“RAKA… AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA, TOLONG ANTAR AKU KE RUMAH SAKIT,” KATAKU SAMBIL DUDUK MEMEGANGI PERUT – NAMUN SUAMIKU HANYA MENATAP SEBENTAR LALU MENGGANDENG MAYA PERGI; DIA TIDAK TAHU KURANG DARI SATU JAM KEMUDIAN RUMAH SAKIT MEMBERIKU AMPLOP YANG MENCANTUMKAN NAMANYA
Namaku Alya Prameswari.
Suamiku bernama Raka Wijaya. Kami sudah menikah lima tahun.
Aku pernah percaya Raka adalah orang terakhir di dunia yang akan meninggalkanku ketika aku sedang lemah. Saat akad dulu dia genggam tanganku erat dan bilang,
“Alya, kalau ada apa-apa, aku akan selalu di sampingmu. Apapun itu.”
Aku masih ingat kalimat itu sampai hari ini.
Namun sekitar enam bulan terakhir, Raka berubah pelan-pelan. Bukan marah, tapi menjauh.
Dia semakin sering pergi bersama satu nama: Maya Santoso. Rekan kerjanya di proyek baru.
Awalnya Raka bilang, “Maya hanya rekan kerja, Ya. Dia bantu proyek Wijaya Prima.”
Aku berusaha percaya. Aku tahan curiga.
Sampai sore itu. Jam 4 sore.
Aku sedang di dapur mau masak, tiba-tiba perutku terasa sangat tidak nyaman, kram melilit. Aku terpaksa duduk di lantai dapur, pegang perut. Napas mulai terasa lebih berat, keringat dingin keluar.
Saat itu dari jendela aku lihat Raka keluar menuju halaman, sudah rapi pakai kemeja. Di dekat mobil sudah menunggu Maya, pakai blazer, bawa map.
Aku coba berdiri sambil pegang meja, panggil,
“Raka…”
Dia menoleh.
Aku berkata dengan suara pelan, menahan sakit,

“Aku tidak baik-baik saja, Mas. Bisa tolong antar aku untuk diperiksa ke klinik? Perutku sakit sekali.”
Maya yang di dekat mobil langsung lihat jam tangannya dan berkata pelan tapi terdengar,
“Raka, kita hampir terlambat meeting dengan Pak Arman. Jangan sampai lewat batas waktu.”
Aku menatap suamiku. Aku hanya berharap dia bilang satu kalimat saja, “Tunggu sebentar, Ya, aku antar Alya dulu.”
Namun Raka menjawab dengan suara datar, menghindari mataku,
“Alya, kamu bisa pesan kendaraan online dulu ya? Aku ada urusan penting yang tidak bisa ditunda hari ini. Penting sekali.”
Aku langsung tidak percaya apa yang kudengar.
“Kamu benar-benar mau membiarkanku pergi sendiri ke rumah sakit? Saat aku begini?”
Dia diam beberapa detik. Aku lihat di matanya ada ragu, ada rasa bersalah.
Namun Maya di sampingnya menggenggam lengan Raka pelan, “Ayo, Raka.”
Dan kemudian… hal yang paling aku takutkan terjadi.
Raka membalikkan badan. Dia masuk mobil bersama Maya.
Mobil itu meninggalkan halaman, meninggalkan aku yang masih duduk memegangi perut di lantai dapur.
Aku tertinggal sendirian, dengan rasa sakit dan rasa kecewa yang lebih sakit dari perutku.
Untung tetanggaku, Bu Sari Santoso, yang kebetulan lewat depan rumah melihat aku pucat, segera datang lari,
“Alya! Astagfirullah, kamu kenapa, Nak?”
Dia yang membawaku dengan becak motor ke klinik terdekat, klinik Medika Santoso.
Setelah diperiksa dokter, diberi obat, kondisiku lebih tenang. Aku beristirahat di bed.
Seorang perawat muda menghampiri bawa papan nama,
“Alya Prameswari ya, Bu?”
Aku mengangguk lemah.
Dia tiba-tiba berhenti, menatap namaku lama, lalu masuk ke ruang arsip belakang tanpa bilang apa-apa.
Beberapa menit kemudian dia kembali membawa sebuah amplop coklat tua, sudah berdebu, ada stempel.
Di atas amplop tertulis dengan spidol hitam tebal,
“BERIKAN KEPADA ALYA PRAMESWARI HANYA JIKA DIA DATANG SENDIRI TANPA RAKA WIJAYA DALAM KONDISI MEMBUTUHKAN BANTUAN”
Tanganku yang masih infus langsung dingin.
Aku bertanya dengan suara bergetar, “Siapa yang menitipkan ini, Mbak?”
Perawat itu menjawab pelan,
“Pak Hadi Wijaya… ayah suami Ibu. Beliau titip 2 tahun lalu sebelum beliau berpulang. Beliau bilang, kalau suatu hari menantunya, Alya, datang sendirian tanpa ditemani Raka dalam keadaan tidak baik-baik saja, berikan amplop ini.”
Namun Pak Hadi Wijaya sudah berpulang 2 tahun lalu. Ayah mertuaku yang sangat baik itu.
Dan aku tidak pernah tahu beliau meninggalkan sesuatu untukku di klinik ini.
PART 2 – TERBONGKAR
Aku buka amplop itu dengan tangan gemetar di bed klinik.
Di dalamnya ada tiga benda: sebuah surat tulisan tangan Pak Hadi, salinan dokumen lama, dan sebuah kunci kecil silver dengan gantungan kayu bertuliskan Laci 7.
Surat itu dimulai dengan kalimat yang membuat air mataku langsung jatuh,
“Alya, menantuku tersayang. Kalau kamu membaca surat ini tanpa Raka di sisimu, berarti hal yang paling Ayah khawatirkan selama ini akhirnya terjadi. Ayah minta maaf.”
Aku langsung berhenti baca, napas sesak. Apa yang Pak Hadi khawatirkan?
Aku baca terus.
Beliau menulis bahwa sekitar 6 bulan sebelum beliau berpulang, beliau pernah tidak sengaja mengetahui Raka menyembunyikan sesuatu yang berhubungan dengan Maya. Bukan sekadar masalah kedekatan biasa seperti rekan kerja.
Melainkan sebuah kesepakatan besar antara dua keluarga: Keluarga Wijaya dan Keluarga Santoso.
Aku langsung teringat. Maya juga bermarga Santoso. Maya Santoso.
Di dokumen salinan itu ada nama-nama:
Arman Santoso – Ayah Maya.
Pak Hadi Wijaya – Ayah Raka.
Raka Wijaya.
Maya Santoso.
Dan ada tanggal pertemuan: 6 bulan lalu. Tepat saat Raka mulai berubah, sering pergi dengan Maya.
Aku langsung telepon nomor yang tertera di dokumen, pengelola arsip klinik, bernama Dimas Santoso.
Begitu mendengar namaku, Dimas di seberang langsung bertanya kaget,
“Bu Alya? Bu Alya sedang memegang amplop coklat dari Pak Hadi di Klinik Medika?”
Aku langsung terpaku, “Kamu juga tahu tentang amplop ini?”
Dimas menjawab pelan, “Pak Hadi meninggalkan instruksi khusus ke saya 2 tahun lalu, Bu. Beliau bilang kalau Bu Alya datang dalam kondisi seperti hari ini, saya harus bantu jelaskan.”
Aku bertanya dengan suara menangis, “Mas Dimas, kenapa Raka harus pergi dengan Maya hari ini? Katanya meeting pekerjaan?”
Telepon sunyi beberapa detik. Lalu Dimas bertanya balik,
“Raka bilang ke Ibu itu pertemuan pekerjaan?”
“Iya, katanya urusan penting tidak bisa ditunda.”
Dimas menghela napas panjang,
“Tidak sepenuhnya pekerjaan, Bu. Itu setengah benar.”
Dia lalu mengirim sebuah alamat lewat WA. Aku lihat. Alamatnya bukan kantor Wijaya Prima.
Melainkan sebuah kantor konsultasi hukum dan notaris: Kantor Hukum Santoso & Rekan – Jl. Braga No. 12
Aku bertanya, “Mereka ke sana untuk apa, Mas?”
Dimas menjawab, “Hari ini adalah hari terakhir batas waktu penandatanganan dokumen. Ada dokumen yang membutuhkan tanda tangan Maya dan Raka bersamaan. Kalau lewat hari ini, hangus.”
Aku buka berkas Pak Hadi yang ada di pangkuanku. Di tengahnya ada dokumen utama:
SANTOSO – WIJAYA FAMILY TRANSFER – PERJANJIAN PELEPASAN ASET WARISAN
Aku baca isinya dengan mata kabur. Ada pembahasan mengenai aset tanah besar milik keluarga Wijaya yang dulu dibeli bersama dengan keluarga Santoso, senilai miliaran.
Namun yang membuatku semakin bingung dan merinding… namaku juga tercantum di halaman 3 sebagai pihak terkait.
Kenapa kesepakatan antara Raka dan Maya melibatkan namaku, Alya Prameswari?
Di dalam surat Pak Hadi tertulis jelas,
“Raka pernah diminta oleh Arman Santoso untuk memilih antara mengatakan kebenaran kepada Alya atau menyelesaikan perjanjian pelepasan aset ini sebelum batas waktu 6 bulan. Jika Raka memilih jujur ke Alya terlalu cepat, perjanjian bisa batal dan keluarga Wijaya bisa kehilangan segalanya karena gugatan. Jika Raka menyelesaikan perjanjian dulu, dia harus terlihat seperti mengabaikan Alya.”
Aku langsung terpaku di bed klinik. Jadi Raka tahu semuanya sejak 6 bulan lalu?
Dia tahu ada sesuatu yang menyangkut diriku? Menyangkut masa depan pernikahan kami? Namun tetap diam dan pura-pura sibuk dengan Maya?
Saat itu ponselku berbunyi keras. Nama di layar: Raka Wijaya – Suamiku
Aku menatap layar cukup lama, dengan infus masih di tangan, sebelum menjawab.
“Alya, kamu di mana? Bu Sari bilang kamu di klinik?”
Aku bertanya dengan suara dingin, menahan tangis,
“Sekarang kamu peduli? Tadi kamu tinggalkan aku pegang perut di lantai demi Maya?”
Raka diam di seberang, terdengar napasnya berat,
“Alya, kamu baik-baik saja? Dokter bilang apa?”
Aku bertanya balik, tidak menjawab,
“Kamu tahu Pak Hadi meninggalkan dokumen untukku di klinik ini, kan? Amplop coklat? Kamu tahu, kan, Mas?”
Telepon langsung hening. Sunyi total 10 detik.
Aku sudah mendapatkan jawabannya tanpa dia bicara. Raka tahu. Dia tahu ada amplop ini.
Aku tanya lagi, suara bergetar,
“Kamu dan Maya hari ini sedang menandatangani apa di Kantor Hukum Braga? Perjanjian pelepasan aset?”
Raka di seberang langsung kaget, “Alya, kamu… kamu sudah buka? Dari mana kamu tahu alamat Braga?”
Dia hanya berkata dengan suara memohon,
“Alya, tolong, jangan buka halaman terakhir sebelum aku sampai klinik. Tolong tunggu aku. Aku 10 menit lagi sampai. Jangan buka dulu.”
Aku melihat dokumen di tanganku. Halaman terakhir berisi daftar nama yang harus tanda tangan.
Pak Hadi Wijaya.
Arman Santoso.
Raka Wijaya.
Maya Santoso.
Dan satu nama terakhir di bawah tulisan tebal,
“Orang yang sebenarnya akan kehilangan semuanya jika perjanjian ini selesai ditandatangani hari ini.”
Namanya masih tertutup lipatan kertas putih yang dilem rapat.
Aku bertanya pelan ke telepon, “Orang itu aku, kan, Mas? Aku yang akan kehilangan semuanya?”
Raka tidak menjawab. Dia hanya berkata pelan, hampir menangis,
“Alya… kalau kamu membuka nama itu, kamu akan mengerti kenapa Ayah takut suatu hari kamu harus datang ke rumah sakit sendirian tanpa aku… dan kenapa aku harus pergi bersama Maya hari ini, meninggalkanmu yang sedang pegang perut.”
Tanganku yang masih dingin karena infus menyentuh ujung lipatan terakhir yang disegel itu.
PART 3 – AKHIR YANG TIDAK PERNAH KUDUGA
Aku tidak menunggu Raka. Dengan air mata jatuh, aku buka lipatan terakhir itu di bed klinik, di depan perawat dan Bu Sari.
Di dalam lipatan tertulis satu nama dengan huruf kapital, jelas, distempel notaris,
NAMA: MAYA SANTOSO – PIHAK YANG AKAN KEHILANGAN HAK ASUH DAN HAK WARIS ANAK
Di bawahnya ada catatan tulisan tangan Pak Hadi yang membuatku lemas,
“Alya, maafkan Ayah. 6 bulan lalu, sebelum Ayah berpulang, Arman Santoso datang ke rumah. Arman bilang anaknya, Maya, hamil di luar nikah dengan pacarnya yang sudah pergi. Pacarnya tidak mau tanggung jawab. Arman malu besar. Arman minta tolong keluarga Wijaya untuk bantu seolah-olah Raka adalah ayah dari anak Maya, agar anak itu punya status keluarga, punya akte, dan Maya tidak diusir dari keluarga Santoso. Sebagai imbalannya, Arman akan serahkan tanah sengketa 600 meter milik keluarga Santoso yang selama ini menahan aset keluarga Wijaya senilai 4 Miliar.”
“Ayah setuju, tapi Ayah minta syarat: Raka hanya pura-pura jadi ayah di atas kertas selama 1 bulan untuk akte, bukan menikahi Maya. Dan Raka tidak boleh benar-benar meninggalkan Alya. Raka harus tetap jaga Alya. Tapi Raka salah paham, dia kira dia harus benar-benar menjauh dari kamu agar perjanjian terlihat meyakinkan. Maafkan Raka, dia pengecut tapi dia tidak selingkuh.”
“Kunci Laci 7 di amplop ini adalah kunci laci meja kerja Ayah di rumah. Di dalam laci ada surat pernyataan dari Maya sendiri yang menyatakan bahwa Raka BUKAN ayah biologis anaknya, dan ada surat pengakuan Arman. Bawa surat itu untuk lindungi pernikahanmu.”
“Dan Alya, alasan Ayah tulis ‘berikan hanya jika Alya datang tanpa Raka’ adalah karena Ayah tahu, di hari terakhir penandatanganan pelepasan aset inilah Raka akan paling terlihat seperti meninggalkanmu. Padahal hari itu dia sedang menyelamatkan aset keluarga kita agar tidak disita. Dia pergi dengan Maya hari ini bukan kencan, tapi untuk tanda tangan terakhir pelepasan aset agar keluarga kita selamat.”
Dunia berhenti.
Jadi Raka tidak selingkuh. Maya hamil bukan karena Raka. Maya hamil dengan pacarnya yang pergi.
Raka dan Maya pergi hari ini bukan untuk berduaan, tapi ke notaris untuk tanda tangan pelepasan tanah sengketa agar aset keluarga Wijaya tidak hilang.
Dan Raka yang terlihat menggandeng Maya pergi meninggalkan aku yang pegang perut kesakitan, sebenarnya sedang menjalankan amanah terakhir ayahnya, Pak Hadi, agar aku tidak kehilangan rumah.
10 menit kemudian Raka masuk ke klinik dengan napas terengah-engah, baju kemeja basah keringat, bersama Maya yang juga ikut lari, wajahnya pucat.
Melihat aku duduk dengan amplop terbuka, Raka langsung berlutut di samping bed klinik, pegang tanganku yang infus,
“Alya, maafkan aku… Maafkan aku tinggalkan kamu tadi di lantai… Aku harus ke notaris jam 5 sore, kalau lewat, tanah kita disita, kita kehilangan rumah, Bu… Aku tidak selingkuh, Ya… Anak Maya bukan anakku… Aku cuma bantu tanda tangan agar anaknya punya akte… Maafkan aku jadi suami pengecut yang tidak bisa jelaskan…”
Maya juga berlutut di sebelah, menangis,
“Kak Alya, maafkan Maya… Kak Raka tidak ada apa-apanya dengan Maya… Maya yang hamil dengan pacar Maya… Kak Raka cuma bantu Maya biar anak Maya punya nama keluarga… Tadi di mobil Kak Raka terus bilang ‘Alya sakit, Alya sakit, harus cepat balik’, tapi Maya yang tahan karena notaris mau tutup… Maafkan kami, Kak…”
Bu Sari dan perawat yang melihat hanya bisa menghela napas.
Malam itu aku tidak langsung maafkan Raka. Tapi aku paham.
Pria yang 6 bulan ini kulihat makin jauh, yang hari ini tega tinggalkan aku pegang perut demi pergi dengan wanita lain, ternyata bukan sedang berselingkuh. Dia sedang memikul amanah ayahnya yang berat, amanah yang dia tidak tahu cara menjelaskannya tanpa membuatku terluka.
Dan amplop dari ayah mertua yang sudah berpulang 2 tahun lalu itu, yang diberikan hanya jika aku datang sendirian tanpa Raka, ternyata adalah amplop penyelamat pernikahan kami.
Kunci Laci 7 itu kami buka bersama malam itu di rumah. Di dalamnya ada surat pernyataan Maya dan Arman, dan ada buku tabungan atas nama Alya Prameswari, tabungan yang disiapkan Pak Hadi untuk biaya berobatku jika suatu hari aku harus ke rumah sakit sendirian.
Pelajaran dari bed klinik itu: Jangan buru-buru menilai suamimu yang menggandeng wanita lain pergi meninggalkanmu yang sedang duduk memegangi perut dan minta diantar ke rumah sakit sebagai suami yang tidak setia. Bisa jadi hari itu adalah hari terakhir batas waktu penandatanganan pelepasan aset warisan 4 Miliar yang kalau lewat, kamu dan dia akan kehilangan rumah.
Kadang yang terlihat seperti pengkhianatan, ternyata adalah pengorbanan yang tidak tahu cara dijelaskan.
Dan kasih sayang seorang ayah mertua yang sudah berpulang 2 tahun lalu bisa datang dalam bentuk amplop coklat yang menunggu di ruang arsip klinik, diberikan tepat saat menantunya datang sendirian tanpa ditemani anaknya.
Pernahkah kamu mengalami seperti Alya, sedang tidak baik-baik saja memegangi perut minta diantar suami ke rumah sakit, tapi suami malah pergi menggandeng wanita lain, dan ternyata kurang dari satu jam kemudian kamu dapat amplop di rumah sakit yang mencantumkan nama suamimu dan menjelaskan semuanya? Atau pernahkah kamu menerima surat titipan dari orang tua yang sudah berpulang yang baru dibuka 2 tahun kemudian? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar ya, mari kita bahas bersama!

