Saat aku menelepon suamiku dari IGD sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, jawabannya hanya satu.//

Saat aku menelepon suamiku dari IGD sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, jawabannya hanya satu.

“Urus sendiri, Nadia. Jangan lebay lagi.”

Lalu telepon ditutup.

Aku menatap layar ponsel selama beberapa detik, nyaris tidak percaya. Usia kehamilanku baru tiga puluh minggu. Ketubanku pecah lebih cepat, kontraksi mulai datang teratur, dan Arga—lelaki yang berbulan-bulan berjanji akan menemaniku apa pun yang terjadi—sedang menghadiri makan malam ulang tahun ibunya.

Seorang perawat datang membawa kursi roda.

“Bu, ada keluarga yang sedang menuju ke sini?”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Sepertinya tidak.”

Aku mencoba menelepon Arga sekali lagi.

Kali ini terdengar musik, suara piring, dan orang-orang tertawa.

“Arga, dengar aku. Dokter bilang aku harus segera ditangani. Kontraksinya makin dekat.”

Belum sempat dia menjawab, terdengar suara Bu Ratna, ibu mertuaku.

“Perempuan dari dulu juga melahirkan, kan? Jangan semua hal dibuat darurat.”

Kemudian Arga tertawa kecil.

“Dengar sendiri, kan? Mama saja santai. Pesan taksi atau minta bantuan rumah sakit. Aku pulang setelah acara selesai.”

Aku terdiam.

Bukan karena tidak punya jawaban.

Justru karena untuk pertama kalinya aku tidak lagi merasa perlu memohon.

“Baik,” kataku pelan. “Nikmati makan malamnya.”

Aku memutus sambungan.

Lalu aku mencari satu nama yang hampir dua tahun jarang kuhubungi karena Arga selalu mengatakan ayahku terlalu ikut campur dalam rumah tangga kami.

Papa.

Telepon baru berdering sekali.

“Nadia?”

Aku tidak mampu mengatakan banyak.

“Pa… aku di rumah sakit.”

Suara Papa langsung berubah.

“Kamu di rumah sakit mana?”

Tak sampai satu jam kemudian, Papa sudah berada di sampingku.

Dia tidak bertanya kenapa Arga tidak ada. Tidak menyalahkanku karena selama ini menjauh. Dia hanya menggenggam tanganku dan berkata, “Papa di sini.”

Malam itu berubah menjadi malam terpanjang dalam hidupku.

Dokter dan tim medis berusaha menangani persalinan prematur seaman mungkin. Aku ketakutan, kelelahan, dan berkali-kali melihat pintu berharap Arga muncul.

Pintu itu tidak pernah terbuka untuknya.

Menjelang pagi, putraku akhirnya lahir.

Kami menamainya Raka.

Tubuhnya kecil dan harus mendapat pemantauan khusus, tetapi ketika Papa melihat cucunya untuk pertama kali, matanya langsung berkaca-kaca.

“Anak ini kuat,” bisiknya.

Aku menangis.

Bukan hanya karena Raka.

Aku menangisi bertahun-tahun ketika aku selalu mencari alasan untuk Arga.

Arga lupa ulang tahunku karena pekerjaan.

Arga menyerahkan hampir semua keputusan rumah tangga kepada ibunya karena “Mama lebih berpengalaman.”

Arga meminta aku mengalah ketika Bu Ratna datang tanpa memberi kabar.

Dan setiap kali aku keberatan, kalimatnya selalu sama.

“Kamu terlalu sensitif.”

Ponselku tiba-tiba bergetar.

Pesan dari Arga.

Mama suka jam tangan yang kubelikan. Aku pulang Senin. Jangan mulai pertengkaran baru.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Tidak ada pertanyaan tentang kondisiku.

Tidak ada pertanyaan tentang bayinya.

Yang ada hanya jam tangan Bu Ratna.

Aku mengambil tangkapan layar.

Lalu satu lagi.

Kemudian aku membuka percakapan lama kami dan mulai menyimpan pesan-pesan yang sebelumnya selalu kuhapus karena kupikir tidak ada gunanya mempertahankan pertengkaran.

Papa memperhatikanku.

“Kamu sedang apa?”

Aku menatap layar.

“Bekerja.”

Papa mengernyit.

Aku bekerja sebagai akuntan forensik. Selama hampir sembilan tahun, tugasku adalah membaca angka dan mencari pola yang sengaja disembunyikan orang lain.

Ironisnya, aku tidak pernah melakukan hal yang sama terhadap rumah tanggaku sendiri.

Sampai pagi itu.

Aku membuka aplikasi mobile banking rekening bersama kami.

Awalnya aku hanya ingin memastikan biaya rumah sakit aman.

Namun sebuah transaksi membuat jariku berhenti.

Rp38.750.000.

Transfer itu dilakukan tiga hari sebelumnya.

Tujuan transaksinya membuat dadaku terasa dingin.

Nama penerima bukan toko jam tangan.

Bukan restoran.

Bukan pula Bu Ratna.

Aku mengenal nama perusahaan itu.

Beberapa bulan sebelumnya, Arga pernah bersumpah bahwa dia sama sekali tidak memiliki hubungan dengan perusahaan tersebut.

Aku memperbesar detail transaksi.

Lalu menemukan transfer kedua.

Rp22.500.000.

Transfer ketiga.

Rp47.000.000.

Semuanya dilakukan dalam beberapa bulan terakhir.

“Pa…” suaraku berubah.

Papa mendekat.

“Ada apa?”

Aku tidak menjawab.

Aku masuk ke email yang biasa kupakai untuk menerima laporan rekening keluarga dan mencari nama perusahaan itu.

Muncul sebuah dokumen lama.

Lampiran PDF.

Aku membukanya.

Di halaman pertama ada nama Arga.

Di halaman kedua ada nama Bu Ratna.

Dan ketika aku sampai di halaman terakhir, napasku tercekat.

Ada satu nama lagi di sana.

Namaku.

Lengkap dengan tanda tangan yang tampak hampir persis seperti tanda tanganku.

Padahal aku tidak pernah melihat dokumen itu seumur hidupku.

Saat itulah aku sadar: Arga bukan hanya meninggalkanku sendirian ketika anak kami lahir.

Dia dan ibunya mungkin telah melakukan sesuatu menggunakan namaku jauh sebelum malam itu.

Dan tepat ketika aku hendak membaca bagian yang menjelaskan untuk apa tanda tanganku digunakan, ponsel Papa berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Papa membacanya, lalu wajahnya langsung berubah.

“Nadia,” katanya pelan. “Sebelum kamu melakukan apa pun terhadap Arga… kamu harus lihat siapa yang baru saja mengirim ini.”

Aku mengangkat kepala.

Di layar ponsel Papa ada sebuah foto dokumen lain.

Dan di bagian atasnya tertulis tanggal yang sama dengan hari Arga pertama kali memintaku menandatangani “berkas biasa” hampir setahun lalu…

 

BAGIAN 2: Jejak yang Terlupakan

Papa menyerahkan ponselnya dengan tangan sedikit gemetar. Aku menerimanya, dan dunia di sekitarku terasa berhenti berputar.

Foto dokumen itu buram, diambil dari sudut miring, seolah seseorang memotretnya diam-diam. Tapi yang membuat darahku berhenti mengalir bukanlah kualitas fotonya.

Melainkan nama yang tertera di sana.

PT. NUSA GRAHA PROPERTI

Dan di bawahnya, dalam kolom “Pemegang Saham Terdaftar”:

Arga Prasetyo — 40%
Ratna Wulandari — 35%
Nadia Prameswari — 25%

Tanggal dokumen: 14 Februari, tahun lalu.

Hari Valentine. Hari ketika Arga membawaku makan malam romantis di sebuah restoran di Kemang, memberiku kalung berlian kecil, dan kemudian—di penghujung malam—menyerahkan setumpuk berkas sambil berkata, “Sayang, ini cuma formalitas. Tanda tangan dulu, ya. Urusan pajak keluarga.”

Aku menandatanganinya tanpa membaca.

Karena saat itu aku masih percaya.

“Pa,” bisikku, suaraku nyaris tidak keluar. “Perusahaan ini… ini perusahaan yang mencaplok tanah milik keluarga kita di Bogor, kan?”

Papa mengangguk pelan.

“Yang Arga bilang dia tidak punya hubungan apa pun.”

Papa mengangguk lagi.

Aku menunduk, menatap Raka yang tidur di dalam inkubator, tubuh kecilnya naik-turun dengan ritme yang rapuh namun gigih. Tangannya yang mungil menggenggam udara, seolah mencari sesuatu untuk dipegang.

“Papa sudah tahu?” tanyaku.

Papa diam beberapa saat. Lalu dia menarik napas panjang.

“Sejak tiga bulan lalu.”

Aku mengangkat kepala, terkejut.

“Kamu tidak bilang?”

“Nadia.” Papa menatapku dengan mata yang sudah lama tidak kulihat—mata seorang ayah yang menahan diri demi anaknya. “Setiap kali Papa coba bicara soal Arga, kamu selalu membelanya. Kamu bilang Papa terlalu ikut campur. Kamu bilang Papa tidak mengerti. Papa… tidak mau kehilangan kamu lagi.”

Air mata mengalir di pipiku.

“Jadi Papa diam saja?”

“Papa menyelidiki sendiri,” katanya. “Pelan-pelan. Papa tidak ingin salah tuduh. Tapi Papa butuh bukti yang cukup kuat supaya ketika Papa bicara, kamu tidak bisa lagi menganggap Papa hanya sedang mencari-cari kesalahan menantunya.”

Aku menggenggam tangan Papa.

“Dan?”

Papa menunjuk ponselnya.

“Nomor yang mengirim foto ini… Papa sudah lama menyimpan kontaknya. Dia orang dalam di perusahaan Arga. Selama ini dia takut bicara. Tapi tadi malam, dia mendengar Arga dan Bu Ratna bicara di makan malam itu. Tentang kamu. Tentang Raka.”

“Tentang apa?”

Papa menatap Raka yang masih tertidur.

“Mereka tidak berencana mengakui anak ini sebagai ahli waris.”

Kata-kata itu menghantamku seperti truk.

“Kenapa?”

“Karena kalau Raka diakui,” kata Papa pelan, “maka otomatis kamu punya hak lebih besar atas aset-aset keluarga Arga. Termasuk saham di Nusa Graha. Dan mereka tidak mau itu terjadi.”

Aku menatap Raka lagi.

Bayi mungil yang baru beberapa jam lahir ke dunia.

Dan sudah dianggap ancaman.

Sepanjang hari itu, aku tidak tidur.

Raka dirawat di NICU, dan setiap kali suster mengizinkan aku masuk, aku hanya duduk di sampingnya, menggenggam jarinya yang sekecil sedotan, sambil pikiranku bekerja seperti mesin.

Aku akuntan forensik.

Selama sembilan tahun, aku menghabiskan hidupku membongkar kejahatan finansial yang disembunyikan dengan rapi. Aku tahu cara membaca pola. Aku tahu cara menemukan jejak yang orang lain pikir sudah terhapus.

Dan malam ini, aku akan melakukan audit terhadap pernikahanku sendiri.

Aku membuka laptop yang dibawa Papa dari rumah. Koneksi rumah sakit lambat, tapi cukup. Aku masuk ke akun email pribadiku—akun yang selama ini kubuat khusus untuk menerima laporan keuangan keluarga karena Arga bilang “biar rapi dan terpisah dari urusan kantor.”

Kebetulan sekali.

Atau mungkin, bukan kebetulan.

Aku membuka folder arsip dan mulai mencari.

Laporan Rekening Bersama — Januari hingga Desember.

Aku membuka satu per satu, membandingkan dengan catatan pengeluaran rumah tangga yang selalu kubuat. Arga selalu bilang aku terlalu teliti, terlalu kaku, terlalu “seperti mesin.” Tapi kebiasaan itu kini menyelamatkanku.

Tiga jam kemudian, aku menemukan polanya.

Transfer keluar yang tidak wajar.

Selalu dalam jumlah besar.

Selalu ke perusahaan yang sama: Nusa Graha Properti.

Selalu dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan: tanggal 14.

Tanggal yang sama dengan hari kami menikah.

Arga mentransfer uang kami—uang yang seharusnya untuk rumah, untuk tabungan anak, untuk masa depan—ke perusahaan yang dia klaim tidak dia miliki, setiap bulan, pada hari ulang tahun pernikahan kami.

Seolah dia sedang mengejekku.

Atau mungkin, memang mengejekku.

Aku mencatat semua transaksi.

Totalnya, dalam satu tahun terakhir saja: Rp 487.000.000.

Hampir setengah miliar.

Dan itu baru dari satu rekening.

Aku membuka rekening lain. Rekening yang Arga buka atas namaku—katanya untuk “dana darurat.” Aku hampir tidak pernah menyentuhnya.

Saldo terakhir: Rp 12.000.000.

Padahal aku ingat, tiga tahun lalu, saldo awalnya adalah Rp 200.000.000. Arga bilang dia akan “mengelola” rekening itu supaya uangnya berkembang.

Ternyata berkembang ke arah yang salah.

Aku mencatat semuanya di sebuah file baru. Rapi. Terstruktur. Seperti laporan audit.

Karena memang itu yang sedang kulakukan.

Mengaudit kehancuran pernikahanku.

Papa masuk ke ruangan dengan dua cangkir kopi. Dia meletakkan satu di sampingku, lalu duduk di kursi sebelah.

“Ketemu?”

“Sebagian,” kataku. “Tapi aku butuh lebih banyak.”

“Lebih banyak apa?”

“Aku butuh akses ke rekening perusahaan,” kataku. “Dan aku butuh tahu siapa yang mengirim foto itu ke Papa. Karena orang itu… mungkin bisa jadi saksi.”

Papa mengangguk.

“Dia bilang dia mau bertemu.”

“Apa dia aman?”

“Untuk sekarang, iya. Dia belum dicurigai. Tapi dia bilang situasinya makin panas. Bu Ratna mulai curiga ada yang bocor.”

Aku menyeruput kopi. Pahit. Tapi membuatku tetap terjaga.

“Kapan dia bisa bertemu?”

“Besok sore. Di tempat yang dia pilih.”

Aku mengangguk.

“Pa,” kataku pelan. “Terima kasih.”

Papa menatapku.

“Untuk apa?”

“Untuk tidak bilang ‘Papa sudah bilang.’ Untuk tidak bilang ‘Papa kan sudah tahu Arga memang begitu.’ Untuk… hanya ada di sini.”

Papa tersenyum tipis.

“Kamu anak Papa. Papa tidak akan pernah meninggalkan kamu. Apa pun yang kamu pilih, siapa pun yang kamu pilih… Papa akan selalu ada.”

Aku menunduk, menahan air mata.

“Papa salah,” bisikku.

“Salah apa?”

“Aku yang salah. Aku yang memilih Arga. Aku yang mengabaikan perasaan Papa. Aku yang… terlalu bodoh.”

Papa menggeleng.

“Kamu tidak bodoh, Nadia. Kamu hanya mencintai orang yang salah. Itu beda.”

Aku menatap Raka lagi.

“Dan sekarang aku punya anak.”

“Ya,” kata Papa. “Dan anak itu butuh ibunya kuat.”

Aku mengangguk.

“Besok,” kataku. “Besok aku mulai.”

BAGIAN 3: Kebenaran yang Tidak Bisa Dikubur

Pertemuan itu berlangsung di sebuah kedai kopi kecil di Bintaro, jauh dari pusat kota, tempat orang jarang datang dan kamera pengawas tidak terlalu banyak.

Aku datang dengan wig pendek dan kacamata hitam. Sedikit berlebihan, mungkin. Tapi aku tidak mau ambil risiko.

Orang yang menunggu di sudut kedai itu adalah seorang pria berusia sekitar lima puluhan. Kurus, dengan kemeja lusuh dan tas kulit yang sudah mengelupas. Matanya lelah, tapi tajam.

“Dokter Nadia?” tanyanya.

Aku mengangguk, duduk di seberangnya.

“Anda yang mengirim foto ke Papa saya?”

Dia mengangguk.

“Nama saya Hendra. Saya… dulu kepala keuangan di Nusa Graha.”

“Dulu?”

“Saya di-PHK tiga bulan lalu. Katanya restrukturisasi. Tapi sebenarnya karena saya mulai bertanya terlalu banyak.”

Aku menatapnya.

“Kenapa Anda mau membantu saya?”

Hendra diam beberapa saat. Lalu dia menunduk.

“Karena saya punya anak perempuan. Usianya sekitar tiga puluh. Dia juga pernah diperlakukan seperti Anda. Dan saya… saya tidak melakukan apa-apa saat itu. Saya terlalu takut. Saya terlalu… pengecut.”

Dia mengangkat kepala.

“Kali ini saya tidak mau jadi pengecut lagi.”

Aku mengangguk pelan.

“Ceritakan semuanya.”

Dan Hendra bercerita.

Tentang perusahaan yang didirikan Arga dan Bu Ratna enam tahun lalu—tepat setelah Arga menikahiku. Tentang modal awal yang berasal dari “pinjaman” yang sebenarnya adalah uang hasil penjualan tanah milik keluargaku di Bogor, yang Arga katakan “sedang diproses” tapi sebenarnya sudah dia cairkan tanpa sepengetahuanku.

Tentang bagaimana Bu Ratna merancang semuanya. Dia yang mencari notaris. Dia yang mengatur struktur kepemilikan saham. Dia yang memastikan namaku dimasukkan sebagai “pemegang saham minoritas” tanpa sepengetahuanku—supaya jika suatu saat aku curiga, aku tidak bisa berbuat banyak karena “sudah ikut menikmati keuntungan.”

Tapi yang paling membuatku mual adalah ini:

“Ada proyek pembangunan di atas tanah yang seharusnya menjadi milik Anda,” kata Hendra. “Tanah warisan dari kakek Anda. Arga mengklaim Anda sudah menyerahkan haknya.”

“Aku tidak pernah menyerahkan apa pun.”

“Tanda tangan Anda ada di dokumennya.”

“Tanda tangan itu palsu.”

Hendra menatapku.

“Bisa dibuktikan?”

“Aku bisa.”

Dia mengangguk.

“Kalau begitu, Anda punya sesuatu yang lebih kuat dari sekadar tuduhan. Anda punya bukti pemalsuan. Itu pidana.”

Aku mencatat semuanya.

“Ada lagi?”

Hendra ragu.

“Ada.”

“Apa?”

Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah map plastik.

“Beberapa minggu sebelum saya di-PHK, saya menemukan sesuatu. Saya tidak tahu apakah ini penting, tapi… saya menyalinnya.”

Aku membuka map itu.

Di dalamnya ada beberapa lembar dokumen.

Dan satu foto.

Foto itu hitam-putih, kualitasnya buruk, tapi jelas.

Di foto itu ada Arga.

Dan seorang perempuan.

Bukan aku.

Mereka berdua berdiri di depan sebuah mobil, tersenyum, dan perempuan itu—yang usianya jauh lebih muda dariku—menggendong seorang anak kecil.

Aku menatap foto itu lama.

“Kapan ini diambil?”

“Tahun lalu. Sekitar enam bulan sebelum Anda hamil.”

Aku membalik foto itu.

Di belakangnya, ada tulisan tangan yang bukan tulisanku.

“Raya & Papa, Desember.”

Aku menatap Hendra.

“Siapa Raya?”

Dia menggeleng.

“Saya tidak tahu. Tapi setelah saya lihat foto ini, saya mulai bertanya-tanya. Dan beberapa minggu kemudian, saya di-PHK.”

Aku menyimpan foto itu di tasku.

“Ada lagi?”

Hendra menggeleng.

“Hanya itu yang saya berani bawa. Sisanya… ada di kepala saya. Dan saya siap bersaksi kalau diperlukan.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih.”

“Satu hal lagi, Dokter.”

“Apa?”

Hendra menatapku dengan mata yang serius.

“Hati-hati. Bu Ratna bukan orang yang bisa dikalahkan dengan mudah. Dia punya koneksi di mana-mana. Kalau dia tahu Anda sedang menyelidiki, dia akan bergerak lebih cepat dari yang Anda duga.”

Aku tersenyum tipis.

“Biarlah dia bergerak. Semakin cepat dia bergerak, semakin banyak yang dia tinggalkan.”

Hendra mengangguk.

“Semoga berhasil, Dokter.”

Aku kembali ke rumah sakit dengan kepala penuh.

Raka masih di NICU, tapi kondisinya stabil. Suster bilang dia sudah bisa minum ASI sedikit-sedikit. Aku masuk, menggendongnya dengan hati-hati, dan menempelkannya ke dadaku.

Dia menghisap dengan lemah, tapi gigih.

“Kamu kuat, ya,” bisikku. “Seperti kata kakekmu.”

Papa menunggu di luar.

Ketika aku keluar, dia langsung bertanya.

“Bagaimana?”

Aku menyerahkan foto itu.

Papa menatapnya lama.

“Arga punya anak lain?”

“Sepertinya.”

“Sejak kapan?”

“Aku tidak tahu. Tapi perempuan di foto ini… sepertinya lebih muda dariku. Dan anaknya… sudah besar. Mungkin empat atau lima tahun.”

Papa mengepalkan tangan.

“Bajingan.”

“Pa.”

“Maaf. Tapi memang bajingan.”

Aku tersenyum tipis. Ini pertama kalinya aku mendengar Papa mengumpat.

“Pa, aku butuh bantuan.”

“Apa saja.”

“Aku butuh pengacara. Yang terbaik. Dan aku butuh… aku butuh akses ke semua rekening yang namaku tercantum. Termasuk yang tidak aku tahu.”

Papa mengangguk.

“Papa kenal seseorang. Teman lama. Dia spesialis kasus keuangan dan keluarga. Besok Papa telepon.”

“Terima kasih, Pa.”

Papa menatapku.

“Nadia.”

“Ya?”

“Kamu yakin mau melakukan ini? Ini akan panjang. Ini akan kotor. Arga dan ibunya… mereka tidak akan tinggal diam.”

Aku menatap Raka yang tidur di dalam inkubator.

“Aku tidak punya pilihan, Pa.”

“Kamu selalu punya pilihan.”

“Kalau aku diam,” kataku pelan, “Raka akan tumbuh besar dengan ayah yang menganggapnya ancaman. Dengan nenek yang menganggapku sampah. Dengan keluarga yang menganggap kami… beban.”

Aku mengangkat kepala.

“Aku tidak mau Raka tumbuh dengan kebohongan yang sama yang aku percayai selama ini.”

Papa mengangguk.

“Baik. Kalau begitu, kita lakukan.”

Malam itu, Arga mengirim pesan lagi.

Aku pulang besok pagi. Kita perlu bicara.

Aku menatap pesan itu.

Dulu, kalimat itu akan membuatku gugup. Aku akan menghabiskan berjam-jam memikirkan apa yang salah, apa yang harus kukatakan, bagaimana caranya supaya Arga tidak marah.

Sekarang, aku hanya merasa dingin.

Baik, balasku singkat.

Lalu aku membuka laptop dan mulai menyusun semuanya.

Laporan transaksi.

Bukti transfer.

Dokumen palsu.

Foto Arga dengan perempuan lain.

Dan yang terakhir—yang paling penting—aku menulis kronologi.

Tanggal demi tanggal.

Kejadian demi kejadian.

Setiap kebohongan yang pernah Arga katakan.

Setiap kali aku mengabaikan instingku.

Setiap kali Papa mencoba bicara dan aku menutup pintu.

Aku menulis semuanya.

Karena inilah senjataku.

Bukan emosi.

Bukan amarah.

Tapi kebenaran yang tersusun rapi.

Pagi berikutnya, Arga datang ke rumah sakit.

Dia masuk ke ruangan dengan wajah lelah, tapi tetap rapi. Kemeja mahal, jam tangan baru—yang bukan jam tangan yang dia belikan untuk Bu Ratna, karena itu sudah diserahkan—dan senyum tipis yang dulu selalu membuatku luluh.

“Nadia,” katanya. “Aku minta maaf soal telepon malam itu. Mama sedang tidak enak badan, dan—”

“Aku tidak butuh penjelasan.”

Arga mengerjap.

“Apa?”

“Aku bilang, aku tidak butuh penjelasan.”

Aku menatapnya.

“Aku butuh jawaban.”

Arga menghela napas, duduk di kursi sebelah.

“Baik. Apa?”

Aku mengeluarkan foto itu dari tasku dan meletakkannya di atas meja.

Arga menatapnya.

Wajahnya berubah.

Tidak banyak. Tapi cukup.

“Di mana kamu dapat ini?”

“Itu tidak penting.”

“Nadia, kamu tidak mengerti. Ini—”

“Siapa Raya?”

Arga diam.

“Siapa Raya, Arga?”

Dia menunduk.

“Raya… anakku.”

“Sejak kapan?”

“Dua tahun sebelum kita menikah.”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu sudah punya anak sebelum menikahiku.”

“Ya.”

“Dan kamu tidak pernah bilang.”

“Karena… karena Mama bilang itu tidak perlu.”

“Kenapa tidak perlu?”

Arga mengangkat kepala.

“Karena Raya… dia anak dari hubungan yang tidak diinginkan. Ibunya sudah pergi. Raya tinggal dengan neneknya. Aku… aku hanya mengirim uang setiap bulan.”

Aku tertawa.

Tawa yang pahit.

“Kamu mengirim uang setiap bulan. Untuk anakmu. Tapi untuk anak kita—yang baru lahir—kamu bahkan tidak mau datang.”

Arga menunduk lagi.

“Nadia, aku—”

“Dan perusahaan itu. Nusa Graha. Kamu bilang kamu tidak punya hubungan apa pun.”

Arga mengangkat kepala.

“Kamu lihat apa?”

“Aku lihat semuanya.”

Aku mengeluarkan laporan transaksi.

“Transfer setiap tanggal 14. Selama satu tahun. Total hampir setengah miliar. Dari rekening bersama kita. Ke perusahaan yang kamu klaim tidak kamu miliki.”

Arga membuka mulut.

“Dan yang paling menarik,” lanjutku, “namaku tercantum sebagai pemegang saham. Dengan tanda tangan yang… katanya milikku.”

Arga menatapku.

“Kamu membaca dokumennya?”

“Aku membaca semuanya sekarang.”

Dia diam.

“Arga,” kataku pelan. “Kamu dan ibumu… kalian menggunakan namaku untuk hal-hal yang tidak aku ketahui. Kalian menggunakan uang kami untuk membangun bisnis yang kalian sembunyikan dariku. Dan kalian… kalian merencanakan untuk mengingkari anakku.”

Arga menatapku.

“Kamu tidak bisa membuktikan apa pun.”

Aku tersenyum tipis.

“Benarkah?”

Aku mengeluarkan dokumen terakhir.

Bukti pemalsuan tanda tangan.

“Dokumen ini,” kataku, “akan dikirim ke laboratorium forensik besok. Kalau terbukti tandatanganku dipalsukan, maka semua transaksi yang menggunakan dokumen ini… batal demi hukum.”

Arga menatapku.

“Dan itu berarti,” lanjutku, “semua saham yang kalian beli dengan uang kami… harus dikembalikan. Semua keuntungan yang kalian dapat dari tanah warisan keluargaku… harus dikembalikan.”

Aku menatapnya.

“Dan kamu, Arga… kamu akan kehilangan segalanya.”

Arga menatapku lama.

Lalu dia tertawa.

Tawa yang dingin.

“Kamu pikir kamu bisa menang?”

“Aku tidak butuh menang,” kataku. “Aku butuh kamu tahu bahwa aku tidak akan diam lagi.”

Arga berdiri.

“Nadia, kamu membuat kesalahan besar.”

“Kita lihat saja.”

Arga menatapku satu kali lagi, lalu berbalik dan berjalan keluar.

Pintu tertutup.

Dan aku… aku merasa lega.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.

Dua minggu kemudian.

Aku duduk di ruang pengacara, bersama Papa dan seorang perempuan bernama Ibu Sari—pengacara spesialis kasus keuangan yang direkomendasikan Papa. Di depanku, ada setumpuk dokumen dan sebuah laptop yang menampilkan semua bukti yang berhasil kukumpulkan.

“Semuanya lengkap,” kata Ibu Sari. “Kita punya dasar yang kuat untuk menggugat Arga dan Ratna Wulandari atas pemalsuan dokumen, penipuan, dan penggelapan aset.”

Aku mengangguk.

“Prosesnya berapa lama?”

“Kalau mereka tidak melawan, bisa cepat. Tapi kalau mereka melawan…” Ibu Sari mengangkat bahu. “Bisa berbulan-bulan. Mungkin setahun.”

Aku menatap Raka yang tidur di kereta dorong.

“Aku tidak masalah dengan waktu. Yang penting… hasilnya.”

Ibu Sari mengangguk.

“Satu hal lagi, Bu Nadia.”

“Apa?”

“Ada seseorang yang menghubungi kantor saya kemarin. Seorang perempuan. Dia bilang dia punya informasi tentang Arga.”

Aku menatapnya.

“Siapa?”

“Dia tidak mau menyebut nama. Tapi dia bilang dia adalah… mantan istri Arga.”

Aku terdiam.

“Arga pernah menikah sebelumnya?”

“Sepertinya begitu. Dan menurut perempuan itu… pernikahannya dengan Anda adalah pernikahan ketiga Arga.”

Aku menatap Papa.

Papa menatapku.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam di IGD itu, aku merasa sesuatu yang lebih dari sekadar marah.

Aku merasa… bebas.

Karena akhirnya, semua kebohongan itu mulai terkuak.

Satu per satu.

Dan tidak ada yang bisa menyembunyikannya lagi.

EPILOG

Enam bulan kemudian.

Raka sudah bisa pulang. Dia tumbuh sehat, meskipun sedikit lebih kecil dari bayi seusianya. Tapi dia kuat. Seperti kata Papa.

Aku duduk di beranda rumah Papa, ditemani secangkir kopi dan laptop yang menampilkan berita pagi.

“Pengusaha Arga Prasetyo Ditahan atas Kasus Penipuan dan Pemalsuan Dokumen.”

Aku membaca berita itu dengan tenang.

Arga ditahan tiga minggu lalu, setelah pengadilan memutuskan bahwa bukti-bukti yang diajukan tim ku cukup kuat untuk membawa kasus ini ke persidangan. Bu Ratna juga ditetapkan sebagai tersangka, meskipun dia masih dalam proses banding.

Tanah warisan keluargaku di Bogor dikembalikan.

Rekening bersama dibekukan dan sedang dalam proses pembagian.

Dan Raka… Raka tidak akan pernah tahu bahwa ayahnya pernah menganggapnya ancaman.

Karena aku akan memastikan dia tumbuh dengan cerita yang berbeda.

Papa datang membawa Raka yang baru bangun tidur.

“Dia lapar,” kata Papa.

Aku menerima Raka dan menyusunya.

Papa duduk di sampingku.

“Kamu sudah baca?”

“Sudah.”

“Bagaimana perasaanmu?”

Aku menatap Raka.

“Legaaaa,” kataku. “Tapi juga… sedih.”

“Kenapa sedih?”

“Karena aku pernah mencintai Arga. Dan aku pernah percaya bahwa dia mencintaiku. Sekarang aku tahu… dia tidak pernah benar-benar mencintaiku. Dia hanya mencintai apa yang bisa aku berikan.”

Papa mengangguk.

“Tapi kamu sudah keluar dari itu.”

“Ya,” kataku. “Aku sudah keluar.”

Aku menatap langit pagi yang cerah.

“Pa.”

“Ya?”

“Terima kasih sudah tidak pernah menyerah padaku.”

Papa tersenyum.

“Papa tidak akan pernah menyerah pada kamu, Nadia. Apa pun yang terjadi.”

Aku tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa… damai.

Karena aku tahu, apa pun yang terjadi selanjutnya, aku tidak akan pernah lagi menjadi perempuan yang diam.

Aku akan menjadi perempuan yang bicara.

Yang melawan.

Yang melindungi anaknya.

Dan itu… itu sudah cukup.

TAMAT.