
BAGIAN 1
“Bu, jangan transfer dulu.”
Jari saya berhenti tepat di atas tombol konfirmasi.
Naya berdiri di sebelah meja makan sambil memegang tabletnya dengan dua tangan.
“Tante Alya bilang besok mereka berangkat ke Italia.”
Saya menatap anak saya beberapa detik.
“Apa?”
Dia menyerahkan tablet itu.
Di layar terlihat unggahan Alya.
Lima paspor.
Beberapa tiket elektronik.
Itinerary perjalanan.
Roma.
Firenze.
Venesia.
Dan tulisan bahwa perjalanan mereka dimulai besok.
Saya kembali melihat ponsel saya.
Rp2.600.000.000.
Kode OTP masih aktif.
Pagi tadi Kak Raka menelepon saya hampir dua puluh menit.
Katanya perusahaan distribusinya sedang terjepit karena sebuah proyek besar membutuhkan tambahan dana jaminan.
Kredit bank belum cair.
Kalau dana tidak tersedia sebelum pukul empat sore, proyek itu bisa bermasalah.
“Sepuluh hari saja, Nadira.”
Suara Kak Raka terdengar lelah saat itu.
“Begitu pembayaran proyek masuk, uangmu langsung Kakak kembalikan.”
Saya bertanya kenapa jumlahnya sebesar itu.
Dia menjawab semua uang tunainya tertahan dalam stok.
Lalu dia meminta satu hal.
“Jangan cerita ke Papa dan Mama. Mereka sudah tua. Jangan bikin mereka ikut kepikiran.”
Sekarang saya melihat foto perjalanan keluarganya ke Italia.
Saya memperbesar tiket.
Kak Raka.
Alya.
Dua anak mereka.
Dan Ratna Wijaya, ibu Alya.
Lima orang.
“Naya dapat ini dari mana?”
“Tante upload tadi. Terus dihapus.”
“Kamu screenshot?”
Naya mengangguk.
“Sebelum dihapus.”
Saya mengambil napas lalu menelepon Kak Raka.
Tidak diangkat.
Saya mencoba lagi.
Tidak ada jawaban.
Beberapa detik kemudian pesan masuk.
Sedang meeting. Transfer dulu. Mendesak.
Saya tidak membalas.
“Naya, ada unggahan lain?”
Dia membuka folder screenshot.
“Ada hotel.”
Hotel bintang lima di Roma.
Tiga kamar.
Tujuh malam.
Ada juga hotel lain di Firenze dan Venesia.
Perjalanan mereka berlangsung enam belas hari.
Saya duduk.
Deposito yang baru saya cairkan siang tadi masih ada di rekening.
Saya bahkan kehilangan hampir Rp9 juta karena mencairkannya sebelum jatuh tempo.
Saya teringat percakapan dengan Dimas beberapa jam sebelumnya.
Suami saya sedang bekerja di Surabaya.
“Raka kasih surat permintaan dananya?”
“Belum.”
“Perjanjian pinjaman?”
“Dimas, itu kakakku.”
“Aku tahu.”
“Kenapa kamu bicara seperti kita meminjamkan uang ke orang asing?”
Dimas diam sebentar.
Lalu dia berkata,
“Karena Rp2,6 miliar itu tabungan kita berdua.”
Saya tersinggung saat itu.
Sekarang saya malah meneleponnya lebih dulu.
Dimas langsung mengangkat.
“Sudah transfer?”
“Belum.”
Saya mengirim screenshot dari Naya.
Dimas tidak langsung menjawab.
Beberapa saat kemudian dia menelepon kembali.
“Jangan kirim satu rupiah pun dulu.”
“Saya juga mulai curiga.”
“Bukan curiga. Verifikasi.”
Saya mengangguk meski dia tidak bisa melihat.
Saya mengirim pesan kepada Kak Raka.
Kirim surat permintaan tambahan jaminan dari pihak proyek. Setelah saya terima, saya transfer.
Tiga menit berlalu.
Lima menit.
Delapan menit.
Ponsel saya berdering.
“Nadira, kenapa sekarang jadi ribet?”
“Saya hanya minta dokumen.”
“Kakak lagi dikejar waktu.”
“Kalau proyeknya resmi, suratnya pasti ada.”
Nada suaranya berubah.
“Memangnya kamu tidak percaya sama kakak sendiri?”
“Saya sudah mencairkan deposito karena percaya.”
Dia terdiam.
“Jadi sekarang kamu mau hitung-hitungan dengan keluarga?”
Saya menahan diri.
“Kirim dokumennya.”
“Kalau begini caranya, tidak usah bantu sekalian.”
Saya hendak menjawab ketika terdengar suara Alya dari belakang.
Cukup jelas.
“Mas, travel agent bilang pembayaran terakhir tur Italia harus masuk sebelum jam empat.”
Sambungan langsung terputus.
Saya tidak bergerak.
Jam di layar menunjukkan 15.21.
Tiga puluh sembilan menit sebelum batas waktu yang disebut Kak Raka.
Naya duduk di depan saya.
“Bu?”
“Semuanya baik-baik saja.”
Padahal saya sendiri belum tahu.
Lima menit kemudian sebuah PDF masuk dari Kak Raka.
Tuh. Baca sendiri. Jangan terlalu curiga.
Dokumen itu memakai kop perusahaan kliennya.
Ada nilai proyek.
Ada kalimat tentang tambahan jaminan.
Ada tanda tangan.
Sekilas terlihat resmi.
Saya hampir merasa bersalah.
Lalu Dimas menelepon.
“Saya sudah lihat PDF-nya.”
“Kelihatannya asli.”
“Nomor telepon kantornya ada di bawah.”
Saya melihatnya.
“Ada.”
“Telepon.”
Saya langsung menelepon nomor itu.
Seorang staf administrasi mengangkat.
Saya menyebut nomor surat yang tercantum.
“Tolong tunggu, Bu.”
Saya menunggu hampir dua menit.
Kemudian seorang perempuan berbicara.
“Bu Nadira?”
“Iya.”
“Saya dari bagian keuangan. Boleh saya tahu Ibu mendapat surat ini dari siapa?”
Dada saya mulai tidak nyaman.
“Dari Pak Raka Pradana.”
Hening sebentar.
Lalu perempuan itu berkata,
“Bu, nomor suratnya memang menggunakan format perusahaan kami.”
Saya menggenggam ponsel lebih kuat.
“Tapi kami tidak pernah menerbitkan surat permintaan tambahan jaminan tersebut.”
Saya tidak langsung menjawab.
Dia melanjutkan,
“Proyek dengan perusahaan Pak Raka juga tidak membutuhkan tambahan dana Rp2,6 miliar.”
Saya berdiri.
“Jadi surat ini?”
“Kami tidak tahu siapa yang membuatnya.”
Saya memandang layar bank yang masih terbuka di meja.
Perempuan itu kemudian mengatakan satu kalimat lagi.
“Kalau seseorang meminta Ibu transfer berdasarkan surat tersebut, sebaiknya jangan dilakukan.”
Saat itu saya tidak lagi memikirkan Italia.
Saya hanya punya satu pertanyaan.
Kalau Kak Raka berani mengirim dokumen yang bukan berasal dari pihak proyek, sebenarnya untuk apa dia membutuhkan uang saya?
Dan ternyata jawaban sebenarnya jauh lebih buruk dari yang saya bayangkan.
BERSAMBUNG…
BAGIAN 2
Saya langsung memindahkan Rp2,6 miliar itu dari rekening transaksi ke rekening deposito fleksibel yang tidak terhubung dengan kartu maupun layanan transfer cepat.
Setelah itu saya mengambil screenshot seluruh percakapan dengan Kak Raka.
PDF.
Pesan WhatsApp.
Waktu telepon.
Semua saya simpan.
Dimas menelepon lagi.
“Uangnya aman?”
“Aman.”
“Jangan debat dengan Raka malam ini.”
“Saya mau tanya dia sekarang.”
“Kalau dia sudah mengirim dokumen seperti itu, dia akan menyiapkan jawaban lain.”
Saya tahu Dimas benar.
Tetapi menerima bahwa kakak saya mungkin sengaja berbohong jauh lebih sulit daripada sekadar membatalkan transfer.
Saya masih ingin ada penjelasan yang masuk akal.
Pukul 15.48, Kak Raka menelepon.
“Kok belum masuk?”
“Saya sudah menelepon perusahaan yang namanya ada di surat.”
Tidak ada jawaban.
“Kak?”
“Kamu telepon mereka?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Saya mau memastikan.”
Nada suaranya langsung naik.
“Nadira, urusan bisnis itu tidak sesederhana yang kamu pikir.”
“Mereka bilang surat itu bukan dari mereka.”
Hening.
Kemudian Kak Raka menjawab,
“Mungkin staf Kakak salah kirim versi.”
“Versi apa?”
“Nanti Kakak jelaskan.”
“Siapa yang membuat PDF itu?”
“Nadira, jangan interogasi Kakak.”
“Saya hampir mengirim Rp2,6 miliar.”
“Itu pinjaman!”
“Untuk apa?”
Dia tidak menjawab.
Saya mendengar napasnya.
Lalu sambungan ditutup.
Pukul empat lewat dua menit, Alya menelepon.
Saya hampir tidak mengangkatnya.
“Nadira, kamu belum transfer?”
“Kenapa kamu tahu?”
“Raka cerita.”
“Kalian butuh uang itu untuk apa?”
“Untuk perusahaan.”
“Kalau untuk perusahaan, kenapa pembayaran tur Italia juga jatuh tempo hari ini?”
Dia berhenti.
“Itu beda.”
“Bedanya apa?”
“Liburan sudah kami rencanakan enam bulan.”
“Dan pembayarannya belum selesai.”
“Itu urusan kami.”
Saya tertawa pendek karena saya tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi.
“Kalau itu urusan kalian, uang Rp2,6 miliar saya juga urusan saya.”
Alya langsung menjawab,
“Kami kan mau mengembalikan.”
“Dengan uang dari mana?”
Tidak ada jawaban.
Saya menunggu.
“Alya?”
“Bicaralah dengan suamimu sendiri kalau kamu tidak percaya kami.”
“Dimas justru orang pertama yang meminta saya tidak transfer sebelum ada bukti.”
Telepon ditutup.
Beberapa menit kemudian Mama menelepon.
Di situlah saya sadar sesuatu.
Kak Raka tadi meminta saya tidak memberi tahu Papa dan Mama.
Tetapi sekarang Mama sudah tahu.
“Nadira, kamu bertengkar sama Kakakmu?”
“Siapa yang bilang?”
“Raka.”
Saya menutup mata.
“Apa katanya?”
“Katanya kamu sudah janji mau bantu lalu mendadak membatalkan. Katanya sekarang urusan proyeknya bermasalah.”
“Mama tahu Kak Raka minta berapa?”
“Katanya dua setengah miliaran.”
“Mama tahu mereka besok mau ke Italia?”
Mama diam.
“Mama?”
“Alya memang pernah cerita mau liburan.”
“Enam belas hari.”
“Nadira, mungkin tiketnya sudah lama dibayar.”
“Belum. Pembayaran terakhir jatuh tempo sore ini.”
Mama kembali diam.
Saya kemudian bertanya,
“Selama ini Kak Raka pernah pinjam uang dari Mama dan Papa?”
Pertanyaan itu sebenarnya keluar begitu saja.
Saya tidak menyangka jawaban Mama.
“Kenapa tanya begitu?”
“Pernah?”
“Nanti kita bicara.”
“Mama.”
“Nanti saja.”
Saya langsung merasa ada sesuatu yang belum saya tahu.
Malam itu saya hampir tidak tidur.
Dimas pulang ke Jakarta keesokan paginya dengan penerbangan pertama.
Begitu sampai rumah, dia tidak membahas Raka dulu.
Dia melihat rekening kami.
Memastikan uang tetap ada.
Lalu duduk di depan saya.
“Kamu masih mau bantu?”
“Saya tidak tahu.”
“Kalau Raka benar-benar sedang kesulitan?”
“Itulah masalahnya.”
Saya mengusap wajah.
“Dia kakak saya.”
Dimas mengangguk.
“Menolong boleh.”
Dia menunjuk PDF di meja.
“Tapi menolong setelah orang berbohong bukan keputusan yang sama.”
Saya tidak menjawab.
Sekitar pukul sembilan, Kak Raka mengirim pesan.
Kita bicara di rumah Papa Mama. Jam dua.
Saat kami tiba, Kak Raka dan Alya sudah ada.
Koper mereka juga ada.
Tiga koper besar berdiri dekat pintu.
Saya melihatnya sebentar.
Alya langsung berkata,
“Tidak usah lihat begitu. Kami belum jadi berangkat.”
Saya duduk di samping Dimas.
Papa terlihat kesal.
Mama justru tampak gelisah.
Kak Raka membuka pembicaraan.
“Kita keluarga. Tidak perlu bikin semua ini seperti sidang.”
Saya meletakkan PDF di meja.
“Siapa yang membuat surat ini?”
“Staf kantor.”
“Namanya?”
“Nanti Kakak urus internal.”
“Perusahaan klien bilang surat itu tidak pernah diterbitkan.”
Raka mulai kehilangan kesabaran.
“Sudah Kakak bilang, ada miskomunikasi.”
Dimas akhirnya berbicara.
“Miskomunikasi tidak membuat kop surat baru.”
Kak Raka menatap Dimas.
“Ini urusan saya dengan adik saya.”
“Uang itu juga milik saya.”
Ruang tamu langsung sunyi.
Dimas tetap tenang.
“Kalau Raka memang butuh pinjaman, jelaskan penggunaannya. Kita bisa buat perjanjian resmi.”
Alya memandang suaminya.
Kak Raka menyandarkan tubuh ke kursi.
“Kalian mau surat perjanjian?”
“Iya.”
“Baik.”
Jawabannya terlalu cepat.
Saya justru semakin waspada.
Kak Raka melanjutkan,
“Jaminannya gudang perusahaan di Cikarang.”
Dimas mengangguk.
“Besok kita cek sertifikatnya ke notaris.”
Kak Raka langsung mengubah posisi duduk.
“Kenapa harus sampai notaris?”
“Karena Rp2,6 miliar.”
“Dimas, saya bukan orang luar.”
Dimas tidak membalas.
Saya berkata,
“Kalau gudangnya bersih, seharusnya tidak ada masalah.”
Alya tiba-tiba berdiri.
“Kalian benar-benar keterlaluan.”
Saya melihatnya.
“Kami hampir kehilangan perjalanan yang sudah direncanakan berbulan-bulan cuma karena Nadira mendadak berubah pikiran.”
Ruangan langsung sunyi.
Papa menatap Alya.
“Jadi uang itu memang untuk perjalanan?”
Alya baru sadar apa yang baru saja dia katakan.
“Bukan begitu, Pa.”
“Lalu bagaimana?”
Kak Raka berdiri.
“Alya, cukup.”
Tetapi saya sudah mendengar cukup banyak.
“Berapa biaya perjalanan kalian?”
Alya tidak menjawab.
“Kak Raka?”
“Bukan urusanmu.”
Saya mengambil ponsel.
“Naya sempat screenshot itinerary dan hotel.”
Wajah Alya berubah.
Saya melanjutkan,
“Kalian memesan tiga kamar. Business class. Enam belas hari. Lima orang.”
Mama memandang Raka.
“Raka?”
“Liburan itu sudah direncanakan jauh hari.”
“Berapa biayanya?” tanya Papa.
Kak Raka mengusap leher.
“Sekitar enam ratus juta.”
Saya menatapnya.
“Enam ratus?”
“Kurang lebih.”
“Dan kamu meminta Rp2,6 miliar kepada saya pada hari pembayaran terakhir perjalanan jatuh tempo?”
“Itu kebetulan.”
Saya tidak tahu bagian mana yang membuat saya lebih kecewa.
Bohongnya atau cara dia masih mencoba mempertahankan kebohongan itu.
Dimas membuka map.
“Kita tidak perlu debat.”
Dia mengeluarkan satu lembar kertas.
“Saya sudah menghubungi notaris yang biasa menangani transaksi kita. Kalau Raka serius meminjam, besok kita lakukan pemeriksaan jaminan.”
Papa mengangguk.
“Bagus.”
Kak Raka tidak mengatakan apa-apa.
Pertemuan itu selesai tanpa keputusan.
Malamnya, pukul 22.17, Kak Raka mengirim foto sertifikat gudang.
Puas? Besok cek.
Saya hampir merasa lega.
Mungkin dia memang benar-benar punya masalah arus kas.
Mungkin Italia hanya keputusan buruk yang sudah telanjur dibuat.
Mungkin surat palsu itu dibuat seseorang di kantornya.
Saya masih mencari alasan untuknya.
Besok paginya kami bertemu notaris.
Raka datang terlambat hampir empat puluh menit.
Alya tidak ikut.
Notaris memeriksa dokumen.
Sekitar dua puluh menit kemudian dia mengangkat kepala.
“Pak Raka, sertifikat ini sedang terikat hak tanggungan.”
Saya menatap Kak Raka.
Notaris melanjutkan,
“Masih menjadi jaminan fasilitas kredit bank.”
Dimas bertanya,
“Nilai fasilitasnya?”
“Saya tidak bisa memberikan data detail tanpa dokumen tambahan, tetapi statusnya aktif.”
Saya langsung tahu alasan Kak Raka tidak ingin kami memeriksa.
“Kakak tahu?”
Dia tidak menjawab.
“Kak.”
“Tahu.”
“Jadi kamu menawarkan jaminan yang sudah dijaminkan?”
“Nilai gudangnya jauh di atas pinjaman.”
“Itu bukan jawabannya.”
Kak Raka berdiri.
“Sudah. Kalau kalian tidak mau bantu, bilang saja.”
Dia berjalan keluar.
Saya mengejarnya sampai area parkir.
“Kak Raka.”
Dia berhenti.
“Kenapa?”
“Saya cuma mau tahu kebenarannya.”
“Kebenaran apa lagi?”
“Uang itu mau dipakai untuk apa?”
Dia menatap saya lama.
Akhirnya dia berkata,
“Kakak sedang banyak kebutuhan.”
“Kebutuhan apa?”
“Bisnis. Rumah. Anak-anak.”
“Italia?”
Dia mendekat satu langkah.
“Nadira, kamu tidak akan mengerti.”
“Coba jelaskan.”
“Kamu dan Dimas hidup sederhana. Kalian puas begitu.”
Saya langsung terdiam.
Dia melanjutkan,
“Anak-anak Kakak sekolah dengan lingkungan tertentu. Klien Kakak juga orang tertentu. Ada standar yang harus dijaga.”
Saya menatap kakak saya sendiri dan untuk pertama kalinya merasa tidak mengenalnya.
“Jadi Rp2,6 miliar itu untuk menjaga standar?”
“Kakak akan mengembalikan.”
“Dengan apa?”
“Gudang itu akan terjual.”
“Kapan?”
“Sedang ada pembeli.”
“Sudah tanda tangan?”
“Belum.”
“Sudah ada uang muka?”
“Belum.”
Saya mengangguk pelan.
Jadi rencananya sebenarnya sederhana.
Dia ingin mengambil hampir seluruh tabungan saya berdasarkan penjualan aset yang bahkan belum terjadi.
Saya bertanya satu hal lagi.
“Surat proyek itu siapa yang buat?”
Raka tidak menjawab.
“Kak.”
Dia membuka pintu mobil.
“Sebaiknya kamu pulang.”
Lalu dia pergi.
Ketika saya sampai rumah, Mama sudah menunggu.
Dia membawa map cokelat tua.
Wajahnya tidak seperti biasanya.
“Mama harus cerita sesuatu.”
Saya mempersilakannya masuk.
Dia membuka map.
Ada beberapa bukti transfer.
Rp150 juta.
Rp200 juta.
Rp90 juta.
Rp300 juta.
Rp175 juta.
Semua dikirim ke Kak Raka.
Dalam empat belas bulan terakhir.
Saya menghitungnya.
Totalnya lebih dari Rp1,2 miliar.
Saya memandang Mama.
“Ini apa?”
“Pinjaman.”
“Untuk apa?”
“Macam-macam.”
Mama terlihat malu mengatakannya.
“Pernah katanya pembayaran supplier terlambat. Pernah pajak. Pernah klien belum bayar.”
“Sudah dikembalikan?”
Mama menggeleng.
“Berapa yang sudah kembali?”
“Belum ada.”
Saya menutup map.
“Kenapa Mama tidak pernah cerita?”
“Karena Raka bilang dia sudah bicara dengan kamu.”
Saya langsung menatap Mama.
“Apa?”
“Katanya kamu juga tahu kondisinya.”
Saya berdiri.
“Dia justru melarang saya bicara ke Mama dan Papa.”
Kami sama-sama terdiam.
Saat itu semuanya mulai jelas.
Kak Raka tidak hanya berbohong kepada saya.
Dia memisahkan kami.
Kepada saya, dia bilang jangan beri tahu orang tua.
Kepada orang tua, dia bilang saya sudah tahu.
Dengan begitu, tidak ada yang membandingkan cerita.
Saya langsung menelepon Papa.
Malam itu kami bertemu lagi.
Tanpa Raka.
Papa terlihat jauh lebih terpukul daripada marah.
“Satu bulan lalu dia juga minta Papa jual sebidang tanah di Bogor.”
Saya menatapnya.
“Berapa nilainya?”
“Sekitar Rp1,1 miliar.”
“Papa jual?”
“Belum.”
“Alasannya?”
“Katanya perlu menutup kewajiban perusahaan sementara.”
Dimas yang sejak tadi diam akhirnya berkata,
“Berarti jumlah yang sedang dia cari bukan Rp2,6 miliar.”
Saya menghitung.
Uang orang tua lebih dari Rp1,2 miliar sudah masuk.
Dia masih meminta Rp1,1 miliar lagi.
Lalu Rp2,6 miliar dari saya.
Masalahnya jauh lebih besar.
Saya menelepon Kak Raka malam itu juga.
“Kita perlu bicara.”
“Besok.”
“Sekarang.”
“Nadira—”
“Saya tahu transfer Mama dan Papa.”
Dia berhenti.
“Saya juga tahu soal tanah Bogor.”
Tidak ada jawaban.
Saya melanjutkan,
“Besok pagi jam sepuluh. Rumah Papa.”
Kali ini saya yang menutup telepon.
Besoknya semua datang.
Termasuk Alya.
Begitu duduk, Papa langsung meletakkan bukti transfer di meja.
“Jelaskan.”
Kak Raka tidak menyentuh dokumen itu.
Mama bertanya,
“Kamu bilang Nadira tahu semua pinjaman ini.”
Raka melihat saya.
Saya tidak mengatakan apa-apa.
Alya tampak kebingungan.
“Pinjaman apa?”
Saya menoleh kepadanya.
“Kamu tidak tahu?”
“Tidak tahu apa?”
Kak Raka langsung berkata,
“Alya, tidak perlu ikut.”
Tetapi Alya mulai membuka bukti transfer satu per satu.
“Ini uang Mama?”
Mama mengangguk.
Alya membaca jumlahnya.
“Semua ini masuk ke kamu?”
“Alya.”
“Mas, jawab.”
Raka akhirnya kehilangan ketenangannya.
“Iya.”
Alya menatap suaminya.
“Kamu bilang uang Rp300 juta bulan Desember itu bonus proyek.”
Tidak ada jawaban.
“Kamu bilang Rp200 juta bulan Februari hasil pencairan deposito perusahaan.”
Raka masih diam.
Saya melihat sesuatu yang tidak saya duga.
Alya ternyata tidak tahu.
Setidaknya tidak seluruhnya.
Dia memang ikut menikmati gaya hidup mereka.
Dia ikut merencanakan perjalanan mahal.
Tetapi sumber uangnya juga disembunyikan dari dirinya.
“Mas.”
Suara Alya lebih pelan.
“Berapa sebenarnya utang kita?”
Kak Raka berdiri.
“Tidak sekarang.”
Alya ikut berdiri.
“Berapa?”
“Aku bilang nanti.”
“Berapa, Raka?”
Untuk pertama kalinya sejak masalah ini dimulai, saya melihat Kak Raka benar-benar tidak punya jawaban cepat.
Akhirnya Dimas berkata,
“Kalau mau menyelesaikan masalah, buka angkanya.”
Kak Raka duduk kembali.
Dia memegang keningnya.
Lalu mulai bicara.
Dua tahun terakhir dia membuka cabang baru terlalu cepat.
Dia menyewa dua gudang.
Membeli kendaraan operasional dengan kredit.
Memasukkan terlalu banyak uang ke stok.
Lalu kehilangan dua klien besar dalam waktu enam bulan.
Pendapatan turun.
Tetapi gaya hidup mereka tidak ikut turun.
Rumah.
Sekolah anak.
Mobil.
Keanggotaan klub.
Perjalanan.
Semua tetap berjalan seperti saat bisnis sedang sangat bagus.
Awalnya dia menutup kekurangan dengan fasilitas kredit.
Setelah limit hampir penuh, dia memakai uang dari Papa dan Mama.
Lalu dia menunggu sebuah gudang terjual.
Masalahnya, penjualannya terus tertunda.
“Kenapa tidak cerita?” tanya Papa.
Raka melihat meja.
“Saya pikir bisa beres sendiri.”
“Lalu surat proyek itu?” tanya saya.
Dia diam cukup lama.
Akhirnya berkata,
“Saya buat.”
Ruangan langsung sunyi.
Bukan staf.
Bukan kesalahan administrasi.
Kakak saya sendiri yang membuatnya.
Saya bertanya,
“Kenapa?”
“Kalau Kakak bilang butuh uang untuk menutup semua kewajiban sementara, kamu pasti tidak mau.”
Saya bahkan tidak langsung marah.
Saya hanya merasa kosong.
“Jadi kamu tahu saya tidak akan setuju, lalu kamu membuat alasan lain.”
Raka mengangguk kecil.
Alya langsung duduk.
“Perjalanan Italia?”
Raka memandang istrinya.
“Aku pikir uang Nadira masuk dulu.”
Wajah Alya berubah.
“Kamu bilang biaya perjalanan sudah aman.”
“Aku bisa bereskan.”
“Dengan uang adikmu?”
“Cuma sementara.”
“Dan kamu tidak bilang kepadanya?”
Raka tidak menjawab.
Alya menutup wajah sebentar.
Lalu dia mengambil ponsel.
“Aku batalkan perjalanan.”
Raka langsung berkata,
“Tidak perlu.”
Alya menatapnya.
“Kita punya utang seperti ini dan kamu masih bicara soal liburan?”
“Sebagian tidak bisa dikembalikan.”
“Biar.”
“Ibumu ikut.”
“Biar aku yang jelaskan ke Ibu.”
Itu pertama kalinya sejak saya mengenalnya saya melihat Alya menentang Kak Raka tentang uang.
Siang itu perjalanan Italia dibatalkan.
Sebagian biaya hangus.
Sebagian kembali sebagai kredit perjalanan.
Ratna, ibu Alya, marah besar.
Tetapi kali ini saya tidak ikut dalam urusan itu.
Saya mengatakan satu hal kepada keluarga.
“Saya tidak akan memberi pinjaman Rp2,6 miliar.”
Mama mengangguk.
Papa juga.
Kak Raka tidak melihat saya.
Saya melanjutkan,
“Tapi kalau Kakak serius mau membereskan keadaan, saya mau bantu mencari akuntan dan konsultan restrukturisasi.”
Raka tertawa pendek.
“Kamu mau mengatur hidup Kakak sekarang?”
“Tidak.”
Saya menatapnya.
“Karena itu saya tidak akan kasih uang.”
Saya berdiri.
“Kalau Kakak mau solusi, saya bantu cari solusi. Kalau Kakak hanya mau uang, saya tidak ikut.”
Dimas dan saya pulang.
Tiga hari tidak ada kabar.
Hari keempat, Alya menelepon.
“Nadira.”
“Iya.”
“Raka mau ketemu konsultan.”
Saya langsung mengirim nomor seorang konsultan keuangan bisnis yang pernah bekerja dengan kantor Dimas.
Prosesnya tidak cepat.
Dan sama sekali tidak nyaman.
Mereka harus menjual salah satu mobil.
Keanggotaan klub dihentikan.
Rencana renovasi rumah dibatalkan.
Anak-anak tetap sekolah di tempat yang sama sampai tahun ajaran selesai, lalu mereka memindahkan salah satunya ke sekolah dengan biaya yang lebih masuk akal.
Raka akhirnya melepas gudang dengan harga sedikit di bawah target awal karena membutuhkan likuiditas.
Sebagian hasilnya digunakan untuk mengurangi pinjaman bank.
Sebagian dikembalikan kepada Papa dan Mama.
Tidak langsung lunas.
Tetapi ada jadwal jelas.
Ada dokumen.
Ada transfer rutin.
Saya tidak pernah mendapatkan permintaan maaf besar seperti dalam film.
Suatu sore, hampir tiga bulan setelah kejadian itu, Kak Raka datang ke rumah sendirian.
Saya sedang memeriksa pekerjaan Naya.
Dia duduk di meja makan.
“Kakak bawa ini.”
Dia meletakkan amplop.
Di dalamnya ada Rp9 juta.
Saya mengernyit.
“Untuk apa?”
“Bunga deposito yang hilang waktu kamu cairkan.”
Saya hampir menolak.
Tetapi kemudian saya menerimanya.
Bukan karena jumlahnya.
Karena setidaknya kali ini dia mengakui bahwa tindakannya menimbulkan kerugian untuk orang lain.
Dia duduk cukup lama.
Kemudian berkata,
“Waktu itu Kakak pikir kalau gudang cepat terjual, semua orang akan tetap percaya Kakak baik-baik saja.”
Saya tidak menjawab.
“Kakak tidak mau Mama tahu bisnis sedang turun.”
“Makanya Kakak justru ambil uang Mama.”
Dia mengangguk.
“Salah.”
Kami diam beberapa detik.
Lalu saya bertanya hal yang sejak awal masih mengganggu pikiran.
“Alya benar-benar tidak tahu?”
Kak Raka melihat meja.
“Tidak semuanya.”
“Bagian mana yang dia tahu?”
“Dia tahu kondisi bisnis sedang tidak sebaik dulu.”
“Dan yang tidak dia tahu?”
Kak Raka menarik napas.
“Bahwa uang dari Mama Papa itu pinjaman.”
Saya mengernyit.
“Dia kira apa?”
“Bantuan.”
“Kak.”
“Dia juga tidak tahu uang yang Kakak minta darimu berasal dari alasan palsu.”
Saya menatapnya.
Jadi orang yang paling saya curigai di awal ternyata bukan orang yang merancang semuanya.
Alya memang ikut hidup terlalu mahal.
Dia juga terlalu mudah percaya bahwa semua masih aman.
Tetapi orang yang sengaja membuat cerita berbeda untuk setiap anggota keluarga adalah Kak Raka sendiri.
Dia membuat Papa dan Mama percaya saya sudah tahu.
Dia membuat Alya percaya kondisi keuangan hanya sementara.
Dia membuat saya percaya perusahaan sedang menghadapi jaminan proyek.
Semua itu supaya tidak ada satu pun dari kami duduk bersama dan membandingkan cerita.
Sebelum pulang, Kak Raka berdiri di dekat pintu.
“Nadira.”
Saya menoleh.
“Kalau waktu itu Naya tidak lihat unggahan Alya…”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Saya tahu apa yang dia maksud.
Saya mungkin sudah menekan tombol konfirmasi.
Uang Rp2,6 miliar mungkin sudah masuk.
Sebagian mungkin membayar perjalanan Italia.
Sebagian masuk ke berbagai kewajiban yang tidak pernah saya setujui.
Lalu saya dan Dimas hanya bisa menunggu gudang yang belum tentu terjual.
Saya berkata,
“Bukan Naya yang membuat Kakak kehilangan uang.”
Raka melihat saya.
“Saya memang tidak pernah setuju memberikan uang itu untuk alasan yang sebenarnya.”
Dia mengangguk.
Lalu pergi.
Beberapa bulan kemudian, keadaan keluarga kami belum sepenuhnya kembali seperti dulu.
Saya dan Kak Raka masih sering canggung.
Mama tidak lagi meminjamkan uang tanpa memberi tahu Papa.
Papa juga tidak pernah lagi menandatangani dokumen karena alasan “nanti dijelaskan”.
Dimas dan saya membuat aturan baru.
Pinjaman keluarga di atas jumlah tertentu harus dibicarakan bersama dan tertulis.
Bukan karena kami tidak percaya keluarga.
Justru karena kami ingin hubungan keluarga tidak rusak akibat uang yang tidak jelas.
Suatu malam saya melihat Naya sedang mengerjakan tugas di meja yang sama tempat saya hampir mentransfer Rp2,6 miliar.
Saya duduk di sebelahnya.
“Naya.”
“Iya, Bu?”
“Waktu itu kenapa kamu screenshot Story Tante Alya?”
Dia menjawab santai.
“Karena Tante Alya bilang jangan kasih tahu siapa-siapa kalau mereka berangkat.”
Saya berhenti.
“Kapan Tante bilang begitu?”
“Waktu video call sama Kak Sasa.”
Sasa adalah anak Kak Raka.
Naya melanjutkan,
“Kak Sasa bilang Om Raka minta mereka jangan upload perjalanan sampai sudah sampai Italia.”
Saya menatap Naya.
“Kenapa?”
“Katanya supaya keluarga tidak banyak tanya.”
Saya tidak mengatakan apa-apa lagi.
Itulah bagian terakhir yang akhirnya membuat semuanya masuk akal.
Kak Raka bukan tiba-tiba panik ketika saya menemukan unggahan Alya.
Sejak awal dia sudah tahu perjalanan itu bisa membongkar ceritanya.
Karena itulah keluarganya diminta diam.
Alya ternyata mengunggah Story karena mengira hanya teman dekat yang bisa melihatnya.
Dia lupa Naya masih masuk daftar itu.
Satu unggahan singkat dari sebuah tablet anak berusia sebelas tahun akhirnya mempertemukan semua cerita yang sengaja dipisahkan selama lebih dari setahun.
Dan sejak hari itu saya memahami satu hal sederhana.
Saya tetap menyayangi kakak saya.
Saya tetap membantu ketika dia benar-benar membutuhkan jalan keluar.
Tetapi saya tidak lagi menganggap pertanyaan sebagai bentuk ketidakpercayaan.
Karena kalau seseorang meminta hampir seluruh tabungan keluarga saya, saya berhak tahu ke mana uang itu pergi.
Termasuk ketika orang itu adalah kakak saya sendiri.
