3 staf wanita yang tadi memojokkan Sari mendadak kaku dan wajah mereka berubah pucat pasi.

PARTE 2

“Sari, apakah kamu datang ke sini hanya untuk mengantarkan ini?” tanya Hendra sambil menunjuk dompet di tangan Sari.

Sari mengangguk pelan.

“Bapak meninggalkannya di bawah meja kemarin malam. Saya baru sempat mengantarkannya siang ini.”

Hendra mengambil dompetnya dari tangan Sari.

Hendra membukanya di depan semua orang.

Uang tunai 20.000.000 rupiah masih utuh di tempatnya.

Semua kartu dokumen dan kartu kredit tidak berkurang 1 pun.

Hendra membalikkan badan dan menatap Rina dengan pandangan sangat tajam.

“Kalian baru saja memperlakukan orang paling jujur yang pernah melangkah di atas lantai hotel ini seperti seorang pencuri.”

Rina terbata-bata mencoba membela diri.

“Maafkan saya, Pak Hendra. Saya benar-benar tidak tahu kalau wanita ini adalah kenalan Bapak.”

“Itu justru letak kesalahan terbesar kalian,” potong Hendra tegas.

“Apakah kalian harus tahu posisi seseorang dulu baru bisa memperlakukannya sebagai manusia?”

Hari itu juga, Hendra mengambil keputusan tegas.

Rina dicopot dari jabatannya sebagai supervisor dan dipindahkan ke bagian pemeliharaan gudang.

2 staf resepsionis lainnya mendapatkan surat peringatan keras dan pemotongan gaji selama 3 bulan.

Hendra juga memerintahkan mereka bertiga meminta maaf secara langsung di hadapan Sari.

Setelah 3 staf itu pergi dengan wajah menahan malu, Hendra mengeluarkan seluruh uang tunai dari dompetnya.

Hendra menyodorkan uang 20.000.000 rupiah itu kepada Sari.

“Ini sebagai ucapan terima kasih saya atas kejujuranmu.”

Sari menggelengkan kepala dan mundur 1 langkah.

“Saya menolaknya, Pak Hendra.”

“Kenapa? Ini hak kamu,” kata Hendra heran.

“Saya mengembalikan barang ini karena itu kewajiban moral saya, bukan untuk dijual,” jawab Sari tenang.

Jawaban sederhana itu membuat Hendra terpana.

Selama bertahu-tahun hidup di antara orang-orang kaya, Hendra belum pernah bertemu wanita seperti Sari.

Sejak hari itu, Hendra tidak pernah absen datang ke Warung Kopi Kita setiap pagi.

Hendra tidak lagi sekadar duduk dan membaca koran.

Hendra mulai mengajak Sari berbincang saat warung sedang sepi.

Mereka berjalan bersama menyusuri taman kota pada sore hari.

Sari akhirnya bercerita bahwa dia harus mengambil shift malam di tempat lain demi membiayai pengobatan ibunya di desa.

Kejujuran, kerja keras, dan kesederhanaan Sari membuat hati Hendra tersentuh.

Hendra mulai jatuh cinta pada satu-satunya wanita yang tidak pernah silau oleh kekayaan dan namanya.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Seorang wanita bernama Siska datang ke Warung Kopi Kita saat Hendra sedang menghadiri rapat di luar kota.

Siska adalah putri dari keluarga pengusaha properti terkenal yang sudah lama menjalin hubungan bisnis dengan keluarga Hendra.

Siska tampil dengan pakaian sangat mewah dan perhiasan berkilau.

Siska berdiri di depan meja kasir dan menatap Sari dengan pandangan merendahkan.

“Kamu harus tahu diri,” kata Siska tanpa basa-basi.

“Keluarga kami dan keluarga Hendra sudah menjalin hubungan puluhan tahun.”

“Kami diproyeksikan untuk menikah demi menyatukan bisnis besar.”

“Kamu hanya hiburan sementara untuk Hendra. Setelah dia bosan, dia akan kembali ke dunianya.”

Sari tidak menjawab.

Kata-kata Siska menusuk tepat di titik terlemah Sari.

Sari menyadari perbedaan status sosial mereka yang bak bumi dan langit.

Sejak hari itu, Sari mulai menghindari Hendra.

Sari selalu menolak saat diajak bicara dan sengaja bersembunyi di dapur setiap kali Hendra datang.

Hendra merasa ada yang tidak beres.

Hendra bertanya kepada pemilik warung kopi, Ibu Rosa.

Ibu Rosa akhirnya menceritakan kedatangan seorang wanita kaya yang mendatangi Sari beberapa hari lalu.

Hendra langsung tahu siapa wanita itu.

Hendra mengambil ponselnya dan menelepon Siska.

“Siska, kita harus bicara sekarang.”

Sore harinya, Hendra mendatangi rumah mewah keluarga Siska di kawasan Menteng.

Siska menyambut Hendra dengan senyuman manis dan sudah menyiapkan minuman mahal di meja.

“Aku tahu kamu pasti akan datang, Hendra,” kata Siska percaya diri.

Hendra berdiri kaku dan menolak untuk duduk.

“Kenapa kamu mendatangi Sari di tempat kerjanya?” tanya Hendra langsung.

Senyum Siska mendadak pudar.

“Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan.”

“Apa maksudmu?”

“Mencegahmu membuat kesalahan besar yang bisa memalukan nama baik keluargamu!” jawab Siska tajam.

Siska mulai berjalan mendekati Hendra.

Siska mengingatkan Hendra tentang hubungan bisnis kedua orang tua mereka, liburan masa kecil, dan rencana pernikahan yang sering dibicarakan keluarga besar.

“Semua orang tahu kita akan menikah. Orang tuamu menyetujuinya, orang tuaku juga!” seru Siska.

“Tapi aku tidak pernah menyetujuinya,” potong Hendra dingin.

“Jangan bodoh, Hendra! Pelayan kopi itu bukan dari kelas kita.”

Hendra mengepalkan tangannya.

“Dia punya nama. Namanya Sari.”

“Terserah! Berapa lama kamu pikir dia bisa bertahan di acara makan malam bersama para investor?” ejek Siska.

“Berapa lama kamu harus menjelaskan hal-hal dasar padanya? Sekarang dia terlihat menarik karena dia berbeda. Tapi 6 bulan lagi, dia hanya akan menjadi beban untuk kariermu!”

Hendra menatap Siska dengan pandangan penuh kekecewaan.

“Apakah itu yang kamu katakan padanya?”

“Aku mengatakan kebenaran!” bentak Siska.

“Kamu ingin menghancurkan semua yang dibangun keluarga kita hanya demi seorang pelayan yang menyeduhkan kopi untukmu?”

Hendra melangkah lebih dekat ke arah Siska.

“Aku tidak menghancurkan apa pun.”

“Aku hanya menentukan hidupku sendiri untuk pertama kalinya.”

Siska terpaku melihat ketegasan di mata Hendra.

“Aku tidak pernah melamarmu, Siska,” lanjut Hendra.

“Orang tua kita yang bermimpi tentang pernikahan itu, bukan aku.”

“Selama ini aku diam karena aku penakut. Tapi ketakutan itu berakhir hari ini.”

Siska menatap Hendra dengan amarah yang meluap-luap.

“Kamu melakukan ini demi wanita miskin itu?”

“Aku melakukan ini demi diriku sendiri. Dan karena dia, aku sadar betapa lamanya aku hidup dalam kebohongan.”

Hendra berbalik dan keluar dari rumah mewah itu tanpa menyentuh minuman sedikit pun.

Malam itu juga, Hendra mendatangi rumah ayahnya, Wijaya Perkasa.

Di ruang tamu yang megah, Hendra menyampaikan keputusannya bahwa tidak akan pernah ada pernikahan antara keluarga mereka dengan keluarga Siska.

Wijaya meletakkan cangkir tehnya dengan kasar.

“Kamu menolak kerja sama puluhan miliar hanya demi pelayan warung kopi?”

“Namanya Sari, Ayah.”

“Aku tidak peduli siapa namanya!” tegas Wijaya.

Hendra berdiri tegak.

“Aku bekerja keras selama 35 tahun untuk menjaga kehormatan nama keluarga ini!” bentak Wijaya.

“Kehormatan seperti apa yang Ayah maksud?” balas Hendra.

“Kemarin staf di hotel kita mencoba mengusir Sari hanya karena pakaiannya sederhana.”

“Siska mendatangi tempat kerjanya untuk memaki dan merendahkannya.”

“Apakah merendahkan orang lain adalah bentuk kehormatan keluarga kita?”

Wijaya bungkam, tidak mampu menjawab pertanyaan anaknya.

Hendra meninggalkan rumah ayahnya dan langsung mengendarai mobil menuju kontrakan Sari di daerah Palmerah.

Pukul 21:20 malam, Hendra menekan bel pintu kontrakan kecil itu.

Sari membuka pintu dan terkejut melihat Hendra berdiri di depannya dengan wajah lelah.

“Pak Hendra? Ada apa malam-malam ke sini?”

“Aku tahu apa yang dikatakan Siska padamu,” kata Hendra langsung.

Sari menundukkan kepala.

“Kalau begitu Bapak tahu bahwa apa yang dikatakan Mbak Siska itu benar. Kita berbeda.”

“Tidak,” tegas Hendra.

“Beri aku waktu 5 menit untuk bicara. Jika setelah itu kamu ingin aku pergi, aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi.”

Sari akhirnya mengizinkan Hendra masuk.

Kontrakan itu sangat kecil, ukurannya hanya sekitar 4×10 meter.

Hanya ada meja kayu sederhana, sebuah kipas angin, dan beberapa foto keluarga di dinding.

Namun Hendra merasa sangat tenang berada di sana.

Sari berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Mbak Siska bilang keluarga kalian sudah merencanakan pernikahan.”

“Keluarga kami yang menginginkannya, tapi aku tidak pernah mengiyakannya,” jawab Hendra.

Hendra menceritakan seluruh isi pembicaraannya dengan Siska dan ayahnya.

Hendra tidak menutup-nutupi apa pun.

“Kita memang berasal dari dunia yang berbeda,” aku Hendra jujur.

“Kamu harus memperhitungkan setiap rupiah sebelum akhir bulan. Aku tidak pernah mengalami kesulitan itu.”

“Sangat konyol jika aku berpura-pura bahwa perbedaan itu tidak ada.”

Sari menatap Hendra dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Kalau begitu Bapak paham kenapa saya takut.”

“Aku paham,” kata Hendra sambil melangkah mendekat.

“Tapi aku tidak paham kenapa perbedaan itu harus membuatmu merasa tidak layak.”

Sari tidak bisa menahan air matanya lagi.

“Karena Bapak tidak tahu rasanya masuk ke sebuah tempat dan semua orang menatap seolah-olah Bapak adalah sampah.”

“Saya mengalaminya di hotel Bapak. Dan Mbak Siska melakukan hal yang sama.”

Hendra merasa hatinya tertusuk mendengar ucapan Sari.

“Aku tidak bisa berjanji kamu tidak akan pernah bertemu orang seperti mereka lagi.”

“Lalu apa yang bisa Bapak janjikan?” tanya Sari lirik.

“Aku berjanji aku tidak akan pernah menjadi salah satu dari mereka.”

Suasana ruangan menjadi hening seketika.

“Aku tidak ingin mengubahmu agar cocok dengan duniaku,” lanjut Hendra lembut.

“Aku ingin tahu apakah kita bisa membangun dunia kita sendiri bersama-sama.”

Sari mengusap air matanya.

“Bagaimana kalau 1 tahun lagi Bapak sadar ini semua hanya emosi sesaat?”

“Maka aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membuktikan bahwa kamu salah,” jawab Hendra mantap.

Sari terkekeh kecil di antara tangisnya.

“Bapak benar-benar keras kepala.”

“Aku sudah terbiasa minum kopi pahit tanpa gula setiap pagi, jadi aku sudah terbiasa dengan penderitaan,” gurau Hendra.

Sari tertawa lepas.

Tembok pertahanan di hati Sari akhirnya runtuh.

Hendra mengulurkan tangannya.

“Aku juga takut, Sari.”

Sari menatap Hendra dengan bingung.

“Bapak takut apa?”

“Aku takut kamu memutuskan bahwa duniaku terlalu rumit untukmu.”

“Aku takut orang-orang seperti Siska berhasil menjauhkanmu dariku.”

“Aku takut kehilangan wanita paling jujur yang pernah kupertemukan.”

Sari menatap wajah Hendra dengan dalam.

“Apa yang sebenarnya Bapak rasakan pada saya?”

Hendra menarik napas panjang.

“Setiap pagi aku mencari alasan untuk datang ke warung kopi yang kopinya sebenarnya tidak terlalu enak.”

“Kalau Bu Rosa dengar, Bapak tidak boleh datang lagi ke warung,” potong Sari sambil tersenyum.

“Aku selalu menunggu kamu keluar dari dapur,” lanjut Hendra.

“Aku hafal jadwal shift kerjamu tanpa kusadari.”

“Dan saat kejadian di hotel itu, aku tidak marah karena reputasi hotelku rusak.”

“Aku marah karena mereka telah menyakiti hatimu.”

Sari tidak bisa berkata-kata lagi.

Hendra memegang kedua tangan Sari dengan lembut.

“Kamu bukan hiburan sementara untukku, Sari.”

Sari menyandarkan kepalanya di dada Hendra.

Malam itu, mereka tidak membuat janji-janji manis yang berlebihan.

Malam itu mereka berbicara jujur tentang perbedaan uang, keluarga, ketakutan, dan masa depan.

Saat Hendra hendak pulang pada tengah malam, Sari mengantarkannya sampai ke depan pintu.

Hendra berbalik badan.

Mereka saling menatap, dan Hendra mencium kening Sari dengan penuh rasa hormat.

Bulan-bulan berikutnya, Hendra tetap rutin datang ke Warung Kopi Kita.

Bedanya, sekarang Hendra tidak lagi bersembunyi.

Sari juga tidak langsung berhenti dari pekerjaannya.

Sari menolak untuk langsung bergantung pada kekayaan Hendra.

Saat Hendra mengetahui bahwa ibu Sari membutuhkan pemeriksaan spesialis jantung di Jakarta, Hendra berniat membiayai seluruh fasilitas medis terbaik.

Namun Sari menolak keras.

“Saya tidak ingin berutang hidup pada Bapak.”

“Aku tidak sedang membelimu, Sari,” kata Hendra.

“Saya tahu. Karena itu saya harus menjaga kemandirian saya.”

Akhirnya mereka mengambil jalan tengah.

Hendra membantunya mendapatkan antrean dokter spesialis terbaik di rumah sakit BUMN, sementara Sari tetap membayar biaya pengobatan sesuai kemampuan tabungannya.

Kesehatan ibu Sari membaik secara signifikan setelah mendapatkan perawatan yang tepat.

Di sisi lain, Hendra mulai melakukan perombakan besar-besaran di Hotel Grand Hyatt Jakarta.

Hendra memerintahkan revisi total terhadap standar operasional pelayanan tamu.

Seluruh staf wajib mengikuti pelatihan etika tanpa membeda-bedakan penampilan atau latar belakang tamu.

Rina Sandra yang kini bertugas di bagian gudang melihat perubahan tersebut dengan rasa menyesal.

Saat Sari datang ke hotel untuk menemui Hendra, Rina ketakutan Sari akan membalas dendam.

Namun Sari justru mendatangi Rina dan tersenyum ramah.

Hendra memang meminta Sari menjadi konsultan independen untuk program pelatihan pelayanan ramah sosial di hotelnya.

Sari menerima tawaran itu dengan 1 syarat tegas.

“Saya tidak mau posisi bohong-bohongan hanya karena saya kekasih pemilik hotel.”

Sari menghabiskan waktu bertahun-tahun mewawancarai karyawan tingkat bawah: petugas kebersihan, satpam, hingga juru masak.

Sari menemukan banyak fakta bahwa banyak tamu dan manajemen yang sering memperlakukan pekerja tingkat bawah secara tidak manusiawi.

Rina yang melihat kerja keras Sari akhirnya mendatangi Sari secara pribadi.

“Saya dulu memperlakukanmu dengan sangat buruk,” kata Rina dengan menunduk.

“Dan jika Pak Hendra tidak datang hari itu, saya pasti merasa tindakan saya sudah benar.”

Sari menatap Rina dengan tenang.

“Jadikan rasa malu itu sebagai pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik.”

Rina terharu dan berjanji akan berubah.

Perubahan standar pelayanan ini sempat ditolak oleh beberapa direktur senior.

Mereka menganggap Hendra terlalu sentimental.

Hendra menjawab kritikan itu dalam rapat pemegang saham dengan kalimat yang sangat tegas.

“Kemewahan yang dibangun dengan cara merendahkan orang lain bukanlah kemewahan, melainkan kesombongan yang dibungkus marmer.”

Bahkan Wijaya, ayah Hendra, perlahan-lahan mulai luluh.

Wijaya diam-diam datang ke Warung Kopi Kita pada suatu sore.

Wijaya duduk di pojok dan memesan kopi hitam.

Sari melayaninya dengan sopan tanpa menunjukkan rasa canggung.

“Anak saya selalu menceritakan tentang kamu,” kata Wijaya pelan.

“Semoga hal-hal baik yang Bapak dengar,” jawab Sari ramah.

Wijaya meletakkan cangkirnya.

“Selama puluhan tahun aku berpikir bahwa menjaga nama baik keluarga berarti memilih siapa yang pantas masuk ke dalamnya.”

Sari mendengarkan dengan tenang.

“Aku mungkin belum sepenuhnya setuju dengan semua keputusan Hendra,” lanjut Wijaya.

“Tapi aku harus mengakui bahwa kamu wanita yang luar biasa.”

Ucapan itu menjadi awal pengakuan keluarga Perkasa terhadap Sari.

1 tahun berlalu, lalu memasuki tahun ke-2.

Sari berhasil mendirikan divisi baru di grup hotel yang berfokus pada kesetaraan pelayanan dan kesejahteraan karyawan.

Sari membuktikan kapasitasnya tanpa menggunakan fasilitas mewah dari Hendra.

Suatu sore di musim hujan, Hendra meminta Sari datang ke Warung Kopi Kita setelah warung tutup.

Saat Sari datang, lampu warung tampak temaram.

Di dalam hanya ada Ibu Rosa dan ibu Sari yang sengaja dijemput dari kampung.

“Ada apa ini? Kenapa Ibu ada di sini?” tanya Sari kaget.

Hendra berdiri dari meja pojok nomor 4.

Meja tempat Hendra dulu meninggalkan dompetnya.

Hendra berjalan mendekati Sari.

“Di meja ini semua bermula karena aku cukup ceroboh meninggalkan dompet berisi 20.000.000 rupiah.”

Sari tersenyum kecil.

Hendra kemudian bertekuk lutut di hadapan Sari.

Ibu Rosa menutup mulutnya karena terkejut, sementara ibu Sari meneteskan air mata bahagia.

Hendra mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berisi cincin sederhana namun indah.

“Aku tidak ingin menawarkan kekayaanku padamu, karena sejak hari pertama kamu sudah membuktikan bahwa kamu tidak bisa dibeli dengan uang.”

“Aku ingin menawarkan masa depanku, hariku, masalahku, dan seluruh hidupku untukmu.”

“Sari Pertiwi, maukah kamu menikah denganku?”

Sari menahan napasnya.

“Saya punya syarat,” kata Sari.

“Syarat apa lagi?” tanya Hendra sambil tertawa kecil.

“Meja nomor 4 ini harus tetap menjadi tempat favorit kita.”

“Pasti.”

“Dan Bapak tidak boleh membeli warung kopi ini untuk diubah jadi kafe mewah.”

“Itu bisa didiskusikan,” goda Hendra.

“Pak Hendra!”

“Baik, aku janji tidak akan mengutak-atik warung ini,” jawab Hendra terkekeh.

Sari ikut berlutut dan memeluk Hendra dengan erat.

“Ya, saya mau.”

Beberapa bulan kemudian, pernikahan sederhana digelar di sebuah gedung serbaguna di Jakarta.

Sari menolak pesta mewah di ballroom hotel.

Hendra menolak daftar tamu pejabat yang disiapkan tim humasnya.

Yang hadir hanya orang-orang yang benar-benar ada dalam perjalanan hidup mereka.

Ibu Rosa, ibu Sari, para staf warung kopi, dan beberapa karyawan hotel.

Wijaya hadir dan memberikan pelukan hangat kepada Sari di depan semua undangan.

Hotel Grand Hyatt Jakarta tetap berdiri sebagai salah satu hotel paling megah di Indonesia.

Namun hotel itu kini dikenal bukan hanya karena kemewahannya, melainkan karena keramahan dan penghormatan setara kepada siapa saja yang melangkah melewati pintu utamanya.

Sari dan Hendra tetap rutin datang ke Warung Kopi Kita setiap minggu.

Dompet kulit cokelat tua itu kini disimpan rapi di dalam lemari kaca rumah mereka.

Bukan karena uang 20.000.000 rupiah yang pernah ada di dalamnya.

Melainkan sebagai pengingat akan hari di mana seorang wanita berpakaian sederhana dihina karena penampilannya, dan seorang pria kaya menyadari bahwa kejujuran adalah harta paling berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang.