikan kalimatnya, menatapku dengan tatapan tak percaya.

Aku menatap mata Pak Bambang dengan napas terengah-engah.

“Rumah itu bukan cuma milik suami saya kan, Pak?”

Pak Bambang mengangguk perlahan.

“Benar sekali. Bahkan nama suami Anda sama sekali tidak memegang hak milik utama atas bangunan tersebut. Ada satu nama lain yang tercantum secara sah sebagai pemilik tunggal Sertifikat Hak Milik ini.”

Jantungku berdegup begitu kencang hingga dadaku terasa sesak.

“Nama saya, Pak?”

“Bukan.”

Tanganku gemetar hebat saat Pak Bambang menggeser satu lembar dokumen legalitas berstempel basah ke hadapanku. Mataku membelalak lebar saat membaca nama yang tertera jelas di lembaran kertas tersebut.

Nama itu… adalah nama sosok yang selama sepuluh tahun terakhir ini diyakini oleh seluruh anggota keluarga besar Dimas telah meninggal dunia akibat musibah hebat di Yogyakarta!

Dan jika sosok pemilik nama itu ternyata masih bernapas hingga hari ini… maka alasan sebenarnya mengapa aku diusir secara paksa dari rumah tersebut jauh lebih mengerikan dan melibatkan kejahatan besar yang terencana…

Ending Part 2 benar-benar mengejutkan! Cek kelanjutannya di kolom komentar ya. 👇

BAGIAN 2

Di dalam ruangan kantor notaris yang berpendingin udara dingin itu, keheningan mencekam menyelimuti kami. Aku membeku di atas kursi kulit, memandangi selembar kertas sertifikat berstempel emas yang disorongkan oleh Pak Bambang.

Nama yang tertera di sana tercetak jelas dengan huruf kapital hitam: HENDRA WIJAYA.

“Mas Hendra…?” bisikku dengan tenggorokan yang terasa sangat kering. “Tapi Pak… bukankah Mas Hendra, kakak kandung Dimas, sudah berpulang sepuluh tahun yang lalu karena tertimbun tanah longsor di kawasan lereng Gunung Merapi, Yogyakarta?”

Pak Bambang menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kerja. Dia mengusap kacamata minusnya dengan kain lembut sebelum menatapku secara mendalam.

“Itu adalah cerita bohong yang sengaja dirancang oleh Ibu Ratmi dan Dimas, Bu Rani,” ujar Pak Bambang dengan nada suara yang teramat berat. “Mas Hendra memang menjadi korban dalam musibah longsor sepuluh tahun silam. Namun dia tidak berpulang. Dia selamat, meski harus menjalani perawatan medis yang sangat panjang di sebuah rumah sakit di kota Bandung.”

Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Air mata menetes tanpa bisa kubendung lagi.

“Lalu… kenapa selama sepuluh tahun ini keluarga Dimas mengumumkan bahwa Mas Hendra sudah tidak ada di dunia ini?” tanyaku penasaran.

“Karena keserakahan,” jawab Pak Bambang tegas. “Saat Mas Hendra terbaring tidak berdaya di rumah sakit, Ibu Ratmi menyogok oknum pejabat desa di kampung untuk menerbitkan surat kematian palsu atas nama Hendra Wijaya. Dengan surat kematian palsu itu, Ibu Ratmi mencairkan uang klaim asuransi jiwa milik Hendra sebesar dua miliar Rupiah. Tidak hanya itu, mereka juga berusaha menguasai seluruh peninggalan aset keluarga Wijaya, termasuk rumah megah di Kebayoran Baru yang sedang Anda tempati!”

Ya Allah! Astagfirullahaladzim! Badanku bergetar hebat. Mendidih darahku mendengar betapa licik dan serakahnya ibu mertua serta suamiku sendiri. Selama lima tahun ini aku dibodohi oleh sandiwara keluarga penipu!

“Lalu bagaimana dengan sertifikat rumah ini, Pak?” tanyaku lagi.

Pak Bambang tersenyum tipis. “Mas Hendra terbangun dari masa sulitnya tiga tahun lalu. Ketika dia mengetahui kejahatan ibu tirinya dan adik tirinya, Mas Hendra tidak langsung bertindak. Dia mengumpulkan seluruh bukti kejahatan pemalsuan dokumen tersebut secara diam-diam. Dan tiga bulan yang lalu, Mas Hendra mendatangi kantor saya.”

Pak Bambang membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah dokumen resmi berstempel Notaris.

“Mas Hendra tahu betul bahwa selama lima tahun terakhir, Anda, Bu Rani, yang memeras keringat membayar cicilan rumah tersebut sebesar lima belas juta Rupiah setiap bulan dari hasil kerja keras Anda sebagai akuntan. Mas Hendra juga tahu betapa jahatnya perlakuan Bu Ratmi dan Dimas yang sering menghina dan memanfaatkan Anda. Oleh karena itu, Mas Hendra secara sah telah menandatangani Akta Hibah dan Pemindahtanganan Hak Milik atas rumah tersebut sepenuhnya kepada nama Anda, Rani Pertiwi!”

Jantungku rasanya berhenti berdetak seketika.

“Maksud Bapak… rumah itu sekarang milik saya sepenuhnya?”

“Seratus persen milik Anda secara hukum negara yang sah!” tegas Pak Bambang. “Bukan milik Dimas, dan bukan milik Bu Ratmi. Dokumen balik nama Sertifikat Hak Milik atas nama Ibu Rani Pertiwi sudah selesai diproses dua minggu yang lalu. Dan hari ini, kita memiliki hak penuh untuk mengambil kembali aset milik Anda tersebut secara hukum!”

Aku memegang perutku yang membuncit. Sebuah senyuman dingin perlahan terukir di bibirku. Pengorbananku selama ini, tetesan keringatku yang diperas oleh keluarga tak tahu diri itu, akhirnya dibalas oleh keadilan Tuhan.

Sementara itu, di rumah mewah kawasan Kebayoran Baru, suasana sangat meriah. Bu Ratmi sedang menggelar acara makan bersama sanak saudaranya. Bau harum hidangan rendang daging, sate ayam, dan nasi uduk memenuhi seluruh penjuru ruang tamu yang megah.

Bu Ratmi duduk di kursi sofa utama dengan gaya seperti seorang ratu. Di sampingnya, Dimas sedang melayani seorang wanita muda bergaun merah mencolok bernama Indah—seorang wanita yang disiapkan Bu Ratmi untuk menjadi calon istri baru Dimas.

“Ayo dimakan semuanya! Jangan malu-malu!” seru Bu Ratmi dengan tawa melengking yang penuh kesombongan. “Rumah ini sekarang milik anakku Dimas sepenuhnya! Parasit pembawa sial bernama Rani itu sudah berhasil aku tendang keluar dari rumah ini!”

Beberapa kerabat ikut tertawa dan memuji tindakan Bu Ratmi.

“Bagus itu, Bu Ratmi! Lagipula Rani itu wanita angkuh. Masak suami sendiri hilang pekerjaan malah disuruh-suruh melayani!” celoteh salah satu kerabat.

Dimas tersenyum tipis, namun di dalam hatinya ada sedikit rasa mengganjal. Dia memandangi sudut kamar utama tempat koper Rani biasa diletakkan. Di sana masih tersisa selembar baju bayi berwarna merah muda yang baru dibeli Rani minggu lalu. Namun, lamunannya seketika dibuyarkan oleh tepukan keras Bu Ratmi di bahunya.

“Dimas! Kenapa kamu melamun?! Ingat, besok kita akan memanggil agen properti untuk menjual rumah ini seharga empat miliar Rupiah!” bisik Bu Ratmi dengan mata berbinar penuh keserakahan.

“Dijual, Bu? Tapi kalau dijual, kita mau tinggal di mana?” tanya Dimas ragu.

“Halah! Uang empat miliar itu bisa kita pakai untuk membeli rumah baru yang lebih modern di kawasan Tangerang, sisanya bisa Ibu pakai untuk modal investasi online dan bayar utang-utang judi Ibu! Lagi pula, Indah tidak mau tinggal di rumah bekas wanita miskin seperti Rani!” bentak Bu Ratmi penuh penekanan.

Indah tersenyum manja sambil mengelus lengan Dimas. “Iya dong, Mas Dimas. Aku kan calon istri pengusaha sukses. Masak aku harus tinggal di rumah lama begini?”

Dimas akhirnya mengangguk pasrah. Kebodohan dan ketakutannya pada sang ibu telah membutakan mata hati dan akal sehatnya.

Namun, kesombongan pesta keluarga itu tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba, suara sirine mobil polisi terdengar melengking keras dari luar gerbang rumah. Suara deru mesin mobil-mobil besar berhenti tepat di depan halaman.

Kurang dari satu menit kemudian, terdengar gedoran keras di pintu depan rumah.

BUM! BUM! BUM!

“Buka pintunya! Eksekusi Pengadilan Negeri!” teriakan nyaring petugas kepolisian menggema hingga ke dalam ruang tamu.

Gelas teh di tangan Bu Ratmi hampir saja terjatuh. Wajah keriputnya berubah menjadi heran bercampur marah.

“Siapa sih yang berani mengganggu acara makan-makan kita?! Kurang ajar sekali!” umpat Bu Ratmi sambil bergegas berjalan menuju pintu depan, diikuti oleh Dimas, Indah, dan para kerabatnya.

Saat pintu kayu jati itu dibuka lebar, betapa terkejutnya Bu Ratmi dan Dimas. Di halaman rumah mereka, berdiri lima orang petugas kepolisian berseragam lengkap, tiga petugas juru sita Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, serta Pak Bambang sang notaris.

Dan berdiri anggun di tengah-tengah mereka adalah aku, Rani. Aku mengenakan pakaian blazer hitam yang rapi, berdiri tegak tanpa ada lagi derai air mata di pipiku.

“Kamu?! Wanita pembawa sial!” jerit Bu Ratmi histeris sambil menunjuk mukaku. “Untuk apa kamu kembali ke sini bawa-bawa polisi?! Mau bikin kerusuhan kamu, ya?! Cepat pergi sebelum aku panggil warga untuk pukuli kamu!”

Dimas melangkah maju dengan wajah berang.

“Rani! Kamu sudah gila, ya?! Mau mempermalukan aku dan ibuku di depan keluarga besar?! Rumah ini milik keluargaku! Kamu cuma mantan istri yang tidak punya hak apa-apa di sini!” bentak Dimas merasa sok berkuasa.

Pak Bambang melangkah maju satu langkah, mengangkat sebuah map merah yang berisi dokumen resmi negara bersurat segel pengadilan.

“Harap tenang, Saudara Dimas dan Nyonya Ratmi!” tegas Pak Bambang dengan suara lantang yang menggelegar. “Kami datang ke sini atas perintah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk melakukan penetapan pengosongan aset dan penyitaan rumah ini! Rumah ini secara sah dan legal berdasarkan Sertifikat Hak Milik Nomor 412 adalah milik tunggal Ibu Rani Pertiwi!”

“APA?!” teriak Bu Ratmi dan Dimas secara bersamaan.

Wajah para kerabat yang tadinya ikut menyombongkan diri seketika berubah pucat pasi.

“Bohong! Itu pasti dokumen palsu!” bentak Bu Ratmi dengan mata melotot tajam. “Rumah ini milik anakku Hendra yang sudah meninggal! Dan Dimas adalah adik kandung yang menjadi ahli waris tunggalnya! Wanita miskin ini tidak punya hak sepeser pun atas tanah dan bangunan ini!”

Aku melangkah mendekati Bu Ratmi. Kupandangi wajah tua yang penuh keserakahan itu dengan tatapan dingin dan menusuk.

“Ibu bilang Mas Hendra sudah meninggal?” tanyaku dengan senyuman sinis. “Ibu yakin Mas Hendra benar-benar sudah berpulang ke Rahmatullah sepuluh tahun yang lalu?”

“Tentu saja dia sudah mati! Aku sendiri yang mengurus surat kematiannya di kampung!” jerit Bu Ratmi penuh kebohongan.

Atas isyarat jariku, pintu belakang mobil SUV hitam yang terparkir di teras perlahan terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi tegap, mengenakan kemeja batik sutra berwarna cokelat tua, melangkah keluar. Pria itu berjalan perlahan mengaitkan tongkat kayu di tangan kanannya.

Ketika cahaya matahari pagi menimpa wajah pria tersebut, Bu Ratmi mendadak tersedak ludahnya sendiri. Langkah kakinya mundur beberapa tindak hingga menabrak vas bunga besar di sudut teras hingga pecah berantakan.

PRANG!

“A… Astagfirullahaladzim… Han… Hantu… Hendra?!” jerit Bu Ratmi dengan suara gemetar hebat. Seluruh warna merah di wajahnya seketika sirna, berganti menjadi pucat bagaikan mayat.

Dimas mengucek matanya berulang kali, tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.

“Mas… Mas Hendra?! Bagaimana mungkin… Bukankah Mas sudah meninggal sepuluh tahun lalu dalam musibah longsor?!” tanya Dimas dengan bibir bergetar ketakutan.

Mas Hendra berdiri tegak di hadapan mereka. Tatapan matanya penuh dengan kemarahan dan kekecewaan yang telah terpendam selama belasan tahun.

“Aku tidak pernah meninggal, Ibu Ratmi! Dan aku bukan hantu!” tegas Mas Hendra dengan suara berat yang membuat seluruh kerabat di teras rumah merinding ketakutan. “Allah masih memperpanjang umurku untuk melihat betapa busuk dan serakahnya kalian berdua!”

Mas Hendra membalikkan badan menatap komandan polisi yang berdiri di sampingnya.

“Pak Polisi, inilah dua orang yang sepuluh tahun lalu memalsukan surat kematian saya, mencairkan uang asuransi jiwa saya secara ilegal sebesar dua miliar Rupiah, dan mencoba menyita rumah milik saya ini!”

Komandan polisi mengangguk tegas. Dia memberi isyarat kepada empat anggotanya.

“Petugas, lakukan penangkapan sekarang juga!” perintah Komandan Polisi.

Seketika itu juga, dua petugas polisi maju dan langsung mengunci kedua tangan Bu Ratmi. Dua petugas lainnya memiting lengan Dimas dan memasangkan borgol besi yang dingin di kedua pergelangan tangannya.

Borgol besi berdenting nyaring!

“Lepaskan aku! Lepaskan! Aku tidak bersalah! Ini fitnah! Dimas, tolong Ibu, Nak!” jerit Bu Ratmi histeris sambil meraung-raung mencoba melepaskan diri.

Indah, wanita muda yang tadinya ingin dinikahi Dimas, langsung melangkah mundur dengan wajah jijik. “Ih, ternyata kalian keluarga penipu dan penjahat! Dadah Dimas, jangan pernah hubungi aku lagi!” seru Indah sambil berlari meninggalkan teras rumah tanpa memedulikan Dimas lagi.

Dimas panik luar biasa. Borgol besi di tangannya terasa menyiksa. Dia melihat seluruh kerabatnya menjauh dan menatapnya dengan jijik. Dimas menatap ke arahku dengan mata yang memerah penuh air mata.

Dengan tubuh gemetar, Dimas menjatuhkan lututnya ke atas lantai. Pria yang tadi pagi begitu sombong mengusirku kini berlutut di hadapanku di bawah tatapan puluhan tetangga yang mulai berkumpul di depan rumah.

“Rani! Rani, tolong aku, Rani!” tangis Dimas pecah. Dia mencoba meraih ujung bajuku dengan tangannya yang terborgol. “Tolong cabut laporannya, Rani! Aku ini suamimu! Pikirkan bayi yang sedang kamu kandung! Anak kita butuh seorang ayah, Rani! Jangan biarkan aku masuk penjara!”

Aku mundur satu langkah, menepis tangan Dimas yang kotor dengan gerakan tegas.

“Anak kita?” tanyaku dengan tawa hambar bercampur dingin. “Pagi tadi, saat aku berlutut memohon padamu di bawah rintik hujan, saat aku memegang perutku yang kesakitan, apakah kamu mengingat anak dalam kandungan ini, Dimas?”

Dimas menangis tersedu-sedu, menggelengkan kepalanya penuh penyesalan. “Aku khilaf, Rani! Aku ditipu oleh Ibu! Tolong ampuni aku!”

“Kamu bukan khilaf, Dimas. Kamu memang seorang pria penakut, serakah, dan tidak punya pendirian!” ucapku dengan tatapan tanpa ampun. “Selama lima tahun aku memeras keringat bekerja sebagai akuntan, membayari cicilan rumah lima belas juta per bulan, memberi makan kamu dan ibumu, tapi kamu membayarku dengan pengkhianatan! Tempat terbaik untuk suami pemalas dan durhaka sepertimu adalah di balik jeruji besi!”

“TIDAK! RANI, TOLONG AKU!” teriak Dimas histeris saat petugas polisi menyeret tubuhnya menuju mobil tahanan.

Bu Ratmi yang terus meraung-raung diseret polisi mendadak berteriak penuh kebencian kepada Mas Hendra.

“Hendra! Kamu anak durhaka! Kamu tega memasukkan ibumu sendiri ke dalam penjara?! Kamu tidak takut kualat pada ibu kandungmu sendiri?!” jerit Bu Ratmi dengan urat-urat leher yang menonjol keluar.

Mas Hendra menghentikan langkahnya. Dia menatap Bu Ratmi dengan pandangan paut yang sangat dingin, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari dalam tasnya. Mas Hendra melemparkan amplop tersebut tepat ke hadapan muka Bu Ratmi dan Dimas.

“Ibu kandung?” tanya Mas Hendra dengan tawa sinis yang menyayat hati. “Tolong jangan berakting lagi, Ratmi! Buka amplop itu dan baca hasil tes DNA dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo!”

Dimas yang sedang diseret polisi terhenti. Matanya membelalak menatap lembaran kertas yang keluar dari amplop cokelat tersebut.

Mas Hendra menunjuk wajah Bu Ratmi dan Dimas secara bergantian.

“Dimas! Wanita iblis yang selama ini kamu bela sampai kamu tega mengusir istri hamilmu sendiri… dia sama sekali BUKAN ibu kandungmu!” tegas Mas Hendra dengan nada menggelegar.

Dimas membeku bagaikan patung. “M… Maksud Mas Hendra apa?”

“Ibu kandungmu sebenarnya sudah berpulang saat melahirkanmu dua puluh enam tahun lalu!” ungkap Mas Hendra membocorkan rahasia terbesar keluarga yang tersimpan rapat selama puluhan tahun. “Ratmi ini hanyalah ibu tiri licik yang menikah dengan almarhum ayah kita demi menguasai harta! Dia menculikmu dari rumah sakit, memalsukan dokumen kelahiranmu, dan mendidikmu menjadi manusia pemalas agar kamu bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk merebut seluruh warisan keluarga Wijaya!”

DUMM!

Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong yang menghantam dada Dimas hingga hancur berkeping-keping.

Dimas menatap Bu Ratmi dengan pandangan tak percaya, matanya membelalak lebar penuh syok dan kehancuran total.

“I… Ibu… Ibu bohong padaku selama ini?! Ibu memanfaatkan aku?!” teriak Dimas histeris.

Bu Ratmi tidak bisa menjawab lagi. Wajah liciknya terkunci rapat oleh ketakutan dan rasa malu yang luar biasa saat seluruh kejahatannya dikuliti habis di hadapan puluhan tetangga.

Dimas menangis meraung-raung seperti orang gila. Dia menyadari betapa bodohnya dirinya. Demi seorang wanita penipu yang dianggapnya ibu, dia telah menghancurkan hidupnya sendiri, mengkhianati kakak kandungnya, dan membuang istri serta anak kandungnya sendiri ke jalanan.

Polisi memasuk paksa Bu Ratmi dan Dimas ke dalam mobil tahanan. Sirine mobil polisi bergema melaju kencang meninggalkan kawasan Kebayoran Baru menuju markas kepolisian untuk memproses hukuman penjara puluhan tahun atas kejahatan pemalsuan, penipuan, dan penggelapan aset.

Aku berdiri di halaman rumah megah yang kini sepenuhnya menjadi milikku secara sah. Kuusap perutku yang membuncit dengan lembut, merasakan tendangan kecil dari buah hatiku di dalam sana.

Masa lalu yang kelam dan kejam itu telah berakhir. Hari ini, di rumah ini, aku dan anakku akan memulai lembaran hidup baru yang penuh keadilan, ketenangan, dan kebahagiaan tanpa ada lagi penderitaan.