DI HARI PERNIKAHANKU, 500 GRAM “EMAS” DARI MERTUA MENEMPEL PADA MAGNET—LALU SATU REKAMAN MEMBUKTIKAN SIAPA YANG MENYIAPKAN KEBOHONGAN ITU

 

 

BAGIAN 1

“Lima perhiasan ini totalnya lima ratus gram emas murni.”

Suara Bu Lilis terdengar jelas dari mikrofon.

“Keluarga kami tidak pernah pelit kepada menantu.”

Tepuk tangan langsung terdengar dari beberapa meja.

Aku berdiri di samping Arga sambil menatap nampan beludru merah di tangan ibu mertuaku.

Kalung.

Gelang.

Cincin.

Sepasang anting.

Liontin.

Semuanya berwarna kuning mengilap.

Dan semuanya palsu.

Aku tahu karena aku pernah menjalani hari ini sebelumnya.

Dalam kehidupan sebelumnya, aku menerimanya tanpa curiga.

Satu bulan kemudian, aku membawa gelang itu ke toko perhiasan.

Pegawainya memeriksa beberapa menit sebelum berkata pelan,

“Bu, ini bukan emas.”

Sejak hari itu, hidupku berubah.

Bu Lilis mengatakan aku sudah menukar perhiasannya.

Nisa, adik Arga, ikut menuduhku.

Kerabat mereka percaya karena ratusan tamu melihat sendiri Bu Lilis memasangkan benda-benda itu kepadaku saat pernikahan.

Bahkan Arga akhirnya berkata,

“Mama enggak mungkin bohong soal begini.”

Aku dipaksa mengganti lima ratus gram emas yang sebenarnya tidak pernah kuterima.

Beberapa bulan kemudian, simpanan emas keluargaku ikut berpindah ke tangan Bu Lilis dengan alasan akan disimpan di tempat aman.

Aku baru mengetahui semuanya sudah digunakan ketika keadaan terlambat.

Pertengkaran terakhir kami terjadi di sebuah apartemen.

Setelah itu, semuanya gelap.

Ketika membuka mata lagi, aku kembali berdiri di ballroom yang sama.

Dengan gaun pengantin yang sama.

Dan Bu Lilis sedang membawa nampan yang sama.

“Dinda.”

Bu Lilis mengambil gelang paling besar.

“Mama pasangkan sendiri.”

Aku tidak mengulurkan tangan.

Ia berhenti.

Aku bertanya,

“Mama yakin semua ini emas asli?”

Suasana berubah.

Bu Lilis masih tersenyum, tetapi aku melihat jarinya menggenggam gelang itu lebih erat.

“Pertanyaan apa itu?”

Beberapa kerabat tertawa kecil.

Aku tetap menatapnya.

“Saya cuma memastikan.”

Arga mendekat.

“Din, kenapa sih?”

Aku tidak menjawabnya.

Bu Lilis mengambil mikrofon.

“Biar semua orang dengar. Lima perhiasan ini emas asli. Total lima ratus gram.”

Ia bahkan memanggil fotografer.

“Mas, direkam yang jelas, ya. Jangan sampai nanti ada yang bilang keluarga kami cuma omong besar.”

Aku menahan senyum.

Dalam kehidupan sebelumnya, rekaman itulah yang digunakan untuk menuduhku.

Kali ini aku justru membutuhkannya.

“Baik, Ma.”

Aku mengulurkan tangan.

Satu per satu benda itu dipasangkan kepadaku.

Saat gelang besar masuk ke pergelangan tanganku, Nisa mendekat.

“Berat, kan?”

Ia tertawa.

“Mbak Dinda sebelumnya pernah pegang emas sebanyak ini enggak?”

Aku melihat wajahnya.

Dulu aku mengira dia hanya suka bicara tanpa berpikir.

Sekarang aku tahu dia terlibat jauh lebih dalam.

“Belum sebanyak ini.”

Bu Lilis terlihat puas.

Acara dilanjutkan.

Namun beberapa menit kemudian ia kembali mengambil mikrofon.

“Sekalian saja Mama kasih nasihat.”

Aku langsung tahu apa yang akan dikatakannya.

“Setelah menikah, uang suami istri sebaiknya dipegang orang yang lebih berpengalaman.”

Ia memandangku.

“Mama bisa bantu kelola gaji kalian.”

Aku tersenyum.

“Enggak perlu, Ma.”

Senyumnya berhenti.

Aku melanjutkan,

“Pendapatan pribadi tetap kami pegang sendiri. Untuk kebutuhan rumah tangga kami punya rekening bersama.”

“Dinda.”

Arga berbisik.

“Jangan dibahas sekarang.”

Aku menoleh.

“Kenapa? Mama yang membahasnya.”

Bu Lilis cepat memotong.

“Mama cuma bercanda.”

“Syukurlah.”

Aku kembali tersenyum.

“Karena saya juga tidak punya rencana menyerahkan rekening pribadi kepada siapa pun.”

Meja keluargaku mulai sunyi.

Ayah menatapku dari kejauhan.

Ia tahu aku bukan orang yang biasa berbicara setegas itu di depan banyak orang.

Aku melihat jam.

Saatnya.

Aku membuka clutch kecil di meja.

Arga mengerutkan dahi.

“Kamu cari apa?”

Aku mengeluarkan magnet kecil yang sudah kusiapkan sejak pagi.

Wajah Bu Lilis langsung berubah.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi aku melihatnya.

“Dinda.”

Suaranya lebih cepat sekarang.

“Buat apa itu?”

“Cuma tes sederhana.”

Aku melepas gelang dari tanganku.

Lalu mendekatkan magnet.

Klik.

Gelang itu langsung menempel.

Tidak ada yang bicara.

Aku memisahkannya.

Lalu mengambil liontin.

Klik.

Menempel lagi.

Aku mencoba cincin.

Hasilnya sama.

Dari meja belakang terdengar seseorang berbisik,

“Kalau emas asli, kok begitu?”

Bu Lilis langsung berdiri.

“Jangan sembarangan menyimpulkan!”

Aku mengambil mikrofon.

“Tadi Mama mengatakan semuanya emas murni.”

“Nadira—”

Bu Lilis berhenti.

Ia salah menyebut nama.

Wajahnya makin tegang.

Aku menatapnya.

“Nama saya Dinda, Ma.”

Beberapa orang mulai saling pandang.

Bu Lilis cepat merebut mikrofon dari tanganku.

Kemudian ia menunjukku.

“DIA YANG MENUKARNYA!”

Suara di ballroom langsung ramai.

Nisa maju.

“Iya! Tadi perhiasannya sudah sempat dipegang Dinda!”

Aku diam.

Arga menatapku.

“Din…”

Aku menunggu satu kalimat darinya.

Satu saja.

Aku berharap kali ini ia mengatakan bahwa tuduhan itu tidak masuk akal.

Namun ia justru bertanya,

“Kamu tadi sempat bawa nampannya ke ruang rias?”

Dadaku terasa kosong.

Jadi tetap sama.

Aku mengangguk pelan.

“Bagus.”

Arga terlihat bingung.

“Bagus apa?”

Aku mengambil ponsel dari clutch.

“Karena aku memang menunggu Mama menuduhku menukar perhiasan ini.”

Wajah Bu Lilis berubah lagi.

Aku membuka sebuah video.

Lalu menghadapkannya ke layar besar ballroom.

“Sekarang kita lihat siapa yang sebenarnya membawa perhiasan itu sejak awal.”

BERSAMBUNG KE BAGIAN 2…

BAGIAN 2

Layar besar di belakang panggung menyala.

Bu Lilis langsung bergerak mendekati operator.

“Matikan!”

Aku berdiri di depannya.

“Kenapa, Ma?”

“Ini acara pernikahan!”

“Benar.”

Aku memandang para tamu.

“Karena itu lebih baik masalah ini selesai di sini. Ada fotografer. Ada keluarga saya. Ada keluarga Arga. Semua orang bisa melihat sendiri.”

Arga menarik lenganku.

“Dinda, cukup.”

Aku melepaskan tangannya.

“Belum.”

Video mulai berjalan.

Rekaman itu berasal dari kamera lorong hotel.

Pukul 09.17.

Bu Lilis keluar dari lift sambil membawa kotak merah.

Nisa berjalan di sampingnya.

Mereka langsung masuk ke ruang keluarga pengantin pria.

Tidak ada aku.

Tidak ada keluargaku.

Beberapa menit kemudian, mereka keluar membawa kotak yang sama.

Aku menghentikan video.

“Perhiasan yang sekarang ada di meja berasal dari kotak itu.”

Bu Lilis tertawa pendek.

“Terus?”

“Terus kita lihat berikutnya.”

Video berganti.

Pukul 10.26.

Bu Lilis membawa nampan masuk ke ballroom.

Pukul 10.41 ia sendiri menyerahkan nampan kepada panitia acara.

Pukul 10.43 panitia membawa nampan ke panggung.

Aku baru menyentuh perhiasan itu pukul 11.06.

Aku memperbesar waktu di sudut layar.

“Jadi kapan saya menukarnya?”

Nisa langsung menjawab,

“Video bisa saja enggak lengkap.”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Makanya saya punya satu lagi.”

Arga sekarang benar-benar menatapku.

“Kamu sudah rencanakan semua ini?”

Aku memandangnya.

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak aku tahu aku enggak boleh melakukan kesalahan yang sama dua kali.”

Ia tampak tidak mengerti.

Aku tidak menjelaskan.

Belum.

Aku membuka rekaman kedua.

Kali ini bukan kamera hotel.

Video itu berasal dari ponsel wedding organizer.

Kemarin sore, pihak dekorasi merekam proses pengecekan barang yang akan digunakan dalam acara.

Bu Lilis terlihat membuka kotak merah.

Lima benda yang sama ada di dalamnya.

Koordinator acara bertanya,

“Bu, ini nanti semuanya dipasang ke pengantin perempuan?”

Bu Lilis menjawab,

“Iya. Jangan sampai tertukar. Ini lima ratus gram.”

Aku menghentikan video.

“Masih mau bilang saya menukarnya?”

Bu Lilis mulai kehilangan kesabaran.

“Bisa saja yang di kotak itu memang palsu karena emas asli masih Mama simpan!”

Ruangan semakin ramai.

Aku hampir tertawa.

Dalam kehidupan sebelumnya, perempuan ini sangat tenang.

Ia selalu punya jawaban.

Namun hari ini jawabannya keluar terlalu cepat.

“Jadi sekarang Mama mengakui benda di nampan ini palsu?”

Ia langsung diam.

Aku mendekatkan mikrofon.

“Tadi Mama bilang emas asli.”

“Jangan putar kata-kata Mama!”

“Jawab saja.”

Bu Lilis menatap Arga.

“Arga! Kamu diam saja melihat istrimu mempermalukan Mama?”

Semua mata beralih kepada suamiku.

Aku juga menatapnya.

Inilah kesempatan terakhirnya.

Arga mengambil mikrofon.

“Dinda, kita selesaikan di belakang.”

Aku tertawa pendek.

“Kenapa di belakang?”

“Karena ini keluarga.”

“Tadi waktu Mama menuduh aku menukar lima ratus gram emas di depan ratusan tamu, kamu tidak bilang begitu.”

Arga menurunkan suaranya.

“Jangan bikin semuanya lebih besar.”

“Aku tidak membuatnya besar.”

Aku menunjuk perhiasan di meja.

“Orang yang membawa barang palsu ke atas panggung yang membuatnya besar.”

Nisa langsung menyela.

“Mbak jangan sok benar. Itu cuma hadiah.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kalau cuma hadiah, kenapa kalian bilang nilainya lima ratus gram emas?”

Nisa diam.

“Kalau nilainya tidak penting, kenapa satu bulan setelah pernikahan kalian sudah menyiapkan cerita bahwa saya menukarnya?”

Wajah Nisa langsung pucat.

Aku melihatnya.

Bu Lilis juga melihatnya.

“Dinda, kamu ngomong apa?” tanya Arga.

Aku mengambil napas.

Saat inilah aku mulai keluar dari jalur kehidupan sebelumnya.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Tetapi aku sudah menyiapkan cukup bukti untuk satu tujuan.

Aku tidak akan pulang ke rumah keluarga Mahendra hari ini.

Aku mengeluarkan sebuah amplop cokelat.

Bu Lilis menatapnya.

“Apa lagi itu?”

“Nota pembelian.”

Aku mengeluarkan selembar kertas.

“Dua minggu lalu, saya datang ke toko aksesori logam di Mangga Dua.”

Nisa mundur satu langkah.

Aku melanjutkan,

“Saya menunjukkan foto perhiasan yang Mama kirim ke grup keluarga.”

Bu Lilis memotong,

“Terus kenapa?”

“Pemilik toko mengenali modelnya.”

Aku memperlihatkan salinan nota.

Lima item.

Kalung lapis warna emas.

Gelang lapis warna emas.

Cincin.

Anting.

Liontin.

Total Rp4.850.000.

Tanggal pembelian tercetak jelas.

Nama pemesan juga ada.

Nisa Saputri.

Beberapa orang langsung bersuara.

Nisa menatapku.

“Itu bukan aku.”

“Ada nomor telepon.”

Aku membaca empat angka terakhir.

Wajahnya berubah.

“Banyak orang punya angka akhir yang sama!”

Aku mengangguk.

“Benar.”

Aku mengambil satu lembar lagi.

“Makanya saya minta toko itu mencetak bukti pembayaran.”

Transfer berasal dari rekening atas nama Nisa Saputri.

Nisa menoleh cepat ke Bu Lilis.

Aku melihat gerakan itu.

Bu Lilis langsung berkata,

“Nisa beli itu untuk dirinya sendiri!”

“Lima item dengan model yang sama persis?”

“Model pasar banyak yang sama!”

“Baik.”

Aku mengambil ponsel.

“Kita telepon tokonya.”

Bu Lilis berteriak,

“Tidak perlu!”

Semua orang diam lagi.

Aku menatapnya.

“Mama takut?”

“Siapa takut?”

“Kalau begitu kita telepon.”

Aku menghubungi nomor yang sudah kusimpan.

Panggilan tersambung.

Aku menyalakan pengeras suara.

“Pak Rudi?”

“Iya, Bu Dinda.”

“Maaf mengganggu. Saya sedang di acara pernikahan. Bapak masih ingat pesanan lima perhiasan warna emas atas nama Nisa Saputri?”

“Iya.”

Bu Lilis mencoba mendekat.

Aku mundur.

Aku bertanya,

“Waktu pesan, apakah pembeli meminta benda-benda itu dibuat semirip mungkin dengan perhiasan emas?”

Ada jeda pendek.

“Iya.”

Beberapa tamu langsung ribut.

Pak Rudi melanjutkan,

“Dia kirim lima foto referensi. Minta beratnya juga dibuat terasa berat supaya kalau dipakai kelihatan meyakinkan.”

Aku mematikan panggilan.

Nisa berdiri kaku.

Arga sekarang menatap adiknya.

“Nisa?”

Nisa tidak menjawab.

Arga mengulang,

“Kamu pesan?”

Nisa melihat ibunya.

Aku sudah tahu jawabannya.

Bu Lilis berkata,

“Sudah! Mama yang suruh!”

Arga seperti tidak percaya.

“Ma?”

“Karena kondisi keluarga sedang sulit!”

Akhirnya.

Pengakuan pertama.

Bu Lilis mengambil napas panjang.

“Emas asli belum sempat dibeli. Mama pikir nanti bisa diganti.”

Aku langsung bertanya,

“Kapan?”

Bu Lilis diam.

“Kapan rencananya?”

“Setelah keadaan membaik.”

“Itu kapan?”

“Kamu enggak perlu interogasi Mama!”

Aku tersenyum tipis.

“Padahal tadi Mama sangat yakin mengatakan emas itu asli.”

Bu Lilis tiba-tiba menangis.

Beberapa bibinya langsung mendekat.

Salah satu berkata,

“Dinda, sudah. Dia tetap ibu mertuamu.”

Aku mengangguk.

“Saya tahu.”

“Jangan dipermalukan begini.”

Aku menjawab,

“Saya juga tadi dituduh menukar emas di depan semua orang.”

Bibi itu langsung diam.

Bu Lilis menutup wajahnya.

“Semua ini karena Mama ingin menjaga nama keluarga.”

Aku tidak mengatakan apa pun.

Ia melanjutkan,

“Keluarga kamu memberikan banyak hal untuk pernikahan. Masa keluarga kami kelihatan tidak mampu?”

Ayah akhirnya berdiri dari mejanya.

Sejak tadi ia diam.

Ia mendekat.

“Bu Lilis.”

Suara Ayah tetap tenang.

“Dari awal saya tidak pernah meminta emas.”

Bu Lilis tidak menjawab.

Ayah melanjutkan,

“Saya juga sudah bilang kepada Pak Surya sebelum acara. Tidak perlu membandingkan pemberian.”

Pak Surya, ayah Arga, menundukkan kepala.

Aku tahu dia tidak terlibat langsung.

Dalam kehidupan sebelumnya pun, Pak Surya sering memilih diam.

Hari ini ia juga diam.

Namun diam tidak lagi cukup bagiku.

Bu Lilis berkata,

“Kami punya harga diri.”

Ayah menjawab,

“Kalau begitu jangan menggunakan barang palsu lalu mengatakan itu emas asli.”

Bu Lilis kembali menangis.

Aku tidak merasa puas.

Aneh.

Dalam kehidupan sebelumnya, aku berkali-kali membayangkan bisa membongkar kebohongannya.

Sekarang ketika itu benar-benar terjadi, yang kurasakan justru lelah.

Mungkin karena masalah sebenarnya bukan lima benda di meja.

Masalah sebenarnya adalah orang-orang di sekelilingku yang siap membuatku menjadi pihak yang salah agar keluarga mereka terlihat benar.

Aku menoleh kepada Arga.

“Sekarang kamu percaya?”

Ia terlihat bingung.

“Percaya apa?”

“Bahwa perhiasannya palsu.”

“Iya.”

Aku menunggu.

Hanya itu?

Aku bertanya lagi,

“Dan Mama tadi menuduh aku menukarnya.”

Arga menatap ibunya.

Kemudian kepadaku.

“Dia panik.”

Jawaban itu membuat keputusan yang sejak tadi masih kutahan akhirnya terasa mudah.

“Baik.”

Aku melepas cincin pernikahan.

Arga langsung memegang tanganku.

“Kamu ngapain?”

Aku menatapnya.

“Aku enggak jadi ikut ke rumahmu.”

“Dinda.”

“Lepas.”

“Jangan mengambil keputusan saat emosi.”

“Aku sangat tenang.”

Aku menarik tanganku.

“Justru baru sekarang aku benar-benar tenang.”

Bu Lilis berhenti menangis.

“Kamu mau batal menikah hanya karena hadiah?”

Aku menoleh kepadanya.

“Bukan karena hadiah.”

Aku menunjuk Arga.

“Karena waktu Mama menuduh saya di depan semua orang, dia tidak membela saya.”

Arga membalas cepat,

“Aku cuma belum tahu faktanya.”

“Sekarang kamu tahu.”

Aku menunggu.

Ia diam.

Aku mengangguk.

“Dan kamu tetap bilang Mama cuma panik.”

“Memang.”

“Aku mengerti.”

Aku meletakkan cincin di meja.

“Ternyata masalahnya bukan kamu belum tahu fakta.”

Aku menatapnya.

“Kamu selalu mencari alasan untuk Mama.”

Wajahnya mulai keras.

“Jangan berlebihan.”

Kalimat itu.

Sama.

Persis seperti yang pernah kudengar sebelumnya.

Dadaku berdebar.

Untuk beberapa detik, aku kembali ingat bagaimana dulu aku selalu berpikir kalau aku menjelaskan sedikit lebih baik, Arga akan mengerti.

Kalau aku lebih sabar, ia akan berubah.

Kalau aku memberi satu kesempatan lagi, semuanya akan membaik.

Ternyata aku salah.

Kesempatan kedua tidak selalu diberikan untuk memperbaiki hubungan.

Kadang kesempatan kedua datang agar kita berhenti mengulang keputusan yang sama.

Aku mengambil amplop kedua.

Arga memandangnya.

“Apa lagi?”

“Kita belum selesai.”

Bu Lilis langsung berkata,

“Dinda, cukup!”

Aku membuka dokumen.

“Ini daftar barang pemberian keluarga saya.”

Ayah menatapku.

Aku sudah membicarakan hal ini dengannya pagi tadi.

Ia mengangguk.

Aku membaca,

“Dua gelang milik Ibu. Satu kalung keluarga. Dan sepuluh batang emas yang rencananya diserahkan setelah akad sebagai bekal awal rumah tangga.”

Ruangan kembali sunyi.

Bu Lilis tidak bergerak.

Aku menatapnya.

“Ma, tadi pagi Mama meminta semua pemberian itu dimasukkan ke brankas keluarga Mahendra setelah acara.”

Ia menjawab cepat,

“Untuk keamanan!”

“Enggak jadi.”

“Kamu enggak percaya keluarga suami sendiri?”

“Enggak.”

Jawabanku langsung.

Bu Lilis seperti tidak menyangka.

Aku melanjutkan,

“Semua aset dari keluarga saya tetap disimpan atas nama saya.”

Arga memijat kening.

“Dinda, jangan campur masalah ini dengan aset.”

“Aku justru harus membahasnya sekarang.”

“Kenapa?”

Aku memandangnya.

“Karena dulu aku terlambat.”

Ia kembali terlihat bingung.

Aku tidak menjelaskan kehidupan sebelumnya.

Tidak ada gunanya.

Yang penting aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang.

Bu Lilis berkata,

“Kalau begitu jangan bawa pemberian dari keluarga kami juga.”

Aku melihat lima benda di meja.

“Silakan ambil.”

Aku mendorong nampan ke arahnya.

“Rp4.850.000 itu milik Mama.”

Beberapa orang tertawa kecil sebelum segera menahan diri.

Bu Lilis langsung memerah.

Nisa mendekat.

“Mbak memang dari awal mau mempermalukan keluarga kami, ya?”

Aku menatapnya.

“Dari awal kamu yang membeli barang ini.”

Nisa terdiam.

“Kalau aku tidak tes hari ini, rencana kalian apa?”

“Enggak ada rencana apa-apa!”

Aku membuka pesan yang sudah kusiapkan.

“Tanggal 12.”

Aku membaca dari layar.

Percakapan antara Nisa dan sebuah nomor yang kusimpan.

Nisa: Nanti setelah sebulan bilang saja barang yang dikasih Mama asli.

Nomor itu menjawab: Terus?

Nisa: Kalau dia bawa ke toko dan ketahuan, Mama bilang dia sudah tukar.

Bu Lilis langsung menatap putrinya.

“Nisa!”

Untuk pertama kali hari itu, ekspresi Bu Lilis benar-benar terlihat terkejut.

Aku berhenti.

Ini berbeda dari yang kukira.

Aku menatap Nisa.

“Jadi Mama tidak tahu pesan ini?”

Nisa pucat.

Arga mengambil ponselku.

“Dapat dari mana?”

Aku merebutnya kembali.

“Seorang teman Nisa mengirimkannya setelah aku bertanya soal toko.”

Nisa berkata cepat,

“Itu cuma bercanda!”

“Bercanda?”

“Chat lama.”

“Dua minggu lalu.”

Nisa tidak menjawab.

Bu Lilis maju.

“Kamu memang merencanakan ini?”

Nisa panik.

“Mama sendiri yang bilang kita enggak punya uang untuk beli emas asli!”

“Tapi Mama tidak pernah menyuruh kamu menuduh Dinda menukar!”

Aku menatap keduanya.

Jadi ada lapisan lain.

Dalam kehidupan sebelumnya, aku selalu menganggap Bu Lilis merencanakan semuanya.

Ternyata tidak sepenuhnya.

Nisa yang menyiapkan skenario untuk masa depan.

Namun belum selesai.

Aku memperhatikan Arga.

Ia terlalu diam.

Sejak pesan tadi dibacakan, ia tidak terlihat terkejut.

Aku mengenalnya cukup lama untuk tahu.

Kalau Arga benar-benar terkejut, ia akan langsung bertanya.

Ia akan bicara cepat.

Ia akan berjalan mondar-mandir.

Sekarang ia hanya berdiri.

Aku merasa ada sesuatu yang salah.

“Arga.”

Ia melihatku.

“Kamu sudah tahu?”

“Apa?”

“Soal chat Nisa.”

“Enggak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku mendekat.

“Lihat aku.”

Ia menatapku.

Aku bertanya sekali lagi.

“Kamu tahu?”

“Dinda, jangan mulai menuduh semua orang.”

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Dalam kehidupan sebelumnya, ada satu hal yang tidak pernah kupahami.

Bagaimana Bu Lilis bisa mengetahui dengan tepat kapan aku membawa gelang ke toko.

Aku tidak pernah memberitahunya.

Aku hanya pernah bercerita kepada Arga.

Aku merasa dingin.

“Ponselmu.”

Arga mengerutkan dahi.

“Apa?”

“Kasih ponselmu.”

“Untuk apa?”

“Kalau kamu enggak terlibat, kasih.”

“Ini sudah keterlaluan.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Aku mengambil ponselku sendiri.

“Aku punya cadangan.”

Arga langsung berubah.

“Cadangan apa?”

Aku membuka satu tangkapan layar lagi.

Tadi pagi, sebelum acara dimulai, seseorang mengirimkannya kepadaku.

Awalnya aku tidak tahu apakah itu asli.

Sekarang aku tahu.

Chat grup kecil.

Anggotanya tiga orang.

Nisa.

Bu Lilis.

Arga.

Pesan Nisa:

Barangnya sudah siap.

Bu Lilis:

Jangan sampai kelihatan murahan.

Lalu Arga membalas:

Yang penting buat foto dulu. Nanti urusan setelah nikah gampang.

Aku membaca kalimat terakhir pelan-pelan.

Ruangan benar-benar sunyi.

Arga langsung maju.

“Dinda, dengar dulu.”

Aku mundur.

“Jadi kamu tahu.”

“Bukan begitu.”

“Kamu tahu.”

“Aku tahu barang itu bukan emas asli.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Aku memejamkan mata sebentar.

Ternyata bahkan dalam kehidupan sebelumnya aku masih terlalu baik kepadanya.

Aku selalu berpikir Arga hanya lemah terhadap ibunya.

Ternyata ia tahu sejak awal.

Aku bertanya,

“Kenapa?”

Ia menghela napas.

“Mama lagi banyak kebutuhan.”

“Itu bukan jawaban.”

“Kita rencananya beli emas asli setelah menikah.”

“Kapan?”

“Kalau kondisi sudah lebih bagus.”

“Dengan uang siapa?”

Arga diam.

Aku langsung tahu.

“Dengan uangku?”

“Dengan uang kita.”

“Belum menikah satu hari, uangku sudah jadi uang kita?”

“Dinda, nanti kita suami istri.”

Aku hampir tidak percaya aku pernah menganggap kalimat seperti itu masuk akal.

Aku bertanya,

“Dan kalau aku mengetahui barang ini palsu sebelum kalian sempat menggantinya?”

Arga tidak menjawab.

Aku menunjukkan chat Nisa.

“Adikmu sudah punya rencana.”

“Aku enggak setuju soal itu.”

“Tapi kamu tidak menghentikannya.”

“Aku pikir dia cuma bercanda.”

“Kamu selalu punya alasan.”

Arga mulai kesal.

“Oke. Aku salah tidak bilang dari awal. Puas?”

Aku menatapnya.

Bukan.

Aku sama sekali tidak puas.

Tetapi aku sudah mendapat jawaban yang kubutuhkan.

Aku memasukkan ponsel ke tas.

“Ayah.”

Ayah langsung mendekat.

“Aku mau pulang.”

Arga menahanku.

“Dinda, akad sudah selesai.”

Aku berhenti.

Aku melihat cincin di meja.

Secara hukum, pernikahan kami memang sudah tercatat pagi tadi.

Aku sudah memikirkan kemungkinan ini.

“Karena itu besok pengacara keluargaku akan menghubungimu.”

Wajah Arga berubah.

“Pengacara?”

“Aku tidak akan tinggal bersamamu.”

Bu Lilis langsung berkata,

“Kamu benar-benar mau merusak rumah tangga pada hari pertama?”

Aku menggeleng.

“Saya justru baru tahu rumah tangga seperti apa yang akan saya masuki.”

Aku baru hendak berjalan ketika Pak Surya akhirnya bicara.

“Dinda.”

Aku menoleh.

Ia berdiri dari kursinya.

Wajahnya tegang sejak tadi.

“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

Bu Lilis langsung memandang suaminya.

“Pak.”

Pak Surya mengabaikannya.

Ia masuk ke ruang keluarga sebentar.

Lalu kembali membawa tas dokumen hitam.

Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas.

“Dua bulan lalu Arga meminta saya menjadi saksi untuk pengajuan kredit.”

Aku menatap Arga.

“Apa?”

Arga langsung berkata,

“Papa, jangan.”

Pak Surya melanjutkan.

“Dia menggunakan rencana usaha sebagai alasan.”

Aku mengambil dokumen itu.

Nilainya Rp1,8 miliar.

Namaku tercantum di bagian calon penjamin setelah menikah.

Aku merasa telapak tanganku dingin.

“Tanda tangan ini bukan tanda tanganku.”

Pak Surya mengangguk.

“Itulah kenapa saya tidak jadi menandatangani sebagai saksi.”

Aku melihat Arga.

“Ini apa?”

“Baru draft.”

“Kenapa ada tanda tanganku?”

“Cuma contoh.”

“Contoh?”

Aku hampir tertawa.

“Dari mana kamu punya contoh tanda tanganku?”

Arga terdiam.

Aku langsung teringat formulir administrasi pernikahan.

Salinan KTP.

NPWP.

Slip pendapatan.

Beberapa dokumen yang pernah kuminta Arga bantu kirimkan.

Bu Lilis bahkan tidak tahu soal kredit itu.

Ia terlihat sama terkejutnya denganku.

“Arga?”

Arga mulai bicara lebih cepat.

“Aku mau buka usaha distribusi. Kalau semuanya berjalan, kita juga yang menikmati.”

Aku menatap angka Rp1,8 miliar lagi.

“Kamu mau menjadikan aku penjamin tanpa bicara denganku?”

“Itu belum diajukan.”

“Karena Papa menolak jadi saksi.”

Pak Surya mengangguk.

Arga marah.

“Papa enggak perlu ikut campur!”

Pak Surya menjawab pelan,

“Saya sudah terlalu lama tidak ikut campur.”

Kalimat itu membuat Arga diam.

Pak Surya menatapku.

“Maaf.”

Aku tidak langsung menjawab.

Ia melanjutkan,

“Saya tahu soal barang palsu ini kemarin malam.”

Bu Lilis menoleh.

“Bapak tahu?”

“Saya dengar kalian bicara.”

“Kenapa Bapak diam?”

Pak Surya menatap istrinya.

“Itu kesalahan saya.”

Ia lalu melihatku lagi.

“Saya pikir setelah acara saya bisa menyelesaikannya di rumah.”

Aku menggeleng.

“Itulah masalah keluarga ini.”

Pak Surya diam.

“Semua orang tahu ada yang salah.”

Aku melihat satu per satu wajah mereka.

“Tapi semua menunggu sampai saya yang menanggung akibatnya.”

Tidak ada yang membalas.

Aku menutup dokumen kredit.

Lalu menyerahkannya kepada Ayah.

“Ayah, simpan.”

Ayah memasukkannya ke map.

Arga terlihat panik sekarang.

“Dinda, kita bicara berdua.”

Aku menggeleng.

“Enggak.”

“Kita menikah karena kita saling sayang.”

Aku memandangnya cukup lama.

Dulu kalimat itu mungkin membuatku bertahan.

Sekarang tidak.

“Kalau kamu sayang, kamu enggak menyiapkan utang atas namaku.”

“Itu untuk masa depan!”

“Bukan masa depanku.”

Aku berbalik.

Namun sebelum aku meninggalkan ballroom, Nisa tiba-tiba berkata,

“Tunggu.”

Aku berhenti.

Ia menggigit bibirnya beberapa detik.

“Ada satu hal lagi.”

Arga langsung menatap adiknya.

“Nisa.”

Nada suaranya berubah.

Itu membuatku tahu apa pun yang akan dikatakan Nisa jauh lebih besar daripada perhiasan.

Nisa mengambil ponselnya.

“Dua minggu lalu Mas Arga transfer Rp120 juta ke rekeningku.”

Arga langsung maju.

“Diam.”

Aku memandang Nisa.

“Untuk apa?”

Nisa terlihat ketakutan.

Namun ia tetap menjawab.

“Untuk bayar uang muka barang dagangan.”

“Barang apa?”

“Bukan buat aku.”

Ia menatap Arga.

“Untuk perusahaan yang mau dia buka.”

Aku tidak mengerti.

“Terus?”

Nisa membuka aplikasi bank.

“Uang itu berasal dari rekening wedding fund.”

Aku membeku.

Rekening wedding fund adalah rekening yang diisi aku dan Arga selama satu tahun.

Aku memasukkan sebagian besar uangnya karena penghasilanku lebih tinggi.

Saldo terakhir hampir Rp310 juta.

Aku membuka aplikasi bank.

Login.

Saldo muncul.

Rp46.820.000.

Tanganku langsung berhenti.

Terakhir kali aku mengecek, jumlahnya Rp286 juta.

Aku melihat Arga.

“Kamu mengambilnya?”

Ia tidak menjawab.

“Berapa?”

“Dinda—”

“Berapa?”

“Sebagian.”

Aku menunjukkan layar.

“Lebih dari Rp200 juta hilang.”

“Itu investasi.”

“Tanpa izinku.”

“Kita akan menikah!”

“Kita belum menikah saat uang itu kamu ambil!”

Aku memeriksa riwayat transfer.

Rp120 juta ke Nisa.

Rp80 juta ke sebuah perusahaan.

Rp35 juta ke rekening atas nama orang yang tidak kukenal.

Sisanya berbagai transaksi.

Aku membuka detail perusahaan.

Nama itu terasa asing.

PT Sinar Tiga Mandiri.

Pak Surya tiba-tiba berkata,

“Itu perusahaan milik teman Arga.”

Aku melihat suamiku.

“Mereka belum punya operasional tetap.”

Pak Surya melanjutkan.

“Karena itu bank meminta penjamin.”

Sekarang semuanya tersambung.

Perhiasan palsu.

Rencana mengambil simpanan emas keluargaku.

Dana pernikahan yang sudah berkurang.

Dokumen kredit menggunakan namaku.

Aku tidak sedang masuk ke keluarga yang hanya ingin terlihat kaya.

Aku hampir masuk ke sebuah rangkaian masalah keuangan yang sudah disiapkan sebelum aku menjadi istri.

Aku menyimpan ponsel.

Tidak ada lagi yang perlu kutanyakan.

Aku berjalan ke arah orang tuaku.

Arga memanggilku.

“Dinda!”

Aku berhenti sekali lagi.

Ia datang mendekat.

“Aku bisa jelaskan.”

“Aku enggak butuh penjelasan.”

“Aku bisa balikin uangnya.”

“Balikin.”

“Iya.”

“Setelah itu pengacara kita yang bicara.”

Wajahnya jatuh.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

Bu Lilis menangis lagi.

Kali ini aku tidak berhenti.

Aku berjalan keluar ballroom bersama Ayah dan Ibu.

Fotografer menurunkan kameranya saat aku lewat.

Aku meminta satu hal kepada wedding organizer.

“Tolong simpan semua rekaman asli hari ini.”

Koordinator mengangguk.

“Baik, Mbak.”

Tiga hari kemudian, pengacaraku mengirim pemberitahuan resmi kepada Arga.

Dana yang ia pindahkan dari rekening bersama harus dikembalikan.

Dokumen kredit diserahkan untuk diperiksa lebih lanjut karena menggunakan data pribadiku tanpa persetujuan.

Aku juga meminta seluruh komunikasi dilakukan melalui pengacara.

Bu Lilis menelepon puluhan kali.

Aku tidak menjawab.

Nisa mengirim pesan.

Mbak, aku minta maaf.

Aku hanya membalas satu kalimat.

Serahkan semua bukti transfer ke pengacaraku.

Seminggu kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Pak Surya datang ke kantor pengacara.

Ia membawa sebuah kotak kecil.

Di dalamnya ada flash drive.

“Apa ini?” tanyaku.

“Rekaman kamera ruang kerja saya.”

Aku langsung menatapnya.

Pak Surya menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelumnya ia memasang kamera di ruang kerja setelah dokumen perusahaan berkali-kali berpindah tempat.

Salah satu rekaman menangkap Arga masuk ke ruangan itu.

Membuka laci.

Memotret salinan dokumen pajakku yang pernah dititipkan untuk administrasi pernikahan.

Kemudian ia mengambil contoh tanda tanganku dari berkas lain.

Aku menonton hanya beberapa menit.

Setelah itu aku meminta pengacara menghentikan video.

Aku sudah cukup.

Namun Pak Surya belum selesai.

Ia meletakkan satu dokumen lagi di meja.

“Ada alasan lain saya datang.”

Aku melihatnya.

“Apa?”

Ia menarik napas.

“Rp80 juta yang Arga transfer ke perusahaan itu sudah tidak ada.”

“Ke mana?”

“Dipakai menutup utang lama.”

Aku terdiam.

“Jadi bukan modal usaha?”

“Bukan.”

Pak Surya menggeleng.

“Usahanya bahkan belum berjalan.”

Aku tidak merasa terkejut lagi.

Aku hanya merasa beruntung mengetahui semuanya sekarang.

Sebelum rekeningku ikut digunakan.

Sebelum simpanan keluargaku berpindah.

Sebelum aku menghabiskan bertahun-tahun membela orang yang bahkan sejak hari pertama sudah menyembunyikan sesuatu.

Satu bulan kemudian, mediasi pertama dilakukan.

Arga terlihat jauh lebih kurus.

Ia duduk di seberangku.

“Dinda.”

Aku tidak menjawab.

“Aku benar-benar menyesal.”

Aku tetap diam.

“Aku pikir setelah usaha jalan, semua uang bisa kembali sebelum kamu tahu.”

Aku akhirnya melihatnya.

“Itu justru masalahnya.”

“Apa?”

“Kamu pikir semuanya baik-baik saja selama aku enggak tahu.”

Arga menunduk.

Aku tidak marah lagi.

Aku juga tidak ingin membalas.

Aku hanya ingin keluar.

Dana rekening bersama akhirnya dikembalikan bertahap dengan bantuan penjualan aset pribadi Arga.

Aku tidak meminta barang milik Bu Lilis.

Lima perhiasan palsu itu tetap berada di pihak mereka.

Beberapa bulan kemudian, proses perpisahan kami selesai.

Aku kembali tinggal sendiri.

Sepuluh batang emas yang dahulu hampir kutitipkan kepada Bu Lilis masih tersimpan atas namaku.

Ayah pernah bertanya apakah aku menyesal mengubah seluruh hidupku hanya karena sebuah magnet kecil.

Aku menggeleng.

“Bukan magnetnya yang mengubah hidupku, Yah.”

Ayah menatapku.

Aku menjawab,

“Magnet itu cuma membuat semuanya terlihat lebih cepat.”

Aku tidak pernah kembali menemui keluarga Mahendra setelah itu.

Namun beberapa waktu kemudian, aku menerima satu paket tanpa nama pengirim.

Di dalamnya ada kotak merah yang dahulu digunakan Bu Lilis di panggung pernikahanku.

Aku membukanya.

Lima perhiasan palsu masih ada di sana.

Di bawah nampan beludru terdapat secarik kertas.

Tulisan tangan Pak Surya.

Saya menemukannya saat membereskan rumah. Saya rasa benda-benda ini seharusnya menjadi milik orang yang berhasil membongkar kebenarannya.

Aku tidak menyimpannya.

Aku menyerahkan semuanya kepada pengacaraku sebagai bagian dari dokumentasi kasus.

Hidup keduaku tidak berubah karena aku menjadi lebih berani.

Aku hanya berhenti mengabaikan tanda-tanda yang sebelumnya sengaja tidak ingin kulihat.

Dan kali ini, saat sesuatu yang palsu menempel pada magnet di depan ratusan orang, aku tidak lagi membiarkan siapa pun mengatakan bahwa aku hanya membayangkannya.