PART 2
Keesokan paginya, Hendra tidak membahas tentang tangisan Dewi di taman.
Ia juga tidak menceritakan asal-usul surat itu.
Sebagai gantinya, Hendra memanggil beberapa pekerja dan memerintahkan mereka untuk memperbaiki rumah kaca tua di ujung perkebunan.
Bangunan beratap kaca itu sudah terbengkalai selama hampir 20 tahun.
Saat Dewi berjalan menuju area belakang dan melihat rumah kaca itu sudah dibersihkan, lengkap dengan meja semai baru dan saluran irigasi modern, ia tertegun.
“Siapa yang menyiapkan semua ini?” tanya Dewi pada Pak Maman.
Pak Maman tersenyum tipis.
“Mas Hendra sendiri yang minta dikerjakan dari subuh.”
Tindakan itu menjadi awal dari perubahan di antara mereka.
Hendra mulai membawa bibit tanaman langka setiap kali ia kembali dari perjalanan bisnis ke Luar Kota.
Sebagai balasannya, Dewi selalu menyisihkan buah jerat atau teh petikan pertama untuk meja kerja Hendra.
Dua orang yang sama-sama bersumpah untuk mematikan rasa, secara perlahan mulai saling mencari kehadiran satu sama lain.
Suatu sore, di dalam rumah kaca yang hangat, Hendra memberanikan diri menceritakan tentang almarhum istrinya.
Dewi mendengarkan dengan penuh empati, lalu menceritakan seluruh kebenaran tentang Rendy dan fitnah yang melahap reputasinya di Bogor.
Tiga minggu setelah percakapan itu, sebuah mobil sedan hitam mewah melintas di jalan berbatu menuju rumah utama perkebunan.
Pintu mobil terbuka dan seorang pria berjas rapi melangkah keluar.
Itu adalah Rendy.

“Dewi, ikut aku pulang sekarang,” ujar Rendy tanpa basa-basi saat melihat Dewi berjalan di dekat area parkir.
“Rumahku bukan lagi di tempatmu,” jawab Dewi dingin.
Ketika Rendy melangkah maju dan mencoba memegang lengan Dewi, sosok Hendra muncul dari balik lorong rumah utama.
Hendra berdiri di sebelah Dewi dengan postur tubuh yang tenang namun mengintimidasi.
“Wanita ini sudah minta kamu untuk pergi,” kata Hendra dengan suara rendah.
Rendy menatap Hendra dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu tertawa sinis.
“Oh, jadi ini penggantiku? Seorang petani di gunung?”
Dewi menatap Rendy lurus-lurus.
“Dia bukan penggantimu. Aku cuma sudah membebaskan diriku dari penipu seperti kamu.”
Rendy mengepalkan tangannya. Sebelum masuk kembali ke dalam mobil, ia menatap mereka berdua dengan tatapan penuh ancaman.
“Kalau kamu tidak mau ikut aku, kamu akan tahu seberapa mahal harga keputusanmu ini, Dewi.”
Empat hari setelah kejadian itu, Hendra menerima berkas penawaran dari sebuah konsorsium properti besar bernama Nusantara Land.
Mereka menawarkan angka fantastis senilai miliaran rupiah untuk membeli lahan seluas 5 hektar di area paling depan Perkebunan Giri Mulya.
Area tersebut mencakup rumah utama, taman bunga yang baru dipulihkan Dewi, dan deretan pohon teh tua yang ditanam oleh kakek Hendra.
Dokumen penawaran itu sangat mendetail, bahkan mencantumkan data keuangan internal perkebunan yang tidak pernah dipublikasikan.
“Lahan ini tidak dijual,” tegas Hendra saat dihubungi oleh perwakilan Nusantara Land melalui telepon.
Pihak pengembang mengira Hendra hanya jual mahal dan menaikkan nilai penawaran hingga dua kali lipat.
Hendra tetap menolak.
Tak lama kemudian, masalah mulai berdatangan.
Dinas Lingkungan Hidup setempat mendadak menerima laporan anonim terkait izin penggunaan air tanah di perkebunan Hendra.
Selain itu, beberapa Bank mitra perkebunan mulai mempertanyakan ulang pinjaman lama yang sebenarnya sudah lunas 2 tahun lalu.
Hendra memanggil pengacaranya, Intan Pertiwi, untuk memeriksa seluruh berkas.
Intan membuka beberapa dokumen di meja kerja Hendra.
“Seseorang memberikan informasi rahasia kepada Nusantara Land,” kata Intan.
“Mereka tahu titik mana yang paling rentan untuk menekanmu secara hukum dan finansial.”
Dewi yang duduk di ruang kerja itu mendadak berubah pucat.
Ia tahu betul bahwa Rendy bekerja sebagai konsultan senior di perusahaan penilai aset properti yang memiliki akses ke data registrasi tanah regional.
“Semua kekacauan ini terjadi karena aku,” kata Dewi dengan suara gemetar.
Hendra langsung menutup map di mejanya dengan suara keras.
“Jangan pernah bicara seperti itu.”
“Tapi kalau Rendy tidak datang ke sini—”
“Kalau kamu tidak datang ke sini, tempat ini masih seperti kuburan,” potong Hendra tegas.
Dewi menatap Hendra.
Hendra menarik napas panjang, meredakan nada suaranya.
“Kebun ini akan tetap mati. Saya akan terus bekerja 15 jam sehari cuma buat melarikan diri dari kenyataan. Rendy bertanggung jawab atas kejahatannya sendiri. Kamu tidak bersalah.”
Malamnya, Dewi berjalan ke taman bunga dan duduk di bangku batu tempat ia pernah menangis.
Hendra menyusul dari balik jalan setapak.
“Boleh saya duduk?”
Dewi mengangguk dan memberi ruang.
Mereka berdua menatap kerlap-kerlip lampu kota Bandung dari kejauhan.
“Saya takut,” aku Dewi jujur.
“Setiap kali saya merasa sudah melangkah maju, bayang-bayang masa lalu itu selalu datang untuk menghancurkan segalanya.”
“Masa lalu hanya punya kekuatan kalau kamu memberinya ruang,” sahut Hendra.
Dewi tersenyum tipis.
“Kamu bicara seolah kamu sudah berhasil melewatinya.”
“Saya juga masih belajar,” kata Hendra pelan.
Lalu Hendra menatap Dewi.
“Malam saat kamu menangis memegang surat itu… saya sebenarnya ada di sana.”
Dewi terkejut dan menoleh cepat.
“Kamu dengar semuanya?”
“Saya dengar saat kamu bilang kamu ingin ada orang yang melihatmu tanpa rasa kasihan.”
Wajah Dewi memerah karena malu.
“Kamu pasti mikir saya wanita yang menyedihkan.”
“Sama sekali tidak,” potong Hendra lembut.
“Saya melihat wanita yang bekerja keras setiap hari tanpa mengeluh, padahal dia membawa beban yang sangat berat di dalamnya. Itu membuat saya sadar betapa egoisnya saya selama 4 tahun ini. Saya pikir cuma saya yang menderita di dunia ini karena kehilangan Maya.”
Air mata menetes di pipi Dewi.
“Jadi… itu sebabnya kamu memperbaiki rumah kaca?”
Hendra mengangguk pelan.
“Dan bibit-bibit bunga itu?”
“Iya.”
“Dan pertanyaan-pertanyaan aneh soal jenis tanaman yang sebenarnya kamu sudah tahu jawabannya?”
Hendra tertawa kecil.
“Yang itu… anggap saja saya cuma cari alasan untuk bicara denganmu.”
Dewi tertawa pelan di tengah derai air matanya.
Hendra mengangkat tangannya perlahan, memberi jeda agar Dewi tidak terkejut, lalu mengusap air mata di pipi wanita itu.
“Dewi, saat saya melihatmu, saya tidak melihat wanita yang dibuang oleh Rendy. Saya melihat wanita yang menghidupkan kembali tempat yang mati ini. Dan itu membuat saya sadar… hati saya mulai hidup kembali.”
Dewi memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan sentuhan Hendra.
“Saya juga takut, Hendra.”
“Kalau begitu, kita jalani pelan-pelan,” bisik Hendra.
Malam itu, di bawah naungan bunga melati yang mekar, Hendra mendekatkan wajahnya dan mencium Dewi dengan lembut.
Pernikahan masa lalu dan luka lama tidak langsung hilang begitu saja, tetapi malam itu, arah masa depan mereka telah berubah.
Dua minggu kemudian, Intan menemukan bukti penting.
Seorang staf administrasi di kantor pertanahan daerah secara tidak sengaja mengirimkan salinan email internal ke alamat kantor pengacara Intan.
Di dalam utas email tersebut, tercantum nama Rendy Pratama sebagai pihak ketiga yang menerima komisi sukses dari Nusantara Land jika berhasil membalikkan kepemilikan lahan Perkebunan Giri Mulya.
Bukti itu menunjukkan adanya iktikad tidak baik dan persaingan bisnis yang melanggar hukum.
Dewi membaca cetakan email itu sebanyak 3 kali.
Tanpa ragu, ia mengambil kunci mobil.
“Kamu mau ke mana?” tanya Hendra yang melihatnya di lorong.
“Saya mau menyelesaikan ini.”
“Saya ikut.”
“Tidak,” tahan Dewi.
“Selama ini Rendy selalu mengatur narasi tentang hidup saya. Saat dia berselingkuh, dia buat orang-orang berpikir saya yang gila. Sekarang dia mencoba melakukan hal yang sama pada tempat ini. Saya harus menutup pintu ini sendiri.”
Hendra melihat keberanian di mata Dewi dan akhirnya mengangguk.
“Telepon saya kalau ada apa-apa.”
Dewi menemui Rendy di sebuah kafe di pusat kota Bandung.
Rendy sedang duduk bersama seorang pria berjas yang merupakan direktur operasional Nusantara Land.
Saat melihat Dewi berjalan mendekat, Rendy tersenyum jumawa.
“Aku tahu kamu akhirnya akan sadar dan datang padaku, Dewi.”
Dewi tidak duduk. Ia melesakkan salinan email bisnis itu di atas meja.
Senyum di wajah Rendy langsung padam.
“Dari mana kamu dapat ini?” tanya Rendy dengan suara memelan.
Pria di sebelahnya membaca sekilas kertas tersebut, lalu berdiri dengan wajah tegang, mengemas berkasnya, dan meninggalkan kafe tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Kamu mencoba menghancurkan usaha orang lain cuma karena kamu tidak terima aku bahagia?” kata Dewi dengan nada tenang namun tajam.
“Aku cuma melakukan bisnis, Dewi!” kilah Rendy.
“Bisnis?” Dewi tersenyum sinis.
“Kamu memanfaatkan data rahasia untuk memeras orang lain. Kamu tidak berubah, Rendy. Kamu selalu menggunakan cara kotor saat kamu tidak bisa mengendalikan orang lain.”
Rendy mengepalkan tangan di atas meja.
“Kamu membuang semua masa depan kita cuma demi petani tua itu?”
“Masa depan kita sudah kamu hancurkan sendiri saat kamu memilih berbohong selama bertahun-tahun,” jawab Dewi tegas.
“Dulu aku pikir kabur ke Lembang adalah bentuk ketakutanku. Tapi berdiri di sini sekarang membuat aku sadar… aku meninggalkanmu bukan karena aku takut, tapi karena aku berhak dapat hidup yang lebih baik.”
Dewi berbalik dan berjalan keluar dari kafe tanpa berpaling sedikit pun.
Satu minggu kemudian, diadakan rapat dengar pendapat umum di kantor kecamatan terkait rencana ekspansi kawasan industri dan pariwisata Nusantara Land.
Rapat itu dihadiri oleh belasan pemilik lahan lokal, tokoh masyarakat, dan perwakilan pemerintah daerah.
Hendra hadir bersama Intan dan beberapa petani senior dari desa sekitar.
Intan memaparkan seluruh dokumen legalitas Perkebunan Giri Mulya yang sah sejak tahun 1985, bukti kelestarian lingkungan, serta indikasi manipulasi data yang dilakukan oleh oknum konsorsium.
Setelah pengacaranya selesai, Hendra berdiri untuk berbicara.
Ia tidak membawa teks pidato.
“Awalnya, saat tawaran harga tinggi itu datang, saya cuma berniat menolak karena ini tanah warisan,” kata Hendra di hadapan forum.
Ia menatap ke arah Dewi yang duduk di jajaran kursi belakang.
“Tapi tempat ini bukan cuma soal tanah dan tanaman. Tempat ini adalah tentang kehidupan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Tempat ini mengajarkan saya bahwa merawat apa yang kita miliki berarti memberinya kesempatan untuk terus hidup, bukan menjualnya saat ada tekanan.”
Hendra kembali menatap para pemilik lahan lainnya.
“Tidak ada seorang pun di antara kita yang boleh dipaksa menyerahkan tanahnya hanya karena ancaman atau rekayasa hukum.”
Pernyataan Hendra mendapat dukungan penuh dari para petani lokal yang juga merasa terancam oleh ekspansi agresif Nusantara Land.
Dengan adanya bukti manipulasi dokumen yang ditunjukkan Intan serta penolakan masif dari warga desa, pemerintah daerah memutuskan untuk membekukan izin analisis dampak lingkungan bagi proyek Nusantara Land di area tersebut.
Rendy tidak bisa lagi melanjutkan aksinya.
Perusahaan konsorsium memutus kontrak kerjanya karena kegagalan proyek dan keterlibatannya dalam skandal dokumen rahasia.
Satu bulan kemudian, Dewi menerima sebuah pesan singkat di ponselnya dari nomor Rendy:
“Aku rasa kamu yang menang.”
Dewi membaca pesan itu, menyapu layar untuk menghapusnya, lalu kembali memotong dahan kering di kebun teh.
Ia paham betul, ini bukan soal menang atau kalah dari Rendy.
Ini tentang berhenti menjadikan masa lalu sebagai pusat dari kehidupannya.
Musim semi berikutnya, Perkebunan Teh Giri Mulya tampak begitu indah.
Bunga-bunga yang ditanam Dewi mekar sempurna di sepanjang jalan masuk utama.
Ayah Dewi, Pak Surya, yang kini menggunakan kursi roda karena usia lanjut, datang berkunjung untuk pertama kalinya dari Bogor.
Saat melihat rumah kaca yang dipenuhi berbagai jenis tanaman hias dan bibit teh unggulan, Pak Surya tersenyum haru.
“Kamu bisa membuka usaha pembibitan yang besar di sini, Dewi,” kata ayahnya pelan.
Hendra yang berdiri di samping kursi roda Pak Surya langsung menanggapi dengan senyuman.
“Lahannya sudah siap, Pak.”
Dewi melirik Hendra. “Sudah siap?”
“Secara teknis, saya punya lahannya dan Kamu punya seluruh keahliannya,” jawab Hendra santai.
Pak Surya terkekeh.
“Begitulah biasanya bisnis keluarga yang sukses dimulai.”
Candaan itu menjadi kenyataan.
Dewi resmi membuka studio lanskap dan pembibitan tanaman hias di dalam kawasan perkebunan.
Ia menerima pesanan dari berbagai resort, vila, dan restoran di wilayah Jawa Barat.
Hendra pun kembali aktif.
Ia kembali menghadiri asosiasi petani teh, membangun jaringan distribusi baru, dan menikmati hobinya menunggang kuda mengelilingi perkebunan.
Hendra tidak pernah berusaha menghapus kenangan tentang almarhum istrinya.
Dan Dewi tidak pernah memintanya melakukan hal itu.
Satu tahun setelah malam ketika Hendra menemukan Dewi menangis, Hendra mengajak Dewi berjalan menuju bangku batu di bawah pohon pelindung.
Malam itu, lentera-lentera kecil terpasang rapi di sepanjang jalan setapak.
“Hendra, kalau kamu menyiapkan acara drama seperti ini, aku bakal mengejekmu selama bertahun-tahun,” gurau Dewi.
“Baguslah, itu artinya kamu bakal ada di sini untuk waktu yang lama,” balas Hendra sambil tersenyum.
Mereka sampai di bangku batu.
Hendra melepas topinya dan meletakkannya di bangku, lalu menatap Dewi dengan lekat.
“Di tempat ini, saya mendengar kamu bilang kamu ingin dilihat tanpa rasa kasihan.”
Dewi terdiam, mendengarkan dengan dada berdebar.
“Dan di tempat ini juga, kamu mengajari saya untuk melihat ke depan tanpa rasa bersalah atas masa lalu.”
Hendra mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaketnya.
Dewi menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Saya tidak berjanji untuk menjadi penyelamatmu, Dewi. Kamu wanita yang kuat. Saya cuma ingin kita terus berjalan bersama, saling menggenggam sambil menerima luka kita masing-masing.”
Hendra berlutut di satu kaki dan membuka kotak tersebut.
Di dalamnya tersemat sebuah cincin perak sederhana dengan ukiran ranting daun yang halus.
“Dewi Lestari, maukah kamu menikah denganku?”
Air mata Dewi menetes, namun kali ini wajahnya dipenuhi dengan senyuman bahagia.
“Ya, saya mau.”
Tiga bulan kemudian, pernikahan mereka digelar secara hangat di area perkebunan.
Tidak ada gedung mewah atau ribuan tamu asing.
Hanya ada meja-meja panjang yang ditata di bawah pepohonan, hidangan lokal yang lezat, alunan musik sunda yang lembut, serta dihadiri oleh keluarga, pekerja perkebunan, dan warga sekitar.
Pak Surya menyerahkan putri tunggalnya kepada Hendra.
Sebelum melepaskan genggaman tangannya, Pak Surya menatap Hendra dengan mata berkaca-kaca.
“Waktu Dewi kecil, saya mengajarkan padanya bahwa tanaman yang layu tidak boleh langsung dibuang. Kita harus periksa roots dan akarnya dulu.”
Lalu Pak Surya menatap Dewi.
“Ternyata putriku berhasil membuktikannya sendiri.”
Hendra menggenggam tangan Dewi dengan erat.
Pak Maman dan para pekerja perkebunan bertepuk tangan meriah saat kedua mempelai saling melempar senyum.
Tahun demi tahun berlalu, bangku batu di sudut perkebunan itu tetap berdiri di tempatnya.
Pada malam-malam yang tenang setelah pekerjaan usai, Hendra dan Dewi sering duduk di sana bersama.
Mereka berbincang tentang hal-hal biasa, tentang panen teh, tagihan bulanan, klien baru, atau rencana menambah jenis bunga di rumah kaca.
Dewi sering memperhatikan pemandangan perkebunan yang hijau dan asri di hadapannya.
Ia teringat pada dirinya yang dulu, seorang wanita yang pernah merasa hidupnya hancur hanya karena pengkhianatan seseorang.
Kini ia tahu, luka tidak hilang dengan cara melupakan.
Luka sembuh ketika kita berhenti menjadikan rasa sakit itu sebagai pusat dari identitas kita.
Hendra pun menemukan kedamaian yang sama.
Kenangan tentang Maya tetap ada, bersanding harmonis dengan cintanya untuk Dewi.
Bunga-bunga lama yang pernah ditanam di masa lalu tumbuh berdampingan dengan tanaman-tanaman baru yang dirawat oleh Dewi.
Tidak ada yang perlu dihancurkan agar kehidupan baru bisa tumbuh.
Dan setiap kali ada pengunjung yang datang ke studio lanskap milik Dewi dan bertanya bagaimana cara menyelamatkan taman yang sudah terlanjur rusak, Dewi selalu tersenyum dan memberikan nasihat yang sama:
“Jangan pernah menilai sebuah tanaman sudah mati hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Lihatlah akarnya terlebih dahulu. Selama akarnya masih ada, kehidupan selalu punya cara untuk tumbuh kembali.”
