
BAGIAN 1
Dokter Hendra memperbesar gambar CT Scan di layar.
Aku berdiri di samping kursinya sambil menahan napas.
Di bagian perut Ibu terlihat benda kecil berbentuk tabung.
Panjangnya hanya beberapa sentimeter.
Permukaannya padat.
Dokter menunjuk benda itu.
“Bu Maya, ini bukan bagian dari tubuh Ibu Rahmi.”
Aku menatap layar lebih dekat.
“Lalu apa, Dok?”
“Benda logam.”
Aku langsung menoleh kepada Ibu.
Ibu duduk di ranjang pemeriksaan sambil meremas ujung selimut.
Wajahnya pucat.
Namun yang membuatku takut bukan ekspresi kesakitan.
Ibu terlihat seperti seseorang yang sudah tahu benda itu ada di sana.
“Bu?”
Ibu tidak menjawab.
Dokter Hendra memandangnya.
“Bu Rahmi, apakah Ibu pernah menelan sesuatu yang terbuat dari logam?”
Tangan Ibu langsung berhenti bergerak.
Aku mendekat.
“Ibu tahu soal ini?”
Air mata mulai memenuhi matanya.
“Maya…”
“Kenapa Ibu diam?”
Ibu memegang tanganku.
“Maafkan Ibu.”
Dadaku terasa sesak.
Selama berbulan-bulan Ibu hampir tidak makan. Berat badannya turun. Dia sering mengeluh perutnya perih tetapi selalu menolak dibawa ke rumah sakit.
Aku mengira Ibu takut biaya.
Ternyata ada sesuatu yang jauh lebih besar.
“Apa yang Ibu telan?”
Ibu baru membuka mulut ketika pintu ruangan terdorong dari luar.
Aris masuk tergesa-gesa.
“Apa yang kalian lakukan?”
Aku menatapnya.
“Aku membawa Ibu periksa.”
“Aku sudah meneleponmu berkali-kali.”
“Aku tahu.”
Aris hendak mengatakan sesuatu, tetapi matanya tertuju pada monitor.
Tubuhnya langsung diam.
Tatapannya terpaku pada benda berbentuk kapsul itu.
Aku melihat perubahan wajahnya dalam beberapa detik.
“Ris?”
Aris mendekati layar.
“Itu apa?”
Dokter Hendra menjawab tenang.
“Kapsul logam. Kami perlu mengeluarkannya karena posisinya sudah menimbulkan masalah.”
Aris menelan ludah.
“Tidak.”
Dokter Hendra mengernyit.
“Maksud Bapak?”
“Tidak perlu dikeluarkan.”
Aku sampai mengira salah dengar.
“Ibuku kesakitan.”
Aris menarik lenganku.
“Maya, ikut aku keluar.”
Aku melepaskan tangannya.
“Katakan di sini.”
Aris melihat Ibu.
Kemudian melihat dokter.
Suaranya mengecil.
“Benda itu tidak boleh dibuka.”
Aku merasa telapak tanganku mulai dingin.
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan.”
Ibu yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat kepala.
“Karena kamu mengenal kapsul itu, Aris.”
Suasana ruangan langsung berubah.
Aris menatap Ibu.
“Jangan mulai.”
Ibu justru terlihat lebih tenang.
“Empat hari lalu kamu datang ke rumah Ibu.”
Aku menatap suamiku.
“Kamu datang ke rumah Ibu?”
Aris langsung menjawab.
“Aku cuma mengantar dokumen.”
“Jam sebelas malam?”
Ibu bertanya pelan.
Aris tidak menjawab.
Ibu melanjutkan.
“Kamu membuka lemari. Membongkar meja kerja almarhum Ayah Maya. Kamu mencari benda ini.”
Jantungku berdegup makin cepat.
Aku melihat kapsul di monitor lagi.
“Apa isinya?”
Ibu menarik napas.
“Sesuatu yang Aris takutkan.”
Aris mendadak maju.
“Bu Rahmi, cukup.”
Dokter Hendra berdiri.
“Pak, silakan jaga sikap.”
Aris tidak mempedulikannya.
Dia menatap Ibu.
“Kenapa Ibu melakukan ini?”
Ibu menjawab singkat.
“Karena saya tidak punya tempat aman lagi.”
Aku benar-benar tidak mengerti.
“Aman dari siapa?”
Ibu tidak menjawab.
Aris justru menoleh kepadaku.
“Maya, kita pulang. Sekarang.”
“Aku tidak akan pergi sebelum tahu apa yang terjadi.”
“Kamu tidak paham masalahnya.”
“Jadi jelaskan.”
Aris mendekat dan berbicara sangat pelan.
“Kalau benda itu dibuka, bukan cuma aku yang bermasalah.”
Aku menatap matanya.
“Apa maksudmu?”
“Kamu juga bisa ikut hancur.”
Aku merasa seluruh tubuhku kaku.
“Kenapa namaku terlibat?”
Aris diam.
Itu jawaban yang cukup.
Aku mengambil ponsel.
Aris langsung meraih pergelangan tanganku.
“Maya, jangan.”
Aku menarik tanganku.
“Aku mau memanggil polisi.”
Wajahnya semakin pucat.
“Jangan lakukan hal bodoh.”
“Kenapa?”
“Karena ada dokumen atas namamu.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Dokumen apa?”
Tidak ada jawaban.
Ibu Rahmi mulai menangis.
“Maya…”
Aku menoleh.
Ibu berkata sangat pelan.
“Perusahaan itu memakai namamu.”
“Perusahaan apa?”
Ibu menatap Aris.
“Perusahaan tempat uang itu dipindahkan.”
Aku langsung menelepon polisi.
Aris berdiri di depanku tanpa bergerak.
Untuk pertama kalinya selama dua belas tahun pernikahan kami, aku melihat ketakutan asli di wajahnya.
Lalu Ibu mengatakan kalimat yang membuat semuanya jauh lebih buruk.
“Di dalam kapsul itu ada bukti bahwa Maya tidak pernah menyetujui satu pun transaksi tersebut.”
Aku menurunkan ponsel perlahan.
“Transaksi apa, Bu?”
Ibu menatapku.
“Lebih dari delapan miliar Rupiah.”
Aku merasa suara di ruangan itu menghilang.
Aris berbisik.
“Jangan buka kapsul itu.”
Aku menatap suamiku.
Saat itu aku sadar satu hal.
Aris bukan takut kehilangan uang.
Dia takut aku mengetahui mengapa namaku ada di semua dokumen itu.
BERSAMBUNG KE BAGIAN 2…
BAGIAN 2
Dua petugas kepolisian datang sekitar empat puluh menit kemudian.
Aku duduk di samping Ibu.
Aris berdiri dekat jendela dengan tangan terlipat.
Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara.
Begitu petugas masuk, Aris langsung berubah sikap.
Nada suaranya lebih tenang.
“Sebenarnya ini cuma masalah keluarga.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Petugas bernama Pak Dimas menarik kursi.
“Kalau memang masalah keluarga, Bapak bisa menjelaskan dari awal.”
Aris menggeleng.
“Saya tidak tahu apa-apa soal benda itu.”
Aku menatapnya.
Beberapa menit sebelumnya dia memohon agar kapsul tersebut tidak dibuka.
Sekarang dia mengaku tidak tahu.
Pak Dimas mencatat sesuatu.
Aku menceritakan semuanya.
Keluhan Ibu.
CT Scan.
Reaksi Aris.
Ucapan mengenai dokumen atas namaku.
Ketika aku selesai, Pak Dimas bertanya kepada Ibu.
“Bu Rahmi, kapsul itu milik Ibu?”
Ibu mengangguk.
“Isinya milik saya.”
“Apa isinya?”
“Sebuah kartu memori kecil.”
Aris langsung bergerak.
“Itu belum tentu benar.”
Pak Dimas menoleh.
“Bapak silakan menunggu giliran.”
Aris diam lagi.
Aku memegang tangan Ibu.
“Kenapa Ibu menelannya?”
Ibu menatapku cukup lama.
“Karena empat malam lalu Aris datang membawa dua orang.”
Aku melihat Aris.
“Dua orang siapa?”
“Temannya.”
Aris langsung menyela.
“Tidak ada siapa-siapa.”
Ibu tetap melanjutkan.
“Mereka menunggu di mobil. Aris masuk sendirian. Dia bilang mau mengambil berkas pajak milik Ayahmu.”
Aku teringat malam itu.
Aris pulang hampir pukul satu.
Ketika kutanya dari mana, dia mengatakan ada klien yang meminta pertemuan mendadak.
Ternyata dia berada di rumah Ibu.
Ibu berkata, “Saya sudah curiga dia akan datang. Jadi kartu memorinya saya masukkan ke kapsul kecil bekas wadah identitas medis milik almarhum suami saya.”
“Lalu?”
“Aris mulai memeriksa lemari.”
Ibu menatap lantai.
“Saya panik.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Saya tidak tahu harus menyembunyikannya di mana. Tas diperiksa. Laci diperiksa. Jadi saya menelannya.”
Aku memejamkan mata sebentar.
“Kenapa Ibu tidak langsung meneleponku?”
“Karena dalam kartu itu ada namamu.”
Jawaban itu justru membuatku lebih takut.
Dokter Hendra masuk setelah berbicara dengan tim medis.
“Kapsulnya harus dikeluarkan hari ini.”
Aris langsung menoleh.
“Apakah bisa dibuang saja setelah keluar?”
Semua orang memandangnya.
Dia baru sadar pertanyaannya terdengar buruk.
“Maksud saya, kalau benda itu berbahaya secara medis.”
Dokter Hendra menjawab singkat.
“Setelah dikeluarkan, benda itu akan diamankan sesuai prosedur.”
Pak Dimas mengangguk.
“Kami akan mencatat penyerahannya.”
Aris duduk.
Untuk pertama kalinya sejak datang, dia tidak memiliki jawaban.
Ibu dibawa untuk persiapan tindakan.
Aku menunggu di lorong rumah sakit bersama Aris dan dua petugas.
Aris duduk di kursi seberangku.
Setelah hampir sepuluh menit, dia berkata pelan.
“Maya.”
Aku tidak menjawab.
“Dengar dulu.”
Aku menatapnya.
“Silakan.”
“Semua tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Aku bahkan belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Itulah maksudku.”
Dia mendekat sedikit.
“Aku melakukan beberapa transaksi untuk investasi.”
“Memakai namaku?”
“Itu untuk kepentingan kita.”
“Apakah aku tahu?”
Aris diam.
“Apakah aku tanda tangan?”
Dia mengusap wajah.
“Kamu pernah tanda tangan beberapa dokumen.”
“Dokumen apa?”
“Dokumen keluarga.”
Aku langsung teringat dua tahun lalu.
Aris pernah membawa satu map tebal saat aku sedang menyiapkan acara sekolah anak saudaraku.
Dia menunjukkan beberapa lembar.
Katanya itu pembaruan data pajak keluarga dan perubahan rekening investasi.
Aku menandatangani empat tempat.
Aku bahkan tidak membaca seluruh halaman.
Karena aku percaya kepada suamiku.
Sekarang rasa malu mulai muncul.
Bukan karena aku melakukan sesuatu.
Aku malu karena selama bertahun-tahun Aris berhasil membuatku berpikir bahwa mengajukan pertanyaan soal uang berarti aku tidak percaya suami.
Setiap kali aku bertanya mengenai tabungan, dia berkata semuanya terkendali.
Setiap kali aku meminta melihat laporan rekening, dia mengatakan urusan investasi terlalu rumit.
Aku berhenti bertanya.
Sekarang aku memahami mengapa.
“Apa yang kamu lakukan dengan tanda tanganku?”
Aris berbisik.
“Aku tidak bisa menjelaskannya di sini.”
“Justru jelaskan di depan polisi.”
Dia menatap Pak Dimas.
Lalu kembali menatapku.
“Maya, kalau kita selesaikan sendiri, masih bisa diperbaiki.”
“Kita?”
“Ini juga menyangkut masa depanmu.”
“Jangan memakai kata kita.”
Aris mengepalkan kedua tangannya.
“Aku suamimu.”
“Karena itu aku semakin ingin tahu.”
Dia tidak menjawab lagi.
Hampir satu jam kemudian, Dokter Hendra kembali.
Tindakannya selesai.
Ibu dalam keadaan stabil dan sedang beristirahat.
Dokter membawa sebuah wadah medis transparan yang sudah disegel.
Di dalamnya terlihat kapsul kecil berwarna keperakan.
Aku tidak pernah membayangkan benda sekecil itu bisa membuat pernikahan dua belas tahunku terasa seperti sesuatu yang sama sekali tidak kukenal.
Pak Dimas menerima wadah tersebut.
“Kita tidak akan membukanya sembarangan.”
Aris berdiri.
“Saya minta pengacara hadir.”
Pak Dimas mengangguk.
“Itu hak Bapak.”
Satu jam kemudian, setelah pencatatan dan persetujuan Ibu, kapsul akhirnya dibuka di ruangan khusus.
Di dalamnya memang ada kartu memori.
Sangat kecil.
Namun kartu itu dibungkus plastik kedap air dan masih terlihat utuh.
Aris menunduk.
Aku tahu dia mengenal benda itu.
Petugas tidak langsung menunjukkan isinya kepada kami.
Kartu diperiksa lebih dahulu.
Aku kembali menemui Ibu.
Ibu sedang duduk setengah tegak sambil minum sedikit air.
Begitu melihatku, dia langsung berkata,
“Maaf.”
Aku duduk di sampingnya.
“Jangan minta maaf.”
“Ibu seharusnya cerita dari awal.”
“Aku cuma ingin tahu bagaimana semua ini dimulai.”
Ibu terdiam sebentar.
“Tiga bulan lalu, Ibu mendapat surat dari bank.”
“Surat apa?”
“Pemberitahuan soal jaminan.”
Aku mengernyit.
“Jaminan rumah?”
Ibu mengangguk.
Rumah Ibu di Kebayoran Baru sudah lunas sejak lama.
Ayah membelinya puluhan tahun lalu.
Setelah Ayah meninggal, sertifikatnya tetap atas nama Ibu.
“Bank mengatakan ada pengajuan pembiayaan perusahaan dengan dokumen pendukung yang mencantumkan rumah Ibu.”
Aku langsung berdiri.
“Bagaimana bisa?”
“Itu juga yang Ibu tanyakan.”
Ibu kemudian mendatangi cabang bank.
Di sana dia mendapatkan salinan beberapa dokumen.
Salah satunya surat persetujuan keluarga.
Di bagian saksi tercantum namaku.
Tanda tangannya mirip milikku.
Sangat mirip.
“Aku tidak pernah menandatangani apa pun soal rumah Ibu.”
“Ibu tahu.”
“Bagaimana Ibu bisa yakin?”
Ibu memandangku.
“Karena tanggal dokumennya 14 Agustus tahun lalu.”
Aku mengingat tanggal itu.
Aku berada di Yogyakarta selama tiga hari bersama teman-teman kampus.
Aris bahkan menjemputku di bandara ketika pulang.
“Aku tidak berada di Jakarta.”
“Itu sebabnya Ibu mulai mencari.”
Ternyata Ayah dulu menyimpan salinan dokumen keluarga secara digital.
Bukan karena dia mencurigai Aris.
Ayah memang teliti.
Setelah menemukan surat dari bank, Ibu membandingkan dokumen lama dengan dokumen baru.
Nomor identitasku benar.
Alamatku benar.
Tanda tanganku hampir sama.
Namun ada satu hal berbeda.
Aku tidak pernah menggunakan alamat surel yang tercantum dalam dokumen.
Alamat itu dibuat menggunakan namaku.
Ibu kemudian meminta bantuan Raka, keponakanku yang bekerja di bidang teknologi informasi.
Raka menelusuri beberapa dokumen publik perusahaan.
Di situlah nama sebuah perusahaan muncul.
PT Karya Sentosa Konsultan.
Direkturnya tercatat atas namaku.
Aku sampai berdiri dari kursi ketika Ibu mengucapkannya.
“Apa?”
Ibu mengangguk.
“Namamu tercatat sebagai direktur.”
“Aku bahkan tidak tahu perusahaan itu ada.”
“Itulah sebabnya Ibu takut.”
Aku keluar dari kamar dan langsung mencari Aris.
Dia sedang berdiri di ujung lorong berbicara dengan seorang pria berjas yang sepertinya pengacaranya.
Aku berjalan cepat ke arahnya.
“PT Karya Sentosa Konsultan.”
Aris berhenti bicara.
Aku tahu dari ekspresinya.
“Kamu mengenalnya.”
Pengacaranya mencoba masuk.
“Bu Maya, sebaiknya pembicaraan—”
Aku mengangkat tangan.
“Saya bicara dengan suami saya.”
Aku menatap Aris.
“Aku direkturnya?”
“Maya…”
“Aku tanya sekali lagi. Aku direkturnya?”
“Secara administratif.”
Aku tidak percaya dia masih bisa menggunakan kalimat seperti itu.
“Secara administratif?”
“Itu perusahaan sementara.”
“Untuk apa?”
Dia diam.
Aku mendekat satu langkah.
“Delapan miliar itu dari mana?”
Pengacaranya kembali mencoba menghentikan.
Aris justru berkata,
“Dana klien.”
Aku terpaku.
“Kamu memindahkan uang klien ke perusahaan atas namaku?”
“Bukan seperti itu.”
“Lalu seperti apa?”
“Itu transaksi sementara. Aku akan mengembalikannya.”
“Kapan?”
Aris tidak menjawab.
Aku langsung tahu jawabannya.
Tidak ada rencana pengembalian.
Paling tidak bukan rencana yang nyata.
Pak Dimas keluar dari ruangan pemeriksaan barang elektronik.
Dia meminta aku ikut masuk.
Aris juga diminta masuk bersama pengacaranya.
Di dalam, ada laptop di atas meja.
Seorang petugas menunjukkan daftar file dari kartu memori.
Ada puluhan dokumen.
Foto surat bank.
Salinan akta.
Rekaman percakapan.
Tangkapan layar pesan.
Bukti transfer.
Dan sebuah folder bernama MAYA.
Aku merasakan perutku menegang.
Petugas membuka folder itu.
Isinya puluhan dokumen PDF.
Namaku tercantum di banyak tempat.
Direktur.
Pemberi persetujuan.
Penanggung jawab rekening.
Penerima manfaat transaksi.
Aku membaca satu per satu sambil merasa semakin sulit percaya.
Ada transfer Rp2,1 miliar.
Rp1,75 miliar.
Rp980 juta.
Rp1,4 miliar.
Jumlahnya terus bertambah.
Pak Dimas bertanya,
“Bu Maya pernah menerima uang ini?”
“Tidak.”
Aris langsung berkata,
“Dana itu ada dalam investasi.”
Petugas menatapnya.
“Investasi apa?”
Pengacaranya menyentuh lengan Aris.
Aris berhenti bicara.
Kemudian sebuah file audio diputar.
Suara Ibu terdengar lebih dulu.
“Kenapa nama Maya ada di perusahaan ini?”
Lalu suara Aris.
Jelas.
“Bu tidak perlu ikut campur.”
“Dia tahu?”
“Tidak perlu tahu.”
Aku merasa tangan mulai gemetar.
Rekaman berlanjut.
Ibu bertanya,
“Kalau terjadi masalah, siapa yang akan bertanggung jawab?”
Aris menjawab,
“Secara dokumen, Maya.”
Ruangan itu langsung sunyi.
Aku tidak menatap siapa pun.
Aku hanya mendengar suara Aris dari rekaman.
“Dia istri saya. Saya bisa mengatur.”
Aku menoleh kepada suamiku.
Aris tidak mampu menatapku.
Dua belas tahun.
Aku tidur di rumah yang sama dengan pria itu.
Makan bersama.
Merencanakan liburan.
Mengunjungi keluarga.
Membicarakan masa depan.
Sementara dia membuat perusahaan atas namaku dan menyiapkan dokumen agar ketika masalah muncul, aku yang terlihat berada di depan.
Aku tidak menangis.
Aku justru merasa sangat tenang.
Mungkin karena kenyataannya sudah terlalu jelas.
Petugas menghentikan audio.
“Ada rekaman lain.”
Aku menggeleng.
“Cukup dulu.”
Aku keluar.
Aris mengejarku beberapa menit kemudian.
“Maya.”
Aku terus berjalan.
“Maya, berhenti.”
Aku berbalik.
“Apa?”
“Aku tidak pernah berniat membuatmu masuk masalah.”
Aku menatapnya.
“Barusan aku mendengar suaramu sendiri.”
“Aku sedang tertekan waktu itu.”
“Kamu bilang aku yang akan bertanggung jawab.”
“Itu cuma cara bicara.”
“Perusahaannya atas namaku.”
“Aku bisa memperbaikinya.”
“Rumah Ibuku kamu jadikan jaminan.”
“Itu belum sampai tahap akhir.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Karena aku tidak tahu lagi harus menjawab apa.
Aris mendekat.
“Aku melakukan semua ini karena investasi awal gagal.”
“Apa hubungannya denganku?”
“Aku butuh waktu menutup kerugiannya.”
“Berapa kerugian awalmu?”
Dia diam.
“Berapa?”
“Sekitar Rp1,6 miliar.”
“Lalu kamu memindahkan lebih dari delapan miliar?”
“Aku mencoba menutup semuanya.”
Aku mengangguk pelan.
Akhirnya aku mengerti.
Bukan satu keputusan buruk.
Bukan satu kesalahan.
Setiap kali lubang muncul, Aris menutupnya menggunakan uang lain.
Ketika risiko semakin besar, dia mulai memakai identitasku.
Ketika tetap tidak cukup, rumah Ibu ikut dimasukkan.
“Kenapa aku?”
Aris memandangku seperti pertanyaan itu tidak perlu diajukan.
“Karena kita menikah.”
Aku merasa muak mendengar jawabannya.
“Justru itu masalahnya.”
Aku kembali ke ruang petugas.
Pemeriksaan kartu memori berlanjut.
Kemudian petugas menemukan sesuatu yang bahkan Ibu belum pernah ceritakan kepadaku.
Sebuah file video.
Rekamannya berasal dari kamera kecil di ruang kerja rumah Ibu.
Tanggalnya empat malam lalu.
Aku melihat Aris masuk.
Dia membawa tas hitam.
Ibu berdiri di dekat meja.
Aris bertanya,
“Di mana kartu memorinya?”
Ibu menjawab,
“Saya tidak tahu.”
“Kata Raka, Ibu menyalin semuanya.”
“Kalau iya?”
Aris mendekat ke meja.
“Saya hanya ingin menyelesaikan masalah sebelum Maya tahu.”
Ibu menjawab,
“Masalah ini memang harus Maya ketahui.”
Kemudian Aris mengatakan sesuatu yang membuat pengacaranya langsung menutup mata.
“Kalau Maya tahu sekarang, dia pasti pergi. Saya butuh status pernikahan ini tetap utuh sampai audit selesai.”
Aku menatap layar.
Pak Dimas menghentikan video.
“Audit apa?”
Aku menoleh kepada Aris.
Dia tidak menjawab.
Petugas membuka dokumen lain.
Ternyata perusahaan tempat Aris bekerja sedang menjalani audit internal.
Beberapa transaksi yang sedang diperiksa mengarah ke vendor bernama PT Karya Sentosa Konsultan.
Perusahaan atas namaku.
Aku mulai memahami seluruh rancangan itu.
Kalau audit menemukan transaksi, dokumen resmi akan menunjukkan bahwa perusahaan penerima dikendalikan olehku.
Aris bisa mengatakan dirinya hanya konsultan keuangan yang memiliki konflik kepentingan karena istrinya adalah pemilik vendor.
Aku yang akan terlihat menerima uangnya.
Namun kartu memori Ibu berisi dokumen yang berbeda.
Ada percakapan Aris dengan seseorang bernama Doni.
Ada instruksi pembuatan surel atas namaku.
Ada salinan pesan tentang penggunaan tanda tanganku.
Ada bukti bahwa akses rekening perusahaan dilakukan dari perangkat milik Aris.
Lebih penting lagi, ada rekaman suara yang menjelaskan alasan sebenarnya namaku digunakan.
Aku bukan rekannya.
Aku sedang dipersiapkan menjadi orang yang akan disalahkan.
Aris akhirnya duduk.
Wajahnya kosong.
Pak Dimas bertanya,
“Siapa Doni?”
Aris tidak menjawab.
Pengacaranya berkata,
“Klien saya akan memberikan keterangan resmi kemudian.”
Pemeriksaan hari itu belum selesai.
Tetapi aku tidak membutuhkan lebih banyak penjelasan untuk mengambil keputusan pribadi.
Aku meminta kunci rumah dari Aris.
Dia menatapku.
“Untuk apa?”
“Kamu jangan pulang ke rumah malam ini.”
“Maya.”
“Rumah itu atas nama kita berdua. Aku tidak melarangmu selamanya. Aku hanya tidak mau berada satu ruangan denganmu malam ini.”
“Kita bisa bicara.”
“Aku sudah mendengar cukup banyak.”
Aku kembali menemui Ibu.
Dia terbangun ketika aku masuk.
“Ibu membuatmu kehilangan rumah tangga,” katanya pelan.
Aku duduk.
“Tidak.”
Ibu menatapku.
“Aku kehilangan sesuatu yang ternyata sudah lama tidak jujur.”
Ibu mulai menangis.
Aku memegang tangannya.
“Aku cuma marah karena Ibu menyimpan semua ini sendirian.”
“Ibu takut.”
“Takut aku tidak percaya?”
Ibu mengangguk.
Aku tidak langsung menjawab.
Karena kemungkinan itu memang ada.
Beberapa bulan sebelumnya, kalau Ibu mengatakan Aris memakai namaku tanpa izin, mungkin aku akan meminta bukti.
Mungkin aku akan membela suamiku.
Aris selama ini selalu terlihat tenang, rapi, dan teratur.
Dia tidak pernah terlihat seperti seseorang yang sedang menyembunyikan masalah sebesar itu.
Itulah yang paling menggangguku.
Aku terlalu lama menganggap ketenangan sebagai bukti kejujuran.
Keesokan paginya, Raka datang ke rumah sakit.
Begitu melihatku, dia langsung meminta maaf.
“Aku seharusnya menghubungi Tante.”
“Kamu membantu Nenek?”
Dia mengangguk.
Raka kemudian membuka laptop.
Ada satu hal yang belum dimasukkan ke kartu memori.
Beberapa minggu sebelumnya, dia membuat salinan cadangan terenkripsi.
Aku langsung menatap Ibu.
“Ibu punya cadangan?”
Ibu mengangguk malu.
Aku hampir tidak tahu harus marah atau lega.
“Kalau ada cadangan, kenapa Ibu sampai menelan kapsul itu?”
Ibu menjawab,
“Cadangannya belum lengkap.”
Raka melanjutkan.
“Kartu di dalam kapsul berisi satu folder tambahan yang Nenek tidak sempat kirim ke aku.”
“Folder apa?”
“Doni.”
Nama itu muncul lagi.
Raka membuka beberapa dokumen yang sudah diterima petugas.
Doni Prasetyo bukan sekadar teman Aris.
Dia bekerja di divisi legal perusahaan tempat Aris bekerja.
Keduanya berkomunikasi sejak hampir dua tahun sebelumnya.
Doni membantu menyiapkan dokumen vendor.
Namun kejutan sebenarnya muncul ketika petugas memeriksa metadata dokumen.
Sebagian dokumen palsu ternyata tidak dibuat dari komputer Aris.
Dibuat dari komputer kantor Doni.
Aku mengira itu twist terakhir.
Ternyata belum.
Siang harinya, dua penyidik kembali meminta keterangan dariku.
Salah satunya membawa hasil awal penelusuran transaksi.
“Bu Maya, ada hal penting.”
Aku duduk.
Petugas meletakkan daftar transaksi.
“Dana yang masuk ke rekening perusahaan atas nama Ibu memang sekitar Rp8,4 miliar.”
Aku mengangguk.
“Tapi sebagian besar tidak berhenti di sana.”
Aku melihat halaman berikutnya.
Dana berpindah ke beberapa rekening.
Sebagian ke perusahaan lain.
Sebagian ke rekening investasi.
Aku mencari nama Aris.
Tidak ada.
“Jadi uangnya ke mana?”
Petugas menunjuk satu nama.
Aku membacanya dua kali.
Doni Prasetyo.
Aku terdiam.
“Tapi Aris bilang dia melakukan ini untuk menutup kerugian investasinya.”
“Itu yang sedang kami periksa.”
Beberapa transaksi justru menunjukkan Doni menerima jumlah yang jauh lebih besar daripada Aris.
Sore itu, untuk pertama kalinya Aris meminta berbicara denganku tanpa pengacara di dekatnya.
Kami duduk di sebuah ruang tunggu kecil.
Dia terlihat sangat lelah.
“Maya, ada sesuatu yang belum kamu tahu.”
Aku langsung menjawab,
“Masih ada lagi?”
Aris menunduk.
“Doni yang memulai semuanya.”
Aku tidak bereaksi.
“Lanjut.”
“Dua tahun lalu dia menawarkan skema investasi. Aku masuk. Gagal.”
“Lalu?”
“Dia bilang bisa mengembalikan kerugianku kalau aku membantu beberapa transaksi perusahaan.”
“Kamu setuju.”
Aris mengangguk.
“Awalnya cuma satu vendor.”
“Lalu kamu memakai namaku.”
“Aku panik.”
“Jangan pakai kata panik untuk keputusan yang kamu ulang selama dua tahun.”
Dia diam.
Aku bertanya,
“Doni memerasmu?”
“Tidak awalnya.”
“Lalu?”
“Setelah transaksi pertama, dia punya bukti keterlibatanku.”
Aku akhirnya mengerti.
Aris bukan dalang tunggal.
Tetapi dia juga bukan korban yang tidak punya pilihan.
Dia masuk dengan sadar.
Kemudian ketika tidak bisa keluar, dia menyeret namaku agar punya lapisan perlindungan.
“Apa Doni menyuruhmu menjadikan aku direktur?”
Aris tidak menjawab langsung.
Itu membuatku curiga.
“Ris.”
Dia akhirnya berkata,
“Tidak.”
Aku merasa dada kembali berat.
“Itu idemu?”
Dia mengangguk.
Aku berdiri.
Aku tidak perlu mendengar lagi.
Tiga hari kemudian, Ibu diperbolehkan pulang.
Aku membawanya ke rumahku sementara.
Aris tidak tinggal di sana.
Proses hukum dan audit masih berjalan.
Aku juga meminta pemeriksaan semua rekening, dokumen pajak, serta dokumen perusahaan yang pernah memakai namaku.
Aku tidak mau lagi menerima kalimat, “Tenang saja, semuanya sudah diurus.”
Aku ingin melihat sendiri.
Seminggu kemudian, hasil pemeriksaan tambahan membawa kejutan terakhir.
Petugas meneleponku dan meminta datang.
Aku sudah mengira mereka akan memberi kabar soal Aris atau Doni.
Ternyata mereka menunjukkan satu dokumen yang ditemukan dari data kapsul.
Surat itu ditandatangani hampir setahun lalu.
Bukan oleh Aris.
Bukan oleh Doni.
Ada satu nama lain.
Sinta Prameswari.
Aku mengenal nama itu.
Sinta adalah kepala divisi keuangan perusahaan Aris.
Perempuan yang beberapa kali datang ke rumah kami saat acara kantor.
Aku selalu mengira dia atasan yang sangat dipercaya Aris.
Petugas menjelaskan bahwa Sinta yang memberi persetujuan vendor kepada PT Karya Sentosa Konsultan.
Dia juga yang beberapa kali meloloskan transaksi tanpa pemeriksaan lengkap.
Aku menatap dokumen itu.
“Jadi mereka bertiga?”
“Masih diperiksa.”
Kemudian petugas membuka satu percakapan.
Pesan Sinta kepada Doni.
“Kalau audit masuk terlalu dalam, seluruh tanggung jawab vendor tetap di Maya. Jangan sampai hubungan dokumen menuju kita.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Ternyata Aris bahkan bukan orang pertama yang merancang agar aku terlihat bertanggung jawab.
Tetapi ada hal yang lebih mengejutkan.
Pesan berikutnya berasal dari Aris.
“Jangan libatkan Maya lebih jauh. Saya akan cari cara lain.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya ada bukti bahwa Aris pernah mencoba menghentikan rencana itu.
Namun pesan Sinta menjawab,
“Terlambat. Namanya sudah dipakai sejak awal karena kamu sendiri yang memberikannya.”
Aku menutup layar.
Di situlah semuanya menjadi jelas.
Aris memang pernah mencoba mundur.
Tetapi dia baru mencoba mundur setelah dirinya sendiri memilih namaku sebagai pelindung.
Fakta itu tidak menghapus apa pun.
Dia tetap memulai kebohongan.
Dia tetap menggunakan tanda tanganku.
Dia tetap mencoba mengambil kartu memori dari Ibu.
Dan ketika CT Scan menunjukkan kapsul itu, hal pertama yang dia pikirkan bukan kondisi Ibu.
Dia memikirkan bukti.
Beberapa bulan setelahnya, hidupku jauh lebih sederhana.
Aku mengurus pemisahan semua urusan finansial dari Aris.
Aku mendapatkan pendampingan hukum untuk membersihkan namaku dari perusahaan yang tidak pernah kudirikan.
Rumah Ibu tidak pernah berpindah kepemilikan karena proses jaminannya belum selesai dan bukti pemalsuan ditemukan sebelum tahap berikutnya.
Ibu mulai makan lebih teratur.
Berat badannya perlahan membaik.
Suatu sore aku duduk bersamanya di teras.
Ibu memandangku.
“Masih marah sama Ibu?”
Aku tersenyum kecil.
“Sedikit.”
Ibu ikut tersenyum.
“Karena kapsul?”
“Karena Ibu pikir harus menyelesaikan semuanya sendirian.”
Ibu mengangguk.
Aku kemudian berkata,
“Kalau lain kali punya rahasia delapan miliar Rupiah, telepon aku dulu.”
Ibu tertawa.
Itu pertama kalinya aku mendengar tawanya lagi setelah berbulan-bulan.
Aku tidak tahu bagaimana seluruh proses terhadap Aris, Doni, dan Sinta akhirnya akan diputuskan.
Aku membiarkan penyidik dan pihak perusahaan melakukan pekerjaan mereka.
Yang aku tahu hanya satu.
Selama dua belas tahun, Aris selalu mengatakan bahwa dia mengatur uang karena dia ingin melindungi keluarga.
Ternyata perlindungan yang dia maksud adalah kendali.
Dan begitu aku mulai melihat dokumen sendiri, mengajukan pertanyaan sendiri, serta mengambil keputusan sendiri, kendali itu berhenti bekerja.
Kapsul kecil yang ditemukan dalam CT Scan Ibu memang membuka rahasia besar.
Tetapi hal terpenting yang keluar dari sana bukan angka delapan miliar Rupiah.
Melainkan bukti bahwa aku tidak pernah menyetujui kehidupan yang diam-diam dibuat atas namaku.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, semua keputusan mengenai namaku kembali berada di tanganku sendiri.
