
BAGIAN 1
Aku berdiri di seberang gerbang sekolah sambil memegang ponsel yang sejak tadi tidak berhenti bergetar.
Ibu menelepon lagi.
Aku tidak mengangkatnya.
Aku datang ke Surabaya dengan satu tujuan: menemui putriku dan meminta penjelasan langsung.
Empat hari sebelumnya, Ibu menelepon sambil menangis.
Katanya, Alya sudah benar-benar sulit diatur.
Dia membolos.
Dia sering pulang terlambat.
Dia bergaul dengan anak-anak yang tidak jelas.
Dan yang membuatku akhirnya membeli tiket pulang adalah soal Rp13 juta.
Menurut Ibu, Alya meminta uang untuk membeli laptop sekolah. Aku langsung mengirimkannya.
Dua hari kemudian, Ibu mengatakan uang itu sudah habis karena Alya pergi bersama teman-temannya.
Aku kecewa.
Selama bertahun-tahun bekerja di Malaysia, aku selalu percaya satu hal: setidaknya kebutuhan anakku aman.
Setiap bulan aku mengirim Rp12 juta sampai Rp15 juta ke rekening Ibu.
Kalau ada biaya sekolah, aku kirim lagi.
Kalau Alya membutuhkan buku, les, seragam atau kegiatan sekolah, aku tidak pernah banyak bertanya.
Aku merasa itu tugasku.
Bel istirahat berbunyi.
Siswa mulai keluar dari kelas.
Aku mencari Alya.
Beberapa menit kemudian aku melihatnya di sudut lapangan.
Aku hampir tidak mengenalinya.
Jaket sekolahnya terlihat terlalu besar.
Warnanya sudah pudar.
Sepatu putihnya kusam dan bagian depannya mulai terbuka.
Alya duduk sendiri.
Di tangannya hanya ada satu potong roti tawar.
Aku diam.
Dia menggigit sedikit.
Berhenti.
Menggigit lagi.
Lalu sekali lagi.
Setelah itu dia mengambil plastik bening dari tas.
Sisa roti itu dimasukkan kembali dengan hati-hati.
Aku mengira dia sudah kenyang.
Tapi Alya berjalan ke keran dekat toilet, menampung air dengan kedua tangannya, lalu minum beberapa kali.
Dadaku terasa tidak nyaman.
Aku tetap mengikuti dari jauh.
Alya keluar sebentar ke warung depan sekolah.
Dia berdiri di depan nasi bungkus cukup lama.
Aku melihat tangannya masuk ke saku.
Dia menghitung beberapa koin.
Tidak sampai Rp3.000.
Alya menatap nasi bungkus itu sekali lagi, lalu kembali masuk ke sekolah tanpa membeli apa pun.
Aku tidak jadi memanggilnya.
Aku berbalik menuju ruang BK.
Seorang guru bernama Bu Nita menyambutku.
Begitu aku memperkenalkan diri sebagai ayah Alya, ekspresinya langsung berubah.
“Bapak ayahnya Alya?”
“Iya.”
Bu Nita terdiam beberapa detik.
“Kami kira Bapak sudah lama tidak mengurus Alya.”
Aku langsung menatapnya.
“Maksud Ibu?”
Dia membuka sebuah map.
“Nomor orang tua yang kami punya tidak pernah aktif.”
Aku melihat nomor di formulir.
Tiga angka terakhirnya bukan milikku.
“Itu bukan nomor saya.”
Bu Nita menatapku.
Aku mengambil ponsel.
“Bu, saya transfer uang setiap bulan.”
Aku membuka aplikasi bank dan menunjukkan riwayat transaksi.
Bu Nita membaca beberapa baris.
Rp15.000.000.
Rp12.000.000.
Rp13.500.000.
Rp18.000.000.
Transfernya rutin.
Nama penerimanya sama.
Ratih Prameswari.
Ibuku.
Bu Nita tidak berkata apa-apa selama beberapa saat.
Kemudian dia mengeluarkan dokumen lain.
“Kalau begitu Bapak perlu melihat ini.”
Itu surat permohonan bantuan sekolah.
Atas nama Alya.
Keterangan wali mengatakan ayah bekerja di luar negeri dan jarang memberi nafkah.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Ada tanda tangan Ibu di bawahnya.
“Ini sudah berapa lama?”
“Hampir tiga tahun.”
Tanganku langsung dingin.
Bu Nita membuka dokumen lain.
Ada bantuan seragam.
Subsidi makan.
Pengurangan biaya kegiatan sekolah.
Bahkan beberapa kali Alya mendapat paket sembako dari program sosial alumni.
Aku merasa malu melihatnya.
Bukan karena Alya menerima bantuan.
Tapi karena selama ini aku mengirim uang jauh lebih banyak daripada kebutuhannya.
“Bu, laptop yang katanya dibeli Alya?”
Bu Nita mengernyit.
“Laptop?”
“Katanya sekolah meminta laptop baru.”
“Kami tidak pernah meminta.”
Aku langsung membuka percakapan dengan Ibu.
Empat hari lalu.
IBU:
Alya perlu laptop untuk tugas sekolah. Rp13 juta.
Aku:
Kirim spesifikasinya.
IBU:
Tidak usah. Teman Mama punya toko. Mama yang urus.
Transfer Rp13 juta.
Selesai.
Bu Nita kemudian membuka komputer sekolah.
“Sebentar.”
Dia mencari data Alya.
Beberapa detik kemudian dia memutar layar ke arahku.
“Alya menggunakan laptop pinjaman sekolah sejak semester lalu.”
Aku merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada kebohongan soal Rp13 juta.
Aku berdiri di dekat jendela.
Di taman, Alya duduk bersama seorang petugas kebersihan sekolah.
Petugas itu memberikan segelas air hangat.
Alya mengeluarkan roti tadi.
Dia mencelupkan sisanya ke air sebelum memakannya.
Aku langsung memalingkan wajah.
Aku datang ke Surabaya sambil memikirkan hukuman apa yang pantas diberikan kepada anakku.
Sekarang aku bahkan tidak tahu apakah dia makan cukup setiap hari.
Bu Nita menutup map.
“Ada satu hal lagi, Pak.”
Aku menoleh.
“Kami sebenarnya pernah mencoba datang ke rumah Alya. Neneknya menolak kami masuk.”
“Kenapa?”
“Karena Alya beberapa kali datang ke sekolah tanpa uang makan. Dia pernah bilang uang sakunya hanya Rp10.000 untuk satu minggu.”
Aku tidak langsung menjawab.
Setiap bulan aku mengirim minimal Rp12 juta.
Aku juga masih membayar rumah itu.
Listrik.
Air.
Internet.
BPJS.
Dan sebagian besar biaya besar lainnya.
Aku menarik kursi dan duduk lagi.
“Bu, boleh saya bicara dengan Alya sekarang?”
Bu Nita mengangguk.
Beberapa menit kemudian Alya masuk.
Begitu melihatku, wajahnya langsung pucat.
“Ayah?”
Aku berdiri.
Dia mundur satu langkah.
Hal pertama yang dia katakan bukan, “Ayah pulang.”
Bukan juga, “Aku kangen.”
Dia justru bertanya dengan suara pelan,
“Nenek bilang apa tentang aku?”
Aku menatap anakku.
Saat itulah aku sadar.
Dia tidak terkejut karena aku pulang.
Dia takut karena yakin aku datang untuk mempercayai cerita orang lain.
Aku menarik kursi.
“Duduk, Alya.”
Dia duduk perlahan.
Aku bertanya satu hal.
“Uang laptop Rp13 juta itu kamu pakai untuk apa?”
Alya langsung menatapku.
“Uang apa?”
Aku menunjukkan transfer.
Wajahnya semakin bingung.
“Aku tidak pernah minta laptop.”
“Jadi kamu tidak pernah menerima uang ini?”
Alya menggeleng.
Aku membuka beberapa transfer lain.
Rp8 juta untuk bimbingan belajar.
Rp6,5 juta untuk seragam dan buku.
Rp11 juta untuk kegiatan sekolah.
Alya melihat satu per satu.
“Ayah mengirim semua ini?”
“Iya.”
Dia langsung menunduk.
Beberapa detik kemudian bahunya bergerak pelan.
“Aku kira Ayah sudah tidak mau membiayai aku.”
Kalimat itu membuatku tidak bisa langsung menjawab.
“Siapa yang bilang begitu?”
“Nenek.”
Aku menarik napas panjang.
Alya lalu membuka tasnya.
Dia mengeluarkan ponsel lama dengan layar retak.
“Setiap kali aku mau telepon Ayah, Nenek bilang nomor Ayah berubah.”
Aku mengambil ponselnya.
Nomorku diblokir.
Bukan hanya di telepon.
Akun pesanku juga diblokir.
Aku menatap Alya.
“Sejak kapan?”
“Hampir tiga tahun.”
Aku belum sempat bertanya lagi ketika ponselku bergetar.
Notifikasi kartu kredit.
TRANSAKSI BERHASIL.
Rp26.780.000.
Nama merchant: OCEANIC VOYAGES INDONESIA.
Aku membeku.
Kartu tambahan itu selama ini kupegangkan kepada Ibu hanya untuk keadaan darurat.
Aku segera membuka aplikasi.
Ada pembayaran lain dua minggu sebelumnya.
Rp18.400.000.
Lalu pembayaran Rp9.700.000.
Semua berasal dari perusahaan perjalanan yang sama.
Aku menekan detail transaksi.
Di sana tertulis:
PAKET KAPAL PESIAR ASIA – 2 ORANG.
Aku memperlihatkan layar itu kepada Alya.
Dia menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata sangat pelan,
“Nenek bilang bulan depan dia mau liburan ke luar negeri lagi.”
Aku menatap angka di layar.
Kemudian satu pesan baru dari Ibu masuk.
“Dimas, kapan kamu sampai Surabaya? Mama perlu tambahan Rp20 juta. Ada kebutuhan mendesak.”
Aku membaca pesan itu tanpa menjawab.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak merasa sedang pulang untuk mengurus masalah anakku.
Aku sedang pulang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan ibuku terhadap kami.
DAN TERNYATA, ITU BARU PERMULAAN.
BAGIAN 2
Aku tidak langsung membawa Alya pulang.
Aku meminta izin kepada Bu Nita agar Alya tetap berada di sekolah selama satu jam lagi.
Aku ingin melihat semuanya sebelum berhadapan dengan Ibu.
Bu Nita menyarankan agar aku berbicara juga dengan bagian administrasi.
Aku setuju.
Di ruangan kecil sebelah kantor kepala sekolah, seorang staf menunjukkan catatan pembayaran Alya selama tiga tahun terakhir.
Aku mencatat semuanya.
Sebagian besar biaya sekolah memang tetap dibayar.
Namun bukan dari uang yang kukirim.
Beberapa berasal dari potongan bantuan.
Sebagian lagi dibayar terlambat.
Ada dua semester ketika sekolah sampai memberi kelonggaran karena kondisi ekonomi keluarga yang dilaporkan Ibu.
Aku menahan rasa malu.
Aku bertanya,
“Apakah Alya pernah hampir dikeluarkan dari kegiatan sekolah karena belum bayar?”
Staf itu mengangguk.
“Beberapa kali.”
“Kenapa saya tidak pernah dihubungi?”
“Nomor Bapak salah.”
Aku kembali melihat formulir.
Nomor itu bukan kesalahan satu digit.
Tiga angka terakhir diganti dengan sengaja.
Alamat surelku juga berbeda.
Aku meminta fotokopi dokumennya.
Setelah itu aku menemui Alya lagi.
Kami keluar sekolah sekitar pukul dua.
Aku mengajaknya masuk ke sebuah rumah makan kecil.
“Ayah mau makan?”
Dia menggeleng.
“Kenapa?”
“Aku masih ada roti.”
Aku terdiam.
“Alya, pesan apa saja.”
Dia menatap daftar menu cukup lama.
“Nasi ayam boleh?”
“Boleh.”
“Harganya Rp28.000.”
Aku hampir tertawa karena sedih.
“Pesan saja.”
Alya tidak langsung memanggil pelayan.
Dia bertanya lagi,
“Benar boleh?”
Aku mengangguk.
Baru setelah makanannya datang, aku sadar dia makan sangat pelan.
Seperti orang yang terbiasa menghitung berapa banyak yang boleh dihabiskan.
Aku tidak ingin membuatnya tidak nyaman.
Jadi aku makan sambil menunggu.
Setelah beberapa menit, aku bertanya,
“Nenek kasih uang berapa setiap minggu?”
“Kadang Rp20.000.”
“Seminggu?”
“Iya.”
“Transportasi?”
“Aku jalan kaki kalau tidak hujan.”
Jarak rumah ke sekolah hampir empat kilometer.
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu tidak cerita ke guru?”
“Aku malu.”
“Kenapa tidak pinjam telepon teman untuk menghubungi Ayah?”
Alya menatap piring.
“Aku pernah.”
Aku berhenti makan.
“Kapan?”
“Dua tahun lalu.”
“Apa yang terjadi?”
“Ayah tidak jawab.”
Aku membuka ponsel.
Tidak ada catatan.
“Nomor apa yang kamu hubungi?”
Dia menyebutkan nomorku.
Benar.
“Aku telepon tiga kali,” katanya.
Aku langsung ingat.
Dua tahun lalu, aku menerima beberapa panggilan dari nomor Indonesia yang tidak kukenal.
Setelah itu Ibu mengirim pesan.
“Kalau ada nomor aneh telepon, jangan diangkat. Ada orang yang mencoba menipu keluarga.”
Aku menutup mata beberapa detik.
Aku yang memutus hubungan itu sendiri karena mempercayai Ibu.
“Alya.”
Dia menatapku.
“Ayah minta maaf.”
Dia langsung menggeleng.
“Bukan salah Ayah.”
Aku tidak membantah.
Ada bagian yang memang salahku.
Aku terlalu percaya.
Aku menganggap transfer uang sama dengan hadir sebagai orang tua.
Padahal aku bahkan tidak memeriksa apakah uang itu benar-benar sampai kepada anakku.
Aku membuka percakapan dengan Ibu.
Selama lima tahun, pola pesannya selalu sama.
Butuh uang.
Ada pembayaran.
Alya bermasalah.
Alya meminta ini.
Alya merusak itu.
Alya harus ikut kegiatan.
Aku mulai mengurutkan transfer besar.
Rp14 juta untuk “les intensif”.
Rp22 juta untuk “perawatan gigi Alya”.
Rp17,5 juta untuk “study tour Bali”.
Rp9 juta untuk “seragam dan perlengkapan”.
Rp13 juta untuk laptop.
Aku bertanya satu per satu.
“Pernah les intensif?”
“Tidak.”
“Perawatan gigi?”
“Pernah tambal satu gigi pakai BPJS.”
“Study tour Bali?”
“Aku tidak ikut karena Nenek bilang tidak ada uang.”
Aku berhenti.
“Biayanya berapa?”
“Sekitar Rp2 juta.”
Aku tidak melanjutkan.
Kami pulang sekitar pukul empat.
Rumah yang kutinggalkan lima tahun lalu masih terlihat sama dari luar.
Namun di carport ada sebuah mobil baru.
SUV putih.
Aku menatap Alya.
“Itu mobil siapa?”
“Nenek.”
“Kapan beli?”
“Tahun lalu.”
Ibu tidak pernah bercerita soal mobil.
Aku membuka pintu.
Ibu sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton video perjalanan dari televisi besar.
Begitu melihatku, dia tersenyum lebar.
“Dimas!”
Dia berdiri hendak mendekat.
Lalu melihat Alya di belakangku.
Senyumnya langsung berubah.
“Kamu jemput dia dari sekolah?”
“Iya.”
Ibu menatap Alya tajam.
“Kamu cerita apa ke ayahmu?”
Aku langsung menjawab,
“Bukan Alya yang mulai cerita.”
Ibu diam.
Aku duduk.
“Kita bicara.”
“Aduh, baru sampai kok wajahmu seperti itu? Mandi dulu. Mama pesan makanan.”
“Tidak perlu.”
Aku meletakkan ponsel di meja.
Kuberikan layar transaksi kapal pesiar.
“Ini apa?”
Ibu melihatnya sekilas.
“Oh, itu.”
“Oh, itu?”
Ibu duduk.
“Mama memang mau liburan sebentar.”
“Dua orang?”
“Dengan Tante Mira.”
“Kartu itu untuk keadaan darurat.”
Ibu mulai terlihat tidak nyaman.
“Mama juga manusia, Dimas. Lima tahun menjaga anakmu. Masa Mama tidak boleh menikmati hidup?”
Aku menatapnya.
“Alya menyimpan setengah roti untuk makan malam.”
Ruangan langsung sunyi.
Ibu melirik Alya.
“Itu karena dia susah diatur.”
“Apa hubungannya dengan makan?”
“Dia sering buang-buang uang.”
Alya hendak bicara.
Aku mengangkat tangan sedikit.
“Biar Ayah yang bicara.”
Aku mengeluarkan fotokopi surat sekolah.
“Ini tanda tangan Mama?”
Ibu mengambilnya.
Wajahnya berubah.
“Sekolah kasih ini ke kamu?”
“Jawab.”
“Iya.”
“Kenapa Mama menulis saya tidak memberi nafkah?”
“Supaya dapat keringanan.”
“Saya kirim minimal Rp12 juta setiap bulan.”
“Itu bukan semuanya untuk Alya. Ada kebutuhan rumah.”
Aku menunjuk sekeliling.
“Rumah ini tidak ada cicilan. Saya bayar listrik. Saya bayar internet. Saya juga kirim uang untuk kebutuhan Mama.”
Ibu mulai meninggikan suara.
“Kamu pikir merawat anak remaja murah?”
Aku tetap duduk.
“Tidak. Makanya saya mau lihat catatannya.”
“Catatan apa?”
“Uang saya.”
Ibu tertawa pendek.
“Kamu sekarang mau hitung-hitungan sama ibu sendiri?”
“Aku cuma mau tahu.”
“Tidak ada catatan.”
“Kalau begitu rekening koran.”
Ibu berdiri.
“Dimas, jangan kurang ajar.”
Aku ikut berdiri.
“Aku datang ke sini awalnya untuk menghukum Alya karena percaya cerita Mama.”
Ibu diam.
“Aku bahkan tidak tanya langsung ke anakku.”
Aku menunjuk sepatu Alya.
“Sekarang aku lihat dia jalan sekolah hampir empat kilometer dan makan satu roti seharian.”
Ibu menatap Alya lagi.
“Kamu sengaja menunjukkan diri seperti orang susah supaya ayahmu kasihan?”
Alya langsung menunduk.
Aku berdiri di depannya.
“Jangan bicara begitu ke Alya.”
Ibu menatapku tidak percaya.
“Kamu membelanya?”
“Aku sedang mencari fakta.”
Aku kemudian meminta kartu tambahan milikku.
“Berikan kartunya.”
Ibu tidak bergerak.
“Mama tidak bawa.”
Aku membuka aplikasi bank dan memblokir kartu itu langsung dari ponsel.
Ibu langsung panik.
“Kenapa diblokir?”
“Karena bukan untuk liburan.”
“Dimas, paket itu tidak bisa dibatalkan!”
“Berapa yang sudah Mama bayar?”
Ibu diam.
Aku menunggu.
Akhirnya dia berkata,
“Sekitar Rp55 juta.”
Aku sudah melihat hampir Rp55 juta dalam transaksi.
Namun belum termasuk pengeluaran lain.
“Dari mana Mama bayar uang muka sebelumnya?”
Ibu tidak menjawab.
Aku berkata,
“Besok aku ke bank.”
Wajah Ibu langsung berubah.
Itu perubahan kecil, tapi aku melihatnya.
Sejak saat itu aku tahu rekening bank akan memberiku jawaban.
Malam itu Alya tidur di kamar lamanya.
Aku duduk bersama dia.
Kamarnya jauh berbeda dari yang kubayangkan.
Kasurnya masih kasur lama.
Lemari kecil.
Meja belajar sederhana.
Tidak ada pakaian mahal.
Tidak ada barang elektronik baru.
Aku membuka lemari.
Hanya beberapa seragam dan pakaian biasa.
Aku bertanya,
“Baju mahal yang katanya kamu beli?”
Alya tertawa kecil, tapi wajahnya tidak senang.
“Nenek bilang aku beli baju mahal?”
“Iya.”
“Aku beli baju sendiri dari uang hadiah ulang tahun dua tahun lalu. Harganya Rp175.000.”
Aku mengangguk.
“Geng motor?”
Dia menatapku bingung.
“Aku bahkan tidak bisa naik motor.”
Untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar bodoh.
Alya lalu membuka laci meja.
Dia mengeluarkan sebuah amplop kecil.
“Aku sebenarnya punya ini.”
Di dalamnya ada beberapa struk minimarket, catatan pengeluaran, dan kertas kecil.
“Apa ini?”
“Aku mulai simpan setelah aku merasa ada yang aneh.”
Aku membaca catatannya.
Tanggal.
Jumlah uang yang diberikan Nenek.
Biaya fotokopi.
Ongkos angkot jika hujan.
Makan.
Semua ditulis rapi.
Di salah satu halaman tertulis:
Uang dari Nenek bulan April: Rp80.000.
Aku melihatnya.
“Sebulan?”
“Iya.”
“Kenapa kamu catat?”
“Karena Nenek sering bilang Ayah marah karena aku boros.”
Alya menatapku.
“Aku pikir mungkin memang aku boros. Jadi aku mulai menulis semuanya.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Anakku menghitung Rp5.000 karena takut dianggap boros.
Sementara aku mengirim belasan juta setiap bulan.
Pagi berikutnya aku pergi ke bank.
Rekening penerima transfer memang atas nama Ibu.
Aku tidak memiliki hak untuk melihat seluruh mutasinya tanpa izin.
Tapi ada hal lain yang bisa kuperiksa.
Rekening bersama lama.
Lima tahun lalu aku membuat satu rekening khusus untuk kebutuhan rumah. Rekening itu menggunakan namaku dan Ibu sebagai pemegang akses.
Aku hampir lupa karena beberapa tahun terakhir aku lebih sering transfer langsung.
Petugas bank mencetak mutasi yang bisa kuakses.
Begitu melihatnya, aku langsung duduk lebih tegak.
Selama tiga tahun terakhir, ada beberapa transfer besar masuk dari rekening Ibu ke rekening bersama.
Lalu uang itu berpindah lagi ke agen perjalanan.
Hotel.
Toko barang bermerek.
Salon.
Restoran.
Aku menghitung cepat.
Hampir Rp280 juta.
Tapi satu transaksi membuatku berhenti.
Rp46 juta ke sebuah perusahaan bernama Nusantara Leisure Club.
Aku mencari namanya.
Perusahaan itu menjual keanggotaan perjalanan dan paket kapal pesiar.
Ada transaksi rutin hampir setiap enam bulan.
Aku pulang dengan printout.
Ibu sedang tidak ada.
Alya bilang Nenek pergi bertemu Tante Mira.
Aku tidak menunggu.
Aku mulai memeriksa berkas rumah.
Di lemari dokumen, ada map pajak, sertifikat dan tagihan lama.
Aku mencari bukti pembelian mobil.
Aku menemukannya.
Uang muka Rp110 juta.
Nama pembeli: Ratih Prameswari.
Sumber transfer: rekening yang sama tempat aku mengirim uang.
Aku memotret dokumen itu.
Saat hendak menutup lemari, sebuah map tipis jatuh.
Di dalamnya ada brosur kapal pesiar.
Foto Ibu bersama beberapa teman.
Tiket.
Tagihan hotel.
Dan sebuah tabel cetak.
Aku membacanya.
Ada daftar perjalanan:
Singapura.
Penang.
Phuket.
Bali.
Bangkok.
Kuala Lumpur.
Kapal pesiar tiga malam.
Kapal pesiar lima malam.
Di sampingnya ada jumlah pembayaran.
Aku menghitung kasar.
Lebih dari Rp400 juta.
Aku belum selesai ketika Alya memanggil dari belakang.
“Ayah.”
Aku menoleh.
Dia menunjuk salah satu foto.
“Itu Tante Rosi.”
“Siapa?”
“Orang yang sering datang ke rumah.”
Aku melihat fotonya.
“Temannya Nenek?”
Alya menggeleng.
“Katanya orang travel.”
Aku langsung merasa ada sesuatu yang belum kuketahui.
Sore itu Ibu pulang.
Aku meletakkan semua dokumen di meja.
Dia berhenti begitu melihatnya.
“Kamu bongkar barang Mama?”
“Ini disimpan bersama dokumen rumah.”
“Tidak sopan.”
Aku menunjuk tabel.
“Berapa total uang yang Mama pakai?”
“Dimas—”
“Berapa?”
Ibu meletakkan tas.
“Aku tidak mencuri.”
Aku diam.
Dia melanjutkan,
“Kamu sendiri yang kirim.”
“Untuk Alya.”
“Untuk keluarga.”
“Kalau keluarga, kenapa Alya sampai mendapat bantuan makan di sekolah?”
Ibu tidak menjawab.
Aku menekan lagi.
“Kenapa nomor saya di sekolah diganti?”
Ibu menatapku.
“Itu supaya kamu tidak terus diganggu masalah kecil.”
“Siapa yang memblokir nomor saya di ponsel Alya?”
Ibu kembali diam.
Alya berdiri di tangga.
Aku bisa melihat dia mendengarkan.
Ibu akhirnya berkata,
“Mama cuma tidak mau hubungan kalian mengganggu cara Mama mendidik dia.”
Aku mengangguk perlahan.
“Jadi benar Mama yang blokir.”
“Dimas, kamu kerja jauh. Kamu tidak tahu anak remaja seperti apa.”
“Aku tahu satu hal.”
Aku menunjuk printout bank.
“Dalam tiga tahun, ada ratusan juta untuk perjalanan.”
Ibu duduk.
“Mama merasa berhak.”
Aku menatapnya.
Akhirnya kalimat itu keluar.
Bukan alasan.
Bukan penjelasan.
Dia merasa berhak.
“Kenapa?”
“Karena Mama mengorbankan waktu lima tahun.”
“Aku bayar kebutuhan Mama.”
“Tidak sama.”
“Lalu Alya harus hidup seperti itu supaya Mama bisa liburan?”
Ibu menghela napas.
“Alya masih muda. Dia tidak perlu banyak uang.”
Aku hampir tidak percaya.
“Tapi Mama perlu kapal pesiar?”
Ibu menatapku tajam.
“Jangan bicara seolah-olah Mama orang asing.”
“Aku tidak bicara begitu.”
Aku menahan suaraku.
“Aku cuma sedang memastikan mulai hari ini uangku tidak lagi lewat Mama.”
Ibu langsung berdiri.
“Kamu mau ambil Alya?”
“Iya.”
“Terus Mama?”
“Rumah ini tetap bisa Mama tempati untuk sementara. Biaya pokok akan kubayar langsung. Tapi tidak ada lagi uang tunai rutin.”
Wajahnya berubah.
“Kamu menghukum Mama?”
“Tidak.”
Aku mengambil kartu tambahan yang akhirnya dia keluarkan dari tas.
“Aku menghentikan akses.”
Hari berikutnya aku memindahkan Alya ke apartemen sewa dekat sekolah.
Aku belum bisa langsung menetap di Indonesia karena masih harus menyelesaikan kontrak kerjaku di Malaysia.
Tapi aku mengatur semuanya.
Uang sekolah dibayar langsung.
Alya memiliki rekening sendiri.
Aku memberinya uang bulanan yang masuk langsung.
Aku juga memasang nomor teleponku sebagai kontak utama sekolah.
Untuk pertama kalinya, aku dan Alya melakukan panggilan video malam itu tanpa Ibu duduk di sampingnya.
Dia menunjukkan makanan yang dibelinya.
“Ayah, ini Rp25.000.”
Aku tersenyum.
“Kamu tidak harus lapor harga setiap makanan.”
“Aku masih terbiasa.”
Kalimat itu membuatku diam.
Aku berkata,
“Pelan-pelan saja.”
Aku mengira masalah sudah hampir selesai.
Ternyata belum.
Tiga hari kemudian, Tante Mira menghubungiku.
Dia adalah teman Ibu yang rencananya ikut kapal pesiar.
“Dimas, saya rasa kamu harus tahu sesuatu.”
“Apa?”
“Ratih bilang perjalanan itu dibayar dari keuntungan investasi.”
“Investasi apa?”
Tante Mira terdiam.
“Kamu tidak tahu?”
Aku langsung duduk.
“Tahu apa?”
“Ratih menjalankan kelompok tabungan perjalanan.”
Aku meminta dia menjelaskan.
Menurut Tante Mira, selama hampir dua tahun Ibu mengajak beberapa teman memasukkan uang ke “paket investasi liburan”.
Katanya ada kerja sama dengan agen wisata.
Setor sekarang.
Enam bulan kemudian bisa berangkat dengan diskon besar atau mengambil kembali uang plus bonus.
Aku langsung bertanya,
“Uangnya masuk ke rekening siapa?”
“Kadang rekening Ratih.”
Aku merasakan masalah baru.
“Berapa orang?”
“Saya tidak tahu pasti. Mungkin delapan atau sembilan.”
Aku bertanya lagi,
“Kenapa Ibu saya perlu uang saya kalau ada investasi?”
Tante Mira terdiam.
Kemudian menjawab,
“Karena sepertinya uang orang yang baru masuk dipakai untuk membayar perjalanan orang sebelumnya.”
Aku menutup mata.
Itulah twist yang sama sekali tidak kuduga.
Ini bukan cuma soal Ibu memakai uangku untuk berlibur.
Dia telah menggunakan uangku sebagai penutup kekurangan sebuah skema tabungan perjalanan yang dia jalankan sendiri.
Aku langsung meminta Tante Mira mengirimkan bukti percakapan.
Malam itu aku menerima puluhan tangkapan layar.
Nama Ibu.
Nomor rekening.
Janji bonus.
Tanggal keberangkatan.
Ada satu pesan yang paling membuatku terpaku.
Dikirim Ibu dua bulan sebelumnya kepada salah satu peserta.
“Tenang saja, bulan depan anak saya kirim dana lagi dari Malaysia. Jadi pencairan Ibu aman.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Sekarang semuanya jelas.
Aku bukan hanya sumber uang rumah.
Aku dipakai sebagai cadangan untuk menutup transaksi Ibu.
Besok paginya aku kembali ke rumah.
Ibu sedang sarapan.
Aku menunjukkan percakapan itu.
Wajahnya langsung kaku.
“Dari mana kamu dapat?”
“Tidak penting.”
“Dimas, Mama bisa jelaskan.”
“Silakan.”
Ibu menatapku lama.
Kemudian untuk pertama kalinya dia bicara tanpa menyalahkan Alya.
Awalnya dia hanya mengajak teman-temannya membeli paket perjalanan bersama.
Karena jumlah orang banyak, harga memang lebih murah.
Lalu ada teman yang membatalkan.
Uangnya sudah terpakai untuk uang muka.
Ibu menutup kekurangan dengan uang pribadi.
Setelah itu dia menerima anggota baru untuk mengganti uang lama.
Lama-lama jumlahnya membesar.
Setiap kali ada kekurangan, dia menggunakan uang yang kukirim.
“Berapa total kewajiban Mama sekarang?”
Ibu diam.
“Berapa?”
“Sekitar Rp170 juta.”
Aku menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Ibu menunduk.
“Rp238 juta.”
Aku menatapnya.
“Dan kapal pesiar bulan depan?”
“Sudah dijanjikan ke beberapa orang.”
“Jadi dua orang di tiket bukan Mama dan Tante Mira?”
Ibu terdiam.
Aku mengambil dokumen pemesanan.
Nama penumpangnya belum final.
Paket dua orang itu sebenarnya bagian dari janji Ibu kepada peserta tabungan.
Artinya, transaksi terakhir yang kulihat bukan sekadar liburan pribadi.
Ibu sedang mencoba mempertahankan skema itu dengan kartu kreditku.
Aku langsung berkata,
“Semua berhenti hari ini.”
“Kalau berhenti sekarang, orang-orang akan marah.”
“Kalau diteruskan, jumlahnya akan semakin besar.”
“Mama bisa bereskan.”
“Dengan uang siapa?”
Dia tidak menjawab.
Itu jawaban yang cukup.
Aku tidak mau membuat keributan keluarga.
Aku juga tidak ingin Alya terus berada di tengah masalah.
Jadi aku membuat keputusan sederhana.
Semua peserta harus diberi tahu.
Semua catatan harus dibuka.
Semua perjalanan yang masih bisa dibatalkan dibatalkan.
Aset yang dibeli dari uangku untuk kepentingan pribadi harus dipakai untuk menutup kewajiban.
Ibu menolak.
Terutama soal mobil.
“Itu mobil Mama.”
“Uang mukanya dari dana yang seharusnya untuk rumah dan Alya.”
“Namanya atas nama Mama.”
“Benar. Jadi Mama yang jual.”
Dia menatapku tajam.
“Kamu tega?”
Aku menjawab pendek.
“Yang lebih penting sekarang uang orang dikembalikan.”
Dalam dua minggu berikutnya, semuanya dibongkar.
Tidak sekaligus.
Tidak mudah.
Ada yang kecewa.
Ada yang marah.
Ada yang merasa dibohongi.
Aku tidak membela Ibu.
Aku hanya membantu menyusun daftar transaksi agar semuanya jelas.
Mobil dijual.
Beberapa paket perjalanan dibatalkan dan sebagian dana kembali.
Ibu juga menjual beberapa barang mahal yang dibelinya selama beberapa tahun terakhir.
Aku tidak membayar seluruh kewajibannya.
Itu keputusan penting bagiku.
Kalau aku menutup semuanya dengan uangku, pola yang sama bisa terjadi lagi.
Aku hanya memastikan uang yang memang berasal dariku dikembalikan ke kebutuhan Alya dan sebagian aset yang dibeli dari dana itu digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Sekitar tiga bulan kemudian, skema perjalanan itu benar-benar berhenti.
Ibu tidak lagi memegang kartu tambahanku.
Tidak punya akses ke rekening khusus rumah.
Dan tidak lagi menjadi wali utama Alya.
Aku menyelesaikan kontrakku di Malaysia lebih cepat dari rencana.
Penghasilanku turun ketika kembali ke Indonesia.
Tapi aku tidak menyesal.
Aku mendapat pekerjaan baru di perusahaan perkebunan di Kalimantan dengan sistem dua minggu kerja dan dua minggu pulang.
Setidaknya aku bisa lebih sering bersama Alya.
Enam bulan setelah kepulanganku pertama kali, aku duduk di meja makan apartemen bersama Alya.
Dia sedang membuka laptop.
Bukan laptop Rp13 juta.
Kami membeli laptop yang sesuai kebutuhannya seharga sekitar Rp7 juta.
Aku bertanya,
“Bagaimana tugas sekolah?”
“Sudah selesai.”
Dia lalu mendorong sebuah buku kecil ke arahku.
Aku mengenal buku itu.
Buku catatan pengeluarannya.
Aku membukanya.
Sekarang isinya berbeda.
Makan.
Transportasi.
Buku.
Tabungan.
Ada satu baris yang membuatku tersenyum.
“Es kopi — Rp18.000 — tidak penting tapi enak.”
Aku tertawa.
Alya ikut tertawa.
“Aku boleh boros sedikit, kan?”
“Boleh.”
“Tapi aku tetap catat.”
“Bagus.”
Dia lalu menatapku.
“Ayah masih marah sama Nenek?”
Aku tidak langsung menjawab.
“Ayah kecewa.”
“Nenek pernah telepon aku.”
“Kamu jawab?”
“Iya.”
“Apa katanya?”
“Minta maaf.”
Aku mengangguk.
Hubunganku dengan Ibu belum kembali seperti dulu.
Aku tetap mengirim uang untuk kebutuhan dasarnya.
Tapi sekarang semuanya dibayar langsung.
Listrik.
BPJS.
Belanja bulanan dalam jumlah wajar.
Tidak ada lagi transfer bebas.
Ibu juga mulai bekerja membantu administrasi di toko milik salah satu sepupuku.
Tidak besar.
Tapi setidaknya dia punya penghasilan sendiri.
Aku tidak memaksa Alya memaafkan siapa pun.
Aku juga tidak menyuruhnya memutus hubungan.
Aku bilang keputusan itu miliknya.
Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan pertemuan orang tua.
Aku datang.
Bu Nita melihatku dan tersenyum.
“Akhirnya nomor Bapak benar di data kami.”
Aku tertawa kecil.
“Sekarang kalau saya tidak angkat, telepon lagi.”
Bu Nita kemudian memberiku sebuah amplop.
“Alya terpilih menerima penghargaan siswa dengan perkembangan akademik terbaik.”
Aku terdiam.
“Dia tidak bilang.”
“Katanya mau memberi kejutan.”
Saat acara dimulai, aku duduk di baris ketiga.
Alya naik ke depan.
Dia masih memakai sepatu sederhana.
Tapi sepatu itu baru.
Seragamnya pas.
Dia terlihat lebih sehat.
Bukan karena barang-barangnya lebih mahal.
Karena sekarang dia tidak lagi harus menyimpan setengah roti untuk malam.
Setelah acara selesai, kami keluar sekolah.
Di depan gerbang ada penjual roti.
Alya membeli dua bungkus.
Dia memberikan satu kepadaku.
“Ayah ingat hari pertama pulang?”
Aku mengangguk.
“Ingat.”
“Aku waktu itu benar-benar takut Ayah datang untuk marah.”
Aku membuka bungkus roti.
“Ayah juga ingat.”
“Kalau waktu itu Ayah langsung pulang ke rumah dan percaya Nenek, bagaimana?”
Aku diam beberapa saat.
“Mungkin Ayah akan melakukan kesalahan yang lebih besar.”
Dia mengangguk.
Kami berjalan menuju mobil.
Sebelum masuk, Alya berkata,
“Ayah.”
“Ya?”
“Terima kasih sudah bertanya dulu sebelum menghukum aku.”
Aku menatapnya.
Justru bagian itu yang masih paling berat untukku.
Karena sebenarnya aku hampir tidak bertanya.
Aku hampir datang dengan keputusan yang sudah dibuat.
Aku hampir mempercayai semua cerita hanya karena datang dari orang yang paling kupercaya.
Aku menjawab,
“Ayah seharusnya bertanya sejak dulu.”
Alya tersenyum kecil.
Kami masuk mobil.
Masalah kami tidak selesai dalam sehari.
Hubungan keluarga juga tidak kembali normal begitu saja.
Tapi setidaknya sekarang uang untuk anakku benar-benar sampai kepadanya.
Dan yang lebih penting, aku tidak lagi mengukur peranku sebagai ayah dari jumlah transfer yang kukirim setiap bulan.
Aku mulai melihat sendiri.
Mendengar sendiri.
Dan bertanya langsung kepada anakku sendiri.
Itu perubahan yang seharusnya kulakukan sejak lama.
