SAYA JATUH SAAT HAMIL DELAPAN BULAN KARENA SELIMUT RP150.000, TAPI SURAT ATAS NAMA SAYA MEMBUKA TRANSAKSI MILIARAN YANG DISEMBUNYIKAN SUAMI

 

 

BAGIAN 1

Pinggangku mengenai sisi meja kasir sebelum aku sempat menjaga keseimbangan.

Aku langsung memegang perut.

Selimut bayi biru yang baru saja kuambil jatuh di dekat mesin pemindai.

Harganya Rp150.000.

Hanya itu.

Tapi Arga menatapku seolah aku baru menghabiskan seluruh tabungan kami.

“Sudah kubilang, bulan ini jangan beli barang yang tidak perlu.”

Aku mencoba berdiri.

“Ini selimut bayi.”

“Kita sudah punya.”

“Yang di rumah bekas dari sepupumu. Sudah tipis.”

Arga mendekat.

“Rani, jangan bikin aku malu.”

Aku ingin menjawab, tetapi tiba-tiba aku tidak merasakan gerakan apa pun dari dalam perutku.

Dadaku langsung sesak.

Biasanya kalau aku berdiri terlalu lama, anakku akan bergerak.

Sekarang tidak.

“Mas…”

Aku menatap Arga.

“Bayinya diam.”

Ekspresinya tidak berubah.

“Jangan mulai.”

Aku perlahan duduk di lantai.

Kasir perempuan di depan kami langsung keluar dari balik meja.

“Ibu, bisa dengar saya?”

Aku mengangguk.

Seorang perempuan sekitar lima puluhan ikut mendekat dan meletakkan tas kainnya di bawah kepalaku.

Arga justru merapikan lengan kemejanya.

“Berdiri, Ran. Orang-orang lihat.”

Aku menatapnya tanpa percaya.

Empat tahun aku menikah dengannya.

Empat tahun juga aku selalu mencari alasan untuk membenarkan sikapnya.

Dia cuma lelah.

Dia sedang banyak tekanan.

Dia memang teliti soal uang.

Dia ingin rumah tangga kami aman.

Aku terus mengatakan itu pada diriku sendiri sampai akhirnya aku berhenti bekerja enam bulan lalu karena dokter meminta aku lebih banyak istirahat.

Sejak saat itu semua uang harus lewat Arga.

Uang belanja mingguan Rp900.000.

Struk harus difoto.

Pembelian di atas Rp100.000 harus bertanya dulu.

Bahkan ketika aku membeli vitamin tambahan, dia pernah memintaku mengembalikannya karena menurutnya dokter tidak menulis merek itu.

Seorang pria berseragam supervisor berdiri di depan Arga.

Papan namanya bertuliskan BAGAS.

“Pak, jangan dekati ibu ini dulu.”

Arga mengangkat dagu.

“Ini istri saya.”

“Saya tahu.”

“Berarti jangan ikut campur.”

Bagas tetap berdiri.

“Saya melihat apa yang terjadi.”

Arga melirik kamera di atas kasir.

Untuk pertama kalinya wajahnya berubah.

“Yang terjadi apa?”

Bagas tidak menjawab pertanyaan itu.

Dia menoleh ke staf.

“Panggil ambulans. Simpan rekaman kasir empat. Jangan ada yang menghapus.”

Aku melihat rahang Arga mengeras.

Perempuan yang tadi menolongku tiba-tiba menatap Arga lama.

Lalu dia berkata pelan.

“Saya pernah lihat Bapak.”

Arga langsung menoleh.

Perempuan itu menyipitkan mata.

“Tiga bulan lalu.”

Aku memandang mereka bergantian.

Arga tertawa pendek.

“Mungkin salah orang.”

“Tidak.”

Perempuan itu mengeluarkan ponselnya.

“Bapak datang ke kantor anak saya.”

Wajah Arga benar-benar berubah sekarang.

“Apa maksud Ibu?”

“Nama anak saya Fikri.”

Arga diam.

Perempuan itu mengangguk kecil.

“Jadi benar Bapak ingat.”

Aku tidak tahu siapa Fikri.

Tapi aku tahu cara Arga bereaksi ketika ada sesuatu yang tidak ingin kuketahui.

Dia menjadi terlalu tenang.

“Ada kesalahpahaman di kantor.”

Perempuan itu berdiri.

“Besok setelah Bapak datang, anak saya dituduh mengubah data pembayaran proyek.”

Arga menatapku sebentar.

Tatapan itu membuatku lebih takut daripada sebelumnya.

Bukan karena marah.

Karena dia sedang menghitung seberapa banyak yang sudah kudengar.

Suara sirene terdengar dari luar.

Aku akhirnya merasakan gerakan kecil dari dalam perutku.

Aku hampir menangis karena lega.

Petugas medis masuk.

Mereka memeriksa kondisiku lalu membawaku keluar menggunakan kursi dorong.

Bagas menyerahkan tas tanganku kepada petugas.

“Ini barang Ibu.”

Seorang staf lain membawa map hitam.

“Ini juga jatuh di dekat Ibu tadi.”

Aku mengenal map itu.

Milik Arga.

Sebelum masuk supermarket dia menyuruhku membawanya karena tangannya sedang memegang ponsel dan kunci mobil.

Arga cepat-cepat maju.

“Itu punya saya.”

Tapi petugas sudah meletakkannya bersama tas di pangkuanku.

“Nanti bisa diambil di rumah sakit, Pak.”

Pintu ambulans ditutup.

Arga tidak ikut.

Dia berdiri di luar sambil menelepon seseorang.

Sepanjang perjalanan aku terus memegang perut.

Petugas perempuan di sampingku bertanya beberapa kali apakah aku merasa pusing atau mual.

Aku menjawab seperlunya.

Pikiranku terus kembali pada satu hal.

Fikri.

Mengapa Arga mengenalnya?

Mengapa ekspresi Arga seperti itu?

Ambulans melewati jalan yang tidak rata.

Map hitam di sampingku jatuh.

Beberapa dokumen keluar.

Aku membungkuk pelan untuk merapikannya.

Ada laporan proyek.

Salinan rekening.

Dokumen perusahaan.

Lalu sebuah amplop putih.

Aku berhenti.

Di bagian depan tertulis:

KEPADA: IBU RANI PRAMESTI

Alamatnya adalah rumah kami.

Di bawahnya ada stempel sebuah kantor notaris di Jakarta Selatan.

Amplop itu sudah terbuka.

Artinya seseorang sudah membacanya.

Tapi aku tidak pernah melihat surat ini.

Tanganku mulai dingin.

Aku menarik kertas di dalamnya.

Baris pertama langsung membuatku tidak bisa berpikir.

Pemberitahuan verifikasi atas pengajuan surat kuasa penggunaan aset dan fasilitas pembiayaan atas nama Rani Pramesti.

Aku membacanya sekali lagi.

Lalu mataku turun ke nominal di halaman kedua.

Rp4.750.000.000.

Aku menatap nama lengkapku.

Nomor identitasku.

Alamatku.

Semua benar.

Di bagian bawah ada salinan tanda tangan.

Atas namaku.

Tapi aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.

Ponselku bergetar.

Arga menelepon.

Aku tidak mengangkat.

Dia menelepon lagi.

Lalu pesan masuk.

Jangan buka map hitam. Itu dokumen kantor.

Aku menatap surat di tanganku.

Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.

Rani, jawab telepon sekarang.

Aku menekan layar ponsel hingga gelap.

Kemudian aku melihat halaman terakhir.

Ada satu kalimat yang membuatku lupa rasa sakit di pinggang.

Kami menunda proses karena terdapat ketidaksesuaian tanda tangan dan membutuhkan kehadiran langsung Ibu Rani Pramesti untuk verifikasi.

Di bawahnya tertulis nama notaris.

NADIA PUSPITASARI.

Dan nomor telepon kantor.

Aku menekan tombol panggil.

Seorang perempuan menjawab.

“Kantor Notaris Nadia Puspitasari.”

Aku menelan ludah.

“Saya Rani Pramesti.”

Di ujung sana mendadak sunyi.

Lalu suara perempuan itu berubah serius.

“Ibu Rani?”

“Iya.”

“Ibu sekarang sedang bersama Pak Arga?”

Aku melihat pintu ambulans yang tertutup.

“Tidak.”

Perempuan itu menarik napas.

“Kalau begitu jangan tanda tangani dokumen apa pun yang dibawa suami Ibu.”

Aku menggenggam surat itu lebih erat.

“Kenapa?”

Dia hanya menjawab satu kalimat.

“Karena selama hampir satu tahun, seseorang sudah melakukan transaksi menggunakan nama Ibu.”

BERSAMBUNG KE BAGIAN 2…

BAGIAN 2

Aku langsung meminta nomor notaris itu disimpan.

“Saya sedang menuju rumah sakit,” kataku. “Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”

Perempuan di telepon memperkenalkan diri sebagai Sinta, staf kantor notaris.

“Ibu Nadia sedang rapat. Saya akan minta beliau menelepon Ibu.”

“Transaksi apa yang memakai nama saya?”

Sinta diam sebentar.

“Saya tidak punya wewenang menjelaskan semua lewat telepon.”

“Minimal beri tahu saya satu hal.”

Aku menatap angka Rp4,75 miliar di surat.

“Apakah saya punya utang sebesar ini?”

“Dokumen yang kami terima adalah permohonan fasilitas pembiayaan perusahaan dengan jaminan aset yang tercatat atas nama Ibu.”

Aku hampir tidak memahami kalimatnya.

“Aset apa?”

“Ruko di Depok.”

Aku menutup mata.

Ruko itu milik ayahku.

Sebelum meninggal tiga tahun lalu, Ayah memang sudah mengurus agar bangunan itu nanti menjadi milikku.

Namun Arga selalu mengatakan proses balik nama belum selesai karena ada masalah dokumen.

Selama ini uang sewanya juga masuk melalui Arga karena katanya dia yang mengurus administrasi.

“Bukankah sertifikatnya masih atas nama ayah saya?”

“Tidak, Bu.”

Aku membuka mata.

“Sertifikat sudah atas nama Ibu sejak hampir dua tahun lalu.”

Aku tidak menjawab.

Dua tahun.

Arga menyembunyikannya selama dua tahun.

Setelah pemeriksaan awal di rumah sakit, dokter memastikan kondisi bayi harus dipantau beberapa jam.

Aku diminta berbaring dan tidak banyak bergerak.

Arga datang empat puluh menit kemudian.

Dia masuk membawa wajah yang berbeda.

Tenang.

Peduli.

Seolah kejadian di supermarket tidak pernah terjadi.

Dia meletakkan buah di meja.

“Kamu gimana?”

Aku memandangnya.

“Baik.”

“Bayi?”

“Dokter sedang pantau.”

Arga duduk.

“Aku tadi panik.”

Aku hampir tertawa.

Tapi aku menahannya.

“Map hitam ada di mana?”

Akhirnya keluar juga.

Bukan bayiku.

Bukan kondisiku.

Map hitam.

“Kenapa?”

“Itu dokumen kantor.”

Aku menunjuk kursi di pojok.

“Di sana.”

Dia langsung berdiri.

Aku memperhatikan tangannya membuka map dengan cepat.

Satu.

Dua.

Tiga halaman.

Lalu berhenti.

Surat notaris tidak ada.

Aku sudah menyimpannya di dalam tas kecil rumah sakit.

Arga menoleh.

“Ada surat putih di sini?”

“Aku tidak tahu.”

“Rani.”

Nada suaranya berubah.

“Ada atau tidak?”

Aku menatapnya.

“Ada apa di surat itu?”

Dia berhenti.

Hanya satu detik.

Tapi aku melihatnya.

“Tidak ada.”

“Kalau tidak ada, kenapa dicari?”

“Dokumen perusahaan.”

“Namaku tercetak besar di amplop.”

Arga tidak bergerak.

Aku mengeluarkan surat itu.

Wajahnya langsung kehilangan ketenangan.

“Jadi ini yang kamu sembunyikan?”

Dia mendekat.

“Dengarkan dulu.”

“Rp4,75 miliar itu apa?”

“Bukan utang kamu.”

“Lalu?”

“Itu urusan proyek.”

“Kenapa pakai namaku?”

Arga menurunkan suara.

“Karena secara administratif ruko Depok lebih mudah dipakai sebagai jaminan sementara.”

Aku menatapnya lama.

“Jaminan sementara?”

“Nanti dilepas lagi.”

“Kamu bilang sertifikat ruko belum atas namaku.”

Arga tidak menjawab.

Aku merasa sesuatu dalam diriku berubah saat itu.

Selama ini setiap kali dia mengatur uangku, aku merasa mungkin aku memang tidak pandai mengelola uang.

Saat dia mengambil kartu ATM-ku, aku berpikir mungkin dia lebih teratur.

Saat dia membuka semua pesan bank di ponselku, aku membiarkannya.

Saat dia meminta aku berhenti bekerja, dia bilang itu demi kandunganku.

Sekarang semuanya terlihat berbeda.

“Kamu bohong dua tahun soal sertifikat?”

“Aku mau jelaskan di rumah.”

“Tidak.”

“Rani.”

“Aku mau jelaskan sekarang.”

Arga melirik pintu.

“Ada orang lain.”

“Bagus.”

“Jangan keras kepala.”

Aku langsung menekan tombol panggil perawat.

Arga melihat tanganku.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Aku mau kamu keluar.”

Dia tertawa kecil karena tidak percaya.

“Ini serius?”

Perawat datang.

Aku mengatakan aku ingin beristirahat sendiri.

Arga tidak bisa melakukan apa-apa selain mengambil mapnya.

Sebelum pergi dia membungkuk sedikit.

“Jangan hubungi siapa pun dulu. Kamu sedang hamil. Jangan bikin masalah jadi besar.”

Aku menatapnya.

“Yang bikin besar bukan aku.”

Pintu tertutup.

Tanganku gemetar setelah dia pergi.

Aku takut.

Bukan karena aku ingin kembali kepadanya.

Aku takut karena baru menyadari aku tidak tahu seberapa banyak hidupku yang sudah dia kendalikan.

Dua puluh menit kemudian Notaris Nadia menelepon.

Dia langsung memastikan identitasku dengan beberapa pertanyaan.

Setelah itu dia berkata, “Saya sudah mencoba menemui Ibu sejak empat bulan lalu.”

“Saya tidak pernah mendapat kabar.”

“Dua surat kami diterima di alamat rumah Ibu.”

“Siapa yang menerima?”

“Nama penerimanya Arga Wicaksana.”

Aku tidak terkejut lagi.

“Ada lagi?”

“Ada.”

Nadia menjelaskan bahwa sekitar setahun lalu kantornya menerima berkas surat kuasa dari aku kepada Arga.

Dengan surat itu, Arga bisa mengurus penyewaan, administrasi, sampai pengajuan pembiayaan menggunakan ruko.

Awalnya dokumennya terlihat normal.

Namun beberapa bulan kemudian muncul permintaan baru.

Nilainya jauh lebih besar.

Kantor Nadia meminta aku datang langsung.

Arga mengatakan aku sedang hamil dan tidak bisa keluar rumah.

Nadia lalu memeriksa kembali berkas lama.

Dia menemukan beberapa tanda tangan tidak konsisten.

“Ada kemungkinan tanda tangan itu bukan dibuat oleh Ibu.”

Aku menahan napas.

“Berapa banyak dokumen?”

“Yang melewati kantor kami ada enam.”

“Enam?”

“Untuk transaksi lain saya tidak bisa memastikan.”

Aku merasa mual.

“Bu Nadia, kalau saya tidak pernah memberi kuasa bagaimana?”

“Besok saya sarankan Ibu datang dengan pendamping hukum. Kami bisa memberikan salinan dokumen yang melibatkan nama Ibu.”

“Apa proses Rp4,75 miliar itu sudah jalan?”

“Belum.”

Aku baru bisa bernapas lagi.

“Namun ada dokumen sebelumnya yang sudah dipakai untuk menerima dana.”

“Berapa?”

“Berdasarkan salinan yang kami punya, sekitar Rp1,8 miliar.”

Aku memejamkan mata.

“Ada satu hal lagi,” Nadia berkata.

“Apa?”

“Nama perusahaan pemohon pembiayaannya PT Karya Pramesti Utama.”

Pramesti.

Nama belakangku.

“Apa perusahaan itu punya hubungan dengan saya?”

“Menurut dokumen pendirian yang dilampirkan, Ibu tercatat sebagai salah satu pemegang saham.”

Aku duduk lebih tegak.

“Saya bahkan tidak tahu perusahaan itu ada.”

Besok paginya aku tidak pulang bersama Arga.

Aku meminta adikku, Dinda, menjemputku setelah dokter mengizinkan aku keluar.

Arga datang pukul delapan.

Aku sudah berkemas.

“Kita pulang.”

“Aku ikut Dinda.”

Dia memandang adikku.

Dinda berdiri tanpa bicara.

Arga mendekat padaku.

“Kamu mau ke mana?”

“Ke rumah Dinda.”

“Untuk apa?”

“Istirahat.”

“Rumahmu ada.”

Aku memegang tas.

“Untuk sementara aku tidak mau tinggal denganmu.”

Wajahnya menegang.

“Gara-gara surat itu?”

Aku diam.

“Rani, perusahaan sedang punya proyek besar. Dokumen seperti itu biasa.”

“Dokumen dengan tanda tanganku tanpa sepengetahuanku biasa?”

“Jangan ngomong sembarangan.”

“Kamu mau aku tunjukkan hasil verifikasinya?”

Dia berhenti.

Aku baru sadar sesuatu.

Arga tidak tahu berapa banyak yang sudah kuketahui.

Dan untuk pertama kalinya selama pernikahan kami, aku tidak menjelaskan semuanya kepadanya.

Aku berjalan melewatinya.

Dinda membawaku ke rumahnya di Bekasi.

Siangnya kami menemui Nadia bersama seorang pengacara bernama Reza yang direkomendasikan teman Dinda.

Di meja Nadia ada setumpuk berkas.

Nama lengkapku muncul berkali-kali.

Aku merasa seperti sedang membaca kehidupan orang lain.

PT Karya Pramesti Utama.

Pemegang saham:

Rani Pramesti, 40 persen.

Arga Wicaksana, 10 persen.

Sisanya dimiliki dua perusahaan kecil.

Aku menunjuk kertas.

“Saya tidak pernah datang saat pendirian perusahaan.”

Nadia mengangguk.

“Akta awal tidak dibuat di kantor saya.”

Reza membalik halaman.

“Ada rekening perusahaan?”

“Ada.”

“Siapa yang memiliki akses?”

“Berdasarkan dokumen bank, dua orang.”

Nadia menunjuk.

“Pak Arga dan Ibu Rani.”

Aku tertawa pendek karena bingung.

“Aku bahkan tidak tahu banknya.”

Reza menatapku.

“Berarti kita harus cek apakah ada rekening lain atas nama Ibu.”

Kami bekerja sepanjang sore.

Aku menghubungi bank.

Memeriksa surel lama.

Mengganti kata sandi.

Memblokir akses yang tidak kukenal.

Salah satu petugas bank menemukan nomor telepon pemulihan untuk rekening perusahaan itu bukan nomorku.

Nomornya milik Arga.

Alamat surelnya juga dibuat menggunakan namaku.

Reza kemudian meminta aku mencari semua pesan lama dari Arga yang pernah meminta foto dokumen identitasku.

Ada banyak.

Foto KTP.

Foto tanda tangan.

Foto halaman depan buku rekening.

Bahkan swafoto dengan KTP yang katanya dulu dibutuhkan untuk memperbarui asuransi keluarga.

Saat itu aku percaya.

Sekarang aku mengerti.

Menjelang malam, nomor tak dikenal meneleponku.

Aku hampir tidak mengangkat.

“Halo?”

“Bu Rani?”

“Iya.”

“Nama saya Fikri.”

Aku langsung duduk tegak.

“Anak Bu Ratih?”

Dia diam sebentar.

“Ibu saya cerita soal kejadian di supermarket.”

Aku menyalakan pengeras suara agar Reza mendengar.

Fikri mengatakan dia dulu bekerja di bagian kontrol proyek kantor tempat Arga menjadi kepala cabang.

Tiga bulan lalu dia menemukan sesuatu yang aneh.

Beberapa vendor menerima pembayaran untuk jasa konsultasi lahan.

Salah satu vendornya adalah PT Karya Pramesti Utama.

Fikri memeriksa alamat perusahaan.

Alamatnya sebuah kantor virtual.

Tidak ada pegawai tetap.

Namun pembayaran dari beberapa proyek dalam sebelas bulan mencapai hampir Rp3,1 miliar.

“Lalu kenapa Mas Fikri dituduh mengubah data?”

“Karena saya menyalin laporan transaksi untuk dilaporkan ke kantor pusat.”

“Arga tahu?”

“Iya.”

Fikri menarik napas.

“Pak Arga datang menemui saya. Dia bilang saya harus berhenti bertanya.”

“Lalu?”

“Dua hari kemudian akses sistem saya diblokir. Seminggu setelah itu saya dituduh memindahkan dana operasional ke rekening pribadi.”

“Apa benar?”

“Tidak.”

Reza bertanya, “Apakah Anda punya bukti?”

“Ada sebagian.”

“Di mana?”

“Saya simpan sebelum akun saya ditutup.”

Reza langsung membuat janji bertemu.

Malam itu Arga mengirim dua puluh tiga pesan.

Awalnya lembut.

Kita bisa selesaikan baik-baik.

Lalu berubah.

Kamu tidak memahami bisnis.

Kemudian:

Jangan percaya orang luar. Mereka cuma memanfaatkan keadaanmu.

Aku tidak membalas.

Pukul sebelas malam dia mengirim foto kamar bayi yang belum selesai.

Kamu mau anak kita lahir dalam keluarga seperti ini?

Aku menatap foto itu lama.

Dulu kalimat itu mungkin cukup membuatku pulang.

Sekarang aku justru berpikir sebaliknya.

Aku tidak ingin anakku tumbuh mengira kontrol seperti itu adalah bentuk perhatian.

Dua hari kemudian aku bertemu Fikri.

Dia membawa laptop tua.

Di dalamnya ada tabel pembayaran proyek.

Nama PT Karya Pramesti Utama muncul delapan kali.

Fikri menunjuk beberapa baris.

“Ini aneh karena vendor ini hampir selalu menerima pembayaran beberapa hari setelah dana proyek cair.”

Reza bertanya, “Siapa yang menyetujui?”

“Pak Arga dan kepala keuangan cabang.”

Aku mengenal kepala keuangannya.

Namanya Beni.

Dia pernah datang ke rumah kami beberapa kali.

Selalu memanggil Arga “Bos”.

Fikri membuka dokumen lain.

“Ini salinan formulir pembukaan vendor.”

Namaku tercantum sebagai direktur.

Aku menatap layar.

“Direktur?”

“Iya.”

Aku langsung merasa dingin.

Pemegang saham bukan satu-satunya masalah.

Namaku juga dijadikan direktur.

Reza bertanya, “Ada tanda tangan?”

“Ada.”

Aku melihatnya.

Mirip.

Sangat mirip.

Tapi huruf terakhir berbeda.

“Aku tidak pernah tanda tangan ini.”

Fikri mengangguk.

“Itu sebabnya saya cari Ibu.”

“Kamu pernah menghubungi aku?”

“Pernah.”

Aku menatapnya.

“Kapan?”

“Sekitar dua bulan lalu. Nomor Ibu dijawab laki-laki.”

Aku langsung tahu siapa.

“Arga?”

“Saya tidak tahu waktu itu. Dia bilang saya salah sambung.”

Aku kembali membuka pesan-pesan lama.

Dua bulan lalu Arga memang pernah mengganti kartu SIM utamaku.

Dia bilang nomor lamaku terlalu banyak telepon promosi.

Semakin banyak kami periksa, semakin jelas polanya.

Arga bukan hanya mengatur pengeluaranku.

Dia menjaga agar aku tidak melihat surat.

Tidak menerima telepon tertentu.

Tidak mengakses rekening.

Tidak mengetahui asetku sendiri.

Semua dilakukan sedikit demi sedikit sampai aku terbiasa.

Reza menyarankan aku membuat laporan resmi dan menyerahkan bukti ke pihak-pihak terkait.

Aku setuju.

Namun sebelum itu, kantor pusat perusahaan Arga menghubungi.

Mereka meminta bertemu.

Ternyata Fikri sudah mengirimkan kembali sebagian dokumen kepada tim audit internal setelah mengetahui aku bersedia memberikan keterangan.

Pertemuan dilakukan di kantor pusat di kawasan Sudirman.

Aku datang bersama Reza.

Aku berharap Arga tidak ada.

Aku salah.

Dia duduk di ruang rapat.

Beni ada di sebelahnya.

Di seberang mereka ada tiga orang dari kantor pusat.

Begitu aku masuk, Arga berdiri.

“Rani, kenapa kamu bawa pengacara?”

Aku duduk.

“Supaya saya tidak perlu menjelaskan dua kali.”

Dia menatapku tajam.

Salah satu auditor membuka rapat.

Kami diminta menjelaskan satu per satu.

Fikri menjelaskan data transaksi.

Nadia ikut melalui panggilan video untuk mengonfirmasi surat.

Aku menunjukkan bahwa beberapa tanda tangan bukan milikku.

Arga berkali-kali memotong.

“Ini prosedur administrasi.”

Auditor utama, seorang perempuan bernama Ibu Melani, bertanya tenang.

“Kalau prosedur, mengapa istri Anda tidak tahu dia tercatat sebagai direktur perusahaan vendor?”

Arga menjawab cepat.

“Dia tahu.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak tahu.”

“Rani.”

“Aku bahkan tidak tahu nama perusahaannya sampai tiga hari lalu.”

Beni mulai gelisah.

Melani kemudian mengeluarkan satu dokumen.

“Pak Beni, Anda yang mengajukan vendor ini?”

Beni melihat Arga.

Arga langsung berkata, “Jawab saja sesuai data.”

Beni menelan ludah.

“Saya hanya memproses.”

“Atas instruksi siapa?”

Ruangan diam.

“Pak Arga.”

Arga berdiri.

“Jangan lempar tanggung jawab.”

Melani meminta semua orang tetap duduk.

Kemudian dia menunjukkan laporan lain.

Ada transaksi ke PT Karya Pramesti Utama.

Lalu dari rekening perusahaan itu, uang berpindah lagi.

Sebagian kembali ke rekening perusahaan lain.

Sebagian masuk ke rekening Beni.

Dan sebagian digunakan membayar cicilan fasilitas kredit yang diajukan menggunakan ruko atas namaku.

Aku menatap Arga.

Jadi semuanya terhubung.

Vendor.

Ruko.

Surat kuasa.

Namaku.

Aku bukan pasangan yang diajak menjalankan bisnis.

Aku adalah nama yang bisa diletakkan di atas dokumen agar dirinya tidak langsung terlihat.

Arga akhirnya menatapku.

“Aku melakukan itu untuk kita.”

Aku tertawa kecil.

“Untuk kita?”

“Kamu pikir rumah, mobil, biaya kehamilan datang dari mana?”

“Dari gajimu, katanya.”

“Aku bangun semuanya.”

“Dengan namaku.”

“Aku suamimu.”

Aku langsung menjawab.

“Itu tidak membuat tanda tanganku menjadi milikmu.”

Ruangan kembali diam.

Pertemuan selesai setelah hampir tiga jam.

Perusahaan menyatakan Arga dan Beni dinonaktifkan sementara selama audit berjalan.

Aku tidak merasa menang.

Aku hanya sangat lelah.

Tapi ternyata masalah belum selesai.

Sore harinya Reza menerima satu surel dari tim audit.

Ada satu transaksi yang belum mereka mengerti.

Transfer Rp850 juta dari PT Karya Pramesti Utama ke rekening deposito atas namaku.

“Aku tidak punya deposito.”

Reza memandangku.

“Banknya sudah mengonfirmasi rekening itu ada.”

Aku menatap layar.

“Siapa yang buka?”

“Itu yang harus kita cari.”

Besoknya kami datang ke bank.

Aku membawa semua dokumen.

Petugas senior memeriksa sistem hampir setengah jam.

Kemudian dia meminta atasannya datang.

“Ada masalah?” tanyaku.

Perempuan itu duduk di depan kami.

“Deposito tersebut memang atas nama Ibu.”

“Aku tidak pernah membukanya.”

“Pembukaan dilakukan melalui proses digital.”

“Nomor telepon?”

Dia menyebut nomor lama yang dulu dikendalikan Arga.

“Email?”

Alamat palsu yang dibuat menggunakan namaku.

Reza bertanya, “Dan dana Rp850 juta masih ada?”

Petugas itu mengangguk.

“Ada. Namun statusnya diblokir internal.”

“Kenapa?”

“Karena dua bulan lalu ada permintaan pencairan sebelum jatuh tempo.”

Aku langsung memandangnya.

“Siapa yang meminta?”

“Permintaan diajukan dari perangkat yang biasa digunakan mengakses akun.”

“Arga.”

Petugas tidak mengonfirmasi nama.

Namun kami semua tahu.

“Kenapa tidak cair?”

Petugas membuka catatan.

“Karena ada perubahan kebijakan verifikasi. Untuk nominal tertentu pemilik rekening harus melakukan verifikasi wajah langsung.”

Aku hampir tertawa.

Sistem yang selama ini membuatku kesal karena terasa ribet justru menghentikan Arga.

Tapi Reza masih melihat dokumen.

“Dana Rp850 juta ini berasal dari rekening perusahaan?”

“Iya.”

“Lalu kenapa dimasukkan ke rekening atas nama Bu Rani?”

Pertanyaan itu baru terjawab tiga hari kemudian.

Audit internal perusahaan Arga menemukan dokumen pembayaran yang berbeda dari data awal Fikri.

Rp850 juta itu bukan bagian keuntungan Arga.

Dana itu berasal dari satu transaksi yang seharusnya dibayarkan kepada pemilik lahan.

Namun pemilik lahannya tidak pernah menerima.

Arga memindahkannya ke deposito atas namaku.

Reza menjelaskan pelan.

“Kalau suatu hari transaksi ini ditemukan, nama pertama yang akan muncul adalah kamu.”

Aku duduk diam.

Itulah bagian yang paling sulit kuterima.

Bukan Rp150.000.

Bukan ruko.

Bukan perusahaan palsu.

Arga sedang menyiapkan kemungkinan agar kalau semuanya terbuka, aku berada di depan.

Aku meneleponnya malam itu.

Pertama kali aku menghubungi sejak keluar rumah sakit.

Dia langsung mengangkat.

“Akhirnya.”

“Aku cuma mau tanya satu hal.”

“Apa?”

“Deposito Rp850 juta.”

Dia diam.

Aku melanjutkan.

“Kamu sengaja taruh atas namaku supaya kalau audit datang, aku yang terlihat menerima?”

“Jangan percaya pengacaramu.”

“Jawab.”

“Rani, bisnis tidak sesederhana itu.”

“Jawab.”

Dia menarik napas keras.

“Aku cuma butuh tempat sementara untuk memarkir dana.”

“Kenapa namaku?”

“Karena kita menikah.”

Aku menutup mata.

Selalu itu jawabannya.

Karena kita menikah.

Seolah pernikahan memberinya hak untuk mengambil identitasku.

“Aku akan ajukan pemisahan.”

Arga diam.

Lalu tertawa tidak percaya.

“Kamu serius mau menghancurkan keluarga kita karena ini?”

Aku menjawab tenang.

“Keluarga kita sudah bermasalah jauh sebelum aku menemukan surat itu.”

Aku mematikan telepon.

Dua minggu berikutnya hidupku dipenuhi pemeriksaan dokumen.

Audit.

Pertemuan dengan bank.

Pertemuan dengan notaris.

Pemeriksaan transaksi.

Aku tidak perlu memahami semua hukum sekaligus.

Aku hanya menjawab apa yang aku tahu.

Mana tanda tanganku.

Mana yang bukan.

Mana transaksi yang pernah aku setujui.

Mana yang tidak.

Ruko Depok akhirnya berhasil diamankan dari proses pembiayaan.

Surat kuasa lama dibatalkan.

Akses rekening yang bukan milikku ditutup.

Namaku mulai dibersihkan dari beberapa dokumen perusahaan.

Fikri juga dipanggil kembali oleh kantor pusat untuk pemeriksaan ulang atas tuduhan terhadapnya.

Beberapa minggu kemudian perusahaan mengirim surat resmi bahwa bukti yang digunakan untuk menuduhnya bermasalah.

Ibunya meneleponku.

“Fikri bilang terima kasih.”

Aku tersenyum.

“Justru saya yang harus berterima kasih.”

“Kalau hari itu saya tidak ke supermarket…”

Aku memotong pelan.

“Mungkin tetap akan terbuka. Hanya waktunya saja berbeda.”

Aku tidak mau hidupku bergantung pada gagasan bahwa seseorang datang menyelamatkanku.

Bagas membantu pada hari itu.

Bu Ratih mengenali Arga.

Fikri menyimpan data.

Nadia menahan proses.

Reza menjelaskan semuanya.

Tapi keputusan untuk berhenti menutup mata tetap harus kuambil sendiri.

Sebulan kemudian kandunganku memasuki minggu terakhir.

Aku masih tinggal bersama Dinda.

Arga beberapa kali meminta bertemu.

Aku menolak sampai semua pembicaraan dilakukan melalui pendamping.

Suatu sore dia mengirim satu pesan.

Aku cuma ingin lihat anakku nanti.

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Aku tidak membalas dengan marah.

Aku menulis:

Soal anak akan dibicarakan dengan cara yang jelas dan aman. Soal hubungan kita, keputusan saya tidak berubah.

Lalu aku meletakkan ponsel.

Aku pikir cerita ini sudah hampir selesai.

Ternyata belum.

Dua hari sebelum jadwal kontrol berikutnya, Nadia menelepon.

“Bu Rani, ada dokumen lama yang baru kami terima dari notaris sebelumnya.”

Aku langsung waspada.

“Dokumen apa lagi?”

“Akta awal PT Karya Pramesti Utama.”

“Aku sudah lihat.”

“Bukan versi yang sekarang.”

Aku diam.

“Maksudnya?”

“Ada perubahan akta enam bulan setelah perusahaan berdiri.”

Nadia meminta aku datang.

Aku berangkat bersama Reza.

Di kantor, dia meletakkan dua dokumen berdampingan.

Versi pertama mencantumkan aku sebagai pemegang saham 5 persen.

Bukan 40 persen.

Versi setelah perubahan menjadi 40 persen.

“Kenapa diubah?”

Nadia menunjuk halaman terakhir.

Di sana ada nama pemberi saham.

Arga Wicaksana.

Dia memindahkan 35 persen sahamnya kepadaku.

Tapi itu dilakukan setelah perusahaan mulai menerima transaksi mencurigakan.

Reza langsung mengerti.

“Dia memindahkan kepemilikan setelah aliran dana dimulai.”

Aku ikut memahami.

Semakin besar masalahnya, semakin besar bagian perusahaan yang diletakkan atas namaku.

Nadia lalu mengeluarkan satu lembar lain.

“Ada satu hal lagi.”

Aku membaca tanggalnya.

Tiga minggu sebelum insiden supermarket.

Itu adalah permohonan perubahan direksi.

Namaku akan dihapus sebagai direktur.

Untuk sesaat aku merasa lega.

Lalu aku melihat nama penggantinya.

Bukan Arga.

Bukan Beni.

Nama itu tidak kukenal.

“Siapa Yuliana Hartono?”

Nadia menggeleng.

“Kami juga sedang cek.”

Reza membaca alamat identitasnya.

Lalu wajahnya berubah.

“Rani.”

“Apa?”

“Alamat ini sama dengan alamat kantor virtual salah satu perusahaan pemegang saham lain.”

Kami memeriksa lagi.

Perusahaan itu ternyata juga terhubung dengan PT Karya Pramesti Utama.

Satu nama muncul berulang.

Yuliana Hartono.

Namanya ada pada dua perusahaan.

Beberapa transaksi juga menuju rekening yang dia kelola.

Untuk sesaat aku berpikir mungkin ada orang ketiga yang selama ini bekerja bersama Arga.

Ternyata dugaan itu masih salah.

Tim audit mengirim identitas lengkap Yuliana sore itu.

Dia bukan rekan Arga.

Bukan stafnya.

Bukan kerabatnya.

Dia seorang penyedia jasa administrasi perusahaan.

Dan dalam keterangannya, dia mengatakan Arga membayar dirinya hanya untuk meminjam nama pada beberapa dokumen.

Tapi pengakuan terakhirnya membuat semuanya berubah.

Arga bukan orang yang pertama kali membuat PT Karya Pramesti Utama.

Beni yang membuatnya.

Beni yang menyiapkan perusahaan.

Beni pula yang mengusulkan menggunakan identitasku karena dia tahu Arga memiliki akses penuh pada dokumen-dokumenku.

Aku menatap Reza.

“Jadi Arga bukan otaknya?”

Reza menggeleng pelan.

“Bukan satu-satunya.”

Audit kemudian menemukan rangkaian pesan lama antara Beni dan Arga.

Pada awalnya Arga memang menolak.

Dia menulis:

Jangan pakai nama Rani. Terlalu dekat.

Beni membalas:

Justru karena dekat, semua akses ada di kamu.

Beberapa hari kemudian Arga berubah pikiran.

Dia mengirim foto KTP-ku.

Lalu foto tanda tanganku.

Kemudian satu kalimat:

Pastikan kalau ada pemeriksaan, nama saya jangan muncul dulu.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.

Mengetahui dia bukan pencetusnya.

Atau mengetahui dia sempat menolak, lalu memilih melakukannya juga.

Semua alasan yang mungkin dia gunakan hilang saat itu.

Dia tahu.

Dia mengerti risikonya.

Dan dia tetap memilih namaku.

Beberapa bulan setelah semuanya terbuka, proses hukum dan audit masih berjalan.

Aku tidak mengikuti setiap perkembangannya.

Aku hanya memberikan dokumen ketika diminta.

Fokusku berubah setelah anakku lahir.

Seorang bayi laki-laki.

Aku menamainya Raka.

Hari ketiga setelah pulang dari rumah sakit, Dinda masuk ke kamar membawa sebuah kantong kertas.

“Ada paket.”

Aku membukanya.

Di dalamnya ada selimut bayi biru.

Merek yang sama.

Model yang sama.

Seharga Rp150.000.

Tidak ada nama pengirim.

Hanya nota supermarket.

Aku langsung menelepon Bagas.

Dia tertawa.

“Bukan saya.”

“Bu Ratih?”

“Bukan juga.”

Aku semakin bingung.

Besoknya Fikri mengirim pesan.

Bu Rani, ibu saya bilang jangan cari pengirim selimut. Katanya anggap saja hadiah dari orang-orang yang hari itu ada di antrean. Mereka patungan diam-diam lewat staf supermarket.

Aku memegang selimut itu cukup lama.

Dulu aku mengira masalah terbesar dalam rumah tanggaku adalah aku harus meminta izin untuk membeli barang seharga Rp150.000.

Ternyata masalah sebenarnya jauh lebih besar.

Aku sudah terlalu lama menyerahkan hak untuk menentukan hidupku sendiri.

Beberapa minggu kemudian aku akhirnya mengurus hasil sewa ruko sendiri.

Tidak banyak yang berubah dari sisi angka.

Yang berubah adalah aku tahu ke mana uang itu pergi.

Aku punya rekening sendiri.

Punya akses sendiri.

Punya dokumen sendiri.

Dan tidak ada orang lain yang memegang kata sandinya.

Arga masih mencoba menghubungiku soal Raka.

Aku tidak menghalangi hubungan mereka selama semuanya dilakukan sesuai kesepakatan yang jelas.

Aku tidak ingin membalas dengan cara yang sama.

Aku hanya tidak mau kembali menjadi orang yang takut membeli sesuatu dengan uangnya sendiri.

Kadang orang bertanya apa aku menyesal karena hari itu mengambil selimut biru dari rak supermarket.

Tidak.

Kalau aku tidak mengambilnya, mungkin aku tidak akan berada di kasir itu.

Map hitam mungkin tidak akan jatuh.

Amplop putih mungkin masih tersembunyi.

Dan aku mungkin masih duduk di rumah, mengirim foto setiap struk belanja kepada seorang suami yang diam-diam memakai namaku untuk transaksi miliaran.

Selimut itu akhirnya kupakai untuk Raka setiap malam.

Bukan karena harganya.

Tapi karena setiap kali melihatnya, aku selalu ingat satu hal sederhana.

Aku tidak pernah membutuhkan izin siapa pun untuk mengetahui apa yang dilakukan atas namaku sendiri.