Empat bulan setelah aku menarik suamiku keluar dari rumah yang terbakar, dia berdiri di kamar kami sambil memasukkan pakaian ke dalam koper.

“Telepon Mama dan Papa. Minta mereka menemanimu. Aku harus pergi.”
Aku menatap Daniel—lalu menatap koper itu.
“Kalau kamu bahkan sudah tidak sanggup menatap wajahku, kenapa kamu masih memanggilku istrimu?”
Tangannya berhenti sesaat.
Tapi dia tidak menjawab.
Namaku Nadira. Beberapa hari sebelumnya, aku baru pulang ke rumah setelah menjalani operasi rekonstruksi selama lebih dari enam jam di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Sisi kiri wajahku, leher, dan lenganku masih dalam masa pemulihan.
Dokter berkali-kali mengingatkanku agar tidak memaksakan diri.
Tapi sore itu aku tetap masuk ke dapur.
Dengan satu tangan, aku memasak sop buntut kesukaan Daniel. Bukan karena aku lapar.
Aku hanya ingin merasakan kehidupan kami yang dulu.
Sebelum kebakaran.
Sebelum rumah kontrakan kami di Bintaro terbakar akibat gangguan listrik menjelang subuh.
Malam itu Daniel tidak sadar ketika asap memenuhi kamar. Aku sudah berhasil keluar, tetapi ketika menyadari dia masih berada di dalam, aku kembali mencarinya.
Daniel selamat dengan efek menghirup asap dan luka ringan di tangannya.
Aku tidak seberuntung itu.
Saat akhirnya sadar di rumah sakit, orang pertama yang kulihat adalah Daniel.
Dia menggenggam tanganku sambil menangis.
“Aku akan menemanimu sampai semuanya selesai, Nad. Setiap operasi. Aku janji.”
Aku mempercayainya.
Pada awalnya, dia benar-benar menepati janji itu.
Lalu perlahan semuanya berubah.
Muncul perjalanan kerja mendadak. Ponselnya selalu dibawa ke mana-mana. Ada telepon malam-malam yang hanya dijawabnya di balkon.
Setiap kali aku memasuki ruangan saat dia sedang menelepon, Daniel langsung berkata, “Nanti saya hubungi lagi.”
Bahkan beberapa anggota keluargaku yang dulu dekat dengannya mulai jarang datang.
Aku mencoba berpikir positif.
Mungkin mereka tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah melihat kondisiku.
Mungkin Daniel hanya lelah.
Mungkin aku terlalu sensitif.
Aku terus menciptakan alasan untuk orang-orang yang bahkan tidak berusaha menjelaskan diri mereka sendiri.
Sampai sore itu.
Daniel pulang, melihat makanan di meja, kemudian melihatku.
Tatapannya hanya bertahan dua detik.
Setelah itu dia masuk kamar.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara ritsleting koper.
“Aku masak makanan kesukaanmu,” kataku dari pintu.
“Aku nggak sempat makan.”
“Perjalanan kerja lagi?”
“Iya.”
Aku menelan ludah.
“Daniel, ada perempuan lain?”
Untuk pertama kalinya dia menatapku cukup lama.
Aku berharap akhirnya dia mengatakan sesuatu yang jujur.
Sebaliknya, dia menghela napas.
“Kamu terlalu lama di rumah, Nad. Kamu mulai membayangkan hal-hal yang nggak ada.”
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada yang ingin kuakui.
Dia mengambil koper dan berjalan melewatiku.
Dulu aku pasti mengejarnya.
Aku akan menelepon sepuluh kali, mengirim pesan, menunggu tanda bahwa dia sedang mengetik, lalu meyakinkan diriku sendiri bahwa pernikahan kami masih bisa diselamatkan.
Kali ini tidak.
Aku duduk di depan dua piring yang mulai dingin.
Lalu aku mematikan ponsel.
Untuk pertama kalinya sejak kebakaran, aku berhenti menunggu Daniel pulang.
Aku belum tahu bahwa keputusan kecil itu akan membuat seseorang panik.
Karena keesokan paginya, Mama datang membawa obat dan beberapa pakaian.
Saat sedang membantuku merapikan meja, ponselnya berbunyi.
Mama sedang di kamar mandi.
Aku tidak berniat melihatnya.
Sampai sebuah nama muncul di layar.
DANIEL.
Dadaku langsung terasa sesak.
Bukan karena Daniel menelepon Mama.
Melainkan karena pesan yang muncul di bawah namanya.
“Dia sudah berhenti meneleponku. Kita harus bicara sebelum Nadira mengetahui semuanya.”
Aku berdiri membeku.
Jadi selama berminggu-minggu, telepon rahasia Daniel bukan hanya berasal dari “klien”.
Dan seseorang dari keluargaku sendiri ternyata sudah tahu jauh lebih banyak daripada yang pernah mereka katakan kepadaku.
Lalu ponsel Mama berbunyi lagi.
Kali ini sebuah foto masuk.
Aku hanya sempat melihat bagian atasnya sebelum Mama keluar dari kamar mandi dan langsung merebut ponselnya dari meja.
Wajahnya seketika pucat.
“Nadira…”
“Apa yang kalian sembunyikan dariku?”
Mama tidak menjawab.
Tetapi beberapa detik kemudian, seseorang mengetuk pintu rumah.
Ketika kubuka, orang yang berdiri di sana membuatku akhirnya mengerti mengapa Daniel pergi begitu terburu-buru malam sebelumnya.
Dan di tangannya ada sebuah map cokelat dengan namaku tertulis di bagian depan.
Apa isi map itu—dan mengapa keluargaku diam-diam berhubungan dengan Daniel sejak aku masih berada di rumah sakit?
Orang yang berdiri di depan pintu itu bukan Daniel.
Bukan juga Papa.
Aku mengenalnya bahkan sebelum dia mengangkat wajah.
“Rani?”
Adikku berdiri di teras dengan rambut diikat seadanya dan wajah yang tampak seperti tidak tidur semalaman. Di tangannya ada map cokelat tebal.
Nama lengkapku tertulis di bagian depan.
NADIRA PRAMESWARI.
Mama langsung berdiri di belakangku.
“Rani, kamu ngapain ke sini?”
Nada suaranya membuatku menoleh.
Bukan terkejut.
Takut.
Rani masuk tanpa menjawab. Dia meletakkan map itu di meja, tepat di samping mangkuk sop buntut yang masih tersisa dari malam sebelumnya.
“Mbak,” katanya pelan, “sebelum aku kasih ini, aku mau kamu tahu satu hal.”
“Apa?”
“Daniel nggak pergi karena pekerjaan.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena setelah semua kebohongan selama empat bulan terakhir, kalimat itu hampir terdengar terlalu sederhana.
“Aku sudah tahu.”
Rani menggeleng.
“Belum. Kamu belum tahu semuanya.”
Mama menyela.
“Sudah, Rani.”
“Justru karena selama ini kita selalu bilang ‘sudah’ makanya semuanya sampai sejauh ini.”
Aku menatap mereka bergantian.
“Siapa yang selama ini menelepon Daniel?”
Ruangan mendadak sunyi.
Kemudian Rani menatap Mama.
Aku mengikuti pandangannya.
Jantungku seperti berhenti sesaat.
“Mama?”
Mama menunduk.
“Ada beberapa hal yang Mama lakukan karena Mama pikir itu yang terbaik buat kamu.”
Aku hampir tidak percaya.
“Jawab pertanyaanku.”
Mama akhirnya mengangkat kepala.
“Mama.”
Satu kata.
Tapi cukup untuk menghancurkan puluhan alasan yang selama ini kubuat sendiri.
Telepon malam.
Perjalanan mendadak.
Keluargaku yang menjauh.
Daniel yang selalu mematikan layar saat aku mendekat.
“Mama bicara apa sama suamiku diam-diam?”
Mama duduk perlahan.
“Awalnya soal kamu.”
“Soal aku apa?”
“Daniel bilang dia kewalahan.”
Aku mematung.
“Kewalahan?”
“Dia bilang dia nggak tahu bagaimana menghadapi keadaan setelah kebakaran.”
Aku menunjuk lenganku yang masih dibalut.
“Dia kewalahan?”
Suara itu keluar lebih keras daripada yang kurencanakan.
“Aku yang bolak-balik rumah sakit. Aku yang belajar tidur sambil menahan rasa sakit. Aku yang harus belajar menerima wajahku sendiri di cermin. Tapi dia yang kewalahan?”
“Nadira—”
“Jangan.”
Mama terdiam.
Aku memandang Rani.
“Buka map itu.”
Mama langsung berdiri.
“Jangan sekarang.”
Dan saat itulah aku tahu isi map itu jauh lebih buruk daripada percakapan rahasia.
Aku menariknya ke arahku.
Tanganku gemetar ketika membuka pengaitnya.
Di dalamnya ada beberapa lembar fotokopi.
Tagihan rumah sakit.
Dokumen asuransi.
Beberapa bukti transfer.
Dan sebuah surat yang pernah kutandatangani saat masih menjalani perawatan.
Aku mengenali tanda tanganku.
Tapi aku tidak mengenali dokumennya.
“Apa ini?”
Rani menarik kursi.
“Waktu Mbak masih dirawat, ada pengajuan klaim dari asuransi kebakaran rumah kontrakan.”
Aku menatapnya.
Aku tahu soal asuransi itu.
Pemilik rumah memiliki perlindungan bangunan, sementara Daniel pernah membeli perlindungan tambahan untuk barang-barang rumah tangga kami.
Tapi setelah kebakaran, Daniel selalu mengatakan prosesnya rumit dan belum selesai.
“Katanya klaim belum cair.”
Rani mengeluarkan satu lembar.
“Sudah.”
Aku melihat angka yang dicetak di sana.
Rp438.750.000.
Aku membaca lagi.
Lalu sekali lagi.
“Empat ratus tiga puluh delapan juta?”
Rani mengangguk.
“Sebagian untuk kerugian barang. Ada juga pembayaran manfaat dari polis tambahan yang Daniel daftarkan sebelumnya.”
“Uangnya di mana?”
Rani tidak menjawab.
Dia mendorong bukti transfer ke depanku.
Nama penerima tercetak jelas.
DANIEL MAHENDRA.
Aku mengangkat kepala.
“Itu rekeningnya.”
“Iya.”
“Tapi kami menikah. Kenapa dia nggak bilang?”
Mama tiba-tiba berkata, “Karena sebagian uang itu dipakai untuk biaya selama kamu dirawat.”
Aku menatap Mama.
“Biaya perawatanku ditanggung BPJS untuk layanan tertentu dan sisanya dibantu asuransi kesehatan kantor. Papa juga pernah mentransfer uang.”
Mama terdiam.
Rani mengeluarkan lembar berikutnya.
“Mbak, cuma sekitar Rp62 juta yang bisa kami lacak dipakai untuk kebutuhan rumah sakit dan pemulihanmu.”
“Lalu sisanya?”
“Itulah masalahnya.”
Ada beberapa transfer besar.
Rp75 juta.
Rp90 juta.
Rp120 juta.
Semuanya menuju rekening yang sama.
Nama penerima membuatku membeku.
RATNA PRAMESWARI.
Mama.
Aku perlahan mengangkat wajah.
“Mama menerima uang dari Daniel?”
Mama langsung menangis.
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
“Itu sementara.”
“Untuk apa?”
Mama memegang ujung meja.
“Papa punya masalah.”
“Masalah apa?”
“Usahanya.”
Papa memiliki toko bahan bangunan kecil di Bekasi. Selama bertahun-tahun bisnis itu tidak pernah besar, tetapi cukup untuk kehidupan mereka.
Setidaknya itu yang kuketahui.
“Setelah kebakaran,” lanjut Mama, “toko sedang kesulitan. Ada utang ke pemasok. Papa nggak cerita karena malu.”
“Jadi Mama meminta uang dari Daniel?”
Mama tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Aku menutup mata.
Aku teringat hari-hari di rumah sakit.
Daniel duduk di samping ranjangku sambil memainkan ponsel.
Mama sering datang membawa bubur atau pakaian.
Aku selalu merasa beruntung.
Suami di sebelah kanan.
Mama di sebelah kiri.
Ternyata mereka sedang membicarakan uang di belakangku.
“Berapa?”
Mama berbisik, “Dua ratus delapan puluh lima juta.”
Aku tertawa getir.
“Dan Mama pikir aku nggak perlu tahu?”
“Mama berniat mengembalikannya.”
“Dengan apa?”
Tidak ada jawaban.
Rani tiba-tiba berkata, “Itu belum semuanya.”
Mama langsung menatapnya.
“Rani.”
“Aku capek, Ma.”
Rani mengambil ponselnya.
“Aku juga salah karena diam terlalu lama.”
Dia membuka percakapan WhatsApp.
Daniel.
Aku mengenali foto profilnya.
Rani menggulir ke percakapan beberapa minggu sebelumnya.
Salah satu pesan Daniel membuat tengkukku dingin.
Kalau Nadira tahu uangnya sudah dipakai, dia pasti minta semua dikembalikan. Pastikan dia jangan lihat dokumen asli dulu.
Pesan berikutnya dari Mama:
Yang penting sekarang dia fokus pemulihan. Jangan bikin dia stres.
Lalu Daniel:
Aku juga nggak bisa terus seperti ini. Aku sudah melakukan bagianku.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
“Bagiannya?”
Rani menatapku dengan mata merah.
“Mbak, aku awalnya pikir Daniel cuma marah soal uang.”
“Awalnya?”
“Ada hal lain.”
Dia menggulir lebih jauh.
Sebuah foto muncul.
Daniel duduk di sebuah kafe.
Di depannya ada seorang perempuan.
Aku tidak mengenal perempuan itu.
Wajahnya tidak terlihat jelas karena foto diambil dari jauh.
“Siapa?”
“Aku belum tahu.”
Mama memalingkan wajah.
Aku langsung menyadarinya.
“Tapi Mama tahu.”
“Nadira…”
“Siapa dia?”
Mama menangis semakin keras.
“Aku nggak tahu namanya.”
“Jangan bohong lagi!”
“Mama benar-benar nggak tahu namanya. Daniel cuma pernah bilang dia punya seseorang yang bisa membantunya memulai hidup baru.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada dugaan tentang perselingkuhan.
“Memulai hidup baru?”
Rani menatapku.
“Mbak, Daniel sudah mencari apartemen di Kuningan sejak dua bulan lalu.”
Dua bulan.
Artinya ketika aku menjalani operasi berikutnya dan Daniel duduk di ruang tunggu sambil mengatakan semuanya akan baik-baik saja, dia sudah mencari tempat untuk meninggalkanku.
Aku merasa mual.
Aku bangkit terlalu cepat.
Rasa nyeri menjalar dari leher ke bahu.
Rani segera memegang lenganku.
“Mbak, duduk.”
“Aku baik-baik saja.”
Padahal tidak.
Sama sekali tidak.
Aku berjalan menuju kamar.
Lemari Daniel setengah kosong.
Baru kali itu aku benar-benar melihatnya.
Bukan satu perjalanan kerja.
Dia sudah memindahkan barang sedikit demi sedikit.
Beberapa kemeja hilang.
Sepatu kerja cadangan tidak ada.
Jam tangan yang jarang dipakainya juga hilang.
Semua sudah direncanakan.
Aku kembali ke ruang makan.
“Aku mau bicara sama Papa.”
Mama langsung berkata, “Jangan.”
“Kenapa?”
Mama tidak menjawab.
Rani menutup matanya.
Dan aku mengerti.
“Papa nggak tahu?”
Mama mulai menangis lagi.
Aku mengambil ponsel.
“Nadira, jangan telepon sekarang.”
Aku sudah menekan nama Papa.
Dia menjawab setelah tiga dering.
“Nad? Kamu sudah sarapan?”
Suara Papa terdengar biasa.
Terlalu biasa.
“Pa, uang Rp285 juta yang masuk ke rekening Mama dari Daniel dipakai untuk apa?”
Hening.
“Nadira, uang apa?”
Aku memandang Mama.
Wajahnya kehilangan warna.
Papa benar-benar tidak tahu.
Aku memutus telepon.
“Jadi bukan untuk toko.”
Mama tidak mampu menatapku.
“Ma.”
Tanganku mulai gemetar.
“Uangnya ke mana?”
Mama akhirnya berbisik.
“Untuk Raka.”
Aku membutuhkan beberapa detik untuk memahami nama itu.
Raka.
Kakakku.
Anak pertama Mama dan Papa.
Orang yang hanya datang sekali ketika aku masih dirawat.
Katanya tidak tahan melihat rumah sakit.
“Raka kenapa?”
Mama menutup wajah.
“Dia punya utang.”
“Tiga ratus juta?”
“Bisnisnya gagal.”
Aku menatap Rani.
Dia terlihat sama terkejutnya denganku.
Berarti bahkan Rani tidak tahu bagian ini.
“Daniel tahu?”
Mama mengangguk.
“Dia yang membantu.”
“Dengan uang klaim yang seharusnya juga dibicarakan denganku?”
“Mama panik. Raka bilang ada orang yang terus menagih. Mama cuma ingin membantu kakakmu.”
“Lalu kenapa Daniel mau?”
Pertanyaan itu membuat Mama diam.
Terlalu lama.
Aku mendekat.
“Kenapa suamiku mau menyerahkan ratusan juta kepada kakakku tanpa bilang kepadaku?”
Mama menatap map cokelat.
“Ada kesepakatan.”
Rani langsung berdiri.
“Kesepakatan apa?”
Mama menggeleng.
“Aku nggak bisa.”
Aku hampir berteriak.
“Empat bulan ini semua orang terus mengatakan mereka melakukan sesuatu demi aku. Daniel berbohong demi aku. Mama menyembunyikan uang demi aku. Raka mengambil uang tanpa bicara denganku demi aku. Kapan tepatnya ada orang yang bertanya apa yang sebenarnya aku mau?”
Mama menangis.
Tapi kali ini aku tidak menghentikan pertanyaanku.
“Kesepakatan apa?”
Sebelum Mama menjawab, ponsel Rani berbunyi.
Pesan dari nomor yang tidak tersimpan.
Dia membacanya.
Wajahnya berubah.
“Apa?”
Rani menyerahkan ponsel kepadaku.
Pesannya pendek.
Jangan percaya penjelasan Ratna tentang uang itu. Daniel tidak memberikan Rp285 juta secara cuma-cuma. Tanyakan apa yang ditandatangani Raka sebagai gantinya.
Di bawahnya ada foto sebuah dokumen.
Hanya halaman terakhir.
Ada tiga tanda tangan.
Daniel Mahendra.
Raka Prameswari.
Ratna Prameswari.
Aku memperbesar foto.
Bagian judul dokumen terpotong.
“Siapa yang mengirim?”
Rani menggeleng.
“Nomornya nggak dikenal.”
Aku langsung menelepon.
Tidak aktif.
Mama menatap layar ponsel itu.
Kemudian tubuhnya seperti kehilangan tenaga.
Dia duduk.
“Dari mana kamu dapat itu?”
Aku menatapnya.
“Mama tahu dokumen ini.”
Dia tidak menjawab.
Aku mengambil map dan membalik semua isinya.
Tidak ada dokumen dengan tiga tanda tangan tersebut.
“Dokumen aslinya di mana?”
Mama menangis.
“Daniel yang pegang.”
“Isinya apa?”
“Nadira, Mama benar-benar menyesal.”
“Bukan itu yang aku tanya.”
Sebelum dia sempat menjawab, suara motor berhenti di depan rumah.
Beberapa detik kemudian terdengar ketukan keras.
Bukan Daniel.
Raka.
Kakakku masuk dengan wajah tegang.
Begitu melihat map di meja, dia langsung menatap Mama.
“Kenapa itu ada di sini?”
Aku berdiri.
“Bagus. Aku juga mau tanya sesuatu.”
Aku menunjukkan foto dokumen.
“Apa yang kamu tandatangani bersama suamiku?”
Raka tidak bergerak.
Lalu dia menatap Rani.
“Kamu yang kasih?”
“Bukan.”
“Terus siapa?”
“Itu yang sedang kami cari tahu.”
Raka mengusap wajah.
“Aku sudah bilang sama Mama, dokumen itu jangan sampai Nadira lihat.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku merasakan sesuatu dalam diriku berubah.
Bukan sedih lagi.
Bukan takut.
Marah.
“Kenapa aku nggak boleh melihat dokumen yang dibuat oleh suamiku, kakakku, dan ibuku?”
Raka tidak menjawab.
Aku mendekatinya.
“Apakah Daniel membeli sesuatu darimu?”
“Bukan.”
“Apakah ini soal utang?”
“Sebagian.”
“Sebagian apanya?”
Raka menarik napas panjang.
“Nad, aku memang menerima bantuan. Aku salah. Tapi semuanya lebih rumit daripada yang kamu pikir.”
Aku hampir tertawa.
Kalimat favorit orang yang tertangkap berbohong.
Lebih rumit.
Demi kebaikanmu.
Kamu belum mengerti.
Aku sudah muak.
“Kalau begitu jelaskan.”
Raka menatap Mama.
Mama menggeleng pelan.
Dan itu membuatku semakin yakin mereka masih menyembunyikan sesuatu.
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Rani berjalan ke jendela.
“Mbak…”
“Apa?”
Dia menoleh.
“Itu Daniel.”
Aku membeku.
Raka langsung berdiri.
“Dia nggak boleh masuk.”
Kalimat itu mengejutkanku.
“Kenapa?”
Raka bergerak menuju pintu.
Terlambat.
Daniel sudah membukanya dengan kunci miliknya.
Dia masuk.
Tidak membawa koper.
Tidak mengenakan pakaian kantor.
Dan wajahnya berubah ketika melihat kami semua berkumpul di ruang makan.
Terutama ketika melihat map cokelat.
“Siapa yang memberikan itu ke kamu?”
Aku menatap suamiku.
“Pertanyaan yang menarik. Karena semua orang hari ini menanyakan hal yang sama.”
Daniel menutup pintu.
“Nadira, dengarkan aku.”
“Tidak.”
Aku mengangkat foto dokumen di layar.
“Kamu yang dengarkan aku.”
Aku menunjukkan tiga tanda tangan itu.
“Apa yang kamu beli dari keluargaku dengan Rp285 juta?”
Daniel menatap Raka.
Raka menatap balik.
Ada sesuatu di antara mereka.
Sesuatu yang belum kuketahui.
Daniel akhirnya berkata, “Aku nggak membeli apa pun.”
“Lalu?”
“Aku membayar supaya satu masalah selesai.”
“Masalah siapa?”
Daniel tidak menjawab.
Aku mendekatinya.
“Masalah Raka?”
Daniel menggeleng.
“Bukan sepenuhnya.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Masalah Mama?”
Sekali lagi, tidak ada jawaban.
Kemudian Rani tiba-tiba berseru.
“Mbak.”
Dia sedang melihat ponselnya.
Nomor tak dikenal itu mengirim pesan lagi.
Kali ini bukan foto.
Sebuah video.
Durasi dua menit tujuh belas detik.
Thumbnail-nya memperlihatkan Daniel dan Raka duduk di sebuah ruangan yang tidak kukenal.
Di antara mereka ada map yang sama.
Rani menekan tombol putar.
Suara Daniel terdengar lebih dulu.
“Kalau Nadira sampai tahu alasan sebenarnya uang ini diberikan, semuanya selesai.”
Lalu suara Raka menjawab.
“Dia lebih baik nggak pernah tahu. Terutama soal apa yang terjadi sebelum kebakaran.”
Aku merasa seluruh ruangan berhenti bergerak.
Sebelum kebakaran?
Aku menatap Daniel.
Wajahnya pucat.
“Daniel…”
Dia maju hendak mengambil ponsel Rani.
Aku berdiri di depannya.
“Jangan sentuh.”
“Nadira, video itu nggak menunjukkan semuanya.”
“Bagus.”
Aku mengambil ponsel dari tangan Rani.
“Berarti kita tonton sampai selesai.”
Daniel menatap Mama.
Mama mulai menangis.
Raka mengumpat pelan.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang sama di wajah ketiganya.
Aku menekan tombol putar lagi.
Video berlanjut.
Raka mengeluarkan sebuah amplop putih dan meletakkannya di depan Daniel.
Daniel membukanya.
Lalu suara seseorang di luar kamera terdengar jelas.
“Kalau dokumen ini sampai ke Nadira, dia akan tahu bahwa kebakaran itu bukan awal dari semuanya.”
Tanganku membeku di atas layar.
Karena detik berikutnya, kamera bergerak ke arah dokumen di meja.
Dan aku melihat namaku sendiri tercetak di halaman pertama.
