PART 2
Wanita di dalam foto itu bernama Clara.
Clara adalah seorang arsitek berbakat, mantan istri Alvaro, dan perancang beberapa gedung megah yang terlihat dari jendela lantai 39.
Clara meninggal 2 tahun lalu akibat kecelakaan.
Sejak hari itu, Alvaro membangun dinding pembatas yang dingin di sekeliling hidupnya.
Ines tidak pernah bertanya lebih jauh tentang Clara.
Sikap Ines yang menjaga batas justru membuat pertahanan Alvaro perlahan luluh.
Minggu kelima berlalu.
Masuk minggu keenam.
Makan siang pekerjaan tidak lagi diisi instruksi kaku, melainkan diskusi profesional.
Alvaro mulai mendengarkan masukan Ines.
Ines menyadari di balik wajah dingin itu, ada pria kesepian yang tidak tahu cara bangkit dari rasa kehilangan.
Suatu sore, ponsel Ines berdering.

Pihak rumah sakit mengabarkan kondisi Marta memburuk dan harus segera masuk ruang perawatan intensif.
Tangan Ines gemetaran saat mengetik laporan di komputernya.
Alvaro menyadari perubahan sikap asistennya.
“Ada apa, Ines?”
“Adik saya masuk rumah sakit. Tapi laporan ini tinggal 2 halaman lagi.”
Alvaro berdiri dan mengambil map dari tangan Ines.
“Laporan ini bisa menunggu. Adikmu tidak. Pakai mobil dan sopir saya sekarang.”
Malam harinya, sebuah pesan masuk ke ponsel Ines dari nomor Alvaro.
“Bagaimana keadaan adikmu?”
Dua hari kemudian, Ines kembali ke kantor.
Ia tertegun melihat bingkai foto Clara kini sudah berdiri tegak menghadap ke depan.
Di sebelah foto itu ada secarik kertas kecil tulisan tangan Alvaro.
“Namanya Clara. Terima kasih sudah memaksa saya untuk tidak terus bersembunyi.”
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Siang harinya, Ines menerima salinan surel dari sekretariat dewan komisaris.
Javier Salcedo mengajukan permohonan investigasi resmi terhadap Alvaro dan Ines.
Tuduhannya sangat berat: pelanggaran prosedur perekrutan, konflik kepentingan, dan dugaan hubungan tidak profesional antara CEO dan asistennya.
Rapat dewan akan digelar hari Selasa minggu depan.
Semua pemegang saham utama masuk dalam daftar penerima surat tersebut.
Hari Senin sebelum rapat, Alvaro kembali menjadi sosok yang asing.
Pintu kantornya tertutup rapat sepanjang hari.
Ia makan siang sendiri di dalam ruangan.
Ia melemparkan 3 map berkas ke meja Ines tanpa memandang wajahnya.
Bahkan ia mengkritik format surat yang biasanya selalu ia setujui.
Ines menahan diri hingga pukul 18:40.
Ines berjalan masuk, menutup pintu kayu tebal itu, dan meletakkan laporan di meja Alvaro.
“Apa yang dikatakan Salcedo kepada Anda?”
“Ini bukan urusanmu, Ines.”
“Ini menjadi urusan saya sejak nama saya diseret ke hadapan dewan komisaris.”
Alvaro mengepalkan tangannya di atas meja.
“Saya sedang berusaha melindungimu dari masalah ini.”
“Tidak. Anda sedang melarikan diri.”
Kata-kata Ines menghentikan gerakan Alvaro.
Pria itu berdiri dan berjalan mendekati jendela besar.
Lampu-lampu kota Jakarta mulai menyala di bawah sana.
“Salcedo mengklaim saya mempekerjakanmu karena alasan pribadi. Dia bilang kamu tidak punya ijazah sarjana yang sesuai.”
“Dia menuduh pertimbangan profesional saya rusak sejak Clara meninggal, dan saya hanya memanfaatkanmu untuk mengisi kekosongan itu.”
Ines berdiri tetap tegak.
“Lalu apa pendapat Anda sendiri?”
Alvaro diam cukup lama sebelum bersuara.
“Saya sempat berpikir bahwa membuka hati untuk orang lain adalah bentuk pengkhianatan pada masa lalu saya.”
Ines melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak profesional.
“Mengingat Clara tidak akan terhapus hanya karena Anda memilih untuk tetap hidup. Dan saya di sini bukan untuk menggantikan siapa pun.”
“Tapi membiarkan Salcedo menghancurkan reputasi kita demi rasa bersalah Anda, itulah kesalahan sesungguhnya.”
“Jika masalah ini berlanjut, mereka akan menjatuhkanmu,” bisik Alvaro.
“Kalau begitu biarkan mereka memeriksa seluruh hasil kerja saya. Setiap angka, setiap laporan, setiap analisis. Jangan singkirkan saya hanya agar Anda merasa aman.”
Malam itu tidak ada kata-kata manis.
Hanya ada kejujuran yang jujur dan tegas.
Saat pulang ke rumah, Ines menemukan Marta duduk di sofa dengan surat panggilan dari pengadilan.
Ayah mereka menuntut agar rumah mereka segera dilelang untuk membagi harta.
“Kalau rumah ini dijual, kita harus tinggal di mana, Kak?” suara Marta terdengar cemas.
Ines membaca surat itu dua kali.
Beban hidup terasa menumpuk di pundaknya pada saat yang bersamaan: rumah sakit, sidang dewan, ancaman kehilangan pekerjaan, dan perasaan rumit terhadap atasan kerjanya.
Marta memperhatikan wajah kakaknya.
“Ini bukan cuma soal rumah, kan? Ini soal bos Kakak?”
Ines menghela napas panjang.
“Ibu pernah bilang,” kata Marta pelan, “merawat orang lain bukan berarti Kakak harus menghilang dan mengorbankan diri sendiri.”
“Kalau pria itu memang pantas dipertahankan, besok dia akan membiarkan Kakak berjuang bersama. Bukan menyuruh Kakak bersembunyi.”
Hari Selasa pukul 08:30, di luar ruang rapat dewan, Alvaro meminta Ines untuk menunggu di luar.
Ines menatap mata pria itu tajam.
“Kita sudah sepakat tidak akan bersembunyi.”
Alvaro menghela napas, lalu sedikit tersenyum.
Ia membuka map tebal di tangannya.
“Semalam saya memeriksa seluruh laporan keuangan yang dibuat Salcedo selama 14 bulan terakhir.”
“Ada pola penyimpangan yang sangat rapi. Ini bukan sekadar kesalahan input, tapi manipulasi angka untuk menutupi kerugian investasi.”
Ines melihat lembaran data tersebut.
“Jadi kita tidak datang untuk membicarakan masalah pribadi?”
“Kita datang membawa bukti kerja.”
“Dan ada satu hal lagi,” lanjut Alvaro. “Jika dewan bertanya apakah kamu berarti bagi saya, saya tidak akan berbohong.”
“Anda tidak perlu mengubah rapat direksi menjadi tempat deklarasi perasaan.”
“Saya tahu. Tapi saya juga tidak akan membiarkan mereka menyebut rasa hormat dan kepedulian sebagai bentuk korupsi.”
Keduanya melangkah masuk ke ruang rapat utama lantai 39.
Meja kayu oval panjang dikelilingi oleh belasan jajaran komisaris dan pemegang saham utama.
Ines mengenakan pakaian formal sederhana, membawa map hitam di tangannya.
Javier Salcedo duduk di ujung meja dengan senyum penuh kemenangan.
Salcedo membuka pembicaraan dengan menyoroti latar belakang pendidikan Ines yang tidak selesai.
Ia mempertanyakan proses rekrutmen tanpa jalur HRD resmi.
Ia secara terselubung mengisyaratkan bahwa keakraban Ines dan Alvaro membuat dokumen rahasia perusahaan bocor ke tangan orang tidak berkualifikasi.
“Saya tidak sedang menuduh,” ujar Salcedo dengan nada sopan yang dibuat-buat. “Saya hanya ingin menjaga integritas dan kebaikan grup kita.”
Ines melangkah ke depan layar proyektor.
“Kalau begitu mari kita bicara soal integritas berdasarkan data mutlak.”
Ines membuka dokumennya.
Ia tidak menceritakan kesulitan hidupnya, tidak menyebutkan adiknya yang sakit, dan tidak meminta belas kasihan.
Ia memaparkan bagaimana ia menemukan kesalahan kalkulasi proyek properti di kawasan BSD yang nyaris merugikan perusahaan sebesar Rp12 miliar.
Ia menunjukkan klausa ganda pada kontrak vendor yang berhasil dibatalkan berkat ketelitiannya.
Lalu Ines menampilkan tabel perbandingan di layar besar.
“Ini adalah proyeksi pendapatan yang disusun oleh tim Bapak Salcedo selama 14 bulan. Dan ini adalah realisasi kas sebenarnya.”
Senyum Salcedo langsung menghilang.
“Ini di luar konteks rapat!” potong Salcedo keras.
“Ini sangat relevan,” balas Ines tenang. “Bapak mempertanyakan alasan keberadaan saya di kantor ini. Data ini menjelaskan mengapa analisis saya dibutuhkan oleh CEO untuk mengoreksi kesalahan sistematis di departemen Anda.”
Komisaris utama memajukan tubuhnya, mempelajari angka-angka di layar.
Salcedo mencoba memotong pembicaraan lagi, namun ketua komisaris mengangkat tangan menyuruhnya diam.
Alvaro kemudian berdiri dari kursinya.
“Saya ingin menambahkan satu hal secara terbuka. Ines Romero memang memiliki arti penting bagi saya secara pribadi.”
Ruangan menjadi riuh rendah.
“Namun hal itu tidak mengurangi keabsahan hasil kerjanya,” lanjut Alvaro dengan tegas.
“Selama dua tahun saya dikelilingi orang-orang yang hanya mengiyakan perintah saya. Ines adalah satu-satunya orang yang berani mengoreksi kesalahan saya sejak hari pertama.”
“Jika dewan menilai ada potensi konflik kepentingan, saya mengusulkan agar Ines dipindahkan ke divisi perencanaan strategi independen, lepas dari pengawasan langsung saya.”
“Tapi saya tidak akan membiarkan seorang pekerja profesional dipecat hanya karena tuduhan tanpa dasar yang dipakai untuk menutupi kebobrokan manajemen keuangan.”
Pernyataan itu mengubah seluruh arah rapat.
Alvaro tidak berakting sebagai pelindung yang emosional, melainkan sebagai pimpinan yang berani bertanggung jawab dan berpijak pada fakta.
Ketua dewan komisaris segera memerintahkan audit independen terhadap seluruh divisi keuangan yang dipimpin Salcedo.
Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan tim audit mengonfirmasi temuan tersebut.
Salcedo terbukti merekayasa laporan berkala untuk menyembunyikan kegagalan investasi pribadi menggunakan dana operasional.
Tidak ada kekacauan publik.
Salcedo diberhentikan secara tidak hormat dan diwajibkan mengembalikan seluruh kerugian perusahaan.
Dewan komisaris menyetujui kepindahan Ines ke divisi Analis Strategi Perusahaan di bawah supervisi komisaris independen.
Gajinya dinaikkan sesuai kualifikasi perannya.
Sejak hari itu, secara struktur organisasi, Ines tidak lagi menjadi bawahan Alvaro.
Saat menerima surat keputusan resmi, Ines berjalan ke kamar mandi dan menenangkan diri selama beberapa menit.
Bukan karena takut pada Salcedo atau Alvaro.
Tapi karena untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, Ines merasa hidupnya tidak lagi dikejar oleh ketakutan akan masa depan.
Sore harinya, Alvaro berdiri di dekat jendela kantornya saat Ines masuk untuk mengambil sisisa barang pribadinya.
“Sekarang saya bukan atasanmu lagi,” kata Alvaro.
“Iya, Pak Valcarcel.”
“Dan saya punya firasat kamu akan tetap sering membantah pendapat saya dalam rapat strategi.”
Ines tersenyum tipis. “Itu tidak tertulis di deskripsi pekerjaan baru saya.”
Alvaro tertawa kecil.
Wajahnya tampak jauh lebih muda saat tersenyum lepas.
“Soal masalah rumah ayahmu,” kata Alvaro kemudian. “Tim hukum perusahaan bisa membantumu menyelesaikan mediasi secara legal.”
Ines menggelengkan kepala dengan sopan.
“Saya sudah menunjuk pengacara bantuan hukum. Saya bisa menyelesaikannya sendiri.”
Alvaro mengangguk paham.
“Baik. Saya hargai keputusanmu.”
“Tapi jika kamu butuh seseorang untuk mendengarkan, saya ada di sini.”
Hubungan mereka berkembang tanpa tergesa-gesa.
Beberapa minggu kemudian, setelah posisi baru Ines stabil, mereka jalan bersama di luar jam kerja.
Tanpa mobil mewah, tanpa pengawal, dan tanpa pakaian formal kantor.
Mereka menikmati malam di sepanjang taman kota.
Alvaro menceritakan kenangannya tentang Clara tanpa rasa bersalah lagi.
Ines menceritakan perjuangannya membesarkan Marta dan ketakutannya untuk memiliki impian sendiri.
“Saya tidak ingin menjadi beban baru dalam hidupmu,” kata Alvaro.
“Kalau begitu jangan jadi beban.”
“Lalu kamu ingin saya jadi apa?” tanya Alvaro sambil menatapnya.
Ines menatap kembali mata pria itu.
“Menjadi seseorang yang tetap ada, bahkan ketika situasi sedang tidak mudah.”
Alvaro tersenyum hangat.
“Saya bisa melakukan itu.”
Bulan-bulan berikutnya membawa banyak perubahan positif.
Pengobatan Marta menunjukkan kemajuan pesat.
Sengketa rumah berhasil diselesaikan melalui mediasi hukum dengan pembagian hak yang adil tanpa harus kehilangan tempat tinggal.
Marta akhirnya bertemu langsung dengan Alvaro di rumah mereka.
Gadis muda itu memperhatikan Alvaro selama beberapa menit sebelum bertanya, “Apa Anda masih sering memecat orang tanpa alasan?”
“Tidak lagi,” jawab Alvaro jujur.
“Bagus. Kalau begitu Anda boleh ikut makan malam bersama kami.”
Hampir satu tahun sejak hari pertama Ines melangkah ke lantai 39, suatu malam mereka bertahan di kantor hingga larut untuk menyelesaikan proyek besar.
Pemandangan kota Jakarta membentang indah di balik jendela kaca.
Dua cangkir kopi terletak di atas meja.
Alvaro mengambil sebuah kotak kecil dari dalam saku jasnya.
“Hari pertama kamu bekerja, kamu bertanya kenapa tidak ada orang yang mau bertahan di samping saya,” kata Alvaro pelan.
“Butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari jawabannya. Dulu saya selalu mendorong orang lain pergi sebelum mereka sempat meninggalkan saya.”
Ia membuka kotak tersebut.
“Kamu tidak menyelamatkan hidup saya, Ines. Tapi kamu memaksa saya untuk berhenti bersembunyi dari kenyataan.”
“Saya tidak ingin kamu berubah demi saya. Saya hanya ingin bertanya, apakah kamu bersedia terus berjalan bersama saya sampai kita tua nanti?”
Ines menatap bingkai foto Clara yang kini tertata rapi di ruangan itu, lalu beralih menatap pria di hadapannya.
Ia mengingat semua perjuangan, rasa takut, dan malam-malam panjang yang telah ia lalui.
“Ada satu syarat,” kata Ines.
Alvaro menahan napas. “Apa syaratnya?”
“Setiap kali Anda salah, Anda harus mengakuinya tanpa berdebat.”
Alvaro tertawa pelan. “Itu negosiasi yang berat.”
“Itu kesepakatan kita.”
“Baik, saya terima.”
Ines tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Ya, saya mau.”
Alvaro memeluknya dengan erat.
Di luar jendela, kota terus sibuk dengan kehidupannya sendiri.
Namun di dalam ruangan itu, dua orang yang sama-sama pernah terluka telah menemukan arah baru.
Ines tidak datang untuk menggantikan masa lalu Alvaro.
Alvaro tidak datang hanya untuk menjadi pahlawan bagi Ines.
Mereka bertemu saat keduanya lelah hanya untuk sekadar bertahan hidup, dan memilih untuk saling menguatkan.
Saat Ines menatap pemandangan kota dari lantai 39, ia tidak lagi bertanya-tanya berapa lama ia akan bertahan.
Ia tahu jawabannya.
Ia bertahan karena ia menginginkannya.
