TIGA TAHUN SETELAH SUAMIKU PERGI TANPA SATU PUN KABAR, AKU MASIH MERAWAT IBUNYA SETIAP HARI – NAMUN MALAM ITU BU SULASTRI MENGGENGGAM TANGANKU DAN BERKATA, “ALYA, KALAU SUATU HARI RAKA PULANG, JANGAN SERAHKAN SEMUANYA KEPADANYA… BUKA DULU KOTAK DI BAWAH TEMPAT TIDUR”
PART 1 – TERTANGKAP BASAH
Namaku Alya Prameswari.
Suamiku bernama Raka Wijaya.
Ibu mertuaku bernama Bu Sulastri Wijaya.
Orang sering bilang hubungan mertua dan menantu perempuan itu sulit, banyak drama.
Namun bagiku… Bu Sulastri tidak pernah hanya menjadi ibu mertua.
Beliau sudah seperti Ibuku sendiri.
Tiga tahun lalu, Raka meninggalkan rumah. Tanpa bertengkar besar.
Malam itu dia hanya bilang sambil lipat baju,
“Aku butuh waktu untuk menata hidup, Ya. Aku mau pergi dulu.”
Awalnya aku pikir dia hanya pergi beberapa minggu untuk tenangkan diri.
Namun satu bulan berlalu. Tidak ada telepon.
Enam bulan berlalu. Hanya satu transfer uang, setelah itu senyap.
Setahun berlalu. Tidak ada kabar apakah Ibunya makan apa, sakit apa.
Dua tahun. Tiga tahun. Tidak ada ucapan ulang tahun untuk Ibunya sendiri.
Di rumah hanya tersisa aku dan Bu Sulastri.

Kondisi Ibu semakin lemah. Ada hari ketika beliau hanya mampu makan beberapa sendok bubur. Ada malam ketika beliau sesak dan aku menemani sampai hampir pagi, kompres dahinya.
Namun aku tidak pernah berpikir meninggalkannya. Tidak pernah.
Setiap kali aku terlihat lelah sepulang kerja, Bu Sulastri memegang tanganku dengan tangan keriputnya dan berkata,
“Alya, kamu tidak punya kewajiban seperti ini kepada Ibu. Kamu masih muda, kamu bisa pergi. Ibu tidak akan marah.”
Aku selalu jawab sambil senyum,
“Aku tetap tinggal karena aku mau, Bu. Bukan karena kewajiban. Ibu sudah seperti Ibu kandungku.”
Raka sempat kirim uang 4 bulan pertama. Setelah itu berhenti total. Aku yang kerja siang di toko kue, malam pulang masak, pijat kaki Ibu, antar kontrol ke puskesmas.
Tetangga sering berbisik di warung,
“Suamimu di mana, Alya? Kok tidak pernah pulang?”
Aku tidak tahu harus jawab apa. Aku hanya senyum.
Ada juga yang bilang pedas,
“Beliau kan bukan ibu kandungmu, ngapain kamu rawat terus? Rugi kamu.”
Namun aku selalu berpikir, orang yang ditinggalkan tidak bersalah. Bu Sulastri tidak salah apa-apa. Aku tidak mungkin ikut meninggalkan beliau hanya karena Raka pergi.
Namun ada satu hal yang selalu membuatku penasaran selama 3 tahun ini.
Di bawah tempat tidur kayu Ibu, ada sebuah kotak kayu jati kecil yang digembok. Kotaknya berdebu tapi Ibu lap setiap minggu.
Setiap kali aku tanya, “Bu, kotak apa itu?”
Beliau selalu jawab dengan senyum misterius, “Belum waktunya, Nduk. Nanti kalau waktunya tiba, Ibu kasih tahu.”
Aku tidak pernah memaksa buka.
Sampai malam itu. Malam hujan deras.
Ibu memanggilku pelan dari kamar, “Alya, sini.”
Aku duduk di samping ranjangnya. Wajah Ibu pucat tapi matanya tajam.
Dia menggenggam tanganku sangat erat, erat sekali sampai aku kaget.
“Alya, dengarkan Ibu baik-baik…”
Aku mengangguk.
“Kalau suatu hari Raka pulang…”
Jantungku langsung berdegup. Raka?
“…jangan langsung serahkan semuanya kepadanya. Jangan langsung percaya semua omongannya.”
Aku bingung, “Maksud Ibu apa? Serahkan apa?”
Dia menatap kotak kayu di bawah tempat tidur itu.
“Buka dulu kotak itu. Karena ada satu hal yang tidak pernah Raka ceritakan kepadamu. Dan satu hal yang Ayahnya siapkan sebelum berpulang. Janji ya?”
Sebelum aku sempat tanya lebih jauh…
Tin! Tin!
Terdengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah kami yang sudah 3 tahun tidak pernah didatangi mobil bagus.
Lampu mobil menyorot jendela.
Seorang pria turun pakai kemeja rapi, jam tangan mengkilap, bawa koper.
Aku melihat dari celah gorden.
Dadaku langsung sesak, napasku berhenti.
Raka. Akhirnya pulang. Setelah 3 tahun tanpa kabar.
PART 2 – TERBONGKAR
Raka masuk ke rumah tanpa ketuk pintu, seperti rumah ini masih miliknya.
Tiga tahun tidak bertemu, penampilannya berubah total. Lebih gemuk, kulit lebih cerah, jam baru, mobil bagus Fortuner putih di depan. Sepertinya hidupnya baik-baik saja di luar sana.
Namun kalimat pertama yang dia ucapkan bukan,
“Ibu bagaimana keadaannya? Ibu sehat?”
Bukan itu.
Dia justru melihat sekeliling rumah dan bertanya dengan nada bisnis,
“Rumah ini masih atas nama Ibu kan? Sertifikat masih di sini kan?”
Aku langsung terpaku di ruang tamu. Dingin.
Bu Sulastri yang mendengar dari kamar, perlahan duduk dengan bantuan tongkat, menatap anaknya yang 3 tahun tidak pulang.
Raka masuk kamar, “Ibu.”
Bu Sulastri menatap anaknya cukup lama, lama sekali, lalu bertanya dengan suara pelan tapi tajam,
“Sekarang kamu ingat jalan pulang, Raka? Setelah 3 tahun?”
Raka menunduk, agak tidak enak, lalu berkata cepat,
“Bu, aku pulang mau ajak Ibu tinggal di tempat lain yang lebih layak. Atau… kita jual saja rumah ini, uangnya bagi. Biar Ibu tidak repot.”
Aku maju, “Selama tiga tahun kamu di mana, Raka?”
Dia jawab enteng, “Aku punya urusan sendiri di luar kota. Kerja.”
“Kenapa tidak pernah telepon Ibu? Ibu sakit, Raka. Ibu sempat dirawat, kamu tahu?”
Dia diam, lalu mulai tidak sabar, “Alya, aku pulang untuk selesaikan urusan keluarga, bukan untuk diinterogasi.”
Bu Sulastri langsung menyela, suaranya bergetar, “Keluarga? Kamu masih ingat kata keluarga?”
Ruangan langsung sunyi, hanya suara hujan.
Bu Sulastri melihatku dan berkata tegas,
“Alya, ambil kotaknya sekarang.”
Raka langsung menoleh panik, “Bu, tidak perlu buka itu! Itu barang lama tidak penting!”
Aku langsung berhenti melangkah. Jadi Raka tahu tentang kotak itu? Selama 3 tahun pergi dia tahu kotak itu ada?
Aku ambil kotak kayu itu dari bawah ranjang. Berat.
Di dalamnya ada buku catatan tulis tangan Bu Sulastri, tumpukan bukti pembayaran obat dan kontrol, beberapa amplop, dan satu surat dengan segel lilin.
Aku buka buku catatan Ibu dulu.
Ibu mencatat setiap bulan dengan rapi, tulisan halusnya.
Januari 2023: Biaya obat Rp450rb – Alya yang bayar. Antar kontrol – Alya.
Februari 2023: Biaya listrik – Alya. Bubur – Alya temani.
Maret 2023 sampai Desember 2025… semua catatan “Alya”.
Namun ada satu kolom khusus di samping, judulnya: Raka Wijaya – Kiriman & Kunjungan
Hampir seluruh 3 tahun itu kosong. Hanya 4 baris di awal terisi Rp1 juta. Setelah itu strip panjang sampai 2025.
Aku menatap Raka. Raka buang muka.
Aku buka bukti pembayaran lain. Ada beberapa transfer besar masuk Rp10 juta, Rp15 juta.
Tapi pengirimnya bukan Raka.
Nama pengirim: Pak Arman Santoso.
Aku bertanya, “Siapa Pak Arman Santoso, Bu?”
Bu Sulastri jawab, “Sahabat lama Ayah Raka, Pak Hadi. Orang yang dulu bantu Ayah beli tanah rumah ini.”
Raka langsung menyela keras, “Itu tidak ada hubungannya dengan kita! Itu urusan utang Ayah dulu!”
Ibu menjawab pelan tapi tegas, “Ada hubungannya, Raka. Justru ini yang paling berhubungan.”
Aku buka amplop paling besar. Di atasnya tertulis dengan tulisan tangan gagah yang aku kenal dari foto almarhum,
“BERIKAN KEPADA ALYA HANYA JIKA RAKA PULANG SETELAH MENINGGALKAN IBUNYA LEBIH DARI 2 TAHUN TANPA KABAR – DARI AYAH – HADI WIJAYA”
Tanganku langsung dingin.
Tulisan itu milik ayah Raka, Pak Hadi Wijaya, yang sudah berpulang 5 tahun lalu. Surat itu dibuat sebelum beliau berpulang.
Aku buka surat itu, kertasnya sudah menguning.
Baris pertama berbunyi,
“Alya, menantuku. Kalau kamu membaca surat ini, berarti kamu akhirnya melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan anak kandungku sendiri: tetap tinggal merawat Ibunya selama 3 tahun tanpa kabar.”
Mataku langsung panas, berkaca-kaca.
Raka berdiri gelisah, “Sudah, Alya, jangan dibaca! Itu surat lama!”
Namun Bu Sulastri dengan suara paling keras selama 3 tahun ini berkata, “DUDUK, RAKA!”
Aku lanjutkan membaca dengan suara bergetar.
Pak Hadi menjelaskan bahwa rumah ini tidak sesederhana milik Bu Sulastri seorang. Tanah rumah ini dulu dibeli patungan dengan Pak Arman Santoso. Setelah Pak Hadi berpulang, hak penggunaannya mengikuti Perjanjian Keluarga Wijaya 2019.
Isinya: Jika Raka meninggalkan Ibunya dalam waktu lama lebih dari 2 tahun dan tidak menjalankan tanggung jawabnya sebagai anak, maka hak keputusan atas rumah, apakah mau dijual, disewakan, atau ditempati, tidak lagi di tangan Raka, tapi dialihkan kepada orang yang benar-benar merawat Bu Sulastri dengan tulus.
Raka langsung teriak, “Tidak mungkin! Ayah tidak mungkin buat begitu! Rumah ini warisan untukku!”
Bu Sulastri menatap anaknya dengan kecewa, “Ayahmu yang menyiapkan ini, Raka. Ayahmu sudah tahu kamu akan begini. Ayahmu titip ke Pak Arman dan Ibu.”
Aku terpaku. Aku tidak pernah menginginkan rumah itu. Sumpah, aku hanya ingin Ibu hidup tenang dan tidak kesepian.
Namun surat itu masih ada halaman terakhir yang dilipat.
Ada daftar nama:
Bu Sulastri Wijaya – Pemilik Awal.
Raka Wijaya – Anak Kandung.
Alya Prameswari – Menantu Perawat.
Pak Arman Santoso – Saksi & Penjaga Perjanjian.
Dan satu baris terakhir di bawah, tulisan tangan Pak Hadi,
“Orang yang dipilih Ibu (Sulastri) jika anaknya pulang bukan karena kasih sayang, tetapi karena ingin menjual rumah”
Nama orang yang dipilih itu masih tertutup lipatan kertas putih yang dilem rapat.
Raka melihat lipatan itu, wajahnya pucat pasi, dia maju dan berkata dengan nada memohon,
“Alya, jangan buka. Aku mohon jangan buka lipatan itu. Kita bisa bicara baik-baik dulu.”
Aku menatapnya bingung, “Kenapa kamu takut aku buka, Raka?”
Bu Sulastri berkata pelan sambil menggenggam tanganku lagi, tangannya dingin,
“Buka saja, Nduk. Buka. Setelah itu kamu akan tahu kenapa Ibu 3 tahun ini sudah lama tidak menganggapmu sekadar menantu, tapi sudah Ibu anggap sebagai anak kandung Ibu sendiri. Dan kenapa Ibu bilang jangan serahkan semuanya ke Raka.”
Tanganku yang gemetar menyentuh ujung lipatan terakhir itu.
PART 3 – AKHIR YANG TIDAK PERNAH KUDUGA
Aku buka lipatan itu perlahan. Hujan di luar masih deras.
Di dalam lipatan tertulis satu nama dengan huruf besar, jelas, ditulis oleh Bu Sulastri sendiri dan ditandatangani Pak Arman sebagai saksi.
NAMA PENERIMA HAK KEPUTUSAN TERAKHIR: ALYA PRAMESWARI
Di bawah nama itu ada tulisan tambahan tangan Bu Sulastri,
“Alya, kalau Raka pulang hanya karena dengar harga tanah naik dan ingin jual rumah ini, maka hak keputusan Ibu serahkan kepadamu. Kamu yang tentukan Ibu mau tinggal di mana. Bukan Raka. Karena 3 tahun ini hanya kamu yang ada. – Sulastri – 2024”
Ruangan langsung sunyi. Hanya suara jam dinding.
Raka terduduk lemas di lantai. Bukan karena marah, tapi karena malu yang luar biasa.
“Alya… jadi… jadi Ibu pilih kamu… bukan aku, anak kandungnya… untuk pegang rumah ini?”
Bu Sulastri menjawab dengan air mata menetes, tapi tegas,
“Raka, Ibu tidak pilih Alya karena dia menantuku. Ibu pilih Alya karena 3 tahun ini, saat Ibu demam tinggi sampai tidak bisa bangun, yang kompres Ibu Alya. Saat Ibu ingin makan bubur jam 2 pagi, yang masak Alya. Saat Ibu rindu ada yang diajak ngobrol, yang duduk di samping Ibu Alya. Kamu di mana, Raka, saat itu? Kamu di mana saat Ibu butuh diantar kontrol? Kamu pulang sekarang bawa mobil bagus dan langsung tanya sertifikat masih atas nama Ibu atau tidak. Kamu tidak tanya Ibu makan apa 3 tahun ini.”
“Pak Arman yang kirim uang Rp10 juta, Rp15 juta itu bukan utang. Itu uang titipan Ayahmu dulu untuk Ibu. Tapi Ayahmu bilang ke Pak Arman, jangan kasih ke Raka kalau Raka tidak pulang. Kasih ke orang yang merawat Ibu. Dan Pak Arman kasih ke Alya, karena Alya yang merawat Ibu.”
Aku menangis keras memeluk Bu Sulastri. 3 tahun lelahku merawat Ibu sendirian, dicibir tetangga, ditinggal suami, ternyata dicatat semua oleh Ibu di buku catatan itu. Tidak ada yang sia-sia.
Raka menangis juga, dia berlutut di depan kami berdua,
“Bu, Alya… maafkan aku… Aku di luar sana kerja tapi gagal terus, aku malu pulang, makanya aku tidak telepon… Aku dengar harga tanah sini naik tinggi, aku pikir kalau jual rumah bisa mulai usaha baru… Maafkan aku, Bu…”
Malam itu Raka tidak jadi jual rumah. Karena hak keputusan sudah ada di tanganku, sesuai perjanjian keluarga yang dibuat Pak Hadi dan dijaga Pak Arman.
Aku putuskan, rumah tidak dijual. Rumah ini tetap jadi rumah Bu Sulastri sampai kapan pun beliau mau tinggal. Kalau Raka mau tinggal, silakan, tapi harus ikut rawat Ibu, bukan cuma mau jual.
Dan kotak kayu itu? Sekarang isinya aku tambah satu foto baru: foto aku, Bu Sulastri, dan Raka yang sedang makan bubur bersama di ruang tamu, setelah 3 tahun tidak pernah makan bersama.
Pelajaran dari kotak di bawah tempat tidur itu: Jangan pernah tinggalkan Ibumu selama 3 tahun tanpa kabar, lalu pulang dengan mobil bagus dan pertanyaan pertama adalah “Rumah masih atas nama Ibu kan?” Karena bisa jadi di bawah tempat tidur Ibumu sudah ada kotak kayu berisi buku catatan 3 tahun yang mencatat siapa yang benar-benar merawatnya, dan surat dari Ayahmu yang bilang hak rumah bisa pindah ke menantu yang setia merawat, bukan ke anak kandung yang pergi.
Setia itu tidak diukur dari darah, tapi dari siapa yang tetap tinggal saat semua orang pergi.
Pernahkah kamu melihat atau mengalami seperti Alya, merawat ibu mertua sendirian selama bertahun-tahun karena suami pergi tanpa kabar, sementara suami pulang tiba-tiba hanya tanya soal sertifikat rumah? Atau pernahkah kamu menemukan kotak kayu berisi surat perjanjian keluarga di bawah tempat tidur mertuamu? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar ya, mari kita bahas bersama!

