“SAAT HAMIL 8 BULAN, SUAMIKU MEMBUATKU TERHUYUNG DI TANGGA, SEMENTARA PEREMPUAN DI SAMPINGNYA MALAH TERTAWA!”
Namaku Alya.
Saat itu usia kandunganku 8 bulan. Tinggal sekitar satu bulan lagi menuju hari persalinan. Perut sudah besar, langkah sudah pelan, tidur pun sudah tidak nyenyak karena si kecil aktif sekali bergerak.
Kupikir, setidaknya di masa seperti ini suamiku, Rian, akan lebih berada di sisiku. Akan lebih siaga.
Namun malam itu, pukul 8 malam, ia justru pulang membawa seorang perempuan lain ke rumah kami.
Perempuan itu bernama Nadira. Aku mengenalnya. Ia bekerja satu divisi dengan Rian. Sering terlihat di foto kantor yang diunggah teman-teman Rian.
Aku yang sedang melipat baju bayi kecil-kecil di ruang tengah langsung terdiam.
Aku bertanya dengan suara pelan, mencoba tetap tenang, “Dia datang untuk apa, Mas?”
Rian menjawab dingin, tanpa menatap mataku, “Ada yang perlu kita bicarakan bertiga. Duduk.”
Nadira duduk di sofa utama. Sofa yang biasanya aku duduki. Ia duduk dengan percaya diri, seolah rumah itu miliknya sendiri, kakinya disilangkan.
Rian menatapku berdiri dengan perut besar.
“Alya, sebaiknya untuk sementara kamu tinggal dulu di rumah Ibumu. Beberapa minggu saja.”
Aku langsung membeku. Tangan yang memegang baju bayi itu berhenti.
“Aku sedang hamil delapan bulan, Mas. Hampir sembilan.”
“Aku tahu,” jawabnya cepat.
“Lalu kenapa aku yang harus pergi dari rumah ini? Ini rumah kita.”
Ia tidak menjawab langsung. Hanya berkata dengan kalimat yang membuat bulu kudukku berdiri,
“Rumah ini akan mengalami perubahan besar. Akan lebih baik kalau kamu tidak di sini dulu.”
Aku menatap Nadira. Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak bisa kuartikan.

Saat aku berjalan menuju tangga untuk mengambil koper kecil di kamar atas, karena semua koper ada di gudang atas, Rian tiba-tiba menyusul dan memegang tanganku terlalu keras di pegangan tangga.
Pegangannya begitu kencang sampai aku kehilangan keseimbangan sesaat. Tubuhku terhuyung ke depan. Tanganku langsung spontan berpegangan sangat kuat pada pagar tangga kayu. Jantungku berdegup kencang, bukan karena marah, tapi karena kaget dan takut.
Nadira yang berdiri di belakang, di bawah tangga, justru tertawa kecil. Tawa pendek, “Hihi”.
Aku menatap mereka berdua bergantian. Rian langsung melepas tangannya, wajahnya gugup. Nadira langsung menutup mulutnya.
Aku tidak menangis. Tidak berteriak. Air mataku bahkan tidak keluar. Mungkin karena sudah terlalu sering menahan.
Aku hanya berkata dengan suara yang sangat tenang,
“Baik. Aku pergi malam ini juga.”
Rian terlihat terkejut. Mungkin ia mengira aku akan memohon, akan menangis, akan bertengkar panjang.
Aku masuk ke kamar, mengambil satu koper kecil berisi baju hamil dan dokumen penting. Namun sebelum pergi, aku membuka brankas kecil di dalam lemari pakaian. Brankas yang kuncinya hanya aku dan almarhum Ayahku yang tahu.
Rian melihat dari pintu dan bertanya dengan nada curiga, “Kamu bawa apa itu? Amplop apa?”
Aku menjawab sambil memasukkan amplop biru tebal itu ke dalam tas,
“Sesuatu yang memang milikku sejak lama. Titipan Ayah.”
Nadira yang mendengar langsung mengernyitkan dahi, menatap amplop itu lekat-lekat.
Aku tidak menjelaskan lagi. Aku menyeret koper kecilku keluar rumah malam itu juga, dengan perut 8 bulan. Pesan taksi online. Tidak ada yang mengantar sampai depan pagar.
Aku pergi ke rumah Ibuku, Dewi.
Malam itu juga, setelah Ibuku memelukku lama di ruang tamu sambil mengelus perutku, aku menelepon satu nomor yang sudah lama tidak kuhubungi.
Pengacara lama Ayahku, Pak Arman.
“Pak, saya ingin mengaktifkan klausul dalam dokumen Ayah. Klausul nomor tujuh.”
Di seberang telepon, Pak Arman diam beberapa detik, sepertinya kaget.
“Kamu yakin, Alya? Ayahmu bilang klausul itu hanya untuk kondisi sangat mendesak.”
Aku melihat perutku yang bergerak pelan.
“Yakin, Pak. Saya baru saja diminta keluar dari rumah saya sendiri saat hamil delapan bulan. Saya rasa ini sudah sangat mendesak.”
Keesokan paginya, jam 7 pagi, Rian menelepon berkali-kali. 13 panggilan tak terjawab.
Aku tidak mengangkat satu pun.
Pada panggilan ketiga belas, ia mengirim pesan panjang dengan huruf kapital semua:
“ALYA, KAMU MELAKUKAN APA? KENAPA AKSES DANA OPERASIONAL PERUSAHAAN TIBA-TIBA DITAHAN? VENDOR TELEPON AKU TERUS! JELASKAN!”
Aku hanya tersenyum tipis membaca pesan itu di depan Ibu.
Karena ada satu hal yang tidak pernah diketahui Rian selama tiga tahun pernikahan kami:
Sebagian modal besar yang menopang perusahaannya selama tiga tahun terakhir, yang membuatnya bisa dapat proyek besar dan membeli mobil baru, ternyata bukan dari investor luar seperti yang ia kira.
Modal itu berasal dari dana keluarga milikku. Dana peninggalan Ayahku.
Siang itu juga, Pak Arman datang ke rumah Ibu Dewi dengan wajah serius. Ia membawa sebuah map tebal berwarna cokelat dengan stempel notaris.
“Ayahmu, Pak Hasan, memang orang yang sangat hati-hati, Alya,” kata Pak Arman sambil membuka map itu di meja.
“Tiga tahun lalu, sebelum beliau berpulang, beliau berinvestasi di perusahaan rintisan. Perusahaan itu ternyata adalah perusahaan Rian sekarang. Saat itu perusahaan Rian hampir tutup karena kekurangan modal.”
Aku bertanya dengan suara pelan, “Rian tidak tahu kalau investornya adalah Ayah saya?”
“Dia tahu ada investor misterius yang menyelamatkan perusahaannya lewat dana keluarga. Tapi dia tidak pernah tahu siapa penerima manfaat akhirnya. Karena Ayahmu sengaja menutup identitas itu.”
Aku membuka dokumen di halaman pertama. Di sana, di bagian pengendali dana dan penerima manfaat akhir, tertulis jelas nama lengkapku:
Alya Prameswari – Pengendali Dana Keluarga Hasanah.
Aku langsung terpaku. Tanganku gemetar memegang kertas itu.
Ternyata Ayah sudah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelum beliau berpulang. Beliau tahu aku mencintai Rian, tapi beliau juga ingin memastikan aku punya pegangan.
Pak Arman melanjutkan dengan suara pelan,
“Ada klausul khusus di dalam akta dana ini, klausul nomor tujuh. Isinya: Jika suatu hari kamu sebagai pemegang dana dipaksa meninggalkan rumah tempat tinggalmu saat sedang mengandung, atau hak tinggal dan hak rasa amanmu terancam oleh pihak mana pun, maka kamu berhak menghentikan sementara seluruh investasi dan penarikan dana untuk dilakukan pemeriksaan dan perlindungan aset.”
Aku menatapnya, mataku berkaca-kaca.
“Ayah tahu ini bisa terjadi pada saya, Pak?”
Pak Arman menghela napas, “Beliau tidak tahu detailnya akan seperti apa, Alya. Tapi beliau bilang ke saya, ‘Saya tidak sepenuhnya percaya kepada keluarga Rian, terutama cara mereka memandang harta. Jaga Alya dengan dana ini. Jangan beritahu Rian sampai Alya benar-benar membutuhkannya.’ Dan hari itu ternyata datang, malam saat kamu terhuyung di tangga.”
Sore harinya, seperti yang sudah kuduga, Rian datang bersama ibunya, Ratna, ke rumah Ibuku. Wajah mereka tegang.
Begitu masuk ruang tamu, Ratna langsung bertanya dengan nada tinggi,
“Alya, kamu melakukan apa sampai dana operasional perusahaan Rian ditahan? Vendor-vendor sudah menagih! Kamu mau membuat perusahaan anak saya tutup? Kamu mau balas dendam karena semalam?”
Aku menjawab dengan sangat tenang, sambil mengelus perutku yang 8 bulan,
“Saya tidak balas dendam, Bu. Saya cuma melindungi apa yang menjadi hak saya dan hak bayi saya. Saya hanya berhenti memakai uang Ayah saya untuk melindungi orang yang menyuruh saya pergi dari rumah saya sendiri dalam kondisi seperti ini.”
Rian berkata dengan suara keras, “Kamu itu keterlaluan, Ly! Kamu campur adukkan urusan rumah tangga dengan bisnis! Tidak profesional!”
Aku tetap tenang dan menatapnya lurus.
“Tidak profesional? Lalu Nadira itu profesional?”
Tidak lama kemudian, seperti sudah janjian, Nadira ikut datang menyusul ke rumah Ibu. Ia masuk dengan wajah yang dibuat prihatin.
“Kak Alya, jangan campurkan urusan pribadi dengan bisnis dong. Kasihan Mas Rian. Perusahaan bisa kacau.”
Aku tersenyum tipis. Senyum yang membuat Nadira sedikit mundur.
“Kalau begitu, Nadira, kenapa namamu ada dalam dokumen pengalihan hak pakai rumah kami?”
Seketika ruangan langsung sunyi senyap. Jam dinding terdengar sangat keras.
Rian langsung menoleh cepat ke Nadira dengan mata membelalak.
“Kamu bilang sesuatu kepadanya? Kamu janji tidak bilang siapa-siapa!”
Wajah Nadira langsung berubah pucat. Senyumnya hilang total.
Aku mengeluarkan satu lembar dokumen lagi dari map Pak Arman.
Dua minggu sebelumnya, tanpa sepengetahuanku, ada permohonan resmi untuk mengalihkan hak penggunaan rumah yang kami tempati selama ini kepada sebuah perusahaan baru bernama PT Nadira Putri Propertindo.
Perwakilan perusahaan itu yang menandatangani adalah: Nadira Putri.
Aku bertanya pelan kepada Rian, “Kamu mau memberikan rumah tempat aku mengandung anakmu ini kepadanya? Rumah yang kamu bilang akan ada perubahan itu?”
Rian buru-buru berkata panik, “Tidak seperti yang kamu pikir, Ly! Itu hanya untuk jaminan proyek! Nadira hanya bantu sebagai perantara! Aku bisa jelaskan!”
Pak Arman menyela dengan suara tegas,
“Masalahnya lebih besar dari itu, Rian. Rumah yang kalian tempati selama ini ternyata bukan milikmu.”
Rian dan Ratna menatap Pak Arman bersamaan.
“Rumah itu dimiliki 100% oleh dana keluarga yang dibuat almarhum Pak Hasan untuk Alya. Kamu, Rian, hanya memiliki hak menggunakan selama status pernikahan kalian masih sah dan Alya merasa aman tinggal di sana. Itu tertulis jelas di akta. Kalau kalian bercerai atau Alya dipaksa pergi seperti semalam, hak pakai tersebut otomatis berakhir detik itu juga.”
Ratna langsung terduduk lemas di sofa. Wajahnya pucat.
Nadira tidak lagi tersenyum. Ia malah melangkah mundur menuju pintu.
Namun Pak Arman belum selesai. Ia mengeluarkan satu lembar print out email dari map kedua.
“Saya menemukan ini dari arsip email perusahaan Rian, tiga bulan yang lalu. Seseorang ternyata meminta agar Alya dibuat meninggalkan rumah sebelum hari persalinan, dengan alasan apapun.”
Aku menatap Rian tajam.
“Kalau begitu siapa yang mengirim email itu? Kamu?”
Rian menggeleng cepat, “Bukan aku! Sumpah bukan aku! Aku tidak pernah kirim email itu!”
Aku menatap Nadira, “Kamu?”
Nadira juga menggeleng panik, “Bukan aku, Kak! Aku baru tahu soal email itu hari ini!”
Pak Arman meletakkan halaman terakhir di depanku di atas meja.
Nama pengirim email ditutup rapat dengan secarik kertas putih kecil yang ditempel.
Ia berkata pelan, “Orang inilah yang sejak awal tahu soal aset dana keluarga milikmu, Alya. Orang inilah yang tahu rumah itu bukan milik Rian. Dan orang inilah yang merencanakan semuanya, termasuk membawa Nadira ke rumahmu malam itu agar kamu terhuyung dan pergi sendiri.”
Tanganku gemetar hebat. Perutku terasa kencang karena tegang. Ibuku memegang tanganku erat.
Aku perlahan menarik kertas penutup tersebut dengan ujung kuku.
Dan ketika melihat siapa yang sebenarnya berada di balik rencana membuatku keluar dari rumah tepat sebelum aku melahirkan, siapa yang mengatur agar Nadira tertawa saat aku hampir jatuh di tangga, aku langsung membeku, napasku tercekat, karena nama yang tertulis di sana ternyata adalah…
Nama yang tertulis di sana adalah: Ratna.
Ibu mertuaku sendiri. Ibu kandung Rian.
Dibawahnya ada alamat email pribadinya dan tanda tangannya.
Ruangan itu sunyi selama hampir satu menit penuh. Hanya terdengar suara AC.
Ratna yang sejak tadi duduk, wajahnya langsung menunduk dalam-dalam. Tangannya gemetar.
Rian menatap ibunya dengan tidak percaya, “Ibu? Jadi Ibu yang kirim email itu? Ibu yang suruh aku bawa Nadira ke rumah? Ibu yang rencanakan supaya Alya pergi?”
Ratna akhirnya menangis. Bukan tangis marah, tapi tangis pecah dari seorang ibu yang merasa terpojok.
“Maafkan Ibu, Rian… Maafkan Ibu, Alya…”
Ia mengakui semuanya sambil terisak.
Ternyata, Ratna memiliki pinjaman dana yang cukup besar di luar sepengetahuan Rian. Pinjamannya dipakai untuk menutupi usaha butiknya yang kondisinya sedang tidak baik selama setahun terakhir. Ia meminjam kepada seorang kenalan yang menjanjikan akan melunasi jika Ratna bisa memberikan jaminan berupa rumah yang ditempati Rian.
Ratna tahu dari obrolan Rian bahwa rumah itu ada kaitannya dengan investor misterius. Ia mengira dengan mengalihkan rumah itu atas nama perusahaan Nadira, yang notabene adalah teman dekat Rian dan mau membantu, ia bisa mendapatkan uang cepat untuk menutup pinjamannya tanpa Rian tahu.
Nadira sendiri tidak tahu menahu soal rencana pengalihan rumah. Nadira hanya diminta Ratna untuk datang ke rumah malam itu dengan alasan ingin dikenalkan sebagai rekan bisnis baru yang akan bantu perusahaan Rian. Tawa kecil Nadira di tangga?
Nadira akhirnya bicara sambil menangis, “Maafkan saya, Kak Alya… Saya tertawa bukan karena mengejek Kakak terhuyung… Saya tertawa karena gugup… Saya kaget Mas Rian memegang tangan Kakak terlalu keras, saya tidak tahu harus berbuat apa, jadi saya malah tertawa canggung… Maafkan saya, Kak… Saya benar-benar tidak tahu soal rencana pengalihan rumah itu… Bu Ratna hanya bilang mau kenalan bisnis…”
Semua terungkap. Bukan perselingkuhan seperti yang kupikirkan semalam. Tapi sebuah kebohongan yang dibuat karena rasa takut akan hutang.
Aku yang hamil 8 bulan, yang semalam terhuyung di tangga, ternyata menjadi korban dari rasa takut ibu mertuaku sendiri yang tidak berani cerita kalau usahanya sedang berada di masa sulit.
Pak Arman menatap Ratna dan berkata tegas tapi tidak menghakimi,
“Bu Ratna, cara Ibu salah besar. Hampir saja Alya dan bayinya mengalami hal yang tidak diinginkan di tangga karena pegangan yang terlalu keras itu. Tidak ada masalah hutang yang selesai dengan cara membuat ibu hamil 8 bulan pergi dari rumahnya sendiri.”
Malam itu, aku tidak mengusir Ratna. Aku juga tidak memaafkan begitu saja. Aku meminta waktu.
Aku berkata kepada Rian, yang masih berdiri mematung,
“Mas, dana perusahaan akan tetap saya tahan sementara sampai audit selesai. Bukan untuk membuat perusahaanmu tutup, tapi untuk memastikan uang Ayah saya tidak dipakai untuk menutup hutang orang lain tanpa izin saya. Kalau kamu mau perusahaan tetap jalan, mulai besok kamu harus jujur 100% soal keuangan ke saya. Dan soal rumah, tidak ada pengalihan ke atas nama siapa pun. Rumah itu tetap menjadi tempat aman untuk saya dan bayi kita. Jika Ibu Ratna butuh bantuan untuk usahanya, kita bicarakan baik-baik sebagai keluarga, bukan dengan cara membuat saya pergi.”
Rian mengangguk pelan, air matanya jatuh untuk pertama kalinya malam itu. Ia berlutut di depan perutku dan memeluknya,
“Maafkan aku, Ly… Maafkan aku yang memegang tanganmu terlalu keras di tangga… Aku panik karena Ibu terus mendesakku… Maafkan aku…”
Dua minggu kemudian, Ratna datang lagi ke rumah Ibu, tapi kali ini tanpa Rian dan tanpa Nadira. Ia membawa serta bubur kacang hijau kesukaanku dan memelukku lama.
“Nak Alya, Ibu sudah menjual perhiasan Ibu sendiri untuk tutup sebagian hutang Ibu. Ibu janji tidak akan mengulangi lagi. Ibu hanya takut Rian kecewa kalau tahu butik Ibu kondisinya sedang tidak baik. Ibu salah.”
Sejak hari itu, aku kembali ke rumah. Bukan karena aku lemah, tapi karena Pak Arman sudah memastikan semua sertifikat rumah kini sudah sepenuhnya atas namaku dan calon bayiku, dengan hak pakai yang sah. Tidak ada lagi yang bisa mengalihkannya diam-diam.
Nadira mengundurkan diri dari perusahaan Rian dan meminta maaf secara pribadi kepadaku lewat surat tulisan tangan.
Dan Rian? Ia sekarang yang setiap malam memegang tanganku pelan-pelan saat naik tangga, bukan memegang terlalu keras lagi. Ia belajar.
Ternyata tawa kecil di tangga malam itu bukan tawa mengejek. Ternyata pegangan keras di tangga itu bukan karena benci, tapi karena panik akan hutang yang disembunyikan. Dan ternyata rumah yang hampir saja dialihkan itu, sejak awal memang bukan milik suamiku, tapi milik Ayahku yang sudah menyiapkan tempat aman untuk cucunya bahkan sebelum cucunya lahir.
Pesan untuk kita semua:
Jangan pernah membuat seorang perempuan hamil 8 bulan terhuyung di tangga, apalagi sampai membuatnya harus pergi dari rumahnya sendiri, hanya karena ingin menutupi masalah keuangan yang tidak berani diceritakan. Tawa kecil di saat orang lain hampir jatuh, sekecil apapun, bisa meninggalkan luka yang sangat dalam dan lama. Dan jangan pernah mengira rumah yang kamu tempati adalah sepenuhnya milikmu, padahal di baliknya ada dana keluarga dari Ayah mertua yang diam-diam menjaganya untuk anak perempuannya.
Kejujuran, meski pahit, jauh lebih aman daripada rencana diam-diam yang melibatkan orang ketiga.
Pernahkah kamu mengalami diminta pergi dari rumah sendiri saat sedang hamil besar, padahal kamu tidak melakukan kesalahan apapun? Atau pernahkah kamu melihat ibu mertua yang diam-diam merencanakan pengalihan rumah tanpa sepengetahuan menantunya seperti Bu Ratna?
Coba ceritakan pengalamanmu di kolom komentar ya. Menurutmu, apakah Alya sudah tepat menahan dana perusahaan untuk melindungi haknya dan hak bayinya? Mari kita bahas bersama dengan hati yang tenang!

