SAAT AKU KEHILANGAN BAYI KAMI, SUAMIKU MEMILIH RAPAT—SEBULAN KEMUDIAN DIA PANIK KARENA AKU BERHENTI MENGEJARNYA DAN MULAI MEMBUKA DOKUMEN LAMA

 

 

BAGIAN 1

“Pak Arga bilang Ibu sebaiknya fokus memulihkan kondisi. Beliau sedang menghadapi rapat yang tidak bisa ditinggalkan.”

Sinta meletakkan sebuah kartu bank di meja kecil di samping ranjangku.

Aku menatap kartu itu.

“Berapa?”

“Rp500 juta.”

Aku sempat mengira aku salah dengar.

“Untuk apa?”

Sinta tampak tidak nyaman.

“Pak Arga bilang gunakan untuk semua kebutuhan Ibu.”

Pagi itu aku baru kehilangan anak pertama kami.

Dan suamiku mengirim sekretaris serta kartu bank.

Bukan dirinya.

Sebelum tindakan medis dilakukan, aku sudah menelepon Arga lima kali.

Pesan terakhirku sederhana.

【Arga, dokter bilang kehamilan ini tidak bisa dipertahankan. Aku sendirian.】

Pesan itu sudah dibaca.

Aku tahu karena tanda di aplikasi berubah beberapa menit kemudian.

“Dia tahu kondisiku sebelum rapat dimulai?” tanyaku.

Sinta tidak langsung menjawab.

Aku menatapnya.

“Sinta.”

“Iya.”

“Dia tahu?”

“Iya, Bu.”

Aku memalingkan wajah.

Aneh.

Selama tiga tahun menikah, aku selalu punya alasan untuk Arga.

Dia sibuk.

Perusahaannya sedang berkembang.

Investor menuntut banyak hal.

Dia sedang tertekan.

Dia bukan lelaki yang pandai menunjukkan perhatian.

Aku terus mengulang alasan itu sampai akhirnya aku sendiri mempercayainya.

Hari itu semuanya terasa sangat sederhana.

Arga memang bisa menentukan prioritas.

Aku hanya tidak pernah berada di bagian atas daftar itu.

Dua hari kemudian aku keluar dari rumah sakit.

Aku memesan mobil sendiri.

Saat melewati kawasan Sudirman, mobil berhenti karena lampu merah.

Di layar besar gedung Wibisana Labs, wawancara Arga sedang diputar.

Reporter bertanya tentang kehidupan seorang pendiri perusahaan.

Arga tersenyum.

“Orang dewasa harus bisa memisahkan masalah pribadi dari tanggung jawab profesional.”

Aku melihat wajahnya beberapa detik.

Lalu aku menutup jendela mobil.

Baiklah.

Aku juga akan belajar melakukan hal yang sama.

Sampai di apartemen kami di Kuningan, aku membuka lemari.

Aku memindahkan pakaianku ke kamar tamu.

Aku berhenti mengatur jadwal laundry untuk kemeja Arga.

Menghapus alarm pukul sebelas malam yang biasanya kupasang agar aku terbangun ketika dia pulang.

Menghapus pengingat makan malam.

Menghapus daftar vitamin yang dulu selalu kubelikan.

Lalu aku membuka laptop.

Sudah hampir empat tahun sejak aku meninggalkan Nusa Advisory.

Dulu aku bekerja sebagai konsultan strategi di sana.

Aku berhenti beberapa bulan setelah menikah karena Arga sedang membangun perusahaan dan hampir setiap minggu berkata dia membutuhkan bantuanku.

Aku membantu membuat proyeksi keuangan.

Menyusun presentasi investor.

Mengecek kontrak.

Menemani pertemuan.

Ketika Wibisana Labs mulai stabil, pekerjaanku perlahan dianggap tidak pernah ada.

Malam itu aku memperbarui CV.

Pukul sembilan lewat dua puluh, pintu utama terbuka.

Arga masuk.

Aku sedang makan bubur di meja makan.

Dia berhenti.

Biasanya aku langsung mengambil tasnya.

Malam itu aku tetap memegang sendok.

“Kamu dengar aku pulang?”

“Dengar.”

“Kenapa diam saja?”

Aku menatapnya.

“Kamu bisa taruh tasmu sendiri.”

Alisnya mengeras.

Dia duduk di depanku.

“Kondisimu?”

“Lebih baik.”

“Aku sudah bilang waktu itu ada investor penting.”

“Iya.”

“Aku tidak punya pilihan.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Dia menatapku cukup lama.

Mungkin dia menunggu pertengkaran.

Dulu aku pasti menangis.

Bertanya kenapa rapat lebih penting.

Bertanya kenapa Sinta yang datang.

Bertanya kenapa dia tidak menelepon setelah semuanya selesai.

Tapi aku sudah terlalu lelah meminta jawaban yang sebenarnya sudah kutahu.

“Ninda.”

Aku berdiri membawa mangkuk.

“Sampai kapan kamu mau menghukumku?”

Aku berhenti.

“Aku tidak menghukummu.”

“Lalu ini apa?”

“Berhenti berharap.”

Dia tidak menjawab.

Malam itu aku tidur di kamar tamu.

Keesokan paginya dia berdiri di depan kamar sambil melihat dua koper kecil di lantai.

“Kamu mau pergi?”

“Belum.”

“Lalu kenapa barangmu dipindahkan?”

Aku memasukkan laptop ke tas.

“Enam bulan lalu kamu bilang melihatku terus di rumah membuatmu sesak.”

Wajahnya berubah.

Dia mengingatnya.

Malam itu dia pulang hampir pukul dua pagi.

Aku bertanya kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi.

Arga menjawab dengan dingin,

“Jangan bertingkah seolah kamu sepenting itu dalam hidupku.”

Saat itu aku menangis sampai pagi.

Sekarang aku hanya mengambil charger.

Arga mengikuti ke dapur.

“Kopi?”

Aku menunjuk mesin.

“Buat sendiri.”

“Kamu serius?”

“Mesinnya masih sama.”

Dia menarik kursi dengan keras.

Aku tetap sarapan.

“Ninda, sebenarnya kamu mau apa?”

Aku berpikir beberapa detik.

“Aku belum tahu.”

“Jangan main permainan seperti ini.”

“Aku tidak sedang bermain.”

Ponselku berbunyi.

Sebuah email masuk.

Nusa Advisory.

Permohonan wawancaraku diterima.

Aku menutup layar sebelum Arga melihatnya.

Saat dia pergi, aku kembali ke kamar utama untuk mengambil beberapa dokumen lama.

Di bagian paling bawah laci meja kerja Arga ada satu map abu-abu.

Aku mengenalnya.

Dokumen pendirian awal Wibisana Labs.

Aku hampir menutup laci lagi.

Lalu sebuah kertas terlepas dari map.

Namaku tercetak di sana.

Dinda Prameswari.

Di bawahnya tertulis:

PERSETUJUAN PENJAMINAN ASET PASANGAN.

Aku membaca halaman pertama.

Lalu halaman kedua.

Apartemen kami tercantum sebagai salah satu jaminan fasilitas pembiayaan perusahaan senilai Rp12 miliar.

Ada tanda tangan di bawah namaku.

Tanganku langsung dingin.

Karena aku tahu satu hal dengan pasti.

Aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.

Dan tanggalnya tercatat tiga bulan lalu.

Aku memotret setiap halaman.

Lalu aku menemukan dokumen lain tepat di belakangnya.

Daftar pemegang saham lama Wibisana Labs.

Namaku juga masih ada di sana.

Sebesar 15 persen.

Aku duduk perlahan di kursi.

Selama tiga tahun aku mengira saham itu sudah kupindahkan kepada Arga ketika perusahaan mendapat investor pertama.

Tapi dokumen di tanganku menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Yang pernah kutandatangani ternyata hanya kuasa pengelolaan suara.

Bukan pengalihan kepemilikan.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Arga.

【Malam ini jangan buat masalah. Investor Singapura datang makan malam.】

Aku membaca pesan itu.

Lalu kembali melihat namaku pada dokumen.

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah sakit, aku merasa pikiranku benar-benar jernih.

Aku tidak akan mengejarnya lagi.

Aku akan mencari tahu apa sebenarnya yang sudah dilakukan suamiku selama aku sibuk mempertahankan pernikahan kami.

Bersambung…

BAGIAN 2

Aku tidak langsung menelepon Arga.

Aku juga tidak bertanya tentang dokumen itu.

Dulu aku selalu melakukan kesalahan yang sama.

Begitu menemukan sesuatu yang membuatku takut, aku langsung mendatanginya dan meminta penjelasan.

Arga hanya perlu bicara dengan tenang selama lima menit, lalu aku mulai mempertanyakan pikiranku sendiri.

Kali ini aku melakukan hal berbeda.

Aku mengirim semua foto dokumen ke email pribadiku.

Kemudian kusimpan salinan lain di penyimpanan daring.

Setelah itu aku menelepon satu orang yang sudah hampir empat tahun tidak pernah kuhubungi.

“Mbak Ratih?”

Suara di seberang terdengar ragu.

“Ninda?”

“Iya.”

“Ya ampun. Kamu ke mana saja?”

Aku hampir tertawa.

“Panjang.”

Ratih dulu atasanku di Nusa Advisory.

Dia orang yang mengajariku satu hal penting dalam pekerjaan: jangan bereaksi sebelum memiliki data.

Aku baru memahami kegunaan kalimat itu dalam pernikahanku.

“Aku lihat lamaranmu masuk,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamu serius mau kembali?”

“Iya.”

“Datang besok jam sepuluh.”

Aku terdiam sebentar.

“Mbak, aku juga butuh rekomendasi pengacara korporasi.”

Nada suaranya langsung berubah.

“Masalah perusahaan Arga?”

“Aku belum tahu.”

“Kalau belum tahu, jangan cerita banyak lewat telepon. Aku kirim nomor seseorang.”

Lima menit kemudian aku menerima kontak seorang pengacara bernama Reza Santoso.

Aku membuat janji siang hari.

Malamnya investor Arga benar-benar datang ke apartemen.

Tiga orang.

Dua dari Singapura dan seorang penasihat lokal.

Aku baru keluar kamar ketika mereka sudah duduk.

Arga melihatku.

“Kenapa baru keluar?”

“Aku sedang istirahat.”

Dia mendekat.

“Aku sudah bilang malam ini penting.”

“Aku tahu.”

“Ganti pakaian. Temani makan.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Wajahnya berubah.

Salah satu tamu melihat ke arah kami.

Arga merendahkan suara.

“Ninda.”

“Aku baru keluar dari rumah sakit beberapa hari lalu.”

“Kamu cuma perlu duduk satu jam.”

“Tidak.”

Dia menatapku lama.

“Nanti kita bicara.”

Aku kembali ke kamar tamu.

Dulu aku pasti memaksakan diri keluar.

Aku akan tersenyum.

Menyediakan teh.

Mengingat siapa yang tidak makan pedas.

Bahkan mungkin ikut membantu Arga menjelaskan bisnisnya.

Karena aku selalu takut jika tidak berguna, dia akan semakin menjauh.

Sekarang ketakutanku berbeda.

Aku takut menyadari berapa banyak hidupku yang sudah kuhabiskan untuk menjaga seseorang yang tidak pernah menjaga apa pun untukku.

Keesokan harinya aku datang ke kantor Nusa Advisory.

Ratih menatapku dari seberang meja.

“Kamu lebih kurus.”

“Aku baru melewati masa sulit.”

Dia tidak memaksa bertanya.

Itu salah satu alasan aku selalu menghormatinya.

Dia membuka CV-ku.

“Kamu berhenti hampir empat tahun. Tapi sebelum berhenti, performamu bagus.”

“Aku masih mengikuti perkembangan industri.”

“Kamu juga membantu Wibisana Labs dari awal, kan?”

Aku mengangkat kepala.

“Dulu.”

“Justru itu menarik.”

Aku diam.

Ratih melihatku.

“Ninda, aku tidak akan menempatkanmu di proyek apa pun yang berhubungan dengan perusahaan suamimu. Konflik kepentingan.”

“Aku mengerti.”

“Kamu siap mulai lagi dari posisi senior consultant, bukan manager?”

“Siap.”

“Gajinya tidak seperti empat tahun kalau kamu bertahan.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku tidak sedang mengejar jabatan.”

“Apa yang kamu kejar?”

Aku berpikir sebentar.

“Hidup yang kalau rusak, aku tahu cara memperbaikinya sendiri.”

Ratih tidak mengatakan apa-apa.

Dia hanya menutup CV.

“Mulai Senin.”

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, aku pulang membawa kabar baik yang tidak ingin kuceritakan kepada suamiku.

Hari itu juga aku bertemu Reza.

Dia membaca dokumen yang kubawa.

“Bu Dinda benar-benar tidak pernah menandatangani persetujuan ini?”

“Tidak.”

“Pernah memberi kuasa umum?”

“Tidak untuk menjaminkan apartemen.”

“Ini apartemen milik siapa?”

“Dibeli setelah menikah. Cicilan awal sebagian dari tabunganku, lalu kami bayar bersama.”

Reza mengangguk.

“Jangan hubungi bank dulu.”

“Kenapa?”

“Kita perlu tahu dokumen mana yang asli, mana salinan, dan siapa yang menyerahkan. Jangan sampai setelah Ibu bertanya, semua orang langsung menyiapkan jawaban.”

Aku menunjuk daftar pemegang saham.

“Bagaimana yang ini?”

Dia membacanya lama.

“Apakah Ibu pernah menandatangani akta penjualan saham?”

“Aku ingat menandatangani dokumen di depan notaris, tapi Arga bilang itu pengaturan hak suara menjelang masuk investor.”

“Punya salinan?”

“Tidak.”

“Cari.”

Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.

Arga belum ada di rumah.

Aku membuka kotak dokumen lama milikku.

Satu jam.

Dua jam.

Aku menemukan tagihan rumah sakit lama, polis, dokumen apartemen, bahkan kuitansi furnitur.

Tidak ada akta saham.

Pukul delapan, Arga pulang.

Dia melihatku duduk dengan banyak map.

“Kamu sedang apa?”

“Beres-beres.”

“Kamu belakangan aneh.”

Aku menutup satu map.

“Aku mulai kerja Senin.”

Dia berhenti melepaskan jam tangan.

“Kerja?”

“Iya.”

“Di mana?”

“Nusa Advisory.”

Arga tertawa pendek.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Kamu sudah hampir empat tahun tidak bekerja.”

“Mereka tetap menerima.”

“Kenapa kamu tidak bicara dulu denganku?”

Aku menatapnya.

“Aku tidak butuh izin.”

“Aku suamimu.”

“Iya.”

“Jadi keputusan seperti ini harus dibicarakan.”

Aku hampir ingin bertanya apakah tidak datang ke rumah sakit juga keputusan yang seharusnya dibicarakan.

Tapi aku menahannya.

Aku tidak membutuhkan pertengkaran.

Aku membutuhkan informasi.

“Aku cuma kembali bekerja.”

“Untuk apa? Kurang uang?”

“Bukan.”

“Jadi?”

“Karena aku mau.”

Kalimat itu membuatnya lebih marah daripada semua jawaban panjang yang pernah kuberikan.

Hari-hari berikutnya berubah.

Aku bangun pukul enam.

Berangkat pukul tujuh lewat.

Pulang sekitar tujuh malam.

Aku makan sendiri jika lapar.

Mencuci pakaianku sendiri.

Mengatur urusanku sendiri.

Aku tidak lagi bertanya Arga pulang jam berapa.

Tidak mengecek lokasi.

Tidak mengirim pesan ketika dia terlambat.

Tidak menanyakan apakah dia sudah makan.

Minggu pertama dia menikmati semuanya.

Minggu kedua dia mulai terganggu.

Hari Selasa dia menelepon pukul sembilan malam.

“Kamu di mana?”

“Kantor.”

“Masih?”

“Ada pekerjaan.”

“Pulang.”

“Aku belum selesai.”

“Aku bilang pulang.”

Aku melihat layar beberapa detik.

“Kalau tidak ada hal penting, aku tutup.”

“Ninda.”

Aku menutup telepon.

Saat sampai apartemen pukul sepuluh, Arga sedang duduk di ruang keluarga.

“Kamu sengaja?”

“Sengaja apa?”

“Bikin aku menunggu.”

Aku membuka sepatu.

“Aku tidak pernah menyuruhmu menunggu.”

“Aku belum makan.”

“Ada aplikasi pesan makanan.”

Dia berdiri.

“Kamu sudah keterlaluan.”

Aku memandangnya.

Satu bulan lalu kalimat seperti itu akan membuatku panik.

Sekarang tidak.

“Arga, kamu sendiri yang mengajariku kalau orang dewasa harus mengatur kebutuhan masing-masing.”

Dia langsung diam.

Aku masuk kamar.

Malam itu aku mendengar dia berjalan beberapa kali di depan pintu kamar tamu.

Dia tidak mengetuk.

Tiga hari kemudian Reza menelepon.

“Kami dapat salinan akta lama.”

Aku langsung keluar dari ruang rapat.

“Hasilnya?”

“Benar. Ibu tidak pernah menjual saham 15 persen itu.”

Aku menahan napas.

“Jadi aku masih pemilik?”

“Secara dokumen pendirian dan perubahan yang kami temukan, iya.”

“Kenapa namaku tidak pernah disebut lagi?”

“Ada surat kuasa voting selama lima tahun.”

“Aku ingat itu.”

“Surat itu memberi Pak Arga hak menggunakan suara Ibu dalam keputusan pemegang saham tertentu. Tapi kepemilikannya tetap atas nama Ibu.”

Aku menyandarkan punggung ke dinding.

“Arga tahu?”

“Sulit membayangkan direktur utama tidak tahu struktur kepemilikan perusahaannya sendiri.”

Aku menutup mata.

Tiba-tiba semua hal kecil terasa berbeda.

Tiga tahun terakhir Arga selalu mengatakan perusahaan itu miliknya.

Ketika perusahaan mendapat pendanaan, aku tidak pernah diundang.

Ketika ada pembagian keuntungan, aku tidak pernah diberi laporan.

Ketika aku bertanya soal saham lama, dia mengatakan semuanya sudah berubah setelah investor masuk.

Aku mempercayainya.

“Bagaimana dengan apartemen?”

“Kami masih cek.”

“Reza.”

“Iya?”

“Jangan hubungi Arga dulu.”

“Saya memang tidak akan melakukannya tanpa persetujuan Ibu.”

Setelah telepon selesai, aku kembali bekerja.

Aku tidak menangis.

Aku justru merasa malu pada diriku sendiri.

Bukan karena pernah mempercayai suamiku.

Tapi karena selama ini aku mengira cinta berarti tidak perlu memeriksa apa pun.

Sore itu Sinta mengirim pesan.

【Bu Dinda, apakah saya bisa bertemu sebentar? Jangan beri tahu Pak Arga.】

Aku membaca pesan itu dua kali.

Kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat Setiabudi.

Sinta datang membawa tas laptop.

Dia terlihat lebih gugup daripada saat datang ke rumah sakit.

“Kenapa?”

Dia tidak langsung menjawab.

“Saya mau minta maaf.”

“Karena kartu bank?”

Dia menatap meja.

“Bukan cuma itu.”

Aku diam.

“Uang Rp500 juta itu bukan ide saya.”

“Aku tahu.”

“Bukan juga dari rekening pribadi Pak Arga.”

Aku langsung menatapnya.

“Dari mana?”

“Rekening perusahaan.”

Dadaku terasa sesak.

“Untuk apa dicatat?”

Sinta membuka laptop.

Dia tidak menyerahkannya, hanya memutar layar sedikit.

Ada laporan transaksi.

Rp500.000.000.

Penerima: Dinda Prameswari.

Keterangan internal:

Settlement — Founder Personal Claim.

Aku membaca kalimat itu pelan.

“Apa maksudnya?”

“Saya tidak tahu awalnya.”

“Sekarang?”

Sinta menarik napas.

“Tim legal sedang menyiapkan due diligence untuk investor baru. Ada pertanyaan tentang 15 persen saham atas nama Ibu.”

Aku tidak bergerak.

“Lanjut.”

“Pak Arga bilang masalah itu sudah selesai secara pribadi.”

“Dengan Rp500 juta?”

Sinta mengangguk.

“Tapi aku tidak pernah setuju menjual sahamku.”

“Saya tahu.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Karena dua minggu lalu saya diminta menyiapkan surat pengakuan pembayaran.”

“Surat apa?”

Sinta membuka sebuah file.

Namaku ada di sana.

Isinya menyatakan bahwa aku menerima Rp500 juta sebagai penyelesaian penuh atas seluruh hak ekonomi masa lalu yang berkaitan dengan Wibisana Labs.

Di bagian bawah tersedia tempat tanda tangan.

Kosong.

Aku menatapnya.

“Dia mau aku menandatangani ini?”

“Awalnya iya.”

“Kenapa tidak pernah diberikan?”

Sinta menelan ludah.

“Karena setelah saya datang ke rumah sakit, saya tidak sanggup.”

Aku bersandar.

Jadi kartu yang diletakkan di samping ranjangku bukan sekadar bentuk ketidakpedulian.

Uang itu sedang disiapkan untuk kepentingan lain.

“Kenapa kamu baru bicara sekarang?”

Sinta tampak hampir menangis, tetapi suaranya tetap pelan.

“Karena kemarin Pak Arga meminta tim legal mencari cara supaya dokumen itu dianggap sudah disetujui melalui transaksi.”

Aku langsung mengambil ponsel.

“Aku butuh salinan.”

“Saya tidak bisa mengirim dokumen internal sembarangan.”

“Aku mengerti.”

“Tapi pengacara Ibu bisa meminta secara resmi.”

Aku mengangguk.

“Sinta.”

“Iya?”

“Apakah kamu dan Arga punya hubungan pribadi?”

Dia terlihat sangat terkejut.

“Tidak.”

Aku diam.

“Bu, saya tahu Ibu mungkin mengira—”

“Aku cuma bertanya.”

“Tidak pernah.”

“Parfum yang sering tercium dari jasnya?”

Sinta menggeleng.

“Saya tidak tahu.”

Aneh.

Sebulan lalu jawaban itu mungkin akan menguasai pikiranku.

Sekarang aku justru menyadari sesuatu.

Aku sudah tidak terlalu peduli apakah ada perempuan lain atau tidak.

Masalah kami ternyata jauh lebih besar dari itu.

Malamnya aku pulang.

Arga sedang berdiri di dapur.

Di meja ada makanan dari restoran favoritku.

“Ninda.”

Aku meletakkan tas.

“Ada apa?”

“Kita makan.”

“Aku sudah makan.”

Dia terlihat kecewa.

“Aku pesan semuanya buat kamu.”

“Terima kasih.”

Aku berjalan melewatinya.

Tangannya menahan pintu kamar.

“Aku mau bicara.”

“Bicara.”

“Aku tahu beberapa minggu terakhir berat.”

Aku menatapnya.

“Aku salah waktu tidak datang ke rumah sakit.”

Itu pertama kalinya dia mengatakan kalimat itu.

Dulu aku mungkin langsung luluh.

Sekarang aku justru bertanya-tanya kenapa dia baru mengatakannya setelah aku berhenti mengejarnya.

“Aku seharusnya datang.”

“Iya.”

“Aku panik.”

“Kamu sedang rapat.”

“Rapat itu benar-benar penting.”

Aku hampir tertawa.

Bahkan dalam permintaan maaf, dia masih butuh membela dirinya.

“Aku akan memperbaiki semuanya.”

“Bagaimana?”

Dia mendekat.

“Kita liburan. Bali. Atau Jepang. Kamu pilih.”

“Aku tidak butuh liburan.”

“Lalu apa?”

Aku menatap matanya.

“Kejujuran.”

Wajahnya berubah sedikit.

Aku melanjutkan.

“Apakah ada sesuatu tentang perusahaan yang harus kamu ceritakan kepadaku?”

Hening.

Hanya beberapa detik.

Tapi cukup.

“Apa maksudmu?”

“Pertanyaan sederhana.”

“Perusahaan baik-baik saja.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

Arga menatapku lebih tajam.

“Kamu bicara dengan siapa?”

Aku tersenyum tipis.

Itulah jawaban sebenarnya.

Bukan “tidak ada”.

Bukan “apa yang kamu khawatirkan?”

Tapi:

Kamu bicara dengan siapa?

“Aku capek.”

Aku masuk kamar dan mengunci pintu.

Besok paginya Reza menelepon lagi.

Kabar soal jaminan apartemen sudah ditemukan.

Dokumen yang memakai tanda tanganku bukan bagian dari berkas bank yang sudah disetujui.

Itu masih rancangan yang disiapkan untuk fasilitas pembiayaan baru.

Artinya aset kami belum terikat.

Aku merasa sedikit lega.

“Tapi ada masalah lain,” kata Reza.

“Apa?”

“Perusahaan membutuhkan persetujuan pemegang saham untuk transaksi pendanaan tertentu.”

“Dan?”

“Dengan komposisi sekarang, suara 15 persen Ibu bisa menentukan apakah beberapa keputusan mendapatkan ambang persetujuan yang diperlukan.”

Aku akhirnya mengerti.

Arga tidak sekadar menyembunyikan saham itu karena uang.

Dia membutuhkan kendali atas suaraku.

“Investor baru?”

“Besar kemungkinan.”

Siang itu aku menerima surat resmi.

Rapat Umum Pemegang Saham luar biasa Wibisana Labs.

Tiga hari lagi.

Namaku tercantum sebagai pemegang 15 persen saham.

Undangan itu dikirim setelah Reza secara resmi meminta klarifikasi status kepemilikanku.

Pukul empat sore Arga menelepon.

Aku sedang duduk di ruang rapat.

“Keluar.”

“Aku sedang kerja.”

“Ini penting.”

“Tunggu satu jam.”

“Ninda!”

Aku mematikan suara ponsel.

Ketika pulang, Arga sudah menunggu.

Undangan rapat ada di tangannya.

“Kamu menggunakan pengacara?”

“Iya.”

“Untuk apa?”

“Memastikan hakku.”

“Kita suami istri.”

“Benar.”

“Kenapa harus membawa orang luar?”

Aku meletakkan tas.

“Karena selama tiga tahun aku bertanya kepadamu dan tidak mendapat jawaban.”

“Jawaban apa?”

“Lima belas persen sahamku.”

Arga diam.

Aku melanjutkan.

“Rp500 juta dari rekening perusahaan.”

Wajahnya langsung pucat.

“Surat penyelesaian hak ekonomi.”

“Ninda, dengar dulu.”

“Dokumen persetujuan jaminan apartemen.”

Dia tidak berkata apa-apa.

Aku merasa aneh melihatnya begitu.

Selama tiga tahun, aku selalu orang yang panik ketika hubungan kami bermasalah.

Malam itu Arga yang kehilangan ketenangan.

“Siapa yang memberitahumu?”

“Masih penting?”

“Sinta?”

Aku tidak menjawab.

Dia berjalan ke arah jendela lalu kembali.

“Semua itu bisa dijelaskan.”

“Jelaskan.”

“Saham itu memang masih atas namamu secara administratif.”

“Bukan administratif. Aku pemiliknya.”

“Ninda, kamu tidak pernah ikut menjalankan perusahaan.”

Aku hampir tidak percaya.

“Siapa yang membuat model bisnis pertama?”

Dia diam.

“Siapa yang menyusun proyeksi lima tahun pertama?”

“Ninda—”

“Siapa yang menemani presentasi ke tiga calon investor pertama?”

“Itu dulu.”

“Benar. Itu dulu. Lalu setelah perusahaan berhasil, kamu bilang aku tidak pernah berkontribusi.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Kamu baru saja bilang.”

Dia mengusap wajah.

“Investor baru tidak suka struktur saham yang rumit.”

“Jadi kamu menyederhanakannya tanpa bicara denganku?”

“Aku berniat menyelesaikan semuanya.”

“Dengan Rp500 juta?”

“Itu angka awal.”

Aku menatapnya.

Akhirnya semuanya keluar.

Bukan karena dia lupa.

Bukan karena kesalahan administrasi.

Dia memang berniat membeli hakku dengan angka yang ditentukan sendiri.

“Kamu mengirim uang itu di hari aku berada di rumah sakit.”

Arga membeku.

“Aku tidak memikirkan waktunya.”

“Itulah masalahnya.”

Dia mendekat.

“Ninda, dengar. Kalau transaksi ini selesai, nilai perusahaan bisa naik drastis. Aku bisa memberi kamu lebih banyak.”

“Aku tidak sedang meminta hadiah dari suamiku.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu.”

Aku mengambil undangan rapat.

“Tiga tahun aku mengira masalah terbesar kita adalah kamu tidak mencintaiku dengan cukup baik.”

Arga memandangku.

“Ternyata masalah sebenarnya lebih sederhana.”

“Apa?”

“Kamu tidak pernah menganggapku setara.”

Aku masuk kamar.

Tiga hari kemudian aku menghadiri rapat pemegang saham.

Arga duduk di ujung meja.

Ada investor.

Tim legal.

Dua anggota direksi lain.

Perwakilan pemegang saham lama.

Aku datang bersama Reza.

Semua orang sopan.

Tidak ada adegan besar.

Tidak ada suara tinggi.

Justru itu membuat Arga semakin gelisah.

Agenda utama adalah persetujuan pendanaan baru dan restrukturisasi beberapa saham.

Ketika bagian hak suara dibahas, kuasa voting yang pernah kuberikan kepada Arga menjadi topik.

Reza berdiri.

“Klien kami mencabut kuasa tersebut efektif hari ini sesuai ketentuan yang berlaku.”

Arga langsung menoleh.

“Ninda.”

Aku tidak melihatnya.

Rapat berlanjut.

Aku tidak menolak pendanaan.

Aku tidak ingin merusak perusahaan.

Aku hanya meminta dokumen yang benar.

Penilaian saham independen.

Laporan keuangan yang bisa kuakses sebagai pemegang saham.

Dan tidak ada transaksi atas namaku tanpa persetujuanku.

Investor justru menyetujui.

Salah satu dari mereka berkata singkat,

“Governance yang jelas lebih baik untuk semua pihak.”

Arga tidak bisa membantah.

Setelah rapat selesai, dia mengejarku ke lobi.

“Kamu sengaja mempermalukanku.”

Aku berhenti.

“Aku tidak mengatakan apa pun tentang pernikahan kita.”

“Kamu datang dengan pengacara.”

“Karena ini urusan bisnis.”

Kalimat itu membuatnya diam.

Aku mengenal kalimat itu.

Itu versi lain dari kata-katanya sendiri.

Malamnya Arga tidak pulang.

Aku tidak menelepon.

Besoknya juga tidak.

Hari ketiga, ibunya menghubungiku.

“Ninda, kamu dan Arga bertengkar?”

“Ada beberapa hal yang sedang kami selesaikan, Bu.”

“Dia dua malam tidur di kantor.”

“Oh.”

“Kamu tidak mencarinya?”

“Tidak.”

Ibu Arga terdiam.

Dulu seluruh keluarga tahu satu hal.

Kalau Arga pergi, aku akan menjadi orang pertama yang panik.

Sekarang tidak.

Satu minggu kemudian Arga berdiri di depan pintu kamar tamu pukul sebelas malam.

“Ninda.”

Aku sedang membaca laporan.

“Apa?”

“Aku takut.”

Aku menutup laptop.

Itu pertama kalinya aku mendengar dia mengakuinya.

“Takut apa?”

“Kamu benar-benar pergi.”

Aku tidak menjawab.

“Aku pikir kamu cuma marah.”

“Aku memang pernah marah.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku sedang membuat keputusan.”

Dia duduk di kursi dekat pintu.

“Aku tidak punya hubungan dengan Sinta.”

“Aku sudah tahu.”

Dia tampak kaget.

“Kamu tidak mau tanya soal parfum itu?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena itu bukan lagi bagian terpenting.”

Wajahnya jatuh.

Aneh.

Selama bertahun-tahun dia terlihat terganggu setiap kali aku cemburu.

Sekarang saat aku berhenti peduli, justru itu yang paling menakutkannya.

“Aku memang sering makan malam dengan tim dan investor,” katanya. “Ada beberapa perempuan di sana. Tapi tidak pernah ada hubungan seperti yang kamu pikirkan.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

“Ninda, jangan jawab ‘baik’ seperti itu.”

“Mau aku jawab apa?”

Dia menatapku.

“Aku ingin kamu marah.”

Aku benar-benar tertawa kali ini.

“Kenapa?”

“Karena dulu kalau kamu marah, setidaknya aku tahu kamu masih peduli.”

Aku menatap Arga cukup lama.

“Aku masih peduli.”

Dia langsung terlihat lega.

“Tapi peduli tidak berarti aku harus tetap hidup seperti dulu.”

Kelegaannya hilang.

Aku kemudian menyerahkan sebuah amplop.

Arga membukanya.

Bukan dokumen perceraian.

Belum.

Itu surat dari mediator perkawinan.

“Aku memberi kita satu kesempatan untuk bicara dengan orang netral.”

Dia membaca surat itu.

“Kalau aku ikut?”

“Kita lihat.”

“Kalau aku tidak ikut?”

“Aku tetap lanjut dengan keputusan hidupku.”

Untuk pertama kalinya, Arga tidak berdebat.

Dia datang ke sesi pertama.

Lalu sesi kedua.

Tidak ada perubahan ajaib.

Dia masih defensif.

Masih beberapa kali menyalahkan pekerjaannya.

Masih mencoba mengatakan bahwa semua keputusan soal saham dibuat demi perusahaan.

Tapi sekarang setiap kali dia mengalihkan topik, aku berhenti mengejarnya.

Aku tidak lagi mencoba meyakinkannya untuk memahami rasa sakitku.

Itu pekerjaannya sendiri.

Sebulan setelah aku kembali bekerja, aku mendapat kabar dari Ratih.

“Ninda, ada sesuatu yang lucu.”

“Apa?”

“Tim regional minta kamu masuk proyek baru.”

“Proyek apa?”

“Restrukturisasi tata kelola perusahaan teknologi.”

Aku langsung menggeleng.

“Kalau Wibisana Labs, aku tidak bisa.”

“Bukan.”

Aku lega.

Ratih tersenyum.

“Kliennya salah satu calon investor yang sempat mundur dari Wibisana Labs tahun lalu.”

Aku diam.

“Kenapa mundur?”

“Masalah transparansi pemegang saham.”

Aku merasakan sesuatu jatuh di perutku.

“Mbak…”

“Sebelum kamu berpikir macam-macam, namamu muncul di catatan mereka.”

“Namaku?”

Ratih membuka dokumen internal yang boleh kulihat sebagai bagian tim.

Catatan rapat dari hampir dua tahun lalu.

Di sana tertulis:

Founder spouse, Dinda Prameswari, listed 15% shareholder. Management stated she had agreed to transfer ownership, documentation pending.

Dua tahun lalu.

Jauh sebelum investor terakhir.

Jauh sebelum kartu Rp500 juta.

Artinya Arga sudah memberi kesan bahwa sahamku akan dipindahkan sejak lama.

Padahal dia tidak pernah membicarakannya denganku.

Aku pulang malam itu membawa satu pertanyaan terakhir.

Arga sedang di ruang makan.

Aku meletakkan salinan catatan yang sudah dibersihkan dari informasi rahasia perusahaan lain.

“Kapan pertama kali kamu berniat mengambil sahamku?”

Dia membaca.

Wajahnya berubah.

“Ninda, dari mana kamu dapat ini?”

“Jawab.”

Dia diam cukup lama.

“Dua tahun lalu.”

“Kenapa?”

“Karena investor bilang founder sebaiknya punya kendali yang jelas.”

“Kamu bisa bicara denganku.”

“Aku takut kamu menolak.”

Akhirnya.

Jawaban yang jujur.

“Kamu bahkan belum bertanya.”

“Aku tahu.”

“Jadi selama ini bukan karena kamu yakin aku tidak peduli pada perusahaan.”

Arga menunduk.

“Kamu justru tahu aku mungkin tidak setuju.”

“Iya.”

Aku duduk.

Ada satu hal lagi yang selama ini tidak kumengerti.

“Kenapa kamu begitu yakin aku akan tetap diam?”

Dia tidak menjawab.

Aku menunggu.

Akhirnya dia berkata pelan,

“Karena kamu selalu memilih pernikahan kita.”

Kalimat itu menyelesaikan semuanya.

Bukan investor.

Bukan Sinta.

Bukan kesibukan.

Arga melakukan semua itu karena dia tahu aku akan terus mengalah demi mempertahankan hubungan.

Dia menjadikan rasa sayangku sebagai jaminan bahwa aku tidak akan melawan.

Aku berdiri.

“Terima kasih.”

Dia terlihat bingung.

“Untuk apa?”

“Karena akhirnya kamu jujur.”

“Ninda…”

“Aku sudah mengambil keputusan.”

Dia langsung berdiri.

“Apa?”

“Aku akan tetap mempertahankan sahamku sampai ada valuasi independen. Setelah itu aku akan memutuskan sendiri apakah menjual atau tetap menjadi pemegang saham pasif.”

Dia menunggu kelanjutannya.

“Dan tentang kita?”

Aku menatapnya.

“Aku akan pindah.”

“Ninda.”

“Bukan karena investor. Bukan karena perusahaan. Bukan karena Sinta.”

Dia terlihat semakin panik.

“Lalu karena apa?”

“Karena aku tidak ingin kembali menjadi perempuan yang harus takut berhenti mengejar suaminya.”

Dua minggu kemudian aku pindah ke apartemen kecil di Setiabudi.

Tidak semewah tempat kami dulu.

Tapi semua barang di sana kupilih sendiri.

Enam bulan setelah itu proses perpisahan kami selesai dengan tenang melalui jalur hukum.

Aku tidak mengambil perusahaan Arga.

Aku juga tidak memberinya sahamku dengan harga yang dia tentukan sendiri.

Setelah valuasi independen, sebagian sahamku dibeli investor dan sebagian kecil tetap kupegang.

Semua dilakukan dengan dokumen jelas.

Tidak ada lagi percakapan pribadi yang digunakan untuk menggantikan kesepakatan resmi.

Sinta keluar dari Wibisana Labs beberapa bulan kemudian dan pindah ke perusahaan lain.

Kami tidak menjadi sahabat.

Tapi suatu hari dia mengirim pesan.

【Bu Dinda, maaf saya baru berani bicara setelah semuanya terlambat.】

Aku menjawab:

【Tidak terlambat. Terima kasih sudah memilih jujur.】

Arga pernah datang menemuiku sekali setelah semuanya selesai.

Kami bertemu di kedai kopi dekat kantorku.

Dia terlihat lebih tenang.

“Aku baru ngerti sesuatu,” katanya.

“Apa?”

“Dulu aku pikir kamu akan selalu ada karena kamu terlalu mencintaiku.”

Aku menatapnya.

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku tahu orang bisa sangat mencintai seseorang dan tetap memilih pergi.”

Aku tidak menjawab.

Dia tersenyum tipis.

“Aku terlambat belajar.”

“Mungkin.”

“Kamu bahagia?”

Aku berpikir beberapa detik.

“Lebih tenang.”

Dia mengangguk.

Kami berpisah di depan kedai itu.

Tanpa pertengkaran.

Tanpa janji untuk kembali.

Saat berjalan menuju kantor, aku menyadari satu hal.

Hari paling penting dalam hidupku ternyata bukan hari ketika Arga akhirnya panik kehilangan aku.

Bukan juga hari ketika aku mengetahui saham itu masih milikku.

Hari yang benar-benar mengubah semuanya adalah hari ketika aku berhenti meminta seseorang memilihku.

Karena sejak hari itu, aku mulai memilih diriku sendiri.