
BAGIAN 1
“Maya, hampers Lebaran tahun ini kok belum sampai? Fikri sudah beberapa kali tanya.”
Aku berhenti memotong lakban kardus kiriman dari Ibu.
Di dalamnya ada abon, keripik tempe, emping, dan dua bungkus rengginang kesukaan suamiku.
Aku melihat tanggal di layar ponsel.
Dua puluh dua Ramadan.
“Tante telepon cuma mau tanya hampers?”
Di seberang sana, Tante Sari terdiam sebentar.
“Ya sekalian tanya kabar. Tapi paketnya memang belum datang, kan?”
Aku duduk di lantai dapur.
“Bukan belum datang, Tante.”
“Terus?”
“Tahun ini aku tidak kirim.”
Suara televisi dari rumah Tante mendadak terdengar lebih jelas.
“Apa?”
“Aku tidak kirim hampers.”
“Kenapa?”
Aku menarik napas.
Selama sembilan tahun, pertanyaan itu tidak pernah keluar.
Saat paket datang, Tante tidak pernah bertanya berapa lama aku memilih isinya.
Tidak pernah bertanya apakah aku sedang sibuk.
Tidak pernah bertanya apakah aku sedang punya pengeluaran lain.
Namun saat paket tidak datang, ia langsung menelepon.
“Tahun ini aku memang tidak menyiapkannya.”
Nada suaranya berubah.
“Maya, jangan aneh-aneh. Itu sudah jadi kebiasaan keluarga.”
Aku hampir tertawa.
Kebiasaan keluarga.
Tahun pertama aku mengirim kue, abon, kopi, dan makanan ringan.
Tidak ada telepon.
Saat Lebaran, aku justru mendengar Tante berkata kepada Ayah bahwa abonnya terlalu manis.
Tahun kedua aku mengganti merek.
Fikri berkata,
“Kak, kopi yang kemarin enak. Tahun depan dua kotak, ya.”
Aku mengiyakan.
Tak ada ucapan terima kasih.
Tahun ketiga paket terlambat satu hari.
Untuk pertama kalinya Tante mengirim pesan lebih dulu.
“Paket belum sampai.”
Aku sampai menghubungi ekspedisi dua kali.
Ketika barang akhirnya diterima, aku bertanya apakah semuanya aman.
Balasannya datang hampir empat jam kemudian.
“Sudah.”
Tahun keempat aku sedang hamil enam bulan.
Kakiku sering bengkak. Aku masih bekerja dan perjalanan pulang bisa hampir dua jam.
Dimas pernah melihatku memilih hampers sambil berbaring.
“Kamu belum beli baju Lebaran untuk dirimu sendiri.”
“Nanti.”
“Tapi hampers Tante Sari hampir satu juta?”
“Mereka keluarga.”
Dimas tidak melarang.
Ia hanya berkata,
“Jangan sampai suatu hari kamu baru sadar mereka menunggu barangmu, bukan kamu.”
Saat itu aku merasa Dimas terlalu keras.
Tahun kelima, Fikri mengirim foto hampers premium seharga hampir dua juta.
Pesannya pendek.
“Kak, yang seperti ini bagus.”
Aku tetap membelinya.
Tiga hari setelah paket datang, Fikri mengunggah fotonya.
“Stok Lebaran aman.”
Namaku tidak disebut.
Tahun kedelapan, anakku, Naufal, harus dirawat beberapa hari karena demam tinggi.
Ayah sudah memberi tahu keluarga.
Tante Sari mengirim pesan,
“Semoga cepat sehat.”
Dua hari kemudian ia mengirim pesan lagi.
“Kalau sempat, kopi yang tahun lalu ya. Fikri suka.”
Aku masih mengirim.
Tahun kesembilan, aku menaikkan anggaran karena merasa mungkin selama ini aku yang terlalu sensitif.
Setelah diterima, Tante menelepon Ibu.
Bukan untuk berterima kasih.
Ia mengeluh ukuran toples nastarnya lebih kecil.
Malam itu Dimas berkata,
“Tahun depan berhenti.”
Aku diam.
“Sekali saja, May.”
“Kalau mereka tersinggung?”
“Biar.”
Dimas menatapku.
“Kamu perlu tahu yang mereka tunggu setiap Ramadan itu kamu atau paketmu.”
Dan tahun ini aku mengikuti sarannya.
Sekarang jawabannya sudah jelas.
“Tante,” kataku, “kalau ini memang kebiasaan keluarga, selama sembilan tahun Tante pernah kirim apa ke rumahku?”
Ia langsung menjawab,
“Kamu kan lebih mampu.”
Aku terdiam.
“Masa dengan keluarga sendiri dihitung?”
“Aku tidak menghitung.”
“Lalu kenapa berhenti?”
“Karena aku capek dianggap wajib.”
Suara Tante meninggi.
“Wajib apanya? Tante tidak pernah maksa.”
Aku hampir mengatakan bahwa mengirim foto hampers lengkap dengan harga sudah cukup jelas.
Namun aku menahan diri.
“Aku cuma tidak kirim tahun ini.”
“Jangan gara-gara sudah enak hidup di Bekasi terus lupa keluarga.”
Aku langsung duduk tegak.
“Tante maksud apa?”
“Sudahlah.”
“Tante, maksudnya apa?”
Ia diam sebentar.
Lalu berkata,
“Kalau bukan karena keluarga Tante dulu membantu ayahmu, belum tentu hidup kalian seperti sekarang.”
Aku mengerutkan kening.
“Ayah dibantu apa?”
“Tidak usah pura-pura tidak tahu.”
“Aku benar-benar tidak tahu.”
“Kalau ayahmu tidak cerita, tanya sendiri.”
Telepon ditutup.
Aku belum sempat memproses kalimat itu ketika ponselku berbunyi lagi.
Grup WhatsApp keluarga besar.
Tante Sari baru mengirim foto dokumen lama.
Kertasnya sudah menguning.
Di bagian bawah ada tanda tangan Ayah.
Pesan Tante muncul tepat setelahnya.
“Supaya generasi sekarang tidak lupa siapa yang pernah membantu siapa.”
Lalu pesan kedua.
“Rp48.000.000 pada masa itu bukan uang kecil.”
Tanganku langsung dingin.
Dimas keluar dari kamar.
“Ada apa?”
Aku menyerahkan ponsel.
Ia membaca foto itu beberapa detik.
“Ini tanda tangan Ayahmu?”
“Kelihatannya iya.”
Saat itu telepon dari Ibu masuk.
Begitu kuangkat, suaranya terdengar terburu-buru.
“Maya, jangan balas apa pun di grup.”
“Ibu tahu soal empat puluh delapan juta?”
Ibu diam.
“Ibu?”
“Ayahmu sedang cari map lama.”
“Jadi benar Ayah pernah terima uang dari Tante?”
“Pernah.”
Aku berdiri.
“Kenapa tidak pernah cerita?”
“Karena ceritanya tidak seperti yang Tante Sari tulis.”
Aku belum sempat bertanya lagi ketika sebuah pesan pribadi masuk.
Dari Fikri.
Sepupuku yang selama bertahun-tahun ikut meminta isi hampers.
Pesannya hanya satu kalimat.
“Kak Maya, tolong jangan percaya foto yang Mama kirim sebelum Kakak lihat versi lengkapnya.”
Aku menatap layar.
Lalu pesan kedua muncul.
“Dan soal hampers selama ini, ada sesuatu yang Kakak juga harus tahu.”
Dan ternyata, itu baru awalnya.
BAGIAN 2
Aku langsung menelepon Fikri.
Ia tidak mengangkat.
Aku menelepon lagi.
Tetap tidak dijawab.
Beberapa detik kemudian muncul pesannya.
“Aku lagi di luar sama Mama. Nanti malam aku telepon.”
Aku ingin memaksa.
Tapi Dimas mengambil ponsel dari tanganku.
“Jangan.”
“Aku harus tahu.”
“Justru karena itu jangan bikin dia takut bicara.”
Aku menatap grup keluarga.
Beberapa saudara mulai membalas pesan Tante Sari.
Ada yang hanya mengirim emoji.
Ada yang menulis,
“Sudah, jangan dibahas menjelang Lebaran.”
Ada pula yang bertanya,
“Memangnya uang apa itu?”
Tante Sari tidak menjelaskan.
Ia hanya menulis,
“Orang yang tahu sejarah keluarga pasti paham.”
Aku semakin tidak nyaman.
Kalimat seperti itu membuat siapa pun bebas membuat kesimpulan sendiri.
Aku menelepon Ayah.
Ayah mengangkat setelah cukup lama.
“Yah.”
“Iya.”
“Uang empat puluh delapan juta itu apa?”
Ayah tidak langsung menjawab.
“Ayah sedang cari bukti transfer lama.”
“Berarti Tante memang pernah kasih uang ke Ayah?”
“Iya.”
“Pinjaman?”
“Bukan.”
Aku berdiri di dekat meja makan.
“Terus?”
“Tahun dua ribu tiga ada tanah peninggalan kakekmu di Solo yang dijual.”
Aku ingat pernah mendengar soal tanah itu, tetapi hanya sedikit.
“Tanah itu milik Ayah dan Tante?”
“Bagian warisan kami berdua.”
Ayah menjelaskan singkat.
Saat tanah dijual, Tante Sari sedang berada di Kalimantan mengikuti suaminya bekerja.
Pembeli mentransfer seluruh pembayaran melalui rekening Ayah karena proses jual beli diurus Ayah.
Bagian milik Tante saat itu sebesar Rp48 juta.
Sebelum uang dikirim kepada Tante, Ayah membuat surat tanda terima yang menyatakan bahwa bagian milik Tante sudah diterima sementara oleh Ayah.
Aku langsung membuka foto yang dibagikan Tante.
Bagian atas kertas tidak terlihat.
Foto dimulai tepat dari kalimat:
“Saya telah menerima uang sejumlah Rp48.000.000 milik Sari…”
Di bawahnya ada nama Ayah.
Aku membaca berulang kali.
“Lalu Ayah kirim uangnya?”
“Tiga kali transfer. Semua lunas dalam waktu kurang dari dua bulan.”
“Buktinya ada?”
“Itu yang Ayah cari.”
Aku menutup mata beberapa detik.
“Tante sengaja memotong fotonya?”
“Ayah tidak tahu.”
“Kalau versi lengkapnya?”
“Di bagian atas tertulis soal penjualan tanah.”
Aku merasa marah, tapi lebih dari itu aku merasa malu.
Bukan malu karena tidak mengirim hampers.
Aku malu karena selama sembilan tahun aku terus berusaha menyenangkan orang yang sekarang membuat seolah-olah pemberianku hanyalah kewajiban karena utang lama.
“Ibu tahu?”
“Tahu.”
“Kenapa kalian diam?”
Ayah menghela napas.
“Karena kami pikir soal itu sudah selesai lebih dari dua puluh tahun lalu.”
Malamnya, setelah Naufal tidur, Fikri akhirnya menelepon.
Aku langsung mengangkat.
“Kak.”
“Aku dengar.”
Suara Fikri pelan.
“Aku mau minta maaf dulu.”
Aku tidak menjawab.
“Soal hampers.”
“Kenapa?”
Fikri menarik napas.
“Aku baru sadar dua tahun terakhir.”
“Sadar apa?”
“Hampers yang Kakak kirim… Mama sering bongkar sebelum aku pulang.”
Aku menunggu.
“Sebagian makanan memang kami makan. Tapi beberapa barang yang bagus dipisahkan.”
“Buat apa?”
“Dikirim lagi.”
Aku merasa belum memahami maksudnya.
“Dikirim ke siapa?”
“Teman arisan Mama. Kadang keluarga calon mertua kakakku. Kadang relasi Om.”
Aku menatap Dimas yang duduk di depanku.
Dimas langsung tahu ada sesuatu.
“Kartu ucapanku?”
“Dilepas.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Fikri melanjutkan.
“Tahun lalu kopi dan dua toples kue yang Kakak kirim dibawa Mama ke rumah Bu Ratna.”
“Siapa Bu Ratna?”
“Ketua komunitas Mama.”
“Dia bilang dari siapa?”
Fikri terdiam sebentar.
“Dari Mama.”
Aku tertawa pendek karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Bukan lucu.
Aku hanya akhirnya memahami banyak hal.
“Jadi waktu kamu unggah foto bertahun-tahun lalu?”
“Aku kira Kakak memang sengaja kirim buat sekeluarga. Aku juga waktu itu masih seenaknya. Aku salah.”
Setidaknya Fikri tidak mencari alasan.
“Aku pernah minta kopi. Pernah minta daging. Aku ingat semuanya.”
“Kenapa baru sekarang ngomong?”
“Karena tadi Mama marah setelah telepon Kakak.”
“Terus?”
“Dia bilang tahun ini jadi malu karena sudah bilang ke beberapa orang kalau paket premium dari Jakarta akan datang lagi.”
Aku menutup mata.
Itu jawabannya.
Bukan kehilangan tradisi.
Bukan kehilangan perhatian.
Ia kehilangan barang yang sudah lebih dulu dijanjikan kepada orang lain.
“Fikri.”
“Iya.”
“Foto surat yang dikirim Tante tadi kamu tahu?”
“Tahu.”
“Kenapa kamu bilang aku harus lihat versi lengkap?”
“Beberapa bulan lalu Mama minta aku scan dokumen keluarga buat urusan koperasi. Aku lihat kertas itu.”
“Lengkap?”
“Iya.”
“Ada tulisan soal tanah?”
“Ada.”
Jantungku berdetak cepat.
“Kamu punya hasil scan?”
Fikri diam cukup lama.
“Ada di laptop rumah.”
“Bisa kirim?”
“Aku tidak berani ambil sekarang.”
Aku memahami posisinya.
Aku tidak mau membuatnya mencuri dokumen ibunya sendiri.
“Jangan ambil diam-diam.”
“Iya.”
“Tapi kalau Tante kembali menggunakan surat itu buat menuduh Ayah, kamu bersedia bilang apa yang kamu lihat?”
“Bersedia.”
Sebelum menutup telepon, Fikri mengatakan satu hal lagi.
“Kak, ada yang lebih parah.”
Aku sudah lelah mendengar kalimat seperti itu.
“Apa?”
“Mama tidak cuma menunggu hampers Kakak.”
Aku mengerutkan kening.
“Setiap tahun Tante Mira juga kirim uang.”
Tante Mira adalah kakak Ibu.
“Uang apa?”
“Mama bilang THR keluarga.”
“Berapa?”
“Aku tidak tahu pasti. Tapi tahun lalu tiga juta.”
Aku langsung menelepon Ibu.
“Ibu tahu Tante Mira tiap tahun kirim uang ke Tante Sari?”
Ibu diam.
“Ibu?”
“Tahu.”
“Kenapa semua orang memberi ke dia?”
“Bukan semua.”
“Terus kenapa Tante Mira?”
Ibu akhirnya menjelaskan.
Beberapa tahun lalu Tante Sari pernah bercerita bahwa keuangannya sedang sulit.
Tante Mira membantu.
Awalnya sekali.
Tahun berikutnya Tante Sari menghubungi lagi menjelang Lebaran.
Lalu menjadi kebiasaan.
Sama seperti hampersku.
Aku mulai melihat polanya.
Begitu seseorang memberi satu kali, Tante Sari akan menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa diharapkan lagi.
Kalau berhenti, orang itu dibuat merasa bersalah.
Dimas mendengarkan semuanya.
Setelah telepon selesai, ia berkata,
“Kamu masih mau ke Bandung saat Lebaran?”
Sebelumnya kami memang berencana mampir pada hari kedua.
Aku berpikir sebentar.
“Mau.”
“Yakin?”
“Iya.”
“Aku ikut.”
Hari pertama Lebaran kami berada di rumah orang tuaku di Klaten.
Ayah akhirnya menemukan map yang dicari.
Di dalamnya ada salinan akta jual beli, catatan pembagian hasil penjualan, dan tiga bukti transfer lama.
Rp20 juta.
Rp15 juta.
Rp13 juta.
Total Rp48 juta.
Nama penerima jelas.
Sari Wulandari.
Ada pula surat asli tanda terima.
Versinya jauh lebih lengkap daripada foto di grup.
Bagian paling atas berbunyi bahwa uang tersebut adalah bagian hasil penjualan tanah warisan yang untuk sementara diterima oleh Ayah sebelum diserahkan kepada Tante Sari.
Ayah meletakkan dokumen itu di meja.
“Ayah sebenarnya tidak mau bawa ini ke mana-mana.”
“Kenapa?”
“Karena Ayah malu masalah keluarga dibuka.”
Aku memahami perasaannya.
Tapi aku juga tahu diam membuat cerita Tante terdengar benar.
“Kalau Tante berhenti, kita juga berhenti.”
Ayah mengangguk.
Hari kedua Lebaran kami berangkat ke Bandung.
Ibu dan Ayah ikut.
Saat kami sampai, rumah Tante Sari sudah penuh keluarga.
Ia menyambut orang tuaku seperti biasa.
Lalu melihatku.
“Maya datang juga.”
“Iya, Tante.”
Matanya sempat turun ke tanganku.
Aku tahu apa yang dicari.
Aku hanya membawa satu tas kecil berisi pakaian Naufal.
Tidak ada hampers.
Tidak ada kotak besar.
Tidak ada bingkisan.
Fikri keluar dari ruang tengah.
Ia menatapku sebentar lalu mengangguk kecil.
Kami belum sempat bicara ketika Tante Sari berkata cukup keras,
“Ya, sekarang anak muda memang beda. Datang ke rumah orang tua sudah cukup katanya.”
Beberapa orang langsung diam.
Aku meletakkan tas.
“Tante mau ngomong soal hampers?”
Ibu menyentuh lenganku.
Namun aku tetap berdiri.
Tante Sari tersenyum tipis.
“Tante tidak ngomong apa-apa.”
“Kalau begitu bagus.”
Aku duduk.
Aku tidak berniat membuat keributan.
Tapi lima menit kemudian, saat beberapa saudara bertanya soal foto surat di grup, Tante justru mengangkat topik itu sendiri.
“Sudahlah. Tante cuma mau anak-anak sekarang tahu keluarga itu saling bantu.”
Ayah menatap adiknya.
“Sari.”
“Apa?”
“Kalau mau cerita, ceritakan lengkap.”
Tante langsung memasang wajah tidak senang.
“Aku bohong di mana?”
Ayah membuka map.
Suasana berubah.
Tante Sari melihat map itu dan wajahnya langsung kaku.
“Apa itu?”
“Surat yang kamu foto.”
Ayah mengeluarkan versi aslinya.
Fikri menunduk.
Om Bowo, suami Tante, mendekat.
“Memangnya ada apa?”
Ayah menyerahkan kertas kepadanya.
Om membacanya.
Tante langsung berkata,
“Itu kan memang uangku yang diterima Mas.”
“Benar.”
“Jadi salahku apa?”
“Tidak ada, kalau kamu tidak membuat orang mengira uang itu utang yang belum dibayar.”
“Aku tidak pernah bilang belum dibayar.”
Aku membuka ponsel.
“Waktu Tante bilang, ‘Kalau bukan karena keluarga Tante dulu membantu Ayahmu, belum tentu hidup kalian seperti sekarang,’ maksudnya apa?”
Tante diam.
Aku melanjutkan.
“Setelah itu Tante unggah surat empat puluh delapan juta tanpa bagian atas.”
“Aku cuma mengingatkan.”
Ayah mengeluarkan tiga bukti transfer.
“Aku sudah mengembalikan seluruh bagianmu.”
Om Bowo mengambil bukti itu.
Ia membaca satu per satu.
Wajahnya berubah.
“Sari, ini apa?”
“Ya memang sudah dikirim.”
“Lalu kenapa kamu unggah surat itu?”
“Karena Maya mulai menghitung pemberian.”
Aku langsung menjawab.
“Aku tidak pernah minta satu rupiah kembali.”
“Ya sudah.”
“Aku cuma berhenti mengirim.”
“Dan Tante cuma tanya.”
“Kalau cuma bertanya, Tante tidak perlu membawa transaksi dua puluh tahun lalu.”
Ruangan mulai tidak nyaman.
Aku sebenarnya ingin berhenti.
Namun Tante Sari malah menatap Ayah.
“Mas juga jangan merasa paling benar. Dulu aku banyak bantu keluarga.”
Ayah menjawab pendek.
“Aku tidak pernah bilang kamu tidak pernah membantu.”
“Lalu?”
“Tapi bantuan tidak boleh diubah jadi tagihan seumur hidup.”
Tante berdiri.
“Semua sekarang menyalahkan aku gara-gara hampers?”
Fikri akhirnya bicara.
“Bukan cuma hampers, Ma.”
Semua orang melihatnya.
Tante langsung menatap tajam.
“Kamu jangan ikut campur.”
“Aku harus.”
“Fikri.”
“Karena selama ini aku juga ikut salah.”
Ia menatapku.
“Kak Maya, maaf.”
Aku diam.
Fikri lalu melihat ibunya.
“Setiap tahun Kak Maya kirim barang. Mama jarang bilang terima kasih.”
“Ini urusan Mama sama sepupumu.”
“Sebagian hampersnya Mama kasih ke orang lain dan bilang dari Mama.”
Ruangan langsung sunyi.
Om Bowo mengerutkan kening.
“Apa?”
Tante menjawab cepat.
“Jangan bicara sembarangan.”
“Aku lihat sendiri.”
“Fikri!”
“Tahun lalu kopi, kue kering, sama kotak kurma Mama bawa ke Bu Ratna.”
“Itu cuma berbagi.”
“Berbagi tidak masalah.”
Fikri berhenti sebentar.
“Yang masalah, kartu nama Kak Maya Mama lepas.”
Tante tidak menjawab.
Om Bowo menatap istrinya.
“Sari?”
“Memangnya kenapa kalau makanan dibagi?”
Aku menjawab,
“Tidak kenapa-kenapa.”
Aku memang tidak marah karena makanan itu diberikan kepada orang lain.
Yang membuatku akhirnya paham adalah satu hal.
Selama ini pemberianku bukan dianggap bentuk perhatian.
Barang itu sudah menjadi persediaan.
Sesuatu yang bisa digunakan, dibagikan, bahkan diakui sebagai miliknya sendiri.
Aku berdiri.
“Tante bebas mau makan, kasih orang, atau simpan. Setelah barang sampai, itu memang hak Tante.”
Ia menatapku.
“Tapi aku juga bebas berhenti mengirim.”
“Jadi kamu dendam?”
“Tidak.”
“Terus ini apa?”
“Batas.”
Tante tertawa pendek.
“Sekarang semua orang pintar bicara soal batas.”
Aku tidak menjawab.
Aku tahu kalau aku terus menjelaskan, percakapan itu tidak akan selesai.
Saat itulah Om Bowo tiba-tiba bertanya,
“Sari, paket dari Maya yang tahun lalu itu yang kamu bilang paket dari kantor?”
Tante langsung menoleh.
Aku juga.
“Apa maksud Om?”
Om tampak bingung.
“Tahun lalu ada paket besar. Sari bilang dikirim relasi kantor lama.”
Fikri menjawab,
“Itu punya Kak Maya.”
Tante memotong,
“Sudahlah!”
Namun Om belum selesai.
“Yang tahun sebelumnya juga?”
Tidak ada jawaban.
Om menatap istrinya beberapa detik.
Lalu ia duduk.
Untuk pertama kalinya sejak kami datang, Tante Sari kehilangan kendali atas percakapan.
Aku tidak merasa puas melihatnya terpojok.
Aku justru merasa sangat lelah.
Sembilan tahun.
Ternyata bahkan suaminya sendiri tidak selalu tahu paket itu datang dariku.
Tante masuk ke kamar.
Beberapa orang mulai berbicara pelan.
Aku hendak mengajak Dimas pulang ketika Fikri mendekat.
“Kak.”
“Iya?”
“Ada satu hal lagi.”
Aku hampir tertawa karena hari itu sepertinya tidak pernah kehabisan kejutan.
“Apa lagi?”
Fikri membuka ponselnya.
“Aku baru berani tunjukkan sekarang karena tadi Mama sudah bawa-bawa soal uang lama.”
Ia membuka percakapan WhatsApp.
Bukan percakapannya dengan Tante.
Percakapan Tante Sari dengan calon besannya.
Pesannya dikirim sekitar dua minggu sebelumnya.
“Nanti menjelang Lebaran saya kirim paket seperti tahun-tahun lalu. Biasanya dapat kiriman premium dari Jakarta.”
Pesan berikutnya:
“Tidak perlu beli kue terlalu banyak.”
Aku menatap layar.
Itulah alasan Tante menelepon pada dua puluh dua Ramadan.
Ia sudah menjanjikan paketku kepada orang lain.
Namun Fikri menggulir layar ke atas.
Ada percakapan lain.
Aku membaca nama kontaknya.
Tante Mira.
Isi pesan Tante Sari:
“Mbak, THR keluarga tahun ini jangan lupa ya. Tahun lalu Rp3 juta. Kalau bisa sama atau lebih karena kebutuhan makin banyak.”
Aku merasa kesal lagi.
Namun ternyata itu belum yang paling membuat kami terdiam.
Fikri membuka sebuah foto bukti transfer.
Tanggalnya satu tahun sebelumnya.
Rp3.000.000.
Pengirim: Mira Kusuma.
Penerima bukan Tante Sari.
Melainkan Fikri.
Aku menatap sepupuku.
“Kenapa ke rekeningmu?”
Fikri menggeleng.
“Aku juga baru tahu.”
Tante Sari keluar dari kamar tepat ketika kami masih melihat layar.
Ia melihat ponsel Fikri.
“Apa yang kamu tunjukkan?”
Fikri berdiri.
“Transfer Tante Mira.”
Wajah Tante berubah.
“Jangan buka urusan orang.”
“Ini masuk rekeningku, Ma.”
Om Bowo ikut berdiri.
“Uang apa?”
Tante tidak menjawab.
Fikri membuka aplikasi perbankannya.
Ia mencari riwayat lama.
Lalu menemukan beberapa transfer serupa.
Rp2 juta.
Rp2,5 juta.
Rp3 juta.
Semuanya masuk menjelang Lebaran selama beberapa tahun.
“Aku kira ini uang dari Mama,” kata Fikri.
Om Bowo menatap Tante.
“Kamu minta ke Mira?”
Tante akhirnya berkata,
“Dia sendiri yang biasa kasih.”
Aku langsung menelepon Tante Mira dengan pengeras suara.
Ia mengangkat.
“Maya?”
“Tante, maaf. Aku mau tanya satu hal.”
“Apa?”
“Setiap Lebaran Tante kirim uang ke Tante Sari?”
Di ruangan itu tidak ada yang bicara.
Tante Mira menjawab,
“Iya. Kenapa?”
“Siapa yang mulai?”
“Hah?”
“Tante yang menawarkan atau Tante Sari yang minta?”
Tante Mira diam beberapa detik.
“Tahun pertama aku menawarkan.”
“Setelah itu?”
“Dia biasanya mengingatkan.”
“Sudah berapa lama?”
“Enam tahun mungkin.”
Aku melihat Tante Sari.
Wajahnya tegang.
“Tahun ini sudah kirim?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Tante Mira tertawa kecil.
“Karena tahun lalu aku baru tahu uang yang kukirim katanya buat kebutuhan Lebaran, tapi Sari cerita ke orang lain itu THR dari anaknya.”
Fikri langsung menatap ibunya.
Tante Mira melanjutkan.
“Jadi tahun ini aku mau berhenti.”
Aku langsung memahami sesuatu.
Aku bukan satu-satunya.
Tante Sari menagihku karena paket tidak datang.
Kemungkinan besar dalam beberapa hari berikutnya, Tante Mira juga akan mendapat pesan serupa.
Aku menutup telepon setelah mengucapkan terima kasih.
Tidak ada yang perlu kutambahkan.
Tante Sari duduk.
Kali ini suaranya lebih rendah.
“Kalian semua sekarang kompak menyudutkan aku.”
Ayah menjawab,
“Tidak ada yang menyudutkanmu.”
“Lalu apa ini?”
“Ada orang yang berhenti memberi.”
Ayah berhenti sebentar.
“Itu saja.”
Tante melihatku.
“Maya, kamu puas sekarang?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Semua orang jadi lihat Tante seperti ini gara-gara kamu.”
“Foto surat itu Tante yang unggah.”
Ia diam.
Aku mengambil tas Naufal.
“Aku datang bukan untuk mempermalukan Tante.”
“Terus?”
“Aku datang karena awalnya aku masih ingin silaturahmi seperti biasa.”
Tante tidak menjawab.
“Tapi mulai tahun ini, jangan menunggu paket dariku.”
“Mau putus hubungan?”
“Tidak.”
Aku melihatnya.
“Kalau Tante telepon karena mau ngobrol, aku angkat.”
“Kalau Tante datang, rumahku terbuka.”
“Kalau ada keadaan penting dan aku bisa bantu, aku pertimbangkan.”
Aku berhenti.
“Tapi tidak ada lagi kewajiban tahunan.”
Dimas berdiri di sampingku.
Naufal berlari dari ruang belakang sambil membawa mobil-mobilan.
Kami berpamitan.
Di perjalanan pulang, aku tidak merasa menang.
Aku hanya merasa lebih ringan.
Beberapa hari kemudian Fikri mengirim pesan.
“Mama marah dua hari.”
Aku menjawab,
“Wajar.”
“Tapi sekarang sudah agak tenang.”
“Bagus.”
Lalu ia mengirim pesan lain.
“Aku juga mau minta maaf sekali lagi soal dulu suka pesan kopi dan makanan.”
Aku tersenyum.
“Sudah.”
“Tahun depan kalau aku mau kopi, aku beli sendiri.”
“Itu lebih aman.”
Hubungan kami justru menjadi lebih normal setelah kejadian itu.
Tidak ada lagi pembicaraan tentang hampers.
Beberapa bulan kemudian, saat ulang tahun Naufal, sebuah paket kecil datang.
Pengirimnya Fikri.
Isinya satu set buku gambar dan pensil warna.
Tidak mahal.
Tapi ada kartu kecil.
“Buat Naufal. Semoga suka. Terima kasih karena selama ini Kak Maya tetap menganggap kami keluarga meski kami sering tidak tahu cara menghargainya.”
Aku menyimpan kartu itu.
Lebaran berikutnya, dua hari sebelum hari raya, ponselku berbunyi.
Nama Tante Sari muncul.
Aku menatap Dimas.
Ia juga melihat layar.
“Angkat,” katanya.
Aku mengangkat.
“Halo, Tante.”
“Maya.”
“Iya?”
Aku menunggu pertanyaan soal paket.
Namun Tante tidak menanyakannya.
Ia hanya berkata,
“Naufal sehat?”
Aku sempat terdiam.
“Sehat.”
“Dimas?”
“Sehat juga.”
“Oh.”
Percakapan kami kaku.
Sangat kaku.
Tapi untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Tante menelepon menjelang Lebaran dan tidak menanyakan apa yang kukirim.
Sebelum menutup telepon, ia berkata,
“Selamat Lebaran nanti.”
“Iya, Tante. Sama-sama.”
Telepon selesai.
Dimas bertanya,
“Gimana?”
Aku meletakkan ponsel.
“Tidak ada permintaan.”
Dimas tersenyum.
Aku masuk ke dapur dan melanjutkan menyiapkan makan malam.
Saat itu aku baru benar-benar memahami perubahan terbesar dari semuanya.
Tahun lalu aku takut berhenti memberi karena kupikir berhenti memberi berarti berhenti menjadi keluarga.
Ternyata tidak.
Orang yang memang ingin menjaga hubungan akan belajar menghubungimu tanpa harus menunggu sesuatu datang ke depan pintunya.
Dan orang yang hanya merindukan pemberianmu akan terlihat jelas saat pemberian itu berhenti.
Yang paling tidak kuduga, perubahan itu bukan hanya mengubah caraku melihat Tante Sari.
Perubahan itu juga memaksa Tante Sari belajar sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia lakukan.
Untuk pertama kalinya, ia meneleponku tanpa menagih apa pun.
