AKU MENANGIS KARENA MENGIRA LIVIA SUDAH BERSUAMI, TAPI GELANG ENAM TAHUN LALU DI TANGAN KAILA MEMBUAT RAHASIA AYAH KANDUNGNYA TERBUKA DI DEPANKU DALAM SATU MALAM

 

 

BAGIAN 1

“Jadi… Livia sudah menikah?”

Aku menatap lembar data di tanganku sekali lagi.

“Bahkan punya anak?”

Bima berdiri di depan mejaku tanpa berani menjawab terlalu cepat.

Aku menunjuk satu bagian.

Nama ibu: Livia Pradana.

Nama ayah/wali: Fikri Pradana.

Aku membaca dua baris itu mungkin sampai sepuluh kali.

Tidak berubah.

“Pak Arga…”

“Diam dulu.”

Aku menjatuhkan punggung ke kursi.

Seharusnya pagi itu aku memimpin rapat proyek pukul sembilan.

Tapi sejak kemarin aku tidak bisa memikirkan apa pun selain Livia.

Beberapa minggu sebelumnya, dia masuk ke perusahaan sebagai manajer proyek baru.

Pertemuan pertama kami membuatku sulit bersikap normal.

Bukan karena Livia berusaha menarik perhatian.

Justru sebaliknya.

Dia bicara seperlunya.

Tidak mencari kesempatan duduk dekat denganku.

Tidak tertawa hanya karena aku direktur utama.

Dan semakin dia bersikap biasa, semakin aku ingin tahu tentang hidupnya.

Ada satu alasan lain yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun.

Wajah Livia terasa familiar.

Bukan seperti pernah melihatnya di media sosial.

Lebih dalam dari itu.

Kadang aku merasa pernah mendengar caranya tertawa.

Pernah melihat kebiasaan kecilnya menarik lengan baju ketika gugup.

Tetapi setiap kali mencoba mengingat, kepalaku berhenti pada kejadian enam tahun lalu yang tidak pernah benar-benar selesai.

Kemarin sore aku melihat Livia keluar dari kantor lebih cepat.

Aku kebetulan menuju parkiran.

Dia naik ojek lalu berhenti di sebuah taman kanak-kanak di Tebet.

Beberapa menit kemudian dia keluar bersama seorang anak perempuan.

Anak itu langsung memeluknya.

Aku tidak perlu bertanya.

Itu putrinya.

Aku pulang dengan perasaan aneh.

Pagi ini aku meminta Bima memastikan apakah Livia memang sudah berkeluarga.

Sekarang jawabannya ada di tanganku.

Fikri Pradana.

Aku mengembuskan napas panjang.

“Batalkan rapat.”

Bima terlihat ragu.

“Semua?”

“Semua.”

“Pak Arga, pukul sebelas ada investor dari Singapura.”

“Pindahkan.”

“Pukul dua ada—”

“Bima.”

Dia langsung diam.

Aku berdiri, tetapi kepalaku terasa ringan.

Aku memegang ujung meja.

“Pak?”

“Aku tidak apa-apa.”

Tiga menit kemudian aku duduk lagi.

Setengah jam setelah itu Bima memaksaku pergi ke rumah sakit karena tekanan tubuhku menurun.

Dokter mengatakan aku hanya kelelahan dan kurang tidur.

Masalahnya memang bukan tubuhku.

Aku merasa sangat bodoh.

Di kamar perawatan, aku menatap Bima.

“Dia punya suami.”

Bima mengangguk pelan.

“Datanya begitu.”

“Dan aku suka dia.”

Bima diam.

“Aku serius.”

“Saya tahu.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Bapak tiga kali mengganti jadwal rapat supaya bisa ikut presentasi Bu Livia.”

Aku menatapnya.

“Sebegitu jelas?”

“Lumayan.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku benar-benar ingin menangis karena urusan seperti ini.

Dan memang akhirnya aku menangis.

Bima menyerahkan tisu tanpa berkata apa-apa.

“Aku tidak boleh mengganggu keluarga orang.”

“Itu keputusan yang benar.”

Aku menatapnya tajam.

“Tapi kenapa kamu terdengar senang?”

“Saya cuma mendukung prinsip Bapak.”

Aku mengambil tisu lagi.

“Fikri itu seperti apa?”

Bima langsung mengangkat kedua tangan.

“Tidak. Saya tidak ikut bagian itu.”

“Aku cuma tanya.”

“Bapak baru lima menit lalu bilang tidak mau mengganggu keluarga orang.”

Aku tidak menjawab.

Menjelang sore aku tidak tahan lagi berada di rumah sakit.

Aku keluar masih memakai pakaian pasien dan sandal yang diberikan rumah sakit.

Ponselku mati.

Dompet ada pada Bima.

Aku hanya membawa sedikit uang tunai.

Entah keputusan macam apa yang kubuat saat itu, satu jam kemudian aku sudah berdiri di ujung kompleks rumah Livia di Tebet.

Aku menatap rumah dua lantai sederhana di seberang.

“Aku cuma ingin memastikan dia baik-baik saja.”

Aku mengatakan itu kepada diriku sendiri.

Aku tahu alasannya terdengar tidak masuk akal.

Pintu rumah terbuka.

Livia keluar sambil membawa kantong sampah.

Anak perempuan yang kulihat kemarin ikut di belakangnya.

“Kaila, jangan dekat jalan.”

“Iya, Mama.”

Kaila malah berjalan mundur sambil bercerita.

Pada saat bersamaan sebuah motor keluar dari gang.

Aku langsung bergerak.

“Kaila!”

Aku menarik tubuh kecil itu mendekat lalu kehilangan keseimbangan.

Kami jatuh di sisi jalan.

Motor itu lewat tanpa berhenti.

“ALUNA—”

Livia berhenti sesaat, lalu buru-buru memperbaiki ucapannya.

“KAILA!”

Aku sempat merasa aneh mendengar nama lain keluar dari mulutnya, tetapi belum sempat bertanya.

Livia berlari menghampiri.

“Kaila, kamu baik-baik saja?”

Kaila mengangguk.

“Iya, Ma.”

Lalu dia melihatku.

“Makasih, Om.”

Telapak tanganku lecet dan terasa panas.

Livia baru menyadari siapa aku.

“Pak Arga?”

Dia terlihat benar-benar bingung.

“Kenapa Bapak ada di sini?”

Aku menjawab hal pertama yang muncul di kepala.

“Tersesat.”

Livia melihat pakaian pasienku.

Kemudian melihat sandal rumah sakit.

Lalu kembali menatap wajahku.

“Tersesat sampai kompleks rumah saya?”

Aku tidak punya jawaban.

Livia menghela napas.

“Masuk dulu. Tangan Bapak harus dibersihkan.”

Aku berdiri perlahan.

Satu pertanyaan langsung muncul.

“Suamimu ada di rumah?”

Livia berhenti berjalan.

Wajahnya berubah.

“Kenapa Bapak bertanya begitu?”

Aku sadar pertanyaanku keterlaluan.

“Tidak. Maaf. Lupakan.”

Kami baru beberapa langkah menuju rumah ketika Kaila menarik lengan ibunya.

“Ma, Om ini kan yang di foto lama Mama—”

Livia langsung menutup mulut putrinya.

Aku berhenti.

“Foto apa?”

“Tidak ada.”

“Kaila baru saja bilang—”

“Anak kecil suka salah bicara.”

Kaila melepaskan tangan ibunya.

“Aku nggak salah.”

“Kaila.”

“Tapi memang Om ini.”

Jantungku mulai tidak tenang.

Livia cepat-cepat menggandeng putrinya.

Saat itulah mataku melihat sesuatu di pergelangan tangan Kaila.

Sebuah gelang perak tipis.

Ada gantungan kecil berbentuk kompas.

Aku tidak bergerak.

Aku tahu gelang itu.

Enam tahun lalu aku membelinya di sebuah toko kecil di Bandung.

Hanya ada satu.

Aku sendiri yang meminta bagian belakang gantungannya diberi ukiran dua huruf.

A.W.

Tanganku mulai dingin.

Aku menatap Livia.

Dia menyadari ke mana mataku melihat.

Wajahnya langsung pucat.

Aku menunjuk gelang itu.

“Dari mana Kaila mendapatkan gelang itu?”

Tidak ada jawaban.

“Kaila.”

Anak itu menatapku polos.

“Gelang itu punya siapa sebelumnya?”

Livia langsung berkata,

“Kaila, masuk rumah.”

Namun Kaila sudah menjawab.

“Punya Mama.”

Aku menatap Livia.

Kaila melanjutkan tanpa tahu apa yang sedang terjadi.

“Mama bilang dulu gelang ini dikasih sama ayahku.”

Aku tidak bisa bergerak.

Livia menutup mata beberapa detik.

Sedangkan aku hanya mampu menatap gelang enam tahun lalu yang sekarang melingkar di tangan seorang anak perempuan berusia lima tahun.

Dan malam itu, satu pertanyaan yang selama ini tidak pernah terpikirkan akhirnya muncul di kepalaku.

Kalau gelang itu memang berasal dariku…

siapa sebenarnya ayah Kaila?

BERSAMBUNG…

BAGIAN 2

Aku tidak masuk ke rumah.

Aku berdiri di teras sambil menatap Livia.

Dia menyuruh Kaila masuk lebih dulu.

“Kaila, cuci tangan. Mama menyusul.”

“Tapi Om Arga?”

“Om Arga sebentar saja.”

Kaila mengangguk lalu masuk.

Begitu pintu tertutup, aku langsung bertanya.

“Jelaskan.”

Livia berdiri membelakangiku.

“Bukan di sini.”

“Enam tahun lalu aku memberikan gelang itu kepada seseorang.”

Dia tidak menjawab.

“Kepada perempuan bernama Via.”

Bahu Livia terlihat menegang.

Nama itu membuat semuanya mulai masuk akal.

Enam tahun lalu aku berada di Bandung selama hampir dua bulan untuk membangun cabang pertama perusahaan.

Suatu sore aku datang ke acara komunitas kecil bersama teman.

Di sana aku bertemu seorang perempuan bernama Via.

Tidak ada nama belakang.

Tidak ada pembicaraan tentang keluarga.

Aku bahkan tidak pernah mengatakan bahwa ayahku pemilik grup usaha besar.

Baginya, aku hanya Arga.

Kami bertemu berkali-kali setelah itu.

Makan di warung.

Minum kopi.

Berjalan di sekitar Braga.

Aku menyukai hidup yang terasa normal saat bersamanya.

Aku baru sadar sekarang.

Livia adalah Via.

Usianya berbeda sedikit dari yang kuingat.

Rambutnya berubah.

Cara berpakaiannya berubah.

Tetapi wajah itu memang wajah yang sama.

Aku merasa bodoh karena tidak langsung mengenalinya.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Livia akhirnya berbalik.

“Karena tidak ada yang perlu dibicarakan.”

“Tidak ada?”

Aku menunjuk pintu.

“Kaila memakai gelang yang kuberikan kepadamu.”

Livia menelan ludah.

“Dan Kaila bilang gelang itu berasal dari ayahnya.”

Dia tetap diam.

Aku mendekat satu langkah.

“Livia.”

“Jangan bicara keras.”

“Aku bahkan tidak sedang bicara keras.”

“Kaila bisa mendengar.”

Aku menurunkan suara.

“Kalau begitu jawab pelan.”

Dia menatapku beberapa detik.

“Aku tidak bisa membahas ini malam ini.”

“Kenapa?”

“Karena kamu datang tanpa pemberitahuan, memakai pakaian rumah sakit, berdiri di rumahku, lalu tiba-tiba menanyakan anakku.”

Aku kehilangan kata-kata.

Dia benar.

Aku menarik napas.

“Oke.”

Aku duduk di kursi teras.

“Kita lakukan sesuai caramu.”

Livia terlihat sedikit lebih tenang.

“Tapi aku butuh satu jawaban.”

Dia menatapku.

“Fikri Pradana itu siapa?”

“Kakakku.”

Aku langsung berdiri.

“Kakak?”

“Iya.”

“Bukan suamimu?”

“Aku tidak punya suami.”

Aku tidak tahu ekspresi wajahku saat itu, tetapi Livia langsung menyilangkan tangan.

“Jangan senang dulu.”

“Aku tidak—”

“Kamu tersenyum.”

Aku buru-buru mengubah wajah.

“Kenapa data sekolah menulis Fikri sebagai ayah?”

“Formulir mereka memakai kolom ayah atau wali laki-laki. Aku mengisi nama Kak Fikri sebagai wali.”

Aku duduk lagi.

Semua penderitaan yang kurasakan sejak pagi tiba-tiba terasa sangat memalukan.

“Aku masuk rumah sakit gara-gara salah baca formulir?”

Livia mengerutkan dahi.

“Apa?”

“Tidak penting.”

Dia ingin masuk.

Aku langsung bertanya,

“Kaila lahir kapan?”

Livia berhenti.

Aku tidak membutuhkan kalkulator.

Enam tahun lalu aku bertemu Via.

Sekitar beberapa bulan kemudian kami kehilangan kontak.

Sekarang Kaila berusia lima tahun lebih.

Waktunya masuk.

Terlalu masuk.

Aku merasakan tenggorokanku kering.

“Livia…”

“Besok.”

“Aku ingin tahu sekarang.”

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

Dia menatapku tepat di mata.

“Karena selama lima tahun aku menjalani semuanya tanpa kamu. Jadi jangan datang satu malam lalu merasa punya hak mengatur kecepatan pembicaraan ini.”

Kalimat itu membuatku diam.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada kemarahan berlebihan.

Justru karena dia mengatakannya dengan tenang, aku merasa lebih bersalah.

Aku mengangguk.

“Besok.”

“Pukul delapan malam.”

“Di mana?”

“Aku akan kirim lokasi.”

Aku sempat berjalan dua langkah sebelum berbalik.

“Livia.”

“Apa lagi?”

“Apa aku ayah Kaila?”

Dia menatapku lama.

Kemudian menjawab,

“Aku dulu yakin kamu tidak ingin menjadi ayahnya.”

Pintu tertutup.

Aku berdiri sendirian di teras.

Jawaban itu lebih berat daripada kata iya atau tidak.

Bima menemukanku satu jam kemudian di minimarket dekat kompleks.

Dia masuk dengan wajah kesal.

“Pak Arga.”

Aku sedang duduk dengan segelas air mineral.

“Kenapa?”

“Kenapa?”

Dia menarik kursi.

“Satu rumah sakit mencari Bapak. Sopir mencari Bapak. Saya mencari Bapak. Ponsel Bapak mati.”

“Aku menemukan sesuatu.”

“Saya juga menemukan sesuatu.”

“Apa?”

“Kesabaran saya hampir habis.”

Aku mengabaikannya.

“Livia tidak punya suami.”

Bima berkedip.

“Serius?”

“Fikri itu kakaknya.”

Bima langsung mengambil ponselnya dan membuka foto data sekolah.

“Oh.”

Aku menatapnya.

“Cuma ‘oh’?”

“Kali ini saya memang salah.”

“Dan ada masalah lain.”

Aku menceritakan tentang gelang.

Tentang Via.

Tentang enam tahun lalu.

Tentang perkataan Livia.

Wajah Bima perlahan berubah serius.

“Pak…”

“Aku tahu.”

“Umur Kaila?”

“Lima tahun.”

“Kalau dihitung…”

“Aku tahu.”

Bima diam cukup lama.

“Bapak yakin gelangnya sama?”

“Aku sendiri yang memesannya.”

Aku masih ingat toko itu.

Gelang sederhana.

Bukan barang mahal.

Via pernah melihatnya di etalase.

Dia tidak mau aku membeli.

Aku tetap membeli diam-diam.

Di bagian belakang gantungan kompas ada ukiran A.W.

Arga Wicaksana.

Aku memberikannya pada malam terakhir kami bertemu.

Dua hari kemudian ayah meneleponku.

Ada persoalan besar di Jakarta.

Aku harus pulang malam itu juga.

Aku mengirim pesan kepada Via.

Aku berjanji akan kembali dalam tiga hari.

Tetapi ponselku hilang selama perjalanan.

Setelah mendapatkan nomor baru, semua pesan dari Via sudah tidak ada.

Aku datang lagi ke tempat biasa kami bertemu.

Dia tidak muncul.

Aku mencari ke komunitas yang mempertemukan kami.

Mereka hanya mengenalnya sebagai Via.

Nomor lamanya tidak aktif.

Aku mencari beberapa minggu.

Tidak pernah menemukannya.

Aku pikir dia memutuskan pergi.

Dan sekarang dia mengatakan sesuatu yang berbeda.

“Aku dulu yakin kamu tidak ingin menjadi ayahnya.”

Aku mengulang kalimat itu kepada Bima.

“Berarti dia mencoba menghubungi Bapak.”

“Itu juga yang kupikirkan.”

Bima terlihat berpikir.

“Besok saya cek nomor lama Bapak.”

“Enam tahun lalu.”

“Perusahaan menyimpan arsip perangkat kerja lama.”

“Itu nomor pribadi.”

“Tapi waktu itu nomor itu juga terhubung ke akun email perusahaan.”

Aku langsung menatapnya.

“Cari semuanya.”

“Pak, mungkin tidak gampang.”

“Cari apa pun yang bisa ditemukan.”

Bima mengangguk.

Keesokan malam aku bertemu Livia di sebuah kafe kecil di Kemang.

Dia datang sendiri.

Aku sudah menunggu dua puluh menit.

Begitu dia duduk, aku langsung berkata,

“Aku tidak datang untuk mengambil Kaila darimu.”

Livia meletakkan tasnya.

“Aku juga tidak berpikir begitu.”

“Aku hanya ingin memastikan.”

Dia mengangguk kecil.

Aku berusaha tidak mempercepat pembicaraan.

“Aku mengenalmu sebagai Via.”

“Itu nama panggilanku waktu kuliah.”

“Kenapa sekarang Livia?”

“Livia memang nama lengkapku.”

Aku mengangguk.

“Kenapa waktu pertama masuk kantor kamu tidak bilang kita pernah bertemu?”

“Karena aku pikir kamu pura-pura tidak mengenalku.”

Aku terdiam.

“Aku tidak yakin.”

“Kamu menatapku lima detik lalu bertanya, ‘Kita pernah bertemu?’”

“Aku memang merasa pernah melihatmu.”

“Itu membuatku yakin kamu sudah melupakan semuanya.”

Aku menahan rasa tidak nyaman.

“Aku mencari kamu.”

Livia tertawa kecil, tetapi bukan karena lucu.

“Kapan?”

“Setelah aku kembali ke Bandung.”

“Kamu tidak pernah kembali.”

“Aku kembali.”

Dia langsung menatapku.

“Tidak.”

“Empat hari kemudian.”

Livia menggeleng.

“Tidak mungkin.”

“Aku datang ke kafe tempat biasa kita bertemu.”

Dia menatap meja.

“Kamu mengirim pesan bahwa kamu tidak akan kembali.”

Sekarang giliran aku yang menggeleng.

“Aku tidak pernah mengirim pesan seperti itu.”

Livia membuka tas.

Dia mengeluarkan ponsel lama.

Layarnya sudah retak di beberapa sisi.

“Aku masih menyimpannya.”

Dia membuka sebuah folder foto.

Kemudian menunjukkan tangkapan layar.

Pesannya berasal dari nomor lamaku.

Aku membacanya.

Via, urusan kita berhenti di sini. Jangan datang ke kantor saya. Jangan mencoba menghubungi keluarga saya. Saya akan menikah sesuai rencana keluarga. Tolong lanjutkan hidupmu.

Aku membacanya sekali lagi.

“Ini bukan aku.”

“Itu nomor kamu.”

“Aku tidak menulis ini.”

Livia menarik kembali ponselnya.

“Saat itu aku juga tidak mau percaya.”

“Kenapa kamu tidak menelepon?”

“Aku menelepon.”

“Tidak pernah masuk.”

“Nomormu tidak aktif.”

Aku mengingat ponselku yang hilang.

“Lalu?”

“Aku datang ke kantor cabang.”

Aku menatapnya.

“Di Bandung?”

“Iya.”

“Siapa yang kamu temui?”

“Seorang perempuan dari kantor pusat. Namanya Ratih.”

Aku langsung mengenal nama itu.

Ratih adalah sekretaris ayahku waktu itu.

“Dia bilang kamu sudah kembali ke Jakarta dan sedang mempersiapkan pertunangan.”

“Aku tidak pernah bertunangan.”

“Aku tahu sekarang.”

Aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak benar.

“Terus?”

Livia memegang gelas tetapi tidak meminumnya.

“Dua minggu kemudian aku tahu aku mengandung Kaila.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Walaupun sejak malam sebelumnya aku sudah memikirkan kemungkinan itu, mendengarnya langsung membuat dadaku terasa penuh.

“Aku datang lagi ke kantor.”

“Kamu bertemu Ratih?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Satpam memberiku sebuah amplop.”

“Apa isinya?”

“Surat.”

“Dari siapa?”

“Katanya darimu.”

Aku menutup mata sebentar.

“Apa isinya?”

“Kamu meminta aku berhenti menghubungi siapa pun dari keluargamu. Ada juga tawaran uang.”

Aku langsung menatapnya.

“Berapa?”

“Rp500 juta.”

Aku hampir berdiri.

“Aku tidak pernah—”

“Aku tidak mengambilnya.”

Livia berkata cepat.

“Aku bahkan tidak menyelesaikan membaca surat itu.”

Aku menurunkan suara.

“Suratnya masih ada?”

Dia mengangguk.

“Di rumah.”

“Kenapa kamu tidak mencari aku setelah itu?”

Livia menatapku lama.

“Aku berusia dua puluh enam tahun. Aku baru tahu sedang mengandung. Laki-laki yang kupikir mencintaiku mengirim pesan agar aku pergi. Kantornya mengirim surat dan uang supaya aku diam.”

“Itu bukan aku.”

“Aku tahu sekarang mungkin bukan kamu.”

“Mungkin?”

“Aku tidak bisa langsung percaya hanya karena kamu bilang begitu.”

Aku mengangguk.

Dia benar.

“Setelah Kaila lahir?”

“Aku pindah ke Yogyakarta hampir dua tahun. Kak Fikri ikut membantu.”

“Kenapa kembali Jakarta?”

“Pekerjaan.”

“Dan kenapa masuk perusahaanku?”

Livia langsung menatapku.

“Aku tidak tahu itu perusahaanmu sampai wawancara tahap akhir.”

Aku hampir tertawa.

“Nama perusahaannya Wicaksana Digital.”

“Ada banyak orang bernama Wicaksana.”

“Itu benar.”

“Aku hampir menolak tawarannya.”

“Kenapa tidak?”

“Gajinya bagus.”

Untuk pertama kalinya malam itu kami sama-sama hampir tersenyum.

Hanya sebentar.

Aku kembali serius.

“Aku ingin melakukan tes.”

Livia menunduk.

“Aku tahu.”

“Bukan karena aku meragukanmu.”

“Aku tetap mau.”

Aku terkejut.

Dia melanjutkan,

“Aku juga butuh kepastian yang tidak bisa dibantah siapa pun.”

Aku mengangguk.

“Ada satu syarat.”

“Apa?”

“Jangan bilang apa pun kepada Kaila sebelum hasilnya keluar.”

“Aku setuju.”

“Dan kalau hasilnya sesuai dugaan kita, jangan langsung datang lalu meminta dia memanggilmu Papa.”

“Aku juga setuju.”

Livia menatapku.

“Serius?”

“Aku kehilangan lima tahun. Aku tidak mau kehilangan kepercayaan kalian juga.”

Dua hari kemudian kami menjalani pemeriksaan.

Aku tidak memberi tahu ayah.

Tidak memberi tahu siapa pun selain Bima.

Fikri ikut menemani Livia.

Itu pertama kalinya aku bertemu laki-laki yang selama satu hari penuh kukira suaminya.

Begitu melihatku, dia langsung berkata,

“Jadi ini orangnya?”

Aku mengangguk kaku.

“Mas Fikri?”

“Iya.”

“Terima kasih sudah menjaga Kaila.”

Dia tidak langsung menjawab.

Kemudian berkata,

“Aku menjaganya karena dia keponakanku.”

“Aku tahu.”

“Kalau nanti hasilnya benar, jangan pikir status biologis otomatis membuat kamu jadi ayah.”

“Aku juga tahu.”

Fikri melihatku beberapa detik.

“Bagus.”

Livia menyenggol lengannya.

“Kak.”

“Apa? Aku cuma bicara.”

Anehnya aku tidak marah.

Kalau aku berada di posisi Fikri, mungkin aku juga bersikap sama.

Tiga hari berikutnya terasa jauh lebih panjang daripada menunggu hasil audit perusahaan.

Sementara itu, Bima terus menelusuri arsip lama.

Pada hari kedua dia masuk ke ruanganku membawa laptop.

“Pak, saya menemukan sesuatu.”

Aku langsung berdiri.

“Apa?”

“Email lama.”

Dia membuka sebuah arsip.

Ada akun milikku dari enam tahun lalu.

Dalam folder terkirim, tidak ada pesan untuk Livia.

Tetapi ada akses dari perangkat lain selama tiga hari setelah ponselku hilang.

“Perangkat siapa?”

“Sulit dipastikan. Sistem lama hanya mencatat alamat jaringan internal.”

“Internal kantor?”

“Iya.”

“Jakarta atau Bandung?”

“Jakarta.”

Aku menatap layar.

Saat aku kehilangan ponsel dan berada di perjalanan pulang, akun lamaku pernah diakses dari kantor pusat Jakarta.

“Siapa yang punya akses?”

“Pada masa itu, tim TI dan sekretariat direksi bisa melakukan pemulihan akun.”

Aku langsung memikirkan satu orang.

Ratih.

“Cari Ratih.”

Bima terlihat ragu.

“Beliau sudah tidak bekerja di grup hampir empat tahun.”

“Cari.”

Sore itu juga Bima mendapatkan nomor Ratih.

Aku menelepon.

Tidak diangkat.

Kutelepon lagi.

Tetap tidak diangkat.

Aku mengirim satu pesan.

Bu Ratih, saya Arga. Saya perlu menanyakan sesuatu tentang kejadian enam tahun lalu di kantor Bandung. Ini menyangkut Livia Pradana.

Lima menit kemudian ponselku berdering.

Ratih.

Aku mengangkat.

“Halo?”

Suara perempuan di seberang terdengar tegang.

“Pak Arga…”

“Bu Ratih.”

Dia diam.

Aku langsung bertanya,

“Enam tahun lalu, apakah Ibu pernah bertemu Livia Pradana?”

Tidak ada jawaban.

“Bu?”

“Pak Arga, masalah itu sudah lama.”

Aku berdiri.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

“Jadi Ibu mengenalnya.”

“Pak…”

“Siapa yang menyuruh Ibu?”

Ratih menarik napas.

“Saya tidak bisa bicara lewat telepon.”

“Besok pagi saya temui.”

“Jangan di kantor.”

“Baik.”

Dia memberi alamat sebuah kafe di Bekasi.

Sebelum menutup telepon dia mengatakan satu kalimat.

“Pak Arga, sebelum datang, sebaiknya Bapak bicara dulu dengan Pak Haris.”

Ayahku.

Tanganku langsung mengepal.

Aku tidak menunggu besok.

Malam itu aku datang ke rumah ayah.

Dia sedang duduk di ruang kerja ketika aku masuk.

“Arga?”

Aku meletakkan foto tangkapan layar pesan Livia di mejanya.

“Ayah tahu ini?”

Dia melihatnya.

Tidak terlihat terkejut.

Reaksinya sudah cukup menjadi jawaban.

Aku duduk perlahan.

“Ayah tahu.”

Dia masih diam.

“Ayah tahu tentang Livia.”

“Duduk dulu.”

“Aku sudah duduk.”

“Jangan emosional.”

“Aku sedang berusaha tidak emosional.”

Ayah melepas kacamatanya.

“Waktu itu keadaan perusahaan berbeda.”

Aku tertawa pendek karena tidak percaya.

“Jangan bicara soal perusahaan.”

“Kamu baru dua puluh sembilan tahun saat itu.”

“Apa hubungannya?”

“Kita sedang menyelesaikan kerja sama besar dengan keluarga Wijaya.”

Aku langsung paham sebagian.

Dulu keluarga Wijaya memang berharap aku menikahi putri mereka.

Tidak pernah terjadi.

Aku selalu menolak.

“Ayah takut hubunganku dengan Livia mengganggu kesepakatan bisnis?”

“Bukan hanya itu.”

“Lalu apa?”

“Ayah mendapat laporan bahwa perempuan itu mencarimu ke kantor.”

“Dia memang mencariku.”

“Ayah pikir itu akan menjadi masalah.”

“Karena?”

“Ayah tidak mengenalnya.”

Aku berdiri.

“Jadi Ayah mengirim pesan memakai nomorku?”

Ayah tidak menjawab.

“AYAH?”

“Ratih hanya menjalankan instruksi.”

Aku merasa seluruh tubuhku panas.

“Ayah memalsukan pesan dariku.”

“Kami hanya menghentikan hubungan yang baru berjalan beberapa minggu.”

“Kami?”

“Ayah dan beberapa orang kantor.”

Aku menatapnya tanpa percaya.

“Ayah tahu dia sedang mengandung?”

Kali ini wajah ayah berubah.

Hanya sedikit.

Tetapi aku melihatnya.

“Ayah tahu.”

Aku mundur satu langkah.

Jawaban itu jauh lebih buruk.

“Sejak kapan?”

“Beberapa minggu setelah dia datang kedua kali.”

“Ayah tahu aku punya anak selama lima tahun?”

“Arga—”

“Jawab.”

“Iya.”

Aku tidak bisa langsung bicara.

Aku memikirkan ulang tahun Kaila pertama.

Hari pertama sekolahnya.

Saat dia sakit.

Saat dia belajar bicara.

Saat dia mungkin bertanya kepada ibunya tentang ayahnya.

Lima tahun.

Dan ayahku tahu.

“Kenapa tidak pernah bilang?”

“Ayah pikir Livia sudah menerima keputusan itu.”

“Keputusan siapa?”

“Ayah menawarkan penyelesaian.”

“Rp500 juta?”

Dia diam.

“Dia tidak mengambil uangnya.”

“Ayah tahu.”

Aku menatapnya.

“Ayah tahu?”

“Dana itu kembali.”

Aku merasa mual mendengar kata “penyelesaian”.

Seolah Livia dan Kaila adalah persoalan administrasi.

“Apa lagi yang Ayah lakukan?”

“Tidak ada.”

“Aku tidak percaya.”

“Ayah memastikan mereka baik-baik saja.”

“Caranya?”

Dia tidak menjawab.

Aku menunjuk mejanya.

“Jangan bohong lagi.”

Akhirnya ayah membuka laci.

Dia mengeluarkan satu map.

Di dalamnya ada laporan.

Bukan laporan resmi perusahaan.

Isinya hanya beberapa halaman.

Alamat lama Livia.

Riwayat pekerjaan.

Sekolah Kaila.

Aku melihat tanggal laporan terakhir.

Tiga bulan lalu.

Tanganku berhenti.

“Ayah masih memantau mereka?”

“Ayah hanya ingin memastikan anak itu aman.”

“Anak itu?”

Aku hampir tidak mengenali suaraku sendiri.

“Namanya Kaila.”

Ayah menatapku.

“Ayah tahu namanya.”

“Lalu kenapa Ayah membiarkanku tidak tahu dia ada?”

Tidak ada jawaban yang cukup untuk pertanyaan itu.

Aku mengambil map.

“Aku akan bawa ini.”

“Arga.”

“Aku juga tidak akan masuk kantor beberapa hari.”

“Kamu direktur utama.”

“Aku tetap bisa bekerja.”

“Jangan membuat urusan pribadi merusak perusahaan.”

Aku berhenti di pintu.

“Enam tahun lalu Ayah melakukan hal yang sama.”

Dia terdiam.

“Kali ini aku tidak akan membiarkan perusahaan dipakai sebagai alasan.”

Aku pergi.

Paginya hasil pemeriksaan keluar.

Aku, Livia, dan Fikri duduk di ruangan kecil.

Dokter menyerahkan dokumen itu.

Aku tidak langsung berani membukanya.

Livia yang mengambil.

Matanya membaca beberapa baris.

Kemudian dia menutup mulut dengan tangan.

Aku tidak perlu bertanya.

Tetapi aku tetap bertanya.

“Bagaimana?”

Livia menggeser kertas itu ke arahku.

Hasilnya menunjukkan kecocokan hubungan biologis sebesar 99,99 persen.

Aku adalah ayah Kaila.

Aku menatap angka itu lama.

Aku tidak merasa menang.

Aku tidak merasa lega sepenuhnya.

Hal pertama yang kurasakan justru sedih karena waktu yang hilang.

Livia menangis pelan.

Aku tidak langsung menyentuhnya.

Aku hanya berkata,

“Maaf.”

Dia menggeleng.

“Kamu juga tidak tahu.”

“Aku tetap minta maaf.”

Fikri berdiri.

“Aku kasih kalian waktu.”

Dia keluar.

Aku menatap Livia.

“Ayahku tahu.”

Wajahnya langsung berubah.

“Apa?”

“Sejak kamu datang ke kantor Bandung.”

Aku menceritakan semuanya.

Tentang Ratih.

Pesan.

Surat.

Tentang ayah yang tahu kehamilannya.

Tentang laporan bertahun-tahun.

Livia tidak mengatakan apa pun cukup lama.

Lalu dia bertanya,

“Jadi selama ini aku marah pada orang yang salah?”

“Sebagian.”

Dia menatapku.

“Aku benar-benar membencimu waktu itu.”

“Aku mengerti.”

“Aku pikir kamu pengecut.”

“Itu juga masih mungkin benar untuk beberapa hal.”

Dia hampir tertawa, tetapi matanya masih basah.

“Aku tidak ingin Kaila tahu bagian buruknya.”

“Aku juga.”

“Dia tidak perlu tahu kakeknya pernah melakukan semua itu sekarang.”

“Setuju.”

“Aku cuma ingin hidupnya tetap normal.”

“Aku akan ikuti aturanmu.”

Livia terlihat terkejut lagi.

“Mudah sekali?”

“Tidak.”

Aku menatap dokumen di meja.

“Aku ingin membawa Kaila pulang sekarang. Aku ingin mengatakan bahwa aku ayahnya. Aku ingin mengganti semua waktu yang hilang dalam satu hari.”

Aku berhenti.

“Tapi itu keinginanku. Bukan kebutuhan Kaila.”

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu lagi, wajah Livia sedikit melunak.

“Kita mulai pelan.”

“Bagaimana?”

“Kamu bisa datang Sabtu.”

“Ke rumah?”

“Iya.”

“Jam berapa?”

“Jam sepuluh.”

“Aku datang jam sembilan lima puluh.”

“Jam sepuluh.”

“Oke.”

Sabtu pagi aku berdiri di depan rumah Livia membawa terlalu banyak barang.

Fikri membuka pintu.

Dia melihat kantong di tanganku.

“Apa itu?”

“Buku.”

“Yang lain?”

“Puzzle.”

“Yang besar?”

Aku melihat kotak di belakangku.

“Sepeda.”

Fikri menatapku.

“Mas Arga.”

“Apa?”

“Mulai pelan.”

Aku melihat sepeda itu.

“Benar.”

Aku meminta sopir membawanya kembali.

Kaila muncul dari ruang tengah.

“Om Arga!”

Entah kenapa dua kata itu membuatku sangat gugup.

“Hai.”

“Mama bilang Om mau main.”

“Iya.”

“Kamu bisa gambar?”

“Bisa sedikit.”

Ternyata aku tidak bisa.

Dalam tiga puluh menit, Kaila sudah menertawakan gambar kucing buatanku yang menurutnya mirip kentang.

Aku tidak keberatan.

Siang itu tidak ada pembicaraan soal ayah.

Tidak ada penjelasan berat.

Kami makan mi ayam.

Kaila bercerita tentang teman sekolah.

Aku mendengarkan.

Minggu berikutnya aku datang lagi.

Lalu lagi.

Aku mulai tahu dia tidak suka wortel yang terlalu besar.

Dia takut suara blender.

Dia suka dinosaurus meski teman-temannya lebih suka boneka.

Dia bisa mengulang satu cerita empat kali dan tetap tertawa di bagian yang sama.

Sebulan kemudian, Livia akhirnya mengajakku bicara setelah Kaila tidur.

“Menurutku kita sudah bisa memberitahunya.”

Aku langsung tegang.

“Sekarang?”

“Besok.”

“Kenapa bukan sekarang?”

“Dia tidur.”

“Oh.”

Livia menggeleng sambil tersenyum kecil.

Besok sore kami duduk bertiga di ruang keluarga.

Livia memulai.

“Kaila, Mama mau cerita sesuatu.”

Kaila tetap memegang pensil warna.

“Apa?”

“Kamu pernah tanya tentang ayahmu, kan?”

Tanganku dingin.

Kaila mengangguk.

“Yang fotonya Mama simpan?”

Aku dan Livia langsung saling menatap.

Aku teringat malam pertama.

Ucapan Kaila yang terpotong.

Om ini kan yang di foto lama Mama…

Livia menarik napas.

“Iya.”

Kaila kemudian menunjukku.

“Om Arga?”

Aku tidak bisa menjawab.

Livia mengangguk.

“Om Arga adalah ayah kandung Kaila.”

Kaila menatapku.

Tidak ada reaksi besar.

Dia hanya mengerutkan dahi.

“Bener?”

Aku mengangguk.

“Iya.”

“Kenapa baru datang?”

Pertanyaan seorang anak bisa sangat sederhana.

Jawabannya bisa sangat sulit.

Aku menatap Livia sebentar sebelum menjawab.

“Karena Om baru tahu.”

“Kok baru tahu?”

“Dulu Om dan Mama kehilangan kontak.”

Kaila berpikir.

Kemudian bertanya,

“Berarti aku harus panggil Papa?”

Aku langsung berkata,

“Tidak harus.”

Dia menatapku.

“Kaila boleh panggil apa saja yang bikin Kaila nyaman.”

“Om dulu.”

Aku tersenyum.

“Oke.”

Dia kembali mewarnai.

Aku hampir tertawa karena selama berminggu-minggu aku membayangkan momen itu akan sangat rumit.

Bagi Kaila, jawabannya sederhana.

Dia hanya butuh waktu.

Dua bulan kemudian, keadaan mulai lebih tenang.

Aku tidak memaksa Livia membicarakan hubungan kami.

Aku juga tidak meminta dia meninggalkan pekerjaannya.

Di kantor, dia tetap memanggilku “Pak Arga”.

Kadang itu terasa aneh setelah akhir pekan kami mengantar Kaila membeli alat gambar.

Tetapi aku menghormatinya.

Ayah mengundurkan diri dari posisi aktif di beberapa bagian grup setelah aku menunjukkan bukti lama kepada dewan keluarga.

Aku tidak membuka masalah itu kepada publik.

Aku juga tidak melindunginya dari konsekuensi di dalam keluarga.

Ratih akhirnya menemuiku.

Dia mengakui bahwa enam tahun lalu dia mengirim pesan dan surat atas perintah ayah.

Dia meminta maaf kepada Livia secara langsung.

Livia menerima permintaan maaf itu tanpa banyak bicara.

Namun satu hal masih menggangguku.

Nama yang keluar dari mulut Livia pada malam pertama.

Saat Kaila hampir terkena motor.

Dia sempat berteriak,

“Aluna—”

Bukan Kaila.

Suatu malam aku akhirnya bertanya.

“Siapa Aluna?”

Livia yang sedang menuang teh langsung berhenti.

“Apa?”

“Malam pertama di depan rumahmu. Kamu hampir memanggil Kaila dengan nama Aluna.”

Dia diam.

Aku langsung merasa ada hal lain lagi.

“Livia?”

Dia duduk.

“Aluna adalah nama yang dulu kita pilih.”

Aku mengernyit.

“Kita?”

“Enam tahun lalu.”

Aku mencoba mengingat.

Kemudian satu percakapan lama muncul.

Kami sedang duduk di warung kecil di Bandung.

Ada pasangan muda di meja sebelah bersama bayi mereka.

Via bercanda bertanya nama apa yang akan kupilih kalau suatu hari punya anak perempuan.

Aku menjawab,

“Aluna.”

Aku bahkan sudah lupa percakapan itu.

Livia ternyata tidak.

“Waktu Kaila lahir,” katanya pelan, “aku hampir memberinya nama Aluna.”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku terlalu marah padamu.”

Aku mengangguk.

“Itu masuk akal.”

“Tapi selama beberapa bulan pertama, kadang aku masih memanggilnya Aluna tanpa sengaja.”

Aku menatap gelang di meja.

Livia sudah melepaskannya dari tangan Kaila karena ukurannya mulai sempit.

“Ada satu lagi.”

“Apa?”

Dia mengambil gelang itu.

Kemudian membuka bagian kecil di belakang gantungan kompas.

Aku tidak pernah tahu bagian itu bisa dibuka.

Di dalamnya ada potongan kertas sangat kecil yang sudah menguning.

Livia menyerahkannya.

Aku membaca tulisan tanganku sendiri.

Kalau suatu hari kita tersesat, cari arah pulang. — Arga.

Aku menatapnya lama.

“Aku menulis ini?”

“Penjual gelang yang menyuruhmu menulis pesan kecil.”

Aku tertawa pendek.

“Aku bahkan lupa.”

“Aku tidak.”

Livia mengambil napas.

“Arga, ada alasan kenapa Kaila langsung merasa familiar denganmu.”

“Apa?”

“Aku menyimpan satu foto kita.”

“Foto di Bandung?”

Dia mengangguk.

“Kaila pernah menemukannya sekitar setahun lalu.”

Aku tiba-tiba mengerti.

“Jadi malam itu…”

“Dia mau bilang kamu laki-laki di foto lama Mama.”

Aku tertawa pelan.

Ternyata bagian itu jauh lebih sederhana daripada semua dugaan di kepalaku.

Livia berdiri hendak menyimpan gelang.

Tiba-tiba Kaila keluar dari kamar.

“Mama.”

“Kok belum tidur?”

“Mau minum.”

Dia melihatku.

Kemudian melihat gelang di tangan ibunya.

“Om Arga.”

“Iya?”

“Kalau itu dari Om, berarti dulu Om memang ayah aku?”

Aku terdiam.

Livia juga.

Aku kemudian berjongkok agar sejajar dengannya.

“Iya.”

Kaila berpikir beberapa detik.

“Kalau begitu gelangnya simpan saja.”

“Kenapa?”

“Biar nanti kalau aku besar, aku kasih ke anakku.”

Aku tersenyum.

“Oke.”

Dia berjalan menuju dapur.

Lalu berhenti.

Dia menoleh lagi kepadaku.

“Pa.”

Aku tidak yakin dengan apa yang baru kudengar.

“Apa?”

Kaila terlihat malu.

“Minta air.”

Aku tidak bergerak beberapa detik.

Livia menahan senyum.

Aku berdiri dan buru-buru menuju dapur.

“Iya. Papa ambil.”

Kaila tidak mengoreksi panggilan itu.

Dan malam itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Gelang enam tahun lalu memang membongkar siapa ayah kandung Kaila.

Tetapi gelang itu bukan hal paling penting yang kami temukan.

Yang paling penting adalah kenyataan bahwa enam tahun lalu, Livia dan aku sebenarnya tidak pernah memilih untuk saling meninggalkan.

Pilihan itu dibuat orang lain untuk kami.

Sekarang kami tidak bisa mengembalikan waktu yang hilang.

Aku juga tidak ingin memaksa Livia mengulang hubungan lama hanya karena kami memiliki seorang anak.

Aku hanya melakukan satu hal yang bisa kulakukan dengan benar.

Aku datang.

Aku menepati jadwal.

Aku mendengarkan Kaila.

Aku menghormati Livia.

Beberapa bulan setelah Kaila pertama kali memanggilku Papa, aku dan Livia belum menikah.

Kami juga belum membuat janji besar.

Suatu sore kami bertiga duduk di sebuah kedai di Bandung setelah menghadiri acara perusahaan.

Kaila makan es krim.

Livia menatap jalan di depan kami.

“Tempat ini masih ada.”

Aku melihat papan kedai yang dulu sering kami datangi.

“Iya.”

Livia tersenyum kecil.

Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari tas.

Gelang perak itu.

“Aku sudah memperbaikinya.”

Dia menyerahkannya kepadaku.

“Aku pikir kamu yang harus menyimpan untuk sementara.”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Kenapa?”

Aku mengambil tangan Kaila lalu meletakkan gelang itu di telapak tangannya.

“Ini milik Kaila.”

Kaila menatap kami bergantian.

“Kenapa?”

Aku menjawab sederhana.

“Karena gara-gara gelang ini, Papa akhirnya tahu harus pulang ke mana.”

Kaila tersenyum.

Livia tidak berkata apa-apa.

Tapi kali ini dia tidak mengalihkan pandangan dariku.

Dan untuk pertama kalinya setelah enam tahun, aku tidak merasa perlu mengejar jawaban apa pun lagi.

Kami akhirnya memiliki kesempatan untuk membuat keputusan sendiri.

Bukan keputusan ayahku.

Bukan keputusan perusahaan.

Bukan keputusan masa lalu.

Keputusan kami.