
BAGIAN 1
“Pindahkan dia dari timmu, atau kita selesaikan pernikahan ini.”
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia duduk di ujung meja makan sambil menatap piring yang sudah dingin.
Aku menunggu.
Sudah tiga minggu aku menunggu jawaban yang sebenarnya.
Tiga minggu sejak nama seorang dokter residen bernama Rani mulai terlalu sering muncul di rumah kami.
Awalnya sederhana.
“Rani belum terbiasa menangani keluarga pasien.”
“Rani harus belajar membaca situasi.”
“Rani tadi hampir salah mengisi laporan.”
Lalu jadwal Adrian berubah.
Dulu ia hampir selalu pulang sebelum pukul delapan.
Sekarang pukul sepuluh dianggap cepat.
Kadang sebelas malam.
Beberapa kali ia pulang mendekati tengah malam.
Ketika kutanya, jawabannya selalu sama.
“Ada pekerjaan.”
Aku tidak pernah melarangnya bekerja.
Adrian dokter spesialis di sebuah rumah sakit swasta besar di Jakarta Selatan. Aku sudah terbiasa dengan jadwalnya.
Masalahnya bukan jam pulang.
Masalahnya adalah Rani.
Suatu malam, aku melihat pesan masuk saat ponselnya tergeletak di meja.
Dok, sudah sampai rumah?
Terima kasih tadi sudah menunggu sampai taksi saya datang.
Aku tidak membuka percakapan mereka.
Aku hanya membaca kalimat yang muncul di layar.
Malam berikutnya Adrian pulang membawa dua gelas kopi.
Satu kosong.
Satu masih setengah.
“Beli dua?”
Ia melepas jam tangannya.
“Rani tadi lembur.”
Aku menatapnya.
“Jadi sekarang kamu juga mengurus kopinya?”
Adrian langsung kesal.
“Jangan mulai, Laras.”
Itulah saat aku tahu masalahnya sudah lebih jauh daripada yang mau ia akui.
Malam itu aku tidak berdebat.
Namun tiga hari kemudian, aku menemukan struk restoran di saku jasnya.
Dua orang.
Pukul 21.47.
Lokasinya lima belas menit dari apartemen Rani.
Ketika kutanya, Adrian tidak berbohong.
“Aku makan dengan Rani.”
“Berdua?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Dia sedang banyak masalah.”
Aku menahan napas.
“Dan kamu harus menjadi orang yang mendengarkannya?”
“Dia bawahanku.”
“Bawahanmu yang kamu antar pulang?”
Adrian berdiri.
“Jangan membuat sesuatu yang tidak ada.”
Aku juga berdiri.
“Kalau memang tidak ada apa-apa, pindahkan dia.”
Wajahnya berubah.
“Tidak bisa semudah itu.”
“Kenapa?”
“Karena kariernya bisa rusak.”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Aku hanya tidak percaya.
“Karier dia sekarang lebih penting daripada pernikahan kita?”
Adrian diam.
Karena itu malam ini aku berhenti bertanya.
Aku memberinya pilihan.
“Pindahkan Rani dari timmu.”
Aku menatap langsung matanya.
“Atau kita bercerai.”
Adrian tetap tidak menjawab.
Ia bangkit, mengambil ponselnya, lalu masuk ke ruang kerja.
Pintu dikunci.
Aku duduk sendirian hampir satu jam.
Enam tahun kami menikah.
Sebelum itu kami sudah bersama sejak kuliah.
Aku mengenal Adrian lebih dari sepuluh tahun.
Selama itu aku selalu berpikir masalah terbesar dalam hubungan kami bisa dibicarakan.
Ternyata ada satu hal yang tidak bisa dinegosiasikan.
Seseorang yang sudah memilih orang lain di dalam pikirannya.
Sekitar pukul empat pagi, aku mendengar pintu ruang kerja terbuka.
Adrian masuk ke kamar.
Wajahnya lelah.
Di tangannya ada map biru.
Ia menaruh map itu di depan tumbler airku.
“Laras.”
Aku duduk.
“Apa?”
“Aku sudah bicara dengan pengacara.”
Tanganku terasa dingin.
Namun aku tetap membuka map itu.
Dokumen perceraian.
Perjanjian pembagian aset.
Rumah yang kami tempati di Jakarta Selatan diberikan kepadaku.
Sebuah rumah kecil di Bandung juga.
Dua mobil.
Deposito.
Sebagian besar portofolio investasinya.
Aku membaca dari halaman pertama sampai terakhir.
“Kenapa sebanyak ini?”
Adrian duduk di kursi.
“Aku tidak mau kita bertengkar soal uang.”
“Bukan itu yang kutanya.”
Ia menatap lantai.
Aku menutup map.
“Jadi kamu memilih Rani?”
Beberapa detik ia tidak bergerak.
Lalu ia mengangguk.
“Iya.”
Tidak ada penjelasan panjang.
Justru itu yang membuatnya terasa jelas.
Aku mengambil pena.
Adrian menatapku.
“Kamu mau tanda tangan sekarang?”
“Kamu sudah membuat keputusanmu.”
“Laras…”
Aku menandatangani dokumen itu.
Saat pena berpindah ke tangannya, Adrian tidak langsung menulis.
“Kamu tidak mau mempertahankan kita?”
Aku menatapnya.
“Aku sudah melakukannya ketika memintamu membuat batas.”
“Aku belum melakukan apa pun dengan Rani.”
“Kalau begitu seharusnya pilihanmu mudah.”
Ia diam.
Aku mendorong dokumennya.
“Tanda tangan.”
Akhirnya Adrian melakukannya.
Pagi itu hubungan lebih dari sepuluh tahun selesai di atas sebuah meja kecil.
Dua hari kemudian aku pergi ke klinik karena sejak beberapa minggu sebelumnya tubuhku terasa berbeda.
Aku pikir itu karena stres.
Dokter meminta pemeriksaan tambahan.
Aku menunggu hampir satu jam.
Saat dokter kembali, ia duduk di depanku dan tersenyum.
“Bu Laras, hasilnya positif.”
Aku tidak langsung paham.
“Positif apa?”
“Anda sedang hamil.”
Aku menatapnya.
“Berapa minggu?”
“Sekitar lima minggu.”
Aku keluar dari ruang pemeriksaan dengan amplop putih di tangan.
Di parkiran, aku duduk di mobil hampir dua puluh menit.
Lima minggu.
Artinya anak ini ada sebelum aku memberikan ultimatum kepada Adrian.
Sebelum dokumen perceraian.
Sebelum ia mengatakan bahwa ia memilih Rani.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari ibu Adrian.
Laras, besok datang ke rumah. Ada yang perlu dibicarakan mengenai aset Adrian.
Keesokan sore aku datang.
Bu Mirna langsung meletakkan daftar aset di meja.
“Kamu tidak bisa mengambil semuanya.”
“Itu keputusan Adrian.”
“Tapi kamu harus punya rasa tahu diri.”
Aku tidak menjawab.
“Rumah Bandung setidaknya kembalikan. Deposito juga separuh.”
Aku membuka tas.
Bu Mirna mengira aku akan mengambil dokumen aset.
Aku justru mengeluarkan amplop dari klinik.
“Saya datang bukan untuk membicarakan rumah.”
Ia mengernyit.
Aku meletakkan hasil pemeriksaan di depannya.
“Saya hamil.”
Wajah Bu Mirna langsung berubah.
Aku belum selesai.
“Dan anak ini anak Adrian.”
Matanya turun ke lembar hasil pemeriksaan.
Lalu ia mengangkat wajah perlahan.
Kalimat berikutnya membuatku langsung sadar bahwa perceraian ini ternyata baru permulaan.
“Adrian tidak boleh tahu dulu.”
BERSAMBUNG…
BAGIAN 2
Aku menatap Bu Mirna cukup lama karena kupikir aku salah dengar.
“Apa?”
Ia mengambil lembar hasil pemeriksaanku.
“Berapa minggu?”
“Lima.”
“Adrian tahu?”
“Belum.”
Bu Mirna langsung bersandar.
Seperti baru saja mendapat waktu untuk berpikir.
Aku mengambil kembali kertas itu dari tangannya.
“Kenapa tadi Ibu bilang Adrian tidak boleh tahu?”
“Karena sekarang semuanya sedang kacau.”
“Dia ayahnya.”
“Aku tahu.”
“Berarti dia harus tahu.”
Bu Mirna menurunkan suara.
“Laras, dengarkan Ibu dulu.”
Aku tidak suka cara ia mengatakan itu.
Selama enam tahun menjadi menantunya, aku sudah memahami satu kebiasaannya.
Kalau Bu Mirna mulai mengatakan “dengarkan Ibu”, biasanya keputusan sudah dibuat tanpa menanyakan pendapatku.
“Adrian baru membuat keputusan besar.”
“Keputusan meninggalkan istrinya?”
Wajahnya mengeras.
“Aku tidak membenarkan caranya.”
“Tapi Ibu ingin melindunginya.”
“Aku ingin semuanya tidak semakin rumit.”
Aku memasukkan hasil pemeriksaan ke tas.
“Anak ini bukan komplikasi.”
“Bukan begitu maksud Ibu.”
“Lalu apa?”
Ia tidak menjawab beberapa detik.
Kemudian berkata, “Kalau Adrian tahu sekarang, dia mungkin akan membatalkan perceraian karena merasa bertanggung jawab.”
Aku menatapnya.
“Dan itu buruk?”
“Kalau dia kembali bukan karena mencintaimu, kalian hanya akan saling menyiksa.”
Untuk bagian itu, aku tidak sepenuhnya bisa menyangkal.
Aku juga tidak ingin Adrian kembali hanya karena aku sedang hamil.
Aku tidak ingin setiap pagi melihat pria yang duduk di sebelahku sambil bertanya-tanya apakah ia tetap memikirkan perempuan lain.
Namun menyembunyikan anak darinya adalah hal berbeda.
“Aku tetap akan memberitahunya.”
Bu Mirna menghela napas.
“Jangan hari ini.”
“Aku tidak meminta izin.”
Aku berdiri.
“Laras.”
Aku berhenti.
“Kalau kamu memberitahunya, jangan menggunakan kehamilan ini untuk menarik Adrian kembali.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu menyelesaikan semuanya bagiku.
Selama ini aku masih menganggap Bu Mirna hanya seorang ibu yang panik melihat rumah tangga anaknya rusak.
Ternyata ia benar-benar mengira aku sedang mencari cara untuk mempertahankan Adrian.
“Saya tidak perlu memakai anak untuk mempertahankan laki-laki yang sudah memilih pergi.”
Aku mengambil tas.
“Saya hanya akan memastikan Adrian tahu bahwa dia akan menjadi ayah.”
Aku pulang.
Malam itu aku menelepon pengacaraku, Pak Bagas.
Aku menjelaskan semuanya.
Ia diam beberapa saat.
“Secara hukum, sebaiknya pemberitahuan dibuat tertulis.”
“Kenapa?”
“Supaya nanti tidak ada pihak yang mengatakan mereka tidak pernah diberi tahu.”
Aku langsung setuju.
Dua hari kemudian, kami mengirim surat resmi.
Alamat pertama adalah rumah Bu Mirna karena setelah keluar dari rumah kami, Adrian tinggal sementara di sana.
Alamat kedua rumah sakit.
Aku juga mengirim email ke alamat kerjanya.
Isinya singkat.
Aku hamil lima minggu.
Aku tidak meminta perceraian dibatalkan.
Aku tidak meminta aset tambahan.
Aku hanya ingin Adrian mengetahui fakta itu.
Aku juga menulis satu kalimat pribadi.
Kalau kamu ingin terlibat dalam pemeriksaan kehamilan atau kehidupan anak ini nanti, beri tahu aku melalui Pak Bagas.
Setelah itu aku menunggu.
Satu hari.
Dua hari.
Seminggu.
Tidak ada jawaban.
Pak Bagas menunjukkan bukti pengiriman.
Surat ke rumah diterima.
Nama penerima tercatat:
Mirna Suryani.
Surat ke rumah sakit juga diterima bagian administrasi.
Email tidak pernah dibalas.
Aku mulai mengerti.
Adrian sudah memilih kehidupan lain.
Dan ternyata kehadiran seorang anak pun tidak cukup untuk membuatnya menjawab satu pesan.
Aku berhenti menunggu.
Sebulan kemudian perceraian kami selesai secara resmi.
Adrian tidak datang menemui aku.
Ia hadir melalui pengacara untuk sebagian proses.
Kami hanya bertemu sekali.
Di koridor pengadilan.
Perutku belum terlihat.
Ia berdiri beberapa meter dariku.
Tatapannya singkat.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Baik.”
Ia mengangguk.
“Rumah sudah selesai proses balik nama.”
“Aku tahu.”
Hanya itu.
Aku sengaja tidak mengatakan apa pun tentang kehamilan.
Bukan karena ingin merahasiakannya.
Menurutku ia sudah tahu.
Aku sudah mengirim pemberitahuan lewat jalur resmi.
Kalau setelah itu ia memilih diam, aku tidak akan memohon agar ia menjadi ayah.
Sebelum pergi, Adrian memanggil.
“Laras.”
Aku menoleh.
“Aku minta maaf.”
Aku menunggu.
Tidak ada kalimat lanjutan.
Aku menjawab pendek.
“Aku dengar.”
Lalu aku pergi.
Tiga minggu kemudian aku mendengar sesuatu yang tidak kuduga.
Rani meninggalkan rumah sakit.
Bukan karena Adrian memindahkannya.
Ia diterima mengikuti program pendidikan lanjutan di Singapura.
Aku tahu dari seorang teman lama yang bekerja di rumah sakit yang sama.
“Bukannya Adrian bercerai karena dia?”
tanya temanku.
“Aku tidak tahu.”
“Yang kudengar Rani berangkat sendiri.”
Aku tidak menanyakan lebih jauh.
Itu sudah bukan urusanku.
Namun beberapa bulan kemudian, Adrian menelepon untuk pertama kali setelah perceraian.
Aku sedang memilih perlengkapan bayi saat nomor lamanya muncul.
Aku tidak mengangkat.
Ia menelepon lagi.
Aku tetap diam.
Kemudian pesan masuk.
Aku perlu bicara.
Aku membalas satu kalimat.
Hubungi pengacaraku kalau berkaitan dengan dokumen.
Jawabannya cepat.
Bukan soal dokumen.
Aku menatap layar.
Sebagian diriku ingin bertanya apa yang terjadi dengan Rani.
Namun bagian lain mengingat satu hal.
Saat aku memberinya pilihan, ia sudah menjawab.
Jadi aku tidak membalas.
Hari putriku lahir, orang pertama yang kugenggam tangannya adalah kakakku.
Aku memberinya nama Nara.
Ketika perawat meletakkannya di dekatku, aku menangis untuk pertama kalinya sejak perceraian.
Bukan karena Adrian.
Aku menangis karena tiba-tiba semua ketakutanku terasa nyata.
Aku sendirian.
Aku harus menjadi orang tua tanpa tahu apakah suatu hari Nara akan bertanya tentang ayahnya.
Aku harus memutuskan cerita apa yang akan kuberikan.
Aku tidak pernah ingin membesarkannya dengan kebencian.
Karena itu sejak awal aku hanya mengatakan satu hal kepada keluargaku.
“Jangan pernah bicara buruk tentang Adrian di depan Nara.”
Kakakku menatapku.
“Setelah semua yang dia lakukan?”
“Nara tidak melakukan kesalahan apa pun.”
Ayahku juga tidak suka keputusan itu.
Namun mereka menghormatinya.
Di akta kelahiran, semuanya dibuat sesuai dokumen yang tersedia dan saran hukum yang kudapat saat itu.
Aku menyimpan seluruh berkas mengenai Adrian.
Surat pemberitahuan kehamilan.
Bukti pengiriman.
Perjanjian perceraian.
Foto kami waktu masih menikah.
Bukan untuk diriku.
Untuk Nara.
Kalau suatu hari ia bertanya, aku tidak ingin menjawab berdasarkan emosiku.
Aku ingin memberinya fakta.
Tahun pertama berlalu.
Lalu tahun kedua.
Tidak ada Adrian.
Aku mendengar ia pindah ke rumah sakit lain.
Katanya sempat bekerja beberapa waktu di Surabaya, lalu kembali ke Jakarta.
Aku tidak mencari tahu.
Rani juga tidak pernah menjadi istrinya.
Informasi itu sampai kepadaku tanpa diminta.
Salah satu teman kami dari masa kuliah bertemu Adrian di sebuah seminar.
“Dia sendirian,” katanya.
Aku hanya menjawab, “Oh.”
Aku memang penasaran.
Tapi rasa penasaran bukan alasan untuk membuka pintu yang sudah kututup.
Nara tumbuh menjadi anak yang banyak bertanya.
Saat empat tahun, ia bertanya kenapa teman-temannya dijemput ayah dan ibu sementara ia biasanya dijemput aku atau kakeknya.
Aku duduk di samping tempat tidurnya.
“Kamu punya ayah.”
“Di mana?”
“Dia tinggal di tempat lain.”
“Kenapa?”
Aku berpikir sebelum menjawab.
“Papa dan Mama tidak tinggal bersama.”
Nara mengangguk.
Lalu pertanyaannya justru sederhana.
“Papa suka es krim cokelat?”
Aku tertawa kecil.
“Iya.”
“Papa juga tidak suka kismis?”
“Iya.”
“Mama tahu banyak.”
Aku diam.
Tentu saja aku tahu banyak.
Lebih dari sepuluh tahun hidupku pernah ada Adrian di dalamnya.
Namun aku tidak menghubunginya.
Karena sepanjang waktu itu aku percaya dia juga tahu tentang Nara.
Kalau dia memilih tidak datang, aku tidak ingin memaksa.
Enam tahun setelah Nara lahir, aku menerima undangan dari sebuah yayasan kesehatan anak di Jakarta.
Perusahaan tempatku bekerja menjadi salah satu sponsor program pendidikan keluarga pasien.
Aku diminta hadir di acara peluncuran.
Awalnya aku ingin datang sendiri.
Namun hari itu pengasuh Nara izin.
Ayah juga ada urusan.
Jadi Nara ikut bersamaku.
“Jangan lari ke mana-mana.”
“Iya, Ma.”
“Kita cuma satu jam.”
“Iya.”
“Tadi Mama bilang apa?”
“Jangan minta jus dingin tiga kali.”
Aku menahan senyum.
“Bagus.”
Acara berlangsung di sebuah rumah sakit besar di Jakarta Selatan.
Aku tidak tahu Adrian bekerja di sana.
Namanya tidak ada di daftar pembicara yang dikirim kepadaku.
Setelah sesi pembukaan, Nara mulai bosan.
Ia menarik tanganku.
“Ma, aku mau ke toilet.”
Aku mengantarnya.
Saat keluar, ponselku berbunyi.
Aku berhenti beberapa meter dari lobi untuk menerima telepon.
Nara berdiri di sampingku sambil memegang tas kecilnya.
Aku hanya mengalihkan pandangan beberapa detik.
Ketika telepon selesai, Nara sudah berjalan mendekati meja informasi.
Seorang pria sedang membungkuk mengambil kartu yang jatuh dari tasnya.
Nara ikut membantu.
“Ini, Om.”
Pria itu mengangkat wajah.
Aku berhenti.
Adrian.
Tujuh tahun.
Aku tidak pernah membayangkan kami akan bertemu seperti ini.
Ia tampak lebih kurus.
Ada sedikit garis di sekitar matanya.
Namun aku masih mengenali cara ia berdiri.
Cara tangannya memegang kartu identitas.
Cara ia mengernyit ketika sedang mencoba memahami sesuatu.
“Nara.”
Suaraku keluar sebelum aku sempat berpikir.
Nara menoleh.
Adrian juga.
Tatapannya berhenti padaku.
“Laras?”
Aku berjalan mendekat.
“Ayo, Nara.”
Namun Adrian tidak melihatku lagi.
Ia melihat Nara.
Anakku memiliki banyak bagian wajahku.
Namun semakin besar, ada beberapa hal yang sulit kuabaikan.
Bentuk alisnya.
Garis rahangnya.
Cara matanya menyipit sedikit ketika sedang bingung.
Sama seperti Adrian.
Nara menarik bajuku.
“Mama kenal Om?”
Adrian menatapku.
“Mama?”
Aku tidak menjawab.
Wajahnya berubah.
Matanya kembali ke Nara.
“Umur kamu berapa?”
Nara melihatku dulu.
Aku mengangguk kecil.
“Enam tahun.”
“Enam?”
“Iya.”
Adrian menelan ludah.
“Ulang tahun kapan?”
Aku langsung memegang tangan Nara.
“Cukup.”
Adrian menatapku.
“Laras.”
“Kita bicara nanti.”
“Dia siapa?”
Aku menahan napas.
“Bukan di sini.”
Wajahnya pucat.
“Dia anakku?”
Beberapa orang mulai melihat ke arah kami.
Aku tidak ingin Nara mendengar percakapan seperti itu.
Aku membungkuk.
“Nara, Tante Siska tadi ada di ruang acara. Kamu ke sana dulu, ya. Mama bicara sebentar.”
“Tapi—”
“Lima menit.”
Nara menurut.
Begitu ia pergi, Adrian kembali menatapku.
“Katakan.”
Aku menyilangkan tangan.
“Kamu sudah tahu.”
“Aku tahu apa?”
“Jangan lakukan ini.”
“Aku serius.”
Aku menatapnya.
“Enam tahun lalu aku memberitahumu.”
Adrian menggeleng.
“Tidak.”
“Aku mengirim surat.”
“Surat apa?”
“Pemberitahuan kehamilan.”
Wajahnya benar-benar kosong.
Aku mulai merasa tidak nyaman.
“Surat resmi dikirim ke rumah ibumu dan rumah sakit.”
“Aku tidak pernah menerima.”
“Email juga.”
“Email apa?”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, sebuah kemungkinan yang tidak pernah kupikirkan muncul.
Adrian membuka ponsel.
“Kapan?”
Aku menyebut bulan dan tahun.
Ia mengetik sesuatu.
“Akun rumah sakit lama sudah ditutup.”
“Itu bukan masalahku.”
Ia memandangku.
“Kenapa kamu tidak menelepon?”
“Aku mencoba jalur resmi karena kita sedang bercerai.”
“Lalu aku tidak menjawab?”
“Iya.”
“Dan kamu langsung menganggap aku tidak peduli?”
Aku hampir marah.
“Surat diterima di rumah ibumu. Surat kedua diterima rumah sakit. Aku juga mengirim email. Setelah itu kita bertemu di pengadilan dan kamu tidak mengatakan apa pun.”
“Aku tidak tahu!”
Suaranya naik.
Aku langsung menurunkannya.
“Jangan bicara keras.”
Adrian mengusap wajah.
“Laras, aku bersumpah aku tidak pernah tahu.”
Aku diam.
Ia melihat ke arah ruangan tempat Nara pergi.
“Namanya siapa?”
“Nara.”
“Nama lengkap?”
“Nara Adelia.”
Ia mengulang pelan.
“Nara.”
Aku tidak suka melihat reaksinya.
Bukan karena aku masih marah.
Justru karena ia terlihat benar-benar terguncang.
“Apakah dia tahu tentang aku?”
“Dia tahu ayahnya tinggal terpisah.”
“Dia tahu namaku?”
“Belum.”
Adrian memejamkan mata beberapa detik.
“Enam tahun.”
Aku tetap diam.
Ia membuka mata.
“Aku kehilangan enam tahun?”
Kalimat itu membuatku tersinggung.
“Kamu memilih pergi.”
“Aku memilih keluar dari pernikahan. Aku tidak pernah memilih meninggalkan anak yang bahkan tidak kuketahui.”
Aku tidak punya jawaban cepat.
Karena itu benar.
Kalau ia benar-benar tidak pernah tahu, situasinya berbeda dari yang kupikirkan selama bertahun-tahun.
Adrian bertanya, “Bisa kita periksa?”
“Maksudmu?”
“Aku ingin memastikan.”
Aku menatapnya tajam.
“Bukan karena aku menuduhmu.”
Ia cepat menambahkan, “Aku hanya… aku perlu tahu secara pasti sebelum bicara pada Nara.”
Aku mengerti.
Meskipun sakit mendengarnya, aku mengerti.
“Kita bisa melakukan tes.”
Adrian mengangguk.
“Secepatnya.”
Tiga hari kemudian kami datang ke laboratorium independen.
Nara hanya tahu bahwa kami menjalani pemeriksaan keluarga.
Aku tidak mau menjelaskan lebih dulu sebelum hasilnya keluar.
Seminggu kemudian Adrian datang ke kantor pengacaraku.
Pak Bagas juga ada.
Aku meletakkan amplop hasil pemeriksaan di meja.
Adrian tidak mengambilnya.
“Kamu sudah baca?”
“Sudah.”
“Berapa?”
“Lebih dari 99,9 persen.”
Ia menunduk.
Tidak ada senyum.
Ia hanya duduk diam.
Beberapa detik kemudian ia bertanya, “Boleh aku ketemu dia?”
“Aku tidak akan langsung mengenalkanmu sebagai ayahnya.”
“Aku mengerti.”
“Kamu mulai pelan.”
“Iya.”
“Kalau kamu datang sekali lalu menghilang, jangan datang sama sekali.”
Adrian langsung menatapku.
“Aku tidak akan menghilang.”
Aku tidak langsung percaya.
Kepercayaan tidak kembali hanya karena hasil laboratorium.
Namun demi Nara, aku memberinya kesempatan.
Pertemuan pertama mereka berlangsung di sebuah kedai buku.
Nara sudah tahu bahwa Adrian adalah seseorang dari masa laluku.
Ia belum tahu semuanya.
Adrian datang sepuluh menit lebih awal.
Ia membawa satu buku astronomi anak.
Bukan boneka mahal.
Bukan hadiah besar.
Aku menghargai itu.
Nara duduk di depannya.
“Om dokter?”
Adrian tersenyum.
“Iya.”
“Dokter apa?”
“Dokter jantung dan dada.”
Nara berpikir.
“Berarti Om tahu kenapa orang kalau lari napasnya cepat?”
“Sedikit.”
“Kalau habis makan pedas?”
Adrian tertawa.
Aku menatap mereka.
Untuk pertama kalinya, aku melihat kemiripan yang bukan hanya wajah.
Cara mereka memegang sendok.
Cara keduanya mengangkat alis ketika sedang bercanda.
Aku merasa takut.
Bukan takut Adrian mengambil Nara.
Aku takut Nara menyukainya.
Karena kalau Adrian pergi lagi, kali ini bukan aku yang terluka.
Minggu berikutnya Adrian meminta bertemu lagi.
Lalu minggu setelahnya.
Ia tidak pernah terlambat.
Tidak pernah tiba-tiba membatalkan.
Selama hampir dua bulan, ia mengikuti batas yang kubuat.
Suatu sore, setelah Nara masuk kelas menggambar, Adrian menghampiriku.
“Aku ingin bertanya sesuatu.”
“Apa?”
“Rani.”
Aku langsung tidak suka topiknya.
“Aku tidak perlu tahu.”
“Tapi ini berhubungan dengan semuanya.”
Aku menatapnya.
Ia duduk di kursi sebelahku.
“Setelah perceraian, aku menyatakan perasaanku pada Rani.”
Aku tidak bereaksi.
“Dia menolakku.”
Aku menoleh.
Adrian tersenyum hambar.
“Dia bilang dia tidak pernah memintaku bercerai.”
Aku tetap diam.
“Dia memang dekat denganku. Terlalu dekat. Aku juga membiarkan batas itu hilang.”
“Jadi?”
“Tidak ada jadi. Dia pergi ke Singapura dua minggu kemudian.”
“Kamu menyesal?”
Adrian berpikir.
“Aku menyesal pada hari pertama.”
Aku tertawa pendek.
“Cepat sekali.”
“Aku tidak meminta kamu kasihan.”
“Bagus.”
Ia mengangguk.
“Aku hanya ingin kamu tahu aku tidak membangun keluarga baru dengan siapa pun.”
“Itu pilihanmu.”
“Iya.”
Aku berdiri ketika kelas Nara selesai.
Namun Adrian berkata satu kalimat lagi.
“Aku meneleponmu waktu itu karena ingin minta maaf dan menjelaskan semua ini.”
Aku berhenti.
Aku ingat telepon yang tidak kuangkat.
Aku ingat pesannya.
Aku perlu bicara.
Selama bertahun-tahun kupikir itu hanya penyesalan sesaat setelah Rani pergi.
Mungkin memang begitu.
Namun untuk pertama kalinya, aku melihat berapa banyak keputusan hidup kami dibentuk oleh asumsi.
Dua minggu kemudian Adrian meminta sesuatu.
“Aku ingin melihat bukti suratnya.”
Aku membuka arsip.
Pak Bagas masih menyimpan salinannya.
Bukti pengiriman ke rumah Bu Mirna jelas.
Diterima oleh:
M. Suryani.
Adrian menatap tanda tangan itu.
“Itu tanda tangan Mama.”
“Aku tahu.”
Ia mengambil foto dokumen.
“Aku akan bicara dengannya.”
Aku langsung berkata, “Jangan libatkan Nara.”
“Aku tidak akan.”
Malam itu Adrian menelepon.
Suaranya berbeda.
“Kamu bisa datang besok?”
“Untuk apa?”
“Aku ingin kamu mendengar langsung.”
Aku tidak suka caranya.
Namun akhirnya aku datang ke rumah Bu Mirna.
Rumah itu hampir tidak berubah.
Sofa yang sama.
Meja yang sama.
Bahkan lemari kayu tempat Bu Mirna biasa menyimpan dokumen keluarga masih berada di sudut ruang tamu.
Ketika aku masuk, ia langsung berdiri.
“Laras?”
Adrian duduk di seberangnya.
Di meja ada fotokopi surat pemberitahuan kehamilanku.
Bu Mirna melihat dokumen itu.
Lalu melihatku.
Aku langsung tahu.
Ia ingat.
Adrian berkata pelan, “Mama menerima ini?”
Bu Mirna tidak menjawab.
“Ma.”
“Aku mau jelaskan.”
“Berarti benar.”
Ia duduk lagi.
Adrian menatap ibunya.
“Kenapa tidak kasih ke aku?”
Bu Mirna menekan kedua tangannya.
“Kondisimu waktu itu buruk.”
“Aku bertanya kenapa.”
“Kamu baru bercerai.”
“Lalu?”
“Kamu menyesal. Kamu tidak tidur. Kamu bilang keputusanmu salah. Kalau kamu tahu Laras hamil, kamu pasti langsung kembali.”
Adrian menatapnya.
“Memangnya Mama pikir itu keputusan Mama?”
Bu Mirna mulai defensif.
“Aku cuma ingin kamu tenang dulu.”
“Tujuh tahun?”
“Aku mau kasih tahu setelah keadaan membaik.”
“Lalu kenapa tidak pernah?”
Bu Mirna diam.
Aku menatapnya.
Ada sesuatu yang belum ia katakan.
“Bu,” kataku, “surat dari rumah sakit juga tidak pernah dijawab.”
Bu Mirna menatapku cepat.
Gerakan kecil itu cukup.
Adrian juga melihatnya.
“Apa lagi?”
Bu Mirna menggeleng.
“Tidak ada.”
“Ma.”
Adrian berdiri.
“Apa lagi?”
Akhirnya Bu Mirna membuka lemari kayu.
Ia mengambil sebuah kotak tipis.
Tangannya gemetar saat meletakkannya di meja.
Di dalamnya ada amplop lain.
Aku langsung mengenal logo firma hukum Pak Bagas.
Belum dibuka.
Ada juga salinan email yang dicetak.
Dan satu kartu kecil.
Bu Mirna berkata pelan, “Sekretaris rumah sakit menghubungiku setelah surat kedua datang karena waktu itu kamu sedang cuti.”
Aku menatapnya.
Adrian tidak bergerak.
“Mama bilang apa?”
“Aku bilang urusan itu sudah diselesaikan keluarga.”
“Diselesaikan bagaimana?”
“Aku minta mereka jangan menghubungimu lagi.”
Ruangan sunyi.
Aku baru memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Bukan satu surat yang hilang.
Bu Mirna sengaja menghentikan semuanya.
Namun masih ada kartu kecil di dalam kotak.
Adrian mengambilnya.
Tulisan itu milikku.
Aku langsung mengenalinya.
Aku menulis kartu itu tujuh tahun lalu dan menitipkannya bersama hasil pemeriksaan kedua.
Isinya hanya dua kalimat.
Aku tidak akan meminta kamu kembali.
Tapi kalau suatu hari kamu ingin menjadi ayah untuk anak ini, pintunya tidak akan kututup.
Adrian membaca sampai selesai.
Wajahnya tidak berubah.
Namun tangannya berhenti di atas meja.
Ia menatap ibunya.
“Mama simpan ini tujuh tahun?”
Bu Mirna menangis.
“Aku takut kamu menghancurkan semuanya karena rasa bersalah.”
Adrian menjawab pelan.
“Justru Mama yang mengambil keputusan tujuh tahun hidup anakku.”
Aku tidak ikut membela siapa pun.
Aku juga tidak merasa menang.
Karena yang hilang tidak bisa dikembalikan.
Hari ulang tahun pertama Nara.
Hari pertamanya masuk sekolah.
Pertama kali ia bisa membaca.
Malam-malam ketika ia bertanya tentang ayahnya.
Adrian tidak ada.
Dan selama ini aku mengira itu pilihannya.
Ternyata tidak sepenuhnya.
Aku berdiri.
“Cukup.”
Adrian menoleh.
“Aku pulang.”
Bu Mirna memanggilku.
“Laras…”
Aku tidak berhenti.
Masalah antara ibu dan anak itu bukan lagi urusanku.
Seminggu kemudian, aku mengatakan kepada Nara yang sebenarnya.
Aku duduk bersamanya di ruang keluarga.
Adrian ada di sana.
Ia tampak lebih gugup daripada saat melakukan pemeriksaan apa pun di rumah sakit.
“Nara.”
Anakku melihatku.
“Ada yang Mama mau ceritakan.”
Aku menjelaskan sederhana.
Adrian adalah ayahnya.
Kami dulu menikah.
Kami kemudian berpisah.
Ada masalah yang membuat Adrian tidak tahu tentang keberadaannya selama bertahun-tahun.
Aku tidak menyebut Bu Mirna.
Nara terlalu kecil untuk menanggung konflik orang dewasa.
Nara diam cukup lama.
Lalu menatap Adrian.
“Berarti aku boleh panggil Papa?”
Adrian membuka mulut.
Tidak langsung keluar suara.
Akhirnya ia mengangguk.
“Kalau Nara mau.”
Nara berpikir.
“Belum sekarang.”
Aku melihat Adrian menahan reaksinya.
Namun ia tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Tiga minggu kemudian, saat Adrian datang menjemput Nara untuk pergi ke toko buku bersamaku, Nara tiba-tiba berlari mengambil sepatunya.
“Papa, tunggu!”
Adrian berhenti di depan pintu.
Aku juga.
Nara tidak sadar apa yang baru ia katakan.
Ia hanya sibuk memakai sepatu.
Aku melihat Adrian menunduk sebentar.
Lalu ia menjawab seperti biasa.
“Iya. Papa tunggu.”
Tidak ada yang kembali seperti tujuh tahun lalu.
Aku juga tidak menginginkannya.
Adrian bukan lagi suamiku.
Aku bukan perempuan yang menunggu ia memilihku.
Kami hanya dua orang dewasa yang akhirnya mengetahui kebenaran terlalu terlambat dan memutuskan tidak membuat seorang anak membayar kesalahan kami.
Beberapa bulan kemudian Adrian meminta membicarakan pengaturan waktu bersama Nara secara resmi.
Kami menyusunnya melalui mediator keluarga.
Ia mendapat waktu teratur.
Aku tetap menjadi tempat tinggal utama Nara.
Bu Mirna baru boleh bertemu setelah aku dan Adrian sepakat.
Yang mengejutkanku, Adrian menyetujui semuanya tanpa berdebat.
Ia tidak mencoba membeli waktu yang hilang dengan hadiah.
Ia datang.
Ia menunggu.
Ia menepati janji.
Suatu malam setelah mengantar Nara pulang, ia berdiri di depan pintu.
“Laras.”
“Apa?”
“Terima kasih karena dulu kamu benar-benar mengirim surat itu.”
Aku menatapnya.
“Aku melakukan kewajibanku.”
“Aku tahu.”
Ia hendak pergi, lalu berhenti.
“Aku kadang berpikir kalau aku membacanya saat itu…”
Aku langsung memotong.
“Jangan.”
Ia terdiam.
“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Adrian mengangguk.
Aku melanjutkan, “Mungkin kamu kembali karena rasa bersalah. Mungkin kita bertengkar lagi. Mungkin tetap berpisah.”
“Iya.”
“Yang bisa kita urus cuma sekarang.”
Adrian melihat ke arah dalam rumah.
Nara sedang tertawa sambil menunjukkan buku baru kepada Ayahku.
Lalu ia mengangguk.
“Sekarang saja.”
Aku menutup pintu setelah ia pergi.
Dulu kupikir twist terbesar dalam hidupku adalah mengetahui aku hamil setelah suamiku memilih perempuan lain.
Ternyata bukan.
Twist terbesar adalah mengetahui tujuh tahun kemudian bahwa pria yang selama ini kukira sengaja meninggalkan anaknya bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk mengetahui anak itu ada.
Aku tidak kembali kepada Adrian.
Ia juga tidak pernah memintaku melupakan masa lalu.
Hubungan kami berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Kami menjadi orang tua Nara.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, itu sudah cukup.
TAMAT
